Tuesday, 23 May 2017

Percakapan a la Anak Multibahasa

Punya anak multibahasa itu susah-susah gampang menggelikan. Susahnya karena seringkali harus tebak tebak buah manggis apa yang si anak coba katakan (saat si anak menginjak usia baru bisa bicara), dibilang gampang selama orangtua konsisten bicara dengan satu bahasa pada anak, insya Allah komunikasi mulus lancar, dan menggelikan, karena ada saja hal-hal yang bisa ditertawakan dari percakapan mereka.

Buah sabar
Alkisah, suatu hari, bocah #1 dan bocah #2 sedang bermain. Tampaknya #2 tidak sabar menunggu giliran. #1 langsung datang mengadu pada saya
D: Ibu, Sophie rebut mainan dari tangan David
I  : Bener, Sophie?
S : Iya (dengan muka polos)
I  : Gak baik merebut mainan dari tangan orang lain. Kan bisa minta baik-baik
(Kakaknya langsung menimpali)
D: Sophie harus banyak minum buah sabar
I  : Buah sabar???
D : Iya, itu passion fruit (si sulung belum bisa membedakan antara passion dan patient, sehingga muncullah terjemahan passion fruit = buah sabar :D)

Ibu pintar
Sehari-hari, bahasa Indonesia lebih dominan digunakan di rumah, kecuali komunikasi antara anak-anak dan bapaknya. Kadang, saya ikut menimpali pembicaraan bapak dan anak. Satu kali, kami berdua sedang berbicara dalam bahasa Perancis. Eeehh, tiba-tiba ada suara anak kecil berkomentar "Ibu pintarrrr, bisa bahasa Perancis!" Setelah dikoreksi pengucapan kata yang benar, sekarang kemampuan berbahasa sayapun mulai dinilai oleh si bocah, duuhh...

Aik a.k.a Eight

Bocah #2 sedang senang-senangnya mengucapkan kata yang terdengar di telinga kami sebagai "aik". Rasanya tidak ada kosakata tersebut dalam tiga bahasa yang kami gunakan. Tidak ada satupun yang tahu apa arti kata "aik" tersebut, sampai saya lihat video dari daycare-nya. Ternyata oh ternyata, "aik" yang dimaksud si bocah adalah "eight". Sekarang si "aik" inipun tidak lagi menjadi misteri :).

Bicara Bahasa Indonesia = Orang Indonesia
Suatu malam bocah #1 diajak Bapak ke acara Thanksgiving di tempat salah satu kolega kantornya. Pulangnya, ia bercerita tentang "Om" yang orang Indonesia. Dengan fasih, si bocah menceritakan kalau "Om" ini orang Indonesia karena bisa bicara bahasa Indonesia dengan dia. Sayapun antusias mendengarkan ceritanya. Ketika si bocah sudah tidur, saya tanya bapaknya, ternyata si "Om" itu orang asing yang menyapa si bocah dengan ucapan "halo, selamat malam". Tahu sendirilah, orang bule yang kebetulan pernah bertugas ke Indonesia dan bisanya cuma bilang "selamat pagi/siang/malam" :D:D:D.

Sebenarnya ada banyak percakapan lain yang mengundang tawa, hanya saja saya lupa mencatatnya. Besok-besok, kalau ada percakapan lucu lagi, mungkin saya harus segera menuliskannya disini, lumayan untuk dibaca kembali dan ditertawakan bersama :)

Friday, 17 March 2017

Jatuh Cinta pada Hanoi

Jembatan Merah yang ikonik
Hanoi, ibukota Vietnam adalah salah satu kota yang saya sukai, apalagi kalau didatangi saat musim dingin. Apa yang membuat Hanoi terlihat menarik? Padahal lalu lintasnya semrawut, dipadati sepeda motor yang nyaris tidak memberikan ruang pada pengguna jalan lain bernama pejalan kaki, dan bahasa setempatnyapun sulit dimengerti, belum lagi penipuan atau scam kerap mengintai turis-turis yang datang ke negeri ini. Berikut 6 keistimewaan Hanoi versi saya, turis yang baru sekali menginjakkan kaki di ibukota Vietnam ini.

1. Hanoi Old Quarter
Pertama memasuki kawasan ini, deretan toko yang menjual produk serupa di setiap ruas jalan yang kami lalui langsung menarik perhatian saya. Ternyata, ada 36 jalan yang dinamai sesuai dengan barang yang dijual di sepanjang jalan tersebut, misalnya Hang Bac (Silver street), Hang Bong (Cotton street), dan Hang Ma (Paper Offering street). Unik ya?  Tentu jumlah jalan sebenarnya di kawasan ini lebih dari 36 buah, angka 36 digunakan untuk menggambarkan begitu banyaknya jalan-jalan yang saling memotong di pusat kawasan kota tua Hanoi. Jalan-jalan lain yang sempat kami lewati adalah jalan yang di sepanjang ruasnya menjual kacamata, ransel, alat-alat masak, kertas warna-warni untuk hiasan, lampu, hingga alat-alat rumah tangga yang terbuat dari bambu maupun kayu. 

2. Water Puppet Show
Berasal dari delta sungai Merah pada abad kesepuluh. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan pertunjukan ini, sampai saya duduk di kursi penonton. Anak-anakpun cukup terhibur, terbukti mereka dapat duduk tenang selama kurang lebih satu jam, padahal saya sempat deg-degan, khawatir mereka bosan dan rewel. Dengan harga tiket VND 100,000, jangan lewatkan pertunjukan wayang air ini di Thanglong Theatre.

3. Thang Long - Hanoi Imperial Ancient Citadel
Merupakan satu dari sepuluh Warisan Budaya Dunia di Vietnam. Cerita lengkap tentang Thang Long bisa dibaca di tulisan saya yang ini.

4. Hoan Kiem Lake & Ngoc Son Temple
Berarti Lake of the Returned Sword dalam bahasa Vietnam, dengan legenda berusia ratusan tahun. Jembatan merah yang menuju kuil Ngoc Son paling cantik terlihat saat malam tiba. Berbekal tiket masuk VND 20,000 ke kuil Ngoc Son, dapatkan sejarah tentang danau ini berikut penghuninya, yaitu kura-kura raksasa yang kadangkala menampakkan diri. Danau Hoan Kiem ini ibaratnya merupakan jantung kota Hanoi. Di salah satu sudut danau, tertata hamparan bunga berwarna-warni menyegarkan mata.

5. Kuliner
Sebagai orang yang suka makan, jalan-jalan ke Hanoi belum lengkap kalau belum mencicip makanan khasnya. Favorit saya adalah Pho, yaitu sejenis sup dengan kaldu daging sapi yang gurih dilengkapi mi putih dan sayuran segar, Fresh maupun Fried spring roll, Cha Ca, potongan ikan berbumbu kuning yang dimakan dengan mi putih, hingga banh mi, atau roti lapis khas Vietnam. 

6. Bangunan kolonial
Hanoi juga kaya dengan bangunan kolonial yang sedap dipandang. Warna kuning khas yang mendominasi bangunan kolonial tersebut menjadikan Hanoi terlihat begitu impresif di mata saya. Sebut saja beberapa bangunan seperti Presidential Palace, Ministry of Foreign Affairs, Hanoi Opera House, dan National Museum of Vietnamese History. Deretan bangunan kolonial di sepanjang Hoang Dieu street yang banyak berfungsi sebagai kediaman resmi duta besar terlihat anggun mengapit jalan raya dengan jalur pejalan kaki yang lebar dan dinaungi pohon-pohon besar.

Selain keenam hal tersebut, tentu ada lagi yang membuat saya terkenang-kenang dengan ibukota Vietnam ini. Apalagi kalau bukan tes adrenalin menyeberang jalan dengan sepeda motor yang berseliweran tanpa henti, hehehe...

Meski karena keterbatasan waktu kami tidak sempat menghampiri Hoa Lo Prison (Maison Centrale), Dong Xuan Market, Van Mieu Temple of Literature, Bat Trang Ceramic Village, dan Museum of Ethnology, kunjungan ke Hanoi telah meninggalkan kesan mendalam. Justru tempat-tempat tersebut menjadi alasan kuat untuk kembali lagi kesana.

Sampai jumpa lagi, Hanoi...

Wednesday, 8 March 2017

Here Comes the Third...

Today, nine weeks ago, I was 40 days and 5 days pregnant. No signs of labour although the latest ultrasound marked somewhere between 24 and 30 December 2016 as the EDD. New year came and the baby was still happily snuggled in my womb.

I saw my Obgyn on the 30th of December and the first time I saw her, I said that I was still pregnant to which she replied "No worries, as you are always overdue". Yes, we stick to the same Obgyn that has helped deliver our two other children. The chemistry is wayyy too strong :). That day, I had the Non Stress Test showing good result, so we could wait for another week. Believe it or not, since 24th of December, we have done whatever actions possible to naturally induce the labour, but nothing happened. Almost every night I had a dream that I suddenly woke up and was in labour, and the next morning I still found myself pregnant. My husband was more impatient than me, as he had no longer motivation to go to the office (it was nearly year-end long holiday and he's longing to have the baby as much as myself). Days went by, school started on the 4th of January for our eldest and that day my husband had an important meeting to attend...and the baby decided that it was a good day to show up!

Wednesday morning, 4 January 2017, I went to the park nearby with Sophie and my mother, this time we did one whole round, more or less 2 kilometers in distance. Later, I went out to fix my phone network and on the way home, I bought freshly-cut pineapples from the street vendor, hoping that the pineapples would trigger the labour. Nothing happened the whole morning, not until 2 pm when I started to feel the contractions, 15-20 minutes apart. I decided to take shower and get prepared. Sophie had her nap right after lunch and in an hour or so, David would be home, too. I called the hospital to check whether I should come now or later, then called my husband in the middle of his meeting. Around 3 pm, David's school bus arrived and 3.40 pm, off we went to the hospital. David was fine when we hugged and kissed him, but later my mother said, he looked worried..oh dear, how I wished I could hug him tight :(. In the taxi, my contractions were getting intense, 5-6 minutes apart but I was in full control, unlike my husband who looked worried that we could not make it to the hospital. Luckily, the traffic that very afternoon was fluid, so we arrived at the hospital just before 4 pm. We were admitted to my Obgyn's room and she confirmed that I was already 5-6 cm dilated. First she said, the baby might arrive within 2-3 hours, but later she corrected that the delivery might happen within 1-2 hours.

We proceeded to the birth room and the staff performed usual procedures for delivery. I requested enema in the first place, but my Obgyn said it was not necessary. Not long after that, my water was broken to speed up the labour. Somehow, hypnosis and always being overdue has helped me to go through the contractions with enthusiasm and positive thoughts. The mindset "to meet the baby as soon as possible" did really help. Nevertheless, during the transition stage (8-9 cm dilated), which is the most painful, I felt being pushed to my limits resulting the thought "why I want to do this (natural) birth all over again" despite the fact that there are painkillers available. All of a sudden, in between strong contractions, I had the urge to push. First push, second push, third push, and voila...there she was...crying out loud...Alhamdulillah, Praise be to Allah SWT for His blessings, for the smooth pregnancy, safe delivery, and healthy baby. I was also lucky to have been taken care by Dr. Prapee Tangnavarad since our first child and she jokingly said "You're getting better and better each time" :D...She is definitely our best choice!

Baby Lucie, joined our little family on Wednesday at 17.46 pm, less than two hours since we arrived at the hospital, 51 cm long and weighed 3,570 kgs. She is now nine weeks old and has been the family's center of attention. May Allah SWT bless you with love and joys abundantly, protect you all the way, and may you become the lights of your life and grow up with kindness, strength and wisdom of a beautiful and loving person inside out, shaleha and qurrata'ayun, aamiin.

Monday, 6 March 2017

Kue Pukis Geulis yang Gampang dan Enak

Satu lagi cemilan favorit yang gampang membuatnya, yaitu kue pukis. Jaman kecil dulu, setiap kali dibawa jalan-jalan ke kawasan Alun-Alun Bandung, saya paling senang jajan kue pukis yang diatasnya ditaburi coklat meses. Biasanya penjual kue pukis juga membuat kue bandros, kue berbahan tepung beras, santan dan kelapa parut, yang merupakan favorit ibu saya.

Semangat membuat pukis berawal dari seorang teman yang membawa kue pukis buatan asistennya ke pengajian. Dengan seijin Dede, sang teman, saya menuliskan resep kue pukis geulis (karena yang empunya resep alias asistennya Dede bernama Lilis) di blog ini. Resep di bawah ini bisa menghasilkan 50 potong pukis.

Bahan:
- 600 gr terigu (all-purpose)
- 300 gr gula pasir (saya kurangi gulanya hingga 225 gr)
- 1/2 sdm garam
- 5 butir telur
- 800 ml santan (saya ganti penggunaan santan dengan susu)
- 150 gr margarin cair
- 1 sdm fermipan
- 1/4 kaleng susu kental manis (saya kurangi jadi 3 sdm)

Cara membuat:
1. Campur adonan kering (terigu, gula pasir, garam, fermipan) kemudian sisihkan
2. Campur telur dan margarin cair
3. Tambahkan santan sedikit-sedikit berselang-seling dengan adonan kering
4. Biarkan 2 jam, kemudian masukkan adonan dalam cetakan pukis
5. Gunakan api sedang (3-4 untuk kompor listrik) dan tutup cetakan selama 1-2 menit
6. Buka tutup cetakan, taburi dengan coklat meses atau keju, sesuai selera, tunggu sampai adonan matang

Malam ini saya mencoba membuat setengah resep, dengan beberapa modifikasi, dan ternyata sukses.
Berikut resep modifikasi versi saya:

Bahan (untuk 25 potong pukis):
- 300 gr terigu (all-purpose)
- 100 gr gula organik
- 1/4 sdm garam
- 3 butir telur
- 400 ml susu (saya sengaja mengganti santan dengan susu)
- 75 gr mentega cair
- 1/2 sdm fermipan
- 1 sdm susu kental manis

Pukis rasa coklat dan keju siap disantap
Selamat mencoba!

Thursday, 10 November 2016

Travel Log Column Winner of The Month Air Asia Travel3Sixty Inflight Magazine: In the Presence of Beauty

Siapa sangka kalau tulisan perjalanan kami ke Siem Reap, Kamboja yang saya kirim ke rubrik Travel Log Column di Majalah Travel3Sixty terpilih menjadi pemenang? Senangnya mendapatkan kejutan tidak terduga. Cerita lengkapnya dapat dibaca di tautan ini.



 Terima kasih Travel3Sixty :)

Wednesday, 9 November 2016

TravelXpose Edisi Oktober: Menapaki Negeri Kastil di Lembah Loire

Wilayah lembah Loire menjadi sangat akrab dengan saya selama tujuh tahun terakhir, karena disana mertua tinggal yang sekaligus merupakan tempat tujuan kami jika pulang kampung ke Perancis. Keindahan alam di wilayah ini memang tidak dapat dipungkiri, apalagi dengan ratusan kastil-kastil bersejarahnya yang seolah membawa kita ke negeri mimpi. Cantiknya lembah Loire diungkap dalam majalah TravelXpose edisi Oktober 2016.


Selamat bertualang ke negeri dongeng di Lembah Loire!

Monday, 3 October 2016

Terdampar di Luxembourg

Awalnya, perjalanan kami selama dua malam di Luxembourg direncanakan berkisar di area pedesaannya dekat tempat kami akan menginap, yaitu Larochette-Medernach. Apa daya, pada malam ketibaan kami disana, Luxembourg diguyur hujan es yang memaksa kami berhenti di pinggir jalan. Ketika hujan mereda dan kami bermaksud meneruskan perjalanan, kami baru sadar kalau telah terjadi banjir besar, bahkan di mulut jalan menuju Larochette-Medernach ada sebuah mobil yang terendam sementara pemiliknya sedang menunggu bantuan datang. Beruntung, malam itu, ada akses wi-fi milik orang baik hati yang memungkinkan kami membatalkan akomodasi di Larochette-Medernach dan kemudian mencari akomodasi lain yang terletak di daerah bebas banjir. Akhirnya, setelah hampir empat jam berada dalam ketidakpastian, kami bisa melanjutkan perjalanan ke kota Luxembourg dan tiba di hotel larut malam di bawah hujan rintik-rintik.  

Keesokan harinya, dengan mempertimbangkan cuaca di Luxembourg yang kurang bersahabat, akhirnya kami memperpendek waktu kunjungan dan langsung kembali ke Perancis pada hari yang sama. Waktu yang hanya setengah hari kami gunakan untuk berkeliling pusat kota saja.

Negara seluas 2,587 kilometer persegi ini terbagi menjadi lima wilayah, yaitu Les Ardennes et leurs Parc Naturels (berbatasan dengan Belgia dan Jerman), Luxembourg, la Capitale et ses environs (berbatasan dengan Belgia), Region Mullerthal, Petite Suisse Luxembourgeoise (termasuk di dalamnya Larochette, tujuan awal kami). La Moselle (masuk kawasan Schengen yang berbatasan dengan Perancis dan Jerman), serta Les Terres Rouges (berbatasan dengan Belgia). 

Pusat kota di akhir pekan cukup ramai, mulai dari kursi di restoran/kafe yang penuh terisi, pasar akhir pekan, hingga pertunjukan kelompok musisi mempertontonkan keahlian mereka. Pusat kota umumnya dipenuhi deretan toko-toko mahal dan restoran chic dengan pengunjung yang tak kalah chic-nya. Tempat tinggal keluarga kerajaan Luxembourg juga terdapat di pusat kota, yaitu Grand Ducal Palace, istana bergaya Renaissance dari abad ke 16 yang dibuka untuk umum selama musim panas ketika keluarga kerajaan pergi berlibur. Selain itu, ada pemutaran film yang dilakukan di salah satu bagian istana. Menarik ya? tempat tinggal keluarga kerajaan juga bisa difungsikan sebagai ruang publik. Apalagi mengingat lokasinya yang terletak di jantung kota Luxembourg, dimata saya istana ini berbeda dengan istana tempat tinggal keluarga kerajaan yang umumnya berpenjagaan ketat dengan daerah steril beberapa ratus meter jauhnya.

Yang juga mengesankan untuk saya selama berada di Luxembourg adalah pasar barang bekas yang menjual koleksi barang vintage yang tentu saja harganya jauh dari kata murah. Mulai dari lemari antik, peralatan makan terbuat dari perak dan kristal, hingga piring-piring cantik yang saya bayangkan dipakai di meja makan para bangsawan jaman dahulu ada di pasar ini.
 
Tiga gadis muda yang mempertontonkan keahlian mereka bermusik
Sayur-mayur di pasar akhir pekan


Takjub dengan bawang putihnya yang berukuran raksasa

Grand Ducal Palace yang terletak di pusat kota
Pintu masuk istana Grand Ducal

 

Surganya penggemar produk Villeroy & Boch...jadi bermimpi punya rumah sendiri :)



Kelompok musisi lain yang sedang unjuk keahlian

Keramaian di pasar akhir pekan

Cantik-cantik...dan tentu saja mahal!!!

Bersepeda asyik keliling pusat kota
Jauh-jauh ke Luxembourg, ketemunya sama gajah lagi, gajah lagi :p
Ternyata ada juga kabel listrik melambai-lambai di pusat kota Luxembourg :)

Saturday, 24 September 2016

Suatu Sore di Château de l'Islette

Château de L'Islette (dibaca: syato de lilet) adalah salah satu kastil di kawasan lembah Loire, tidak jauh dari kastil besar nan terkenal Azay-le-Rideau. L'Islette atau dalam bahasa Perancis berarti pulau kecil, disebut-sebut sebagai versi mini dari Azay-le-Rideau merupakan rumah keluarga Pierre-Andre dan Benedicte Michaud selama bulan Oktober - April setiap tahunnya, dan dibuka untuk umum antara bulan Mei - September sementara keluarga Michaud pindah tempat tinggal ke sebuah rumah tidak jauh dari kastil berada.

Dibangun pada 1530 oleh René de Maillé, seorang anggota keluarga bangsawan Touraine yang turun temurun memiliki kastil ini selama 3 abad, l'Islette juga terkenal sebagai tempat kisah percintaan antara Camille Claudel yang kala itu berusia 17 tahun dengan pemahat terkenal Auguste Rodin yang sudah berusia 41 tahun pada abad ke-19. Kisah terlarang antara murid dan guru yang berlangsung selama 10 tahun ini berakhir karena Camille sadar sang guru tidak akan pernah meninggalkan pasangannya demi sang kekasih gelap, sedih ya? :(

Meski berukuran mungil, kastil l'Islette mempunyai ruangan utama atau Great Hall yang indah dan hangat lengkap dengan perapian yang megah. Foto-foto keluarga Michaud, pemiliknya saat ini tampak tersebar dimana-mana. Halaman kastil yang luas dihiasi dengan hamparan kebun bunga mawar dan kandang kelinci di satu sudut menegaskan bahwa kastil ini merupakan kastil hunian. Sungai Indre yang membelah halaman kastil memungkinkan pengunjung menikmati area sekitar kastil sambil mendayung perahu mengikuti alur sungai. Pengunjung juga dapat bersantai dan piknik di atas rumput hijau, duduk di kursi-kursi taman atau kursi panjang tempat berjemur yang banyak terdapat di sepanjang tepian sungai, membuat kastil ini nyaman dan hangat untuk dikunjungi. 

Sungai Indre yang melintasi halaman kastil
Kastil l'Islette
Camille Claudel
Auguste Rodin
The Great Hall
Salah satu kamar tidur anak keluarga Michaud
Kamar tidur utama
Perapian yang mewah
    
 



Kastil ini juga menyewakan kostum untuk anak-anak hingga orang dewasa

Friday, 23 September 2016

Napak Tilas Singapura di Bulan Ramadhan

Dalam rangka memanfaatkan voucher tiket pesawat yang akan habis masa berlakunya dalam 3 bulan, kami memutuskan untuk kabur sejenak dari Bangkok pas bulan Ramadhan tahun ini. Satu-satunya tujuan yang memenuhi kriteria yaitu cukup dekat dan ada banyak makanan enak untuk berbuka puasa apalagi kalau bukan Singapura, selain simpanan kenangan manis sewaktu masih tinggal disana.

Kalau bicara Singapura, rasanya sulit untuk realistis dalam merencanakan agenda. Biasanya kami punya begitu banyak rencana dengan sedikit waktu. Mau bertemu A, B, C, ingin makan ini itu, ingin napak tilas ke tempat-tempat yang dulunya merupakan bagian dari keseharian saya, mau mengunjungi A, B, C, dan seterusnya..pokoknya tidak pernah ada habisnya. Tapi karena kali ini, kami hanya punya waktu tiga hari dua malam dan sedang bulan Ramadhan pula, agenda menyusut menjadi hanya bertemu teman-teman di tempat saya bekerja dulu, mengunjungi Singapore Zoo, dan napak tilas ke Jurong Point, termasuk naik bis 179B (ini khusus diagendakan buat si sulung yang senang sekali naik bis tingkat) dan makan sup ikan di food court Jurong Point (yang dulunya bernama) Banquet dan sekarang berubah nama menjadi Cantine.

Satu malam khusus didedikasikan untuk bertemu teman-teman, termasuk berbagi kabar terbaru masing-masing plus seputar orang-orang kantor yang kami kenal :D. Meeting these wonderful people always becomes one of the reasons why I love coming back to Singapore!

Keesokan harinya, kami menghabiskan seharian penuh di Singapore Zoo. Walaupun ada banyak atraksi menarik, pilihan kami jatuh pada unlimited tram rides dengan ongkos SGD 5 dan kami memutari kompleks kebun binatang sebanyak 3-4 kali putaran :), murah meriah sekaligus menghibur dan sekalian meluruskan kaki setelah berjalan kaki mengitari area kebun binatang. Menjelang sore, kami menuju stasiun MRT Boon Lay untuk napak tilas di Jurong Point. Serentak semua kenangan manis 7 tahun lalu muncul kembali, belanja mingguan di Fairprice bersama teman serumah, dilanjutkan nongkrong sebentar di kedai kopi favorit si teman, dan pulangnya membawa bekal cemilan gorengan Old Chang Kee, atau membungkus makanan dari kedai halal di stasiun Boon Lay. Jurong Point banyak berubah dari terakhir kali saya kesana, semakin padat dan ramai, namun satu hal yang tidak berubah, harum kue coklat dari kios Famous Amos masih tetap sama :). Hehe, kenangannya tidak jauh-jauh dari makanan ya?

Karena sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk langsung pulang ke hotel. Setelah berbuka puasa di kamar, kami keluar mengunjungi bazaar makanan di dekat Sultan Mosque yang sayangnya sebagian besar sudah mau tutup. Akhirnya malam itu ditutup dengan makan nasi rames yang sempat saya beli di Cantine, nasi biryani, teh tarik, dan coklat dingin...yummm...

Liburan singkat kami di Singapura berakhir sudah meski tanpa napak tilas naik bis tingkat 179B yang lewat apartemen sewaan tempat saya pernah tinggal dan kawasan universitas tempat kerja dulu :( :(. Semoga di lain waktu, kami bisa datang lagi kesini.

Sampai jumpa lagi, Singapura :)

Thursday, 22 September 2016

Bermain sambil Belajar di Taman Arkeologis Angkor

Siapa yang tidak kenal Angkor Wat? Candi terbesar di kompleks taman arkeologis Angkor, Siem Reap, Kamboja ini dibangun abad ke-12 pada masa pemerintahan raja Suryavarman II. Angkor Wat adalah candi yang paling terkenal dimana pengunjung dapat menyaksikan bukti sejarah kejayaan kerajaan Khmer dan mengikuti kisah peradaban Hindu kuno dalam bentuk gambar yang dipahat di dinding batu (relief).   


Taman Arkeologis Angkor adalah Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, peninggalan kerajaan Khmer yang berkuasa antara abad ke-9 hingga abad ke-15. Saratnya nilai sejarah di Angkor Wat membuat kami serasa sedang mengikuti pelajaran sejarah, sedangkan bagi si sulung, pengalaman mencari dan menebak gambar aneka makhluk hidup yang banyak terdapat di relief dinding candi menjadi hiburan istimewa. 

Pemandangan tanah coklat dan gersang mendominasi perjalanan kami dari bandara internasional Siem Reap menuju kawasan Angkor Wat. Anak-anak begitu senang menumpang tuk-tuk, sejenis bendi beroda dua yang ditarik sepeda motor, kendaraan yang lazim ditemui di Kamboja. Keduanya duduk santai di pangkuan sambil melihat kawanan sapi dan kerbau di sepanjang jalan dalam terpaan angin musim kemarau yang kering. 

Berlibur bersama anak-anak ke tempat seperti Angkor Wat bukanlah hal biasa, namun kedua balita kami ternyata sangat menikmatinya. Tak disangka, selama empat hari disana, kami kerap bertemu keluarga lain yang membawa anak-anak kecil dan balita, padahal kompleks Angkor bukanlah surga bagi anak-anak semacam Disneyland yang dipenuhi aneka wahana hiburan menarik. Lalu, apa saja kegiatan yang dapat dilakukan anak-anak selama berada disini? 

Bermain tebak gambar
Jika anak-anak sudah mengenal aneka bentuk benda dan makhluk hidup, Angkor Wat dan Bayon dapat menjadi tempat bermain yang seru. Relief di keempat sisi dinding Angkor Wat diantaranya berkisah tentang perang Kurusetra antara Pandawa dan Kurawa yang terkenal dalam epik India, Mahabharata. Rangkaian kisah para dewa dalam agama Hindu tersebut dipahat dengan sangat indah dan detil sepanjang 800 meter. Sedangkan di Bayon, relief candinya berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Khmer dan jumlahnya lebih bersahabat untuk anak-anak sehingga mereka tidak sempat merasa bosan diajak berkeliling. Seperti pada salah satu sore yang kami lewatkan di Bayon, David berseru saat ia menemukan gambar serombongan orang, gajah, ikan, udang, dan hewan laut lainnya pada relief di salah satu sisi bangunan, senangnya bukan main.   

Bertemu kawanan binatang
Hutan kecil yang melingkupi Taman Arkeologis Angkor adalah rumah bagi kawanan babi dan monyet. Belum lagi kawanan gajah yang membawa pengunjung naik turun Bakhaeng Hill, tempat untuk melihat matahari terbenam, ataupun berkeliling dari satu candi ke candi lainnya. Memasuki kawasan Angkor Thom, dimana terdapat candi Bayon, Royal Palace, dan Terrace of the Elephants, anak-anak terpukau menyaksikan beberapa ekor gajah sekaligus yang sedang melintas tidak jauh dari tuktuk yang kami tumpangi atau ikut mengantri menunggu giliran melewati gerbang Angkor Thom yang sempit. Masih di Bayon, beberapa ekor angsa juga terlihat sedang berkeliaran, membuat si kecil gemas ingin mengejarnya. 

Menjadi petualang kecil
Di kompleks candi Preah Khan dan Ta Phrom, David terheran-heran melihat akar pohon raksasa membelit bangunan candi. Di lain waktu, ia akan sibuk menghitung patung-patung yang ia lihat, meminjam kamera poket untuk memotret objek yang ia suka, melompati batu-batu pijakan, atau memungut batu-batu kecil yang ia temukan. Sementara adiknya yang baru bisa berjalan, sibuk dengan kegiatan panjat memanjat dimanapun ia menemukan undakan. 

Liburan kami di Angkor usai sudah, namun kenangan menumpang tuk-tuk, melihat gajah, dan pohon raksasa masih lekat dalam ingatan si kecil. Catatan perjalanan itu saya simpan rapi untuk saya ceritakan suatu hari tentang serunya pengalaman mereka menjelajahi bukti peradaban manusia di masa lalu.

Wednesday, 21 September 2016

Gegar Budaya: Kisah-kisah Konyol di Negeri Orang


Ada yang pernah mengalami gegar budaya atau culture shock? Menurut Wikipedia, gegar budaya adalah pengalaman yang diperoleh seseorang ketika berpindah lingkungan ke tempat baru yang sama sekali berbeda dengan tempat tinggal asalnya. Masalah-masalah yang umum dihadapi dalam gegar budaya diantaranya: kebanyakan menyerap informasi, kendala bahasa, kesenjangan generasi, teknologi, keahlian, kangen tempat tinggal asal (homesickness), hingga kemampuan untuk bereaksi terhadap sesuatu (response ability).

Kalau diingat-ingat sekarang, pengalaman saya di masa-masa awal melangkahkan kaki keluar Indonesia sampai sekarang seringkali menjadi bahan tertawaan kami berdua. Konyol, tapi juga menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga.

Matahari bersinar cerah dan langit biru di Eropa TIDAK BERARTI HANGAT!
Pertama kali saya keluar dari Indonesia adalah 9 tahun lalu, ketika saya mendapat kesempatan melanjutkan sekolah ke negerinya mbak Kate Middleton yang cantik jelita itu. Saya datang di penghujung bulan September yang merupakan musim gugur. Dari pembekalan sejak di Jakarta, kami sudah diberitahu tentang perkiraan suhu udara pada saat kedatangan dan saya sudah mempersiapkan baju-baju hangat yang diperlukan. Suami (waktu itu statusnya masih pacar) khusus menjemput di bandara Heathrow dengan menggelar karpet merah bertabur bunga mawar, mengantarkan saya sampai asrama dan menemani minggu pertama saya di Bristol, dan setiap harinya ulang-alik Bristol-Bath karena ia berkemah di daerah Bath, kurang lebih 40-60 menit perjalanan dengan mobil. Pada saat kedatangan, ia ingin menunjukkan kota Bath yang cantik, maka berhentilah kami di Bath. Dari dalam mobil, ia sudah mengingatkan untuk mengenakan baju hangat karena udara di luar dingin, sementara saya bersikukuh tidak perlu karena toh matahari bersinar cerah, iapun tidak memaksa. Eh, benar saja, ternyata beberapa langkah dari mobil, saya mulai menggigil kedinginan, terang saja, seumur hidup tinggal di negara tropis, ini pertama kalinya disentuh udara bersuhu 16 derajat, bagaimana tidak menggigil?? Dengan perasaan malu, saya terpaksa menerima pinjaman baju hangatnya. Di kemudian hari, kejadian ini sering menjadi lelucon kami berdua, suami kerap bergurau, "jangan sok tahu, makanya percaya sama orang Eropa" :p

Minum air dari toilet
Masih di negara yang sama, dari sejak pembekalan kami juga sudah diinformasikan bahwa air keran di negara tujuan aman diminum. Tapi tetap saja, ketika si pacar keluar dari toilet sambil bilang bahwa ia sudah mengisi ulang botol air minum, ekspresi muka saya tidak bisa bohong sambil berkata lugu "Apa? Isi air minum di toilet?" Beruntunglah rasa sayangnya (saat itu) cukup besar untuk tetap sabar dan tidak menertawakan pertanyaan konyol saya sambil menjelaskan kembali maksud ucapannya.

Mesin parkir dikira telepon umum
Kejadian ini dan dua kejadian berikutnya masih berlokasi di negara yang sama. Ceritanya, pemandu pribadi saya mengajak berjalan-jalan keliling kompleks universitas. Pas melewati sebuah mesin hitam yang mirip telepon umum di Indonesia namun tanpa gagang teleponnya, saya otomatis bilang "ih, telepon umumnya lucu" yang langsung ditimpali "Oh, itu mesin untuk bayar parkir, bukan telepon umum" :D :D

Ditawari kantung plastik di toserba
Meski sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 6 SD, ternyata pertama kali saya mendengar orang berbicara dalam aksen British yang kental, saya sempat terlongo tidak mengerti. Selama sekolah dan bekerja di Indonesia, saya hanya pernah bertemu dengan orang-orang yang bahasa Inggrisnya lumayan bisa dimengerti. Saat akan membayar, kasirnya bertanya apakah saya mau pakai kantung plastik atau tidak? Sejenak saya sempat bingung tidak mengerti dan minta ia mengulang lagi pertanyaannya sampai akhirnya saya paham yang ia maksud. Yang membuat saya bingung, pertama, aksenya, dan yang kedua, pertanyaannya apakah saya membutuhkan kantong plastik, karena terakhir kali sebelum saya meninggalkan Indonesia, kalau belanja di toserba, tanpa ditanya, sudah pasti langsung diberi kantung plastik.

Makan di dalam kendaraan
Pada satu liburan Paskah, saya berdua teman pergi berlibur ke Skotlandia. Di bis yang membawa kami ke sebuah kota kecil, hanya ada kami berdua dan sepasang suami-istri. Sebelum naik bis, kami sempat membeli macaroni cheese di terminal untuk makan siang. Dalam perjalanan, perut saya terasa lapar dan otomatis teringat bekal makan siang yang dibawa. Tanpa sungkan, saya segera menyantapnya sampai beberapa saat kemudian, saya sadar kalau aroma macaroni cheese tersebut sudah menguar kemana-mana. Dengan perasaan malu, saya berhenti makan meski belum selesai. Tidak ada yang menegur sih, tapi saya baru sadar kalau naik kendaraan umum di luar negeri, rata-rata penumpang dilarang makan minum, berbeda dengan pengalaman saya naik kendaraan umum di Indonesia yang tidak terhitung jumlahnya sambil menyantap lumpia basah, gorengan, batagor, dan makanan enak-enak lainnya.

Gagap naik bis
Walaupun menjadi negara tetangga terdekat, saya baru benar-benar menginjakkan kaki di Singapura sekitar 7 tahun lalu. Pertama datang kesana, saya membeli kartu pas EZ Link untuk memudahkan naik transportasi umum. Teman saya bahkan bilang, kalau sudah familiar dengan London Underground, memahami jalur transportasi di Singapura bukan hal sulit. Meski begitu, tetap saja saya melakukan kekonyolan sewaktu naik bis kota untuk pertama kalinya. Seharusnya saya menempelkan kartu tersebut pada saat naik DAN turun bis, namun karena tidak tahu, sewaktu turun saya tidak menempelkan EZ Link pada mesin dekat pintu keluar, yang berarti saya lalai membayar ongkos bis. Tentu saja sistem kartu pas ini sudah memperhitungkan kecerobohan seperti yang saya lakukan, tapi tetap saja peristiwa ini memalukan kalau diingat-ingat. 

Ditolak pemilik toko cinderamata
Di suatu liburan musim panas, kami mengunjungi kawasan yang populer dekat kota Bordeaux, Perancis, Arcachon namanya. Waktu menunjukkan hampir tengah hari ketika kami memasuki sebuah toko cinderamata. Alangkah kagetnya saya ketika si pemilik toko tanpa berbasa-basi langsung mengatakan bahwa tokonya akan segera tutup karena sudah waktunya makan siang. Rasa kaget yang diikuti perasaan sebal karena "ditolak" membuat kami segera mengangkat kaki dari toko tersebut. Meski sekarang sudah terbiasa dengan gaya bicara tanpa basa-basi, saat itu gaya bicara pemilik toko yang lugas, walau disampaikan dengan ramah, membuat saya sebal bukan main. Di Indonesia, mana ada calon pembeli yang ditolak masuk sebuah toko karena datang menjelang makan siang? Hm, atau jangan-jangan ada ya???  

Tukar menukar kartu nama
Kejadian lucu ini berawal dari pertemuan saya dan teman dengan bosnya teman kerja kami di satu proyek. Teman kerja kami ini bekerja di perusahaan Jepang dan kebetulan atasannya adalah orang Jepang. Setelah dipersilakan masuk ke ruangan pak bos, saya yang berada di baris terdepan dengan penuh percaya diri langsung menyodorkan tangan untuk salaman, sementara pada saat bersamaan pak bos menyerahkan kartu nama beliau dengan khidmat dan posisi sedikit membungkuk. Terbayang betapa kikuknya saya saat itu. Setelah beberapa detik berada di tengah kebingungan dengan tangan terjulur tanpa mendapat sambutan, akhirnya saya menarik tangan kembali dan memutuskan untuk mengambil kartu nama beliau. Sepulang dari ruang pak bos, saya dan teman menertawakan kejadian tadi, contoh nyata perbedaan budaya yang biasanya hanya saya lihat di iklan televisi atau media cetak.

Adakah yang punya pengalaman seru seputar soal gegar budaya ini?

Tuesday, 20 September 2016

2 Jam di Parlamentarium


Salah satu tujuan jalan-jalan kami sewaktu di Brussels, Belgia saat liburan musim panas tahun ini adalah Parlamentarium. Apa itu Parlamentarium? Parlamentarium adalah bagian dari kompleks kantor Uni Eropa, tempat masyarakat umum dapat mengetahui lebih jauh tentang kegiatan Parlemen Uni Eropa, atau lazimnya disebut visitor centre. Di tempat yang tiket masuknya gratis ini, pengunjung bisa menikmati media 3D yang interaktif, disertai foto-foto pendukung sekaligus kesempatan untuk merasakan langsung bagaimana berada di tengah-tengah suasana sidang parlemen Eropa.

Terdapat enam ruangan yang terbagi dalam tiga lantai disini. Ruangan pertama adalah "Tunnel of Voices" yaitu 24 bahasa resmi yng digunakan di Uni Eropa. Turun ke ruangan kedua adalah sejarah Eropa dan berdirinya Uni Eropa 50 tahun yang lalu. Perjanjian-perjanjian penting dan kutipan negarawan Eropa terkenal pada masanya juga terpampang di ruangan ini. Ruangan ketiga bertema "Today and Tomorrow" menceritakan isu-isu yang berkembang saat ini di Eropa dan tantangan yang dihadapi beserta foto-foto anggota parlemen saat ini sebanyak 751 orang. Ruangan keempat dengan tema "United in Diversity" mengangkat kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sebanyak 28 negara anggota Uni Eropa. Ruangan kelima dirancang sedemikian rupa menyerupai ruang sidang parlemen dengan layar di sekeliling kita yang menampilkan suasana sidang sesungguhnya di Strasbourg dan Brussels, ruangan yang paling menarik menurut saya. Bagaimana tidak menarik? di ruang tersebut, kita menyaksikan langsung (via layar tentunya) bagaimana para anggota parlemen mengemukakan pendapat, setuju atau tidak terhadap suatu bahasan topik, sementara kita duduk di ruangan yang sama menyaksikan mereka bekerja. Ruangan terakhir adalah tentang "Daily Life" yang amat sangat nyaman dengan sofa-sofa besar dan empuk dilengkapi monitor untuk menyaksikan testimoni masyarakat Eropa terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh Parlemen.

Brexit tentunya menjadi isu terhangat disini
Duduk sebagai peserta "sidang parlemen"
Kalau tidak ingat bawa dua anak kecil, rasanya kami bisa duduk berlama-lama disini :)

Parlamentarium menyediakan media hiburan dalam bentuk permainan Luna untuk anak-anak usia 6 - 10 tahun dan Intergalactic Talent Show untuk usia 10-14 tahun. Sementara bagi anak-anak berusia 14 tahun ke atas dapat mencoba permainan Role Play dimana mereka dapat berperan sebagai politisi. Buka setiap Senin pukul 13.00-18.00, Selasa - Jum'at 09.00 - 18.00, dan Sabtu - Minggu 10.00 - 18.00, Parlamentarium tutup setiap tanggal 1 Januari, 1 Mei, 1 November, dan 24, 25, serta 31 Desember.

Informasi lebih lengkap dapat dilihat di www.europarl.europa.eu/parlamentarium#parlamentarium

PARLAMENTARIUM
Willy Brandt building
Rue Wiertz / Wiertzstraat 60
B-1047 Brussels
Belgium

Monday, 12 September 2016

Cake Kukus Ketan Hitam

Dapat lagi resep super gampang dari Pipit, suhu perkuean yang selalu bermurah hati kasih resep-resep cemilan enak, terima kasih Pipit :). Kali ini yang jadi percobaaan adalah cake kukus ketan hitam karena punya stok tepung ketan hitam banyak hasil kiriman dan lungsuran. Resep yang Pipit kasih berasal dari blog ini. Bahannya sedikit, pengerjaannyapun mudah.

Bahan:
3 butir telur
100 gr gula
125 gr tepung ketan hitam
100 gr margarin dilelehkan/minyak (saya pakai unsalted butter)

Cara membuat:
1. Panaskan kukusan
2. Kocok telur dan gula sampai mengembang (high speed mixer 10 menit)
3. Tambahkan tepung ketan hitam sambil diayak dan diaduk rata
4. Masukkan margarin/mentega leleh/minyak sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan
5. Tuang di loyang bundar diameter 18 cm yang dioles margarin/mentega dan dialas kertas roti
6. Kukus 30-35 menit sampai matang dengan api sedang - rendah.
7. Tutup panci kukusan dibungkus kain bersih agar uap air tidak menetes ke kue.

Akhirnya bisa juga buat cake kukus ketan hitam sendiri :)

Meski penampakan di fotonya kurang menarik, percaya deh, cake kukus ketan hitam ini rasanya legit dan makannya tidak cukup satu potong. Tertarik mencoba?