Sunday, 18 December 2011

Mengenang kehidupan di Port Vila

Rasanya baru kemarin kami menjejakkan kaki di bandara internasional Bauerfield, Port Vila, padahal itu terjadi lebih dari setahun yang lalu. Pada saat sudah berada kembali di kota besar seperti sekarang ini, rasa kangen dan kenangan manis selama tinggal di ibukota mungil berpenduduk kurang lebih 40 ribu jiwa ini seringkali muncul. Sulit memang membayangkan hidup di kota kecil setelah sekian lama terbiasa dengan denyut kehidupan kota besar. Namun, kepindahan kami ke Port Vila memberikan pengalaman hidup baru yang tentunya sangat berkesan bagi saya pribadi.
 
Port Vila Bay dengan Iririki sebagai latar belakang

Jarak dari bandara ke pusat kota hanya membutuhkan waktu 15 menit saja dengan mengendarai mobil, sampai akhirnya kami tiba di akomodasi sementara sebelum mendapatkan tempat tinggal permanen. Bulan pertama kami habiskan di sebuah apartemen studio mungil yang cukup nyaman yaitu Breadfruit apartment sampai kami menemukan sebuah rumah cantik di kawasan Nambatu yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari kantor maupun pasar swalayan. Ya, di Port Vila ada kawasan yang dikenal dengan nama Nambawan (berasal dari number one), Nambatu, dan Nambatri. Kawasan Nambawan itu terletak di pusat kota, tempat banyak café dan restoran berlokasi, Nambatu itu merupakan kawasan residensial yang dihuni oleh campuran penduduk asli dan ekspatriat, Nambatri lebih banyak dihuni oleh penduduk lokal, sedangkan kawasan Elluk, Tassiriki, dan Bellevue dihuni oleh penduduk asli golongan menengah ke atas dan kaum ekspatriat. Moda transportasi yang kerap saya gunakan adalah bus, dengan tarif 150 VUV (Vatu – mata uang Vanuatu) yang setara dengan 13,000 IDR untuk satu kali jalan, diantar sampai tujuan.

Pusat kota Port Vila dengan bus yang lalu-lalang
Nambawan

Ada banyak hotel mewah di Port Vila, namun hanya ada satu gedung yang mempunyai lift di seluruh negeri, yaitu hotel The Grand Hotel and Casino yang berlantai 6 yang terletak dekat pelabuhan Port Vila. Untuk keperluan sehari-hari saya biasa berbelanja ke satu-satunya pasar tradisional di pusat kota yang buka 6 hari dalam seminggu maupun pasar swalayan. Di pasar tradisional dapat ditemui sayuran dan buah lokal serta warung-warung makan. Sesuai musimnya, saya juga pernah menjumpai sate kelelawar dan kepiting kelapa dijual disana. Sedangkan produk sayur dan buah impor dapat diperoleh di pasar swalayan, terutama untuk produk makanan Asia. Lucunya, di pasar swalayan ini, ada banyak kemasan yang masih dijual meskipun telah melewati batas waktu dan tampaknya pembelipun, khususnya masyarakat Melanesia tidak khawatir untuk mengonsumsi produk yang sudah lewat batas waktu tersebut.

Buah-buahan dan sayuran lokal
Aktivitas di pasar tradisional
Gambar unik di dinding kantor pos Port Vila
Untuk buah-buahan segar, kami cukup beruntung karena di kebun sekeliling rumah ditanami oleh pohon buah-buahan seperti pisang, mangga, alpukat, kedondong dan nanas. Jadi teringat ketika musim mangga antara bulan November – Januari, setiap malam terdengar buah mangga matang jatuh dari pohon, dan keesokan paginya, sayapun panen seplastik penuh buah mangga, saking banyaknya sampai hampir setiap hari dibagi-bagikan ke teman-teman. Pada saat panen alpukat, kebetulan kami sedang berada di Indonesia, namun kami sempat merasakan lezatnya buah alpukat disini, dagingnya begitu lembut dan rasanya creamy, persis seperti alpukat mentega di Indonesia. Bahkan alpukat mentah yang diperam pun matangnya sempurna tanpa menjadi busuk. Sampai saat ini saya beranggapan bahwa alpukat Vanuatu adalah alpukat terenak yang pernah saya cicipi. Pisang adalah panenan kami terakhir sebelum meninggalkan Vanuatu. Dengan tiga batang pohon pisang di halaman, alhasil di rumah berserakan entah berapa sisir pisang mentah nan menggiurkan. Ah, jadi kangen masa-masa tinggal di rumah Nambatu...

Therese dan panen pisang dari kebun
Menanti panen nanas
Perbandingan mangga ukuran normal dengan mangga terbesar selama panen tahun 2010
Bercerita sedikit tentang rumah yang kami tinggali, rumah ini mempunyai balkon dengan pemandangan langsung ke arah laguna. Semburat matahari terbit setiap pagi dapat dinikmati langsung dari kamar kami, dan di siang hari, saat cuaca cerah, kami seringkali disuguhi pemandangan warna laguna yang bervariasi antara biru dan biru tosca. Saat sehabis hujan, giliran semburat pelangi yang menampakkan diri, benar-benar sempurna.

Kenangan manis di Nambatu
 Tidak banyak hiburan di kota ini, berbeda dengan umumnya kehidupan di kota besar. Aktivitas yang paling sering kami lakukan di akhir pekan, selain mengundang atau diundang teman-teman untuk makan malam bersama, adalah pergi ke pantai. Tinggal di kawasan Pasifik yang terkenal dengan pantai-pantai indahnya, rasanya rugi sekali kalau melewatkan kesempatan ini. Beberapa tempat favorit kami diantaranya Erakor, pulau kecil dengan resort yang terletak di laguna yang sama dengan laguna di belakang rumah yang kami tempati, Hideaway Islands, tempat ber-snorkeling yang terkenal dengan pemandangan bawah airnya dan underwater post pertama di dunia, dan Eton dengan blue hole-nya yang menakjubkan namun terletak agak di luar kota. Pada awal kami datang, penduduk lokal dapat masuk ke pantai-pantai ini, namun beberapa bulan kemudian, Erakor dan Hideaway Islands menerapkan peraturan baru yang mengharuskan pengunjung membayar biaya masuk sebesar 1500 VUV dan 1000 VUV sebelum menyeberang untuk kemudian ditukar dengan voucher pembelian menu makanan di restoran resort tersebut. Hal ini tentunya membatasi akses penduduk lokal dan jadinya hanya turis saja yang dapat berkunjung.

Pilihan tempat favorit untuk melewatkan akhir pekan

Pantai-pantai indah di sekitar kota Port Vila
Di Port Vila juga saya mengalami musim siklon pertama saya dan juga rangkaian gempa bumi yang cukup kuat. Musim siklon yang berlangsung dari bulan November hingga April pada awalnya cukup mengagetkan apalagi kalau belum terbiasa. Seorang teman yang berasal dari Kanada dan sudah terbiasa dengan badai (hurricane) mengatakan kalau angin-angin kencang di awal bulan November itu belum ada apa-apanya. Badai yang sering ia alami di benua Amerika sana menurut teman kami itu terasa seperti rangkaian kereta api lewat begitu dekat! Bulan Januari – Februari adalah masa-masa terburuk untuk siklon. Pernah suatu kali, saya ditinggal pergi bertugas selama seminggu dan otomatis sendirian di rumah. Malamnya, angin bertiup begitu kencang sampai rasanya pintu kayu pelindung berderak-derak nyaris terlepas. Keesokan paginya, batang pohon kedondong yang cukup tinggi sudah terkulai layu di tanah, pohon-pohon di halaman ada yang patah maupun nyaris bengkok, dan patahan ranting berserakan dimana-mana. Bila disertai dengan hujan, permukaan air di lagunapun bisa naik cukup tinggi, namun untungnya rumah kami berada di atas bukit batu sekitar 30 meter diatas permukaan air, jadi tidak terlalu khawatir untuk hal ini. Gempa bumi terkuat yang pernah saya rasakan juga terjadi ketika kami masih disini, beberapa minggu sebelum kepindahan kami. Jadi, pada dini hari Sabtu tanggal 20 Agustus, sekitar pukul 4 pagi saya merasakan tempat tidur bergoyang-goyang cukup lama sampai membuat saya terbangun. Setelah bangun dan menunggu beberapa saat, tidak terjadi apapun sampai kemudian mulailah guncangan yang cukup keras dan lama sekitar jam 5 pagi. Syukurlah, dengan skala M 7.1 dan kedalaman pusat gempa 40 km, tidak ada kerusakan bangunan apapun yang ditemui pagi itu.

Pengalaman tinggal di negara kepulauan di Pasifik Selatan ini tidak akan pernah saya lupakan, mulai dari kebiasaan kami bersantai di balkon sambil memandang laguna, belajar melempari buah mangga yang matang supaya cepat jatuh dari pohonnya dengan tetangga saya dari Fiji -Shainaz namanya-, menghabiskan akhir pekan dengan berenang dan snorkeling di pantai atau air terjun, berjalan kaki ke rumah sepulang bekerja –disini saya sempat bekerja sebagai sukarelawan di kantor pemerintah selama tiga bulan- sambil menikmati udara sore dan langit biru dan berpikir apakah saya akan mengenang saat-saat itu kelak (dan ternyata jawabannya adalah ya), seringkali menemukan kepiting yang tengah menyeberang jalan pada malam hari ketika kami melintas, melewatkan hari Sabtu pagi di café Au Peche Mignon di pusat kota untuk menyantap segelas coklat hangat dan croissant serta memborong sekantung chouquettes sebelum mampir ke pasar tradisional (pengaruh Perancis memang relatif kuat, khususnya di Port Vila), menyeruput segelas banana smoothie di Nambawan café, menikmati terbenamnya matahari sore di Port Vila bay sambil ber-stand up paddling bersama teman-teman, termasuk tentunya suasana pada malam hari yang gelap gulita karena ketiadaan lampu jalan yang merupakan bagian dari suka duka tinggal disini.
Permainan khas Perancis petanque
Mahasiswi USP sedang menampilkan tarian khas Vanuatu
Ekspresi polos anak-anak
Warna-warni Port Vila
Tulisan ini juga sekaligus untuk mencurahkan perasaan kangen pada teman-teman baik yang saya kenal selama tinggal disana, dan tentunya Therese, yang membuat rumah kami selalu bersih dan rapi. Hope to see you all again some other time in the near future!

No comments:

Post a Comment

Post a Comment