Saturday, 1 July 2017

Sekilas Metz: Kota di Perbatasan Tiga Negara

Kota Metz (dibaca: mɛs) kami sambangi tanpa rencana. Berhubung cuaca di Luxembourg tidak mendukung, kami memutuskan untuk kembali ke teritori Perancis lebih cepat. Metz menjadi pilihan. Kesan grandiose langsung terasa begitu memasuki kota, meski di mata saya kota ini terkesan "kosong" dan "sepi", apalagi di hari Sabtu pagi. Banyak bangunan kosong dengan papan penanda "dijual" atau "disewakan" dan taman tidak terawat di Place de la Republique yang sempat kami lewati menambah kesan "kosong" tersebut. Dari hotel di dekat Place R. Mondon, tidak jauh dari stasiun kereta api Metz, kami berjalan kaki menuju Cathedrale dan Place d'Armes, yang merupakan pusat kota Metz. Berada di perbatasan antara Jerman, Luxembourg, dan Perancis, sejarah kota Metz dimulai sejak 3,000 tahun lalu.

Mayoritas bangunan di kota ini mencuri perhatian pada kunjungan pertama. Arsitektur bergaya Renaissance sangat mendominasi, dikombinasi dengan arsitektur bangunan perpaduan Jerman-Perancis seperti di wilayah Alsace dan arsitektur bergaya Gotik. Sebagian besar bangunannya dibangun dengan batuan kapur berwarna kekuningan yang dikenal sebagai "pierre de Jaumont". Karena kami menjelajahi bagian kota Metz dengan berjalan kaki, saya sangat terkesan dengan area pejalan kaki yang sangat lebar, bahkan area pejalan kaki di kawasan komersial kota ini merupakan yang terlebar di seluruh Perancis.

Metz adalah ibukota wilayah Lorraine yang masuk ke dalam teritori Perancis sejak tahun 1552. Antara tahun 1870-1918 dan pada masa Perang Dunia II, Metz berada dalam kekuasaan Jerman. Setelah melintasi pusat kegiatan komersial Metz, kami sampai juga di Place d'Armes. Arsitek kota Metz pada abad ke-18, Jacques-François Blondel, menggabungkan unsur agama, militer, pemerintahan dan hukum sekaligus dan di Place d'Armes inilah gedung Balai kota, Katedral St. Etienne, gedung Opera yang merupakan gedung opera tertua di Perancis, dan gedung militer yang berubah fungsi menjadi kantor pariwisata kota berlokasi.

Salah satu sudut kota Metz



Porte Serpenoise

Suasana kota Metz di hari Sabtu pukul 11 siang


Bagian depan Katedral St. Etienne
Bangunan pasar tertutup yang sayangnya tutup di akhir pekan



Lambang kota Metz

Katedral St. Etienne yang megah nampak dari sisi lain





Saturday, 24 June 2017

#World Heritage Sites: Historic Centre of Brugge

Pusat kota Bruges

Coklat, bir, dan kentang goreng atau lazim disebut French fries langsung terlintas dalam benak begitu mendengar nama Belgia. Tapi bukan itu alasan kami tertarik mendatangi negeri coklat ini, melainkan sebuah kota cantik yang dikelilingi kanal bernama Bruges, yang juga dikenal sebagai Venice of the North.

Bruges, Dulu dan Sekarang
Bruges dalam bahasa Inggris dan Perancis atau Brugge dalam bahasa Belanda adalah kota kanal yang terletak di sebelah barat daya Belgia, ibukota wilayah sekaligus kota terbesar di West Flanders. Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Flemish, Belanda, dan Perancis. Dulunya, sekitar abad pertengahan, Bruges merupakan kota pelabuhan dan aktivitas perdagangan yang sibuk di Eropa, khususnya perdagangan tekstil. Layaknya kota perdagangan, kanal-kanal yang mengaliri kota ramai dilalui kapal-kapal niaga maupun kapal-kapal penumpang bagi penduduk setempat. Pada masa kejayaannya di abad kelimabelas, Bruges dikenal sebagai gudangnya pemintal dan penenun terbaik dunia. Menginjak abad ketujuhbelas, kain pintal dan tenun mulai tergantikan kerajinan tangan berbahan dasar renda atau lace yang populer sebagai cinderamata khas Bruges hingga saat ini.

Kota Bruges diperkirakan telah ada sejak abad ketujuh, namun abad ketigabelas hingga empatbelas adalah periode keemasan Bruges sebagai kota pelabuhan internasional sekaligus pusat komersial utama di wilayah barat laut Eropa. Sempat menjadi daerah pendudukan Perancis selama 20 tahun, kemilau Bruges perlahan memudar hingga puncaknya menjadi salah satu kota termiskin di Eropa pada abad kesembilanbelas. Meski begitu, kekayaan budaya dan sejarah yang terdapat di Bruges tetap terjaga baik selama berabad-abad, menjadikan pusat historis kota Bruges terpilih sebagai situs warisan budaya dunia UNESCO pada tahun 2000.

Sekarang, dengan popularitasnya, Bruges menjadi kota tujuan untuk day-trip, khususnya pada akhir pekan dan hari libur. Tidak disangkal, Bruges memang dipadati turis. Walaupun begitu, keelokan kota ini tetap dapat saya nikmati saat menyusuri jalan-jalan berbatu khas abad pertengahan diapit bangunan-bangunannya yang fotogenik. Deretan toko coklat dengan aneka bentuk yang unik, toko kerajinan lace yang sedap dipandang mata meski harganya relatif mahal, hingga toko-toko cinderamata yang etalasenya saja begitu menggemaskan, mengukuhkan pesona Bruges sebagai kota tujuan wisatawan.

Deretan bangunan berwarna-warni ikonik dengan fasad segitiga berundak tampak menonjol dan segera mencuri perhatian saya begitu kami berada di Market Square. Dikelilingi bangunan tua berwarna-warni yang dulunya merupakan tempat tinggal para pedagang kaya di satu sisi, Provincial Court di sisi lain, di Market Square juga terdapat Bruges Beer Museum.  Sebagai kota turis, bisa dibayangkan bagaimana situasi Bruges di akhir pekan dan di hari libur.

Dari Perayaan Hari Nasional hingga Pencuri Cantik
Kami datang di pertengahan minggu, namun hari itu bertepatan dengan perayaan hari nasional Belgia yang jatuh pada 21 Juli, sehingga Bruges terbilang ramai. Berkesempatan menyaksikan upacara penghormatan kepada para veteran perang di Burg Square, kami bergabung dalam kerumunan pengunjung di depan balai kota Bruges, sebelum melangkahkan kaki ke Huidenvettersplein, salah satu dari empat tempat perhentian kapal yang membawa wisatawan menyusuri kanal-kanal di Bruges.

Setiap perjalanan selalu menorehkan kisah tersendiri yang berbeda untuk setiap orang, entah itu kisah lucu, sedih, mengharukan atau bahkan mengesalkan. Tidak pernah terbayangkan jika di kota inilah saya nyaris kecopetan untuk pertama kalinya. Awalnya, ketika kami sedang mengantri membeli tiket, sekilas saya sempat memperhatikan dua orang wanita muda berpakaian kasual dan berparas cantik yang salah satunya sedang hamil besar berdiri tidak jauh dari antrian. Entah kenapa, dari sekian banyaknya turis yang lalu lalang pagi itu, ingatan saya tentang dua perempuan muda tersebut cukup melekat, sampai akhirnya kami dipersilakan naik ke atas kapal dan tur selama 30 menit itupun dimulai. Lama setelah tur selesai, kami berkeliling kota, menyusuri trotoar sambil sesekali berhenti mendaratkan pandangan di etalase toko-toko coklat yang terlalu menarik untuk diabaikan. Tiba-tiba, saya merasa ada gerakan pada tas punggung dan seketika menoleh ke sumber gerakan. Benar saja, resleting tas punggung saya sudah setengah terbuka dan pada saat bersamaan memergoki salah satu dari perempuan muda yang sebelumnya saya lihat di dekat antrian kapal berdiri tepat di belakang saya segera menghentikan aksinya. Dengan wajah tanpa dosa, perempuan hamil yang satunya lagi sigap menyapa akrab teman di samping saya sambil menunjuk salah satu coklat berbentuk tak lazim di etalase toko, kemudian mendahului kami dan dengan cepat menghilang, mungkin mencari mangsa lain. Untungnya tidak ada barang yang sempat berpindah tangan, namun pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa tangan jahil itu tidak memandang tempat dan tidak mempunyai stereotip. Siapa yang mengira jika di Bruges, tangan jahil tersebut berwujud dua perempuan muda cantik jelita dan salah satunya sedang hamil besar?

Urusan dengan tangan jahil ini tentunya tidak lantas membuat kami kehilangan semangat mengeksplorasi kota yang konon disebut-sebut sebagai salah satu kota dengan rupa bak negeri dongeng di Eropa ini. Panorama kota Bruges terlalu cantik untuk diabaikan dalam perjalanan singkat kami.

Yang Menarik untuk Dikunjungi di Bruges
Namun, kunjungan ke Bruges tidaklah sahih tanpa mendatangi langsung tengaran-tengaran penting dari berabad-abad lalu. Perhentian pertama tentunya adalah Market Square, dimana terdapat bangunan ikonik Bruges, yaitu deretan rumah pedagang di masa lalu dengan fasad segitiga berundak berwarna-warni yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kedai kopi atau restoran. Waktu makan siang masih beberapa jam lagi, namun di sudut meja salah satu kedai, tampak satu keluarga dengan anak-anak yang masing-masing sedang menikmati sepiring besar wafel yang tampak lezat. Jangan lewatkan Bruges tanpa mencoba moules frites atau remis yang dimasak dengan bawang bombay, jahe, persil, disajikan bersama kentang goreng dan ditutup dengan wafel dengan aneka topping buah-buahan segar seperti pisang, stroberi, atau kiwi dan krim atau es krim, hmmm…dijamin perut akan puas dan bahagia! Usai urusan kuliner, bangunan historis di sekeliling Market Square seperti Provincial Court yang kokoh dan menara Belfry yang menjulang serta Bruges Beer Museum sudah menunggu untuk disambangi. Walaupun kebanyakan turis memilih berjalan kaki di Bruges, pilihan lain yang menarik tapi harus merogoh kantong lebih dalam adalah menumpang kereta kuda nan gagah dari Market Square seharga 50 Euro untuk 30 menit berkeliling pusat kota historis, dikusiri pemandu profesional.

Ke arah timur dari Market Square, terdapat Burg Square dimana City Hall atau Balaikota Bruges berada. Hanya ada dua kesempatan untuk memasuki Balaikota, yaitu bila akan menikah atau jika kita diundang teman/kerabat yang menikah disana. Jadi kalau ingin masuk ke dalam gedung bersejarah tersebut, tinggal pilih momen mana yang paling cocok untuk Anda.

Sedikit menjauh dari pusat historis ke arah selatan, berlokasi tepat di tepi kanal Minnewater, terdapat kompleks bangunan didominasi warna putih dinaungi pohon besar yang rindang dan rumput hijau. Suasana syahdu terasa seketika begitu saya menginjakkan kaki di halamannya. Itulah Béguinage atau Begijnhof yang merupakan tempat tinggal sekaligus tempat bekerja para penghuninya. Berbeda dengan biara, penghuni Béguinage bukanlah biarawati melainkan wanita biasa yang semata ingin mengabdikan dirinya untuk Tuhan.

Sebagai kota seni, Bruges juga mempunyai banyak museum terkemuka, seperti Groeninge Museum, tempat dipamerkannya karya pelukis besar Belgia Hans Memling dan Jan van Eyck. Sedangkan penggemar batu berharga berlian bisa mengayunkan langkah ke Diamond Museum, yang terletak tidak jauh dari Begijnhof. Tidak lupa, coklat dan kentang goreng yang merupakan ciri khas negara Belgia juga mempunyai museumnya masing-masing, yakni Choco-story atau Chocolate Museum dan Friet Museum, dimana pengunjung dapat mengetahui sejarah asal-muasal coklat maupun kentang goreng sekaligus mencicipinya disana. Untuk pelancong keluarga dengan anak-anak, kunjungan ke dua museum ini tentunya akan sangat menyenangkan seluruh anggota keluarga.

Penikmat sejarah, budaya, dan arsitektur dijamin betah berada di kota indah ini. Selain tengaran seperti balai kota atau gedung-gedung pemerintahan, interior bangunan peribadatan di Bruges juga sangat menarik. Mulai dari Jeruzalemkerk atau kapel yang didirikan pada abad kelimabelas oleh seorang pedagang kaya yang baru kembali berziarah dari Jerusalem, biara Carmelites, kapel Orthodoks, hingga biara untuk pastor Jesuit.

Salah satu yang wajib dilakukan pelancong ketika berada di Bruges adalah mengikuti tur melalui kanal-kanal dengan menumpang kapal berkapasitas kurang lebih 25 orang. Dengan tiket seharga 8 Euro per orang, kami bergabung dengan calon penumpang lain, siap menikmati panorama Bruges dari kanal. Perjalanan selama 30 menit ini nyaris tidak terasa, apalagi banyak bangunan sepanjang kanal yang teramat menarik. Sekawanan angsa dan bebek yang berpapasan dengan kapal kami menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Selain mengikuti tur keliling kanal, menumpang kereta kuda, atau menyewa sepeda, Bruges sangat nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki. Pusat kota Bruges cukup kecil untuk dinikmati sambil mengayunkan langkah, bahkan bagi mereka yang tidak gemar menjelajahi kota dengan berjalan sekalipun.

Yummmyyyy!!!
  

Kerajinan lace khas Bruges

Cantiknya kota Bruges
 











Bruges hanya berjarak 1 jam perjalanan dengan kereta dari Gare du Midi di Brussels, 1,5 jam dari Antwerpen, dan hanya 30 menit berkereta dari Gent.Sementara dengan kota-kota besar lainnya di Eropa, Bruges dapat dicapai dari Lille, kota terdekat di Perancis selama 1 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Dari stasiun Paris-Nord, Bruges berjarak 2,5 jam perjalanan kereta, sedangkan dengan kota-kota lain seperti London dan Dover di Inggris, Amsterdam di Belanda, dan Koln di Jerman, Bruges berjarak 1,5 – 4 jam perjalanan dengan moda transportasi kereta ataupun kapal feri. Sebagai kota turis, tipe akomodasi di Bruges cukup bervariasi yang dapat dipilih sesuai anggaran, dengan pilihan terbanyak berupa hotel dan chambre d’hôtes atau kamar yang disewakan di rumah penduduk. Pilihan kedua lebih menarik dari sisi pengalaman karena selain bisa berinteraksi dengan tuan rumah, tamu dapat menikmati hidangan seperti layaknya di rumah. Berkeliling Bruges paling seru dilakukan dengan mengendarai sepeda yang banyak terdapat di sudut kota. Yang pasti, jangan lewatkan Bruges kalau suatu hari berkunjung ke Belgia. It is definitely worth a visit!