Thursday, 29 August 2013

Cerita dan Hikmah Lebaran

Meskipun sudah lewat, tapi saya ingin menuliskan pengalaman libur Lebaran kemarin disini. Tahun ini kami memang berniat untuk merayakan Lebaran dengan keluarga besar di Bandung. Saking niatnya, tiket pulangpun sudah dibeli sejak awal tahun.
Alhamdulillah perjalanan mudik kami mulus lancar bak jalan tol. Mendarat di Jakarta sekitar jam 4 sore di H-2 Lebaran, setelah membungkus bakmi GM untuk buka puasa di jalan, kami langsung naik bis Primajasa dan dalam waktu 3 jam sudah sampai di tempat tujuan di Bandung.
Seminggu di Bandung berlalu begitu cepat karena padatnya agenda kami. Selain bersilaturahmi sana-sini, kebetulan ada dua orang teman yang sedang berlibur di Bandung. Jadi, dalam suasana pasca Lebaran, kami sempat jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu dan bermalam minggu di mall tersohor di Bandung yaitu Parijs van Java.
Hal berkesan yang membekas di hati pada pertemuan keluarga kali ini terutama adalah banyaknya perubahan sikap yang terjadi pada beberapa orang di keluarga besar saya. Alhamdulillah perubahan sikap ke arah yang positif ini membantu saya menghapus segala syak wasangka yang pernah ada. Pertemuan dengan keluarga besar telah membangun kesadaran saya pribadi bahwa persaudaraan itu sangat indah. Mudah-mudahan kami masih diberi kesempatan untuk bertemu dan berkumpul kembali pada Lebaran-Lebaran yang akan datang..aamiinn.

[Little Traveler]: Berkemah bersama bayi

Liburan awal musim panas tahun ini menjadi pengalaman pertama kami berkemah dengan David. Untuk memperkenalkan kegiatan satu ini pada si kecil, kami masih mencari jalan aman, yaitu berkemah di Eropa, dimana area perkemahan dengan fasilitas yang sangat baik banyak tersedia. Kalau berkemah di Indonesia, hmm...mungkin lain waktu ya nak, ketika area perkemahan dengan sanitasi yang bersih tidak lagi sulit dicari :).

Kalau sedang berlibur di kampung halaman suami, kami suka berkemah karena dengan biaya akomodasi yang relatif murah, anggaran liburan bisa dialokasikan untuk hal lain seperti mengunjungi beberapa kota lain, membayar tiket masuk tempat-tempat yang menarik, berbelanja, dan makan enak :p. Kebetulan di rumah mertua tersedia peralatan berkemah yang diperlukan jadi tidak keluar biaya lagi. Kalau berkemahnya seperti yang diceritakan bumil cantik disini, mmm..mungkin malah biayanya hampir sama dengan menginap di hotel sepertinya, kecuali kalau punya camping car atau caravan pribadi.

Cuaca di akhir bulan Juni  saat itu sangat cerah ketika kami memutuskan untuk berkemah selama dua malam di area perkemahan Diamond Caravan Park di wilayah Bletchingdon, sekitar 8 kilometer sebelah utara kota Oxford, Inggris. Si kecil tampak senang dengan pengalaman barunya, sibuk mengamati ayahnya yang sedang mendirikan tenda begitu kami sampai di perkemahan dan sesekali mengekor saya yang sedang mengeluarkan barang-barang dari mobil.

Diamond Caravan Park Office
Fasilitas sanitasi
Toilet dan kamar mandi wanita (tersedia alat pengering rambut juga disini)
Ruang cuci piring dan laundry
Area perkemahan (tenda kami yang kedua dari kiri)





Tenda mungil kami yang nyaman
Penampakan bagian dalam tenda sebelum dipakai tidur

Koki dan asistennya sedang menunggu makanan matang
Arena bermain anak-anak
Pemandangan sekitar area perkemahan dengan dua ekor kuda yang sedang tidur

Si penjaga tenda :D
The little camper
Serius memasak :)
Ritual membacakan buku cerita sebelum tidur
Tertidur lelap dalam kehangatan gigoteuse
Wajah sumringah si petualang kecil di pagi hari

Di area tersebut, ada beberapa tenda berukuran besar dan beberapa camping car terparkir rapi. Ternyata, pilihan kami untuk menginap disini tidaklah salah. Memasuki halaman area perkemahan, mata kami disambut bunga warna-warni dimana-mana dan taman kecil yang apik. Kami menuju toko kecil yang juga berfungsi sebagai kantor untuk memberitahukan kedatangan kami. Area perkemahan ini dikelilingi oleh lahan pertanian dan peternakan kuda, dilengkapi dengan kolam renang dan juga arena bermain untuk anak-anak. Setelah membayar 40 pounds termasuk satu plot lahan tempat tenda didirikan atau disebut juga pitch, satu plot lahan parkir mobil, dua orang dewasa dan satu bayi selama dua malam, tidak lupa kami memesan homemade butter croissant yang terkenal dari tempat ini untuk sarapan besok pagi. Oia, di tenda kami juga terdapat wi-fi karena letaknya yang relatif dekat dengan bangunan utama, canggih kan? Tidak jauh dari tempat kami, terdapat tenda warden yang bertanggung jawab menjaga ketenangan dan keamanan lingkungan perkemahan.

Berbicara mengenai peralatan berkemah, ada banyak ragam tenda, mulai dari tenda untuk satu orang sampai tenda super besar dengan tiga kamar tidur. Selain itu, ada pula camping car yaitu mobil van besar yang didalamnya sudah tersedia dapur, tempat tidur, ruang makan, dan kamar mandi; dan caravan, yaitu serupa van besar tanpa kemudi yang dihubungkan dengan mobil untuk membawanya kemana-mana. Kami sendiri membawa satu buah tenda berkapasitas empat orang dari Quechua, dua sleeping bags, selimut, dan satu buah quilt kepunyaan si kecil. Peralatan lain seperti palu, kompor kecil beserta tabung gas dan peralatan makan adalah peralatan wajib yang harus dimiliki selain tenda jika Anda senang berkemah.

Karena kami datang menjelang makan siang, harum masakan tetangga kami sudah mulai tercium. Ada yang membawa peralatan barbeque dan ada pula yang menyiapkan menu makan siang praktis dan sederhana seperti kami, yaitu pasta. Tetangga yang tendanya tepat di samping tenda kami malah lebih seru lagi. Menjelang makan siang, meja dan kursi lipat dipasang, peralatan makan disiapkan dan ditata seperti layaknya di meja makan di rumah, menarik sekali!

Sepanjang hari di awal musim panas itu cuaca bersahabat menemani kami menikmati keindahan kota Oxford dan sekitarnya. Menjelang malam hari, suhu udara berangsur turun berkisar 12-14 derajat Celcius padahal matahari baru terbenam sekitar pukul sepuluh malam. Untuk si kecil, kami memakaikan pakaian tidur musim dingin dilapisi dengan gigoteuse yaitu serupa mantel yang berfungsi sebagai selimut untuk bayi.  Alas tidurnya adalah sleeping bag yang dilapisi oleh quilt. Alhamdulillah, si kecil bisa tertidur nyenyak pada malam pertamanya tidur di dalam tenda dan terbangun keesokan paginya dengan ceria. Malam keduapun berjalan dengan lancar dan kami bertiga langsung tertidur karena capek jalan-jalan seharian.

Dari pengalaman perdana membawa balita berkemah, ada beberapa hal yang menurut kami penting untuk diperhatikan agar acara berkemah sukses dan terutama supaya balita merasa nyaman.

1.Mengecek perkiraan cuaca secara berkala. Pastikan Anda berkemah pada saat cuaca dan suhu udara bersahabat.

2.Pilih area perkemahan dengan fasilitas yang dibutuhkan dan pesan tempat secara online. Kami memanfaatkan situs www.ukcampsites.co.uk untuk mencari area perkemahan di wilayah Inggris dan www.campingfrance.com  untuk wilayah Perancis.

3.Pilihlah tempat yang dekat dengan fasilitas sanitasi untuk memudahkan jika harus mengganti popok atau memandikan si kecil.

4.Siapkan tabir surya atau topi untuk melindungi diri dari matahari. Meskipun area perkemahan pada umumnya dinaungi pepohonan rindang, tidak ada salahnya melindungi kulit dari sengatan matahari, terutama di musim panas.

5.Membawa mainan/buku bacaan favorit anak.

6.Membawa pakaian/perlengkapan yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pada saat berkemah.

7.Membawa persediaan makanan/minuman/makanan ringan yang cukup.

8.Jangan terlalu khawatir apabila balita merangkak di rumput, memungut dedaunan kering, atau bahkan memasukkan tanah ke dalam mulutnya. Prinsip berkemah adalah untuk berkenalan dengan alam, jadi biarkan saja mereka bereksplorasi namun sambil tetap diawasi.

Setelah pengalaman pertama yang terbilang sukses, jadi ketagihan deh membawa si kecil berkemah. Yuk, siapa mau ikut berkemah dengan kami?

Tentang Dwikewarganegaraan

Meminjam topik yang dibahas di grup WA baru-baru ini, yaitu pro kontra dwikewarganegaraan (DK) untuk WNI, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang untung rugi kepemilikan DK. Indonesia sampai saat ini baru mengakui kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil pernikahan antar bangsa sesuai UU Kewarganegaraan no. 2 tahun 2006.

Sebagai salah satu pihak yang berkepentingan, saya tentunya pro dengan ide ini, dan berharap dalam 18 tahun ke depan, ketika anak kami harus memilih kewarganegaraannya, peraturan sudah berubah sehingga ia tidak harus memilih antara menjadi WN Indonesia atau WN Perancis.

Faktanya banyak negara yang tidak mengakui DK karena beragam faktor, misalnya berkaitan dengan hak memilih (voting), pengenaan pajak, masalah keamanan, dan lain-lain. Sekilas dari pihak yang kontra, muncul argumen senada bahwa DK mengancam lunturnya nasionalisme,  menguntungkan golongan tertentu, dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan dan kemudian lari berlindung dibalik status DK-nya.

Menurut saya, nasionalisme tidak ditentukan oleh status kewarganegaraan dan lokasi geografis seseorang. Ada banyak orang yang mengaku Warga Negara Indonesia namun melakukan perbuatan yang jelas-jelas mempermalukan negaranya sendiri, banyak orang Indonesia yang tinggal di Indonesia namun secara nyata memuja-muja kebudayaan Barat. Sebaliknya, tidak sedikit orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia kemudian mengukir prestasi, melakukan sesuatu yang membawa harum nama Indonesia, dan berkontribusi terhadap kemajuan negara ini meskipun dari jauh. Saya sendiri baru merasakan rasa cinta dan bangga yang begitu besar terhadap Indonesia justru ketika saya untuk pertama kalinya keluar dari Indonesia beberapa tahun lalu. Barulah muncul penyesalan kenapa dulu tidak tekun mempelajari kesenian tradisional Indonesia atau belajar memasak masakan khas Indonesia atau mempelajari sejarah Indonesia sehingga saya tidak perlu tergagap ketika orang-orang meminta saya menjelaskan tentang hal-hal yang menarik dari negara saya.

Dibilang dengan adanya DK akan menguntungkan golongan tertentu dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan, bagi saya pribadi kembali ke orangnya. Siapapun, orang dengan status DK atau tidak, kalau memang berniat jahat, ya cara apapun akan dilakukan. Contohnya, para koruptor yang tidak memiliki status DK saja bisa lari ke luar negeri untuk menghindari kejaran hukum.

Yang menarik untuk diperhatikan, status DK ini diajukan untuk diberlakukan bukan hanya bagi anak hasil pernikahan antar bangsa tetapi juga untuk warga negara Indonesia yang telah menetap lama di luar negeri. Kira-kira apa ya alasan Pemerintah kita untuk tidak mengakui DK? Dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya apa sih keuntungan dengan mengakui DK? Pertama, Indonesia tidak akan kehilangan putra-putra terbaik bangsanya meskipun mereka tinggal di luar negeri, justru diharapkan terjadi alih teknologi/ilmu pengetahuan dari mereka pada rakyat Indonesia secara umum. Kedua, meningkatnya peluang investasi di Indonesia. Kalau memang UU Agraria no. 5 tahun 1960 dibuat sebagai upaya pencegahan pemilikan tanah oleh pihak asing yaitu kolonial Belanda ketika itu, rasanya Undang-Undang tersebut sudah masanya untuk diperbarui pada saat ini. Kepemilikan tanah/properti tidak bergerak oleh pihak asing (individu) tidak otomatis menjadi ancaman bagi rakyat Indonesia. Faktanya adalah kepemilikan tanah di Indonesia mayoritas masih tetap dipegang oleh warga negara Indonesia sendiri dan bukan warga asing. Ketiga, pada umumnya anak-anak hasil pernikahan antar bangsa mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik sehingga di masa depan anak-anak ini dapat menjadi tumpuan harapan yang turut memajukan bangsa dan negara kita. Nah, kalau mereka disuruh memilih dan misalnya mereka memilih kewarganegaraan selain Indonesia, berarti hilanglah calon-calon potensial yang diharapkan dapat membangun negeri ini.

Dari sudut pandang saya yang awam ini, muncul pertanyaan dapatkah pemerintah kita mengadopsi kebijakan pemerintah negara lain seperti Pakistan atau Perancis? Salah satu teman di grup yang bersuamikan warga negara Pakistan mengatakan bahwa Pakistan tidak mengakui DK. Meskipun begitu, anak hasil pernikahan yang bapak/ibunya berkewarganegaraan Pakistan mempunyai semacam kartu identitas seumur hidup dan mempunyai hak dan kewajiban sama dengan warga negara Pakistan dalam hal kepemilikan properti, membayar pajak, dan lain-lain kecuali satu, yaitu tidak dapat mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri. Sedangkan di mata pemerintah Perancis yang mengakui DK, status kewarganegaraan seseorang tidak dapat dihapuskan karena alasan apapun kecuali terbukti berkhianat kepada negara. Jadi, jika seorang anak terlahir dari bapak/ibu warga negara Perancis, maka sampai kapanpun dan meskipun anak tersebut memilih menjadi warga negara lain, dimata pemerintah Perancis, didasarkan dengan bukti dokumen resmi yang sah dimata hukum seperti akte kelahiran dan livre de famille atau buku catatan keluarga, anak tersebut adalah warga negara Perancis.

Yang ironis, dari pembahasan di grup muncullah pengakuan bahwa ternyata banyak teman yang belum membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka. Sangat disayangkan bahwa kebijakan masing-masing perwakilan kedutaan besar di setiap negara tidak seragam, contohnya teman saya tidak membuatkan paspor Indonesia untuk anaknya karena staf konsuler di negara tempat anaknya lahir bilang tidak perlu sebab sudah ada affidavit, padahal fungsi affidavit dan paspor jelas berbeda. Teman yang lain mengeluh belum membuatkan paspor untuk ketiga anaknya karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan lain terlebih dahulu yang membutuhkan waktu. Belum lagi kalau dihadapkan dengan staf sesama bangsa Indonesia yang anehnya sangat tidak kooperatif dengan kita sebagai teman sebangsa setanah air, menjadi alasan pendukung kenapa teman-teman ini mengurungkan niatnya membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka.

Kembali lagi ke masalah DK, ada yang mau berbagi pendapat atau pengalaman tentang untung ruginya mempunyai dua kewarganegaraan?

Friday, 2 August 2013

Ramadhan dan Lebaran

Tidak terasa seminggu lagi sudah mau Lebaran. Dulu sewaktu kecil menjalani 30 hari rasanya lama sekali menuju hari Lebaran, sekarang malah kebalikannya.

Bagi saya sendiri, esensi ibadah di bulan Ramadhan jauh lebih berkesan sekarang dibanding dulu, ketika saya sudah sedikit mengerti makna puasa, shalat tarawih, dan ibadah lainnya di bulan suci ini. Sedangkan dulu, saya paling malas kalau sudah bulan Ramadhan karena itu artinya harus mencatat materi ceramah tarawih yang ditugaskan guru agama di sekolah dan setelahnya harus mengantri untuk mendapatkan tanda tangan penceramah sebagai bukti, yang berarti pulang malam untuk saya karena mesjid dekat rumah tarawihnya 23 rakaat sementara yang 11 rakaat lumayan jauh. Saking malasnya, pernah saya membuat stempel cap mesjid -seperti yang dilakukan teman-teman sekelas- dan menulis ceramah dari televisi sehingga terpenuhi jumlah ceramah yang diikuti. Kalau dipikir2, buat apa coba menugaskan murid membuat catatan ceramah tarawih hanya untuk memastikan bahwa murid melaksanakan shalat tarawih di mesjid? Lagipula saya hampir yakin guru tidak akan membaca semua ceramah itu tapi hanya melihat apakah lembarannya kosong atau penuh. Tapi waktu itu tidak punya pilihan lain selain mengerjakan apa yang diperintah guru.

Diluar urusan catat mencatat yang menyebalkan ini, saya suka bulan Ramadhan, saat dimana bisa bermain kembang api, menanti saat berbuka dengan perasaan gembira, jajan cireng setelah tarawih, dan tentunya hari Lebaran ketika mendapat angpau dari om dan tante saya.  Sampai lulus SD, setiap Lebaran Ibu selalu menjahitkan minimal dua potong baju baru untuk saya, jadi beberapa hari sebelum Lebaran Ibu saya yang hebat ini selalu sibuk menjahit, membuat kue kering, dan memasak dalam jumlah banyak, ck ck ck...

Sekarang, terus terang saya tidak menantikan Lebaran seperti dulu lagi. Selain masakan khas Lebaran buatan Ibu yang selalu saya kangeni, suasana Lebaran beberapa tahun terakhir yang agak berbeda membuat saya senang ketika hari Lebaran berlalu, aneh ya? Dulu saya selalu menangis ketika sesi bermaaf-maafan tiba. Sekarang, biasa saja. Rasanya momen saling memaafkan hanya menjadi sekedar basa-basi dalam satu hari itu karena 364 hari berikutnya kembali ke situasi yang sama :(. Justru saya malah sedih ketika bulan Ramadhan yang berlalu tanpa terasa. Karena itu, kalau ditanya bagaimana perasaan saya merayakan Lebaran jauh dari keluarga, jujur saya merasa biasa saja.

Meskipun pengalaman Lebaran saya terdengar begitu pesimis, ada juga Lebaran yang berkesan untuk saya pribadi. Tahun 2011 ketika masih tinggal di Port Vila, kami sudah berencana untuk Lebaran di Sydney sebelum terbang kembali ke Perancis. Namun kendala teknis membuat kami gagal pergi ke Sydney. Alhasil, di hari Lebaran kami hanya diam di rumah, sambil membayangkan suara takbir dan hidangan khas Lebaran yang lezat. Saat lain yaitu ketika saya berLebaran di Paris tahun 2008. Suami saya (waktu itu masih pacar) mengantar saya ke masjid Paris untuk shalat 'Id. Pagi itu angin bertiup sangat kencang sampai-sampai kekhusyukan saya hilang karena sepanjang waktu shalat yang ada saya sibuk menahan sajadah dan mukena dari terpaan keras angin musim gugur yang begitu menusuk tulang. Lebaran tahun lalu di Bangkok juga berkesan karena itu adalah Lebaran kami yang pertama setelah kelahiran si kecil, masih belum terlalu sulit membawa bayi 3 bulan yang terdiam tenang menunggu ibunya selesai shalat.

Ada yang mau berbagi cerita tentang Lebaran yang berkesan di hati?

Thursday, 1 August 2013

Sekilas dari Seminar tentang Amazing Parenting

Setelah selama ini cuma bisa tahu ilmu parenting dari seminar-seminar yang diikuti supermom Indah dan di-share di blognya, bulan lalu gabungan ibu-ibu pengajian disini mendapat kesempatan mengundang ibu Rani Noe'man yang kebetulan sedang berada di Bangkok untuk mengadakan seminar dengan topik Amazing Parenting. Senang sekali saya akhirnya mendapat kesempatan ikut acara seperti ini dan tidak lagi iri dengan teman-teman di Indonesia yang bisa berpartisipasi dalam seminar serupa. Btw, terima kasih ya Indah untuk selalu berbagi ilmu parenting di blog, sangat-sangat berguna untuk orangtua baru seperti saya :).

Ibu Rani Noe'man awalnya bergabung sebagai trainer di Yayasan Kita dan Buah Hati dan merupakan pendiri Komunitas Cinta Keluarga. Sosok Ibu Rani yang geulis khas orang Sunda dan pembawaannya yang humoris membuat semua materi trainingnya sangat menarik, mudah dipahami dan to the point.

Bu Rani memulai sesinya dengan pertanyaan: MENGAPA PUNYA ANAK?
Jawaban yang munculpun beragam, ada yang menjawab karena ingin melanjutkan keturunan, karena selayaknya setelah menikah ya punya anak, karena permintaan mertua, dan lain-lain.

Intinya: Mempunyai anak adalah TANGGUNG JAWAB sekaligus INVESTASI
Yang artinya kita sebagai ORANGTUA berperan besar dalam menentukan KARAKTER anak.
POLA PENGASUHAN yang keliru dapat menumbuhkan karakter yang tidak diharapkan. Apa saja kekeliruan yang seringkali dibuat oleh orangtua itu adalah:
1. Tidak membaca bahasa tubuh anak
2. Tidak mendengar perasaan anak
3. Menggunakan 10 gaya tradisional (memerintah, menyalahkan, menginterogasi, membandingkan, mengancam, mencap, menceramahi, membohongi, mengalihkan, menjamin)

Gaya-gaya tradisional yang seringkali diterapkan oleh orangtua pada jaman dulu ini dalam jangka waktu tertentu dapat membuat kantung jiwa anak rusak perlahan-lahan sehingga anak merasa tidak dicintai, tidak dihargai dan akhirnya anak akan mencari pelarian yang dapat menerima dan mencintai dirinya secara apa adanya. Bagus kalau pelariannya adalah tempat/orang yang baik, namun bagaimana jika pelariannya itu berbentuk obat-obatan, pergaulan bebas, kekerasan, dan hal-hal lain yang menjadi mimpi buruk setiap orangtua?

Karakter anak dibentuk oleh faktor internal (Temperamen, Kecerdasan, Bakat) dan pendidikan agama yang kemudian menurunkan nilai-nilai yang berwujud kepercayaan dan pemahaman bawah sadar pada diri anak. Pengaruh lingkungan dan pola pengasuhan orang tua turut berperan penting membentuk nilai-nilai dalam diri anak.

Kapan saat terbaik untuk membentuk karakter anak? Pembentukan karakter anak dapat dimulai sedari dini, antara usia 0-7 tahun. Mengapa pada usia ini? Karena sampai usia 7 tahun jaringan syaraf di otak anak (lupa penjelasan ilmiahnya) belum tersambung secara sempurna, sehingga apabila dalam kurun waktu tersebut ditanamkan nilai-nilai positif, sistem bawah sadar anak akan menyerapnya dengan sangat baik seiring dengan berkembang dan menguatnya ikatan syaraf-syaraf otak tersebut. Hal yang sama berlaku juga jika anak terpapar hal-hal buruk dalam periode ini. Tinggal kita sebagai orangtua memilih mau membekali anak dengan hal yang mana?

Di sela-sela training, ibu Rani menampilkan beberapa slideshow yang berisi contoh pesan singkat/sms gaya anak jaman sekarang. Isi sms tersebut mengingatkan saya pada postingan Indah yang ini. *bergidik ngeri*
Selain itu, ada pula beberapa potongan adegan sinetron yang ditayangkan oleh stasiun TV swasta S*** yang sangat tidak pantas, yaitu adegan dimana sekelompok anak berseragam SMU menonton film dewasa bersama-sama dan tidak lama kemudian, satu persatu pasangan muda-mudi tersebut masuk ke kamar untuk mempraktekkan apa yang baru mereka lihat. Adegan lain diambil dari film remaja V*rg*n yaitu pada bagian ketika salah satu tokoh di film itu rela menyerahkan keperawanannya pada laki-laki tua demi uang 10 juta! Selain itu, ditunjukkan pula permainan dimana si pemain akan mendapat poin apabila berhasil mencuri mobil atau menabrak orang, dan apabila pemain berhasil keluar sebagai pemenang, hadiahnya membuat kami yang hadir terbelalak..sangat tidak pantas!  Slideshow ini ditutup dengan berita kasus-kasus pencabulan terhadap anak-anak perempuan kecil yang pelakunya adalah anak-anak usia sekolah dasar sampai belasan tahun di berbagai daerah di Indonesia. Sungguh fakta yang mengerikan sekaligus menyedihkan :(. Itu hanya salah satu contoh, tentunya masih banyak tayangan-tayangan tanpa mutu lain yang berseliweran setiap harinya, dikonsumsi oleh anak-anak, dan tanpa pendampingan orang tua. Bagi saya pribadi, pesan moral apapun yang ingin disampaikan oleh para pembuat film/sinetron/games tidak menjadikan tayangan tersebut lantas layak dikonsumsi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul: Sebegitu lemahnya kan peran Lembaga Sensor Media di Indonesia??? Bagaimana pornografi tidak merajalela di negeri kita??? Sebegitu bobroknyakah pemerintahan di negara kita sampai mereka tidak peduli/sadar bahwa cikal bakal generasi muda bangsa ini sedang dirusak otak dan pikirannya dengan pornografi???

Ibu Rani berulang kali mengatakan meskipun pahit, itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, beliau mengatakan adalah penting membangun rasa percaya diri dalam diri anak sehingga kelak ia mampu berkata tidak pada pengaruh buruk yang ada di lingkungannya, termasuk juga mampu membela dirinya sendiri ketika mengalami bullying. Topik bullying tidak dibahas dalam pertemuan kali ini, namun ibu Rani menegaskan bahwa anak TIDAK BOLEH mengalah, justru bekali anak dengan teknik negosiasi dan juga kemampuan untuk berpikir yang mencakup 3P (Pikir-Pilih-Putuskan) dalam segala hal. Karena besarnya tantangan membesarkan anak di masa sekarang itulah, maka para orangtua perlu terus belajar dan belajar agar dapat menyesuaikan pola pengasuhan anak sesuai dengan masanya.


If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with ridicule, they learn to be shy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with praise, they learn to appreciate.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with security, they learn to have faith.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with acceptance, they learn to find love in the world.

Thursday, 25 July 2013

Babywearing Style

Even babywearing has its own style. Here are our babywearing styles for the past fourteen months :)

Babywearing Papa proudly carried his 17-day old baby in Manduca, June 2012
Traditional batik fabric comfortably wrapped the 3-month old David, August 2012
Sound asleep in Bobitawrap, September 2012

Another style in Bobitawrap, September 2012
Manduca's great help when we hike, June 2013

Carrying a 13-month old is not that heavy thanks to Manduca, June 2013


How's your babywearing style?

Wednesday, 24 July 2013

The first two weeks

Entering the second week, things seem to be working a bit better for my little one at the daycare. The first week was full of drama every time I dropped him off and the second week just started today, since two last days were holidays here. To be honest, I find it quite difficult to let someone else look after my son, even only for three to four hours a day. I am worried that he would not eat his meals, that he would cry all the time, that he would fall and bump into hard surface, that he would eat sugary sweets or cookies, among others. However, I do realize that there are things we can't control so, in the end, a bit of compromise here and there and a bit of effort to put my trust in the daycare staff are all I need to do.

Obviously, there are good things about sending him to the daycare as well. He cries much less at home, he often plays on his own with or without me next to him, and he learns to dance while singing a song :). Sooner or later, I'm pretty sure that he will enjoy his time at the daycare and I'll have his tiny hand waving at me with smile when I drop him off in the morning. Stay happy and healthy, little D...I love you to the moon and back!

Saturday, 20 July 2013

Masa Tua

Dulu saya berpikir naif bahwa dimasa tuanya, seseorang akan selalu ada yang menjaga, kalau tidak anak sendiri mungkin saudara jauh. Pemikiran ini muncul karena itulah yang saya lihat di lingkungan saya selama ini.  Pernah ada saudara nenek yang sakit dan sebatang kara sehingga almarhumah nenek saya memutuskan untuk membawa beliau dan mengurusnya sampai saudara tersebut meninggal dunia. Kakek dan nenek saya juga diurus oleh anak-anaknya sejak mereka sakit sampai menghembuskan napas terakhir. Mempunyai anak sejumlah nyaris satu lusin ada untungnya, terutama disaat seperti ini, karena yang menguruspun bisa bergantian.
Di mata saya waktu itu, rumah jompo  bukan pilihan ideal seseorang untuk menghabiskan masa tua dan ada juga komentar yang pernah saya dengar bahwa sungguh tega orang yang memasukkan orangtuanya ke rumah jompo. Terkesan bahwa si anak tidak mau repot mengurus orangtuanya. Tapi apakah benar begitu?
Kilas balik ke beberapa minggu yang lalu ketika kami mengunjungi kakek suami saya di rumah jompo. Usia beliau 92 tahun, menderita Alzheimer, dan masuk ke rumah jompo semenjak nenek meninggal beberapa bulan lalu. Awalnya mereka tinggal berdua di rumah dan ada petugas dari dinas sosial yang datang mengurus keperluan mereka setiap hari. Selain itu, anak2nyapun bergantian datang setiap pekan.
Sore ketika kami datang ke rumah jompo tempat kakek tinggal, ada aktivitas sedang berlangsung di taman depan. Kami mencari kakek namun beliau tidak ada disana. Memasuki ruangan utama, ada sekelompok orang sedang bermain kartu, membaca, atau hanya duduk diam sedangkan di ruangan lain ada pula yang menonton televisi. Beragam kondisi mereka, ada yang masih sehat dan ada pula yang sudah menggunakan alat bantu seperti kursi roda. Kami menemui kakek sedang tertidur dalam posisi duduk di kursi dekat jendela, di sebelah seorang wanita yang tersenyum ketika kami mendekat. Saya menitikkan air mata melihat kondisi beliau, berbeda dengan empat tahun lalu saat pertama bertemu. Ketika itu beliau sudah pelupa tapi fisiknya masih sehat dan hobi berjalan-jalan mengelilingi kebun mereka yang luas sambil bernyanyi riang. Beliau juga suka melucu...manis sekali. Kami mencoba mengajaknya berbicara namun rupanya terlalu berat untuk membuka mata...hanya sesekali beliau menjawab dan kemudian tertidur kembali. Sementara wanita di sebelah kakek setiap 10 menit sekali menanyakan hal yang sama pada kami. Akhirnya kami berjalan-jalan di taman sambil menunggu kakek bangun. Lagi-lagi perhatian saya tersita oleh penghuni rumah jompo yang kami temui selama berada disana. Tampaknya mereka bahagia berada disana, dengan teman seusia mereka, mendapat perawatan dan tempat tinggal yang baik.
Pandangan saya tentang rumah jompo perlahan berubah. Topik ini juga ternyata menjadi pembahasan di kalangan teman2 pengajian. Kami sudah mulai berpikir apa bekal yang diperlukan dimasa tua (jika diberi umur panjang) nanti agar tidak bergantung pada anak. Salah satunya yang terpikir adalah menabung sehingga tidak perlu mengandalkan anak untuk hal finansial dan jika sekiranya sudah tidak mampu hidup sendiri, lebih baik masuk rumah jompo selagi masih bisa bersosialisasi dengan sesama penghuni.
Kemandirian di masa tua ini mengingatkan pada orang-orang yang saya kenal, diantaranya seorang wanita berusia 72 tahun yang aktif menjadi relawan di berbagai tempat untuk life skills education, pria berusia 88 tahun yang masih menyetir mobil sendiri dan berprinsip dimasa tuanya tidak mau menyusahkan orang lain, dan wanita yang belajar menyetir mobil diusia 60 tahun setelah suaminya meninggal dunia.
Para penghuni rumah jompo itu dulunya mungkin seperti orang-orang yang saya ceritakan diatas, sampai pada satu waktu mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Kakek sendiri dulunya adalah dokter yang bertugas dirumah jompo tersebut dan sekarang beliaulah yang mendapatkan perawatan disana.
Hal-hal seperti ini mengingatkan saya kembali bahwa waktu harus digunakan sebaik mungkin sebelum tiba masa tua, sakit dan penyesalanpun menjadi tidak berguna; serta selalu bersyukur untuk setiap hal baik yang terjadi pada kita, sekecil apapun.

Thursday, 18 July 2013

10 years and counting...

Gara-gara baca postingannya Noni tentang pulang, jadi kepikiran untuk nulis tentang ini. Kebetulan bulan ini genap 10 tahun saya meninggalkan rumah untuk hidup sendiri.

Tahun 2003 saya hijrah ke Jakarta karena pekerjaan. Untuk seseorang yang lahir dan besar di Bandung dan tidak pernah membayangkan bisa hidup di ibukota yang besar dan tidak bersahabat, keputusan ini cukup berani. Alasan saya waktu itu karena ingin mengikuti jejak teman-teman kuliah yang sudah lebih dulu pindah ke Jakarta dan sekaligus berharap siapa tahu bertemu jodoh disana ;p. Saya ingat candaan di kalangan teman-teman kalau sejauh-jauhnya orang Bandung merantau, ya ke Jakarta, berbeda dengan orang-orang yang berasal dari pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan daerah lainnya.

Beberapa tahun saya di Jakarta, saya belajar mencintainya, saya kangen ketika ingat semua kenangan di kota itu dan selalu antusias apabila sedang berada disana. Jakarta malah menjadi rumah saya saat itu walaupun hanya dalam bentuk sebuah kamar kos. Makna rumah untuk Bandung mengalami pergeseran secara perlahan. Saya pulang ke Bandung hanya untuk melepas rindu pada ibu, sebatas itu.

Empat tahun kemudian, upaya mengejar mimpi membuat saya harus meninggalkan Jakarta, kali ini tidak tanggung jauhnya dan merupakan pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri. Satu setengah tahun sebagai mahasiswi pascasarjana di Bristol, Inggris meninggalkan begitu banyak kenangan manis dan pengalaman berharga. Sepotong hati saya tertinggal disana. Sewaktu disini, definisi pulang adalah pulang ke Indonesia karena saya tahu saya tidak akan menetap lama disini, walaupun usaha ke arah itu sempat saya lakukan dengan melamar pekerjaan.

Takdir berkata lain, saya gagal memperoleh pekerjaan namun saya mendapat peluang kerja di Thailand dan Singapura. Lucunya, pada tahun 2002 saya sempat mengajukan aplikasi pada salah satu organisasi internasional yang berbasis di Bangkok namun hasilnya nihil..tujuh tahun kemudian saya malah mendapat tawaran pekerjaan dari organisasi yang sama!Karena pertimbangan satu dan lain hal, saya memutuskan perhentian saya berikutnya adalah Singapura.

Satu tahun yang begitu mengesankan hidup di negara kecil yang hebat ini, potongan lain dari hati saya tersimpan disana. Saya belajar banyak hal dari orang-orang hebat disekeliling saya dan membangun persahabatan baru. Saya meninggalkan Singapura dua minggu sebelum hari pernikahan, bersamaan dengan selesainya kontrak kerja.

Setelah menikah, selama beberapa bulan saya kembali ke rumah lama, yaitu Jakarta...cinta lama bersemi kembali..sampai tiba waktunya kami pergi ke surga Pasifik Selatan, yaitu Port Vila, Vanuatu dengan status saya sebagai trailing wife alias ikut suami. Genap satu tahun masa tinggal kami di pulau cantik ini, kesempatan lain datang dan kamipun menyambutnya...kepindahan ke Bangkok!

Hampir dua tahun berlalu, dan kami masih belum tahu sampai kapan dan kemana akan pergi setelahnya..memutuskan hidup nomaden seperti ini membuat kami kesulitan menentukan dimana rumah kami sebenarnya dan kemana tujuan pulang kami. Untuk saya saat ini, rumah adalah Bangkok, tempat kami bertiga menetap. Ah, andai saya bisa membawa Ibu tinggal bersama kami disini, tentu akan jauh lebih mudah menentukan definisi rumah, yaitu dimana orang-orang yang saya cintai berkumpul.

Sepuluh tahun yang lalu saya keluar dari rumah untuk kemudian menemukan rumah-rumah lain yang membuat saya melalui proses menjadi seperti sekarang dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat.

So, ten down, many more nomaden years to go :)

Tas dan Mimpi Melihat Dunia

Apa sih sahabat perempuan selain berlian? Hm, mungkin tas salah satunya. Sebagai perempuan yang tidak hobi mengoleksi keduanya, tidak heran kalau saya sempat terhenyak melihat harga sebuah tas bermerek di salah satu toko di kawasan Champs-Élysées seharga 14,800 Euro! Berulang kali saya lihat harga yang tertera, tapi sebanyak itu pula mata saya melihat angka yang sama. 

Pertama kali saya masuk toko tersebut bersama seorang teman baik beberapa tahun yang lalu, kami hanya masuk kurang lebih 5 menit karena penasaran dengan harga-harga produknya. Melihat harga sebuah dompet kecil saja sudah hampir 500 Euro ketika itu (tahun 2008), kamipun malas dan bergegas keluar karena tidak mampu membeli. Kali kedua, saya berada di dalam toko selama kurang lebih 45 menit karena membelikan titipan teman dan mempunyai kesempatan untuk lihat-lihat kiri-kanan. Makin ke dalam, harga produk yang ditawarkan jelas makin mahal, mulai dari ratusan, ribuan, sampai belasan ribu Euro, dan ada beberapa bagian display yang tidak tertera harganya.

Pastinya ada harga ada kualitas, dan jelas-jelas merek ini sudah melegenda, tapi terus terang logika saya sulit menerima bahwa ada saja orang yang membeli produk-produk tersebut, dengan alasan sebagai kolektor tetap atau hanya sekedar gengsi mengikuti pergaulan. Berbeda dengan butik-butiknya yang pernah saya lihat di beberapa kota di Asia, jumlah pengunjung dibatasi dan disediakan jalur antrian untuk masuk, sedangkan di pusatnya, suasana toko lebih mirip toko biasa dengan pengunjung berjubel, baik yang berniat membeli atau hanya melihat-lihat saja. Ada beberapa orang Indonesia yang saya temui, terdengar dari bahasa dan gayanya, yaitu tunjuk aneka barang, pilih sana-sini, tapi hanya sebatas itu :D, walaupun ada juga yang langsung tunjuk bungkus. Tuh, siapa bilang orang Indonesia miskin??? Oya, sebagian besar pengunjung toko ini adalah orang Asia, apakah ini bukti bahwa orang Asia lebih makmur, atau lebih berselera tinggi, atau lebih peduli pada penampilan luar dan merek? Sampai saya kembali ke hotel, pikiran saya masih di toko tersebut. Rasanya sulit diterima hati saya untuk membeli sebuah tas sementara saya tahu pasti ada orang-orang yang bahkan saya kenal harus bekerja membanting tulang untuk menghasilkan sepersekian dari harga tas tersebut. Kesimpulan selintas yang saya dapat dari teman-teman yang mau mengeluarkan sejumlah uang banyak untuk sebuah tas, dengan kualitas dan merek yang sudah melegenda, uang bukan masalah selama mereka mampu membelinya. 

Salah satu teman sempat membujuk saya untuk turut membeli, tapi entah mengapa tidak seperti perempuan normal lainnya, saya tidak tergoda sedikitpun. Malahan, saat itu saya sibuk berkhayal, dengan uang sekian, apa yang akan saya lakukan dengan kedua belahan jiwa saya?

Mungkin naik balon di Cappadocia seperti ini:

Foto dari www.playviaggi.com
 Atau trekking menikmati keindahan Cirque de Gavarnie

Foto pinjam dari www.guardian.co.uk
Mungkin juga mewujudkan impian yang belum tercapai hingga sekarang untuk menginjakkan kaki di Krakatau


Foto dari www.swisseduc.ch


Menikmati tarian lumba-lumba di Teluk Kiluan, rencana yang terus tertunda sampai sekarang.
Pinjam dari www.lampungku.com

Melemparkan diri dengan mesin waktu ke masa peradaban suku Inca di Macchu Picchu
Foto dari www.famouswonders.com

Trekking sampai Ranukumbolo
Foto dari www.kelilingnusantara.com

Mendaki puncak Rinjani
Foto dari www.rinjaninationalpark.com

 Menari dan menyanyi ala tokoh Mammamia di Santorini
Fotonya punya www.gabrielsailing.com

Merasakan alam Afrika di savana Taman Nasional Bukit Baluran
Foto milik www.baluran.go.id

Hihi, mungkin sementara saya tidak habis pikir ada orang yang mau menghabiskan uang banyak untuk membeli sebuah tas, sebaliknya mereka berpikir ngapain juga buang-buang uang untuk jalan-jalan susah dan capek lagi!! 

Bagaimana dengan kamu?

Monday, 15 July 2013

We can do it together, my love

Hails to all working mothers out there!

Why did I say this? I have never been in their shoes before, so eventhough I know some of them, I can't really feel what they have to cope every morning when they have to say goodbye to their little ones.

This morning, I finally had to do the same. We went to the daycare for a free try-out, only for one hour, though. The teacher did not let me stay, especially when she saw how my baby was so attached to me. I went home and experienced the longest hour I have ever had. I cooked for lunch and went back to pick him up. As expected, he screamed on and off for almost an hour. When I came, he was walking around the play room while screaming. As soon as he realized that I was there, he stopped screaming, ran to me and hugged me strongly. My poor baby, he must have been very angry I left him without even giving him a goodbye kiss.

After brief discussion with the teacher, despite his one-hour on-and-off screams, we agreed to send him again tomorrow for half-day. The teacher said, most children would either cry or scream on their first day although some others are quite happy and don't cry even a bit.

I'm lucky to be always be with my baby  for these past fourteen months for 24 hours nonstop, leading to a very strong attachment between the two of us. Besides, he is still breastfed and most of the time he is in his carrier whenever we go out. This makes it a bit difficult for him when I am not around. There are times when he can happily play with others without having me next to him, but there are times when he would cry or scream the minute he sees me leaving, even only a meter away.

So, let's see how he is doing tomorrow..hopefully it would be much better than today and he would feel happy being in the daycare with his peers, fingers crossed!

Sunday, 14 July 2013

[Little Traveler]: Moda transportasi

Siapa sih yang tidak suka bepergian? Saya hampir yakin, semua orang menyenanginya. Apalagi jika pergi beramai-ramai dengan keluarga atau teman-teman dekat, pastilah sangat seru, walaupun pergi sendirian (solo traveling) juga tidak kalah menyenangkan. Tapi bagaimana jika ada anak kecil/bayi yang ikut serta dalam perjalanan? Kira-kira masih menyenangkankah perjalanannya, atau malah merepotkan?

Tidak pernah terlintas sebelumnya untuk menjadikan anak saya traveler di usianya yang masih sangat muda, namun keadaanlah yang membuatnya demikian. Frekuensi perjalanan yang relatif sering membuat putra kami, David nyaris tidak pernah berada di tempat yang sama lebih dari 1 bulan dalam 7 bulan pertama kehidupannya. Ditambah lagi, sehari-hari kami mengurusnya sendiri tanpa bantuan pengasuh, jadi otomatis kemanapun saya pergi untuk suatu keperluan, ia akan ikut bersama saya. Setelah kembali dari perjalanan baru-baru ini, terpikir untuk menulis suka duka membawa bayi kecil kami (yang sekarang sudah tidak kecil lagi) melihat dunia. Karena idenya muncul saat sedang naik kereta, jadi alat transportasi menjadi topik utamanya.

Moda transportasi adalah salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan ketika membawa bayi bepergian, begitu teorinya. Misalnya, saya tidak akan membawa ia naik ojek karena faktor keamanan. Karena saat ini kami tidak memiliki kendaraan pribadi, moda transportasi yang kami gunakan juga bervariasi. Hal lain, kami juga ingin anak kami mempunyai pengalaman naik kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan tidak tumbuh menjadi anak yang hanya mau naik kendaraan pribadi yang nyaman serta memandang rendah orang lain yang hanya mampu naik kendaraan umum (pengalaman pribadi bertemu spoiled brat seperti ini). Berikut moda transportasi umum yang pernah kami pernah coba dengan si kecil.

Taksi
Kami membawa si kecil pulang dari rumah sakit dengan taksi dan begitu khawatirnya sampai berkali-kali mengingatkan pak supir untuk mengemudi dengan sangat hati-hati dan jangan ngebut. Sejauh ini, taksi adalah moda yang paling nyaman karena nyaris seperti kendaraan pribadi. Demi keamanan, ketika ia masih bayi  biasanya kami selalu menggendongnya dengan baby carrier/wrap dan mengikatkan sabuk pengaman (kalau ada) seperti biasa. Sekarang, karena ia sudah bergerak aktif, saya hanya memeganginya dengan kuat di pangkuan saya ketika kendaraan melaju dan membiarkannya bebas berkeliaran di jok belakang taksi hanya pada saat taksi berhenti.

Perahu kecil (shuttle boat)
Bagi yang pernah berkunjung ke Bangkok, pastilah pernah melihat shuttle boat yang berseliweran menjemput dan mengantar penumpang di sungai Chao Phraya. Beberapa kali, kami menaiki perahu tersebut dari stasiun BTS Saphan Taksin. Dengan bayi yang aman terbungkus dalam wrap/baby carrier, guncangan karena benturan kapal dengan arus sungai dan terpaan angin dapat diminimalkan.

Bis antar kota
Bis antar kota di Bangkok relatif nyaman, bersih, dan tidak ugal-ugalan, hanya saja untuk perjalanan dengan bis, perlu membawa ganjal berupa bantal/kain empuk yang cukup demi mengurangi benturan pada guncangan mendadak sekaligus menyangga tubuh sehingga tidak terlalu pegal duduk sepanjang perjalanan sambil menggendong bayi.

Kereta api (ekonomi)
Perjalanan dengan kereta api sebenarnya menyenangkan, hanya saja, rookie parents ini kurang teliti mencari informasi. Alhasil, bayi yang baru berusia 17 hari ini harus menaiki kereta api tanpa pendingin udara yang kondisinya nyaris mirip dengan kereta api ekonomi Bandung-Cicalengka, hanya saja lebih bersih. Terus terang, keberanian saya membawa David pergi ketika itu lebih karena tubuhnya terlihat seperti bayi berusia 2 bulan, tidak ringkih, dan juga ada ibu yang menemani. Faktanya, ia masih sangat kecil, sehingga akibat dari terpapar angin selama hampir 4 jam, ia mengalami kolik, menangis semalaman dan baru berhenti ketika berhasil mengeluarkan gas dari tubuhnya. Serba salah memang, waktu itu udara panas sekali jadi saya tidak membungkusnya dengan kain. Duh, kapok gara-gara kejadian ini dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama di lain waktu :(. Pelajaran berharga untuk kami, hindari perjalanan dengan kereta api ekonomi sebisa mungkin apabila membawa bayi kecil, kecuali orangtua siap menanggung risikonya. Sementara ketika kami menumpang TGV Tours - Paris pulang pergi, tidak ada masalah yang berarti. Pernah beberapa kali David menangis keras dan supaya tidak mengganggu penumpang lain, kami membawanya keluar berjalan-jalan di ruang yang berada di antara dua gerbong atau membawanya ke tempat ganti bayi. Tempat ganti bayi di TGV bersih, tersedia tempat duduk, dan dekorasinya berwarna-warni, cukup untuk mengalihkan perhatian si kecil dari kebosanan perjalanan selama kurang lebih 50 menit.

Pesawat terbang
Perjalanan pertama dengan pesawat terbang dimulai ketika usianya 6 minggu. Menurut saya, ada perbedaan membawa bayi terbang, tergantung usianya, lama penerbangan, rute penerbangan dan kesiapan orangtua. Di usianya yang baru menginjak 14 bulan, ia sudah berkali-kali terbang jarak pendek maupun jarak jauh.  Beragam rutenya, beragam pula cerita kami. Untuk perjalanan dengan pesawat terbang akan saya buat di postingan terpisah.

Ojek/motor taxi
Saya dulunya termasuk pengguna ojek, apalagi mengingat kemacetan Jakarta yang mengerikan. Semenjak mempunyai anak, saya tidak pernah dan tidak diperbolehkan naik ojek terlebih sambil menggendong bayi karena faktor keamanan. Sampai pada suatu hari, karena terdesak waktu, saya akhirnya menggunakan ojek juga sambil membawa David di pangkuan saya. Untung lama perjalanan tidak lebih dari 10 menit, jadi rasa deg-degan pun tidak berkepanjangan. Dengan bayi aman terikat dalam carrier di pelukan saya, saya merasa lebih tenang dibandingkan jika menggendong lepas dengan tangan saja, sambil tentu saja tidak lupa beratus-ratus kali mengingatkan pengemudi ojek untuk berhati-hati dan tidak ngebut.

Becak
Moda transportasi satu ini menjadi favorit saya setiap kali pulang kampung. Nyaman sekali rasanya naik becak sambil menikmati sapuan angin sepoi-sepoi di wajah. Sayang, dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor di jalanan, kenikmatan naik becakpun jauh berkurang. Ketika menumpang becak, pastikan muka anak menghadap kita agar jika ada debu/kotoran tidak langsung masuk ke mata. Sama dengan ojek, ketika menumpang becak, saya selalu menggendong David dalam carriernya demi alasan keamanan.

Angkutan umum/angkot
Angkutan umum sering kami gunakan pada saat pulang kampung ke Bandung. Satu-satunya yang kurang nyaman dari angkot adalah ketika bayi minta menyusu. Selain dari itu, angkutan umum tidak menjadi masalah untuk kami dan David.

Shuttle van
Kendaraan minibus berkapasitas 10-12 orang yang seringkali kami tumpangi dalam perjalanan Bandung-Jakarta p.p. Seringnya minibus yang saya tumpangi dari tempat pemberangkatan dekat rumah ini kosong, jadi ya hampir tidak ada bedanya dengan naik kendaraan pribadi. Sabuk pengaman pada minibus ini mengikat pinggang saja tanpa ada sabuk melintasi tubuh, jadi lebih mudah untuk saya yang memangku David selama perjalanan.

Skytrain
Sebisa mungkin saya menghindari naik BTS (skytrain di Bangkok) pada jam-jam  sibuk, karena pernah suatu kali saya memaksakan naik di gerbong yang padat. Tidak lama, si bayi mulai menangis keras karena mungkin stress berada dalam himpitan kepadatan penumpang kereta. Di luar jam sibuk, naik BTS sangat nyaman dan ketika ia sudah bisa duduk, seringkali saya membiarkannya duduk sendiri di kursi penumpang.

Kereta Bawah Tanah/MRT/Metro
Satu-satunya hal yang kurang nyaman dari kereta bawah tanah adalah tidak adanya pemandangan..ya iyalah, namanya juga kereta bawah tanah. Sama dengan skytrain, saya juga sebisanya menghindari naik MRT/Metro pada jam sibuk. Sama pula dengan keadaan di angkot, di skytrain dan kereta bawah tanah, menyusu adalah hal yang paling saya hindari. Kalaupun terdesak, biasanya saya turun di stasiun terdekat dari tempat saya, mencari tempat duduk dan mulai menyusui. Setelah selesai, baru naik kereta berikutnya.

Ferry
Perjalanan pertama David dengan ferry baru-baru ini cukup menyenangkan. Kapal yang membawa kami menyeberangi Selat Channel berkapasitas 800 orang dengan fasilitas lengkap. Selama 3 jam perjalanan, kami bisa berjalan-jalan menjelajah kapal dan melihat pemandangan. Untungnya, selama perjalanan, si kecil tidak mabuk laut dan tampak senang berjalan-jalan kesana kemari.

Skylabs
Skylabs adalah sejenis tuk-tuk bermotor dengan mesin 90 - 150 cc, yang banyak ditemui di bagian Timur Laut Thailand. Bentuknya berupa sepeda motor dengan tempat duduk yang cukup untuk 3 orang penumpang dibelakang/disampingnya. Umumnya, pengemudi skylabs suka tantangan, namun beruntung waktu kami menaiki skylabs membawa si bayi yang masih berusia 20 hari ketika itu, pengemudinya perempuan sehingga kami cukup tenang. Seperti biasa, ia saya gendong dengan gendongan kain tradisional khas Indonesia. 

Friday, 12 July 2013

Insomnia Sejenak

Sudah dua malam berlalu dan jetlag belum juga pergi. Biasanya kurang lebih 3-5 hari baru bisa kembali ke kondisi normal. Jadi ingat tahun lalu ketika kami kembali ke Bangkok bersama David yang saat itu berusia 4 bulan. Malam pertama ia baru tidur jam 4 pagi, malam kedua dan seterusnya berkurang 2 jam sampai akhirnya kembali ke jam normal tidurnya yaitu jam 7 malam. Kali kedua dan ketiga, prosesnya lebih cepat, yaitu 3-4 hari untuk kembali ke jam tidur normal. Saya pernah membaca (lupa dimana) kalau bayi memang lebih mudah mengatasi jetlag dibanding orang dewasa. Jadi tidak heran, sementara si bayi tidur, kami masih terjaga di pagi buta seperti sekarang ini dan kelaparan..dan mau tahu kebiasaan kami kalau jetlag sedang melanda? Yang satu makan sepaket biskuit coklat dan kemudian bersama-sama makan mie rebus/goreng instan I***mie lengkap jam 2 pagi..nyaaammmm  nikmatnyaa :D *say bye to food combining and say hello to cheating days*
Selamat sahur bagi yang berpuasa...

Friday, 14 June 2013

Kisah Asisten dan Majikan

Beberapa minggu terakhir ini, rasanya sering sekali mendengar keluhan dari teman-teman yang kebetulan mempunyai asisten/supir disini. Mendengar cerita mereka, ada-ada saja kisahnya. Kalau sudah begini, rasanya sangat bersyukur tidak perlu makan hati meskipun kemana-mana harus menggunakan transportasi umum dan mengerjakan pekerjaan domestik sendiri, kecuali membersihkan rumah.

Cerita 1: Seperti Madam
Seorang teman, sebut saja A, baru saja mempekerjakan asisten. Awalnya sang asisten berpenampilan sederhana sampai kemudian ia sering mengamati ketika majikannya berdandan. Sang asistenpun mulai berdandan sampai-sampai ia minta ijin langsung pada A untuk berdandan meniru sang nyonya. Yang ada, sang Madam alias A pun hanya bisa bengong. Di satu kesempatan, sang asisten ikut A ke satu tempat. Sesampainya di sana, ada teman A yang menyapa dan menanyakan siapakah orang yang yang bersama A. Begitu dibilang asistennya, si teman terperangah sambil bilang "buset, heboh amat dandannya, majikannya aja kalah!!!" Si A pun cuma bisa geleng-geleng kepala. Lain waktu, A memergoki asistennya sedang berolahraga yoga di tengah-tengah jam kerja! Asisten A yang ini sangat peduli kesehatan dan penampilan rupanya :p

Cerita 2: Menonton TV
Masih dengan A, kali ini asisten barunya tidak seunik yang sebelumnya. Hanya saja, satu-satunya hal yang dikerjakan si asisten adalah menonton televisi..ck..ck..ck..Hal-hal yang telah diinstruksikan untuk dikerjakan tidak disentuh sama sekali. Sudah jelas, masa kerjanyapun tidak berlangsung lama.

Cerita 3: Salah Paham 1
Teman yang lain, sebut B, mempunyai tiga orang anak. Suatu hari, B minta asisten rumah tangga barunya untuk memandikan anak-anak sebelum ke sekolah yang diiyakan oleh sang asisten. Tunggu punya tunggu, anak-anaknya tidak kunjung muncul..tapi tidak lama kemudian muncullah si asisten yang sudah wangi dan rapi jali. B pun terheran-heran..ternyata si asisten mengira majikannya menyuruh dia mandi, jadi sebagai pekerja yang baik, ya dia menuruti apa kata majikannya. Melirik asisten yang sudah wangi sementara anak-anaknya belum siap, B pun hanya bisa mengurut dada.

Cerita 3: Salah Paham 2
C, seorang teman lagi, mendapat fasilitas supir dan mobil dari kantor suaminya. Suatu hari, kami sedang makan siang bersama di satu rumah makan. Ditengah acara, C pamit untuk menjemput anaknya. Karena sudah terlambat sementara supirnya ada di apartemen, C berinisiatif untuk pergi naik ojek ke sekolah anaknya dan menelepon supirnya untuk langsung pergi menjemput ke sekolah anaknya. Dari percakapan telepon mereka, tampaknya sang supir paham dengan instruksi majikannya. C pun pamit pergi..tidak berapa lama, tiba-tiba supirnya malah datang ke rumah makan tempat kami berkumpul..Oalah, ternyata pak supir salah mengerti. Rupanya, menurut C, kejadian ini terjadi bukan sekali dua, tapi sudah sering..apalagi kalau soal nyasar ketika cari alamat.

Mungkin besok-besok, akan ada cerita baru lagi tentang para asisten dan majikan ini. Kita tunggu saja :)

Thursday, 13 June 2013

One of My Lucky Days

It has been raining a lot in Bangkok nowadays. Most of the days this month were started by grey skies and cloudy morning, and often, it happened for the whole day. Nevertheless, our activities wouldn't stop running, just like today. I planned to visit a friend at around 3 p.m., but few minutes before the clock stroke three, it rained heavily. I was thinking of canceling the visit, but then I decided to wait a bit with the hope that the rain would stop. At the end, we left the apartment around 3.40 p.m or so. I walked until the end of the alley, crossed the bridge and got off the stairs to find out that there were two other people ahead of me who were also in the taxi queue. Two taxis passed by us but as usual, they refused as soon as you told them where to go...so, there we were, under the rain shower, hoping to get a taxi as soon as possible. After some time, one taxi came but he seemed to ignore the sign from the two ladies as he kept driving, and out of the blue, he stopped right in front of me instead. I looked at the driver in surprise and so did the other lady. I got onto the taxi with curious feeling, why on earth he would take me but not other ladies? Later, I got the answer as he started the conversation and said that he has a three-year-old son at home..so no wonder he took us as I was with my son, too...parents' solidarity it is.

Since I have experienced refusal from many taxi drivers although they saw me carrying a baby, I would call it one of my lucky days..just like the other day when I was in a hurry to attend my appointment with the dentist and could not get neither taxi nor motor taxi/shiro (another type of public transport similar to tuk tuk), I finally found a vacant shiro whose driver agreed to take me after seeing my insistence.

Yep, taking public transports in Bangkok can be very tricky and on many occasions, you'll end up getting upset with the taxi drivers for not taking you to your destination while wondering what the reason is. At this situation, I often miss Jakarta where I won't experience any refusal to get onto the taxi by at least five to seven drivers at one time..pheww...

Wednesday, 5 June 2013

Jump for Joy in June

Amid the excitement of planning our summer holiday this year, I received a surprisingly wonderful news for my postponed project and a message from a good friend of mine. For the project, although it is not confirmed yet, the positive response I got might set the wheels in motion; as for the message, who can resist such a lovely invitation like this???

A day later, another message from my friend came in, saying that a traveling cot is ready for my little bunny a.k.a her grandson, how thoughtful she is, blessed her!

When I still lived in Bristol, I was often invited to her cozy and beautiful house, either to stay over for few nights or to enjoy delicious meals prepared for many special occasions. It was almost six years ago but I still remember every detail and moment of my life there...phewwww...time flies too fast! Few weeks from now, I'll be revisiting memorable Bristol, which is gonna be very very special as I will cherish every moment there with my two beloved boys.

Hello England, here I (we) come...and you, the weather, please be nice to us :)

Monday, 27 May 2013

Banana oatmeal teething cookies

Dari beberapa produk biskuit bayi yang pernah saya coba, hanya satu yang lolos seleksi, yaitu banana milk rusks-nya Rafferty's Garden. Kenapa saya suka teething biscuit ini? karena rasanya yang nyaris tawar dibandingkan dengan beberapa biskuit lain yang pernah saya cicipi dan tidak berantakan apabila dimakan bayi. Setelah kehabisan stok dan tidak juga menemukan stok baru karena ternyata produk ini tidak dijual di Bangkok, saya coba buat kue sendiri dengan resep ibu Ratih Wulansari dari grup Homemade Healthy Baby Food, yaitu banana oatmeal cookies.

Bahan:
2 buah pisang matang (Cavendish/Sunpride)
50 gr unsalted butter
70 gr oatmeal (resep asli 100 gr)
3 sdm tepung beras (karena tidak punya cukup oatmeal dan resep asli hasilnya relatif lembek, jadi saya tambahkan tepung beras).

Cara membuat:
Semua bahan dicampur dan diaduk. Cetak sesuai selera dan panggang sampai berwarna kecoklatan.
Gampang membuatnya dan yang pasti, enaakkk.

Tuesday, 7 May 2013

Bandungku sayang Bandungku malang

Duapuluh lima tahun yang lalu, saya masih ingat betapa indah dan bersihnya Bandung si kota Kembang yang langganan memperoleh penghargaan Adipura sebagai kota terbersih di Indonesia.
Tujuh belas tahun yang lalu, saya masih bisa merasakan dinginnya udara kota Bandung dan seringkali ketika pergi sekolah, kabut tipis masih nampak di perjalanan. Saya juga masih bisa menyaksikan bangunan Art Deco yang banyak terdapat di Bandung. Begitu cintanya saya dengan kota ini sampai-sampai tidak terbayangkan kalau suatu hari harus meninggalkan Bandung dan hidup di kota lain.
Sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan bisa bertahan hidup di ibukota yang terlihat keras dibandingkan dengan kehidupan di kota kelahiran saya yang begitu bersahabat di mata saya waktu itu.
Delapan tahun yang lalu, saya menyaksikan Bandung menjadi kota sampah, ditambah premanisme dimana-mana, pedagang kakilima dan lalu lintas yang semrawut.
Lima tahun yang lalu, kawasan historis Braga sudah memudar pesonanya dengan kondisi jalan yang buruk, pedagang kakilima dan anak jalanan semakin merajalela, bangunan-bangunan bersejarah sudah berganti façade dan fungsi, dan kabut di pagi hari sudah hilang entah sejak kapan.
Tiga tahun yang lalu, saat teromantis dalam hidup saya terjadi di Bandung. Berbeda dengan kebanyakan orang yang punya memori indah dan romantis dengan seseorang atau bahkan bertemu jodoh di kota ini, saya tidak sekalipun mempunyai pengalaman serupa selama menjalani masa muda di Bandung, mungkin karena saat itu saya tidak bersama orang yang tepat :p.
Bulan lalu, banyak tempat di kota ini mengalami banjir, lalu lintas yang semakin padat karena meningkatnya volume kendaraan tanpa diikuti penambahan kapasitas ruas jalan, lubang-lubang besar menganga di banyak ruas jalan (mungkin satu-satunya ruas jalan yang mulus dari ujung ke ujung hanya jl. Asia Afrika yang merupakan jalan lintas propinsi) dan sangat membahayakan terutama pada musim hujan, premanisme, anak jalanan, dan PKL yang semakin tidak terkendali, dan kotor!
Bandungku tercinta, riwayatmu kini menyedihkan :( :(
*berharap pengelola kota dari pemerintahan yang akan terpilih dalam waktu dekat dapat membenahi warisan kekacauan dan kerusakan yang dibuat oleh pemerintahan sebelumnya*

Wednesday, 1 May 2013

Koper Oh Koper...

Pernah mengalami kehilangan koper dalam perjalanan? Meskipun kejadiannya tidak sering-sering (dan mudah-mudahan jangan), urusan kehilangan koper ini pastinya sukses bikin deg-degan :(.

Minggu lalu, si suami baru saja kehilangan kopernya dalam perjalanan dari Jakarta ke Yangon. Rupanya sewaktu check-in bagasi di bandara Soekarno-Hatta, petugas salah memasukkan rute perjalanan, yang seharusnya dari Jakarta dikirim ke Yangon via Bangkok, menjadi Jakarta - Bangkok dan Yangon - Bangkok dengan selang waktu 1 minggu..bagaimana ceritanya si koper bisa dikirim dari Yangon ke Bangkok tanpa pernah sampai di Yangon sebelumnya??? Setelah dicek, rupanya koper tertahan di Bangkok dan dijanjikan akan dikirim dengan pesawat berikutnya, namun dari suami tiba di Yangon hari minggu malam, si koper tak jua muncul sampai akhirnya menampakkan diri hari selasa siang :(..

Peristiwa lain terjadi ketika kami masih tinggal di Pasifik. Suatu hari, suami ikut pelatihan di Bangkok dan kemudian dilanjutkan dengan tugas ke Noumea. Dalam perjalanan pulang dari Bangkok menuju Noumea, ternyata kopernya tertinggal di Sydney. Kebetulan pada saat yang sama saya sedang berada di Noumea dalam rangka memperpanjang paspor. Meskipun sudah melapor sejak awal kedatangan, namun entah mengapa, proses pengiriman koper dari Sydney ke Noumea terus menerus ditunda meskipun staf yang kami hubungi di bandara mengatakan koper akan dikirim segera dengan pesawat berikutnya. Alhasil, sampai suami kembali lebih dulu ke Port Vila tiga hari kemudian, koper hilang tersebut belum kami terima. Setelah berulang kali menghubungi pihak berwenang di bandara, akhirnya si koperpun disepakati untuk dikirim langsung ke Port Vila, bersamaan dengan waktu kepulangan saya beberapa hari kemudian. Hampir satu minggu koper tersebut terabaikan di bandara, untung saja tidak ada keju di dalamnya..bayangkan seperti apa baunya jika dalam koper tersebut tersimpan blue cheese atau Roquefort??? :p

Kejadian berikutnya dialami oleh saya sendiri. Waktu itu saya bermaksud pergi ke Manila via Sydney dan Kuala Lumpur. Masalahnya kali ini adalah waktu transit yang hanya 1 jam 25 menit di Sydney sebelum penerbangan berikutnya. Penerbangan saya kali ini cukup rumit, dan dari semua kombinasi yang ada, hanya itu satu-satunya yang paling memungkinkan. Ternyata, pesawat dari Port Vila ke Sydney mengalami masalah teknis sehingga kami harus menunggu pesawat pengganti. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, akhirnya pesawat Norfolk Air datang juga dan ketika akan mendarat di Sydney, semua penumpang yang mempunyai connecting flight untuk tujuan domestik dan internasional mendapat prioritas. Kebetulan di pesawat itu, selain saya, ada satu orang wanita yang akan terbang ke Addis Ababa via Abu Dhabi. Begitu sampai di gedung bandara, kami langsung diangkut dengan shuttle tanpa melalui pemeriksaan lagi. Waktu itu sempat terpikir apakah bagasi saya berhasil dipindahkan dalam waktu singkat tersebut dan ternyata benar saja, sesampainya di Manila, bagasi saya tidak juga muncul karena masih tertinggal di Sydney. Seperti biasa, saya menghubungi pihak berwenang di bandara dan dijanjikan akan menerima koper saya maksimal dalam waktu 1 minggu!!! Jelas saja saya menolak karena dalam waktu seminggu, saya sudah kembali lagi ke Port Vila. Nyaris 2 hari berlalu tanpa ada kabar sampai akhirnya saya meminta tolong agen yang mengurus tiket kami untuk menanyakan kabar koper saya. Ketua panitia penyelenggara sampai berbaik hati menawarkan untuk meminjamkan beberapa potong pakaiannya karena khawatir pada saat saya harus presentasi, saya tidak punya pakaian yang pantas. Akhirnya, dengan bantuan agen baik hati tersebut, malam-malam, sekalian menjemput peserta lain, kami pergi ke bandara untuk mengambil koper saya. Lucunya, saya sempat berdebat dengan staf yang bertugas karena koper saya tersebut terdaftar atas nama orang lain yang sama sekali tidak saya kenal, padahal jelas-jelas nama saya tertera pada tag-nya :(.

Dari beberapa pengalaman tersebut, pelajaran yang dapat kami ambil adalah: 1) jangan percaya begitu saja pada janji pihak bandara yang mengatakan akan menghubungi kita dan mengantarkan koper secepatnya. Lebih baik kita yang proaktif menghubungi pihak berwenang secara rutin untuk memastikan status keberadaan bagasi kita; 2) SELALU membawa cadangan pakaian dan keperluan lain dalam bagasi kabin kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi; 3) sebaiknya membeli travel insurance untuk berjaga-jaga jika terjadi kehilangan koper seperti yang kami alami diatas (terus terang, kami tidak pernah melakukannya meskipun sudah kejadian beberapa kali, jadi dari ketiga pengalaman diatas, hanya pengalaman kedua dimana kerugian kehilangan koper diganti dengan sejumlah uang, sementara dua yang lain kami hanya bisa gigit jari :p)

Begitulah kira-kira kisah kehilangan koper yang pernah kami alami. Ada yang punya pengalaman serupa?

Thursday, 25 April 2013

Cerita ber-MPASI di Luar Rumah

Ternyata, 6 bulan pertama adalah masa yang paling santai dan mudah untuk bepergian dengan si kecil. Di masa 6 bulan kedua ini, kami memutuskan untuk berkompromi dalam beberapa hal demi kesejahteraan bersama :)
Awalnya, saya sempat malas bepergian ketika si kecil memasuki usia 6 bulan mengingat barang2 yang harus dibawa untuk menyiapkan MPASI. Namun, karena kegiatan bepergian tidak dapat dihindarkan di keluarga kecil kami, jadi suka atau tidak suka, pemberian MPASI di luar rumah harus tetap berjalan.
Idealnya, pemberian makanan rumahan dapat tetap diberikan pada saat traveling, meskipun membutuhkan sedikit usaha ekstra. Demi anak, kerepotan apapun pasti akan dijalani. Praktiknya ternyata tidak semudah yang dibayangkan :(.
Dari pengalaman membawa bayi bepergian selama ini, ada beberapa hal tentang pemberian MPASI yang perlu dan praktis versi saya.
1. Membawa pisau dan alat makan. Kalau mau, bisa juga ditambah membawa saringan kawat dan hand blender.
2. Membawa bekal buah padat kalori nan praktis seperti alpukat, pisang, mangga sebagai pengganti menu utama.
3. Memanfaatkan bahan makanan lokal. Satu-satunya buah impor yang rutin dikonsumsi bayi kami adalah alpukat, sementara semua bahan makanan lain seperti daging-dagingan, buah dan sayur, semuanya adalah produk lokal. Jadi, setiap kali kami bepergian, si kecil selalu memperoleh kesempatan mencoba jenis makanan baru yang tentunya mudah didapat di pasar atau toko serba ada setempat.
4. Belajar fleksibel. Prinsip kami adalah tidak mau memberikan makanan instan, makanan yang mengandung gula garam, dan makanan berbahan dasar tepung putih seperti roti dan kue karena pertimbangan kandungan
glutennya. Namun karena situasi tidak memungkinkan, pada akhirnya si kecil mencicipi juga nasi soto, sop buatan restoran, roti putih, biskuit bayi instan dan makanan bayi dalam kemasan botol yang kerap diberikan di pesawat. Justifikasinya, selalu ada pengecualian ketika sedang tidak berada di rumah tapi begitu kembali dari perjalanan, pola makan diperbaiki kembali sesuai dengan prinsip awal.
5. Membawa cemilan berupa buah/sayur potong seperti wortel/kentang kukus, pepaya, jambu.
6. Khusus di Indonesia, kami memanfaatkan jasa penyedia katering makanan khusus bayi yang sudah terjamin bebas gula garam dan menggunakan bahan organik. Harganya relatif mahal namun setidaknya kami tidak perlu repot. Pada kunjungan baru-baru ini ke Jakarta, kami memakai jasa dari Mammakanin dan Baby Bar dan kami cukup puas.
Yang pasti, jika perut bayi kenyang, bayi tenang, dan orangtuapun senang :).