Sunday, 31 March 2019

Tahun Baru Tempat Baru

Namaste!

Tiga bulan sudah kami tinggal di negara atap dunia, Nepal. Ya, sejak akhir Desember 2018 lalu kami resmi meninggalkan Bangkok, Thailand yang sudah menjadi rumah selama 7 tahun. Banyak sekali kenangan di ibukota negeri gajah putih tersebut, apalagi Bangkok adalah saksi membesarnya keluarga kami, dari dua menjadi lima. Semua kenangan manis di Bangkok kami bungkus dan simpan baik-baik, dan selanjutnya mengepak koper untuk melanjutkan kehidupan di tempat baru. Keputusan pindah ke Nepal terjadi pada pertengahan tahun lalu, saat kami sedang berlibur di tengah indahnya alam Perigord. Jeda waktu yang singkat untuk membuat keputusan, ditambah minim akses internet saat itu (namanya juga lagi liburan) membuat kami hanya bisa mengucap "Bismillah" dan berharap bahwa keputusan ini adalah yang terbaik dan Insya Allah membawa berkah untuk kami sekeluarga.

Alhamdulillah, selama tiga bulan ini begitu banyak hal yang kami syukuri, dan kami sekeluarga betah tinggal di Nepal. Mulai dari keberuntungan memperoleh rumah tinggal idaman yang baru saja selesai dibangun, drama pemanas tidak jalan pada malam pertama kami tidur di rumah baru (kami datang saat musim dingin, dimana suhu malam hari bisa mencapai 4-5 derajat), debu yang kuantitasnya mencengangkan, anak-anak yang senang di sekolah barunya, hingga kemudahan mendapatkan asisten rumah tangga yang terpercaya, plus langit biru yang menaungi hampir setiap hari, berbonus pemandangan gunung es nan menakjubkan di kejauhan bila cuaca mendukung.

Kami tinggal di wilayah Lalitpur (dulunya dikenal juga dengan nama Patan), kota terbesar ketiga setelah Kathmandu dan Pokhara, yang terletak di lembah Kathmandu. Berada di ketinggian diatas 1,500 meter di atas permukaan laut, musim dingin di Nepal tentunya berbeda dengan musim dingin di negara-negara pada ketinggian yang lebih rendah. Tidak heran, minggu-minggu awal kulit tangan saya sampai luka berdarah saking keringnya, padahal sudah diolesi krim pelembab khusus untuk musim dingin.

Pemandangan dari jendela kamar 
Pemandangan dari loteng
Kalau di Bangkok, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah gedung-gedung, kalau di Patan, sejauh mata memandang, rangkaian pegunungan yang terlihat. Semenjak pindah kesini, selera gambar si sulungpun bertambah menjadi rangkaian pegunungan es. Jadi jangan heran kalau hasil karya terbarunya adalah lukisan menara Eiffel dengan latar belakang Mt. Everest, yang menurut pembuatnya adalah karya kreatif, sesuai imajinasi :). Akhir kata, postingan ini ditutup sesuai dengan perasaan saya setiap kali melihat keindahan rangkaian pegunungan es yang menjulang tinggi di balik jendela kamar.

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. 17:37)

Berburu Makanan Halal di Bangkok

Bangkok adalah destinasi wisata populer yang sudah mendunia, tidak terkecuali bagi pejalan Muslim. Meski mayoritas penduduknya adalah pemeluk Buddha, ibukota Thailand ini sangat akomodatif terhadap pejalan Muslim, terutama dalam hal memperoleh makanan halal. Menetap di Bangkok selama hampir lima tahun membuat pengetahuan saya tentang tempat-tempat makan halal disini semakin bertambah. Nah, ingin tahu dimana saja tempat makan enak sekaligus halal dan terjangkau, yang wajib disambangi di Bangkok?

Sebagai salah satu kebutuhan dasar, urusan makan sudah tentu selalu mengikuti kemanapun kita pergi. Untuk komunitas Muslim yang bepergian, biasanya tantangan akan muncul ketika harus berburu makanan halal. Di Bangkok, ibukota Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, ternyata mencari tempat makan halal tidak sesulit yang dibayangkan. Mulai dari warung kaki lima, pasar, sampai di pusat perbelanjaan, kedai makanan yang telah mendapat sertifikasi halal dari The Central Islamic Council of Thailand hampir dipastikan dapat ditemukan. Ada pula restoran-restoran besar dan restoran hotel yang bersertifikasi halal atau setidaknya menyajikan menu halal. Utamanya di sekitar kawasan tempat tinggal masyarakat muslim Thai di Charoen Krung, Ramkhamhaeng, Phetchaburi, dan Phaya Thai, aneka pilihan makanan khas Thai dan cemilan yang tersaji di kedai pinggir jalan sungguh menggoda untuk dicicipi.  

Kedai Makanan Halal sepanjang soi 7 Phetchaburi Road
Mudah dicapai dengan skytrain atau BTS, alat transportasi massal di Bangkok, Phetchaburi soi 7 terletak tidak jauh dari stasiun BTS Ratchathewi (Terletak di jalur Sukhumvit Line dengan pintu keluar No. 3). Phetchaburi soi 7 (soi berarti gang dalam bahasa Thai) yang merupakan tempat tinggal komunitas Muslim Thai dari Thailand Selatan adalah surganya makanan kaki lima halal sejak pagi  hingga malam hari. Disambut kedai kopi dan roti bakar di mulut gang yang berseberangan dengan Masjid Darul Amman, salah satu masjid historis di Bangkok, deretan penjual makanan seolah tidak ada habisnya. Aneka roti dan kudapan ringan, bubur ayam, nasi dengan aneka lauk berbumbu disajikan mirip nasi rames, bakso bakar dicocol saus, sosis, pangsit goreng, susu jagung, hingga teh susu khas Thai (cha yen) siap memanjakan lidah. Untuk urusan makanan, masyarakat Thai mempunyai tradisi yang kurang lebih sama dengan masyarakat Indonesia, yaitu gemar makan “besar” pada pagi hari, artinya menu nasi, bihun, atau mie lengkap dengan lauk pauknya lumrah disantap pada saat sarapan.

Farida Fatornee
Di tepi jalan utama Phetchaburi, mendekat ke arah stasiun BTS Ratchathewi, terdapat warung makan halal populer, yaitu Farida Fatornee. Lauk pauk dan sayur yang disajikan hari itu dapat dipesan setelah membaca buku menu yang ditawarkan atau cukup dilirik dari balik etalase kaca di depan warung, dipilih sesuai selera untuk dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Sup ayam, salad Thai, tom yum, gulai kepala ikan, dan kambing goreng adalah beberapa menu rumahan yang menjadi andalan warung makan ini, dengan rasa yang dapat diterima oleh lidah Indonesia. Buka setiap hari mulai pukul 10.00 pagi hingga 21.00 malam, sempatkan mampir bersantap disini setelah berbelanja dari Platinum Fashion Mall atau Pasar Pratunam yang juga terletak di ruas jalan Phetchaburi.

Usman Thai Restaurant
Restoran milik pak Usman yang letaknya agak tersembunyi di salah satu sub-soi di Sukhumvit soi 22 ini adalah salah satu favorit warga Indonesia yang bermukim di Bangkok. Grilled beef salad, sup buntut, spicy seafood salad with glass noodle, ikan kukus maupun ikan goreng dengan siraman saus istimewa, dan tentunya sup tom yum dijamin akan membuat kita terkenang-kenang lezatnya. Usai bersantap, pengunjung juga dapat membeli bumbu jadi tom yum untuk dibawa pulang. Jangan kaget apabila pak Usman langsung yang turun tangan melayani sambil menyapa ramah tamu dalam bahasa Melayu karena beliau berasal dari daerah Thailand Selatan.

Restoran ini bisa dicapai dengan menumpang taksi langsung menuju soi 22 dimana restoran terletak di jalan buntu sebelah kiri jalan utama setelah hotel Imperial Queen’s Park, atau naik skytrain dan turun di stasiun Phrom Phong dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju soi 22 selama kurang lebih 15 menit sampai tujuan.
Foto: www.bestofhalal.net
Pujasera Pusat Pertokoan di Bangkok
Mengakomodasi umat Muslim yang sedang berlibur maupun yang tinggal di Bangkok, hampir dipastikan selalu ada tempat makan halal di pusat perbelanjaan ternama, seperti Central Chitlom, Siam Paragon, dan MBK Center. Di Foodloft di Central Chitlom terdapat gerai makanan India yang berlabel halal, di Paragon Food Hall pusat pertokoan Siam Paragon terdapat kios nasi kuning ayam halal. The Fifth Avenue di pusat pertokoan MBK menyajikan banyak pilihan makanan dari kedai-kedai berlabel halal mulai dari menu Indonesia, India, Thai, hingga Jepang.

Home Cuisine Islamic Restaurant

Nasi Biryani yang lezat (Foto: www.bestofhalal.net)
Mutton curry Home Cuisine (Foto:www.bestofhalal.net)
Bagi pejalan yang sedang menjelajahi kawasan kota lama Bangkok, jika perut sudah menuntut diperhatikan, berbeloklah ke jalan Charoen Krung. Di Charoen Krung terdapat komunitas muslim Thai dan beberapa tempat makan halal yang wajib dicoba, salah satunya adalah Home Cuisine Islamic Restaurant. Berlokasi tepat di seberang kedutaan besar Republik Perancis, restoran bernuansa hijau yang menyajikan menu India dan Thai ini tidak sulit ditemukan. Selain halal, Home Cuisine juga mengklaim masakan rumahannya bebas MSG dan bahan kimia lainnya. Cobalah menu andalan restoran ini yaitu nasi biryani ayam. Selain itu ikan goreng saus pedas yang cocok disantap dengan nasi hangat bisa menjadi uji nyali bagi penggemar cita rasa pedas. Buka setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 11.00 – 22.00 dan Minggu mulai pukul 18.00 – 22.00, cara ternyaman mencapai restoran ini adalah dengan menumpang taksi langsung menuju Thanon Charoen Krung soi 36 dan berhenti di seberang bangunan kedutaan besar Perancis.

Sinthorn Steak House
Kawasan Ramkhamhaeng adalah salah satu kawasan dimana komunitas Muslim terbesar di Bangkok tinggal. Disanalah restoran-restoran halal, Islamic Center, dan beberapa masjid besar terletak. Salah satu restoran besar yang terkenal adalah Sinthorn Steak House. Dengan menu steak a la Amerika dan Eropa sebagai sajian utamanya, restoran ini juga menawarkan aneka hidangan Thai, Cina, Italia, dan Arab dalam daftar menunya. Setiap sorenya mulai pukul 17.00 hingga 23.00 juga tersedia buffet daging panggang ala Korea dan sari laut Sinthorn yang tidak boleh dilewatkan. Di samping gerbang kompleks restoran yang berlokasi di antara soi 85 dan soi 87 Ramkamhaeng Road, terdapat toko serba ada yang menjual beragam produk halal dan olahan daging halal seperti sosis, ham, bakso, nugget, dan lain sebagainya. Cara termudah mencapai restoran ini adalah dengan menumpang taksi dengan ongkos kurang lebih THB 120-130 dari area Sukhumvit.
Supermarket di Sinthorn yang menjual aneka olahan daging halal
Tenderloin Steak dari Sinthorn Steak House
 Yana Restaurant Thai and International Halal Food
Popularitas restoran Yana di kalangan pejalan muslim yang berwisata ke Bangkok sudah tidak diragukan lagi. Berlokasi di lantai 5 pusat perbelanjaan MBK Center yang hampir pasti menjadi tujuan wajib para pejalan ketika berada di Bangkok, aneka menu khas Thai dan Internasional yang ditawarkan juga sudah terbukti kelezatannya. Jangan lewatkan sup tom yum, ikan goreng bersaus, atau tumis bakso sambal terasinya yang cocok bersanding dengan sepiring nasi putih hangat. Kalau penasaran dengan menu lain di restoran ini, silakan intip dan nikmati penampakannya di www.yanarestaurant.com sebelum Anda datang dan mencobanya sendiri. Pusat perbelanjaan MBK sendiri langsung terhubung dengan stasiun BTS terminal National Stadium. Sungguh pilihan tempat makan yang nyaman, bukan?

Phayathai Kitchen Halal Restaurant
Meski mungil, tampaknya Phayathai Kitchen tidak pernah kekurangan pengunjung. Variasi makanan yang lezat, pelayanan yang efisien, serta harga yang sangat bersahabat menjadi alasan di balik fakta tersebut. Menemukan restoran mungil ini terbilang mudah. Dari mulut soi 7 Phetchaburi Road, ambil jalan lurus sampai bertemu pertigaan, kemudian belok kiri, Phayathai Kitchen, ada di sebelah kiri jalan. Buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 22.00, restoran ini menawarkan menu internasional seperti pizza, pasta, dan burger di samping menu khas Thai yang selalu berhasil menggugah selera makan. Lupakan sejenak program diet untuk mencicipi dengkul ayam gorengnya yang renyah dan gurih. Di restoran ini juga terdapat menu yang umumnya dijual di kaki lima, apalagi kalau bukan nasi ketan putih ditemani ayam panggang/goreng yang biasa dimakan dengan tangan, favorit anak-anak tentunya.
Foto: Phayathai Kitchen Facebook Page
Al-Hussain Restaurant
Mengusung menu Timur Tengah dan India, restoran Al- Hussain yang berlokasi di kawasan Nana, tepatnya di Sukhumvit soi 3/1 sangat populer dan mempunyai jam buka yang panjang, mulai dari pukul 6 pagi hingga 3 dini hari. Nana adalah kawasan populer untuk para wisatawan dari Timur Tengah, sehingga restoran-restoran disana umumnya mengusung menu Timur Tengah, mulai dari Iraq, Persia, Lebanon, hingga Mesir. Restoran Al-Hussain sendiri menawarkan menu India dan Bangladesh dengan pilihan menu Thai yang relatif terbatas, namun daya tarik restoran ini ada pada dhal, paratha, naan, mutton biryani, mutton/beef masala, dan kari kambing yang wajib dicicipi. Istimewanya lagi, setiap hari selama bulan Ramadhan, Al-Hussain menyediakan setampah besar menu untuk sahur dan berbuka puasa, lengkap dari mulai ta’jil, nasi biryani, dan buah-buahan untuk disantap bersama-sama bagi siapapun yang datang ke restorannya secara gratis.

Tips Menikmati Kuliner Thailand
Secara umum, masakan Thailand selalu dibubuhi beragam bumbu dapur dan dedaunan yang membuatnya kaya citarasa. Jika selama ini menu Thai yang populer di luar Thailand sebatas sup tom yum goong, pad Thai, som tam atau salad apaya muda, massaman curry, green curry, atau nasi goreng Thailand, kini saatnya Anda menikmati pilihan menu khas Thai yang tak kalah sedap seperti stir-fried chicken cashew nut, grilled beef salad, seafood salad with glass noodle, tom kha gai atau sup ayam, hingga ikan goreng dengan pilihan saus istimewa. Satu hal yang perlu diingat, orang Thai adalah penyuka cabai sehingga ada banyak pilihan menu bercitarasa pedas. Oleh karena itu, bagi yang tidak bisa menyantap makanan pedas, pastikan pelayan mencatat menu pesanan Anda dengan menggarisbawahi informasi tambahan mai pet yang berarti tidak pedas sama sekali.   

Selamat berlibur dan berwisata kuliner di Bangkok!

---------------------------------


Farida Fatornee
497/5 Phetchaburi Rd, Thung Phaya Thai, Ratchathewi, Bangkok 10400 (BTS Ratchathewi exit 3)

Usman Thai Restaurant

259/9 Sukhumvit Rd soi 22, Khlong Tan, Khlong Toei, Bangkok 10110 (BTS Phrom Phong exit 6)

FoodLoft
7th fl, Central Chidlom, 1027 Phloen Chit Rd, Lumphini, Pathum Wan, Bangkok 10330 (BTS Chit Lom exit 5)

Paragon Food Hall
G Floor, Siam Paragon, 991/1 Rama I Rd, Bangkok 10330 (BTS Siam exit 5)

The Fifth Avenue

5th Floor, Zone A , Tokyu Department Store, MBK Center, 444 Phayathai Rd., Bangkok (BTS National Stadium exit 4)

Home Cuisine Islamic Restaurant

186 Charoen Krung 36, Bangrak District, Bangkok 10500

Sinthorn Steak House
3331/2 Ramkhamhaeng Rd. Huamark, Bangkok

Yana Restaurant Thai and International Halal Food
5A-05, Zone A, Tokyu Department Store, MBK Center, 444 Phayathai Rd, Pathum Wan, Bangkok 10330 (BTS National Stadium exit 4)

Phayathai Kitchen Halal Restaurant

63, 68 Phetchaburi 7 Alley, Thung Phaya Thai, Ratchathewi, Bangkok 10400 (BTS Ratchathewi exit 3)

Al-Hussain Restaurant
Soi Sukhumvit 3/1, Khlong Toei Nuea, Bangkok 10110 (BTS Nana exit 2)

Monday, 13 August 2018

Manfaat Tertib Mengantre: Mendidik Anak-anak yang Berkarakter

Tubuh mungil itu nyaris limbung tersenggol serombongan ibu yang dengan ganas merangsek antrean di depan mereka. Si empunya tubuh mungil itu adalah sulung saya, dan serombongan ibu tersebut adalah pengunjung lain yang juga membawa anak-anak. Demi mendapatkan kursi terbaik di atas kereta keliling di sebuah taman bermain legendaris di kota Bandung, ibu-ibu ini mengabaikan calon penumpang lain yang sudah mengantre dengan tertib dan tentunya memberi contoh buruk bagi anak-anaknya sendiri.

Perilaku Masyarakat dalam Mengantre
Semua tempat hiburan anak di Kota Bandung saat musim liburan sekolah dapat dipastikan berkali-kali lebih padat dari biasanya, tidak terkecuali Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, atau lebih dikenal dengan Taman Lalu Lintas. Sepenggal cerita di atas adalah kisah nyata yang dialami kedua anak saya saat berkunjung ke sana dan kerap kami jadikan contoh agar anak-anak belajar menghargai pentingnya mengantre. 

Urusan tertib antre ini masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk kita, orangtua di Indonesia. Bagaimana tidak? Di banyak tempat umum, masyarakat kita masih gagap jika menghadapi antrean. Saat menggunakan toilet umum, di bandar udara, di stasiun, di kasir toko serba ada, peristiwa menyela antrean kerap terlihat, namun sayangnya sebagian orang memilih diam meskipun dongkol dan malah memberikan tempat kepada si penyela yang jelas-jelas melanggar etika mengantre.
Beberapa hari sebelumnya, setibanya di terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta yang cukup ramai, kami sedang mengantre giliran memasukkan bagasi ke dalam mesin pemindai. Tiba-tiba bak siluman, muncul dua orang wanita yang dengan santainya memotong antrean seorang bapak di depan kami. Si bapak dengan halus mencoba mengingatkan “Bu, antre dong, kasihan sama yang sudah antre” dibalas dengan cengiran tanpa dosa si ibu yang bergeming di tempatnya, sigap memotong antrean.  

Ternyata tidak hanya di negeri sendiri, di negeri orangpun kebiasaan buruk ini kerap terbawa. Rasa malu dan kesal bukan kepalang membebani saya saat menyaksikan langsung serombongan keluarga yang bersikap seolah-olah nyaris tertinggal pesawat demi bisa mendapatkan prioritas antrean di bandara Don Mueang, Bangkok. Belakangan ketahuan bahwa pesawat mereka adalah pesawat yang sama dengan hampir sebagian besar pengantre yang sudah mengular. Petugas keamanan otomatis turun tangan dan meminta rombongan bapak tersebut mematuhi antrean, yang dituruti dengan terpaksa. Namun begitu petugas berlalu, dengan seenaknya si bapak membuka tali pembatas dan menyuruh rombongannya mengikuti, sungguh cara yang sangat tidak terpuji dan yang lebih mencengangkan, tidak nampak rasa canggung sedikitpun saat rombongan keluarga ini memotong antrean di depan ratusan pasang mata. 
Nah, relakah kita jika buah hati kesayangan kelak tumbuh menjadi seorang dewasa yang tidak menghormati hak orang lain dan menganggap perbuatan curang adalah hal biasa? Tentunya tidak. Negara besar ini perlu warga negara yang jujur, disiplin, mampu menghormati sesamanya, dan semua karakter tersebut dapat ditumbuhkan melalui kebiasaan mengantre.  
Dalam hal tertib mengantre, ada baiknya juga kita berkaca dari kebiasaan di negeri tetangga, Filipina. Dari artikel berjudul “Pelajaran Etiket dari Filipina” yang ditulis seorang aktivis pendidikan di laman https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=3536, kita tahu bahwa penduduk di sana terbiasa tertib mengantre saat menunggu menaiki kendaraan umum khas Filipina, yaitu jeepney. Penumpang bergiliran naik jeepney sesuai antrean kedatangan tanpa berkerumun ataupun berebut naik.

Kenapa sih Harus Antre?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antre berarti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran (membeli karcis, mengambil ransum, membeli bensin, dan sebagainya). Mengantre berarti berdiri dalam deretan memanjang sambil menunggu giliran untuk dilayani mengambil (membeli dan sebagainya) sesuatu.

Belajar mengantre bagi anak-anak sama penting atau bahkan jauh lebih penting daripada belajar mata pelajaran wajib di sekolah. Karena apa? Proses pembelajaran yang diperoleh ketika anak mengantre berkontribusi besar pada berkembangnya kecerdasan emosional anak yang sangat dibutuhkan di masa sekarang, melebihi kecerdasan intelektual semata. Kecerdasan emosional sangat penting dalam pembentukan karakter anak hingga ia menjadi dewasa, dan sudah pasti rumah adalah tempat pertama anak membentuk karakter baiknya tersebut.  

Banyaknya manfaat di balik kebiasaan tertib mengantre sudah sepantasnya menjadi alasan utama pentingnya orangtua menanamkan budaya antre pada anak dengan menjadi suri teladan di rumah maupun di luar rumah.  Anak yang dibiasakan tertib mengantre setidaknya dapat mengembangkan sepuluh karakter baik berikut yang kelak menjadi bekal berharga dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab. 

- Belajar menghormati orang lain
Saat mengantre, orang yang berada di depan kita berhak dilayani terlebih dahulu. Dengan tertib mengantre, anak belajar menghormati hak orang lain. Mengajari anak mengantre bisa dilakukan dimanapun, misalnya saat akan naik kendaraan umum, saat membayar di kasir, atau saat berada di arena taman bermain. Di rumah, kebiasaan mengantre ini bisa dipraktikkan, misalnya saat anak harus mencuci tangan sebelum makan, mandi, menunggu giliran untuk disediakan makan (di rumah kami, biasanya si bungsu yang selalu didahulukan), menggunakan mainan, hingga menunggu giliran untuk dibacakan buku cerita sebelum tidur. 
- Disiplin dan patuh pada peraturan
Dalam sebuah antrean, biasanya selalu ada aturan (tertulis maupun tidak) tentang bagaimana cara mengantre yang benar. Cara paling mudah untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya. Jangan sampai karena ketidaktahuan kita, tanpa sadar kita sudah membuat kacau antrean. Misalnya: antrean di toilet umum yang seringkali dilibas orang dengan cara berdiri di depan pintu toiletnya, padahal antrean di tempat seperti ini biasanya dimulai di area tempat membasuh tangan, bukan di depan pintu masing-masing toilet. 
- Sabar
Sudah menjadi rahasia umum kalau modal utama saat mengantre adalah sabar. Sifat sabar sangat diperlukan kelak saat anak bekerja keras untuk mencapai tujuannya, juga saat menanti hasil dari usahanya.
- Jujur
Tertib mengikuti antrean berarti anak belajar jujur pada diri sendiri, bahwa posisi antrean yang ditempati sesuai dengan urutan kedatangan. Menjadi jujur terdengar mudah namun pada kenyataannya masih sulit dilakukan. 
- Memiliki rasa malu
Masih berkaitan dengan sikap jujur, anak yang diajari tata tertib mengantre memiliki akal untuk tidak mempermalukan diri sendiri dengan memotong antrean. 
- Belajar tentang konsekuensi
Proses mengantre mengajarkan anak tentang konsep konsekuensi atau hubungan sebab akibat. Misalnya: jika anak datang terlambat untuk mendapatkan suatu layanan, akibatnya antrean yang harus ia hadapi menjadi lebih panjang. 
- Peka dan tenggang rasa
Seiring dengan kemampuan menghormati hak orang lain dalam mengantre, anak juga dilatih untuk peka dan bertenggang rasa pada orang yang lebih membutuhkan, misalnya mendahulukan pengantre yang lanjut usia, ibu hamil, penyandang difabel, ataupun pengantre keluarga yang membawa bayi dan anak-anak. 
- Besar hati
Proses mengantre juga mengajarkan anak untuk berbesar hati, terutama saat ada orang memberitahu cara mengantre yang benar. Alih-alih marah-marah tak keruan, anak justru belajar menerima koreksi dari orang lain atas sikapnya yang salah dengan kebesaran hati. 

Orangtua manapun pastinya ingin anak-anak mereka kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya serta tidak merugikan. Ya, tidak merugikan. Jika anak tidak diajarkan bagaimana seharusnya mengantre, jangan heran kalau di saat dewasa, ketidakpeduliannya untuk menghormati antrean bisa merugikan orang lain. Kelak, Indonesia akan diwarisi oleh generasi masa depan, yaitu anak-anak kita. Selayaknya negara besar yang kaya, penduduknya diharapkan mampu mengelola sumber daya yang tidak ternilai dan memiliki karakter disiplin, saling menghormati, dan jujur, untuk Indonesia di masa depan yang lebih baik.

#sahabatkeluarga

Friday, 2 February 2018

Homemade Easy Hazelnut Spread

Terinspirasi dari buku masak untuk anak-anak "Patisserie pour les enfants" yang ditulis oleh Philippe Urraca, pastry chef ternama Perancis, saya jadi tertarik mencoba membuat sendiri hazelnut spread. Berbeda dengan produk siap saji yang dijual di pasaran, hazelnut spread rumahan ini dibuat tanpa zat tambahan dan lebih terasa kacangnya, takaran gula juga bisa dikurangi sesuai keinginan, dan yang terutama, bisa dinikmati tanpa harus merasa berdosa. Apalagi, hazelnut juga mempunyai banyak manfaat, diantaranya baik untuk kesehatan jantung, otak, kulit dan rambut, dan mengandung antioksidan. Resep ini sudah saya modifikasi dari resep aslinya, yang menghasilkan 2 kontainer hazelnut spread dengan volume masing-masing 275 ml.

Bahan:
375 gr hazelnut mentah
50 gr icing sugar
15 gr tepung kakao
180 gr dark chocolate
50 gr minyak kelapa

Cara membuat:
1. Panggang hazelnut di loyang yang dialasi kertas roti selama 15 menit pada suhu 160 derajat. Proses pemanggangan ini selain untuk membersihkan kulit ari hazelnut, juga berfungsi untuk mengeluarkan minyak dari kacang.
2. Keluarkan dari oven, dinginkan, dan kupas kulitnya hingga bersih
3. Masukkan hazelnut tanpa kulit ke dalam food processor, tambahkan gula.
4. Tambahkan tepung kakao.
5. Lelehkan cokelat.
6. Masukkan cokelat leleh ke dalam adonan hazelnut.
7. Tambahkan minyak kelapa ke dalam food processor dan aduk rata.
8. Masukkan ke dalam kontainer kaca dan simpan di kulkas jika ingin tahan lama.

Kali ini, hazelnut spread-nya ditemani homemade banana waffle, karena memanfaatkan pisang yang sudah kematangan. Hmm, jadi ketagihan buat hazelnut spread sendiri, begitu gampang dan sehat.

hazelnut spread-nya terlihat padat karena baru dikeluarkan dari kulkas
Tertarik untuk mencoba?

Thursday, 11 January 2018

[Info] Pelaporan Kelahiran Luar Negeri untuk WNI

Catatan: Informasi ini adalah pembaruan dari tulisan saya tentang Pencatatan Kelahiran Luar Negeri di Indonesia disini.

Ada yang berubah dari proses pelaporan kelahiran luar negeri yang saya lakukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung kali ini. Selain biaya pelayanan yang GRATIS, prosedurnya sudah berubah, yakni tidak bisa datang langsung namun harus mendaftar dulu via SMS.
Perlu diingat bahwa Pelaporan Kelahiran ini dapat dilakukan hanya apabila Kartu Keluarga sudah diperbarui, yaitu nama anak yang kelahirannya akan dilaporkan, sudah tercantum.

Berikut persyaratan mengurus Pelaporan Kelahiran Luar Negeri di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung, berdasarkan pengalaman pribadi saya per akhir Desember 2017.

1. Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga Orangtua
2. Fotokopi Surat Keterangan Lahir dari KBRI setempat
3. Fotokopi Akte Kelahiran Luar Negeri/Sertifikat
4. Fotokopi Paspor Anak (halaman identitas dan halaman berisi cap kedatangan di Indonesia)
5. Fotokopi Paspor Ibu dan Bapak (halaman identitas dan halaman berisi cap kedatangan di Indonesia)
6. Fotokopi Buku Nikah Orangtua (seluruh halaman)
7. Mengisi Formulir

Berikut langkah-langkah pengurusannya:

1. Catat Nama Depan dan NIK Anak di Kartu Keluarga
2. Lengkapi dokumen 1-6
3. Ketik SMS dengan format NAMADEPAN#NIK#AKTA_KELAHIRAN, kirim ke nomor 0822 1155 8850
4. Tunggu SMS balasan yang berisi jadwal untuk datang ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dan mengurus Pelaporan Kelahiran Luar Negeri tersebut ke bagian berwenang.

Lama proses pengurusan Pelaporan Kelahiran Luar Negeri ini membutuhkan waktu 8 (delapan) hari kerja.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang sedang memerlukan sehingga menghemat waktu, tenaga, dan biaya serta menghindari kemungkinan bolak-balik karena persyaratan kurang lengkap atau karena ketidaktahuan tentang prosedur pelaporan terbaru.

Wednesday, 4 October 2017

Majalah UMMI Edisi September: Strasbourg, Kota Unik di Perbatasan Prancis - Jerman

Setelah sekian lama absen, tulisan perjalanan saya kali ini muncul lagi. Alhamdulillah, redaksi majalah UMMI berkenan menerima tulisan saya tentang kota Strasbourg di Perancis dan memuatnya di edisi September 2017.




Saturday, 1 July 2017

Sekilas Metz: Kota di Perbatasan Tiga Negara

Kota Metz (dibaca: mɛs) kami sambangi tanpa rencana. Berhubung cuaca di Luxembourg tidak mendukung, kami memutuskan untuk kembali ke teritori Perancis lebih cepat. Metz menjadi pilihan. Kesan grandiose langsung terasa begitu memasuki kota, meski di mata saya kota ini terkesan "kosong" dan "sepi", apalagi di hari Sabtu pagi. Banyak bangunan kosong dengan papan penanda "dijual" atau "disewakan" dan taman tidak terawat di Place de la Republique yang sempat kami lewati menambah kesan "kosong" tersebut. Dari hotel di dekat Place R. Mondon, tidak jauh dari stasiun kereta api Metz, kami berjalan kaki menuju Cathedrale dan Place d'Armes, yang merupakan pusat kota Metz. Berada di perbatasan antara Jerman, Luxembourg, dan Perancis, sejarah kota Metz dimulai sejak 3,000 tahun lalu.

Mayoritas bangunan di kota ini mencuri perhatian pada kunjungan pertama. Arsitektur bergaya Renaissance sangat mendominasi, dikombinasi dengan arsitektur bangunan perpaduan Jerman-Perancis seperti di wilayah Alsace dan arsitektur bergaya Gotik. Sebagian besar bangunannya dibangun dengan batuan kapur berwarna kekuningan yang dikenal sebagai "pierre de Jaumont". Karena kami menjelajahi bagian kota Metz dengan berjalan kaki, saya sangat terkesan dengan area pejalan kaki yang sangat lebar, bahkan area pejalan kaki di kawasan komersial kota ini merupakan yang terlebar di seluruh Perancis.

Metz adalah ibukota wilayah Lorraine yang masuk ke dalam teritori Perancis sejak tahun 1552. Antara tahun 1870-1918 dan pada masa Perang Dunia II, Metz berada dalam kekuasaan Jerman. Setelah melintasi pusat kegiatan komersial Metz, kami sampai juga di Place d'Armes. Arsitek kota Metz pada abad ke-18, Jacques-François Blondel, menggabungkan unsur agama, militer, pemerintahan dan hukum sekaligus dan di Place d'Armes inilah gedung Balai kota, Katedral St. Etienne, gedung Opera yang merupakan gedung opera tertua di Perancis, dan gedung militer yang berubah fungsi menjadi kantor pariwisata kota berlokasi.

Salah satu sudut kota Metz



Porte Serpenoise

Suasana kota Metz di hari Sabtu pukul 11 siang


Bagian depan Katedral St. Etienne
Bangunan pasar tertutup yang sayangnya tutup di akhir pekan



Lambang kota Metz

Katedral St. Etienne yang megah nampak dari sisi lain





Saturday, 24 June 2017

#World Heritage Sites: Historic Centre of Brugge

Pusat kota Bruges

Coklat, bir, dan kentang goreng atau lazim disebut French fries langsung terlintas dalam benak begitu mendengar nama Belgia. Tapi bukan itu alasan kami tertarik mendatangi negeri coklat ini, melainkan sebuah kota cantik yang dikelilingi kanal bernama Bruges, yang juga dikenal sebagai Venice of the North.

Bruges, Dulu dan Sekarang
Bruges dalam bahasa Inggris dan Perancis atau Brugge dalam bahasa Belanda adalah kota kanal yang terletak di sebelah barat daya Belgia, ibukota wilayah sekaligus kota terbesar di West Flanders. Bahasa yang digunakan di kota ini adalah Flemish, Belanda, dan Perancis. Dulunya, sekitar abad pertengahan, Bruges merupakan kota pelabuhan dan aktivitas perdagangan yang sibuk di Eropa, khususnya perdagangan tekstil. Layaknya kota perdagangan, kanal-kanal yang mengaliri kota ramai dilalui kapal-kapal niaga maupun kapal-kapal penumpang bagi penduduk setempat. Pada masa kejayaannya di abad kelimabelas, Bruges dikenal sebagai gudangnya pemintal dan penenun terbaik dunia. Menginjak abad ketujuhbelas, kain pintal dan tenun mulai tergantikan kerajinan tangan berbahan dasar renda atau lace yang populer sebagai cinderamata khas Bruges hingga saat ini.

Kota Bruges diperkirakan telah ada sejak abad ketujuh, namun abad ketigabelas hingga empatbelas adalah periode keemasan Bruges sebagai kota pelabuhan internasional sekaligus pusat komersial utama di wilayah barat laut Eropa. Sempat menjadi daerah pendudukan Perancis selama 20 tahun, kemilau Bruges perlahan memudar hingga puncaknya menjadi salah satu kota termiskin di Eropa pada abad kesembilanbelas. Meski begitu, kekayaan budaya dan sejarah yang terdapat di Bruges tetap terjaga baik selama berabad-abad, menjadikan pusat historis kota Bruges terpilih sebagai situs warisan budaya dunia UNESCO pada tahun 2000.

Sekarang, dengan popularitasnya, Bruges menjadi kota tujuan untuk day-trip, khususnya pada akhir pekan dan hari libur. Tidak disangkal, Bruges memang dipadati turis. Walaupun begitu, keelokan kota ini tetap dapat saya nikmati saat menyusuri jalan-jalan berbatu khas abad pertengahan diapit bangunan-bangunannya yang fotogenik. Deretan toko coklat dengan aneka bentuk yang unik, toko kerajinan lace yang sedap dipandang mata meski harganya relatif mahal, hingga toko-toko cinderamata yang etalasenya saja begitu menggemaskan, mengukuhkan pesona Bruges sebagai kota tujuan wisatawan.

Deretan bangunan berwarna-warni ikonik dengan fasad segitiga berundak tampak menonjol dan segera mencuri perhatian saya begitu kami berada di Market Square. Dikelilingi bangunan tua berwarna-warni yang dulunya merupakan tempat tinggal para pedagang kaya di satu sisi, Provincial Court di sisi lain, di Market Square juga terdapat Bruges Beer Museum.  Sebagai kota turis, bisa dibayangkan bagaimana situasi Bruges di akhir pekan dan di hari libur.

Dari Perayaan Hari Nasional hingga Pencuri Cantik
Kami datang di pertengahan minggu, namun hari itu bertepatan dengan perayaan hari nasional Belgia yang jatuh pada 21 Juli, sehingga Bruges terbilang ramai. Berkesempatan menyaksikan upacara penghormatan kepada para veteran perang di Burg Square, kami bergabung dalam kerumunan pengunjung di depan balai kota Bruges, sebelum melangkahkan kaki ke Huidenvettersplein, salah satu dari empat tempat perhentian kapal yang membawa wisatawan menyusuri kanal-kanal di Bruges.

Setiap perjalanan selalu menorehkan kisah tersendiri yang berbeda untuk setiap orang, entah itu kisah lucu, sedih, mengharukan atau bahkan mengesalkan. Tidak pernah terbayangkan jika di kota inilah saya nyaris kecopetan untuk pertama kalinya. Awalnya, ketika kami sedang mengantri membeli tiket, sekilas saya sempat memperhatikan dua orang wanita muda berpakaian kasual dan berparas cantik yang salah satunya sedang hamil besar berdiri tidak jauh dari antrian. Entah kenapa, dari sekian banyaknya turis yang lalu lalang pagi itu, ingatan saya tentang dua perempuan muda tersebut cukup melekat, sampai akhirnya kami dipersilakan naik ke atas kapal dan tur selama 30 menit itupun dimulai. Lama setelah tur selesai, kami berkeliling kota, menyusuri trotoar sambil sesekali berhenti mendaratkan pandangan di etalase toko-toko coklat yang terlalu menarik untuk diabaikan. Tiba-tiba, saya merasa ada gerakan pada tas punggung dan seketika menoleh ke sumber gerakan. Benar saja, resleting tas punggung saya sudah setengah terbuka dan pada saat bersamaan memergoki salah satu dari perempuan muda yang sebelumnya saya lihat di dekat antrian kapal berdiri tepat di belakang saya segera menghentikan aksinya. Dengan wajah tanpa dosa, perempuan hamil yang satunya lagi sigap menyapa akrab teman di samping saya sambil menunjuk salah satu coklat berbentuk tak lazim di etalase toko, kemudian mendahului kami dan dengan cepat menghilang, mungkin mencari mangsa lain. Untungnya tidak ada barang yang sempat berpindah tangan, namun pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa tangan jahil itu tidak memandang tempat dan tidak mempunyai stereotip. Siapa yang mengira jika di Bruges, tangan jahil tersebut berwujud dua perempuan muda cantik jelita dan salah satunya sedang hamil besar?

Urusan dengan tangan jahil ini tentunya tidak lantas membuat kami kehilangan semangat mengeksplorasi kota yang konon disebut-sebut sebagai salah satu kota dengan rupa bak negeri dongeng di Eropa ini. Panorama kota Bruges terlalu cantik untuk diabaikan dalam perjalanan singkat kami.

Yang Menarik untuk Dikunjungi di Bruges
Namun, kunjungan ke Bruges tidaklah sahih tanpa mendatangi langsung tengaran-tengaran penting dari berabad-abad lalu. Perhentian pertama tentunya adalah Market Square, dimana terdapat bangunan ikonik Bruges, yaitu deretan rumah pedagang di masa lalu dengan fasad segitiga berundak berwarna-warni yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kedai kopi atau restoran. Waktu makan siang masih beberapa jam lagi, namun di sudut meja salah satu kedai, tampak satu keluarga dengan anak-anak yang masing-masing sedang menikmati sepiring besar wafel yang tampak lezat. Jangan lewatkan Bruges tanpa mencoba moules frites atau remis yang dimasak dengan bawang bombay, jahe, persil, disajikan bersama kentang goreng dan ditutup dengan wafel dengan aneka topping buah-buahan segar seperti pisang, stroberi, atau kiwi dan krim atau es krim, hmmm…dijamin perut akan puas dan bahagia! Usai urusan kuliner, bangunan historis di sekeliling Market Square seperti Provincial Court yang kokoh dan menara Belfry yang menjulang serta Bruges Beer Museum sudah menunggu untuk disambangi. Walaupun kebanyakan turis memilih berjalan kaki di Bruges, pilihan lain yang menarik tapi harus merogoh kantong lebih dalam adalah menumpang kereta kuda nan gagah dari Market Square seharga 50 Euro untuk 30 menit berkeliling pusat kota historis, dikusiri pemandu profesional.

Ke arah timur dari Market Square, terdapat Burg Square dimana City Hall atau Balaikota Bruges berada. Hanya ada dua kesempatan untuk memasuki Balaikota, yaitu bila akan menikah atau jika kita diundang teman/kerabat yang menikah disana. Jadi kalau ingin masuk ke dalam gedung bersejarah tersebut, tinggal pilih momen mana yang paling cocok untuk Anda.

Sedikit menjauh dari pusat historis ke arah selatan, berlokasi tepat di tepi kanal Minnewater, terdapat kompleks bangunan didominasi warna putih dinaungi pohon besar yang rindang dan rumput hijau. Suasana syahdu terasa seketika begitu saya menginjakkan kaki di halamannya. Itulah Béguinage atau Begijnhof yang merupakan tempat tinggal sekaligus tempat bekerja para penghuninya. Berbeda dengan biara, penghuni Béguinage bukanlah biarawati melainkan wanita biasa yang semata ingin mengabdikan dirinya untuk Tuhan.

Sebagai kota seni, Bruges juga mempunyai banyak museum terkemuka, seperti Groeninge Museum, tempat dipamerkannya karya pelukis besar Belgia Hans Memling dan Jan van Eyck. Sedangkan penggemar batu berharga berlian bisa mengayunkan langkah ke Diamond Museum, yang terletak tidak jauh dari Begijnhof. Tidak lupa, coklat dan kentang goreng yang merupakan ciri khas negara Belgia juga mempunyai museumnya masing-masing, yakni Choco-story atau Chocolate Museum dan Friet Museum, dimana pengunjung dapat mengetahui sejarah asal-muasal coklat maupun kentang goreng sekaligus mencicipinya disana. Untuk pelancong keluarga dengan anak-anak, kunjungan ke dua museum ini tentunya akan sangat menyenangkan seluruh anggota keluarga.

Penikmat sejarah, budaya, dan arsitektur dijamin betah berada di kota indah ini. Selain tengaran seperti balai kota atau gedung-gedung pemerintahan, interior bangunan peribadatan di Bruges juga sangat menarik. Mulai dari Jeruzalemkerk atau kapel yang didirikan pada abad kelimabelas oleh seorang pedagang kaya yang baru kembali berziarah dari Jerusalem, biara Carmelites, kapel Orthodoks, hingga biara untuk pastor Jesuit.

Salah satu yang wajib dilakukan pelancong ketika berada di Bruges adalah mengikuti tur melalui kanal-kanal dengan menumpang kapal berkapasitas kurang lebih 25 orang. Dengan tiket seharga 8 Euro per orang, kami bergabung dengan calon penumpang lain, siap menikmati panorama Bruges dari kanal. Perjalanan selama 30 menit ini nyaris tidak terasa, apalagi banyak bangunan sepanjang kanal yang teramat menarik. Sekawanan angsa dan bebek yang berpapasan dengan kapal kami menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Selain mengikuti tur keliling kanal, menumpang kereta kuda, atau menyewa sepeda, Bruges sangat nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki. Pusat kota Bruges cukup kecil untuk dinikmati sambil mengayunkan langkah, bahkan bagi mereka yang tidak gemar menjelajahi kota dengan berjalan sekalipun.

Yummmyyyy!!!
  

Kerajinan lace khas Bruges

Cantiknya kota Bruges
 











Bruges hanya berjarak 1 jam perjalanan dengan kereta dari Gare du Midi di Brussels, 1,5 jam dari Antwerpen, dan hanya 30 menit berkereta dari Gent.Sementara dengan kota-kota besar lainnya di Eropa, Bruges dapat dicapai dari Lille, kota terdekat di Perancis selama 1 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Dari stasiun Paris-Nord, Bruges berjarak 2,5 jam perjalanan kereta, sedangkan dengan kota-kota lain seperti London dan Dover di Inggris, Amsterdam di Belanda, dan Koln di Jerman, Bruges berjarak 1,5 – 4 jam perjalanan dengan moda transportasi kereta ataupun kapal feri. Sebagai kota turis, tipe akomodasi di Bruges cukup bervariasi yang dapat dipilih sesuai anggaran, dengan pilihan terbanyak berupa hotel dan chambre d’hôtes atau kamar yang disewakan di rumah penduduk. Pilihan kedua lebih menarik dari sisi pengalaman karena selain bisa berinteraksi dengan tuan rumah, tamu dapat menikmati hidangan seperti layaknya di rumah. Berkeliling Bruges paling seru dilakukan dengan mengendarai sepeda yang banyak terdapat di sudut kota. Yang pasti, jangan lewatkan Bruges kalau suatu hari berkunjung ke Belgia. It is definitely worth a visit!


Friday, 23 June 2017

[Buku Baru] Bangkok Rasa Lokal: Wisata Anti-Mainstream di Bangkok dan Sekitarnya

Jalan-jalan ke Bangkok, mau ke mana saja? Grand Palace? Chatuchak Weekend Market? Madame Tussauds? Ah, itu sudah biasa! Mau yang luar biasa? Cobalah travel like locals alias mencecap langsung pengalaman wisata ala penduduk setempat.

Ditulis dan dirangkum oleh penghuni kota Bangkok, Bangkok Rasa Lokal: Wisata Anti-Mainstream di Bangkok dan Sekitarnya menyajikan sudut pandang berbeda tentang destinasi wisata di Bangkok dan sekitarnya. Bukan hanya wahana baru, Anda juga akan memperoleh informasi tentang festival-festival tahunan, moda-moda transportasi, dan tempat tempat wisata keluarga yang sesuai dengan kantong Anda, termasuk makanan halal. Bersiaplah untuk liburan yang anti-mainstream!


Alhamdulillah, akhirnya proyek rame-rame ini "lahir" juga. Setelah proyek pertama menghasilkan buku yang dicetak untuk kalangan sendiri, bulan Juni 2017 ini, saya dan dua teman yang juga terlibat di proyek pertama menelurkan buku panduan jalan-jalan di Bangkok. Semoga buku ini bermanfaat bagi pembacanya. Temukan bukunya di Gramedia atau toko buku kesayangan dan jangan lupa segera diadopsi yaa...

Selamat membaca!

Thursday, 22 June 2017

[Menjadi Ibu]: Saya Mau Jadi Ibu yang ...

Duluuu sekali, waktu belum menjadi ibu, saya pernah khilaf menilai (dalam hati, tentu saja) para ibu (yang ada di lingkungan sekitar dan saya kenal secara pribadi) dalam mengurus anaknya. Setelah menjadi ibu, saya belajar bahwa dinilai, apalagi dikomentari bagaimana seharusnya menangani anak sendiri itu rasanya GAK ENAK! Saya sendiri tipe orang yang lebih memilih diam atau mengiyakan kalau dikomentari atau dikasih saran demi menghormati yang bicara. Hampir bisa dipastikan, kalau menerima komentar kurang atau tidak menyenangkan, saya sebatas tersenyum basa-basi terhadap si pemberi komentar meski hati dongkol setengah mati, atau kalau benar-benar malas, saya akan pura-pura tidak mendengar. Tidak sopan? Memang, tapi yang bicara juga seringkali tidak mempertimbangkan perasaan orang yang dikomentari/dinasihati, sih.

Pengalaman pribadi ini juga sekaligus mengingatkan saya sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang sama pada orang lain. Sekarang saya juga belajar menghilangkan perasaan tidak enak terhadap si pemberi nasihat/komentar, kalau memang nasihat/komentarnya dirasa "mengganggu", saya akan mengutarakan keberatan saya, tidak cukup dengan hanya tersenyum sopan basa-basi mengiyakan.

Nah, pas baca postingannya Rika disini, saya otomatis membatin "Ih, ternyata saya gak sendiri" dan suatu kebetulan yang sama, berkaca dari pengalaman, mayoritas pemberi nasihat/komentar itu adalah teman sebangsa. Hm, entah kebetulan, atau sebagian besar orang kita memang tipe yang "perhatian" :D

Kembali ke judul postingan ini, berkaca dari pengalaman pribadi tadi, saya berniat mau jadi ibu yang:

1. Tidak Asal Komentar

Kenyang rasanya mendengar aneka komentar dari sekeliling tentang anak sendiri. Karakter pemberi komentarpun macam-macam, dari yang muda sampai yang senior, dari yang punya anak dewasa hingga yang belum punya anak, dari yang sering bertemu sampai yang baru sekali bertemu. Tentunya saya ingat komentar-komentar mereka ini karena saya tidak suka mendengarnya, dan tidak mau saya mengucapkan hal sama pada orang lain, makanya ditulis disini sebagai pengingat.

- Anaknya gak mau makan/gak suka "X" ya?
Komentar ini muncul ketika melihat anak saya SATU kali (iya, cuma satu kali dan langsung mengambil kesimpulan) menutup mulutnya saat saya menyuapkan puree brokoli kentang keju bekal dari rumah. Si ibu yang cukup senior dengan santainya berkomentar seperti di atas. Reaksi pertama saya adalah mengabaikannya, pura-pura gak dengar. Tidak lama, bekal makan siang yang saya siapkan sudah tandas dihabiskan si kecil *melirik sebal si ibu*

- Anaknya gak biasa dibawa ke tempat ramai/bepergian sih, jadi rewel
Anak-anak kami terbiasa berada di lingkungan yang sunyi dan tenang semenjak mereka lahir. Bukannya dibiasakan, tapi karena memang di rumah jarang ada suara keras. Kalaupun ada suara, bukan suara gaduh, teriakan, ataupun jeritan, ketawa cekikikan yang biasa mereka dengar. Komentarpun mulai berdatangan kalau si kecil mulai rewel seperti "Gak biasa dibawa ke tempat ramai ya?" atau "Di rumah sepi ya? Coba diperdengarkan Murattal, seperti anaknya B" zzzzzz..... 

- Bayinya haus mungkin, gak dikasih susu?
Komentar ini saya dapat lima tahun yang lalu dan masih saya ingat sampai sekarang.Waktu itu saya datang ke acara syukuran tempat tinggal teman yang baru, dan kami baru pulang mudik sehari sebelumnya. Faktor jetlag dan ramai mungkin menjadi kombinasi ketidaknyamanan si kecil. Begitu terbangun dari tidurnya, seorang teman lain langsung ambil si kecil dan mencoba menggendongnya, yang berujung si bayi ngamuk tanpa henti. Saat saya lagi pamit mau pulang sama tuan rumah sambil menggendong bayi yang nangis keras, ada seorang mbak dengan santai berkomentar "Mau susu, mungkin?" Zzzzzzz.... (Mbak gak tau ya, kalau anak nangis, yang pertama kali saya sodorin adalah, apalagi kalau bukan PD. Kalau gak tau, lebih baik disimpan aja komentarnya mbak, gak membantu sama sekali. Lagipula, saya juga baru sekali itu ketemu mbaknya, jadi terima kasih sarannya, tapi saya gak perlu).

- Gak pakai stroller? Biar anaknya bisa lihat-lihat pemandangan, gak bosen digendong terus
 Ini masalah pilihan dan kepraktisan, masing-masing orang punya pertimbangannya masing-masing. Cukup bertanya "gak pakai stroller?" setelah itu terima saja apa jawaban si empunya anak, titik.

- Masih rewel ya (anaknya)?
Pliss deh..seberapa sering sih bertemu dengan anak saya? Kalau terakhir kali bertemu itu lebih dari seminggu yang lalu dan frekuensi bertemunyapun jarang, lebih baik tanya hal lain saja. 

2. Memberi Saran/Nasihat HANYA KETIKA Diminta

Ini saya kutip dari tulisan Rika "Sebelum ngasih nasehat coba dulu untuk ingat kalo ortu jaman sekarang udah sangat melek informasi. Gak usah ngerasa punya nasehat paling jitu karena nasehat yang sama pasti udah dibaca puluhan kali oleh si ortu."

Suatu kali, saya bawa si tengah yang belum genap berusia 6 bulan ke satu acara di rumah teman. Entah kenapa, hari itu ia rewel sekali. Tidur sebentar, sisanya menangis. Walhasil, sepanjang acara, saya malah sibuk menenangkannya tanpa hasil, sudah dipangku, disusui, ia tetap menangis. Saya yang biasanya santai jadi agak grogi karena banyak yang menanyakan kenapa si bayi menangis. Akhirnya, saya memutuskan pulang karena mungkin ia tidak nyaman berada disana.

Saat sedang bersiap-siap mau pulang, saya didekati seorang mbak yang ber"murah hati" kasih nasihat mengatasi bayi rewel, sampai sengaja keluar menemani saya sampai depan pintu lift demi menuntaskan penyampaian nasihatnya. Lupa tepatnya apa yang ia katakan, tapi intinya si mbak bilang untuk coba meletakkan bayi tanpa ada kontak fisik jadi bayi tidak terstimulasi terus-terusan. Nasihat yang bagus sebenarnya, sebagai bentuk perhatian pada ibu yang sedang kewalahan menenangkan bayinya. Cuma dua hal yang si mbak lupa pertimbangkan sebelum kasih nasihat, yaitu waktu penyampaian nasihat -waktu anak sedang menangis keras bukanlah waktu yang tepat memberi nasihat-, dan fakta bahwa sebagai ibu jaman sekarang, tidak hanya si mbak, saya juga membaca dan melek informasi, dan saya tahu tentang apa yang mbak itu sampaikan sejak anak pertama lahir. Tapi dengan alasan kesopanan, saya mengiyakan saja.

Sekarang mbaknya sudah punya anak balita, dan saya berharap semoga ia tidak mengalami hal yang sama dengan saya ketika sedang mengurus anaknya, karena diberi saran/nasihat tanpa diminta itu, apalagi soal anak, sangat tidak menyenangkan.   

3. Tidak Membanding-bandingkan 

Tidak membanding-bandingkan diri sendiri atau anak sendiri dengan orang lain atau anaknya itu palingggg susah! Tapi ternyata, dunia lebih indah kalau kita pakai kacamata kuda dan cukup mengurusi diri plus anak sendiri tanpa perlu lihat kiri kanan. Belajar dari lingkungan harus, tapi jangan sampai keterusan hingga akhirnya jadi membanding-bandingkan. Untungnya, dalam hal ini, suami cukup "galak" kalau saya mulai curhat-curhat galau tentang "A yang hebat, bisa menghasilkan uang sambil urus anak-anaknya yang masih kecil" atau tentang "anak B yang (terlihat) bersikap manis tanpa cela". Memang, kalau mau dibanding-bandingkan, rumput tetangga selalu lebih hijau dan galau gak akan pernah ada habisnya. Yang penting adalah niat untuk selalu menjadi lebih baik setiap harinya dalam hal apapun, termasuk menjalankan peran sebagai ibu.

Kalau kamu, mau jadi ibu yang seperti apa?