Saturday, 12 December 2015

Bahagia itu Sederhana

Siapa yang dulu waktu SD punya semacam buku harian, dan menjelang perpisahan di bangku kelas VI, teman-teman sekelas diminta menuliskan biodata lengkap dengan cita-cita serta kesan dan pesan untuk si pemilik buku? Saya punya, dan biasanya saya, paling suka menuliskan cita-cita: "Bahagia dunia akhirat" tanpa benar-benar mengerti bahagia seperti apa yang dimaksud.

Tahun berganti, usia bertambah, kehidupan berubah, dan di usia yang sekarang, kadang saya suka tersenyum geli membayangkan diri sendiri di masa SD, butuh waktu puluhan tahun untuk mengerti kalau perasaan bahagia itu bisa diciptakan di dunia dan bahagia itu teramat sederhana.

Ternyata, bahagia itu sesederhana ketika melihat bocah berusia 3,5 tahun berhasil mengayuh sepeda roda duanya untuk pertama kali, spontan saya menangis saking bangga dan bahagia melihat usahanya...

Perasaan bahagia itu datang lagi sesederhana sepotong kalimat yang disampaikan guru renangnya bahwa mulai bulan depan ia sudah bisa berenang tanpa ditemani lagi. Rasanya baru kemarin, saya membawa bayi delapan bulan berenang untuk pertama kalinya. Naik turun dalam proses "belajar" berenang ini sudah kami lewati bersama sampai pernah saya berada dalam tahap nyaris ingin menunda kelas berenang sampai anaknya bersemangat lagi. Alhamdulillah, usaha David dan dukungan guru-guru renangnya membuahkan hasil. Rasanya tidak sabar melihat si sulung berenang sendiri walau pasti saya akan kangen menemaninya nyemplung di kolam seperti yang saya lakukan selama 3 tahun terakhir. 

Teruslah bersinar dan berusaha menjadi sumber kebahagiaan kami dan sekelilingmu, sayang... In Shaa Allah, aamiin..

Nostalgia ke Kanchanaburi

Akhir pekan panjang alias long weekend minggu lalu kami mengunjungi Kanchanaburi. Tujuan ini sekaligus nostalgia buat kami karena pertama kalinya kami kesini tiga tahun lalu, si sulung baru berusia 17 hari. Naik kereta ekonomi hampir 3,5 jam dan akibatnya si bayi susah tidur malamnya karena kembung, duuh..kalau ingat itu, rasanya berdosa sekali :(. Pada kunjungan pertama dulu, kami hanya menghabiskan waktu di sekitar sungai Kwai karena kebetulan penginapan kami berlokasi dekat jembatan historis yang menjadi ikon Kanchanaburi. Kali ini, kami memilih menginap di Sai Yok, kurang lebih 50 kilometer dari Kanchanaburi, di tepi sungai Kwai Noi.

Setelah lima jam perjalanan dari Bangkok, akhirnya sampai juga kami di Sai Yok. Teorinya, waktu tempuh ke Kanchanaburi itu kurang lebih dua setengah jam, namun dengan acara berhenti untuk makan siang, toilet, dan istirahat plus nyasar karena navigator lupa tugasnya :p, waktu tempuh kami jadi dua kali lipatnya.

Air terjun Erawan menjadi tujuan pertama kami. Erawan Falls ini mempunyai tujuh undak air terjun dan merupakan bagian dari Taman Nasional Erawan seluas 550 km2 yang diresmikan pada Juni 1975 sebagai Taman Nasional Thailand yang keduabelas. Jaraknya dari Kanchanaburi sekitar 70 km, sementara dari Sai Yok kurang lebih 45 menit berkendara tanpa nyasar (lupa berapa kilometer pastinya).

Tiket masuk kawasan taman nasional adalah THB 100 bagi orang Thai dan pengunjung yang berdomisili di Thailand, sedangkan bagi wisatawan asing dikenakan tiket masuk THB 300. Di dalam kawasan Taman Nasional ini terdapat berbagai macam akomodasi, mulai dari tenda, dorm,  sampai bungalow, dengan semua peralatan tersedia untuk disewakan. Hari Minggu itu kawasan Taman Nasional relatif lebih ramai dari biasanya sehingga area parkir ditambah. Kami mendapat tempat parkir di dalam kawasan taman nasional, tidak jauh dari area perkemahan, lumayan, mengurangi jarak berjalan kaki ke air terjun :). Saya sempat tertegun ketika sedang berjalan, tiba-tiba ada seekor babi hutan sedang berjalan di antara kemah-kemah, tampaknya ia tidak takut dengan manusia, cuek saja mengendus sana-sini mencari sesuatu untuk dimakan. Beberapa kali keluar masuk taman nasional, baru kali ini saya melihat penampakan babi hutan dari dekat, yang meski terlihat jinak, tapi tetap saja bikin deg-degan ketika ia berjalan ke arah saya. 

Di lingkungan taman nasional terdapat mobil listrik yang dapat dinaiki dengan tiket THB 30 per orang untuk mengantar pengunjung ke titik awal trekking menuju air terjun. Rute dari air terjun pertama sampai keempat relatif landai dan cukup mudah. Bahkan, saya sempat melihat beberapa pengunjung perempuan dengan sepatu berhak menguji kelihaiannya meniti jalan setapak menuju air terjun...hebat! Kami sendiri berhasil mencapai air terjun kelima dan tinggal 300 meter lagi menuju air terjun keenam, namun karena jalan setapak sebelumnya cukup curam dan licin, apalagi masing-masing menggendong anak, kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Biarlah dua air terjun terakhir disimpan untuk kunjungan lain waktu, In Shaa Allah.

Pengunjung umumnya memenuhi air terjun di undak kedua yang relatif luas dan undak keempat untuk berenang-renang di air tawar yang jernih menyegarkan bersama sekelompok ikan-ikan...wow!

Si babi hutan yang nyasar ke area perkemahan

The trekkers
Suasana air terjun di undak keempat
Berenang dengan ikan-ikan di air terjun undak keempat
 


Suasana ramai di air terjun undak kedua, yang paling dekat, paling luas sekaligus paling ramai
Hari berikutnya, kami meninggalkan Sai Yok menuju Kanchanaburi dalam perjalanan pulang ke Bangkok. Setibanya di Kanchanaburi, tujuan utama adalah menorehkan kembali jejak kaki di jembatan sungai Kwai sekaligus menunggu kereta melintas di jembatan historis dari masa Perang Dunia II tersebut.

 

Inilah kereta historis itu , jurusan Bangkok - Namtok
Panorama sungai Kwai

The Bridge over River Kwai yang terkenal

Sayang, waktu yang terbatas tidak memungkinkan kami menapaki lembaran sejarah yang paling penting dan wajib dilakukan di Kanchanaburi, yaitu menaiki kereta menuju Namtok yang melintasi Death Railway dan mengunjungi Hellfire Pass Memorial Museum, bagian tidak terpisahkan dari sejarah pada masa Perang Dunia II ketika tentara Jepang mengerahkan tenaga kerja Asian dan tawanan perang untuk membangun jalan kereta api sepanjang kurang lebih 400 km dari Thailand ke Myanmar (Burma pada masa itu). Sampai jumpa lagi, Kanchanaburi...

Wednesday, 9 December 2015

Obrolan Bocah

Sama-sama

Di satu hari Minggu, mata kiri si bocah tiba-tiba merah dan katanya terasa gak nyaman. Malam sebelum tidur, kami berdoa supaya matanya sembuh keesokan pagi agar bisa masuk sekolah. Alhamdulillah, matanya sudah kembali bersinar dan tidak merah lagi, dan terjadilah percakapan ini:
I      : Terima kasih ya Allah udah sembuhin matanya D
D    : Kata Allah "sama-sama"
I      : LOL

Masih Kecil

Demi mengantisipasi terjadinya drama, sehabis kursus berenang saya hanya membilas si bocah dan baru memandikannya setiba di rumah. Suatu hari, saya gemas ingin memandikannya disana dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, saya langsung membubuhkan shampoo di kepalanya. Tindakan saya ini berakibat fatal, anaknya menangis heboh karena tidak mau dikeramasi. Setelah berhasil ditenangkan, saya segera minta maaf.

I  : Maafin Ibu ya, gak bilang dulu, langsung keramasin aja.
D: Iya, lain kali Ibu tanya dulu sebelum keramasin kan D masih kecil *pernyataan gak nyambung tapi sukses bikin Ibu tersenyum geli*

Parce que je t'aime (Karena saya sayang Bapak)

Si bocah sudah dibiasakan tidur di kamarnya sejak kecil dan boleh pindah ke kamar kami ketika matahari sudah terbit. Namun ada saat-saat setelah ia terbangun dini hari karena mau pipis, ia selalu ingin meneruskan tidurnya bersama kami yang tentu saja kami kabulkan. Keesokan paginya, bapak-anak terlibat dalam sebuah percakapan serius.

P: Pourquoi t'as dormi dans notre chambre? (Kenapa kamu pindah tidur ke kamar kami?)
D: Parce que je t'aime (Karena saya sayang Bapak) *jawaban gak nyambung tapi cukup membuat bapaknya senyum-senyum keGRan*
P: Moi aussi je t'aime, mon D, mais tu dors dans ta chambre jusqu'au matin, d'accord? (Bapak juga sayang sekali sama kamu, tapi kamu tidur di kamarmu sampai pagi, OK?)

Tangan

Setiap malam, sehabis mematikan lampu, berdoa dan menyanyikan lagu pengantar tidur, kami meninggalkan si bocah di kamarnya. Biasanya ia akan sibuk sendiri sampai akhirnya jatuh tertidur. Suatu malam, tidak lama setelah saya keluar kamar, terdengar suara tangisan.

I  : Kenapa nangis? Ada apa?
D : Ini, gak bisa keluar
I   : Apa yang gak bisa keluar? *Suasana kamar gelap sehingga saya tidak memperhatikan apa yang dimaksud*
D : Ini, tangan *sambil menangis*
Ternyata, ia iseng bermain dengan pita di bagian pinggang celana piyamanya dan jari tangannya terlilit si pita sehingga tidak bisa digerakkan dan ia mulai panik *saya berusaha keras tidak tertawa sambil membantu membebaskan jari tangannya*

Kejadian serupa terulang kembali beberapa malam kemudian, kali ini ia bermain dengan lengan baju piyamanya dan ternyata lengannya malah jadi susah bergerak. Ada-ada saja kelakuanmu, bocah kecil :) 

Saturday, 5 December 2015

Happy Father's Day

Thank you for holding us in your arms during those sleepless nights...
Thank you for the humming lullabies...
Thank you for the prayers you whisper in our tiny ears...
Thank you for the songs, specially composed and played for us...
Thank you for the hours you have spent playing with us...
Thank you for taking us to see the world...
Thank you for the countless cuddles, kisses, and hugs...
Thank you for the precious moments of bedtime storytelling...
Thank you for hurrying back from work to spend time with us before we sleep...
Thank you for loving us unconditionally...
Thank you for being the coolest and most awesome Father ever...
We love you...
Happy Father's Day!*

* Father's Day in Thailand is celebrated every 5th of December, commemorating the birthday of His Majesty King Bhumibol Adulyadej

Thursday, 26 November 2015

Guru Favorit

Memperingati Hari Guru Nasional tanggal 25 November kemarin, saya jadi teringat guru-guru yang telah berjasa mengajarkan saya banyak hal selama duduk di bangku sekolah. Jujur, baru sekarang saya tahu kalau tanggal 25 November itu diperingati sebagai Hari Guru, kemana saja kemarin-kemarin ya? :(. Tanpa mengecilkan jasa mulia semua guru yang pernah mengajar saya selama SD, SMP, dan SMU, saya punya guru favorit yang dengan beliau-beliau ini proses belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan.

Guru olahraga jaman SD, pak R namanya, telah berhasil membuat saya menaklukkan ketakutan berhadapan dengan air, alias mengajarkan saya salah satu kemampuan dalam hidup, yaitu berenang. Saya belajar berenang saat kelas 5 SD karena sebelum-sebelumnya takut air. Dengan ketelatenan pak R, saya berhasil mengatasi ketakutan tak beralasan saya pada air dan kemudian menikmati aktifitas berenang.

Masuk di SMP, saya sangat menyenangi ibu guru Biologi yang begitu tertib dalam kelas, cara mengajarnya juga enak, dan selalu rapi. Ibu guru I ini tidak sungkan-sungkan memuji anak didiknya di depan kelas apabila si anak memang pantas dipuji. Karakter bu I yang rapi dan teratur terus melekat di ingatan saya, termasuk ketelitian beliau dalam memeriksa tugas dan juga tidak pelit nilai, memberi semangat tersendiri untuk murid.

Di SMU, guru favorit saya adalah guru Kimia, pak R namanya. Di tangan beliau, mata pelajaran Kimia menjadi sangat menyenangkan dan tampak mudah. Selain itu beliau juga sering melontarkan candaan ringan ketika jam pelajaran berlangsung. Tidak perlu justifikasi untuk pak R ini, karena beliau tampaknya adalah guru favorit dan populer diantara murid-murid di sekolah saat itu.

Masuk bangku kuliah, saat titel pengajar bukan lagi guru melainkan dosen, ada satu dosen senior yang juga menjadi favorit saya. Profesor DS ini tegas, disiplin, ramah, dan selalu tampak bersemangat. Beliau juga tidak sungkan-sungkan menyapa mahasiswanya lebih dulu sambil tersenyum lebar. Tapi jangan coba-coba datang terlambat ke kelas beliau, 30 detik sekalipun. Begitu beliau masuk kelas jam 7 tepat (kuliah beliau selalu dimulai jam 7 pagi teng), pintu tertutup rapat. Mahasiswa yang datang di belakang beliau dimintai menutup pintu...dari luar alias tidak boleh masuk.

Beliau-beliau ini tidak hanya mengajarkan mata pelajaran/kuliah tetapi lebih dari itu, pembawaan dan karakter mereka mengajarkan jauh lebih banyak hal, khususnya di mata saya. Terima kasih bapak dan ibu para pahlawan tanpa tanda jasa dimanapun,  selamat hari Guru...


Hymne Guru
Pencipta: Sartono

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Wednesday, 25 November 2015

Kangen Bandung

Sumber foto dari sini

Masih di edisi kangen Bandung, tiba-tiba terlintas untuk menuliskan apa saja yang saya kangeni dari Bandung, kota kelahiran saya.

Saya kangen suasana Bandung yang resik, waktu kota ini masih jadi langganan penerima piala Adipura dan slogan kotanya masih "BerHiBer" alias Bersih, Hijau, dan Berbunga, entah tahun berapa, mungkin periode 1985-1990an. Seingat saya, taman-taman kecil di setiap perempatan jalan semarak berhiaskan bunga warna-warni, jalanan begitu bersih, dan belum ada pengamen/anak jalanan yang meramaikan suasana di perhentian lampu merah.

Saya kangen suasana Bandung di pagi hari dengan kabut tipis dan udara dinginnya, padahal saya tinggal di daerah Bandung Selatan dan bukan di ketinggian pula. Udara dingin dan kabut tipis seringkali saya temui dalam perjalanan menuju sekolah di daerah jalan Sumatera.

Saya kangen suasana Bandung yang belum seramai dan sepadat sekarang, bahkan kata "macet" pun jarang dipakai ketika itu. Kemacetan parah yang masih segar di ingatan saya adalah waktu pelaksanaan konferensi APEC tahun 1994 di Bogor yang disambung dengan acara di Bandung, sehingga saya dan teman-teman harus berjalan kaki dari sekolah di jalan Sumatera sampai ke rumah di daerah Lingkar Selatan.

Saya kangen suasana Bandung di malam hari ketika langit cerah dan bisa melihat kerlap kerlip bintang dari tempat jemuran di loteng.

Saya kangen suasana Bandung di malam hari ketika sedang berada dalam pelukan udara dingin daerah Bandung Utara dan melihat kerlap kerlip lampu kota di cekungan Bandung dari kejauhan.

Saya kangen suasana di setiap kesempatan ketika menyantap semua makanan khas kota Bandung yang selalu memanjakan lidah.

"...dan Bandung bagiku bukan cuma masalah wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika ku berada di sana, akan tetapi perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu..."  ~Pidi Baiq~

Bandung Bucket List

Genap duabelas tahun saya meninggalkan kota kelahiran tercinta, Parijs van Java alias Bandung, dan pastinya, selalu ada yang baru dari kota yang terkenal sebagai gudangnya orang-orang kreatif/seniman dan tempat-tempat yang nge-hits ini, sampai membuat warga ibukota rela bermacet ria pada akhir pekan demi menginjakkan kaki di Bandung.

Dari sekian banyak daftar tempat yang ingin saya kunjungi, diantaranya ada di Bandung dan belum kesampaian hingga saat ini dan beberapa bahkan sudah diimpikan sejak bertahun-tahun yang lalu :(. 

Kawah Putih

Foto dari sini

Hampir semua orang yang saya kenal sudah pernah menginjakkan kaki di tempat ini kecuali SAYA :(. Mulai dari sekedar jalan-jalan, pengambilan gambar, sampai pre-wedding. Sekali waktu, kami sedang berada di Bandung Selatan dan bermaksud datang ke Kawah Putih, tapi ternyata Kawah Putih sedang ditutup karena belum tercapai kesepakatan antara pihak pengelola dengan pihak penjual yang mengais rezekinya disana. Kali lain, niat kami tertunda karena kandungan belerang kawah sedang tinggi sehingga ada himbauan untuk tidak mengunjungi kawasan Kawah Putih. Rupanya ini yang disebut belum jodoh. Mudah-mudahan lain waktu saya berjodoh datang ke Kawah Putih yang indah.

Dusun Bambu

Dusun Bambu
Foto dari sini

<b>DUSUN BAMBU</b>-LEMBANG (1 Maret 2014) | Jalan Jalan Jeprat Jepret
Foto dari sini

Tahun lalu, beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri, kami mencoba peruntungan datang ke Dusun Bambu yang belum lama dibuka saat itu. Namun, rencana batal karena antrian masuk kendaraan yang mengular, bahkan sejak dari jalan Kolonel Masturi. Setelah kurang lebih setengah jam mengantri, akhirnya kami menyerah dan mengambil pelajaran untuk mencoba datang lagi kesini dengan sebisa mungkin di luar libur hari raya dan akhir pekan.

Sapu Lidi

Foto dari sini

Duluuu sekali, mungkin sekitar awal tahun 2000, tempat ini pernah saya datangi, tapi penampakannya belum secantik sekarang. Waktu itu hanya ada saung-saung tempat makan dan hamparan padi di sekelilingnya. Beberapa tahun lalu, kantor tempat saya bekerja dulu mengadakan outbond disini, dan tempat ini begitu mengundang untuk didatangi, hanya saja kesempatannya belum ada.

Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha Bandung : Foto : nopanngluyur.wordpress.com
Foto dari sini

Salah satu tempat yang paling ingin saya datangi, terlebih setelah menonton film "Petualangan Sherina". Tahun 2000, saya dan sahabat saya pernah nyaris sampai di Bosscha. Kenapa dibilang nyaris? karena kami sudah sampai di gerbang Bosscha sampai terlihat pengumuman bahwa untuk datang kesini harus terlebih dahulu mengajukan permohonan. Rencana kamipun gagal total dan sampai sekarang baik saya maupun sahabat saya, Aria, belum pernah mencoba lagi untuk datang ke Bosscha.

Menara Mesjid Agung

Masjid Agung Bandung (Sumber foto: http://kubahmasjid.co.id/masjid-raya-bandung-jawa-barat/)
Sumber dari sini

Renovasi wajah Masjid Agung Bandung ini telah membuatnya begitu berbeda. Tidak ada lagi terpal tenda penjual kaki lima menutupi keindahan bangunan masjid, membuatnya terlihat agung. Yang paling ingin saya lakukan adalah naik ke salah satu puncak minaretnya untuk menikmati pemandangan kota Bandung dari atas yang dikelilingi barisan pegunungan, sambil membayangkan Bandung puluhan tahun yang lalu di masa jayanya.

Ada yang punya bucket list serupa? Atau ada yang mau berbagi bucket list tempat yang ingin dikunjungi, siapa tahu menambah ide untuk jalan-jalan :)

Saturday, 21 November 2015

Colmar: Sejenak di Negeri Dongeng

Kota Colmar terletak di sebelah timur laut Perancis, dekat perbatasan Perancis - Jerman. Pertama kali saya tahu tentang kota ini dari foto di sebuah kalender. Tidak pernah terbayang kalau akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di kota yang bak negeri dongeng ini, walau sebentar, alhamdulillah. Setiap sudut dari Colmar begitu fotogenik, sayangnya saya tidak ahli dalam memotret sehingga rasanya kecantikan asli kota ini kurang terwakili dari foto-foto yang saya ambil.

Meski langit Colmar hari itu tidak bersahabat, warna-warni bebungaan dan bangunan-bangunannya tetap membuat saya mampu berkhayal serasa sedang berada di negeri dongeng :). Karena kami hanya singgah sebentar disini dan hanya beredar di daerah kota tua, terus terang saya masih belum puas dan kalau seandainya bisa kembali lagi, hal-hal yang saya ingin lakukan adalah mengunjungi landmark Colmar dan bangunan-bangunan bersejarahnya, mengunjungi pasar Colmar (yang sayangnya tutup di hari Minggu), membuat foto diri/keluarga di setiap sudut kota Colmar, makan blueberry tart atau tarte aux myrtilles -yang merupakan makanan khas daerah Alsace- sepuasnya sampai kenyang, dan memborong isi toko suvenir :D.

Mari, siapa yang mau naik kapal?
Little Venice
Godaan terbesar saat memasuki toko kue
Begini caranya menghiasi jendela-jendela bangunan dengan bebungaan cantik yang berwarna-warni
Selai buah myrtille
Semua rotinya...fresh from the oven
Kue tart yang semuanya lezat
Colmar Old Town

Friday, 20 November 2015

Cream Cheese Bread

Horee, satu lagi resep gampang yang saya dapat dari teman pengajian, Pipit namanya. Resep aslinya diperoleh Pipit dari sini. Pipit ini jagonya dapur dan presentasi makanan hasil buatannya selalu cantik dan menggiurkan (ketahuan kalau saya suka mengintip album hasil kreasi dapurnya nih, hehehe...). Sebenarnya dulu sekali, saya pernah sukses bikin roti coklat sekali-kalinya, tapi setelah itu lebih suka buat kue-kue seperti pukis, bolu, dan brownies. Setelah dicoba, resep rotinya Pipit ini gampang (untuk yang bukan jawara dapur seperti saya). Pertama kali praktik, alhamdulillah sukses dan akhirnya ketagihan bikin roti lagi dan lagi...terima kasih ya Pit :)

Roti andalan saya adalah roti sobek isi coklat, keju, dan selai buah. Dari sisi tampilan mungkin kurang cantik, tapi waktu melihat kalau tekstur rotinya mirip sekali dengan roti dari toko, saya puas sekali!

Bahan:
- 250 gram terigu protein tinggi (bread flour)
- 50 gram cream cheese
- 15 gram gula pasir
- 10 gram susu bubuk
- 20 gram butter, suhu ruang
- 3 gram ragi instan (resep asli 2,5 gram - tapi karena timbangan saya tidak berdesimal, jadi saya bulatkan)
- 3 gram garam
- 160 ml air

Bahan isian coklat:
- 30 gr susu bubuk
- 30 gr icing sugar (saya ganti dengan gula halus)
- 2 sdm coklat bubuk diaduk rata
- 2 sdm unsalted butter suhu ruang

Cara membuat:

1. Campur terigu, ragi instan, gula, susu bubuk.
2. Tambahkan cream cheese, uleni.
3. Tambahkan air sedikit-sedikit, uleni, masukkan butter dan garam, tambahkan sisa air. Uleni hingga kalis.
4. Diamkan adonan selama 1 jam, tutup dengan cling wrap
5. Ambil adonan (kira-kira), bulatkan, pipihkan, isi dengan coklat/keju/selai sesuai selera, bulatkan kembali dan susun di loyang. Lakukan sampai semua adonan habis.
6. Tutup kembali dengan cling wrap dan biarkan mengembang selama 1 jam.
7. Olesi adonan yang sudah dibentuk dengan susu cair.
8. Panggang dengan api bawah selama 10 menit 180 derajat dan 10 menit berikutnya dengan api atas (resep asli 12-15 menit).
9. Angkat, sajikan hangat-hangat...yummm...

Percobaan pertama, roti sobek coklat keju


Tekstur rotinya benar-benar membanggakan :D

Roti sobek isi pisang coklat, keju, selai buah

Roti sobek isi mozzarella dan coklat yang dibuat sore ini :)

Hampir mirip S*rir*ti kan? :D

Sundown

I always love taking pictures of sunrises and sunsets everywhere. To me, sunrise pours the new spirit and hope while sunset makes me feeling nostalgic. Now, I hardly do it again for sunrise means wake up time for the kids, and sunset happens at about the same time of their dinner schedule. Somehow, I occasionally miss sitting quietly waiting for the sun to set, hence I write this post. To fulfil my thirsts of spoiling myself staring at the reddish blue skies, through the photos below, I revisit most spectacular sunsets and beautiful skies I have luckily ever captured, taken in various places, from Sipora island to Koh Chang island, from Champerico beach to Port Vila bay, and from the bustling city of Bangkok to vibrant city of Bristol. They are simply BREATHTAKING!



 







"He created the heavens and earth in truth. He wraps the night over the day and wraps the day over the night and has subjected the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. Unquestionably, He is the Exalted in Might, the Perpetual Forgiver" QS. Az-Zumar 39:5