Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Thursday, 22 June 2017

[Menjadi Ibu]: Saya Mau Jadi Ibu yang ...

Duluuu sekali, waktu belum menjadi ibu, saya pernah khilaf menilai (dalam hati, tentu saja) para ibu (yang ada di lingkungan sekitar dan saya kenal secara pribadi) dalam mengurus anaknya. Setelah menjadi ibu, saya belajar bahwa dinilai, apalagi dikomentari bagaimana seharusnya menangani anak sendiri itu rasanya GAK ENAK! Saya sendiri tipe orang yang lebih memilih diam atau mengiyakan kalau dikomentari atau dikasih saran demi menghormati yang bicara. Hampir bisa dipastikan, kalau menerima komentar kurang atau tidak menyenangkan, saya sebatas tersenyum basa-basi terhadap si pemberi komentar meski hati dongkol setengah mati, atau kalau benar-benar malas, saya akan pura-pura tidak mendengar. Tidak sopan? Memang, tapi yang bicara juga seringkali tidak mempertimbangkan perasaan orang yang dikomentari/dinasihati, sih.

Pengalaman pribadi ini juga sekaligus mengingatkan saya sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang sama pada orang lain. Sekarang saya juga belajar menghilangkan perasaan tidak enak terhadap si pemberi nasihat/komentar, kalau memang nasihat/komentarnya dirasa "mengganggu", saya akan mengutarakan keberatan saya, tidak cukup dengan hanya tersenyum sopan basa-basi mengiyakan.

Nah, pas baca postingannya Rika disini, saya otomatis membatin "Ih, ternyata saya gak sendiri" dan suatu kebetulan yang sama, berkaca dari pengalaman, mayoritas pemberi nasihat/komentar itu adalah teman sebangsa. Hm, entah kebetulan, atau sebagian besar orang kita memang tipe yang "perhatian" :D

Kembali ke judul postingan ini, berkaca dari pengalaman pribadi tadi, saya berniat mau jadi ibu yang:

1. Tidak Asal Komentar

Kenyang rasanya mendengar aneka komentar dari sekeliling tentang anak sendiri. Karakter pemberi komentarpun macam-macam, dari yang muda sampai yang senior, dari yang punya anak dewasa hingga yang belum punya anak, dari yang sering bertemu sampai yang baru sekali bertemu. Tentunya saya ingat komentar-komentar mereka ini karena saya tidak suka mendengarnya, dan tidak mau saya mengucapkan hal sama pada orang lain, makanya ditulis disini sebagai pengingat.

- Anaknya gak mau makan/gak suka "X" ya?
Komentar ini muncul ketika melihat anak saya SATU kali (iya, cuma satu kali dan langsung mengambil kesimpulan) menutup mulutnya saat saya menyuapkan puree brokoli kentang keju bekal dari rumah. Si ibu yang cukup senior dengan santainya berkomentar seperti di atas. Reaksi pertama saya adalah mengabaikannya, pura-pura gak dengar. Tidak lama, bekal makan siang yang saya siapkan sudah tandas dihabiskan si kecil *melirik sebal si ibu*

- Anaknya gak biasa dibawa ke tempat ramai/bepergian sih, jadi rewel
Anak-anak kami terbiasa berada di lingkungan yang sunyi dan tenang semenjak mereka lahir. Bukannya dibiasakan, tapi karena memang di rumah jarang ada suara keras. Kalaupun ada suara, bukan suara gaduh, teriakan, ataupun jeritan, ketawa cekikikan yang biasa mereka dengar. Komentarpun mulai berdatangan kalau si kecil mulai rewel seperti "Gak biasa dibawa ke tempat ramai ya?" atau "Di rumah sepi ya? Coba diperdengarkan Murattal, seperti anaknya B" zzzzzz..... 

- Bayinya haus mungkin, gak dikasih susu?
Komentar ini saya dapat lima tahun yang lalu dan masih saya ingat sampai sekarang.Waktu itu saya datang ke acara syukuran tempat tinggal teman yang baru, dan kami baru pulang mudik sehari sebelumnya. Faktor jetlag dan ramai mungkin menjadi kombinasi ketidaknyamanan si kecil. Begitu terbangun dari tidurnya, seorang teman lain langsung ambil si kecil dan mencoba menggendongnya, yang berujung si bayi ngamuk tanpa henti. Saat saya lagi pamit mau pulang sama tuan rumah sambil menggendong bayi yang nangis keras, ada seorang mbak dengan santai berkomentar "Mau susu, mungkin?" Zzzzzzz.... (Mbak gak tau ya, kalau anak nangis, yang pertama kali saya sodorin adalah, apalagi kalau bukan PD. Kalau gak tau, lebih baik disimpan aja komentarnya mbak, gak membantu sama sekali. Lagipula, saya juga baru sekali itu ketemu mbaknya, jadi terima kasih sarannya, tapi saya gak perlu).

- Gak pakai stroller? Biar anaknya bisa lihat-lihat pemandangan, gak bosen digendong terus
 Ini masalah pilihan dan kepraktisan, masing-masing orang punya pertimbangannya masing-masing. Cukup bertanya "gak pakai stroller?" setelah itu terima saja apa jawaban si empunya anak, titik.

- Masih rewel ya (anaknya)?
Pliss deh..seberapa sering sih bertemu dengan anak saya? Kalau terakhir kali bertemu itu lebih dari seminggu yang lalu dan frekuensi bertemunyapun jarang, lebih baik tanya hal lain saja. 

2. Memberi Saran/Nasihat HANYA KETIKA Diminta

Ini saya kutip dari tulisan Rika "Sebelum ngasih nasehat coba dulu untuk ingat kalo ortu jaman sekarang udah sangat melek informasi. Gak usah ngerasa punya nasehat paling jitu karena nasehat yang sama pasti udah dibaca puluhan kali oleh si ortu."

Suatu kali, saya bawa si tengah yang belum genap berusia 6 bulan ke satu acara di rumah teman. Entah kenapa, hari itu ia rewel sekali. Tidur sebentar, sisanya menangis. Walhasil, sepanjang acara, saya malah sibuk menenangkannya tanpa hasil, sudah dipangku, disusui, ia tetap menangis. Saya yang biasanya santai jadi agak grogi karena banyak yang menanyakan kenapa si bayi menangis. Akhirnya, saya memutuskan pulang karena mungkin ia tidak nyaman berada disana.

Saat sedang bersiap-siap mau pulang, saya didekati seorang mbak yang ber"murah hati" kasih nasihat mengatasi bayi rewel, sampai sengaja keluar menemani saya sampai depan pintu lift demi menuntaskan penyampaian nasihatnya. Lupa tepatnya apa yang ia katakan, tapi intinya si mbak bilang untuk coba meletakkan bayi tanpa ada kontak fisik jadi bayi tidak terstimulasi terus-terusan. Nasihat yang bagus sebenarnya, sebagai bentuk perhatian pada ibu yang sedang kewalahan menenangkan bayinya. Cuma dua hal yang si mbak lupa pertimbangkan sebelum kasih nasihat, yaitu waktu penyampaian nasihat -waktu anak sedang menangis keras bukanlah waktu yang tepat memberi nasihat-, dan fakta bahwa sebagai ibu jaman sekarang, tidak hanya si mbak, saya juga membaca dan melek informasi, dan saya tahu tentang apa yang mbak itu sampaikan sejak anak pertama lahir. Tapi dengan alasan kesopanan, saya mengiyakan saja.

Sekarang mbaknya sudah punya anak balita, dan saya berharap semoga ia tidak mengalami hal yang sama dengan saya ketika sedang mengurus anaknya, karena diberi saran/nasihat tanpa diminta itu, apalagi soal anak, sangat tidak menyenangkan.   

3. Tidak Membanding-bandingkan 

Tidak membanding-bandingkan diri sendiri atau anak sendiri dengan orang lain atau anaknya itu palingggg susah! Tapi ternyata, dunia lebih indah kalau kita pakai kacamata kuda dan cukup mengurusi diri plus anak sendiri tanpa perlu lihat kiri kanan. Belajar dari lingkungan harus, tapi jangan sampai keterusan hingga akhirnya jadi membanding-bandingkan. Untungnya, dalam hal ini, suami cukup "galak" kalau saya mulai curhat-curhat galau tentang "A yang hebat, bisa menghasilkan uang sambil urus anak-anaknya yang masih kecil" atau tentang "anak B yang (terlihat) bersikap manis tanpa cela". Memang, kalau mau dibanding-bandingkan, rumput tetangga selalu lebih hijau dan galau gak akan pernah ada habisnya. Yang penting adalah niat untuk selalu menjadi lebih baik setiap harinya dalam hal apapun, termasuk menjalankan peran sebagai ibu.

Kalau kamu, mau jadi ibu yang seperti apa? 

Wednesday, 21 September 2016

Gegar Budaya: Kisah-kisah Konyol di Negeri Orang


Ada yang pernah mengalami gegar budaya atau culture shock? Menurut Wikipedia, gegar budaya adalah pengalaman yang diperoleh seseorang ketika berpindah lingkungan ke tempat baru yang sama sekali berbeda dengan tempat tinggal asalnya. Masalah-masalah yang umum dihadapi dalam gegar budaya diantaranya: kebanyakan menyerap informasi, kendala bahasa, kesenjangan generasi, teknologi, keahlian, kangen tempat tinggal asal (homesickness), hingga kemampuan untuk bereaksi terhadap sesuatu (response ability).

Kalau diingat-ingat sekarang, pengalaman saya di masa-masa awal melangkahkan kaki keluar Indonesia sampai sekarang seringkali menjadi bahan tertawaan kami berdua. Konyol, tapi juga menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga.

Matahari bersinar cerah dan langit biru di Eropa TIDAK BERARTI HANGAT!
Pertama kali saya keluar dari Indonesia adalah 9 tahun lalu, ketika saya mendapat kesempatan melanjutkan sekolah ke negerinya mbak Kate Middleton yang cantik jelita itu. Saya datang di penghujung bulan September yang merupakan musim gugur. Dari pembekalan sejak di Jakarta, kami sudah diberitahu tentang perkiraan suhu udara pada saat kedatangan dan saya sudah mempersiapkan baju-baju hangat yang diperlukan. Suami (waktu itu statusnya masih pacar) khusus menjemput di bandara Heathrow dengan menggelar karpet merah bertabur bunga mawar, mengantarkan saya sampai asrama dan menemani minggu pertama saya di Bristol, dan setiap harinya ulang-alik Bristol-Bath karena ia berkemah di daerah Bath, kurang lebih 40-60 menit perjalanan dengan mobil. Pada saat kedatangan, ia ingin menunjukkan kota Bath yang cantik, maka berhentilah kami di Bath. Dari dalam mobil, ia sudah mengingatkan untuk mengenakan baju hangat karena udara di luar dingin, sementara saya bersikukuh tidak perlu karena toh matahari bersinar cerah, iapun tidak memaksa. Eh, benar saja, ternyata beberapa langkah dari mobil, saya mulai menggigil kedinginan, terang saja, seumur hidup tinggal di negara tropis, ini pertama kalinya disentuh udara bersuhu 16 derajat, bagaimana tidak menggigil?? Dengan perasaan malu, saya terpaksa menerima pinjaman baju hangatnya. Di kemudian hari, kejadian ini sering menjadi lelucon kami berdua, suami kerap bergurau, "jangan sok tahu, makanya percaya sama orang Eropa" :p

Minum air dari toilet
Masih di negara yang sama, dari sejak pembekalan kami juga sudah diinformasikan bahwa air keran di negara tujuan aman diminum. Tapi tetap saja, ketika si pacar keluar dari toilet sambil bilang bahwa ia sudah mengisi ulang botol air minum, ekspresi muka saya tidak bisa bohong sambil berkata lugu "Apa? Isi air minum di toilet?" Beruntunglah rasa sayangnya (saat itu) cukup besar untuk tetap sabar dan tidak menertawakan pertanyaan konyol saya sambil menjelaskan kembali maksud ucapannya.

Mesin parkir dikira telepon umum
Kejadian ini dan dua kejadian berikutnya masih berlokasi di negara yang sama. Ceritanya, pemandu pribadi saya mengajak berjalan-jalan keliling kompleks universitas. Pas melewati sebuah mesin hitam yang mirip telepon umum di Indonesia namun tanpa gagang teleponnya, saya otomatis bilang "ih, telepon umumnya lucu" yang langsung ditimpali "Oh, itu mesin untuk bayar parkir, bukan telepon umum" :D :D

Ditawari kantung plastik di toserba
Meski sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 6 SD, ternyata pertama kali saya mendengar orang berbicara dalam aksen British yang kental, saya sempat terlongo tidak mengerti. Selama sekolah dan bekerja di Indonesia, saya hanya pernah bertemu dengan orang-orang yang bahasa Inggrisnya lumayan bisa dimengerti. Saat akan membayar, kasirnya bertanya apakah saya mau pakai kantung plastik atau tidak? Sejenak saya sempat bingung tidak mengerti dan minta ia mengulang lagi pertanyaannya sampai akhirnya saya paham yang ia maksud. Yang membuat saya bingung, pertama, aksenya, dan yang kedua, pertanyaannya apakah saya membutuhkan kantong plastik, karena terakhir kali sebelum saya meninggalkan Indonesia, kalau belanja di toserba, tanpa ditanya, sudah pasti langsung diberi kantung plastik.

Makan di dalam kendaraan
Pada satu liburan Paskah, saya berdua teman pergi berlibur ke Skotlandia. Di bis yang membawa kami ke sebuah kota kecil, hanya ada kami berdua dan sepasang suami-istri. Sebelum naik bis, kami sempat membeli macaroni cheese di terminal untuk makan siang. Dalam perjalanan, perut saya terasa lapar dan otomatis teringat bekal makan siang yang dibawa. Tanpa sungkan, saya segera menyantapnya sampai beberapa saat kemudian, saya sadar kalau aroma macaroni cheese tersebut sudah menguar kemana-mana. Dengan perasaan malu, saya berhenti makan meski belum selesai. Tidak ada yang menegur sih, tapi saya baru sadar kalau naik kendaraan umum di luar negeri, rata-rata penumpang dilarang makan minum, berbeda dengan pengalaman saya naik kendaraan umum di Indonesia yang tidak terhitung jumlahnya sambil menyantap lumpia basah, gorengan, batagor, dan makanan enak-enak lainnya.

Gagap naik bis
Walaupun menjadi negara tetangga terdekat, saya baru benar-benar menginjakkan kaki di Singapura sekitar 7 tahun lalu. Pertama datang kesana, saya membeli kartu pas EZ Link untuk memudahkan naik transportasi umum. Teman saya bahkan bilang, kalau sudah familiar dengan London Underground, memahami jalur transportasi di Singapura bukan hal sulit. Meski begitu, tetap saja saya melakukan kekonyolan sewaktu naik bis kota untuk pertama kalinya. Seharusnya saya menempelkan kartu tersebut pada saat naik DAN turun bis, namun karena tidak tahu, sewaktu turun saya tidak menempelkan EZ Link pada mesin dekat pintu keluar, yang berarti saya lalai membayar ongkos bis. Tentu saja sistem kartu pas ini sudah memperhitungkan kecerobohan seperti yang saya lakukan, tapi tetap saja peristiwa ini memalukan kalau diingat-ingat. 

Ditolak pemilik toko cinderamata
Di suatu liburan musim panas, kami mengunjungi kawasan yang populer dekat kota Bordeaux, Perancis, Arcachon namanya. Waktu menunjukkan hampir tengah hari ketika kami memasuki sebuah toko cinderamata. Alangkah kagetnya saya ketika si pemilik toko tanpa berbasa-basi langsung mengatakan bahwa tokonya akan segera tutup karena sudah waktunya makan siang. Rasa kaget yang diikuti perasaan sebal karena "ditolak" membuat kami segera mengangkat kaki dari toko tersebut. Meski sekarang sudah terbiasa dengan gaya bicara tanpa basa-basi, saat itu gaya bicara pemilik toko yang lugas, walau disampaikan dengan ramah, membuat saya sebal bukan main. Di Indonesia, mana ada calon pembeli yang ditolak masuk sebuah toko karena datang menjelang makan siang? Hm, atau jangan-jangan ada ya???  

Tukar menukar kartu nama
Kejadian lucu ini berawal dari pertemuan saya dan teman dengan bosnya teman kerja kami di satu proyek. Teman kerja kami ini bekerja di perusahaan Jepang dan kebetulan atasannya adalah orang Jepang. Setelah dipersilakan masuk ke ruangan pak bos, saya yang berada di baris terdepan dengan penuh percaya diri langsung menyodorkan tangan untuk salaman, sementara pada saat bersamaan pak bos menyerahkan kartu nama beliau dengan khidmat dan posisi sedikit membungkuk. Terbayang betapa kikuknya saya saat itu. Setelah beberapa detik berada di tengah kebingungan dengan tangan terjulur tanpa mendapat sambutan, akhirnya saya menarik tangan kembali dan memutuskan untuk mengambil kartu nama beliau. Sepulang dari ruang pak bos, saya dan teman menertawakan kejadian tadi, contoh nyata perbedaan budaya yang biasanya hanya saya lihat di iklan televisi atau media cetak.

Adakah yang punya pengalaman seru seputar soal gegar budaya ini?

Thursday, 21 January 2016

10 Fakta Tentang Vietnam

Sumber foto dari sini

Akhirnya saya berkesempatan juga menginjakkan kaki di negeri Paman Ho pada penghujung tahun lalu, alhamdulillah. Dua minggu yang berkesan cukup membuat saya jatuh cinta pada Vietnam. Sudah sejak lama saya mendengar banyak cerita positif maupun negatif tentang negeri tetangga ini dari pengalaman pribadi wisatawan yang berkunjung sehingga membuat saya agak waswas pada awalnya. Namun, melihat langsung dinamika kehidupan di Vietnam telah mengubah pandangan saya tentang Vietnam dan saya merangkumnya menjadi 10 fakta berikut.

1. Orang Vietnam ramah
Saya terkesan dengan keramahan masyarakat Vietnam yang kami temui selama perjalanan. Lahir dan besar sebagai orang Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang ramah, berada di Vietnam seperti berada di "rumah" sendiri.

2. Secara umum, kota-kotanya ramah anak (child-friendly)
Hampir semua orang Vietnam yang kami temui suka dengan anak kecil, dan hampir semua kota yang kami kunjungi mempunyai taman kota untuk membawa anak berjalan-jalan, serta memiliki jalur pejalan kaki yang luas sehingga stroller bisa digunakan.

3. Susahnya menyeberang jalan
Pengalaman menyeberang jalan di Vietnam menjadi pengalaman yang paling saya nikmati karena sungguh memicu adrenalin, bahkan suamipun seringkali berseru panik kalau melihat saya bersiap-siap menyeberang.
Sedikit tips untuk menyeberang jalan dengan aman dan selamat adalah melangkah tenang, jangan terlalu cepat ataupun terlalu lambat, jangan berhenti dan terlihat ragu-ragu karena justru hal itu yang bisa menimbulkan kecelakaan. Juga pastikan kita menyeberang di jalur khusus menyeberang (zebra cross), jika ada atau persimpangan lampu lalu lintas (jika ada lampunya :p). Ingat, pengendara tidak akan berhenti ketika kita menyeberang, namun mereka akan meliuk lewat di depan atau di belakang kita, kalau kata suami saya, ibaratnya ada ruang sebesar 2 cm pun akan dimanfaatkan pengendara motor untuk lewat.

4. Sepeda motor dimana-mana
Sepeda motor seolah menjadi identik dengan pemandangan lalu lintas di Vietnam, saking banyaknya!
Begitu melihat keahlian orang Vietnam mengemudikan sepeda motor, terutama di Hanoi dan Ho Chi Minh City, saya mempunyai hipotesis kalau orang Vietnam sejak lahir sudah dibekali bakat lihai naik sepeda motor. Pernah saya melihat satu bapak membonceng anak usia kira-kira 3 tahun di belakang dan satu anak balita lain di depan tanpa kursi khusus. Coba bayangkan kalau si anak yang dibonceng di belakang tertidur! Hal lain, dari percakapan ringan dengan teman kami yang orang Hanoi, selain harga mobil yang sangat mahal, rata-rata masyarakat Vietnam tidak menjadikan kepemilikan kendaraan roda empat sebagai simbol status, sehingga meski mereka kaya raya, mereka tidak sungkan naik sepeda motor untuk alasan efisiensi waktu. Di Hanoi, juga ada hal menarik yang saya amati, yaitu banyak wanita tampil chic dengan rok super mini, sepatu berhak tinggi, dan menjinjing tas wanita terlihat lihai mengemudikan sepeda motornya, wow!

5. Berisiknya bunyi klakson
Akibat dari banyaknya sepeda motor di jalanan, jangan kaget atau marah kalau diklakson sepeda motor, itu tandanya peringatan "bersahabat" dari si pengemudi agar pejalan kaki/pengendara lain waspada dengan keberadaannya.

6. Scam itu benar-benar ada
Scam atau suatu bentuk penipuan terhadap harga produk/layanan jasa yang dibeli/digunakan wisatawan asing kerap ditemui di Vietnam. Pelakunya bisa siapa saja, mulai dari supir taksi, agen perjalanan, tukang pijat keliling, penjual makanan, dan lain-lain. Saya sendiri sempat tertipu penjual roti goreng, semata karena lalai menanyakan harga dagangannya sebelum membeli. Bagaimana menghindari scam? Waspada dan jangan lupa, tanyakan harga sebelum melakukan transaksi.

7. Surganya makanan
Pho, Goi Cuon atau lazim dikenal sebagai Vietnamese fresh spring roll, salad jantung pisang atau Nom Hoa Chuoi, Oseng Tahu Bumbu Serai, Cha Ca Va Long atau ikan bumbu kunyit dimasak dengan daun bawang dan dill, dan daftarnya terus bertambah panjang...nom nom nom

8. Multi moda transportasi
Segala jenis alat transportasi ada disini, mulai dari sepeda motor, taksi, cyclo (becak), kapal, bus, kereta, sampai mobil elektrik khusus untuk berkeliling kota. Silakan dipilih :)

9.Surganya penikmat kopi
Toko-toko yang menjual beragam jenis kopi dalam toples besar kerap terlihat di sepanjang jalan. Kedai kopi tersebar dimana-mana, menyajikan ca phe (kopi) atau tra (teh). Selain bangunan cafe yang kita kenal pada umumnya, kedai kopi tradisional dengan bangku pendek dan meja-meja kecil selalu dipenuhi pengunjung hampir setiap saat.

10. Bangunan di kota-kotanya vertikal
Menarik sekali mengamati bangunan di kota-kota besar di negeri ini. Bangunannya tinggi ramping, biasanya terdiri dari 3-4 lantai dengan lebar muka bangunan yang relatif sempit. Umumnya, rumah khas Vietnam mempunyai fungsi berbeda tiap lantainya, misalnya lantai 1 dapur, lantai 2 ruang tamu, lantai 3 dan 4 kamar tidur. Asal muasal bentuk bangunan seperti ini dahulunya untuk menghindari pajak bangunan yang tinggi, karena besar pajak bangunan ditentukan berdasarkan lebar muka bangunan. Semakin lebar suatu bangunan, semakin tinggi harga pajaknya, karena itu bangunan dibuat dengan lebar kecil namun bertingkat-tingkat.

Ada yang mau berbagi kesan tentang Vietnam untuk menambahkan fakta-fakta diatas? :)

Saturday, 12 December 2015

Bahagia itu Sederhana

Siapa yang dulu waktu SD punya semacam buku harian, dan menjelang perpisahan di bangku kelas VI, teman-teman sekelas diminta menuliskan biodata lengkap dengan cita-cita serta kesan dan pesan untuk si pemilik buku? Saya punya, dan biasanya saya, paling suka menuliskan cita-cita: "Bahagia dunia akhirat" tanpa benar-benar mengerti bahagia seperti apa yang dimaksud.

Tahun berganti, usia bertambah, kehidupan berubah, dan di usia yang sekarang, kadang saya suka tersenyum geli membayangkan diri sendiri di masa SD, butuh waktu puluhan tahun untuk mengerti kalau perasaan bahagia itu bisa diciptakan di dunia dan bahagia itu teramat sederhana.

Ternyata, bahagia itu sesederhana ketika melihat bocah berusia 3,5 tahun berhasil mengayuh sepeda roda duanya untuk pertama kali, spontan saya menangis saking bangga dan bahagia melihat usahanya...

Perasaan bahagia itu datang lagi sesederhana sepotong kalimat yang disampaikan guru renangnya bahwa mulai bulan depan ia sudah bisa berenang tanpa ditemani lagi. Rasanya baru kemarin, saya membawa bayi delapan bulan berenang untuk pertama kalinya. Naik turun dalam proses "belajar" berenang ini sudah kami lewati bersama sampai pernah saya berada dalam tahap nyaris ingin menunda kelas berenang sampai anaknya bersemangat lagi. Alhamdulillah, usaha David dan dukungan guru-guru renangnya membuahkan hasil. Rasanya tidak sabar melihat si sulung berenang sendiri walau pasti saya akan kangen menemaninya nyemplung di kolam seperti yang saya lakukan selama 3 tahun terakhir. 

Teruslah bersinar dan berusaha menjadi sumber kebahagiaan kami dan sekelilingmu, sayang... In Shaa Allah, aamiin..

Friday, 20 November 2015

Sundown

I always love taking pictures of sunrises and sunsets everywhere. To me, sunrise pours the new spirit and hope while sunset makes me feeling nostalgic. Now, I hardly do it again for sunrise means wake up time for the kids, and sunset happens at about the same time of their dinner schedule. Somehow, I occasionally miss sitting quietly waiting for the sun to set, hence I write this post. To fulfil my thirsts of spoiling myself staring at the reddish blue skies, through the photos below, I revisit most spectacular sunsets and beautiful skies I have luckily ever captured, taken in various places, from Sipora island to Koh Chang island, from Champerico beach to Port Vila bay, and from the bustling city of Bangkok to vibrant city of Bristol. They are simply BREATHTAKING!



 







"He created the heavens and earth in truth. He wraps the night over the day and wraps the day over the night and has subjected the sun and the moon, each running [its course] for a specified term. Unquestionably, He is the Exalted in Might, the Perpetual Forgiver" QS. Az-Zumar 39:5

Tuesday, 20 May 2014

Cerita tentang Mudik

Gambar pinjam dari sini
Tidak terasa, sebentar lagi sudah memasuki bulan Ramadhan dan disambung dengan perayaan Idul Fitri. Kalau di Indonesia, Hari Raya pastilah identik dengan mudik. Idealnya, kegiatan mudik ke kampung halaman menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi siapapun yang merantau, apalagi kalau lama tidak pulang ke tanah air sendiri.

Kalau di Thailand, libur panjang itu ada di bulan April dalam rangka perayaan tahun baru Songkran yang bisa disetarakan dengan libur Lebaran. Dari cerita teman-teman yang mudik bulan lalu, ada banyak cerita yang mereka bawa. Terinspirasi dari obrolan ringan dengan teman-teman itu, saya jadi teringat kembali beberapa pengalaman tidak mengasyikkan ketika mudik.

Petugas yang sok
Pengalaman mudik tentunya berawal pada saat kedatangan kita di tanah air. Nah, petugas yang saya maksud itu siapa lagi kalau bukan petugas imigrasi. Dari semua pelayanan petugas imigrasi sepanjang ingatan saya, hanya ada dua kejadian yang tidak menyenangkan dan oknum ini merasa seolah-olah kuasa di tangan mereka sehingga mereka bisa bersikap seenaknya. Anehnya, oknum sejenis ini bisa begitu ramah ketika berhadapan dengan orang asing, namun malah memasang muka masam ketika melayani rekan sebangsa. Dari dua kejadian, yang paling membekas adalah ketika mudik beberapa tahun lalu. Waktu itu mengisi kartu kedatangan masih diberlakukan dan setiap kali tidak pernah ada masalah di bandara Soekarno-Hatta ketika saya menyerahkan kartu kedatangan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, tergantung potongan kartu mana yang saya miliki saat itu atau yang dibagikan oleh kru di dalam pesawat. Karena suatu urusan, saya terbang ke Denpasar dan bukan ke Jakarta. Begitu sampai meja imigrasi, petugasnya menegur saya dengan nada tidak mengenakkan, lalu dibilang sok karena pakai kartu kedatangan berbahasa Inggris (kebetulan cuma kartu berbahasa Inggris yang dibagikan di dalam pesawat sebelum mendarat), pokoknya dicecar habis-habisan oleh si oknum. Dengan perasaan dongkol luar biasa tapi juga tidak punya cukup keberanian untuk membalas, saya akhirnya mengganti kartu kedatangan dengan form yang berbahasa Indonesia dan kembali mengantri. Terus terang, saya heran dengan orang yang tampak bangga jika menjalankan peran sebagai bad guy. Kalau memang saya salah, kan bisa diberitahu baik-baik tanpa langsung berkomentar yang gak penting. Bersikap baik tidak ada ruginya sama sekali, lho!

Asap rokok gratis
Asap rokok dan perokok yang tidak punya otak adalah musuh besar saya dari dulu. Sayangnya, dari pengamatan kecil-kecilan saya, para perokok di Indonesia kebanyakan egois dan memang tidak punya otak! Unek-unek saya tentang perokok pernah saya tulis disini. Meskipun tanda larangan merokok sudah mulai dipasang di ruang publik, laki-laki, perempuan, tua, muda, dengan batang rokoknya tetap merajalela seolah mereka itu buta, buta mata dan buta hati. Bahkan kalaupun ditegur, orang yang melanggar peraturan malah lebih galak dan tidak terima ditegur daripada orang yang berusaha menegakkan peraturan :( :( :(

Buang sampah sembarangan
Saya paling gemas kalau melihat orang membuang sampah sembarangan. Tampaknya untuk soal yang satu itu, sama halnya dengan merokok, sudah menjadi hal yang "dianggap" sebagian orang adalah biasa dan tidak merugikan. Tidak jarang, sampah meluncur keluar dari jendela mobil mewah atau orang seenaknya menyelipkan sampah bekas makanan di bawah kursi angkutan umum tanpa perasaan bersalah. Apa susahnya sih menyimpan sampah tersebut di tas yang mereka bawa sampai menemukan tempat sampah???

Nasib buruk menjadi pejalan kaki
Ketika teman-teman saya yang baru kembali mudik bercerita betapa "mengerikannya" naik kendaraan umum di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, dengan taksi sekalipun, saya hanya bisa menanggapi dengan senyuman. Sebagai orang yang tidak pernah punya kendaraan pribadi dari dulu hingga sekarang, dan kemana-mana selalu mengandalkan transportasi umum, apa yang mereka ceritakan bukanlah masalah besar untuk saya. Justru yang kerap mengganggu saya adalah toleransi para pengguna kendaraan pribadi tersebut. Pernah beberapa kali saya terciprat air gara-gara ada mobil yang tidak mengurangi kecepatannya ketika melintasi genangan air...benar-benar apes :( :(. Belum lagi pengendara sepeda motor yang merebut hak pejalan kaki dengan menggunakan trotoar, seringkali sambil ngebut pula seolah trotoar adalah milik mereka seorang :(.

Menggertak dengan menggunakan nama orang lain
Paling malas kalau harus berurusan dengan orang yang suka sekali mengeluarkan kalimat "Saya anggota ...." atau "Jangan macam-macam, saya kenal dengan xxx (orang dengan jabatan penting di pemerintahan ataupun militer)". Suatu kali, saya pernah berhadapan dengan orang seperti ini dan pria tua itu "mengingatkan" saya dengan bilang bahwa kalau saya bersikap macam-macam, dia berhubungan baik dengan orang penting dari satu lembaga. Lalu kenapa? Kalau dia sendiri orang tersebut bolehlah bangga, tapi kalau orang lain yang ia maksud, apa hebatnya? Sepertinya, dalam kultur masyarakat kita, masih ada segelintir orang yang menganggap bahwa kedudukan penting seseorang bisa digunakan untuk menekan/menakut-nakuti orang lain. Berhubung segelintir orang tersebut biasanya hanyalah orang biasa dan bukan orang penting yang punya kedudukan, jadinya mereka menggertak orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka menggunakan nama orang lain, baik yang kenal dekat ataupun hanya sekedar tahu nama saja, tindakan pengecut yang menyebalkan!

Materi, materi, dan materi
Anggapan bahwa tinggal di luar negeri itu pasti makmur gemah ripah loh jinawi adalah lumrah, meskipun faktanya tidak semua orang suka menunjukkan kemakmurannya. Pertanyaan dari orang-orang yang hanya kenal selewatpun misalnya bisa seintim  "Enak ya di luar negeri, gajinya dollar dong?" Duh, gak usah kerja di luar negeri, di Indonesia pun berserakan kok orang yang digaji dengan $$$$. Belum lagi kalau bersuamikan orang asing, di mata sebagian orang terasa ganjil kalau sang istri tidak tampil wah dan menenteng barang-barang bermerek. Jawaban untuk menghadapi tipe orang seperti ini adalah tergantung suasana hati saat itu, kalau sedang baik dibalas dengan jawaban iseng, kalau sedang tidak baik, dibalas setengah hati dengan bahasa tubuh yang menunjukkan tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan tersebut.

Memang seenak apapun tinggal di negeri orang, pastilah akan selalu kangen dengan negeri sendiri. Cuma kadang, pengalaman-pengalaman diataslah yang kadang membuat serunya acara mudik jadi sedikit tercoreng.

Ada yang punya pengalaman mudik serupa?

Thursday, 30 January 2014

Etika Tamu Menginap

Gambar pinjam dari sini

Meskipun belum punya rumah sendiri, kami lumayan sering menerima tamu. Kebetulan saya dan suami juga tipe orang yang senang-senang saja kalau kedatangan tamu. Biasanya tamu kami berkisar antara keluarga, kolega yang sekaligus adalah teman baik, dan teman. Nah, dari kesemua tamu yang pernah menginap itu tidak semuanya meninggalkan kesan baik, malah beberapa diantaranya sudah saya masukkan daftar hitam karena tidak memenuhi kriteria tamu beretika versi saya. Daripada saya menerima tamu dengan muka menekuk, lebih baik menolak tamu dengan kelakuan-kelakukan seperti ini dari awal.

"Milikmu milik saya juga, milikku milikku saja"
Ada pasangan yang punya motto hidup seperti diatas, bahkan ketika mereka sedang bertamu. Jadi, kalau misalkan mereka beli makanan, alih-alih membagi makanan sama rata dan menawarkannya pada yang punya rumah, makanan itu langsung dimakan berdua dengan santainya di depan orang lain. Kalaupun istrinya menawari, mereka menawarkan makanan yang sedang mereka santap. Bukan makanannya yang saya permasalahkan, tapi sikap mereka yang mengganggu di mata saya, kelihatannya kok tidak sopan, makan di depan orang lain tanpa benar-benar punya niat untuk berbagi. Sebagai tuan rumah, umumnya kita senang menjamu tamu, tapi kalau tamunya tidak punya etika seperti ini, lama-lama malas juga ya. Tamu itu adalah raja, tapi bukan berarti bisa seenaknya bersikap, apalagi di rumah orang lain

Anti dapur dan tidak ringan tangan
Biasanya ada semacam peraturan tak tertulis antara kami dan tamu-tamu kami. Hal ini tidak pernah kami bahas secara terbuka sebelum mengundang mereka tapi berjalan spontan begitu saja seperti sudah saling mengerti. Kalau kami yang memasak, maka tamu kami langsung mengambil giliran mencuci piring atau sebaliknya. Suatu kali, kami kedatangan tamu seusia kami yang menginap beberapa malam yang begitu selesai makan langsung kembali sibuk dengan laptopnya tanpa sedikitpun membantu membersihkan meja, membawa piring kotor ke dapur, atau mencuci piring, uuuggghhhh....memangnya disini restoran?? Kalau tamunya orang yang lebih tua, pasti saya tidak akan mengeluh seperti ini. Tapi kalau tamunya keluarga/teman dan seusia lagi, coba sedikit bantu tuan rumah apa salahnya sih?

Sok mengatur
Saya belum pernah mengalami punya tamu yang sok mengatur, tapi teman baik saya pernah mengalaminya. Sebut saja nama teman baik saya itu A dan temannya adalah X. Di rumah A yang hidup sendirian, si X ini sempat "tinggal" beberapa lama tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Awalnya A merasa senang karena ada teman dan merasa si X seperti cucunya sendiri, namun lama-kelamaan si X mulai mengatur banyak hal, termasuk menu makanan (X ini vegetarian) dan A merasa terganggu, sampai akhirnya X keluar dari rumah A karena ia mendapatkan pekerjaan di luar negeri. 

Jorok dan malas
Masih orang yang sama, suatu saat X menginap di tempat kami setelah malam sebelumnya ia mengaku ketakutan waktu menginap di tempat teman yang tidak begitu dikenalnya. Sayapun menerima dengan senang hati. Ternyata selama beberapa hari di rumah, pekerjaannya hanya duduk saja di depan laptop sepanjang hari, tidak mandi dan tidak berganti baju. Jadi baju yang ia pakai ketika datang sama persis dengan yang ia pakai ketika pergi. Handuk dan semua peralatan mandi di kamar mandi tamu kering tak tersentuh, padahal waktu itu Bangkok sedang panas-panasnya, hampir 40 derajat pada siang hari...hiiiyy...kebayang lengketnya berhari-hari tidak mandi :(

Satu hari, saya harus pergi dan saya tidak menyiapkan makan siang, toh ia bisa cari makan siang di luar atau memanaskan sisa sup semalam. Ketika saya pulang, ia masih dalam posisi ketika saya tinggalkan pagi tadi. Pas saya cek lemari es,  terlihatlah mangkuk sup bekas dimakan. Bukan main kesal saya dibuatnya. Kenapa? karena ia makan sup langsung dari mangkuk besarnya. Apa susahnya sih ambil mangkuk baru, dan ambil beberapa sendok sup yang ia mau makan? Kalau kurang kan tinggal tambah lagi? Kalau sudah "bekas" begini, siapa yang mau makan? Mengingat betapa jorok dan pemalasnya tamu saya ini, ketika dia menanyakan apakah dia bisa menginap lagi di tempat saya saat transit berikutnya, saya abaikan pesan dan teleponnya.

Lupa mematikan AC
Tamu yang cuek seperti ini membawa akibat buruk pada tagihan rekening listrik. Pernah terjadi, seorang tamu pergi keluar dan meninggalkan AC kamar dalam kondisi menyala, terus jendela kamar terbuka pula. Mau marah gak sih? Kok ya jadi orang tidak punya common sense, serba seenaknya? Memangnya listrik dibayar pakai daun pisang? Sejak itu, pada siapapun yang menginap, saya selalu minta mereka memastikan bahwa AC sudah dimatikan dan jendela sudah ditutup jika mereka akan pergi. Atau saya sendiri yang mengecek langsung ke kamar tamu. Duh, macam-macam saja ya kelakuan orang...

Ada yang punya pengalaman menerima tamu dengan kelakuan ajaib menginap di rumah masing-masing?

Saturday, 18 January 2014

When to Restart?

Bagi yang mengikuti berita tentang situasi politik di Bangkok pasti familiar dengan istilah "Bangkok Shutdown". Untuk "meramaikan" aksi political rallies menentang pemerintahan berkuasa saat ini, banyak dijual cindera mata mulai dari kacamata, bando, peluit, t-shirt, dan masih banyak lagi. Salah satu tulisan yang menarik di t-shirt yang saya ingat adalah "Shutdown Bangkok Restart Thailand".

Penjual cindera mata di bawah terminal BTS Asok
 Setelah aksi digelar pada Senin, 13 Januari lalu, sampai hari ini belum ada tanda-tanda situasi kembali normal. Memang sih, meskipun masyarakat umum dihimbau dan diperingatkan agar tidak mendekati titik-titik berkumpulnya massa, pada kenyataaannya situasi Bangkok tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Turis masih lalu-lalang, malahan mereka menonton aksi demonstran ini layaknya pertunjukan atau karnaval. Yang berbeda adalah kepadatan lalu lintas di area Sukhumvit karena persimpangan Asok ditutup untuk dijadikan salah satu titik berkumpulnya demonstran sehingga seringkali dari rumah terdengar gemuruh suara massa.


Tenda-tenda para demonstran dari arah Terminal 21

Hari Senin lalu, saya dan sahabat yang kebetulan sedang berkunjung tidak kemana-mana. Kasihan juga sahabat saya dan putrinya yang datang sehari sebelum aksi dilangsungkan tapi mau bagaimana lagi? Kami hanya menonton konvoi demonstran di kejauhan dari taman dekat rumah. Untungnya, karena kami menggunakan skytrain kemana-mana, jadi tidak terlalu terpengaruh dengan penutupan jalan.

 
Semakin kesini, aksi demo yang awalnya terlihat damai, justru sekilas mirip konser-konser musik karena ada juga selingan hiburan nyanyian dan tarian, mulai diwarnai ledakan bom dan penembakan misterius di beberapa tempat. Anehnya, di tengah-tengah aksi demo ini, masih saja ada pihak-pihak yang bukan orang Thai yang dengan sengaja ikut rally atau berada di tengah-tengah massa untuk mengabadikan diri dengan latar belakang suasana demonstrasi. Padahal di samping alasan keamanan, orang asing jelas-jelas terlarang untuk ikut kegiatan politik dalam bentuk apapun, tapi yah beda orang beda prinsip dan berbeda pula cara menginterpretasikan arti "ikut serta" yang dimaksud.

Kumpulan massa di depan persimpangan Asok dari arah Terminal 21
Setelah berlangsung selama lima hari, aksi rally yang tidak tahu kapan akan berakhir terasa mulai mengganggu secara teknis dan secara konteks, apalagi setelah baca link ini dan ini. Jadi ikut emosi bacanya, apalagi pernyataan tersebut keluar dari so-called academic..ckckck...Secara teknis, terkait dengan rencana melewatkan akhir pekan yang harus dijadwal kembali karena situasi yang tidak menentu :(

Jadi, bagi siapapun yang berencana berkunjung ke Bangkok, sebaiknya ditunda dulu kalau masih berupa rencana. Tapi kalau sudah terlanjur membeli tiket pesawat dan memesan hotel, disarankan menggunakan BTS/MRT kalau mau jalan-jalan, menghindari titik-titik demonstrasi, diantaranya MBK (salah satu tujuan populer bagi turis Indonesia di Bangkok), dan tidak keluyuran diwaktu malam dan dini hari. Soalnya, ada temannya teman yang datang ke Bangkok dengan tur, dan setelah melihat situasi disini, rombongan turnya malah pulang lagi ke Indonesia.  Lebih baik lagi kalau menunda sampai situasi politik mendingin setelah pemilihan umum (kalau jadi terlaksana) di awal Februari, mudah-mudahan saat itu negeri gajah putih ini sudah sampai tahap restart.

Sepotong Kisah Sedih dari Bukit Lawang

Perjalanan ke Bukit Lawang di awal tahun ini bisa dibilang membuat perasaan saya campur aduk. Mulanya, saya membayangkan sebuah kawasan taman nasional yang untuk mencapainya membutuhkan perjuangan, didominasi bentang alam dan bukan kawasan terbangun, serta tidak padat oleh pengunjung seperti halnya stasiun kereta api pada saat musim mudik tiba. Maklum baru sedikit taman nasional di Indonesia yang pernah saya kunjungi dan dari yang sedikit itu, rata-rata memenuhi bayangan saya, kecuali satu hal, bahwa saya berkunjung kesana bukan pada saat pergantian tahun.

Tempat kami menginap di Bukit Lawang terletak persis di seberang Sungai Bohorok, yang untuk mencapainya kami harus meniti jembatan gantung. Jadi kendaraan yang kami sewa diparkir dan diinapkan di restoran Rindu Alam dengan biaya IDR 30.000/malam sementara kami, backpacker gadungan pada perjalanan ini (disebut gadungan karena sudah tahu mau menginap disini, kami masih juga menggeret satu koper besar dan satu koper kecil melintasi jembatan gantung, bukannya bawa ransel 50L yang pasti bakal terlihat lebih keren ketika menyeberangi jembatan :D), menginap di Ecolodge. Sewaktu kami datang, di pinggir sungai sebelum menyeberang sudah terlihat banyak keluarga menggelar tikar untuk berpiknik dan mandi-mandi di sungai. Pemandangan yang wajar sekali, melewatkan waktu bersama keluarga ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh secara jarak dan terjangkau harganya. Lalu dimana kisah sedihnya?

Ketika kami trekking, saya bercerita pada pak Tomin, bahwa saya tidak menyangka malam tahun baru di Bukit Lawang sangatlah hingar bingar. Suara petasan dan kembang api yang menandai pergantian tahun membuat pekak telinga, sampai saya terpikir bagaimana dengan hewan-hewan di hutan ya, apakah mereka terganggu atau tidak? Pak Tomin menjelaskan  kalau binatang-binatang harusnya tidak terganggu karena mereka tinggal jauh di dalam hutan. Tapi tetap saja, saya sangat menyayangkan kenapa kami harus dengar suara petasan di kawasan taman nasional alih-alih suara binatang malam. Setelah berjalan 2 jam lebih, sampailah kami di suatu tempat yang memungkinkan untuk melihat betapa bangunan-bangunan kokoh penginapan menjamur di kawasan Bukit Lawang.

Bangunan penginapan di Bukit Lawang bagai cendawan di musim hujan :(
Keprihatinan saya semakin bertambah setelah trekking selesai dan kami melewati bangunan-bangunan yang kami lihat sebelumnya dari arah hutan. Kalau sekarang bangunan beton sudah menjamur seperti ini, bagaimana kabarnya Bukit Lawang sepuluh atau duapuluh tahun lagi? Mengapa ijin membangun penginapan atau restoran begitu mudah diberikan hanya untuk mengakomodasi pengunjung? Mengapa tidak memberdayakan rumah-rumah penduduk sehingga menjadi cukup layak untuk dijadikan homestay pengunjung demi mendukung ecotourism? Menjelang siang itu, pengunjung mulai membanjiri Bukit Lawang sampai kami berjalan seperti di gang senggol, padat tanpa ruang dengan bonus asap rokok pula :(. Mulai dari remaja tanggung, keluarga, anak sekolah, semuanya seakan tumpah ruah disana. Jalan utama yang tidak begitu lebar diapit oleh kios-kios yang menjual pakaian dan cindera mata, dipadati pengunjung dari dua arah dan di sepanjang perjalanan saya sempat lihat ada beberapa kerumunan yang membuat jalan semakin sempit, ternyata setelah diamati, kerumunan itu adalah kumpulan orang yang menonton dan bermain judi :(.

Yang ini padatnya masih normal..setelahnya abnormal!!

Pernah ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu? kurang lebih suasananya sama, dengan penjual cindera mata disisi kiri dan kanan, hanya saja di Bukit Lawang, jauh lebih parah, terutama saat musim libur akhir tahun.

Semoga cerita keprihatinan saya di Bukit Lawang hanya terjadi pada musim libur tahun baru saja atau paling parah, setiap musim libur sekolah, namun di luar musim tersebut, Bukit Lawang kembali tenang tenteram seperti seharusnya kawasan taman nasional.

Melihat pemandangan di sepanjang jalan dari Medan ke Bukit Lawang, ditambah melihat kondisi sebagian kecil Bukit Lawang secara langsung, saya jadi teringat sebuah peribahasa bagus untuk diingat kita semua yang peduli dengan lingkungan dan keberlanjutan hidup anak-cucu di masa depan.

“When all the trees have been cut down,
when all the animals have been hunted,
when all the waters are polluted,
when all the air is unsafe to breathe,
only then will you discover you cannot eat money.”


― Cree Prophecy

Urban Slow Living

Stumbled across this one-page ad, I have highlighted it as one of my new year's resolution. Not necessarily slow down the pace I am used to, but more as a self-reminder to truly appreciate and enjoy every little thing I have and do each day.

Taken from BK Magazine


Happy weekend!

Friday, 6 December 2013

Third-Culture Kids: Our Homework

I am from Belgium, where the clouds are usually soaked in rain,
I am from Italy, where the clouds are always cleared by sunlight,
I am from Poland, where the sky is as dark as coal,
I am from Mozart, whose music charmed peoples' hearts and woke their souls,
I am from my dreams and nightmares, where my imagination takes over,
I am from Egypt, whose mysteries haunt peoples' minds, 
I am from the ocean, where the waves calm my thoughts,
I am from the mountains, where the echo calls my name,
Most of all, I am from my family, where my heart truly belongs.

"I am from..." - Hendrik Verrijssen

Puisi diatas yang saya kutip penuh dari bukunya sungguh menggambarkan kekayaan pengalaman si penulisnya yang baru berusia 12 tahun ketika membuat puisi ini. Lalu, bagaimana seorang TCK dapat tetap mengembangkan potensinya secara optimal meskipun menjalani pola kehidupan berpindah atau nomaden? Karena putra kami sendiri baru berusia 18 bulan dan masih pasrah dibawa kemana-mana, saya pakai pengalaman pribadi saja sebagai ilustrasi kiat-kiat penting dari buku ini supaya lebih mudah diingat ketika tiba saatnya diterapkan pada anak nanti :)

Have fun!
Kiat ini sangat membantu saya yang mantan katak dalam tempurung ketika memulai petualangan saya sepuluh tahun yang lalu, yaitu menikmati seoptimal mungkin keberadaan kita di tempat yang sekarang ditinggali. Misalnya, sewaktu tinggal di Jakarta, saya jarang pulang ke Bandung karena hampir setiap akhir pekan harus bertemu dengan masyarakat di lapangan, sedih sih, tapi ternyata ada hikmahnya, saya jadi punya kesempatan untuk lebih mengenal kota kosmopolitan ini.

Unpack Your Bags and Plant Your Trees
Karena masa tugas suami yang bisa dibilang penuh dengan kejutan, saya mulai terbiasa untuk segera menikmati tempat tinggal baru secepat mungkin tanpa membiarkan fase kangen tempat tinggal yang lama dan culture shock dengan tempat baru berlanjut berlarut-larut. Istilahnya unpack your bags and explore the city with  your legs dan itu yang saya lakukan ketika pindah dari Port Vila ke Bangkok dua tahun yang lalu, jalan kaki kemana-mana :)

Rumah kami sewaktu tinggal di Port Vila mempunyai halaman yang sangat luas. Terinspirasi dari mertua yang bercocok tanam segala rupa di kebunnya, saya berniat untuk berkebun sesampainya disana dengan perjanjian suami yang menanam dan merawat dan saya tinggal memetik hasilnya karena saya tidak suka cacing, hehe.... Awalnya, suami menanam bibit terong, paprika, zukini, daun basil, dan daun mint. Tanaman zukini nyaris berbuah, namun karena ditinggal pergi ke Indonesia selama hampir sebulan, begitu kembali ke Port Vila, pohonnya sudah mati :(. Tanaman yang sukses hanya daun basil dan daun mint, sampai kami sering sekali buat saus pesto dan membuat pizza dengan daun basil, atau membuat campuran minuman bersoda dengan jeruk nipis dan daun mint. Tapi memang benar, kenangan tentang pohon yang kami tanam disana begitu melekat sampai-sampai ketika suami berkesempatan lagi tugas kesana, saya mengingatkannya untuk memberikan laporan pandangan mata tentang kabar tanaman basil dan mint yang kami tanam dulu.

Makna lain dari "plant your trees" ini adalah sebanyak mungkin mengunjungi tempat-tempat di sekitar daerah yang ditinggali atau tempat-tempat yang dilalui dalam perjalanan pulang kampung ke daerah asal. Bagi kami berdua, pulang ke kampung halaman adalah murni kunjungan keluarga dan tidak termasuk kategori liburan. Biasanya, kalau kami pulang ke kota kami masing-masing, sebagian besar waktu ya dihabiskan bersama keluarga dan kalau masih ada sisa waktu, baru dipakai untuk liburan berdua (sekarang bertiga) ke tempat lain.

Keep Relationships Solid
Menurut buku ini, 1) menciptakan tradisi keluarga, 2) membina hubungan baik dengan anggota keluarga besar dan teman di tempat baru serta 3) menjaga komunikasi dengan teman di tempat lama adalah kuncinya. Kiat ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami yang tidak akan pernah berakhir kalau ingin terus menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman. Contohnya, sebisa mungkin, pada saat acara keluarga besar di kedua belah pihak, seperti Hari Raya kami berusaha hadir, meskipun tidak selalu bisa, minimal setiap dua tahun sekali, kami mewajibkan diri untuk pulang pada saat Lebaran ataupun Natal. Kami berdua sudah merasakan manfaatnya menjaga hubungan baik dengan teman di tempat lama, yaitu kami sering mendapat tawaran mengunjungi teman-teman dekat yang sekaligus menawarkan tempat tinggal mereka untuk diinapi, seperti teman saya yang ini, dan sebaliknya kamipun membuka pintu rumah yang tidak begitu lebar untuk mereka jika berkesempatan berkunjung ke tempat dimana kami tinggal. Soal tradisi keluarga, nah ini yang masih harus dipikirkan, kira-kira tradisi keluarga seperti apa yang bisa kami terapkan? Sampai hari ini kami belum punya tradisi apapun dan belum ada ide juga sih.

Return to the Same "Home" during Each Leave
Idealnya,  keluarga yang sering berpindah-pindah mempunyai satu rumah yang dituju setiap kali pulang ke daerah asal. Masalahnya, kami juga belum punya rumah di kampung halaman masing-masing dan belum memutuskan untuk punya. Kadang-kadang suka terpikir soal keinginan punya rumah ini, tapi yah, saat sekarang, kami syukuri saja keadaan dimana kami tidak perlu memikirkan biaya sewa tempat tinggal dan segala printilannya. Mudah-mudahan suatu saat nanti, cita-cita untuk punya rumah sendiri bisa tercapai :).

Acquire "Sacred Objects"
Komitmen awal untuk hidup di negara "ketiga" sampai waktu tertentu membuat saya sempat berpikir ulang ketika akan memulai koleksi barang sebagai kenang-kenangan dari tempat kami tinggal dan tempat-tempat yang pernah kami kunjungi. Kriterianya, barang koleksi tidak terlalu berat dan tidak mudah hilang/terselip dalam setiap acara pindahan, seperti magnet kulkas atau gantungan kunci misalnya. Akhirnya, terpikirlah sebuah ide cemerlang *cemerlang menurut saya yang mengusulkan sih, hahaha...* untuk konsisten mengoleksi berbagai mata uang kertas dengan nominal terkecil. Koleksi kami lainnya adalah buku berisi cerita rakyat dari setiap negara yang kami tinggali/kunjungi. Bagi saya, cerita rakyat tidak kalah menariknya dengan dongeng-dongeng klasik pengantar tidur yang selama ini sering diceritakan. Hm, kira-kira ada lagikah koleksi lain yang memenuhi kriteria saya diatas?

Setelah menamatkan membacanya, saya jadi penasaran ingin mendengarkan cerita teman-teman yang masa kecilnya berpindah-pindah kota tempat tinggal mengikuti tugas orang tua, pasti seru deh! Ada yang mau berbagi?

Tuesday, 3 December 2013

Arisan

Berhubung tadi siang ada arisan, yang sempat jadi-batal-jadi karena situasi keamanan disini, saya jadi ingat komentar suami tentang niat saya ikut arisan pada awalnya. Waktu itu saya bilang daripada hilang tidak jelas, mending ditabung dalam bentuk arisan. Jawaban saya langsung dibantahnya. Menurut dia, arisan dalam budaya Indonesia lebih ke acara silaturahmi karena seringkali arisan diadakan sambil makan-makan di luar atau yang menang arisan otomatis menjadi tuan rumah untuk acara kumpul-kumpul arisan berikutnya. Jadi, kalau dihitung-hitung jumlah total uang yang kita dapat ketika menang arisan akan lebih kecil jumlahnya dibanding setoran sejumlah sama yang disimpan di bank atau di bawah kasur selama jangka waktu tertentu :p.

Pas pertama kali saya bergabung di salah satu kelompok arisan disini, ternyata tidak ada kebiasaan mewajibkan peserta yang menang untuk menjadi tuan rumah arisan berikutnya, seperti yang jamak dialami ibu saya ketika beliau menang arisan. Yang ada, kami kumpul di kafe, beli makanan dan minuman masing-masing, kocok arisan, serah terima uang, beres. Atau kalaupun ada yang menyediakan tempat, itu dilakukan secara sukarela bukan kewajiban.

Arisan kedua yang saya ikuti sedikit berbeda karena jumlah totalnya jauh lebih besar dan pesertanya lebih banyak, tempat yang dipilihpun seringkali tempat dengan harga menu relatif mahal. Walhasil, setiap hari arisan, setiap itu pula pengeluaran saya membengkak dibanding pengeluaran di hari lain.

Setelah mengalami sendiri, saya akhirnya menyerah pada argumen suami yang benar adanya, bahwa arisan di kalangan orang Indonesia lebih untuk ajang kumpul-kumpulnya dibandingkan menabungnya...seperti siang tadi.

Saya jadi penasaran apakah budaya arisan juga berlaku pada bangsa lain atau hanya di Indonesia saja? Ada yang tahu? 

Flashback


Her cheerful personality and the way she handled my son in the first few weeks of daycare made me think that this young lady has something special. I didn't know what it was until one day we happened to walk home together as she was going to babysit my neighbour's four-year old girl.

She had to work part time as a caretaker in her early twenties while pursuing study in the university because her parents could not financially support her. Her hard work was finally paid off since she graduated last year. This year marks her seventh year working at the daycare and it seems to me that she loves her job as much as the children love her. No parents will ever doubt her capability in looking after her own children in the future. However, she plans to change her current job sometime soon as she needs working experience related to her university major to which I absolutely agree. I asked her whether she also plans to get married soon to which she replied with smile "I have no boyfriend" and then continued "I used to be in a 10-year relationship but my ex dumped me because I am not beautiful. The men here are only into beautiful girls". Honestly, in my opinion, she is one of the prettiest real ladies in the country where natural beauty is a rare thing and aesthetical surgery are common practices. Behind her modest nature, she perfectly glows in her late twenties thanks to her loving character and intelligence. I assured her that she doesn't have to worry about it as I know someone who has similar story to hers, and that someone was me few years ago :).

I started to work part-time since I was nineteen in order to ease the burden of my mother. I also regularly helped her by doing groceries shopping to the traditional market in the morning and continued working in the kitchen before going for my morning class. I remembered it clearly when I had my backpack full of containers of food to be delivered to the customer prior to going to the university. As for my part-time job, I worked as a private teacher and later as a teacher in two private institutions in my hometown from which I paid my expenses and tuition fees. I had no boyfriends back then, not one, and thought that I would never have any. I have always had an inferiority complex about myself since the boys I was interested in never had the same feeling while those who liked me were not my type. Besides, I was not popular at all and had very little of self-confidence. While the girls my age were picked up by their boyfriends after the class or went out on Saturday night for a movie, I was all by myself most of the time if not with my girlfriends.

When I finished university, I worked in a project that only involved me and my supervisor while keeping my part time job at one institution. After a year, I was hesitant to continue as the job took me nowhere and both jobs offered no single chance for me to meet my future soulmate. I decided to take a challenge by moving to Jakarta, the city of hope. After a couple of years being in the capital, I still had no luck with boys whilst my university friends were getting married one by one. I was getting tired of having the so-called pressure in the form of questions "do you have a boyfriend?" followed by one another "why?" and "don't be a picky or you'll regret later". I kept asking myself what was wrong with me but I never found the answer..maybe it was just a matter of time. For few years, my situation remained the same until I arrived at the point where I was fed up with others' harsh comments and decided that I had to focus on other important things in life. I later learnt to live my life to the fullest until one day, in my late twenties, I was destined to meet my future soulmate, in a place, which my colleagues jokingly said, was cursed for single women. God works in mysterious way,  indeed.

We ended the conversation as soon as I reached my floor and she continued to her destination while waving at us, still with sincere smile on her pretty face.

To the caretaker of my son, by writing this, I just want to let you know that you are precious and you have everything you need to attract good men. It is just that you may have to work a little bit in finding the right person that you deserve at the right time. In the meantime, go find your dream job and explore the world as much as you can! When that time comes for you to chase another dream, I know that not only my son and other children will miss you, but also your colleagues and we, the parents, will miss you more.

Monday, 2 December 2013

5 cm dan Saya


Photo credit: www.5cm-legacy.com
Duh, telat banget ya baru baca sekarang, padahal sahabat baik saya sudah menghadiahkannya sejak awal tahun. Buku ini bercerita tentang lima orang sahabat yaitu Arial, Riani, Genta, Ian, dan Zafran yang selalu bersama-sama, sampai pada satu saat mereka memutuskan untuk vakum bertemu selama beberapa waktu. Ada banyak perubahan terjadi, dan ketika tiba saatnya mereka bertemu kembali, reuni mereka dilakukan dengan cara unik, yaitu mendaki Mahameru. Cerita tentang persahabatan, perasaan cinta, semangat, kesedihan semuanya terangkum manis bersatu dengan petikan lirik lagu-lagu indah dan humor-humor segar. Meskipun berbeda dengan lokasi utama di buku ini, jalan ceritanya serasa membangkitkan kenangan manis pada perjalanan saya dan sahabat-sahabat saya ke Bromo enam tahun yang lalu. 

Dimulai dari perjalanan seru dari Jakarta, Malang, Tumpang, sampai akhirnya kami tiba di Bromo. Mungkin kapan-kapan saya mau menuliskan kisah perjalanan kami disini. Yang pasti, ketika halaman demi halaman buku 5 cm saya baca, saya serasa bernostalgia. Jadi, selain liburan super seru dengan para sahabat, gunung Bromo juga adalah salah satu tempat bersejarah dalam kisah hidup kami. Ditambah lagi, beberapa bulan sebelumnya, suami pernah mengikuti pendakian sampai Cemoro Tunggal yang merupakan batas terakhir vegetasi, sehingga sejak awal dia sangat antusias dengan rencana liburan kami ke Bromo.


Our forever besties
Siapa sangka perjalanan mendaki gunung Pananjakan pada jam satu dini hari dengan peserta hanya kami berdua ditemani pemandu lokal, pak Mul namanya, menjadi titik penting dalam kehidupan kami berdua, terutama nasihat sederhana dari beliau. Saya ingat sekali, ketika belum terlalu jauh berjalan, pak Mul menunjukkan puncak gunung Pananjakan yang ditandai dengan kerlip lampu pos pengawas. Otomatis saya bilang "aduh, jauh sekali, pak" dan sempat terlontar niat untuk kembali lagi ke penginapan, namun suami (waktu itu masih teman) dan pak Mul menyemangati saya dan pak Mul dengan tenang menjawab "jarak sebenarnya dari sini hanya 800 meter mbak, tapi karena vertikal jadi terlihat tinggi sekali. Kita jalani saja dulu dengan segenap usaha, jangan melihat terlalu jauh".

Akhirnya, kami berhasil mencapai puncak Pananjakan beberapa saat sebelum matahari terbit dan menikmati lukisan pagi yang begitu indah bersama dengan sahabat-sahabat kami yang datang kemudian dengan menumpang jip. Sama seperti yang dikisahkan dalam buku 5 cm, perjalanan ke Mahameru adalah perjalanan batin. Kami belum sampai Semeru sih, tapi saya sangat setuju kalau perjalanan kami ke salah satu surga di bumi ini lebih dari sekedar perjalanan fisik, ia adalah titik awal perjalanan yang membawa hati dan pikiran kami berjalan bersama untuk terus bermimpi, meyakini kekuatan mimpi itu, dan kemudian berusaha mewujudkannya.

Di lautan pasir
Kami enam tahun yang lalu :)

Tidak hanya tentang cinta, buku ini juga memberikan pesan positif supaya jangan pernah takut untuk bermimpi dan berusahalah sekerasnya untuk menggapai mimpi itu. Saya suka dengan ide 5cm yang sangat inspiratif!

"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain" - 5cm.

Monday, 25 November 2013

Perokok = Egois?

Sebagai pengguna setia angkutan umum, hal paling menyebalkan bagi saya adalah ketika didalam kendaraan yang saya tumpangi ada yang merokok. Entah itu sesama penumpang, kernet, atau sopirnya. Kalau sudah begitu, sapu tangan atau tisu kerap menjadi penyelamat untuk saya. Tanpa bereaksi berlebihan, begitu ada yang merokok, saya langsung tutup hidung. Kenapa harus tanpa bereaksi berlebihan? Dari pengamatan saya, ada sebagian perokok di Indonesia yang suka bersikap lebay alias berlebihan. Pernah beberapa kali, saya secara ekstrim menutup hidung gara-gara sesama penumpang di angkutan umum merokok, eeh...kok ya malah asap rokoknya secara sengaja dihembuskan ke muka saya? dan ini bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Saya pun dengan kekesalan segunung hanya bisa memendam kebencian pada si oknum perokok sambil mengeluarkan sumpah serapah dalam hati. Tidak mengubah situasi sih, tapi setidaknya kekesalan saya sedikit berkurang.

Entah kenapa, tapi di negara saya tercinta ini, susah berada di satu tempat yang bebas dari asap rokok, bahkan di ruangan berpendingin udara sekalipun. Di negara-negara lain, para perokok seolah punya etika merokok yang ditaati dan di beberapa negara larangan merokok disertai dengan denda yang lumayan menguras dompet. Di Indonesia, peraturan ada untuk dilanggar, bukan begitu? Rasanya para perokok itu sudah keracunan nikotin akut sampai-sampai membacapun mereka tidak bisa. Contohnya seperti ini:

Perhatikan tanda "area bebas rokok"di papan hijau
Terus, apakah ada petugas yang berkeliling memastikan peraturan dilarang merokok dipatuhi? Hm..kalaupun ada, petugas-petugas yang berkeliaran di fasilitas umum seperti diatas pura-pura tidak melihat. Enggan menegur? takut balik dimarahi? Entahlah.

Saya juga heran, kenapa ya para perokok ini seringkali malah balik marah kalau ditegur, padahal jelas-jelas mereka yang salah? Pernah satu kali, saya sedang mengantri taksi di bandara Don Mueang. Tiba-tiba, tercium oleh saya bau rokok, ternyata ada pria yang merokok di antrian sebelah saya, padahal di tiang tidak jauh dari tempat kami berdiri ada tanda dilarang merokok dan denda THB2,000 bagi yang melanggar. Sayapun bilang pada pria tadi untuk mematikan rokoknya sambil menunjuk tulisan di tiang tersebut. Si pria kemudian buru-buru keluar dari antrian sambil mematikan rokoknya. Dalam hati, saya membatin, di negara orang saya bisa turut menegakkan peraturan, tapi di negara sendiri, belum tentu saya akan melakukan hal yang sama. Kalau mengingatkan turis yang baru datang ke Indonesia, mungkin bisa, tapi kalau mengingatkan sesama orang Indonesia, huh, paling ujung-ujungnya saya yang jadi korban :(.

Satu pertanyaan besar bagi saya, adakah kaitannya efek nikotin dengan penurunan fungsi otak dan mental para perokok ini sehingga mereka tidak punya etika sama sekali dan sangat egois terhadap orang lain yang tidak merokok namun terpaksa menjadi perokok pasif? Bagusnya, para perokok ini masing - masing diberi helm kaca ketika ingin merokok, jadi mereka sendiri yang terpapar asapnya tanpa harus mengorbankan orang lain. Pernah punya pengalaman serupa?

Wednesday, 2 October 2013

Tentang Perjalanan: Menyerempet Bahaya

Gara-gara gagal berkali-kali mengakses aplikasi Travel Brain (TB) yang sebelumnya bebas masalah, akhirnya menyerah juga, jadi untuk sementara sampai ide lain datang, scorecard nan buram dan butut itu mau tidak mau dipertahankan dulu :(. Kenapa saya ngotot pakai TB? Karena analisisnya, berdasarkan rekaman perjalanan kita, bisa menunjukkan kita termasuk tipe traveller yang mana...lumayan untuk seru-seruan, bukan setipe aplikasi lain yang cuma kasih ulasan dan berapa banyak kota yang sudah kita kunjungi. Menurut analisis versi TB "I am an explorer that flirts with danger". Masa sih?

Kalau diingat-ingat, ada beberapa perjalanan saya yang memang menyerempet bahaya, itupun baru sadarnya belakangan. Sekarang, ingat saja nyali sudah menciut :p. Saya baru mulai jalan-jalan itu tahun 2005. Perjalanan pertama saya dengan beberapa teman ke Dataran Tinggi Dieng sangat berkesan, berkat seorang teman baik yang bersikeras membayari tiket pesawat saya, saya ikut serta. Waktu itu saya belum lama bekerja, jadi banyak pertimbangan sebelum mengeluarkan uang untuk kebutuhan tersier seperti jalan-jalan. Perjalanan perdana ke Dieng juga mempunyai kisah tersendiri. Ceritanya, bapak pemilik penginapan tempat kami tinggal begitu semangat membanggakan putranya dan mencoba mempromosikannya pada saya, hanya karena saya satu-satunya yang berasal dari kota Bandung, tempat dimana putranya itu sekarang tinggal. Setiap ada kesempatan, si bapak selalu mengajak ngobrol dan menyinggung putranya dan sulit untuk diinterupsi...sampai akhirnya keempat teman saya ikut nimbrung mengalihkan pembicaraan, hehehe...

Kembali ke soal bahaya, seserius apa kebodohan yang saya lakukan ketika travelling? Serius sekali. Misalnya, saya pernah naik kapal cepat di perairan Mentawai, waktu itu kami berada di laut lepas dan cuaca cerah, karena kami berlayar dengan penduduk setempat, saya percaya 100%. Saat itu tidak ada satupun dari kami yang menggunakan jaket pelampung. Alhamdulillah kami selamat tiba di pulau tanpa gangguan cuaca berarti. Beberapa tahun kemudian, kejadian ini berulang lagi. Waktu itu kapal cepat yang saya tumpangi berlayar mengelilingi pulau Gaua di Vanuatu. Kapal yang tadinya bermuatan tujuh orang bertambah menjadi empat belas orang karena ada beberapa penduduk desa yang kami lewati ikut menumpang (desa-desa di sekeliling pulau tersebut sangat terpencil dan sulit diakses karena pantainya yang berkarang dan ombaknya ganas). Di tengah perjalanan, cuaca memburuk, turun hujan deras dan kabut begitu tebal sehingga bibir pantaipun tidak terlihat sama sekali, dan bodohnya lagi, jaket pelampung disimpan di bagian depan kapal, sehingga tidak ada seorangpun yang mengenakannya. Disaat ombak semakin mengganas sampai mencapai ketinggian kurang lebih dua meter, mesin kapal mati sehingga kapal terombang-ambing, dan salah satu penumpang kapal terjatuh ke laut. Apa yang ada di pikiran saya ketika itu? kematian! Saya membatin, kalau memang hidup saya harus berakhir di sini, di tengah lautan, siapa yang mengetahui keberadaan kami? Suami saya memang memonitor kepergian kami, tapi selama beberapa hari di pulau, komunikasi terputus karena tidak ada sinyal telepon. Berbagai pikiran buruk muncul silih berganti, sambil saya berdoa tetap memohon keselamatan. Setelah entah berapa lama, badai mereda dan kami berhasil pulang dengan selamat, meskipun para penumpang kapal, termasuk saya,  masih shock dengan kejadian itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Kejadian lain, waktu saya dan seorang teman kebetulan sedang transit di bandara JFK. Saya berniat bertemu dengan teman saya yang kebetulan sedang bertugas disana. Pesawat kami dari Guatemala City tiba malam hari dan pesawat berikutnya ke Heathrow baru berangkat keesokan paginya. Alhasil, kami pulang dari pusat kota saat dinihari menuju ke bandara. Di dalam gerbong subway yang kami tumpangi hanya ada beberapa orang, yang satu persatu kemudian turun di tujuan mereka masing-masing. Setengah perjalanan, ada seorang pria kulit hitam yang mulai menyapa kami, tampaknya dia sedikit mabuk. Teman saya yang berasal dari Kolombia, meskipun cukup terbiasa dengan situasi ini, tetap merasa takut, apalagi hanya tinggal kami bertiga di gerbong itu dan satu orang wanita kulit hitam yang tampak tidur di kursinya. Awalnya dia hanya memandang kami dari kejauhan, lama kelamaan mengajak bicara. Kami berdua berusaha tenang saat menjawab meskipun dalam hati takutnya setengah mati. Begitu pria itu mulai bicara dan berjalan mendekat, yang terpikir adalah turun dari kereta secara mendadak. Benar saja, pria itu tampak semakin berani, sambil mengeluarkan kata-kata kotor, ia berjalan mendekati tempat duduk kami di dekat pintu keluar. Kami yang sudah ketakutan masih pura-pura tenang dan tiba-tiba langsung lari keluar kereta sesaat sebelum pintu tertutup dan kereta melaju kembali membawa pergi si pria gila yang masih berteriak-teriak dari jendela. Di stasiun tempat kami turun hanya ada kami berdua dan seorang bapak petugas kebersihan yang sedang menyapu. Baru kali itu saya menginjakkan kaki di stasiun subway di New York, dan kesannya menyeramkan, apalagi pada jam 3 dini hari! Tidak lama menunggu, kami naik lagi kereta lain yang kebetulan diisi beberapa penumpang yang akan pergi ke bandara..legaaa...

Di lain waktu, saya bersama seorang teman menginap di satu hostel di kota Edinburgh. Kamar yang kami tempati itu adalah mix dorm. Saya lupa kenapa waktu itu kami pilih mix dorm, karena biasanya kalau jalan-jalan, kami selalu pilih female dorm. Namanya hostel, saat siang sampai malam hari pastinya selalu kosong, dan teman-teman sekamar kami baru pulang menjelang dini hari. Suatu malam, kami dan satu orang lagi sudah tidur ketika ada orang menggedor pintu kamar. Teman saya yang tidur di dekat pintu masuk otomatis terbangun dan membukakan pintu. Ternyata, orang yang menggedor pintu tersebut adalah salah satu penghuni kamar yang mabuk berat. Sambil marah-marah pada teman saya, dia berjalan menuju tempat tidurnya dan meracau sepanjang malam. Semalaman saya tidak bisa tidur karena takut terjadi apa-apa, meskipun di dalam kamar ada teman saya dan satu orang perempuan lagi. Untung saja, keesokan harinya kami sudah check out dari hostel itu. Tapi, setelah kejadian itu, kami tetap tidak kapok untuk menginap di hostel lagi, malah dalam perjalanan berikutnya di Derry, kami bertiga perempuan menginap dengan lima orang pria sebagai teman sekamar kami, yang kebetulan semuanya adalah orang baik-baik.

Pengalaman lain, waktu saya untuk pertama kalinya menumpang pesawat Cessna 207 berkapasitas 6 tempat duduk. Karena pesawatnya kecil, ketinggian jelajahpun rendah. Kalau cuaca cerah, pastinya asyik mengamati pulau-pulau dan air laut berwarna biru dan hijau di bawah. Sayangnya, waktu itu cuaca buruk, sehingga terpaan angin dan hujan deras sangat terasa menggoyang badan pesawat. Perjalanan selama 35 menitpun serasa seabad karena saya takut, meskipun pilotnya cukup meyakinkan.  Pengalaman pertama dan  terakhir (sampai detik ini) cukup berkesan meskipun saya akan pikir-pikir dulu kalau harus mengulanginya lagi sekarang.

Cerita lain yang kalau diingat lagi sekarang "kok bisaaa???" adalah waktu saya ikut mendaki gunung Santa Maria (3772 m) di Guatemala. Pendakian kurang lebih delapan jam di malam hari demi mendapat sunrise di puncak gunung. Saya bukanlah anggota pecinta alam, olahragawati, atau sejenisnya, tapi entah kekuatan darimana, akhirnya bisa juga saya mengikuti pendakian itu, padahal kami tidak diwajibkan untuk ikut pendakian. Sayang, karena udara dingin yang begitu menusuk memperparah sakit di lutut saya, sehingga begitu sampai puncak, yang ada bukannya semangat foto-foto, malah meringkuk kedinginan di dekat api unggun..menyesalll!!! Keesokan harinya, kami turun melalui jalan yang kami lewati tadi malam, dan ternyata medannya cukup berat..untung jalannya malam hari, kalau saja saya tahu kondisi medannya, mungkin saya sudah kalah sebelum perang.

Di Guatemala juga, saya trekking di gunung Pacaya dan berjalan di atas batuan yang hangat, seolah dapat merasakan lava bergolak di bawah kaki saya. Didampingi oleh staf dari otoritas setempat, kami dibawa ke tempat yang relatif aman untuk dikunjungi. Jenis lava yang keluar dari gunung ini adalah basaltik, yaitu lava yang mengalir pelan dengan kecepatan rata-rata 1 km/jam. Meskipun gunung tersebut berada dalam pengawasan otoritas setempat dan kunjungan kami juga didampingi oleh staf mereka, membayangkan dikejar-kejar aliran lava seperti di film-film membuat saya ingin cepat-cepat pulang.

Jadi, analisis TB bahwa saya suka menyerempet bahaya cukup realistis, bukan karena saya pemberani, tapi lebih karena nekad dan sedikit bodoh, hehehe...

Ada teman-teman yang punya pengalaman menegangkan sewaktu jalan-jalan? Cerita doong...

Thursday, 29 August 2013

Cerita dan Hikmah Lebaran

Meskipun sudah lewat, tapi saya ingin menuliskan pengalaman libur Lebaran kemarin disini. Tahun ini kami memang berniat untuk merayakan Lebaran dengan keluarga besar di Bandung. Saking niatnya, tiket pulangpun sudah dibeli sejak awal tahun.
Alhamdulillah perjalanan mudik kami mulus lancar bak jalan tol. Mendarat di Jakarta sekitar jam 4 sore di H-2 Lebaran, setelah membungkus bakmi GM untuk buka puasa di jalan, kami langsung naik bis Primajasa dan dalam waktu 3 jam sudah sampai di tempat tujuan di Bandung.
Seminggu di Bandung berlalu begitu cepat karena padatnya agenda kami. Selain bersilaturahmi sana-sini, kebetulan ada dua orang teman yang sedang berlibur di Bandung. Jadi, dalam suasana pasca Lebaran, kami sempat jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu dan bermalam minggu di mall tersohor di Bandung yaitu Parijs van Java.
Hal berkesan yang membekas di hati pada pertemuan keluarga kali ini terutama adalah banyaknya perubahan sikap yang terjadi pada beberapa orang di keluarga besar saya. Alhamdulillah perubahan sikap ke arah yang positif ini membantu saya menghapus segala syak wasangka yang pernah ada. Pertemuan dengan keluarga besar telah membangun kesadaran saya pribadi bahwa persaudaraan itu sangat indah. Mudah-mudahan kami masih diberi kesempatan untuk bertemu dan berkumpul kembali pada Lebaran-Lebaran yang akan datang..aamiinn.

Tentang Dwikewarganegaraan

Meminjam topik yang dibahas di grup WA baru-baru ini, yaitu pro kontra dwikewarganegaraan (DK) untuk WNI, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang untung rugi kepemilikan DK. Indonesia sampai saat ini baru mengakui kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil pernikahan antar bangsa sesuai UU Kewarganegaraan no. 2 tahun 2006.

Sebagai salah satu pihak yang berkepentingan, saya tentunya pro dengan ide ini, dan berharap dalam 18 tahun ke depan, ketika anak kami harus memilih kewarganegaraannya, peraturan sudah berubah sehingga ia tidak harus memilih antara menjadi WN Indonesia atau WN Perancis.

Faktanya banyak negara yang tidak mengakui DK karena beragam faktor, misalnya berkaitan dengan hak memilih (voting), pengenaan pajak, masalah keamanan, dan lain-lain. Sekilas dari pihak yang kontra, muncul argumen senada bahwa DK mengancam lunturnya nasionalisme,  menguntungkan golongan tertentu, dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan dan kemudian lari berlindung dibalik status DK-nya.

Menurut saya, nasionalisme tidak ditentukan oleh status kewarganegaraan dan lokasi geografis seseorang. Ada banyak orang yang mengaku Warga Negara Indonesia namun melakukan perbuatan yang jelas-jelas mempermalukan negaranya sendiri, banyak orang Indonesia yang tinggal di Indonesia namun secara nyata memuja-muja kebudayaan Barat. Sebaliknya, tidak sedikit orang Indonesia yang tinggal di luar Indonesia kemudian mengukir prestasi, melakukan sesuatu yang membawa harum nama Indonesia, dan berkontribusi terhadap kemajuan negara ini meskipun dari jauh. Saya sendiri baru merasakan rasa cinta dan bangga yang begitu besar terhadap Indonesia justru ketika saya untuk pertama kalinya keluar dari Indonesia beberapa tahun lalu. Barulah muncul penyesalan kenapa dulu tidak tekun mempelajari kesenian tradisional Indonesia atau belajar memasak masakan khas Indonesia atau mempelajari sejarah Indonesia sehingga saya tidak perlu tergagap ketika orang-orang meminta saya menjelaskan tentang hal-hal yang menarik dari negara saya.

Dibilang dengan adanya DK akan menguntungkan golongan tertentu dan membuka jalan bagi orang untuk berbuat kejahatan, bagi saya pribadi kembali ke orangnya. Siapapun, orang dengan status DK atau tidak, kalau memang berniat jahat, ya cara apapun akan dilakukan. Contohnya, para koruptor yang tidak memiliki status DK saja bisa lari ke luar negeri untuk menghindari kejaran hukum.

Yang menarik untuk diperhatikan, status DK ini diajukan untuk diberlakukan bukan hanya bagi anak hasil pernikahan antar bangsa tetapi juga untuk warga negara Indonesia yang telah menetap lama di luar negeri. Kira-kira apa ya alasan Pemerintah kita untuk tidak mengakui DK? Dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya apa sih keuntungan dengan mengakui DK? Pertama, Indonesia tidak akan kehilangan putra-putra terbaik bangsanya meskipun mereka tinggal di luar negeri, justru diharapkan terjadi alih teknologi/ilmu pengetahuan dari mereka pada rakyat Indonesia secara umum. Kedua, meningkatnya peluang investasi di Indonesia. Kalau memang UU Agraria no. 5 tahun 1960 dibuat sebagai upaya pencegahan pemilikan tanah oleh pihak asing yaitu kolonial Belanda ketika itu, rasanya Undang-Undang tersebut sudah masanya untuk diperbarui pada saat ini. Kepemilikan tanah/properti tidak bergerak oleh pihak asing (individu) tidak otomatis menjadi ancaman bagi rakyat Indonesia. Faktanya adalah kepemilikan tanah di Indonesia mayoritas masih tetap dipegang oleh warga negara Indonesia sendiri dan bukan warga asing. Ketiga, pada umumnya anak-anak hasil pernikahan antar bangsa mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik sehingga di masa depan anak-anak ini dapat menjadi tumpuan harapan yang turut memajukan bangsa dan negara kita. Nah, kalau mereka disuruh memilih dan misalnya mereka memilih kewarganegaraan selain Indonesia, berarti hilanglah calon-calon potensial yang diharapkan dapat membangun negeri ini.

Dari sudut pandang saya yang awam ini, muncul pertanyaan dapatkah pemerintah kita mengadopsi kebijakan pemerintah negara lain seperti Pakistan atau Perancis? Salah satu teman di grup yang bersuamikan warga negara Pakistan mengatakan bahwa Pakistan tidak mengakui DK. Meskipun begitu, anak hasil pernikahan yang bapak/ibunya berkewarganegaraan Pakistan mempunyai semacam kartu identitas seumur hidup dan mempunyai hak dan kewajiban sama dengan warga negara Pakistan dalam hal kepemilikan properti, membayar pajak, dan lain-lain kecuali satu, yaitu tidak dapat mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri. Sedangkan di mata pemerintah Perancis yang mengakui DK, status kewarganegaraan seseorang tidak dapat dihapuskan karena alasan apapun kecuali terbukti berkhianat kepada negara. Jadi, jika seorang anak terlahir dari bapak/ibu warga negara Perancis, maka sampai kapanpun dan meskipun anak tersebut memilih menjadi warga negara lain, dimata pemerintah Perancis, didasarkan dengan bukti dokumen resmi yang sah dimata hukum seperti akte kelahiran dan livre de famille atau buku catatan keluarga, anak tersebut adalah warga negara Perancis.

Yang ironis, dari pembahasan di grup muncullah pengakuan bahwa ternyata banyak teman yang belum membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka. Sangat disayangkan bahwa kebijakan masing-masing perwakilan kedutaan besar di setiap negara tidak seragam, contohnya teman saya tidak membuatkan paspor Indonesia untuk anaknya karena staf konsuler di negara tempat anaknya lahir bilang tidak perlu sebab sudah ada affidavit, padahal fungsi affidavit dan paspor jelas berbeda. Teman yang lain mengeluh belum membuatkan paspor untuk ketiga anaknya karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan lain terlebih dahulu yang membutuhkan waktu. Belum lagi kalau dihadapkan dengan staf sesama bangsa Indonesia yang anehnya sangat tidak kooperatif dengan kita sebagai teman sebangsa setanah air, menjadi alasan pendukung kenapa teman-teman ini mengurungkan niatnya membuatkan paspor Indonesia untuk anak-anak mereka.

Kembali lagi ke masalah DK, ada yang mau berbagi pendapat atau pengalaman tentang untung ruginya mempunyai dua kewarganegaraan?