Thursday, 26 September 2013

Ancient Siam: Berkeliling Thailand dalam Satu Hari

From the Fortress of the Oceanic Protective Narayana to the Giant Lanna Buddha
From the Magnificent Walking Buddha of Sukhothai to the Sacred Creator Brahma
From the Elaborate Wood Carvings of Buddha's life to the Attractive Architectural Sites, 
Even the Stunning Sanphet Prasat Palace or the Unforgettable Preah Vihear...
All can be visited here in the Ancient Siam where Lek Viriyaphan's will is reached
(Ancient Siam motto)

Hari Sabtu minggu lalu, kami berempat pergi ke Ancient Siam di daerah Samut Prakan, di luar kota Bangkok. Sebenarnya sudah sejak lama saya mendengar tentang tempat ini ketika pertama kali datang ke Thailand. Setelah mengecek di website mereka, kami memutuskan untuk naik bis dari rumah karena kebetulan bisnya melewati jalan Sukhumvit. Dari rumah berangkat jam 8.45, tidak lama menunggu di depan hotel Westin Sukhumvit, bis AC 511 jurusan Pinklao-Paknam lewat. Perjalanan dengan bis ini berbiaya seharga 28 THB per orang dan memakan waktu kurang lebih satu jam, kemudian kami turun satu halte sebelum halte terakhir di Paknam dan menyambung dengan taksi seharga 80 THB sampai Ancient Siam atau dikenal dengan nama Muang Boran. Alternatif lain bagi yang suka berpetualang bisa juga disambung dengan naik songtaew atau sejenis kendaraan umum no. 36 yang melalui pintu gerbang Ancient Siam.

Menuju counter pembelian tiket, kami melalui lapangan parkir yang cukup luas, armada tram dan golf car yang banyak. Ya, untuk mengelilingi museum terbuka seluas 320 hektar ini memang dibutuhkan kendaraan. Pengunjung yang membawa kendaraan sendiri dikenakan biaya 300 THB per kendaraan, sementara yang tidak membawa kendaraan dapat menyewa mobil golf berkapasitas 4 tempat duduk selama 1 jam seharga 300 THB, menumpang sepeda sewaan dan kapal yang sudah termasuk ke dalam harga tiket, atau ikut tur dengan tram secara gratis. Pada saat membeli tiket, baru kami sadar bahwa suami lupa membawa paspor untuk menunjukkan work permit supaya mendapat harga lokal. Untungnya, selain paspor, tanda bukti lain seperti SIM Thailand (yang kami juga tidak punya) atau ATM Bank lokal juga berlaku. Jadi kami dapat harga lokal yaitu 350 THB/orang dan harga normal 500 THB untuk ibu saya...lumayan :) Anak-anak berusia 7-12 tahun membayar setengah harga.

Karena kami datang jam 10 lewat, segera setelah membeli tiket, kami diangkut dengan mobil golf menyusul tram terdekat. Jadi, tram yang berkapasitas kurang lebih 30 orang ini dilengkapi satu orang pemandu dalam bahasa Thai, mengelilingi seluruh kawasan dan berhenti di tempat-tempat tertentu, diantaranya Sanphet Prasat Palace, Ayutthaya, Prasat Phra Wihan (Preah Vihear), Si Sa Ket, dan Floating Market. Menjelang jam 12 siang, tram berhenti di Floating Market dan pemandu menyilakan kami semua untuk turun dan makan siang masing-masing. Untuk menu siang itu, saya mencicipi kue manis terbuat dari santan dan tepung beras yang enak sekali dan ditutup makan siang pad thai udang..yuummm. Kenyang mengisi perut, kami berniat untuk mengelilingi situs-situs lain, tapi kali ini dengan menumpang mobil golf. Diantar tram kosong dengan kami sebagai penumpangnya, kami dibawa kembali ke pintu gerbang tempat pembelian tiket. Di Bangkok, kami lumayan sering menaiki mobil golf seperti ini karena di banyak hunian apartemen menyediakan fasilitas tuk-tuk dengan armada seperti mobil golf ini, tapi rasanya lucu ketika suami sendiri yang mengemudikannya, saya dan si kecil di depan, sementara ibu memilih duduk di belakang sambil menikmati pemandangan.

Sanphet Prasat Palace, Ayutthaya
Tipikal reruntuhan kuil di Ayutthaya yang ditumbuhi akar-akar pohon
 
Prasat Phra Wihan (Preah Vihear), Si Sa Ket

Prasat Phra Wihan (Preah Vihear) yang menjadi rebutan antara Thailand dan Cambodia
 
Pengunjung Ancient Siam di atas tram sedang mendengarkan penjelasan pemandu
Tram yang membawa kami berkeliling kawasan Ancient Siam
 


Floating Market
Kue kelapa yang lezat  
Toko souvenir di Floating Market
Golf car sewaan dan supirnya :p
 


Ancient Siam ini didirikan oleh Lek-Praphai Viriyaphan pada tahun 1963 dengan niatan memotivasi masyarakat Thailand untuk mempelajari sejarah negerinya dan agar tradisi dan budaya yang menjadi dasar peradaban Siam dikenal seluruh dunia. Pada peta kawasan, terdapat 120 situs di kawasan Ancient Siam yang berasal dari berbagai tempat di Thailand, 70 situs berwarna coklat merupakan duplikasi dari situs aslinya atau dibangun berdasarkan bukti-bukti historis, 31 situs berwarna biru merupakan desain kreatif, dan 19 situs berwarna hijau merupakan rekonstruksi bangunan yang dipindahkan dari tempat aslinya. Kurang lebih dibutuhkan waktu seharian penuh untuk berkunjung kesini.

Agar dapat menikmati perjalanan mengelilingi Thailand tanpa rasa lapar, haus, dan panas, jangan lupa membawa bekal makanan ringan dan minuman, meskipun ada kios kecil yang menjual makanan dan minuman ringan di beberapa tempat, serta topi/payung. Yang paling mengesankan untuk saya adalah jumlah dan kondisi toilet yang tersedia di kawasan ini, hampir di setiap tempat kami berhenti, fasilitas ini selalu tersedia dan sangat bersih. Menurut saya pribadi, Ancient Siam adalah tempat yang layak untuk dikunjungi siapapun yang berkesempatan datang ke Bangkok dan tertarik dengan sejarah dan budaya Thailand.

Menjelang sore hari, kami beranjak pulang, dan mempertimbangkan kepadatan lalu-lintas menuju kota Bangkok pada malam Minggu, kami memutuskan untuk naik taksi hanya sampai stasiun BTS terdekat, yaitu Bearing kemudian disambung dengan skytrain. Dengan kondisi jalan relatif normal dan menggunakan meter, biaya taksi kurang lebih 150 THB.

Meskipun tidak sempat mengunjungi semua situsnya, turis istimewa kami alias ibu saya tampaknya cukup puas "mengelilingi Thailand dalam satu hari" so, mission accomplished :)

Ancient City
296/1 Sukhumvit Road, Bangpoo,
Samut Prakan 10280
Tel. : 0-2709-1644-8
Fax : 0-2323-4055
info@ancientsiam.com

Jam buka: setiap hari dari pukul 09.00 - 18.00


Saturday, 14 September 2013

Berakhir Pekan di Yangon

Setelah sempat tertunda gara-gara masalah visa, awal bulan ini jadi juga saya dan David berkunjung ke Yangon, menyusul suami yang sedang bertugas disana. Hari Jum'at siang kami berdua berangkat menuju bandara Don Mueang. Sempat ada kekesalan sedikit ketika supir taksi mencoba-coba mengelak untuk pasang meter dengan mengatakan bahwa kalau pakai meter, saya akan dikenakan surcharge 50 THB, huh! Padahal taksi yang sengaja dipanggil biasanya hampir selalu sepakat menggunakan meter. Penyakit saya, kalau ada satu kejadian tidak menyenangkan, biasanya akan merembet, tapi hari itu saya berniat untuk tetap tenang. Setelah saya berargumen bahwa surcharge hanya berlaku untuk rute dari bandara dan bukan menuju bandara, si supirpun menggerutu dan kemudian diam. Sengaja saya serahkan uang pas untuk membayar tol jauh sebelum kami masuk tol untuk menunjukkan bahwa saya tidak bisa dibohongi. Untunglah, dalam waktu kurang dari 30 menit, kami sudah sampai di bandara jadi saya tidak perlu berlama-lama di taksi. David tertidur menjelang kami tiba di bandara sampai kami lewat imigrasi.

Perjalanan selama kurang lebih 1 jam relatif lancar dan kami tiba jam 17.30 waktu Yangon, yang lebih lambat 30 menit dibandingkan dengan waktu Bangkok. Di luar bayangan saya, Bandara Yangon ternyata bagus dan masih baru. Loket pemesanan taksi resmi bandara tersedia di sebelah kiri pintu keluar, dan untuk tujuan ke pusat kota saya dikenakan tarif 7000 kyat. Petugasnya menawarkan apakah saya mau pakai AC atau tidak, dan karena saya memilih pakai AC, saya harus membayar lagi tambahan 2000 kyat. Sebagai informasi, 1000 kyat setara dengan 1 dolar Amerika. Berbeda dengan bayangan saya sebelumnya, ternyata Yangon adalah kota besar dan ramai. Pantas saja suami saya tertawa ketika saya menceritakan kekhawatiran dibawa kabur supir taksi dari bandara. Selama perjalanan menuju hotel, saya mengamati bahwa kota ini dipadati bangunan-bangunan tinggi yang merupakan tempat hunian, hanya saja bangunan-bangunan itu tampak tua, berlumut, dan tidak terurus. Kemacetan juga menjadi makanan sehari-hari di Yangon, dan angkutan transportasi umum selalu dipadati penumpang yang berjubel di dalamnya.

Lalu lintas Yangon di pagi hari

Bogyoke Aung San Market

Hunian di pusat kota Yangon
Salah satu toko serba ada di  pusat kota
Bogyoke Aung San Jewellery Market
Pemandangan dari Independence Park, Yangon
Sule Pagoda
Suasana salah satu jalan di pusat kota
Kandawgyi Lake
Church St. Mary
Shwedagon Pagoda
Tradisi minum teh masyarakat Myanmar. Para pria disini lazim mengenakan sarung.
Shwedagon Pagoda
Shwedagon Pagoda

Salah satu bangunan mesjid di pusat kota Yangon
Tipikal gedung hunian di kota Yangon (tampak muka)
Mesjid lain di pusat kota

Shwedagon Pagoda pada malam hari

Salah satu bangunan kolonial di pusat kota

Salah satu iklan produk Myanmar

Bertemu teman baru di Shwedagon Pagoda
Sebelum pergi, saya sempat membaca disini bahwa Yangon mempunyai bangunan kolonial terbanyak di Asia Tenggara dan di awal abad 20, kota kolonial yang dijuluki sebagai Kota Taman di Timur karena keindahan taman-taman dan arsitektur bangunan-bangunannya ini mempunyai infrastruktur publik yang sama dengan kota London. Hal itu benar adanya, bangunan kolonial yang saya temui begitu banyak dan indah meskipun banyak yang sudah lapuk dimakan usia atau tidak terawat sama sekali.

Malamnya, kami mencari makan malam dekat hotel. Kebetulan hotel kami yang terletak di dekat Sule Pagoda ini dekat dengan daerah hunian India Muslim, jadi tidak sulit menemukan tempat makan halal. Menu malam itu adalah menu khas India Selatan yang serba kari dilengkapi dengan roti prata. Keesokan harinya, kami berjalan-jalan keliling kota dan kemudian menuju daerah Pun Hlaing untuk mengunjungi teman yang sempat saya kenal di Bangkok. Kawasan perumahan mewah yang terletak dekat bandara ini konon mempunyai lapangan golf yang termasuk terbaik di dunia, dan ternyata, halaman belakang rumah teman saya ini menghadap lapangan golf itu..wuih, tidak heran kalau teman saya bilang, tinggal disana membuat ia malas pergi kemana-mana. Kami asyik mengobrol sementara si bocah bermain dengan anak teman saya yang berusia 4 tahun. Tidak terasa, hari beranjak sore dan kamipun pamit pulang. Senang sekali bisa bertemu kembali dengan teman saya dan diantar jemput pula oleh supirnya..tidak terbayang kalau harus pergi sendiri karena rumahnya benar-benar jauh diujung dunia.

Kami menutup hari itu dengan makan malam di satu restoran di gedung Hitachi, yaitu Sky Bistro. Gara-garanya karena lidah saya tidak cocok dengan citarasa makanan India yang kami cicipi malam sebelumnya. Di restoran chic ini tersedia banyak pilihan menu internasional, tempatnya nyaman dan luas, namun harganyapun relatif mahal. Kalau kemarin makan berdua dengan menu lengkap menghabiskan 6000 kyat, disini harga satu menu rata-rata 10000 kyat. Kalau beruntung mendapatkan tempat duduk dekat kaca, pengunjung restoran ini bisa melihat Shwedagon Pagoda yang bercahaya dari kejauhan.

Hari Minggu pagi, kami menuju Danau Kandawgyi untuk bertemu dengan teman-teman kantor suami dan sekalian makan siang di Signature, salah satu restoran dekat sana. Pagi-pagi hujan deras mengguyur Yangon, dan perlahan reda ketika kami sampai di Kandawgyi. Dengan tiket masuk 2000 kyat untuk orang asing (yang kami tawar-tawar), kami menyusuri titian kayu yang mengelilingi danau, mengamati pasangan belia yang sedang pacaran, menonton syuting televisi lokal, dan kemudian menyambung perjalanan dengan taksi untuk menuju restoran. Sepulangnya dari sini, kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan sorenya pergi mengunjungi Shwedagon Pagoda. Tiket masuk ke Shwedagon Pagoda adalah USD 5 per orang. Menurut penjelasan yang tertera di tiket masuk, sejarah Shwedagon Pagoda berasal dari 2,500 tahun yang lalu ketika Pangeran Siddharta di India dikunjungi oleh dua bersaudara Tapussa dan Bhallika, pedagang dari Myanmar yang menawarkan hadiah kue madu. Sebagai balasan, sang Buddha mencabut delapan helai rambutnya untuk disimpan di kota asal mereka, Okkalapa, yang menjadi cikal bakal Yangon sekarang. Sekembalinya mereka dari India, kedua bersaudara ini mempersembahkan helai rambut sang Buddha kepada raja Okkalapa yang kemudian membangun pagoda dan menyimpan rambut tersebut bersama-sama dengan tiga patung Buddha yang telah ada. Pagoda ini terdiri dari stupa dengan ketinggian mulai dari 8.2 meter sampai 110 meter, dan dilapisi ratusan pelat emas dan bagian atas stupanya dihiasi oleh 4531 berlian dengan berlian terbesar 72 karat. Stupa Shwedagon ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu bagian dasar (teras), kubah, dan menara. Bagian teratas dihiasi oleh 3154 lonceng emas, 79569 berlian dan batuan berharga lainnya. Setelah puas mengelilingi Shwedagon, kami beranjak pulang. Baru terasa kalau kaki lumayan pegal dibawa jalan-jalan. Malam itu kami bungkus makanan di Nilar, rumah makan yang hanya menjual nasi biryani yang terkenal lezat dan murah.

Senin pagi, kami berdua kembali ke Bangkok dengan pesawat pertama dan Alhamdulillah, si bocah tertidur sepanjang perjalanan dan baru terbangun ketika pesawat mendarat. Untungnya lagi, pesawat pagi itu tidak penuh, sehingga oleh pramugarinya saya ditawari kursi kosong karena di tempat sebelumnya dua kursi disebelah kanan saya diisi oleh pasangan muda yang tampaknya sedang berlibur. Meskipun tidak banyak tempat yang kami lihat pada kunjungan pertama ke kota ini namun keunikan dan warisan arsitektur di kota ini membuat saya ingin kembali mengunjunginya lagi, suatu hari nanti.

Selamat berakhir pekan!

Friday, 6 September 2013

The Chambord Experience

Finally, here's my latest article, published in Tamasya magazine September 2013 edition! After more than a year, I managed to make my Chambord visit as a kick-off piece of writing. Hopefully, few more to come very soon :)




Beautiful turrets and spires of the chateau
The magnificent chateau de Chambord

Thursday, 29 August 2013

Cerita dan Hikmah Lebaran

Meskipun sudah lewat, tapi saya ingin menuliskan pengalaman libur Lebaran kemarin disini. Tahun ini kami memang berniat untuk merayakan Lebaran dengan keluarga besar di Bandung. Saking niatnya, tiket pulangpun sudah dibeli sejak awal tahun.
Alhamdulillah perjalanan mudik kami mulus lancar bak jalan tol. Mendarat di Jakarta sekitar jam 4 sore di H-2 Lebaran, setelah membungkus bakmi GM untuk buka puasa di jalan, kami langsung naik bis Primajasa dan dalam waktu 3 jam sudah sampai di tempat tujuan di Bandung.
Seminggu di Bandung berlalu begitu cepat karena padatnya agenda kami. Selain bersilaturahmi sana-sini, kebetulan ada dua orang teman yang sedang berlibur di Bandung. Jadi, dalam suasana pasca Lebaran, kami sempat jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu dan bermalam minggu di mall tersohor di Bandung yaitu Parijs van Java.
Hal berkesan yang membekas di hati pada pertemuan keluarga kali ini terutama adalah banyaknya perubahan sikap yang terjadi pada beberapa orang di keluarga besar saya. Alhamdulillah perubahan sikap ke arah yang positif ini membantu saya menghapus segala syak wasangka yang pernah ada. Pertemuan dengan keluarga besar telah membangun kesadaran saya pribadi bahwa persaudaraan itu sangat indah. Mudah-mudahan kami masih diberi kesempatan untuk bertemu dan berkumpul kembali pada Lebaran-Lebaran yang akan datang..aamiinn.

[Little Traveler]: Berkemah bersama bayi

Liburan awal musim panas tahun ini menjadi pengalaman pertama kami berkemah dengan David. Untuk memperkenalkan kegiatan satu ini pada si kecil, kami masih mencari jalan aman, yaitu berkemah di Eropa, dimana area perkemahan dengan fasilitas yang sangat baik banyak tersedia. Kalau berkemah di Indonesia, hmm...mungkin lain waktu ya nak, ketika area perkemahan dengan sanitasi yang bersih tidak lagi sulit dicari :).

Kalau sedang berlibur di kampung halaman suami, kami suka berkemah karena dengan biaya akomodasi yang relatif murah, anggaran liburan bisa dialokasikan untuk hal lain seperti mengunjungi beberapa kota lain, membayar tiket masuk tempat-tempat yang menarik, berbelanja, dan makan enak :p. Kebetulan di rumah mertua tersedia peralatan berkemah yang diperlukan jadi tidak keluar biaya lagi. Kalau berkemahnya seperti yang diceritakan bumil cantik disini, mmm..mungkin malah biayanya hampir sama dengan menginap di hotel sepertinya, kecuali kalau punya camping car atau caravan pribadi.

Cuaca di akhir bulan Juni  saat itu sangat cerah ketika kami memutuskan untuk berkemah selama dua malam di area perkemahan Diamond Caravan Park di wilayah Bletchingdon, sekitar 8 kilometer sebelah utara kota Oxford, Inggris. Si kecil tampak senang dengan pengalaman barunya, sibuk mengamati ayahnya yang sedang mendirikan tenda begitu kami sampai di perkemahan dan sesekali mengekor saya yang sedang mengeluarkan barang-barang dari mobil.

Diamond Caravan Park Office
Fasilitas sanitasi
Toilet dan kamar mandi wanita (tersedia alat pengering rambut juga disini)
Ruang cuci piring dan laundry
Area perkemahan (tenda kami yang kedua dari kiri)





Tenda mungil kami yang nyaman
Penampakan bagian dalam tenda sebelum dipakai tidur

Koki dan asistennya sedang menunggu makanan matang
Arena bermain anak-anak
Pemandangan sekitar area perkemahan dengan dua ekor kuda yang sedang tidur

Si penjaga tenda :D
The little camper
Serius memasak :)
Ritual membacakan buku cerita sebelum tidur
Tertidur lelap dalam kehangatan gigoteuse
Wajah sumringah si petualang kecil di pagi hari

Di area tersebut, ada beberapa tenda berukuran besar dan beberapa camping car terparkir rapi. Ternyata, pilihan kami untuk menginap disini tidaklah salah. Memasuki halaman area perkemahan, mata kami disambut bunga warna-warni dimana-mana dan taman kecil yang apik. Kami menuju toko kecil yang juga berfungsi sebagai kantor untuk memberitahukan kedatangan kami. Area perkemahan ini dikelilingi oleh lahan pertanian dan peternakan kuda, dilengkapi dengan kolam renang dan juga arena bermain untuk anak-anak. Setelah membayar 40 pounds termasuk satu plot lahan tempat tenda didirikan atau disebut juga pitch, satu plot lahan parkir mobil, dua orang dewasa dan satu bayi selama dua malam, tidak lupa kami memesan homemade butter croissant yang terkenal dari tempat ini untuk sarapan besok pagi. Oia, di tenda kami juga terdapat wi-fi karena letaknya yang relatif dekat dengan bangunan utama, canggih kan? Tidak jauh dari tempat kami, terdapat tenda warden yang bertanggung jawab menjaga ketenangan dan keamanan lingkungan perkemahan.

Berbicara mengenai peralatan berkemah, ada banyak ragam tenda, mulai dari tenda untuk satu orang sampai tenda super besar dengan tiga kamar tidur. Selain itu, ada pula camping car yaitu mobil van besar yang didalamnya sudah tersedia dapur, tempat tidur, ruang makan, dan kamar mandi; dan caravan, yaitu serupa van besar tanpa kemudi yang dihubungkan dengan mobil untuk membawanya kemana-mana. Kami sendiri membawa satu buah tenda berkapasitas empat orang dari Quechua, dua sleeping bags, selimut, dan satu buah quilt kepunyaan si kecil. Peralatan lain seperti palu, kompor kecil beserta tabung gas dan peralatan makan adalah peralatan wajib yang harus dimiliki selain tenda jika Anda senang berkemah.

Karena kami datang menjelang makan siang, harum masakan tetangga kami sudah mulai tercium. Ada yang membawa peralatan barbeque dan ada pula yang menyiapkan menu makan siang praktis dan sederhana seperti kami, yaitu pasta. Tetangga yang tendanya tepat di samping tenda kami malah lebih seru lagi. Menjelang makan siang, meja dan kursi lipat dipasang, peralatan makan disiapkan dan ditata seperti layaknya di meja makan di rumah, menarik sekali!

Sepanjang hari di awal musim panas itu cuaca bersahabat menemani kami menikmati keindahan kota Oxford dan sekitarnya. Menjelang malam hari, suhu udara berangsur turun berkisar 12-14 derajat Celcius padahal matahari baru terbenam sekitar pukul sepuluh malam. Untuk si kecil, kami memakaikan pakaian tidur musim dingin dilapisi dengan gigoteuse yaitu serupa mantel yang berfungsi sebagai selimut untuk bayi.  Alas tidurnya adalah sleeping bag yang dilapisi oleh quilt. Alhamdulillah, si kecil bisa tertidur nyenyak pada malam pertamanya tidur di dalam tenda dan terbangun keesokan paginya dengan ceria. Malam keduapun berjalan dengan lancar dan kami bertiga langsung tertidur karena capek jalan-jalan seharian.

Dari pengalaman perdana membawa balita berkemah, ada beberapa hal yang menurut kami penting untuk diperhatikan agar acara berkemah sukses dan terutama supaya balita merasa nyaman.

1.Mengecek perkiraan cuaca secara berkala. Pastikan Anda berkemah pada saat cuaca dan suhu udara bersahabat.

2.Pilih area perkemahan dengan fasilitas yang dibutuhkan dan pesan tempat secara online. Kami memanfaatkan situs www.ukcampsites.co.uk untuk mencari area perkemahan di wilayah Inggris dan www.campingfrance.com  untuk wilayah Perancis.

3.Pilihlah tempat yang dekat dengan fasilitas sanitasi untuk memudahkan jika harus mengganti popok atau memandikan si kecil.

4.Siapkan tabir surya atau topi untuk melindungi diri dari matahari. Meskipun area perkemahan pada umumnya dinaungi pepohonan rindang, tidak ada salahnya melindungi kulit dari sengatan matahari, terutama di musim panas.

5.Membawa mainan/buku bacaan favorit anak.

6.Membawa pakaian/perlengkapan yang nyaman dan sesuai dengan kondisi pada saat berkemah.

7.Membawa persediaan makanan/minuman/makanan ringan yang cukup.

8.Jangan terlalu khawatir apabila balita merangkak di rumput, memungut dedaunan kering, atau bahkan memasukkan tanah ke dalam mulutnya. Prinsip berkemah adalah untuk berkenalan dengan alam, jadi biarkan saja mereka bereksplorasi namun sambil tetap diawasi.

Setelah pengalaman pertama yang terbilang sukses, jadi ketagihan deh membawa si kecil berkemah. Yuk, siapa mau ikut berkemah dengan kami?

Tentang Dwikewarganegaraan

Meminjam topik yang dibahas di grup WA baru-baru ini, yaitu pro kontra dwikewarganegaraan (DK) untuk WNI, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang untung rugi kepemilikan DK. Indonesia sampai saat ini baru mengakui kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil pernikahan antar bangsa sesuai UU Kewarganegaraan no. 2 tahun 2006.

Sebagai salah satu pihak yang berkepentingan, saya tentunya pro dengan ide ini, dan berharap dalam 18 tahun ke depan, ketika anak kami harus memilih kewarganegaraannya, peraturan sudah berubah sehingga ia tidak harus memilih antara menjadi WN Indonesia atau WN Perancis.

Faktanya banyak negara yang tidak mengakui DK karena beragam faktor, misalnya berkaitan dengan hak memilih (voting), pengenaan pajak, masalah keamanan, dan lain-lain. Sekilas dari pihak yang kontra, muncul argumen senada bahwa DK mengancam lunturnya nasionalisme,  menguntungkan golongan tertentu, dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan dan kemudian lari berlindung dibalik status DK-nya.

Menurut saya, nasionalisme tidak ditentukan oleh status kewarganegaraan dan lokasi geografis seseorang. Ada banyak orang yang mengaku Warga Negara Indonesia namun melakukan perbuatan yang jelas-jelas mempermalukan negaranya sendiri, banyak orang Indonesia yang tinggal di Indonesia namun secara nyata memuja-muja kebudayaan Barat. Sebaliknya, tidak sedikit orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia kemudian mengukir prestasi, melakukan sesuatu yang membawa harum nama Indonesia, dan berkontribusi terhadap kemajuan negara ini meskipun dari jauh. Saya sendiri baru merasakan rasa cinta dan bangga yang begitu besar terhadap Indonesia justru ketika saya untuk pertama kalinya keluar dari Indonesia beberapa tahun lalu. Barulah muncul penyesalan kenapa dulu tidak tekun mempelajari kesenian tradisional Indonesia atau belajar memasak masakan khas Indonesia atau mempelajari sejarah Indonesia sehingga saya tidak perlu tergagap ketika orang-orang meminta saya menjelaskan tentang hal-hal yang menarik dari negara saya.

Dibilang dengan adanya DK akan menguntungkan golongan tertentu dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan, bagi saya pribadi kembali ke orangnya. Siapapun, orang dengan status DK atau tidak, kalau memang berniat jahat, ya cara apapun akan dilakukan. Contohnya, para koruptor yang tidak memiliki status DK saja bisa lari ke luar negeri untuk menghindari kejaran hukum.

Yang menarik untuk diperhatikan, status DK ini diajukan untuk diberlakukan bukan hanya bagi anak hasil pernikahan antar bangsa tetapi juga untuk warga negara Indonesia yang telah menetap lama di luar negeri. Kira-kira apa ya alasan Pemerintah kita untuk tidak mengakui DK? Dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya apa sih keuntungan dengan mengakui DK? Pertama, Indonesia tidak akan kehilangan putra-putra terbaik bangsanya meskipun mereka tinggal di luar negeri, justru diharapkan terjadi alih teknologi/ilmu pengetahuan dari mereka pada rakyat Indonesia secara umum. Kedua, meningkatnya peluang investasi di Indonesia. Kalau memang UU Agraria no. 5 tahun 1960 dibuat sebagai upaya pencegahan pemilikan tanah oleh pihak asing yaitu kolonial Belanda ketika itu, rasanya Undang-Undang tersebut sudah masanya untuk diperbarui pada saat ini. Kepemilikan tanah/properti tidak bergerak oleh pihak asing (individu) tidak otomatis menjadi ancaman bagi rakyat Indonesia. Faktanya adalah kepemilikan tanah di Indonesia mayoritas masih tetap dipegang oleh warga negara Indonesia sendiri dan bukan warga asing. Ketiga, pada umumnya anak-anak hasil pernikahan antar bangsa mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik sehingga di masa depan anak-anak ini dapat menjadi tumpuan harapan yang turut memajukan bangsa dan negara kita. Nah, kalau mereka disuruh memilih dan misalnya mereka memilih kewarganegaraan selain Indonesia, berarti hilanglah calon-calon potensial yang diharapkan dapat membangun negeri ini.

Dari sudut pandang saya yang awam ini, muncul pertanyaan dapatkah pemerintah kita mengadopsi kebijakan pemerintah negara lain seperti Pakistan atau Perancis? Salah satu teman di grup yang bersuamikan warga negara Pakistan mengatakan bahwa Pakistan tidak mengakui DK. Meskipun begitu, anak hasil pernikahan yang bapak/ibunya berkewarganegaraan Pakistan mempunyai semacam kartu identitas seumur hidup dan mempunyai hak dan kewajiban sama dengan warga negara Pakistan dalam hal kepemilikan properti, membayar pajak, dan lain-lain kecuali satu, yaitu tidak dapat mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri. Sedangkan di mata pemerintah Perancis yang mengakui DK, status kewarganegaraan seseorang tidak dapat dihapuskan karena alasan apapun kecuali terbukti berkhianat kepada negara. Jadi, jika seorang anak terlahir dari bapak/ibu warga negara Perancis, maka sampai kapanpun dan meskipun anak tersebut memilih menjadi warga negara lain, dimata pemerintah Perancis, didasarkan dengan bukti dokumen resmi yang sah dimata hukum seperti akte kelahiran dan livre de famille atau buku catatan keluarga, anak tersebut adalah warga negara Perancis.

Yang ironis, dari pembahasan di grup muncullah pengakuan bahwa ternyata banyak teman yang belum membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka. Sangat disayangkan bahwa kebijakan masing-masing perwakilan kedutaan besar di setiap negara tidak seragam, contohnya teman saya tidak membuatkan paspor Indonesia untuk anaknya karena staf konsuler di negara tempat anaknya lahir bilang tidak perlu sebab sudah ada affidavit, padahal fungsi affidavit dan paspor jelas berbeda. Teman yang lain mengeluh belum membuatkan paspor untuk ketiga anaknya karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan lain terlebih dahulu yang membutuhkan waktu. Belum lagi kalau dihadapkan dengan staf sesama bangsa Indonesia yang anehnya sangat tidak kooperatif dengan kita sebagai teman sebangsa setanah air, menjadi alasan pendukung kenapa teman-teman ini mengurungkan niatnya membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka.

Kembali lagi ke masalah DK, ada yang mau berbagi pendapat atau pengalaman tentang untung ruginya mempunyai dua kewarganegaraan?

Friday, 2 August 2013

Ramadhan dan Lebaran

Tidak terasa seminggu lagi sudah mau Lebaran. Dulu sewaktu kecil menjalani 30 hari rasanya lama sekali menuju hari Lebaran, sekarang malah kebalikannya.

Bagi saya sendiri, esensi ibadah di bulan Ramadhan jauh lebih berkesan sekarang dibanding dulu, ketika saya sudah sedikit mengerti makna puasa, shalat tarawih, dan ibadah lainnya di bulan suci ini. Sedangkan dulu, saya paling malas kalau sudah bulan Ramadhan karena itu artinya harus mencatat materi ceramah tarawih yang ditugaskan guru agama di sekolah dan setelahnya harus mengantri untuk mendapatkan tanda tangan penceramah sebagai bukti, yang berarti pulang malam untuk saya karena mesjid dekat rumah tarawihnya 23 rakaat sementara yang 11 rakaat lumayan jauh. Saking malasnya, pernah saya membuat stempel cap mesjid -seperti yang dilakukan teman-teman sekelas- dan menulis ceramah dari televisi sehingga terpenuhi jumlah ceramah yang diikuti. Kalau dipikir2, buat apa coba menugaskan murid membuat catatan ceramah tarawih hanya untuk memastikan bahwa murid melaksanakan shalat tarawih di mesjid? Lagipula saya hampir yakin guru tidak akan membaca semua ceramah itu tapi hanya melihat apakah lembarannya kosong atau penuh. Tapi waktu itu tidak punya pilihan lain selain mengerjakan apa yang diperintah guru.

Diluar urusan catat mencatat yang menyebalkan ini, saya suka bulan Ramadhan, saat dimana bisa bermain kembang api, menanti saat berbuka dengan perasaan gembira, jajan cireng setelah tarawih, dan tentunya hari Lebaran ketika mendapat angpau dari om dan tante saya.  Sampai lulus SD, setiap Lebaran Ibu selalu menjahitkan minimal dua potong baju baru untuk saya, jadi beberapa hari sebelum Lebaran Ibu saya yang hebat ini selalu sibuk menjahit, membuat kue kering, dan memasak dalam jumlah banyak, ck ck ck...

Sekarang, terus terang saya tidak menantikan Lebaran seperti dulu lagi. Selain masakan khas Lebaran buatan Ibu yang selalu saya kangeni, suasana Lebaran beberapa tahun terakhir yang agak berbeda membuat saya senang ketika hari Lebaran berlalu, aneh ya? Dulu saya selalu menangis ketika sesi bermaaf-maafan tiba. Sekarang, biasa saja. Rasanya momen saling memaafkan hanya menjadi sekedar basa-basi dalam satu hari itu karena 364 hari berikutnya kembali ke situasi yang sama :(. Justru saya malah sedih ketika bulan Ramadhan yang berlalu tanpa terasa. Karena itu, kalau ditanya bagaimana perasaan saya merayakan Lebaran jauh dari keluarga, jujur saya merasa biasa saja.

Meskipun pengalaman Lebaran saya terdengar begitu pesimis, ada juga Lebaran yang berkesan untuk saya pribadi. Tahun 2011 ketika masih tinggal di Port Vila, kami sudah berencana untuk Lebaran di Sydney sebelum terbang kembali ke Perancis. Namun kendala teknis membuat kami gagal pergi ke Sydney. Alhasil, di hari Lebaran kami hanya diam di rumah, sambil membayangkan suara takbir dan hidangan khas Lebaran yang lezat. Saat lain yaitu ketika saya berLebaran di Paris tahun 2008. Suami saya (waktu itu masih pacar) mengantar saya ke masjid Paris untuk shalat 'Id. Pagi itu angin bertiup sangat kencang sampai-sampai kekhusyukan saya hilang karena sepanjang waktu shalat yang ada saya sibuk menahan sajadah dan mukena dari terpaan keras angin musim gugur yang begitu menusuk tulang. Lebaran tahun lalu di Bangkok juga berkesan karena itu adalah Lebaran kami yang pertama setelah kelahiran si kecil, masih belum terlalu sulit membawa bayi 3 bulan yang terdiam tenang menunggu ibunya selesai shalat.

Ada yang mau berbagi cerita tentang Lebaran yang berkesan di hati?

Thursday, 1 August 2013

Sekilas dari Seminar tentang Amazing Parenting

Setelah selama ini cuma bisa tahu ilmu parenting dari seminar-seminar yang diikuti supermom Indah dan di-share di blognya, bulan lalu gabungan ibu-ibu pengajian disini mendapat kesempatan mengundang ibu Rani Noe'man yang kebetulan sedang berada di Bangkok untuk mengadakan seminar dengan topik Amazing Parenting. Senang sekali saya akhirnya mendapat kesempatan ikut acara seperti ini dan tidak lagi iri dengan teman-teman di Indonesia yang bisa berpartisipasi dalam seminar serupa. Btw, terima kasih ya Indah untuk selalu berbagi ilmu parenting di blog, sangat-sangat berguna untuk orangtua baru seperti saya :).

Ibu Rani Noe'man awalnya bergabung sebagai trainer di Yayasan Kita dan Buah Hati dan merupakan pendiri Komunitas Cinta Keluarga. Sosok Ibu Rani yang geulis khas orang Sunda dan pembawaannya yang humoris membuat semua materi trainingnya sangat menarik, mudah dipahami dan to the point.

Bu Rani memulai sesinya dengan pertanyaan: MENGAPA PUNYA ANAK?
Jawaban yang munculpun beragam, ada yang menjawab karena ingin melanjutkan keturunan, karena selayaknya setelah menikah ya punya anak, karena permintaan mertua, dan lain-lain.

Intinya: Mempunyai anak adalah TANGGUNG JAWAB sekaligus INVESTASI
Yang artinya kita sebagai ORANGTUA berperan besar dalam menentukan KARAKTER anak.
POLA PENGASUHAN yang keliru dapat menumbuhkan karakter yang tidak diharapkan. Apa saja kekeliruan yang seringkali dibuat oleh orangtua itu adalah:
1. Tidak membaca bahasa tubuh anak
2. Tidak mendengar perasaan anak
3. Menggunakan 10 gaya tradisional (memerintah, menyalahkan, menginterogasi, membandingkan, mengancam, mencap, menceramahi, membohongi, mengalihkan, menjamin)

Gaya-gaya tradisional yang seringkali diterapkan oleh orangtua pada jaman dulu ini dalam jangka waktu tertentu dapat membuat kantung jiwa anak rusak perlahan-lahan sehingga anak merasa tidak dicintai, tidak dihargai dan akhirnya anak akan mencari pelarian yang dapat menerima dan mencintai dirinya secara apa adanya. Bagus kalau pelariannya adalah tempat/orang yang baik, namun bagaimana jika pelariannya itu berbentuk obat-obatan, pergaulan bebas, kekerasan, dan hal-hal lain yang menjadi mimpi buruk setiap orangtua?

Karakter anak dibentuk oleh faktor internal (Temperamen, Kecerdasan, Bakat) dan pendidikan agama yang kemudian menurunkan nilai-nilai yang berwujud kepercayaan dan pemahaman bawah sadar pada diri anak. Pengaruh lingkungan dan pola pengasuhan orang tua turut berperan penting membentuk nilai-nilai dalam diri anak.

Kapan saat terbaik untuk membentuk karakter anak? Pembentukan karakter anak dapat dimulai sedari dini, antara usia 0-7 tahun. Mengapa pada usia ini? Karena sampai usia 7 tahun jaringan syaraf di otak anak (lupa penjelasan ilmiahnya) belum tersambung secara sempurna, sehingga apabila dalam kurun waktu tersebut ditanamkan nilai-nilai positif, sistem bawah sadar anak akan menyerapnya dengan sangat baik seiring dengan berkembang dan menguatnya ikatan syaraf-syaraf otak tersebut. Hal yang sama berlaku juga jika anak terpapar hal-hal buruk dalam periode ini. Tinggal kita sebagai orangtua memilih mau membekali anak dengan hal yang mana?

Di sela-sela training, ibu Rani menampilkan beberapa slideshow yang berisi contoh pesan singkat/sms gaya anak jaman sekarang. Isi sms tersebut mengingatkan saya pada postingan Indah yang ini. *bergidik ngeri*
Selain itu, ada pula beberapa potongan adegan sinetron yang ditayangkan oleh stasiun TV swasta S*** yang sangat tidak pantas, yaitu adegan dimana sekelompok anak berseragam SMU menonton film dewasa bersama-sama dan tidak lama kemudian, satu persatu pasangan muda-mudi tersebut masuk ke kamar untuk mempraktekkan apa yang baru mereka lihat. Adegan lain diambil dari film remaja V*rg*n yaitu pada bagian ketika salah satu tokoh di film itu rela menyerahkan keperawanannya pada laki-laki tua demi uang 10 juta! Selain itu, ditunjukkan pula permainan dimana si pemain akan mendapat poin apabila berhasil mencuri mobil atau menabrak orang, dan apabila pemain berhasil keluar sebagai pemenang, hadiahnya membuat kami yang hadir terbelalak..sangat tidak pantas!  Slideshow ini ditutup dengan berita kasus-kasus pencabulan terhadap anak-anak perempuan kecil yang pelakunya adalah anak-anak usia sekolah dasar sampai belasan tahun di berbagai daerah di Indonesia. Sungguh fakta yang mengerikan sekaligus menyedihkan :(. Itu hanya salah satu contoh, tentunya masih banyak tayangan-tayangan tanpa mutu lain yang berseliweran setiap harinya, dikonsumsi oleh anak-anak, dan tanpa pendampingan orang tua. Bagi saya pribadi, pesan moral apapun yang ingin disampaikan oleh para pembuat film/sinetron/games tidak menjadikan tayangan tersebut lantas layak dikonsumsi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul: Sebegitu lemahnya kan peran Lembaga Sensor Media di Indonesia??? Bagaimana pornografi tidak merajalela di negeri kita??? Sebegitu bobroknyakah pemerintahan di negara kita sampai mereka tidak peduli/sadar bahwa cikal bakal generasi muda bangsa ini sedang dirusak otak dan pikirannya dengan pornografi???

Ibu Rani berulang kali mengatakan meskipun pahit, itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, beliau mengatakan adalah penting membangun rasa percaya diri dalam diri anak sehingga kelak ia mampu berkata tidak pada pengaruh buruk yang ada di lingkungannya, termasuk juga mampu membela dirinya sendiri ketika mengalami bullying. Topik bullying tidak dibahas dalam pertemuan kali ini, namun ibu Rani menegaskan bahwa anak TIDAK BOLEH mengalah, justru bekali anak dengan teknik negosiasi dan juga kemampuan untuk berpikir yang mencakup 3P (Pikir-Pilih-Putuskan) dalam segala hal. Karena besarnya tantangan membesarkan anak di masa sekarang itulah, maka para orangtua perlu terus belajar dan belajar agar dapat menyesuaikan pola pengasuhan anak sesuai dengan masanya.


If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with ridicule, they learn to be shy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with praise, they learn to appreciate.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with security, they learn to have faith.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with acceptance, they learn to find love in the world.