Thursday, 11 September 2014

Jakarta Oh Jakarta...

Bulan lalu kami berkesempatan mudik Lebaran ke Bandung yang dilanjutkan dengan liburan bersama teman-teman dekat di daerah Lembang kemudian ditutup dengan mendamparkan diri di ibukota. Pas lagi baca postingan mbak Yo yang ini, saya langsung teringat pengalaman unik, atau tepatnya bikin gondok yang dialami sahabat dan sepupu kami di Jakarta baru-baru ini, yang jelas sih tidak ada kaitannya dengan acara mudik :p

Kalau dari cerita mbak Yo, kalangan kaum menengah atas biasanya suka seenak jidatnya memperlakukan orang-orang yang melayani mereka karena merasa lebih tinggi "kastanya" dan berhak nyuruh ini-itu karena "konsumen adalah raja", pengalaman sepupu dan sahabat kami ini justru yang kontrasnya, yaitu kena scan sebagai calon konsumen yang dianggap "meragukan". Kesamaannya, sama-sama bikin kesel yang dengar, apalagi yang mengalami.

Jadi ceritanya, sepupu saya ini, sebut saja namanya M, pergi jalan-jalan bersama suami dan anak balitanya ke salah satu pusat pertokoan besar di Jakarta. Anak perempuannya yang belum genap dua tahun sedang hobi bertelanjang kaki kemana-mana, termasuk di mall yang lantainya sejuk-sejuk dingin. Iseng cuci mata, mereka bertiga masuk ke salah satu gerai tas sejuta umat yang serta merta diikuti dengan tatapan kurang ramah dari pramuniaganya. Sepasang suami istri berkulit sawo matang dengan anak balita yang bertelanjang kaki tampaknya bukan calon pembeli yang cukup meyakinkan di mata sang pramuniaga. M ini masih asyik lihat-lihat sementara suaminya yang menyadari tatapan si mbak langsung merasa kesal. Spontan dia bilang ke M untuk pilih tas yang dia mau dan memastikan si mbak tersebut mendengarnya. M yang tiba-tiba mendapat tawaran mendadak nan menggiurkan tentu saja bingung pada awalnya. Apalagi dia adalah kolektor sepatu sneakers dan mengoleksi tas bukan termasuk hobinya. Akhirnya setelah bungkus dan bayar di kasir, berceritalah si suami alasan kenapa dia berbuat seperti itu...hihi...M sih senang-senang saja karena gara-gara suaminya kesal dengan mbak pramuniaga tadi malah berbuntut dia dapat tas baru :D.

Cerita kedua berasal dari sahabat kami Mbak A, mantan teman kos yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Mbak A ini seorang desainer interior yang cantik, kreatif, mandiri, pekerja keras, pokoknya mengagumkan. Saya ingat waktu jaman ngekos dulu, mbak A ini seringkali pulang ke kosan dengan cerita-cerita lucu seputar prinsipnya yang gak gengsian. Meskipun terlahir dari keluarga berada, mbak A ini gak gengsi naik kendaraan umum dan bergaul dengan siapa saja dari kalangan manapun. Siapapun yang tahu kisah perjuangan mbak A membangun perusahaannya seperti sekarang pasti akan kagum. Apa yang dimilikinya sekarang adalah buah dari kerja keras dan keuletannya berusaha setelah jatuh bangun berkali-kali, pokoknya sepuluh jempol untuk mbak A. Di tengah-tengah kesibukan mengurus perusahaan miliknya, mbak A ini masih semangat untuk sekolah lagi. Suatu hari, setelah menyelesaikan sebuah tugas kuliah yang cukup besar, mbak A mengajak asisten yang membantunya, untuk merayakan selesainya tugas tersebut dengan makan enak. Pergilah mereka ke satu restoran eksklusif di bilangan Jakarta Pusat. Karena malam itu Jakarta macet tanpa ampun, mbak A mengajak asistennya pergi naik sepeda motor alih-alih naik mobil. Ketika masuk halaman restoran, petugas parkir sempat menanyakan apa kepentingan mereka kesana. Dijawab mau makan, lalu merekapun diarahkan untuk menuju ke bagian belakang restoran. Menganggap bahwa parkiran motor letaknya berbeda dengan parkiran mobil, mereka berdua tidak berpikir macam-macam. Selesai makan dan berniat pulang, mereka berjalan ke tempat motor diparkir. Petugas disana menawarkan diri untuk mengambilkan motornya sementara mereka menunggu di tempat parkir mobil. Tidak lama, sang petugas datang sambil menuntun motor tapi kemudian memarkir motor tersebut di tempat agak tersembunyi antara sebuah kursi dan mobil yang sedang diparkir. Mbak A dan asistennya bingung, kenapa motornya tidak dibawa langsung ke depan mereka yang sudah menunggu tidak jauh dari pintu masuk restoran tempat orang naik turun kendaraan? Toh sudah mau pulang ini. Mereka menghampiri motornya dan dengan nada heran, mbak A bertanya pada petugas, kurang lebih percakapannya seperti ini:
Mbak A: Lho pak, kenapa diparkir lagi disitu?
Petugas: Malu, Bu
Mbak A: ????!!!!!$$$$$%%% (speechless)

Kesal mendengar jawaban si petugas yang polos tapi juga enggan merusak mood setelah merayakan selesainya tugas besar dengan marah-marah, akhirnya mbak A dan asistennya hanya berpandangan sebelum meninggalkan restoran.

Sayangnya, pola pikir seperti ini umum sekali ditemui di masyarakat kita. Segala sesuatu masih dinilai dari penampilan luar dan kepemilikan materi sehingga kalau polesan luarnya kurang wah, langsung dipandang sebelah mata. Berat memang hidup di Jakarta, dimana orang masih dihargai atau dinilai dari kepemilikan harta benda dan penampilannya dan bukan kepribadian atau tingkah lakunya. Sampai-sampai mbak pramuniaga dan petugas parkir saja merasa berkepentingan untuk menyeleksi calon konsumen yang pantas masuk ke dalam tempat kerja mereka dan mendapatkan pelayanan optimal, padahal saya hampir yakin itu tidak termasuk dalam job desc mereka. Seolah-olah kepercayaan diri hanya bisa didapat dari berpenampilan wah, turun dari mobil, dan menenteng barang bermerek. Hm, tidak semua orang berpandangan seperti itu sih, setidaknya lingkungan pergaulan kami sewaktu tinggal di Jakarta dulu tidak berisi orang-orang seperti ini dan mudah-mudahan jangan sampai :)

Pernah punya pengalaman serupa?

Friday, 27 June 2014

Sukses Membuat Martabak Manis

Sudah sejak lama saya mencoba membuat salah satu cemilan kesukaan, yaitu martabak manis. Tanya mbah Google, dapat resep, mulai dari adonan yang pakai ragi, baking soda, sampai baking powder semua dipraktikkan, tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Sampai satu hari, ada teman baik membawa martabak manis ke acara pengajian dan rasanya enak dan lembut. Setelah berbaik hati berbagi resepnya, sayapun langsung semangat melakukan uji coba. Uji coba pertama, karena salah takaran, kurang sesuai dengan harapan. Uji coba kedua, ketiga, dan seterusnya dengan masukan dari si empunya resep membuat hasil martabak manis buatan saya semakin mendekati kemiripan fisik martabak, terutama tingkat kegosongan kulit martabak yang semakin berkurang karena terus menerus belajar menyesuaikan panas kompor, senang! Terima kasih banyak Dede, temanku yang cantik dan baik hatinya :). Martabak manis ini begitu lembut dan "ringan", agak berbeda dengan umumnya martabak manis yang dijual di Indonesia, tapi lebih dari cukup untuk memenuhi keinginan makan martabak manis. Daripada hanya meneteskan air liur setiap kali melihat foto-foto makanan Indonesia, mending coba buat sendiri kan? :)

Nah, bagi yang tertarik untuk membuat sendiri martabak manis di rumah, saya tulis resepnya disini.

Bahan:
1. 250 gr terigu protein sedang/Self-raising flour
2. 1/2 sdt garam
3. 5 sdm gula
4. 1 butir telur, kocok
5. 350 ml air
6. 3-4 tetes baking powder (kira-kira 1/4 sendok teh)
7. Susu kental manis

Cara membuat:
1. Campur terigu, garam, gula, dan telur
2. Masukkan 175 ml air
3. Masukkan baking powder, aduk, sambil masukkan sisa air sedikit-sedikit.
4. Aduk adonan dengan whisker sampai berbusa
5. Diamkan adonan 1 jam di tempat yang sejuk/tidak perlu disimpan di kulkas
6. Tuang adonan di wajan (saya pakai wajan biasa untuk menggoreng) yang telah dipanaskan. Begitu muncul gelembung di adonan, gunakan api kecil (3-4 untuk kompor listrik)
7. Taburi gula dan tunggu adonan matang (wajan tidak ditutup) kemudian angkat
9. Tuangkan sedikit susu kental manis (bila suka) dan martabak siap diisi coklat, parutan keju, atau potongan pisang dan taburan keju seperti favorit saya.

Selamat bereksperimen!

Sunday, 8 June 2014

Bangkok Dalam Tiga Hari Versi Saya

Sekian kali kedatangan tamu orang Indonesia, baik teman maupun saudara, selalu ada cerita seru yang tertinggal. Beda orang beda pula selera dan minatnya. Kedatangan sepupu saya baru-baru ini memberi saya ide untuk menulis hal-hal apa saja yang "wajib" dilakukan di Bangkok dalam waktu terbatas.

Dari judulnya saja, terlihat bahwa postingan ini sangat subjektif. Sementara tamu-tamu kami beragam jenisnya. Ada yang punya prinsip "shop till you drop", ada yang "terserah mau dibawa kemana", ada juga yang datang dengan daftar tujuan yang jelas :D. Dari pengalaman menemani mereka itu tercetuslah ide menulis hal-hal yang bisa dilakukan di Bangkok versi saya.

Berada di bawah terik matahari dan sekapan udara panas Bangkok membuat tubuh cepat lelah, jadi biasanya saya hanya menyarankan maksimal empat tempat untuk dikunjungi dalam satu hari dengan acara-acara santai diantaranya.

HARI 1:
Wat Pho dan Wat Arun
Jalan-jalan ke daerah ini paling enak pagi atau sore hari ketika matahari sudah berkurang sengatannya. Wat Pho dan Wat Arun selalu kami rekomendasikan pada siapapun yang berkunjung ke Bangkok. Selain tiket masuk yang murah, kedua tempat ini relatif kecil sehingga hampir setiap sudutnya yang unik dan menarik dapat dijelajahi. Di Wat Arun juga ada pasar yang menjual aneka barang khas Thailand yang kabarnya sulit ditemui di tempat lain. Saya juga baru tahu ketenaran pasar ini ketika tiga bulan lalu sepupu beserta keluarga, teman dan tetangganya datang kesini. Salah satu anggota rombongan begitu antusias pergi ke Wat Arun dan saya menyambutnya dengan semangat, mengira kalau beliau antusias melihat langsung kecantikan bangunan Wat Arun. Eehh..sesampainya di loket pembelian tiket, beliau dan beberapa orang lagi membuat saya terpana karena langsung melesat ke arah pasar dan bilang sama sekali tidak tertarik melihat Wat Arun :D. Tinggal saya dan dua orang anggota rombongan yang memang tertarik dengan tempat-tempat seperti ini saling berpandangan takjub, hahaha...ada-ada saja. Saya tidak memasukkan Grand Palace ke dalam tujuan meski letaknya berdekatan dengan Wat Pho. Kenapa? Bukannya justru inilah trademark Bangkok sekaligus tempat beradanya The Emerald Buddha yang terkenal itu? Benar sekali, tapi setelah beberapa kali datang ke Grand Palace, dengan harga tiket THB 500 per orang dan kompleks yang demikian besarnya, saya hampir tidak pernah dapat mengoptimalkan kunjungan disana karena udara yang terlalu panas untuk mengitari seluruh kompleks atau renovasi di bagian-bagian tertentu sehingga tertutup untuk umum. Karena itu, biasanya saya mengusulkan siapapun yang saya antar untuk berfoto di halaman dengan latar belakang Grand Palace tanpa perlu masuk ke dalam kompleks, kecuali kalau tamu yang saya temani itu benar-benar seorang history/culture geek. Itupun dengan perjanjian, saya tidak ikut masuk :).

Wat Arun dari Tha Thien Pier

Selepas kunjungan ke dua tempat ini, pasti perut sudah menuntut perhatian. Untuk mengganjal, coba warung Thai halal yang menjual pad thai dan nasi goreng, terletak dekat pintu keluar dermaga Tha Thien. Kalau dari arah sungai, warung makannya terletak sebelah kiri, bersebelahan dengan penjual gorengan. Jangan lupa cicipi juga buah potong dari penjual yang ada di sepanjang jalan dari arah dermaga sampai Wat Pho. Kalau beruntung, sisihkan waktu sebentar menikmati coconut ice cream yang lezat.

Berlayar di Sungai Chao Phraya
Jangan bilang pernah ke Bangkok kalau belum pernah naik perahu melayari sungai Chao Phraya yang terkenal. Sungai kebanggaan masyarakat Bangkok yang menjadi urat nadi transportasi air di Bangkok dan sekitarnya ini sangat dinamis. Diapit barisan hotel bintang lima dan bangunan kolonial di satu sisi dan perumahan penduduk yang sangat sederhana di sisi lain, Chao Phraya tampak begitu istimewa. Jangan bayangkan sungai Thames di London atau sungai Seine di Paris, di Chao Phraya kerap ditemui anak-anak kecil melompat gembira ke dalam air sungai yang tidak bisa dibilang bersih atau pria yang sedang mandi. Sekelompok pemancing juga sering terlihat sedang menunggu keberuntungan di pinggir sungai. Nah, daripada naik taksi untuk mencapai Wat Arun atau Wat Pho, lebih baik naik kapal penumpang dari dermaga Saphan Taksin dan bersiaplah mengabadikan pemandangan menarik sepanjang Chao Phraya.

Sungai Chao Phraya dari Wat Arun

Ngadem di Siam Paragon
Setelah berpanas-panas, tujuan berikutnya adalah pusat perbelanjaan Siam Paragon. Disini bisa banyak hal bisa dilakukan, mulai dari belanja untuk yang bawa pohon uang atau hanya sekedar numpang shalat dan makan siang (lagi). Di mall ini ada satu kios halal di food court dengan menu nasi dan ayam, satu restoran yang tidak bersertifikasi halal (karena menjual minuman beralkohol), namun daging dan semua bahan masakannya Insha Allah halal berlabel Billion Beef (sambal cabe bubuknya yang paling mantap yang pernah saya coba), dan satu restoran yang menjual khusus makanan pencuci mulut (dessert) bernama After You Dessert Cafe yang signature dish-nya Shibuya Honey Toast wajib dicoba. 
Steamed beef with meatballs and Beef noodle soup yang lezat (foto: Irene Dyah)
Bertamu ke The Jim Thompson House
Begitu memasuki gerbang, hijau dan rimbunnya pepohonan langsung membuat siapapun jatuh cinta. Panas udara dan terik matahari Bangkok langsung hilang begitu berada di Jim Thompson House. Cerita tentang siapa itu Jim Thompson pernah saya tulis disini.

Belanja Buah Tangan dan Makan Malam di MBK
Hari pertama yang pastinya cukup melelahkan ditutup dengan berbelanja sekaligus makan malam di Yana Restaurant atau Fifth Avenue food court di Mah Boon Krong (MBK) Center yang bisa dicapai dengan menyeberangi tangga di depan Bangkok Art and Cultural Center.

HARI 2:
Madame Tussauds dan Siam Ocean World
Memulai hari kedua dengan menengok patung lilin di Madame Tussauds dan melihat kehidupan bawah laut di Siam Ocean World  karena kedua tempat ini menawarkan early bird discount untuk kunjungan antara jam 10.00 - 12.00 siang, lumayan kan?

Makan Siang di Usman Thai Muslim Food
Rugi kalau ke Thailand, Bangkok khususnya tanpa memasukkan agenda wisata kuliner, karena makanan khas Thailand itu semuanya enak-enak. Agar wiskul berjalan lancar tanpa harus ragu apakah menu yang kita santap halal atau tidak, langsung saja datang ke Usman Thai Muslim Food di Sukhumvit Road soi 22 (BTS Phrom Phong). Pak Usman, sang pemilik, yang berasal dari Thailand Selatan dan pandai berbahasa Melayu/Indonesia kerap turun melayani pengunjung dan menyapa dengan ramah.

Asiatique The Riverfront
Sisa waktu sore hari bisa digunakan untuk beristirahat sejenak di hotel sebelum bersiap-siap untuk menikmati matahari terbenam di tepi sungai Chao Phraya dilanjutkan dengan mengeksplorasi pasar malam ter-hits di Bangkok saat ini yang buka dari jam 17.00 - 00.00. Toko-toko di Asiatique banyak menjual aneka kerajinan tangan yang menarik dari berbagai daerah di Thailand. Beraneka jajanan menggiurkan dan tempat makan juga tersedia disini, mengundang untuk dicicipi.

HARI 3:
Menjelajah Pasar Tradisional Klong Toey
Salah satu pasar terbesar di kota Bangkok yang buka selama 24 jam ini menawarkan banyak pemandangan menarik. Seperti umumnya pasar tradisional, tentu saja ada becek di beberapa bagian. Namun, apa yang ditemui di pasar Klong Toey terlalu sayang untuk dilewatkan. Mulai dari penjual makanan ringan sejenis crepe yang begitu cepat dan terampil membuat adonan tepung menjadi lembaran super tipis, aneka buah-buahan segar yang menggiurkan, sampai penjual serangga, kodok, kura-kura kecil, dan binatang aneh lainnya. Usahakan untuk datang pagi-pagi ke pasar tradisional ini agar bisa kembali dulu ke hotel, mandi, sarapan, sebelum pergi lagi ke tujuan berikutnya.

Ancient Siam
Mirip TMII, begitu kesan kami ketika datang ke Ancient Siam ini, miniatur bangunan khas dari seluruh daerah di Thailand bisa dilihat disana. Kompleksnya yang hijau bisa dijelajahi dengan naik sepeda atau menumpang golf cart. Banyak sudutnya yang sangat fotogenik untuk dijadikan latar belakang foto liburan.

Menikmati Panorama Bangkok dari Vertigo and Moon Bar, Banyan Tree Bangkok
Sebenarnya ada beberapa tempat lain untuk melihat pemandangan Bangkok dari ketinggian, tapi belum pernah kami sambangi, kecuali Vertigo. Pengunjung yang datang harus berpakaian sopan, tidak bersandal jepit dan bercelana pendek, itu aturan tertulis di pintu masuk bar yang terletak di lantai 61 bangunan hotel mewah Banyan Tree di daerah Sathorn ini. Dibuka sejak jam 5 sore, biasanya kami hanya memesan minuman ringan serupa mocktail atau fruit punch sambil menikmati pemandangan semburat matahari sore di langit Bangkok yang indah. Setelahnya, baru mencari makan malam di tempat lain dengan harga yang ramah di dompet :).

Menikmati matahari terbenam dari Moon Bar

Kalau kebetulan datang ke Bangkok pada saat akhir pekan, mengunjungi pasar terbesar di Asia Tenggara, Chatuchak Weekend Market juga bisa menjadi pilihan untuk didatangi dari pagi sampai sore, saking besarnya. Bagaimana? Tertarik mengunjungi Bangkok dengan agenda versi saya? :)  

Monday, 26 May 2014

#World Heritage Sites: Khao Yai National Park (Dong Phayayen-Khao Yai Forest Complex)

Terik matahari di penghujung bulan Maret -yang merupakan musim terpanas- menemani perjalanan kami menuju kawasan taman nasional Khao Yai, Thailand siang itu. Berjarak kurang lebih 200 km dari Bangkok, Taman Nasional Khao Yai adalah taman nasional tertua di Thailand yang diresmikan pada 18 September 1962 dan merupakan taman nasional terbesar ketiga mencakup area 2,168 km2, berada pada ketinggian 200 sampai 1351 m diatas permukaan laut. Pada 14 Juli 2005, Khao Yai yang sebelumnya merupakan ASEAN Heritage Park, bersama-sama dengan Tab Lan, Pang Sida, Ta Praya dan Dong Yai mendapat status Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO dengan nama Dong Phayayen-Khao Yai. Taman Nasional Khao Yai terletak di pegunungan Phanom Dong Rak yang melintasi 4 propinsi, yaitu Saraburi, Nakhon Ratchasima, Prachinburi, dan Nakon Nayok.

Pintu masuk Taman Nasional Khao Yai


Jalan mulus dan beraspal diapit pepohonan hijau dan udara segar

Hati-hati! Ada kobra...

Jika tertarik untuk mengunjungi kawasan taman nasional ini, ada begitu banyak pilihan akomodasi mulai dari penginapan murah meriah, apartemen, sampai hotel bintang lima, tinggal pilih sesuai selera dan anggaran. Ada pula guesthouse di dalam kawasan Taman Nasional yang baru kami ketahui ketika berada disana. Mungkin lain waktu jika berkesempatan datang kesini lagi, guesthouse ini patut dicoba terutama bagi mereka yang tertarik untuk night trekking atau blusukan ke dalam hutan tanpa perlu mengkhawatirkan waktu.

Setelah tiga jam lebih perjalanan, kami disambut dengan deretan papan dan umbul-umbul iklan perumahan mewah bernuansa alam pegunungan berselang-seling dengan papan penunjuk hotel di sepanjang jalan masuk menuju kawasan Khao Yai. Ya, pembangunan perumahan mewah telah merambah kawasan taman nasional ini. Memasuki pintu gerbang taman nasional, pengunjung dewasa dikenakan tarif masuk 400 baht per orang sedangkan anak-anak 200 baht per orang. Untuk pengguna kendaraan roda empat dikenakan biaya 50 baht per kendaraan.

Khao Yai National Park, Maret 2013

Sesampai di kompleks taman nasional, kami bergegas mengunjungi bangunan Visitor Center yang masih tampak baru. Petugas di meja informasi yang fasih berbahasa Inggris dengan ramah melayani kami dan memberikan selembar kertas berisi pilihan jenis trail yang dapat dilakukan di kawasan taman nasional. Setidaknya ada enam rute yang ditawarkan, dua diantaranya dapat dilakukan tanpa pemandu pendamping. Dengan pertimbangan membawa bayi dan matahari yang mulai bersinar terik, kami memilih rute terdekat sejauh 1,2 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam yang dimulai dari kawasan Visitor Center dan berakhir di air terjun Kong Kaew. Kami mengawali perjalanan dengan meniti jembatan gantung memasuki jalan setapak yang terlindung rimbun pepohonan. Seketika udara panas tergantikan oleh sejuknya semilir angin dan kicau burung-burung...sungguh mendamaikan! Tidak lama kemudian, kami sampai di Kong Kaew yang sayangnya sedang kering. Rute termudah ini kami tempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit.

Jembatan menuju Kong Kaew

Daerah sekitar Kong Kaew
Kong Kaew di musim kemarau
Bangunan Visitor Center

Kembali ke Visitor Center, kami berkeliling di dalamnya yang ternyata cukup menarik. Ada ruang pameran tentang habitat di Taman Nasional, media interaktif dan tempat bermain untuk anak-anak, sampai toko yang menjual cinderamata khas Taman Nasional. Di gedung ini terdapat pula seekor harimau hasil pengawetan yang menurut sejarahnya, pada 25 Juni 1977 pukul 8 malam, bersembunyi dibawah rumah seorang gadis kecil, dan segera menyerangnya ketika si gadis keluar dari rumah panggungnya untuk mengambil pensilnya yang jatuh ke kolong rumah. Setelah menyerang seorang penjaga hutan sampai meninggal, harimau ini berhasil ditangkap dan kemudian dibunuh sehingga tidak menganggu penduduk sekitar lagi.

Ruang baca dan bermain khusus untuk anak-anak

Belajar banyak hal dari display yang menarik

Toko souvenir

Beranjak keluar dari Visitor Center, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke air terjun Haew Suwat dengan mengendarai mobil. Haew Suwat adalah air terjun dengan ketinggian 20 meter yang dapat dicapai dengan mengendarai mobil. Dalam perjalanan menembus jalan taman nasional, kami berpapasan dengan sejumlah trekkers, birdwatchers yang diantaranya disertai oleh personal jagawana Taman Nasional.

Haew Suwat

Untunglah tidak bertemu buaya siang itu :)

Menuju Haew Suwat, kami melalui Saisorn Reservoir, yang terletak di km 39, semula merupakan desa dimana para petani menanam cabai. Tempat penampungan air ini dinamai sesuai dengan pendiri dan direktur pertama taman nasional. Karena musim kemarau, air terjun di Haew Suwat pun turut surut, tidak sederas pada musim hujan. Namun, udara hutan yang sejuk ditingkahi suara air terjun sudah cukup menghibur kami di siang yang terik itu.

Saisorn Reservoir

Tempat makan di dalam kawasan Taman Nasional

Sepulang dari Haew Suwat, makan siang menjadi agenda selanjutnya. Makan siang sederhana a la Thai ditutup dengan kopi dan es krim memberikan energi cukup untuk menuntaskan kunjungan di Khao Yai siang itu. Beranjak pulang, kami berhenti di Nong Pak Chi Wildlife Observation Tower. Awalnya saya ragu-ragu, mengingat untuk mencapai menara pandang ini, kami harus berjalan kurang lebih 30 menit, dibawah sengatan matahari melintasi padang yang nampak gersang dan miskin pohon rindang. Tapi dengan prinsip sakti "sayang sudah jauh-jauh kesini" akhirnya kami nekat juga menyambangi menara pandang yang konon bila beruntung, kita dapat melihat rusa, babi hutan, dan gajah mencari makan dan minum. Dengan berbekal payung dan nursing apron untuk melindungi David, kami mulai menyusuri jalan setapak diapit padang rumput di sisi kiri dan kanannya. Panasnya bukan main! Kurang dari 30 menit, kami sudah sampai dan asyiknya, hanya kami bertiga yang ada disana. Beberapa saat menunggu, binatang-binatang yang kami harapkan kedatangannya tidak juga muncul. Mungkin juga karena kami datang setelah lewat jam makan siang, jadi kemungkinan besar hewan-hewan tersebut sedang siesta setelah kenyang makan. Akhirnya kami hanya duduk disana menikmati pemandangan dan kesunyian alam terbuka, hanya suara angin dan gemerisik rumput yang terdengar, benar-benar menenangkan.

Padang rumput menuju Nong Pak Chi 


Lubang-lubang (saltlick) yang digemari oleh kawanan gajah


Nong Pak Chi Observation Tower
Papan tanda larangan di Taman Nasional Khao Yai

Perjalanan ke Khao Yai hari ini ditutup dengan berhenti sejenak di viewpoint yang memamerkan hijaunya Khao Yai, sedangkan di seberang kami, monyet-monyet kecil sibuk berlompatan kesana kemari mengharap makanan dari pengunjung. Ternyata dimana-mana sama saja. Walaupun larangan memberi makanan pada binatang sudah dipasang dimana-mana, masih saja ada pengunjung yang nakal dengan harapan bisa berfoto dengan si hewan :(.

Khao Yai National Park

Ibu dan anak sedang berjalan-jalan

Keberadaan Taman Nasional Khao Yai memberikan kesempatan pada warga kota besar seperti Bangkok untuk kembali menghirup udara segar dan memanjakan mata dengan panorama hijau di sekeliling. Sampai jumpa lagi Khao Yai!

Sunday, 25 May 2014

Long Weekend karena Kudeta

Masih segar di ingatan ketika bulan Januari - Februari 2014 terjadi demo besar-besaran, khususnya di Bangkok menuntut PM saat itu, Yingluck Shinawatra turun. Berbulan-bulan kemudian, konflik dan demonstrasi masih terjadi di beberapa titik, sementara suasana di sekitar rumah dan tempat kami beraktivitas terlihat normal. Tiba-tiba hari Selasa, 20 Mei 2014, seluruh negeri dikejutkan dengan pemberlakuan Martial Law oleh militer Thailand disusul dengan militer melakukan kudeta hari Kamis, 22 Mei 2014.

Hari Kamis sore pukul 5, militer mengumumkan telah mengambil alih pemerintahan. Siaran televisi masih bisa disaksikan sampai pukul 6 sore setelah itu semua saluran diblokir, baik lokal maupun internasional. Sempat tersiar kabar bahwa jaringan internet juga akan diputus, tetapi Kementerian Komunikasi Thailand menegaskan kalau jaringan telekomunikasi dan internet tetap dapat beroperasi. Sarana transportasi massal hari itu tutup jam 21.00 dari yang biasanya tengah malam, dan semua pusat kegiatan komersial tutup jam 20.00. Jam malam diberlakukan dari pukul 22.00 - 05.00 disertai larangan untuk mendekati tempat-tempat demonstrasi berlangsung. Sekolah juga diliburkan selama tiga hari demi alasan keamanan.

Sebenarnya, kudeta bukanlah hal yang baru di Thailand. Dari awal terjadinya tahun 1932 hingga sekarang, masyarakat Thai sudah kenyang dengan kudeta berulang kali. Tapi, menurut teman saya yang orang Thai dan orang Indonesia yang lama menetap disini, kudeta militer di Thailand berlangsung aman dan damai. Masyarakat sipil dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari selama mematuhi aturan yang ditetapkan. Dulu, saya selalu membayangkan betapa mengerikannya kudeta. Ternyata, ketika mengalami sendiri, kudeta versi Thailand tidak semenakutkan yang saya kira walaupun fakta yang terjadi berkata sebaliknya, kemarin tiga orang dinyatakan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat ledakan di Democracy Monument, menambah panjang daftar korban tewas dan luka-luka akibat bentrokan ketika aksi protes dilangsungkan sejak awal tahun. Sama halnya ketika demo beberapa bulan lalu terjadi, saya memilih untuk diam di rumah apabila tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskan saya keluar.

Keesokan harinya, Jum'at pagi, serombongan ibu-ibu yang kebingungan karena anak-anaknya diliburkan secara mendadak, berinisiatif untuk berpiknik di taman Benjasiri. Ibu saya yang sempat ditelpon sebelum kami pergi ke taman sempat khawatir dengan keamanan di luar rumah. Nyatanya, begitu saya keluar rumah, situasi terlihat normal-normal saja. Jadilah seharian itu, kami berpiknik di taman, dilanjutkan dengan makan siang bareng, dan berakhir di rumah salah satu teman yang ditutup dengan acara berenang bersama. Sayangnya, karena sudah ada undangan ulang tahun sore harinya, saya dan David terpaksa melewatkan sesi berenang dan segera pulang. Mengakhiri hari pada pukul 20.30 sepulang dari pesta ulang tahun, si bocah sukses kecapekan dan kekenyangan.

Piknik dadakan gara-gara kudeta (foto: Aulia Renjana)




Sabtu pagi menjelang siang, kami hanya berniat untuk belanja makanan sekedar berjaga-jaga mengingat situasi politik yang tidak menentu. Alih-alih belanja, malah terpikir untuk makan steak di satu restoran halal di wilayah Ramkamhaeng, namanya Sinthorn Steak House. Sebenarnya sudah lama mendengar tempat ini tapi belum kesampaian mencicipi karena lokasinya yang lumayan jauh. Setelah memastikan restorannya buka dan situasi lalu lintas menuju Ramkamhaeng aman, kamipun pergi. Sesampainya disana, tidak lama menunggu, datanglah pesanan kami. Hm, Steaknya yang pasti halal, enak, dan porsinya pas. Kamipun pulang dengan perut kenyang dan hati puas :). Sore harinya, baru deh agenda belanja terlaksana. Hari yang efektif dan persediaan makananpun tidak kosong melompong.

Semoga kekalutan politik di Thailand bisa segera mendapatkan jalan keluar terbaiknya dan situasinya tidak berubah menjadi buruk. Sampai hari ini, saluran televisi Thai sudah kembali beroperasi, kecuali jaringan berita-berita internasional yang masih diblokir. Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan semuanya sudah kembali normal, amin.

Selamat berhari Minggu dengan keluarga tercinta :)

Thursday, 22 May 2014

[Little Traveler]: Perjalanan Darat dengan Si Kecil


Kalau topik pembicaraan sudah menyangkut anak kecil, memang tidak akan pernah ada habisnya. Mumpung lagi rajin menulis, saya ingin mengabadikan cerita-cerita perjalanan kami dengan David. Hm, tepatnya sih cari-cari bahan tulisan biar blognya gak kosong melompong, hehehe....Kali ini perjalanan darat yang jadi fokusnya, termasuk perjalanan dengan moda transportasi mobil, kereta api, dan bus antar kota. Lama perjalanan darat yang pernah kami lakukan berkisar antara satu sampai tujuh jam, belum seberapa dibandingkan dengan anak-anak kecil yang kerap dibawa orangtuanya melintasi jalur Pantura atau lintas Jawa - Sumatra, terlebih pada musim mudik Lebaran, sepuluh jempol untuk orangtua dan anak-anaknya, hebat!

Lalu,  bagaimana membuat David kooperatif sepanjang perjalanan? dan apa yang kami lakukan jika ia mulai terlihat bosan atau rewel?

1. Jika menumpang kendaraan sendiri, kami selalu berhenti untuk menghirup udara segar setiap dua jam dimana David bisa bebas lepas dari ikatan di tempat duduknya, sekaligus juga mengganti popoknya bila kotor. 

2. Membawa cemilan (bawaan wajib orangtua yang punya anak kecil) dan beberapa mainan kesukaannya yang berada dalam jangkauan si kecil.

3. Kalau menumpang bus atau kereta api, distraksi yang paling menarik perhatian David adalah pemandangan di sepanjang jalan yang dilalui, mulai dari mobil, bus, truk, motor atau alam sekitar seperti sawah dan hewan-hewan ternak.

4. Semenjak David lahir, saya iseng merekam celotehannya di ponsel saya. Suatu hari di perjalanan, ia mulai rewel kebosanan. Spontan saya perdengarkan suara celotehannya dan tak disangka, David langsung terdiam mendengarkan dengan khusyuk dan ikut tertawa ketika mendengar rekaman suaranya yang sedang tertawa-tawa :). Sejak itu, bila ia mulai rewel di perjalanan, kami perdengarkan rekaman suaranya sebagai salah satu solusi efektif mengatasi rasa bosan/ingin diperhatikan.

5. Tips pamungkas yang paling sukses untuk David saat ini adalah bernyanyi bersama. Untungnya koleksi lagu anak-anak kami lumayan banyak mulai dari lagu Sunda, Indonesia, Inggris, dan Perancis, lengkap dengan ekspresi tubuh dan gerakan tangan...bisa untuk stok 4-5 jam perjalanan :D. Saya jadi teringat hari-hari pertama ia dititipkan di daycare. Ia selalu menangis tapi langsung berhenti begitu mendengarkan ibu guru menyanyi :). Pada salah satu perjalanan darat kami yang terlama, dua jam berlalu menyenangkan dengan bernyanyi bersama dan berakhir dengan tertidurnya penumpang kecil kami :).

Memang benar, melewatkan waktu berkualitas sangat bisa diperoleh dari bepergian bersama, dan untuk saya yang sangat rendah diri dengan kualitas suara sendiri ini, tiba-tiba setelah mempunyai anak, menjadi percaya diri dalam bernyanyi demi membuat David terhibur sepanjang perjalanan :).

Mungkin ada yang punya tips lain? Tanpa melibatkan gadget pastinya, bukan apa-apa, karena kami tidak punya gadget :D.

[Little Traveler]: Mengatasi Jetlag

Tertangkap sedang tidur nyenyak oleh kameranya Oom Yusfan :)

Tantangan lain ketika bepergian jauh membawa anak kecil adalah mengatasi masalah jetlag. Menurut penjelasan sederhana disini, jetlag ialah kondisi kelelahan yang dialami ketika seseorang melakukan penerbangan jarak jauh dikarenakan tubuh mengalami kesulitan untuk menyesuaikan ritme dengan zona waktu yang baru.

Jangankan anak kecil, jetlag bagi orang dewasa pun bukan hal yang menyenangkan. Pengalaman saya sama seperti kebanyakan orang, lebih mudah menyesuaikan ritme tubuh bila terbang dari timur ke barat dibanding sebaliknya. Ketika membawa David terbang jauh untuk pertama kalinya pada usia tiga bulan, kami tidak mengalami kesulitan sesampainya di tempat tujuan, kecuali ia menangis karena kelelahan. Hari-hari berikutnya, ia dengan cepat dapat menyesuaikan jam tidurnya dengan waktu setempat. Sekembalinya ke Bangkok, jetlag mulai beraksi. Ia tidur pada jam yang sama setiap harinya namun selalu terbangun lagi dan pada malam pertama baru bisa tidur kembali jam 3-4 pagi. Malam berikutnya jam 2, lalu jam 12, jam 10, sampai akhirnya kembali ke jam tidur normal setelah seminggu lebih.

Ketika usianya menginjak tujuh bulan, kami kembali melakukan penerbangan jarak jauh lagi. Penerbangan pagi dari Bangkok membuatnya terjaga hampir sepanjang perjalanan dan ketika tiba sore hari waktu Paris, ia sukses tertidur kecapekan di mobil. Tubuhnya cepat menyesuaikan diri dengan suasana musim dingin dimana waktu siang lebih pendek dibandingkan malam. Pada saat ini, jam tidur David menjadi mundur, kurang lebih 1 jam lebih lambat dari jam tidurnya yang normal di Bangkok. Hari pertama kembali ke Bangkok, kami bertiga tidur dari pagi sampai sore! Alhasil malamnya kami semua segar bugar. Butuh waktu kurang lebih seminggu untuk mengembalikan jam tidur normalnya secara bertahap.

Di usia tiga belas bulan, David melakukan perjalanan jauhnya yang ketiga dengan tujuan yang sama. Di perjalanan kali ini, ia bisa tidur di pesawat dalam perjalanan pulang dan pergi. Sesampainya di tempat tujuan, tidak ada kesulitan untuk menyesuaikan ritme aktivitas tubuh dalam waktu setempat. Saat itu adalah awal musim panas. Selama disana, jam tidur David cenderung 1 jam lebih lambat daripada jam tidur normal di Bangkok dan karena langit masih terang walaupun sudah menjelang jam tidur, jendela kami tutup untuk memberikan suasana malam yang gelap. Pulang ke Bangkok, upaya mengatasi jetlag dimulai kembali. Hari pertama dan kedua, kami bertiga segar bugar menjelang dini hari, bahkan justru merasa lapar. Akhirnya kami bertiga menyantap mie goreng jam 2 pagi! David tidak mau tidur sampai menjelang jam 4 dan akhirnya menyerah juga, tidur non stop dari jam 4 sampai 12 siang. Meskipun jam tidurnya masih belum stabil, sebisa mungkin ia ditidurkan pada jam yang sama setiap harinya. Setelah 4-5 hari, jam tidurnyapun kembali normal.

Dari ketiga pengalaman diatas, kami jadi punya bayangan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mengatasi jetlag pada David.

1. Pada hari pertama sesampainya di Bangkok, kami ikuti ritme tubuhnya yang masih belum beradaptasi dengan waktu lokal. Makan di luar waktu biasanya sampai begadang bersama sampai dini haripun dijalani.

2. Hari kedua, rutinitas sehari-hari sebelum berangkat kembali dilakukan. Mulai dari makan pagi sampai menjelang tidur malam di waktu yang kurang lebih sama, meskipun biasanya sulit tidur terparah akan terus berlangsung selama tiga hari pertama.

3. Membawa David ke taman pada pagi dan sore hari agar ia terkena sinar matahari dan menghirup udara segar. Seperti yang disarankan di banyak artikel, berkegiatan di luar membantu mempercepat pemulihan kondisi tubuh mengatasi jetlag dan itu benar adanya. Terbukti ia hanya membutuhkan waktu 4-5 hari untuk kembali ke jam tidur normal dibanding dengan dua pengalaman sebelumnya. Saya tidak tahu pasti penjelasan ilmiahnya, hanya berdasarkan pengalaman pribadi saja.

4. Di ketiga pengalaman tersebut, David masih menyusu dan seingat saya, tidak ada perubahan signifikan dalam hal waktu ataupun frekuensi menyusu, baik ketika ia mengalami jetlag maupun tidak.

5. Jika bisa memilih, untuk mengurangi efek lelah yang ditimbulkan oleh perjalanan jarak jauh ini, kami lebih memilih penerbangan langsung dibandingkan dengan penerbangan dengan transit. Tapi kalau memang tidak memungkinkan memilih, siap-siap menabung energi ekstra untuk di perjalanan dengan banyak beristirahat sebelum hari keberangkatan.

6. Sewaktu David sulit tidur pada beberapa malam pertama, kami melakukan aktivitas yang santai seperti membaca buku cerita. Bermain lego atau puzzle bisa juga menjadi pilihan, asal bukan jenis kegiatan yang membuat anak malah semakin segar :).

7. Menurut artikel yang pernah kami baca, tapi saya lupa sumbernya, lama waktu pemulihan dari jetlag bisa diperkirakan dari jumlah perbedaan jam. Misalnya jetlag akibat perjalanan jauh dengan perbedaan waktu 6 jam dengan daerah asal akan pulih dalam waktu enam hari dengan asumsi tubuh kita menyesuaikan satu jam setiap harinya sampai jam biologis tubuh kita kembali ke normal.

Ada anak yang cepat mengatasi dampak jetlag ini, ada juga yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama seperti David, masing-masing berbeda menanganinya. Yang pasti, jangan sampai kekhawatiran tentang jetlag membuat rencana perjalanan hanya sekedar jadi rencana :). Selamat berpetualang dengan si kecil!

Tentang Tidur Bayi 1+: Sleep Training yang Tidak Semudah Teori

Mengingat kembali masa-masa sewaktu David baru lahir, urusan tidur memang jadi hal yang paling sering jadi topik bahasan kami berdua. Pengalaman kami dengan urusan tidur bayi ini pernah saya tulis disini.

Begitu David berusia 7,5 bulan, ia sudah pintar tidur sepanjang malam dan memberikan kesempatan pada saya beristirahat. Kemewahan ini berjalan selama beberapa minggu sampai saat David mulai pintar berdiri di boksnya tapi belum bisa kembali duduk atau berbaring. Jadi beberapa kali ia terbangun, langsung berdiri, menangis, dan tidak bisa tidur kembali karena tidak tahu caranya duduk. Ini saya ketahui ketika suatu malam, ia terbangun dan mulai menangis. Seperti biasa, saya tidak langsung menghampirinya karena tangisannya pun timbul tenggelam sampai satu saat, tangisannya tidak terdengar lagi. Begitu ditengok, ternyata si bocah dalam posisi duduk tertidur sambil memegang kisi-kisi boksnya :). Sejak saat itu, kami mulai mengajarinya untuk duduk dari posisi berdiri dengan harapan ia bisa kembali tidur sendiri ketika terbangun di malam hari dan langsung berdiri. Ketika satu tantangan bisa diatasi, muncul lagi tantangan lain. Selesai dengan urusan duduk dan berdiri ini, David yang masih sekamar dengan kami seringkali terbangun sesaat ketika kami masuk kamar untuk tidur. Dari situ, kami beranggapan bahwa sudah saatnya ia pindah ke kamarnya sendiri agar tidurnya lebih nyenyak tanpa harus terganggu suara yang kami timbulkan ketika keluar masuk kamar tidur.

Saat usianya genap 10 bulan, David mulai tidur sendiri di kamarnya dan bisa ditebak, David dapat tidur nyenyak tanpa gangguan dan kamipun bebas keluar masuk kamar tanpa membuat David terbangun. Di usia ini, secara umum ia sudah pintar tidur sepanjang malam, namun tentu saja ada malam-malam dimana ia terbangun saat dini hari. Pemahaman saya dan suami yang berbeda tentang tidur ini memang membuat kami banyak berdebat tentang apa yang harus dilakukan ketika David bangun. Menurut pemahaman suami, karena pada dasarnya David sudah bisa tidur malam dan sudah makan MPASI, maka ketika ia terbangun di malam hari tidak berarti ia lapar, bisa saja ia hanya perlu ditenangkan tanpa perlu disusui. Sementara saya sendiri, jika David terbangun, agar kami bisa tidur kembali, saya terbiasa menyusuinya, win-win solution untuk kami berdua kan? Jalan tengah yang kemudian diambil, ketika David bangun, maka selalu bapaknya yang bangun dan menenangkannya. Cara ini sangat efektif, sesuai dengan saran yang ditulis di buku-buku tentang bayi, karena si ayah yang datang, perlahan bayi tahu bahwa ia tidak akan mendapat susu. Dari situ, bayi belajar mengasosiasikan bahwa malam hari adalah waktunya tidur, bukan waktunya makan. David hampir selalu bisa tertidur lagi sampai pagi setelah ditenangkan bapaknya beberapa saat dan di saat lain, kerap kami mendengar ia menangis beberapa detik sebelum kembali tertidur sendiri.

Ketika pola tidurnya sudah mulai stabil selama kurang lebih sebulan, kami mulai sering bepergian lagi, dan otomatis pola tidurnya ikut berubah. Menidurkan David kembali menjadi tantangan pada usia 12-18 bulan, dan sleep training kami ulang setiap kali pulang dari bepergian karena pada saat di luar rumah sulit sekali mengharapkan David dengan pola tidurnya yang ideal. Di rentang usia ini, dalam kondisi normal, yaitu kami sedang berada di rumah dan suami tidak sedang dinas luar, ritual menidurkan David bisa dibilang mendekati gambaran ideal di buku-buku parenting yang membahas tidur bayi. Setelah disusui sambil dibacakan do'a pengantar tidur, saya atau suami akan meletakkannya di boks, mengucapkan selamat tidur, dan meninggalkannya dalam kondisi belum tidur. Beberapa saat kemudian, ia akan tertidur sendiri. Namun ketika pulang bepergian, lain lagi ceritanya. Kalau sedang tidak beruntung, butuh waktu menemani si kecil sampai ia benar-benar tidur, bisa 10, 15, 20 menit, atau bahkan 1 jam di malam-malam yang cukup menantang.

Sewaktu usianya 18 bulan, David disapih dan ternyata cukup berpengaruh pada pola tidurnya. Ia bangun sekitar jam 6-7 pagi dari yang sebelumnya jam 5 pagi. Tidur siangnyapun menjadi lebih nyenyak dan lama, berkisar antara 1,5-2 jam dari yang sebelumnya maksimal 1 jam saja. Usia 18-21 bulan adalah kondisi yang paling ideal bagi saya. Selain sleep training yang hanya membutuhkan waktu singkat (2-4 hari) sepulang dari bepergian, menidurkan David sangatlah mudah. Tinggal dipeluk sambil dido'akan, kemudian saya letakkan David diboksnya dalam kondisi sadar. Ia akan melihat saya keluar kamar tanpa menangis sedikitpun, berceloteh sepeninggal saya, kemudian tidur. Kemudian terjadi perubahan situasi lagi yang membuat David kembali tidur bersama kami selama beberapa waktu karena kakek neneknya datang berkunjung. Setelah mereka pulang dan David kembali tidur di kamarnya, sleep training dimulai lagi. Uniknya, kali ini situasinya terbalik dan kami juga tidak tahu alasan kenapa David lebih mudah ditidurkan oleh bapaknya dibandingkan oleh saya. Sekarang di usianya yang sudah 2 tahun, hanya bapaknya yang bisa menidurkan David dan meninggalkannya keluar kamar dalam keadaan belum tidur, seringkali ia malah beryanyi atau berceloteh -biasanya proses menidurkan itu cuma berlangsung tidak lebih dari 5 menit dan saya hanya bisa memandang iri- sementara jika saya yang melakukan itu, ia akan segera menangis dan memanggil-manggil saya untuk menemaninya tidur. Jadi, sampai hari ini bapaknyalah yang bertugas menidurkan David sementara jika ia harus tugas ke luar kota, saya menidurkannya dengan cara menemaninya sampai tidur karena ia akan protes keras bila saya meninggalkannya dalam kondisi sadar. Sekarang, hampir jarang ia terbangun di malam hari. Pagi hari, ia terbiasa bangun antara jam 6-7, dan sudah pintar bermain sendiri sampai kami menghampirinya sekitar jam 7 pagi.

Sebenarnya, kalau mendengar cerita dari sesama orangtua lain, ada anak yang memang mudah dalam urusan tidur dan sudah pintar tidur sepanjang malam sedari bayi. Ada pula yang masih sering terbangun beberapa kali dalam semalam seperti layaknya bayi dan balita. Di keluarga kecil kami, perbedaan latar belakang budaya dan kebiasaan membuat banyak hal, diantaranya urusan tidur anak pun menjadi hal penting. Tapi, pada akhirnya saya mengakui kalau "happy and well-rested mom makes happy baby" karena saya mendapat banyak manfaat dari usaha kami bersama mengatur pola tidurnya David.

Pengalaman pribadi selama dua tahun terakhir membuat saya belajar banyak hal baru, yaitu:

1. Sleep training ternyata perlu dilakukan berulang kali dan bukan hanya satu kali, apalagi kami termasuk sering bepergian dan relatif sering menerima tamu menginap di rumah sehingga David kerap bermigrasi tidur bersama kami selama masa tinggal si tamu. Setiap kali terjadi perubahan yang mempengaruhi pola dan suasana tidur bayi, setiap kali itu pula, sleep training kembali diterapkan, kecuali kalau pola dan suasana tidur dapat dipertahankan dengan stabil.

2. Untuk melatih anak agar pintar tidur, peran ibu saja tidak cukup. Dalam pengalaman kami, komitmen dan keterlibatan bapaknya untuk terlibat langsung sangat membantu proses latihan tidur David. Meskipun ia harus bekerja esok paginya, ia secara sukarela menenangkan David yang terkadang bangun dini hari.

3. Ritual sebelum tidur wajib hukumnya untuk David, mulai dari membaca buku cerita bersama-sama, minum susu, menggosok gigi, berdoa, dan kemudian tidur. Walaupun begitu, sampai sekarang masih menjadi misteri besar mengapa meski dengan ritual yang sama, David akan menangis keras jika saya meninggalkannya, sementara dengan bapaknya, David begitu terlatih untuk tertidur dengan sendiri tanpa tangisan sedikitpun.

4. Membawanya bermain/berada di alam terbuka pada pagi dan sore hari selama 1-2 jam membuat proses menidurkan David menjadi lebih mudah.

5. Meskipun sebagian orang sudah memisahkan kamar si kecil sejak lahir, kami menunggu sampai David menunjukkan kesiapan untuk bisa tidur sendiri di kamarnya.

6. Saya yang cukup tidur lebih bisa mengontrol diri dan ekstra sabar dalam menghadapi tingkah laku si kecil dan ini sangat penting menurut kami. Selain itu kami juga punya waktu santai lebih banyak di malam hari setelah David tidur.

Tantangan berikutnya yang tampak di depan mata adalah "bagaimana pola tidur si balita 2+?" Atau adakah yang mau berbagi pengalaman menarik seputar pola tidur balita 2+?

Wednesday, 21 May 2014

[Info] Proses Pencatatan Kelahiran Luar Negeri di Indonesia

Untuk sebagian orang Indonesia yang bermukim di luar negeri, seringkali tidak terpikirkan mengurus beragam dokumen yang terkait dengan kependudukan dan pencatatan sipil di Indonesia, baik karena alasan tidak tahu ataupun karena menganggap tidak perlu, toh pada saat ini sedang tidak tinggal di Indonesia. Dulu, sayapun termasuk yang berpendapat begitu karena kedua alasan tersebut, sampai mengobrol dengan seorang teman yang salah satu topiknya adalah bahwa anak yang lahir di luar negeri harus dilaporkan dan dicatatkan kelahirannya di Indonesia, ditambah lagi jika anak tersebut kelak bersekolah dan tinggal menetap di Indonesia, harus ada Surat Tanda Bukti Pelaporan Kelahiran Luar Negeri (STBPKLN) yang dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di samping akte kelahiran dari negara tempat si anak dilahirkan.

Kami termasuk orang yang memilih mengurus semua dokumen terkait dari awal meskipun saat ini belum diperlukan dibanding menundanya dan baru mengurus pada saat membutuhkan. Karena itu, sewaktu mendapat informasi tersebut dan David sudah berusia 6 bulan, maka begitu ada kesempatan pulang ke Indonesia, saya segera mengurus permohonan penerbitan STBPKLN.

Adapun dasar hukum dari kewajiban pencatatan kelahiran di luar wilayah NKRI ini adalah Pasal 29 Ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menjelaskan bahwa:

(1) Kelahiran Warga Negara Indonesia di luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia wajib dicatatkan pada instansi yang berwenang di negara setempat dan dilaporkan kepada Perwakilan Republik Indonesia.
(2) Apabila negara setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyelenggarakan pencatatan kelahiran bagi orang asing, pencatatan dilakukan pada Perwakilan Republik Indonesia setempat.
(3) Perwakilan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencatat peristiwa kelahiran dalam Register Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran.
(4) Pencatatan Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan
kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak Warga Negara
Indonesia yang bersangkutan kembali ke Republik Indonesia.

Jadi, meskipun si anak tidak berencana tinggal di Indonesia dalam waktu dekat, selama ia menjadi WNI maka kelahirannya harus dilaporkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat di Indonesia. Sebetulnya berlaku denda atas keterlambatan pelaporan kelahiran anak di luar negeri, namun karena saya dapat menjelaskan keterlambatan pelaporan (mengurus KK terlebih dahulu dan kami juga tidak berdomisili di Indonesia), maka tidak dikenakan denda. Berikut pengalaman saya mengurus surat tersebut di kantor Dispendukcapil Kota Bandung pada April 2013.

Dokumen yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. KTP dan KK (fotokopi)
2. Surat Keterangan Lahir yang diterbitkan oleh Perwakilan RI, dalam hal ini KBRI Bangkok (fotokopi)
3. Akte Kelahiran Luar Negeri yang telah diterjemahkan dan dilegalisir (fotokopi)
4. Buku Nikah Orang Tua dan Paspor Kedua Orang Tua (fotokopi)
5. Paspor Anak (fotokopi)
6. Mengisi Formulir Pelaporan

Semua persyaratan tersebut dilengkapi dan dimasukkan ke dalam map kuning (yang bisa dibeli di depan kantor Dispendukcapil) kemudian diserahkan ke loket Pencatatan Kelahiran Luar Negeri. Proses penerbitan suratnya membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu atau 5 hari kerja dengan biaya IDR 100.000,00.

Semoga informasi ini berguna bagi mereka yang membutuhkan, namun alangkah baiknya jika dicek langsung ke Dispendukcapil setempat untuk memastikan, karena pelaksanaan di setiap daerah berbeda-beda, tergantung Peraturan Daerah masing-masing.

Tuesday, 20 May 2014

Cerita tentang Mudik

Gambar pinjam dari sini
Tidak terasa, sebentar lagi sudah memasuki bulan Ramadhan dan disambung dengan perayaan Idul Fitri. Kalau di Indonesia, Hari Raya pastilah identik dengan mudik. Idealnya, kegiatan mudik ke kampung halaman menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi siapapun yang merantau, apalagi kalau lama tidak pulang ke tanah air sendiri.

Kalau di Thailand, libur panjang itu ada di bulan April dalam rangka perayaan tahun baru Songkran yang bisa disetarakan dengan libur Lebaran. Dari cerita teman-teman yang mudik bulan lalu, ada banyak cerita yang mereka bawa. Terinspirasi dari obrolan ringan dengan teman-teman itu, saya jadi teringat kembali beberapa pengalaman tidak mengasyikkan ketika mudik.

Petugas yang sok
Pengalaman mudik tentunya berawal pada saat kedatangan kita di tanah air. Nah, petugas yang saya maksud itu siapa lagi kalau bukan petugas imigrasi. Dari semua pelayanan petugas imigrasi sepanjang ingatan saya, hanya ada dua kejadian yang tidak menyenangkan dan oknum ini merasa seolah-olah kuasa di tangan mereka sehingga mereka bisa bersikap seenaknya. Anehnya, oknum sejenis ini bisa begitu ramah ketika berhadapan dengan orang asing, namun malah memasang muka masam ketika melayani rekan sebangsa. Dari dua kejadian, yang paling membekas adalah ketika mudik beberapa tahun lalu. Waktu itu mengisi kartu kedatangan masih diberlakukan dan setiap kali tidak pernah ada masalah di bandara Soekarno-Hatta ketika saya menyerahkan kartu kedatangan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, tergantung potongan kartu mana yang saya miliki saat itu atau yang dibagikan oleh kru di dalam pesawat. Karena suatu urusan, saya terbang ke Denpasar dan bukan ke Jakarta. Begitu sampai meja imigrasi, petugasnya menegur saya dengan nada tidak mengenakkan, lalu dibilang sok karena pakai kartu kedatangan berbahasa Inggris (kebetulan cuma kartu berbahasa Inggris yang dibagikan di dalam pesawat sebelum mendarat), pokoknya dicecar habis-habisan oleh si oknum. Dengan perasaan dongkol luar biasa tapi juga tidak punya cukup keberanian untuk membalas, saya akhirnya mengganti kartu kedatangan dengan form yang berbahasa Indonesia dan kembali mengantri. Terus terang, saya heran dengan orang yang tampak bangga jika menjalankan peran sebagai bad guy. Kalau memang saya salah, kan bisa diberitahu baik-baik tanpa langsung berkomentar yang gak penting. Bersikap baik tidak ada ruginya sama sekali, lho!

Asap rokok gratis
Asap rokok dan perokok yang tidak punya otak adalah musuh besar saya dari dulu. Sayangnya, dari pengamatan kecil-kecilan saya, para perokok di Indonesia kebanyakan egois dan memang tidak punya otak! Unek-unek saya tentang perokok pernah saya tulis disini. Meskipun tanda larangan merokok sudah mulai dipasang di ruang publik, laki-laki, perempuan, tua, muda, dengan batang rokoknya tetap merajalela seolah mereka itu buta, buta mata dan buta hati. Bahkan kalaupun ditegur, orang yang melanggar peraturan malah lebih galak dan tidak terima ditegur daripada orang yang berusaha menegakkan peraturan :( :( :(

Buang sampah sembarangan
Saya paling gemas kalau melihat orang membuang sampah sembarangan. Tampaknya untuk soal yang satu itu, sama halnya dengan merokok, sudah menjadi hal yang "dianggap" sebagian orang adalah biasa dan tidak merugikan. Tidak jarang, sampah meluncur keluar dari jendela mobil mewah atau orang seenaknya menyelipkan sampah bekas makanan di bawah kursi angkutan umum tanpa perasaan bersalah. Apa susahnya sih menyimpan sampah tersebut di tas yang mereka bawa sampai menemukan tempat sampah???

Nasib buruk menjadi pejalan kaki
Ketika teman-teman saya yang baru kembali mudik bercerita betapa "mengerikannya" naik kendaraan umum di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, dengan taksi sekalipun, saya hanya bisa menanggapi dengan senyuman. Sebagai orang yang tidak pernah punya kendaraan pribadi dari dulu hingga sekarang, dan kemana-mana selalu mengandalkan transportasi umum, apa yang mereka ceritakan bukanlah masalah besar untuk saya. Justru yang kerap mengganggu saya adalah toleransi para pengguna kendaraan pribadi tersebut. Pernah beberapa kali saya terciprat air gara-gara ada mobil yang tidak mengurangi kecepatannya ketika melintasi genangan air...benar-benar apes :( :(. Belum lagi pengendara sepeda motor yang merebut hak pejalan kaki dengan menggunakan trotoar, seringkali sambil ngebut pula seolah trotoar adalah milik mereka seorang :(.

Menggertak dengan menggunakan nama orang lain
Paling malas kalau harus berurusan dengan orang yang suka sekali mengeluarkan kalimat "Saya anggota ...." atau "Jangan macam-macam, saya kenal dengan xxx (orang dengan jabatan penting di pemerintahan ataupun militer)". Suatu kali, saya pernah berhadapan dengan orang seperti ini dan pria tua itu "mengingatkan" saya dengan bilang bahwa kalau saya bersikap macam-macam, dia berhubungan baik dengan orang penting dari satu lembaga. Lalu kenapa? Kalau dia sendiri orang tersebut bolehlah bangga, tapi kalau orang lain yang ia maksud, apa hebatnya? Sepertinya, dalam kultur masyarakat kita, masih ada segelintir orang yang menganggap bahwa kedudukan penting seseorang bisa digunakan untuk menekan/menakut-nakuti orang lain. Berhubung segelintir orang tersebut biasanya hanyalah orang biasa dan bukan orang penting yang punya kedudukan, jadinya mereka menggertak orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka menggunakan nama orang lain, baik yang kenal dekat ataupun hanya sekedar tahu nama saja, tindakan pengecut yang menyebalkan!

Materi, materi, dan materi
Anggapan bahwa tinggal di luar negeri itu pasti makmur gemah ripah loh jinawi adalah lumrah, meskipun faktanya tidak semua orang suka menunjukkan kemakmurannya. Pertanyaan dari orang-orang yang hanya kenal selewatpun misalnya bisa seintim  "Enak ya di luar negeri, gajinya dollar dong?" Duh, gak usah kerja di luar negeri, di Indonesia pun berserakan kok orang yang digaji dengan $$$$. Belum lagi kalau bersuamikan orang asing, di mata sebagian orang terasa ganjil kalau sang istri tidak tampil wah dan menenteng barang-barang bermerek. Jawaban untuk menghadapi tipe orang seperti ini adalah tergantung suasana hati saat itu, kalau sedang baik dibalas dengan jawaban iseng, kalau sedang tidak baik, dibalas setengah hati dengan bahasa tubuh yang menunjukkan tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan tersebut.

Memang seenak apapun tinggal di negeri orang, pastilah akan selalu kangen dengan negeri sendiri. Cuma kadang, pengalaman-pengalaman diataslah yang kadang membuat serunya acara mudik jadi sedikit tercoreng.

Ada yang punya pengalaman mudik serupa?

Sunday, 18 May 2014

Pisang Molen Keju yang Super Gampang

Belakangan ini entah kenapa, saya lagi senang mencoba resep baru, termasuk bayangan pisang molen khas Bandung yang tiba-tiba menari-nari di depan mata. Setelah mengetik kata kunci di Google, dapatlah resep dari Mbak Maya Rahayu di blognya plus langkah-langkah pembuatan pisang molen dan sepertinya terlihat gampang, ini yang paling penting, hehehe... Eh, setelah dicoba, ternyata memang benar-benar gampang dan cepat. Terima kasih pada mbak Maya di ujung dunia sana buat resepnya *sok kenal :D*

Berikut resep asli dari mbak Maya yang saya modifikasi sedikit sesuai selera :)

Bahan:

1 kotak puff pastry ( Saya pakai merek Pampas) 
1 kotak keju cheddar (Saya pakai merek Kraft atau Bega)
1 botol meises (Kalau mau buat pisang molen coklat)
1 butir telur kuningnya saja ( kocok lepas campur dengan minyak goreng sedikit) 
1 sisir pisang kepok/pisang raja (Sampai sekarang saya gak tau pisang kepok itu seperti apa :p, jadi saya pakai pisang Namwa yang serupa dengan pisang raja kalau di Indo)

Cara membuat : 

1. Pisang dikukus hingga matang kemudian dibagi empat. 

2. Kalau di resep mbak Maya, ukuran pastry-nya berbeda jadi satu lembar dibagi dua, sementara kalau saya, satu lembar Puff Pastry saya potong jadi enam. 
Ini puff pastry yang saya pakai
3. Potong keju cheddar panjang seperti stick.

4. Olesi loyang dengan butter bawah dan sisinya lalu alasi dengan kertas roti (Saya pakai loyang untuk membuat bolu gulung).

5. Ambil 1 lembar puff pastry lalu susun potongan pisang diapit keju cheddar lalu taburi dengan 1/2 sendok teh gula pasir kemudian dilipat seperti amplop.
Susunan pisang dan keju didalam lipatan bisa dilihat di resep asli
6. Susun molen dalam loyang lalu olesi molen dengan kuning telur dan taburi keju parut diatasnya. 
Molen yang siap diolesi kuning telur dan ditaburi keju parut
7. Panaskan oven dengan suhu 395 F (200 celcius) lalu masukkan loyang ke dalam oven, biarkan sampai kuning kecoklatan dan matang, setelah itu angkat simpan dalam rak kue biarkan sampai dingin, pisang molen keju siap untuk disajikan.
Ini penampakan si molen keju, mohon abaikan tampilannya, yang jelas rasanya enaaakkk :)
Percobaan pertama saya pakai puff pastry tapi karena rasanya belum pas di lidah, saya melakukan percobaan kedua dengan menggunakan shortcrust pastry yang mengandung gula. Percobaan kedua belum juga memuaskan, akhirnya iseng coba-coba menggunakan puff pastry sesuai resep asli dan menaburkan gula di atas susunan pisang dan keju sehingga dapat juga cita rasa asin manis yang diinginkan. Menurut selera pencicip setia masakan saya, hasil percobaan ketigalah yang paling enak dibanding dua percobaan sebelumnya.

O ya, belajar dari tiga percobaan yang saya lakukan, sebaiknya pastry segera digunakan setelah 10-15 menit dikeluarkan dari freezer karena kondisi pastry paling mudah untuk dibentuk dan hasil lipatannya menjadi lebih bagus. Pada foto diatas, puff pastry yang saya pakai sudah terlalu lama didiamkan di suhu ruang sehingga pas dilipat lumayan susah dan bentuk molennya menjadi kurang cantik. 

Untuk pisang molen coklat, proses pembuatannya sama, hanya saya ganti potongan keju dengan coklat meises, begitupun dengan taburan diatasnya.

Tertarik untuk mencoba resep pisang molen keju super gampang dan enak dari Alaska ini? :) 

Saturday, 17 May 2014

#World Heritage Sites: Blenheim Palace

Dari sekian banyak kastil dan istana megah nan indah yang tersebar di seluruh penjuru Inggris Raya, ada satu istana yang sangat terkenal, tempat dimana salah satu Perdana Menteri Inggris yaitu Sir Winston Churchill dilahirkan dan dibesarkan. Ya, Blenheim Palace namanya. Waktu kami berlibur ke Oxfordshire musim panas tahun lalu, sempat terpikir untuk melewati istana ini karena harga tiket masuk yang lumayan mahal yaitu GBP 21.5 per orang, tapi berhubung kami adalah keluarga "banci" WHS atau World Heritage Sites, setelah dipertimbangkan lagi, sayang sekali apabila Blenheim Palace sengaja dilewatkan padahal sudah jauh-jauh sampai sini.

Gerbang Blenheim Palace yang megah

Blenheim Palace yang dibangun dengan kerjasama arsitek John Vanbrugh dan Nicholas Hawksmoor, terletak 13 km barat laut kota Oxford, tepatnya di daerah Woodstock, Oxfordshire, merupakan hadiah dari Ratu Anne dan bangsa Inggris kepada John Churchill, First Duke of Marlborough menyusul kemenangannya atas tentara Perancis dan Bavaria dalam pertempuran Blenheim tahun 1704. Dikelilingi kebun indah seluas lebih dari 800 hektar yang didesain oleh Lancelot "Capability" Brown, istana yang dibangun antara tahun 1705 - 1722 ini adalah presentasi gaya arsitektur baru bernuansa English Romantic yang menunjukkan karakter nasional bangsa Inggris pada setiap unsurnya, berlawanan dengan gaya klasik Perancis yang populer pada masa itu. Brown juga melengkapi keindahan taman Blenheim dengan membangun danau buatan.

Blenheim Palace yang menawan
Pemandangan yang begitu membuat siapapun betah berlama-lama di Rose Garden

Saya berkesempatan mengunjungi ruangan The State Room, The Churchill Exhibition, dan sebuah ruangan khusus dengan tema "Blenheim Palace: The Untold Story" 300 Years of Enticing Tales selama 40 menit yang dengan dukungan teknologi audio visual, pengunjung diajak memasuki sejarah Blenheim dan kehidupan pribadi para penghuninya, didampingi sosok virtual Grace Ridley, pembantu kepercayaan 1st Duchess of Malborough.

Tidak lupa kami juga mengunjungi Formal Gardens yang terdiri dari Water Terraces, Italian Garden, Secret Garden, Rose Garden. Lucunya, saya sempat ketakutan sendiri ketika mengikuti cerita "The Untold Story" ini. Sewaktu akan memasuki ruangan, oleh petugas yang menjaga, saya diminta menunggu sebentar sampai rombongan lain sebelum saya pindah ke ruang berikutnya. Waktu itu, hanya ada saya yang menunggu giliran. "The Untold Story" ini memberikan pengalaman pada pengunjung untuk turut merasakan kehidupan yang terjadi di Blenheim Palace dari masa ke masa di setiap ruangan yang kami kunjungi. Seingat saya, ada lebih dari sepuluh ruangan berbeda yang dapat dikunjungi secara berurutan dan jika kita sudah masuk ke satu ruangan, pintu ruangan di belakang kita otomatis tertutup sebelum perangkat audio visual diaktifkan, sehingga pengunjung tidak dapat keluar atau masuk lagi. Di beberapa ruangan terdapat boneka-boneka berbentuk manusia berpakaian lengkap yang dibuat seolah-olah mereka hidup, bernapas, dan bercakap-cakap. Di beberapa ruangan awal, saya masih santai, dan ternyata ada seorang pengunjung lagi yang masuk bersama saya. Di ruangan berikutnya, saya sudah masuk duluan, sementara pengunjung yang tadi bersama saya masih asyik di ruangan sebelumnya, jadilah saya terkurung sendirian, ketakutan, hanya berteman boneka-boneka seukuran manusia yang tampak seolah hidup dan ruangannyapun redup ditambah kisah yang digambarkan di ruangan tersebut sedikit menyeramkan...duuhhh..ingin rasanya keluar tapi tidak bisa :(. Dengan terpaksa, meskipun ketakutan, saya memasuki seluruh ruangan tanpa bisa berkonsentrasi lagi dengan semua cerita yang disajikan di ruangan-ruangan tersebut, sampai akhirnya tiba di  ruangan yang berisi presentasi poster dan yang paling penting terang benderang, pfiuuhhhh...legaa...

Salah satu ruang pameran "Blenheim Palace: The Untold Story"

Bagian lain dari ruang pameran "Blenheim Palace: The Untold Story"
Gabungan antara sejarah yang terekam di Blenheim dan keindahan arsitektur serta penataan taman yang apik menjadikan Blenheim Palace sebagai potret ideal kediaman bangsawan pada abad 18. Ditambah dengan penataan interior perabotan istana yang memang mengagumkan dan dipertahankan sesuai aslinya membuat istana cantik ini mendapat status sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO pada tahun 1987.

Sampai saat ini, keluarga dari 11th Duke & Duchess of Marlborough kerap tinggal di istana ini dan ada tur khusus selama musim panas untuk melihat tempat tinggal mereka. Saking luasnya kompleks istana ini, sebaiknya luangkan waktu seharian penuh agar puas menikmati taman sekaligus istananya. Penasaran dengan penampakan Blenheim Palace?


Water Terraces dengan Blenheim Palace sebagai latar belakang

Water Terraces
 

Asyik memperhatikan kawanan domba yang sedang merumput

Kamar tempat Sir Winston Churchill dilahirkan

Pakaian dan sandal tidur Sir Winston Churchill

Tempat Sir Winston Churchill melamar istrinya


Ruangan-ruangan di Blenheim Palace dihiasi beragam karya seni nan indah

The Green Writing Room

The Third State Room


The Long Library

Koleksi buku di The Long Library
 

Capability Brown bridge

Lansekap karya Capability Brown, termasuk air terjun buatan

Rose Garden

Danau buatan

Hamparan bunga mawar

Salah satu sisi The Great Hall
Inilah bedanya tempat tidur bayi bangsawan dan rakyat jelata:)