Tuesday, 16 August 2016

Banana Bread Praktis dan Enak

Satu lagi resep gampang yang saya dapat dari blognya mbak Ike disini. Mbak Ike ini teman di Bangkok yang jago masak dan tidak pelit berbagi ilmu. Untungnya hampir semua keinginan saat ngidam waktu hamil pertama dulu bisa terpenuhi karena tangan terampilnya mbak Ike. Kembali ke resep, berhubung tadi siang menemukan tiga buah pisang yang kematangan, langsung terpikir untuk membuat Banana Bread.

Bahan:
230 gr terigu all purpose
3/4 cup gula pasir
1 sdt baking powder
1/4 sdt soda kue (saya pakai baking soda)
1/4 sdt garam
3 butir telur ukuran sedang, kocok lepas
113 gr margarin (saya pakai unsalted butter), lelehkan, dinginkan
400 gr pisang matang (saya pakai 3 buah pisang ukuran sedang), haluskan dengan garpu
1 sdt essence vanilla (saya tidak pakai)
1 sdm susu bubuk (saya tambahkan sendiri)


Cara membuat:
1. Panaskan oven 180 derajat. Siapkan loyang loaf, lapisi dengan kertas roti yang sudah diolesi mentega. Sisihkan.
2. Dalam wadah, campur terigu, baking powder, baking soda dan garam, gula pasir, aduk rata. Sisihkan.
3. Dalam wadah lain, campur pisang, telur, mentega leleh. Aduh rata.
4. Buat lubang di tengah adonan tepung, lalu masukkan adonan cair (no. 3) ke dalam campuran tepung dan aduk perlahan dengan spatula karet, aduk hanya sampai tercampur basah saja.
5. Tuang ke dalam loyang. Panggang dalam oven selama 50-60 menit dengan api atas bawah sampai matang dan kecoklatan. Lakukan tes tusuk.

Beberapa kali membuat banana bread, terbukti resep ini sangat praktis, cepat membuatnya, dan anti gagal. Sekali lagi terima kasih untuk mbak Ike yang sudah berbagi resepnya. Tertarik mencoba?

Tuesday, 9 August 2016

The City Less Traveled: Sepotong Kenangan di Honiara

Pemandangan kota Honiara dari atas pesawat

Pusat kota Honiara
Honiara, ibu kota Solomon Islands pernah saya kunjungi saat kami masih bermukim di Vanuatu 5-6 tahun lalu. Cerita tentang Honiara juga pernah saya tulis disini.

Siapapun pasti akan berpendapat bahwa negara-negara kepulauan di Pasifik Selatan adalah surga tropis yang eksotis sehingga kerap menjadi tujuan para wisatawan berkantung tebal untuk melewatkan liburan mereka. Namun tidak seperti ibukota negara-negara Pasifik Selatan pada umumnya, Honiara, ibukota Kepulauan Solomon, mempunyai wajah berbeda.

Udara panas menyengat langsung terasa begitu kami keluar dari Bandara Internasional Honiara, dan sempat membuat semangat saya menciut untuk mengeksplorasi kota ini. Terletak di pulau Guadalcanal, pusat kota Honiara terletak pada salah satu sisi ruas jalan utama, sedangkan sisi lainnya adalah pelabuhan dengan tipikal pemandangan kontainer-kontainer berukuran raksasa dan gersang. Mungkin karena pola pertumbuhan pusat kotanya pula, pusat kota Honiara kurang nyaman untuk dieksplorasi hanya dengan berjalan kaki, seperti halnya di kota-kota Pasifik Selatan yang lain.

Selepas konflik etnis yang terjadi antara masyarakat Guadalcanal dan Malaita pada tahun 1998, keamanan di Solomon Islands menjadi isu penting, sehingga membuat semua negara Pasifik yang tergabung dalam Pacific Islands Forum merekomendasikan penugasan kesatuan militer RAMSI (Regional Assistance Mission for Solomon Islands) dengan personel yang didatangkan dari Australia sejak tahun 2003 sampai saat ini dengan Honiara sebagai basisnya.  Faktor keamanan ditambah dengan terbatasnya koneksi penerbangan internasional dari dan ke Honiara membuat Solomon Islands bagaikan intan yang belum terasah. Karena faktor keamanan itu pula, maka jangan heran jika di kota, kasir-kasir di semua toko berada di balik jeruji besi, mungkin pada saat konflik terjadi, toko-toko tersebut banyak yang diserbu dan dijarah. Hal lain yang saya rasakan berbeda, biasa ketika saya berkunjung ke satu tempat menguntit suami bertugas, pada saat jam kerja saya akan berkeliaran menjelajah kota sendirian, namun di Honiara, selain tidak disarankan, saya juga merasa lebih aman berada di rumah saja dan menunggu diantar jemput layaknya anak manja :p. Meski begitu, saya pernah sekali mencoba naik angkutan umum ketika pulang dari National Referral Hospital ke pusat kota. Lumayan deg-degan pada awalnya, tapi berbekal doa dan percaya diri, akhirnya dibawa santai dan tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan.

Solomon Islands mendapatkan namanya ketika ditemukan oleh penjelajah Spanyol Alvaro de Mendana pada tahun 1568. Mendana menemukan emas yang dipercaya sebagai milik Raja Solomon. Memiliki hampir seribu pulau yang tersebar antara Papua Nugini dan Vanuatu, masyarakat Solomon Islands menggunakan bahasa Inggris dan Pijin sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dengan dialek yang berbeda-beda di setiap pulau. Bahasa Pijin sendiri berakar dari bahasa Inggris yang bercampur dengan pelafalan masyarakat setempat dan lazim digunakan oleh masyarakat di wilayah Pasifik Selatan.

Lantas, apa yang menarik dari Honiara? Hal menarik pertama yang saya perhatikan di kota ini adalah bahwa hampir semua orang, baik laki-laki maupun perempuan mengunyah buah sirih. Mengunyah sirih, menurut masyarakat setempat, dipercaya akan mengurangi rasa lapar selama seharian penuh. Karena kebiasaan “nasional” itulah, selalu terpasang peringatan dilarang mengunyah dan meludah di hampir semua tempat-tempat publik. Kios penjual buah sirih tersebar di hampir setiap ruas jalan, sehingga tidak heran apabila noda-noda merah bekas mengunyah sirihpun dapat ditemui di hampir semua jalan utama yang saya lalui.

Berikutnya, dan tidak saya ketahui sebelum datang ke Honiara, adalah fakta bahwa Solomon Islands menyimpan begitu banyak bukti sejarah dari sisa-sisa Perang Dunia II terutama bangkai kapal perang, kargo, dan tank, bahkan mungkin yang terbanyak di Pasifik Selatan. Pada masa Perang Dunia II, kekuatan Jepang mulai menancapkan kukunya di Solomon Islands, yang dianggap sebagai wilayah strategis untuk membangun kekuatan di wilayah Pasifik Selatan. Pasukan Sekutu dimotori Amerika Serikat  berusaha mengatasi ancaman itu dengan melancarkan serangan terhadap Jepang dalam perang yang dikenal sebagai Guadalcanal Campaign pada periode 1942 – 1943 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Jepang. Kronologis lengkap tentang rangkaian pertempuran Guadalcanal terdokumentasi di U.S. War Memorial yang berlokasi di Skyline Ridge. Dari tempat ini, kita dapat menikmati pemandangan kota Honiara, dan apabila cuaca cerah, pulau Florida akan nampak di kejauhan. Di tempat lain sebelah timur kota, Japanese War Memorial juga didirikan untuk mengenang para serdadu Jepang yang tewas, namun kondisinya sama sekali berbeda. Monumen tersebut terletak di sebuah bukit dan tampak tidak terawat, bahkan plakat monumennya pun hilang entah kemana.

Masih tentang Perang Guadalcanal, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat pantai Bonegi 1, dimana bangkai kapal kargo milik Jepang Hirokawa Maru berada. Bagi saya yang gemar snorkeling dan bukan penyelam ulung, tempat ini sangatlah cocok. Terletak mulai dari tiga meter di bawah air sampai dengan kedalaman sekitar 50 meter, bangkai kapal kargo sepanjang kurang lebih 172 meter ini ditumbuhi karang beraneka warna yang indah dan menjadi habitat ikan-ikan laut nan cantik. Saya sudah cukup puas snorkeling disekeliling bangkai sementara beberapa orang penyelam yang saya temui pagi itu akan mengeksplorasi bagian dalam bangkai kapal. Untuk masuk ke pantai Bonegi 1, dikenakan biaya masuk yang biasa disebut custom fee sebesar SBD 25/orang untuk snorkeling. Mayoritas tanah di negara ini merupakan milik adat, karena itu siapapun yang memasuki wilayah kekuasaan adat haruslah meminta ijin atau membayar uang masuk.

Di pusat kota Honiara sendiri, ada Honiara Central Market yang cukup unik, mengingat pasar ini adalah pasar terpadat yang pernah saya kunjungi. Di pasar ini, saya menemukan mulai dari penjual sayuran dan buah-buahan lokal, ikan segar, pernak-pernik dan aksesoris khas setempat, pakaian, sampai makanan siap saji fish and chips. O ya, fish and chips versi Solomon Islands sedikit berbeda karena menggunakan ubi goreng sebagain pengganti kentang goreng dan disetiap penyajiannya selalu disisipi oleh satu batang daun bawang.

Meskipun pemerintah Solomon Islands mulai aktif mempromosikan negaranya sebagai tujuan wisata Honiara tampaknya belum mendapatkan porsi cukup. Sebagian besar wisatawan mengunjungi Honiara sebagai tempat persinggahan sebelum menuju pulau-pulau lain untuk menyelam. Padahal, dengan potensinya yang menyimpan banyak peninggalan dari Perang Dunia II, Honiara adalah museum sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Walaupun hanya seminggu saya disana, tapi Honiara meninggalkan kesan mendalam untuk saya. Mulai dari Lime Lounge, cafe tempat sarapan, makan siang, makan malam sekaligus minum kopi yang sangat populer di kalangan ekspatriat; Hakubai Japanese restaurant, satu-satunya restoran Jepang di Honiara yang berlokasi di Solomon Kitano Mendana Hotel, dimana saya mencicipi set meal terenak yang pernah saya makan (hm, mungkin juga karena saya belum pernah mencicipi makanan Jepang langsung di negaranya ya?); snorkeling di sekeliling bangkai kapal kargo dengan kedalaman 3-5 meter, biasanya 1-2 meter saja sudah lebih dari cukup untuk si penakut ini; Pertama kalinya mendatangi rumah sakit setempat yaitu National Referral Hospital dan ternyata saya saja yang bukan penduduk tidak dikenakan biaya apapun untuk pelayanan yang saya dapatkan, makanya tidak heran rumah sakit ini begitu padat; Dan, yang paling mendalam tentunya saat untuk kedua kalinya saya kehilangan calon bayi kami pada usia 8 minggu yang menjadi alasan saya datang ke rumah sakit setempat. Sampai saat ini, saya belum kangen kembali ke Honiara lagi, tapi suatu hari nanti, siapa tahu?

Pelangi di suatu sore di langit Honiara

Wednesday, 27 July 2016

TravelXpose edisi Juli: Terpikat Pesona Alam Loei, Thailand

Kalau selama ini Thailand identik dengan Bangkok, Pattaya, Phuket, atau Chiang Mai, kami berniat menginjakkan kaki di daerah baru yang relatif sepi turis. Loei menjadi pilihan kami. Dimanakah Loei berada dan apa yang membuat Loei begitu menarik? Simak ulasan lengkapnya di rubrik Explore majalah TravelXpose edisi Juli 2016 :)

Tuesday, 28 June 2016

Tahun Baru di Ho Chi Minh City

Persinggahan terakhir dari petualangan kami di Vietnam selama dua minggu adalah Ho Chi Minh City atau dikenal dengan HCMC. Meninggalkan Da Lat yang begitu berkesan, kami tiba di HCMC dalam waktu 50 menit dengan menumpang Vietjet Air. Keluar bandara, udara panas terasa menyengat, sungguh kontras dengan belaian lembut udara sejuk Da Lat yang kami rasakan beberapa waktu sebelumnya.

HCMC adalah tipikal kota besar yang bising dengan lalu-lintas padat. Sepeda motor yang memang merupakan ciri khas Vietnam seolah menyemut di jalanan. Menyeberang di jalan raya HCMC lebih "menakutkan" dibanding dengan Hanoi. Selain ruas jalannya lebih lebar, pengendaranyapun terkesan lebih "berani". Meski begitu, saya malah makin merasa tertantang dan lagi-lagi takjub melihat kendaraan bermotor yang lalu-lalang sama sekali tidak melambatkan laju kendaraannya ketika melihat kami menyeberang, ckckckck...lihai sekali liukan mereka demi menghindari kami.

Highlight dari kunjungan kami ke HCMC ini adalah makan pho (dibaca feu) yang penjualnya orang Vietnam Muslim di daerah Tran Hung Dao, District 1. Mencari tempatnya saja sudah merupakan perjuangan tersendiri, sayang hanya saya saja yang berhasil mencicipi lezat dan gurihnya kuah pho, karena ketika kami kembali setelah shalat Jum'at, warungnya tutup dan baru buka lagi pukul 4 sore, sehingga suami hanya mendapatkan cerita kelezatannya saja :(. Selama di HCMC saya tidak bosan memesan pho, namun kali ini di tempat yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, yaitu salah satu kedai di Nguyen An Ninh Street, di belakang pasar Ben Thanh Market. 

Hal menyenangkan lain dari HCMC adalah banyaknya taman hijau dengan pohon-pohon besar nan rindang yang juga dilengkapi dengan tempat bermain anak-anak, tempat idaman untuk pejalan yang membawa anak-anak kecil seperti kami. Tempat-tempat lain yang berkesan untuk saya adalah gedung kantor pos HCMC yang sangat terkenal kecantikannya dan Independent Palace.

The People's Committee Building, salah satu tengaran HCMC

Patung paman Ho Chi Minh



Suasana malam tahun baru di plaza seberang Rex Hotel

Independent Palace tampak depan

Salah satu taman besar nan asri di jantung kota HCMC
 

Arena bermain anak dengan peralatan beragam, bersih, dan luas

Namun, hal yang paling menakjubkan untuk saya adalah betapa hingar-bingar dan pesta malam tahun baru yang dirayakan penduduk dan turis seolah tidak berbekas keesokan paginya, baik dari sisi sampah maupun sisa huru-hara, setidaknya dari yang saya lihat dan dengar pagi tanggal 1 Januari ketika kami keluar hotel untuk berjalan-jalan. Padahal pada malam tahun baru, kami diajak kolega suami makan di satu restoran yang konon masuk dalam daftar atas Tripadvisor di kawasan Pham Ngu Lao. Jalan masuk menuju restorannya saja sudah padat dengan sepeda motor, mobil, dan manusia, beruntung karena datang awal kami masih mendapat meja kosong. Saya sendiri tidak mengerti kenapa restoran ini begitu populer, memang pelayanannya cepat dan efisien, menu makanannya enak-enak, tapi rasanya ada banyak restoran serupa yang mempunyai kualitas sama. Singkat cerita, setelah makan malam, berhubung masing-masing keluarga membawa balita, kami memutuskan langsung pulang. Jam baru menunjukkan pukul 8.30 malam tapi jalan yang kami lalui sudah amat sangat padat dengan lautan manusia. Kami memang setipe, malam tahun baru tidak jauh berbeda dengan malam-malam lainnya, sudah tidak kuat mata ini kalau harus dipaksa menunggu sampai jam 12 malam :)

Berhubung malamnya kami tidur awal, dan anak-anak terbiasa bangun pagi, kami memutuskan berjalan-jalan di taman pagi itu. Dan benar saja, di sepanjang jalan, di taman, semuanya tampak seperti hari-hari biasa. Para petugas kebersihan sedang tekun menjalankan pekerjaannya dan volume sampah yang kami lihat pun tampak biasa, mungkin petugas kebersihan khusus sudah bekerja membersihkan kota sejak dini hari ya? Sebagian pengunjung taman ada yang duduk bersantai atau berolahraga, tidak terlihat orang-orang yang tergeletak di bangku taman karena hangover akibat pesta semalam. Sampai saat ini masih misterius untuk saya, bagaimana botol-botol minuman kosong yang dikonsumsi pada malam tahun baru begitu cepatnya dibersihkan, dan bagaimana ribuan sepeda motor yang melaju cepat di jalanan berpesta merayakan malam pergantian tahun bisa aman melaju tanpa menyenggol satu sama lain dan mengakibatkan perselisihan???

Ada yang pernah mengalami malam pergantian tahun di Ho Chi Minh City dan mempunyai pikiran serupa dengan saya?

Tuesday, 21 June 2016

Menyapih dengan Cinta Bagian II

Setiap menjelang tahapan sapih menyapih, biasanya saya yang lebih gamang. Rasanya sedih mengingat ritual teramat istimewa yang hanya melibatkan kami berdua akan segera berakhir. Ya, saya sangat menikmati proses menyusui kedua anak kami dan bersyukur diberi kesempatan untuk dapat menyusui mereka. Tapi proses menyapih tetap harus dilakukan, jadi ya kami berusaha membuatnya seindah mungkin. David disapih pada usia 18 bulan, sedangkan Sophie disapih pada usia 19 bulan. Belajar dari pengalaman David yang membutuhkan tiga minggu untuk disapih tanpa menggunakan trik apapun, saya menerapkan hal yang sama untuk Sophie, dengan durasi yang sama pula. Teknik yang dilakukan pun sama, mulai dari mengurangi frekuensi menyusu secara berkala, mendekap dan menimangnya lebih banyak dibanding ketika ia masih menyusu (sebagai pengganti ritual yang hilang), membacakannya buku cerita sambil minum susu UHT sebelum tidur, dan memberinya penjelasan berulang-ulang kalau sekarang ia sudah tidak menyusu lagi. Awal-awal, perasaan ragu masih kerap datang, apalagi baru satu bulan sebelumnya, Sophie mulai pandai berbicara dan salah satu kalimat awalnya adalah "Bu, Sophie mau nen (menyusu)" dengan gaya yang sangat menggemaskan dan penekanan pada kata terakhir dan ekspresi semangat '45, haduh siapa yang tidak goyah melihatnya?

Menyusu diatas tuktuk di Siem Reap
Tapi karena niat sudah bulat, akhirnya proses menyapih dilakukan juga. Syukurlah, tidak ada drama berarti selama proses berlangsung. Dalam waktu tiga minggu, ia berhenti menyusu, tanpa drama.  Semua pengalaman berkesan kapanpun dan dimanapun, termasuk segala posisi akrobat yang kami lakukan akan selalu saya simpan baik-baik di ingatan. Terima kasih Sophie untuk semua pengalaman seru yang kita jalani bersama...je t'aime ma petite cocotte...

Di perjalanan kereta api kuno dari Dalat - Trai Mat
While many people see weaning as the end of something – a taking away or a deprivation- it’s really a positive thing, a beginning, a wider experience. It’s a broadening of a child’s horizons, an expansion of his universe. It’s moving ahead slowly one careful step at a time. It’s full of exciting but sometimes frightening new experiences. It’s another step in growing up.”  - The Womanly art of Breastfeeding, p.237.

Friday, 17 June 2016

Kesan dari Little Bandung Festival: Curahan Hati Orang Bandung

Beberapa bulan lalu diadakan Little Bandung Festival 2016 di pusat pertokoan Siam Paragon yang (kalau saya tidak salah) diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Mendengar ada acara tersebut, tentu saja saya bersemangat ingin tahu ada apa saja disana, utamanya sih berharap siapa tahu ada stand makanan khas Bandung :p. Sesampainya disana, ternyata apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ada beberapa stand yang menawarkan beberapa produk, tapi menurut saya pribadi "kurang" Bandung, buku-buku, dan sedikit foto. Ada juga meja yang menjual makanan ringan dan beberapa kotak kue brownies dan pisang molen yang dibagikan secara cuma-cuma. Saya tidak sempat melihat pertunjukan keseniannya karena sudah keburu putus harapan melihat stand-stand yang berpartisipasi. 

Sebagai orang Bandung yang kebetulan sedang merantau dan sering kangen kampung halaman, saya ingin menyuarakan pendapat bahwa sebaiknya pihak penyelenggara melakukan survei kecil-kecilan dulu tentang ekspektasi pengunjung yang diperkirakan tertarik datang ke acara tersebut. Jadi acara yang diselenggarakan tidak sekedarnya dan justru bisa menarik minat pengunjung untuk datang ke Bandung. Apa saja kira-kira yang menarik diangkat dari Bandung?

Pariwisata Bandung
Bandung kaya dengan keindahan alamnya. Kenapa tidak dipajang banyak foto pemandangan indahnya Kawah Putih, hijaunya perkebunan teh, megahnya Gedung Sate, apiknya Lembang Floating Market, klasiknya Museum Asia Afrika, indahnya curug-curug/air terjun di sekeliling Bandung, dan yang terbaru Dusun Bambu sebagai alat untuk menarik wisatawan?

Kuliner Bandung/Jawa Barat
Pernah mencicipi batagor atau baso tahu goreng, siomay, mie kocok, kue-kue manis, pisang molen, keripik tempe, lotek, nasi timbel, tahu gejrot, mie bakso, bandrek, bajigur, atau jajanan khas pasarnya Bandung? Bagi yang belum pernah, silakan dicari gambarnya dan dijamin akan suka serta bagi yang sudah tahu, dijamin akan selalu kangen dengan kelezatan kuliner Bandung.

Foto-foto suasana Bandung Tempo Doeloe dan sekarang
Suasana Bandung tempo dulu dan sekarang memang sangat jauh berbeda, namun entah kenapa, Bandung seperti memiliki daya tarik magis untuk dikunjungi. Jika pernah melihat foto suasana Bandung tempo dulu, mungkin baru kita percaya kenapa dulu kota ini menjadi magnet bagi pemerintah kolonial Belanda sebagai tempat peristirahatan. Pengunjung yang datang ke Bandung saat ini bisa membayangkan bagaimana situasi pada masa lalu ketika melewati ruas-ruas jalan bersejarah di kota ini.

Koleksi bangunan bergaya Art Deco di Bandung
Saya pernah menyusuri satu demi satu bangunan Art Deco di Bandung, mulai dari yang masih megah berdiri sampai yang kini sudah hancur diratakan dengan tanah. Bandung merupakan salah satu kota di Asia Tenggara yang memiliki bangunan bergaya Art Deco dari tahun 1920-an terbanyak. Salah satu daya tarik lagi bukan, khususnya bagi pencinta seni dan arsitektur?

Koleksi kain batik khas Jawa Barat
Motif batik dari daerah Jawa Barat tidak kalah beragamnya dengan motif batik dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ada motif batik yang dinamai sesuai asal daerahnya seperti batik Ciamis, batik Cirebon, batik Sumedang, batik Tasikmalaya, batik Garutan, dan batik Indramayu. Kesemua motifnya cantik-cantik dan yang pasti, khas Indonesia.  

Foto-foto kegiatan kesenian Jawa Barat
Kalau tidak memungkinkan untuk menampilkan aneka kesenian khas Jawa Barat dalam pameran ini, mengapa pihak penyelenggara tidak berinisiatif menampilkan cantik dan anggunnya para penari yang membawakan tari Merak dalam gambar atau foto, atau lenturnya para penari yang membawakan tari Jaipongan? Deretan para pemain angklung dengan pakaian berwarna-warni, gagahnya para pemain Pencak Silat juga bisa menjadi daya tarik tersendiri dibandingkan dengan memamerkan sepatu atau jam tangan yang sama sekali tidak mencerminkan "nilai Bandung" nya.

Semoga pihak penyelenggara Little Bandung Festival ke depannya bisa berusaha menampilkan wajah Bandung dengan lebih baik lagi sehingga menarik pengunjung pameran untuk mengetahui lebih jauh tentang Bandung dan tertarik mengunjunginya.

Thursday, 16 June 2016

Klappertaart


Berawal dari keinginan tetangga yang sedang ngidam Klappertaart, saya nekat membuatnya pada saat kami mengundang mereka makan malam di rumah. Apalagi, suhu perkuean yang baik hati, Pipit, bilang kalau buat Klappertaart itu gampang...hm, saya paling senang dengan resep yang gampang-gampang. Percobaan pertama ini saya menggunakan resep yang ditulis di blognya mbak Ike disini, teman yang saya kenal di Bangkok dan pernah saya pesan Klappertaartnya. Klappertaart buatan mbak Ike ini memang nagih, enak sekali dan ternyata membuatnyapun mudah. Terima kasih mbak Ike sudah membagi resepnya di blog.

Bahan:

500 ml susu segar
125 gr gula pasir
25 gr tepung terigu
25 gr tepung custard
25 gr maizena
75 gr mentega
3 kuning telur --- bisa ditambah maksimal 3 butir telur (saya tidak ditambah)
1 butir kelapa muda --- Karena saya suka kelapa, saya beli 5 gelas air kelapa beserta dagingnya yang sudah dikerok dari penjual langganan, disaring kemudian diambil kelapanya saja. 1 butir kelapa menghasilkan 1,5 gelas daging kelapa, jadi kalau mau beli buah kelapa utuh, mungkin sebanding dengan 3 butir kelapa.
50 gr kenari panggang cincang
Kayu manis bubuk

Topping:
3 putih telur
2 sdm gula pasir
1 sdm tepung terigu
Kismis, direndam kemudian peras
Kayu manis bubuk


Cara membuat:
1. Didihkan 400 cc susu segar dan gula pasir
2. Larutkan tepung terigu, custard dan maizena dengan 100 cc susu segar
3. Masukkan campuran susu dan tepung ke dalam susu panas, aduk terus sampai mengental dan meletup-letup.
4. Angkat dari api, masukkan mentega, aduk rata
5. Masukkan kenari dan kayu manis bubuk
6. Masukkan kuning telur satu persatu
7. Masukkan daging kelapa muda, aduk rata
8. Masukkan adonan ke dalam cetakan sampai 3/4 terisi
9. Bakar dengan cara ditim (pakai air dingin) selama 15 menit dengan suhu 160 derajat sampai setengah matang
10. Kocok putih telur dengan mixer sambil dimasukkan gula sedikit-sedikit sampai kaku
11. Masukkan tepung terigu, aduk rata dengan spatula
12. Semprotkan topping ke atas adonan setengah matang, taburi dengan kismis dan kayu manis bubuk
13. Bakar lagi sampai topping berwarna kekuningan.

Dari pengalaman mbak Ike, berikut tips-tips yang diperlukan untuk kesuksesan membuat Klappertaart:
a. Tepung maizena, custard dan terigu harus benar-benar larut ketika dicampurkan dengan susu. Kalau perlu, sebelum dimasukkan ke dalam campuran susu panas saring terlebih dahulu.
b. Jika menyemprotkan topping, usahakan topping bisa memenuhi seluruh permukaan wadah agar hasilnya cantik
c. Cara memanggang ditim maksudnya wadah-wadah Klappertaart ditaruh di loyang yang lebih besar yang sudah diberi air, cara memanggang seperti ini membuat hasil Klappertaart tetap lembut.

Ini hasil percobaan pertama saya, dan seperti biasa kalau saya berhasil mengeksekusi resep pada kali pertama, saya jadi ketagihan untuk membuatnya lagi, dan lagi, sampai bosan.

Testimoni tetangga untuk Klappertaart perdana :)

[Little Traveler]: Pengalaman Pertama Terbang Solo bersama Dua Balita

Akhir bulan Mei lalu, kami pulang ke Indonesia. Awalnya, kami berencana pulang saat libur sekolah bulan April, namun berhubung si sulung sakit, terpaksa rencana batal dan diundur menjadi akhir Mei. Saat keberangkatan dari Bangkok, kebetulan ada seorang teman dan ibu serta kakak perempuannya yang menemani, meski kami tidak duduk berdekatan. Sementara penerbangan Jakarta - Bangkok sekitar seminggu setelahnya terpaksa harus kami lalui hanya bertiga saja. Ternyata, pengalaman pertama saya terbang membawa bocah usia 4 tahun dan 19 bulan ini sangat menantang.

Dari sisi logistik, dengan satu maupun dua anak, tidak jauh berbeda karena saya selalu berprinsip traveling light, yang berarti satu buah backpack, satu buah koper ukuran sedang, dan backpack si kakak untuk menyimpan mainannya (jika dibutuhkan), ditambah baby carrier.

Proses check in sampai sebelum boarding masih gampang. Karena pesawat terlambat 1 jam, maka kami baru terbang sekitar pukul 7 malam. Di sini, perjalanan mulai menantang. Penerbangan kali ini menjadi yang terberat sepanjang pengalaman saya, pertama, karena saya hanya sendiri menjaga anak-anak; kedua, situasi diperparah karena mereka tidak tidur siang; ketiga, jam penerbangannya mendekati jam tidur mereka. Sophie menangis terus, berhenti ketika ada penumpang di belakang yang menawarkan permen karamel, dan menangis lagi karena permen karamel yang dikunyahnya menempel di gigi dan susah dilepaskan :D. Pada waktu bersamaan, David juga menuntut perhatian yang biasanya tidak pernah dia lakukan saat di rumah ataupun di perjalanan-perjalanan kami sebelumnya. Untunglah ibu dan kakak perempuan teman menawarkan untuk bertukar tempat duduk, sehingga saya sangat terbantu dengan adanya teman saya yang ikut menghibur anak-anak. Setelah bertukar tempat duduk, drama masih berlanjut meski tidak separah sebelumnya. Ada saat dimana Sophie tenang, giliran si kakak yang membuatnya menangis kembali sampai saya harus menegurnya...duuhh..capek! Meski terlihat lelah, tapi keduanya tidak mau tidur sampaiii...beberapa saat sebelum mendarat, lampu di kabin pesawat dimatikan, dan tiga detik kemudian, keduanya tertidur! Oalah, ternyata itu yang membuat mereka susah tidur dan cranky. Persoalan baru muncul ketika kami mau turun. Beruntung ada bala bantuan, sehingga teman saya menggendong Sophie dan saya menggendong David, sementara barang-barang di kabin dibawakan oleh kakak perempuan teman saya. Masalah muncul ketika kami antri di imigrasi, David yang diminta berjalan mulai menangis karena capek. Mendengar suara tangisan David, beberapa orang berbaik hati memberikan tempat antri mereka untuk kami. Tangisan plus tantrum masih berlanjut saat kami menunggu bagasi yang berakibat membangunkan si adik di gendongan saya, jadi nangislah dua-duanya :(...

Di pintu keluar, petugas dari hotel tempat kami menginap malam itu sudah menunggu dan tidak lama, shuttle bus datang membawa kami. Untunglah, begitu keluar, suasana hati David sudah kembali membaik. Sesampainya di hotel, Sophie langsung tertidur sementara David tertidur beberapa saat setelahnya, dan saya menarik napas lega..alhamdulillah.

Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, saya ditemani ibu dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Penerbangan Jakarta-Bangkok kami lalui bertiga saja. Setelah melepas ibu dan dua sahabat saya yang menyempatkan waktu datang ke hotel pagi-pagi sebelum terbang, petualangan dimulai. Tidak ada persiapan khusus apapun kecuali berdoa anak-anak akan manis selama di pesawat. Oia, beberapa hari sebelumnya, kami minta David untuk membantu saya selama perjalanan dengan bersikap manis. Jam penerbangan siang hari yang pas dengan jadwal tidur siang Sophie sangat menguntungkan. Satu-dua menit setelah pesawat mengudara, Sophie tertidur dan baru terbangun satu jam sebelum mendarat. Sophie saya masukkan dalam gendongan sehingga saya bisa bergerak lebih bebas, termasuk pergi ke toilet. Alhamdulillah, David manis sepanjang perjalanan, termasuk bersedia ditinggal sebentar di kursinya saat saya pergi ke toilet. Drama kecil dimulai ketika Sophie bangun dan mengusili kakaknya yang berakhir dengan balas membalas...namun pengalaman kedua ini relatif lebih mudah dibanding pengalaman pertama. Satu jam tidak terasa ketika pesawat mendarat di Don Mueang, berbeda rasanya ketika kami terbang ke Jakarta, perjalanan yang hanya 3,5 jam terasa lamaaaa sekali untuk saya. Setelah dua pengalaman tersebut, mungkin saya akan pikir-pikir lagi jika harus terbang bertiga saja dengan anak-anak dalam waktu dekat. Tapi kalau seandainya terpaksa harus terbang lagi, setidaknya saya akan menyetok aneka permen (yang sangat jarang saya beri pada anak-anak) dan lebih memilih penerbangan pagi/siang dibandingkan penerbangan sore/malam (untuk jarak pendek). Bukan tidak mungkin, pendekatan "carrot and stick" akan diterapkan lagi jika dibutuhkan :). Ada yang mau berbagi cerita dan pengalaman terbang sendirian (tanpa ditemani dewasa lain) bersama anak-anak balita?

Wednesday, 15 June 2016

TravelXpose edisi Juni: Sepotong Kisah Masa Lalu dari Hoi An, Vietnam

Hoi An menjadi salah satu kota favorit saya selama perjalanan akhir tahun kemarin di Vietnam. Meski kecil dan tidak butuh waktu lama mengelilinginya, wajah kuno kota tua ini tidak membosankan untuk dipandangi lagi, dan lagi. Selanjutnya, silakan baca tulisan saya tentang Hoi An di majalah TravelXpose edisi Juni 2016 :).

Friday, 20 May 2016

TravelXpose edisi Mei: Meriahnya Hari Pasar di Loches, Perancis

Kota kecil yang menjadi kampung halaman kedua saya sejak enam tahun lalu kini mendapat gilirannya tampil di majalah TravelXpose edisi Mei 2016. Apa yang menarik dari Hari Pasar di Loches? Ayo, segera beli majalahnya :)




Selamat membaca!

Thursday, 19 May 2016

Sleep Training 2.0

Gambar dari Pinterest

Menemukan gambar ini di salah satu postingan teman di Facebook, jadinya tertawa-tawa sendiri. Yang pernah punya bayi pasti tahu kalau sebenarnya tidur bayi tidaklah seindah impian. Karena siklus tidur bayi, apalagi bayi yang baru lahir, lebih pendek dibandingkan orang dewasa, maka tidak heran kalau kalau bayi bisa terbangun beberapa kali dalam 24 jam.

Perkenalan kami dengan ilmu "latihan tidur" ini dimulai empat tahun lalu sejak si sulung lahir, bisa dibaca disini dan disini. Dari usia dua tahun hingga sekarang, tidur David selalu stabil, hanya membutuhkan 1-2 hari penyesuaian untuk kembali tidur sendiri jika kami kembali dari bepergian, sesekali bangun tengah malam untuk menyelipkan tubuh mungilnya di antara kami dan setelah itu kembali tertidur nyenyak, atau terbangun karena ingin pipis dan setelah itu ia tertidur kembali sampai pagi. Sejak usia 3 tahun, bisa dibilang ia mulai "menolak" tidur siang karena ingin main. Daripada memaksanya tidur, akhirnya kami membuat kesepakatan kalau ia tidak mau tidur siang, artinya ia harus bersikap manis sepanjang waktu sampai tiba saatnya waktu tidur malam. Bersikap manis disini termasuk tidak menangis, mau berbagi mainan, tidak rewel, dan mengerjakan apa yang diminta bapak/ibu. Sampai sejauh ini, semua berjalan sesuai harapan, dan kalau melihat ke belakang, kami merasa diuntungkan dengan hasil latihan yang berbuah pada teraturnya jadwal tidur David, termasuk segala macam ritualnya.

Sedikit berbeda dengan kakaknya, Sophie termasuk bayi yang suka tidur. Di hari ketiga kelahirannya, malam pertama kami tidur di rumah sepulang dari rumah sakit, ia tidur selama 7 jam! Bayangkan, biasanya bayi baru lahir sering terbangun karena lapar atau popoknya basah. Dengan Sophie, untuk disusui saja, membangunkannya setengah mati. Dibanding menyusu dia lebih suka tidur. Maka tidak heran, jika dua minggu pertama, Sophie mengalami penurunan berat badan sebanyak 400 gram, padahal ASI saya terbilang cukup. Akhirnya, setelah bertemu konselor laktasi di rumah sakit tempat saya melahirkan Sophie, ternyata isapannya yang kurang kuat dan posisi yang kurang tepat juga membuat ia tidak mendapat cukup asupan untuk menaikkan berat badannya. Meski begitu, tidurnya tetap lelap dan tetap susah dibangunkan malam hari untuk menyusu...bingung kan? Solusinya, setiap malam, ia dibangunkan dengan cara dibuka bedongnya kemudian dikelitiki badan dan telapak kakinya. Setelah ia benar-benar bangun, baru disusui..namun biasanya tidak lama, dia akan berhenti mengisap dan kembali tertidur. Lalu ia akan dipindahkan di bouncer untuk diberi minum dengan sendok. Cara ini lumayan berhasil karena ia nyaris selalu terjaga kalau didudukkan di bouncer. Alhamdulillah, perlahan berat badannya naik meski tetap hobi tidur. Di awal-awal kelahirannya, Sophie juga hampir tidak pernah terjaga sepanjang malam, sementara waktu David baru lahir, ada malam-malam dimana ia terbangun dan tidak mau tidur, kalau diletakkan di boks ia menangis, sudah disusui tidur sebentar terus bangun lagi, hingga akhirnya kami bergantian menimangnya sampai ia tertidur lelap menjelang subuh, dan kami...knocked out :p

Dulu, saya selalu bersikap skeptis jika mendengar cerita bayi baru lahir sudah pintar tidur sepanjang malam. Kok bisa? Eh, ternyata malah mengalami dengan anak sendiri. Di usia 2 bulan, Sophie sudah tidur sepanjang malam dari pukul 21.30 (terakhir menyusu) hingga pukul 05.30 keesokan paginya, tanpa sleep training. Kalau ditanya apa rahasianya, saya juga tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Menurut dokter anak langganan kami, ada sekitar 5% bayi muda (infant) yang sudah bisa tidur sepanjang malam, dan mungkin Sophie termasuk diantaranya. Tidur siangnya juga terbilang mudah, tinggal disimpan di tempat tidur sambil dikelilingi "teman-temannya", dia akan mengobrol lalu tertidur sendiri, terkadang bangun sebentar terus tidur lagi, selama 3-4 jam. Kalau tidak, setelah disusui, ia akan jatuh tertidur dan dengan mudah diletakkan di boksnya. Seringnya ia tidak akan bangun, tetapi jika bangun, tinggal ditimang 5-10 menit, diletakkan kembali, ditunggu 1-2 menit, dan saya bisa keluar kamar. Alhamdulillah, saya bisa merasakan nikmatnya tidur malam 6-7 jam tanpa harus terbangun, suatu kemewahan untuk seorang yang memiliki 1 balita dan 1 bayi. Kalau bicara tentang tidur, menurut pendapat kami pribadi sebagai orangtuanya, secara umum Sophie adalah bayi ideal :).

Menjelang usia 14 bulan, kami baru merasa perlu menerapkan sleep training pada Sophie supaya ayahnya bisa ikut menidurkan dia dan Sophie tidak tergantung pada kegiatan menyusu untuk membuatnya tidur. Apalagi di usia tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk menidurkan Sophie bertambah lama, dari yang biasanya 5-10 menit menjadi 20-45 menit. Ia tidak langsung tertidur begitu selesai menyusu, sehingga membuat kakaknya harus menunggu lebih lama sebelum saya bisa datang ke kamarnya dan melakukan ritual tidur bersama.

Sleep training untuk Sophie dimulai dengan mengganti tempat pelaksanaan ritual sebelum tidur yang dulunya di kamar dengan pindah ke ruang duduk. Setelah itu Sophie akan diserahkan pada ayahnya untuk dininabobokan dan ditidurkan. Kurang lebih seminggu proses ditidurkan oleh bapak berlangsung, tentunya diwarnai dengan tangisan yang semakin hari semakin berkurang intensitasnya. Setelah itu, giliran saya menidurkannya dan prosesnya sedikit lebih lama, mungkin sekitar seminggu lebih. Sekarang, Sophie sudah bisa ditidurkan oleh salah satu dari kami tanpa ada drama berarti dan cukup 5-10 menit ditemani di kamar setelah itu kami bisa keluar. Kadang-kadang ia menangis masih ingin ditemani, cukup didatangi dan ditemani beberapa saat, antara 1-5 menit, tidak lama ia akan tertidur dengan sendirinya.

Lalu, apakah tidurnya Sophie sesempurna itu? tentu saja tidak. Kami juga pernah mengalami saat dimana ia terbangun dan menangis malam-malam kemudian berakhir dengan saya/suami tertidur di kamarnya atau ia tidur di kamar kami. Biasanya itu terjadi kalau ia sedang teething atau sakit. Dalam kondisi khusus seperti itu, atau sedang berada di luar rumah, maka sleep training tidak berlaku.

Dari pengalaman kami terbukti kalau kesuksesan sleep training sangat dipengaruhi keterlibatan bapak dan konsistensi (yang biasanya menjadi hal sulit untuk saya karena alasan tidak tega). Saya bersyukur kami menerapkan sleep training untuk kedua anak kami yang hasilnya memudahkan hidup, terutama hidup saya :). Dari pengalaman juga saya belajar bahwa tidak usah terburu-buru menerapkan sleep training hanya karena melihat bayi orang lain sudah pintar tidur. Masing-masing bayi mempunyai kemampuan berbeda, termasuk dalam hal tidur, jadi pandai-pandailah melihat kapan waktu yang tepat untuk melatih si kecil supaya pintar tidur :).

Tuesday, 26 April 2016

Terpana di Mae Klong Railway Market


Dalam perjalanan menuju pasar terapung Amphawa sewaktu libur Songkran dua minggu lalu, kami mampir ke pasar satu-satunya yang mungkin hanya ada di Thailand. Pasar Mae Klong adalah pasar tradisional biasa, yang membedakan hanyalah lokasinya yang berada di pinggir rel kereta api, bersisian tanpa jarak! Melihat langsung pasarnya, aturan yang pernah saya ingat saat kuliah dulu dimana garis sempadan minimal rel kereta api adalah 11 meter (untuk vegetasi) dan 20 meter (untuk bangunan) jelas tidak berlaku disini.

Tapi jangan dibayangkan kereta yang melewati rel ini melaju cepat. Karena pasar ini berlokasi di stasiun terminus Mae Klong, maka laju keretapun terbilang sangat lambat dan masyarakat sudah diperingatkan sebelum kereta lewat. Ketika petugas stasiun mengumumkan kereta akan bergerak, serentak para penjual melipat tenda dan menata dagangannya. Ada delapan waktu keberangkatan dan kedatangan kereta yang akan melewati pasar ini, yaitu pukul 6.30, 8.30, 9.00, 11.10, 11.35, 14.40, 15.35, dan 18.00. Beberapa situs memberikan jadwal yang berbeda, sehingga ketika kami sampai disana menjelang 10.15, kami bertanya-tanya apakah keretanya sudah lewat atau belum. Ketika salah satu ibu penjual bilang keretanya akan lewat pukul 11.30, saya tenang, maka pergilah kami berempat membeli es krim sekaligus ngadem di toko kecil di seberang jalan, karena udara siang itu bukan main panasnya. Sedang asyik menjilati es krim, terdengar suara mirip klakson yang dibilang suami suara klakson truk...ehh..beberapa detik kemudian, dari tempat kami berdiri, saya lihat bagian atas gerbong kereta sedang berjalan menjauh :(...sempat kecewa juga karena sudah jauh-jauh datang, kami tidak jadi menyaksikan saat kereta melintasi rel.

Saya sudah pasrah dan berhenti memasang muka kecewa karena si sulung tiba-tiba bilang ingin pipis. Tidak sengaja, saya melihat jadwal kereta yang tertulis di dinding toilet umum yang kami hampiri dan kami masih bisa melihat kereta yang pergi jam 11.35. Hm, ternyata keberuntungan masih berpihak pada kami. Tidak lama, terdengar tiupan peluit panjang dari petugas stasiun, dan perlahan keretapun melaju membelah pasar :). Penasaran melihat langsung? Ada banyak video yang bisa disaksikan, salah satunya ini.


 




 

Monday, 25 April 2016

Mampir ke Chocolateville



Sudah lama saya mendengar tentang Chocolateville yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan coklat, dan sudah beberapa kali pula merencanakan pergi ke sana yang berakhir dengan batal. Alasan paling sering adalah karena kesorean atau sulit dapat taksi dari stasiun BTS Mo Chit. Liburan panjang dua minggu lalu akhirnya terwujud juga niat untuk menyambangi Chocolateville. Seperti banyak tempat di Thailand, Chocolateville adalah restoran yang dirancang menyerupai bangunan a la Eropa/Amerika. Semua sudutnya nyaris instagrammable :). Tidak ada tiket masuk, jadi kalau cuma sekedar mau jalan-jalan tanpa makan atau minum disinipun tidak akan ada petugas yang mengusir. Kebetulan tidak jauh dari pintu keluar Chocolateville ada restoran sari laut halal Viyacrab yang juga bisa menjadi pilihan. Untuk mencapai Chocolateville, karena berada di luar Bangkok, cara paling mudah adalah naik taksi seharga kurang lebih THB 300 - 350 dan jangan lupa menunjukkan alamatnya yang tertulis dalam bahasa Thai, plus kita juga pastikan taksi mengambil arah yang benar dengan mengandalkan GPS, karena belum tentu supir taksi tahu alamat yang dimaksud. Dibuka sejak pukul 3 sore sampai tengah malam, waktu terbaik datang kesini adalah menjelang matahari terbenam dimana udara tidak terlalu panas. Tempat ini untuk saya masuk kategori "cukup dikunjungi sekali saja" karena lokasinya yang jauh, tapi harus diakui kalau Chocolateville memang cantik. Coba saja lihat foto-fotonya disini.









#World Heritages Sites: My Son Sanctuary, Vietnam

Sekitar 55 kilometer dari kota Hoi An, sekitar satu jam perjalanan, terdapat Situs Warisan Dunia UNESCO lainnya, yaitu My Son (dibaca: mi son) Sanctuary. Yang menarik, situs ini merupakan peninggalan kerajaan Champa yang berasal dari tanah Jawa. Banyak hotel menawarkan paket wisata sehari seharga USD 10 per orang, termasuk transportasi bis pulang pergi dan tiket masuk situs My Son. Demi memberikan pengalaman berbeda untuk anak-anak, kami memutuskan membayar ekstra USD 5 per orang untuk kembali ke Hoi An dengan menumpang kapal.

Nguyen, pemandu rombongan kami menjelaskan bahwa situs peninggalan kerajaan Cham pada abad ke empat belas ini mengandung banyak misteri yang belum terpecahkan. Diresmikan menjadi Situs Warisan Budaya Dunia pada 1999, My Son Sanctuary merupakan reruntuhan kompleks candi pemujaan umat Hindu Tao yang dibangun bangsa Champa dari abad 4 - 13. Meski nama Champa ini pernah dibahas dalam mata pelajaran Sejarah di bangku sekolah, tetap saja saya terkagum-kagum ketika tahu bangsa Champa itu berasal dari Jawa Tengah, Indonesia yang datang untuk melakukan perdagangan dengan bangsa Vietnam. Sekarang, diperkirakan ada sekitar 100,000 orang keturunan Champa yang bertempat tinggal di delta Mekong di sebelah selatan Vietnam.

Kompleks candi ini dikelilingi perbukitan lebat dan tidak diketahui keberadaannya sampai tahun 1885, ketika Henri Parmentier, seorang arkeolog Perancis, menemukan situs My Son. Ada 71 bangunan candi yang berhasil diidentifikasi dan bangunan dengan kondisi yang relatif masih baik berada di grup B, C, dan D, tidak sepenuhnya hancur saat dibom oleh tentara Amerika pada 1969.

Meski seringkali dibandingkan dengan situs-situs lain yang jauh lebih besar seperti Angkor Wat, Borobudur, Bagan, atau Ayutthaya, My Son mempunyai nilai historisnya sendiri karena merupakan salah satu bukti peradaban Asia yang telah punah.


Dua lubang bekas ranjau saat perang

Reruntuhan candi dengan penyangga disana-sini










Bayangkan dulunya candi ini terkubur di tengah hutan belantara