Monday, 25 November 2013

Perokok = Egois?

Sebagai pengguna setia angkutan umum, hal paling menyebalkan bagi saya adalah ketika didalam kendaraan yang saya tumpangi ada yang merokok. Entah itu sesama penumpang, kernet, atau sopirnya. Kalau sudah begitu, sapu tangan atau tisu kerap menjadi penyelamat untuk saya. Tanpa bereaksi berlebihan, begitu ada yang merokok, saya langsung tutup hidung. Kenapa harus tanpa bereaksi berlebihan? Dari pengamatan saya, ada sebagian perokok di Indonesia yang suka bersikap lebay alias berlebihan. Pernah beberapa kali, saya secara ekstrim menutup hidung gara-gara sesama penumpang di angkutan umum merokok, eeh...kok ya malah asap rokoknya secara sengaja dihembuskan ke muka saya? dan ini bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Saya pun dengan kekesalan segunung hanya bisa memendam kebencian pada si oknum perokok sambil mengeluarkan sumpah serapah dalam hati. Tidak mengubah situasi sih, tapi setidaknya kekesalan saya sedikit berkurang.

Entah kenapa, tapi di negara saya tercinta ini, susah berada di satu tempat yang bebas dari asap rokok, bahkan di ruangan berpendingin udara sekalipun. Di negara-negara lain, para perokok seolah punya etika merokok yang ditaati dan di beberapa negara larangan merokok disertai dengan denda yang lumayan menguras dompet. Di Indonesia, peraturan ada untuk dilanggar, bukan begitu? Rasanya para perokok itu sudah keracunan nikotin akut sampai-sampai membacapun mereka tidak bisa. Contohnya seperti ini:

Perhatikan tanda "area bebas rokok"di papan hijau
Terus, apakah ada petugas yang berkeliling memastikan peraturan dilarang merokok dipatuhi? Hm..kalaupun ada, petugas-petugas yang berkeliaran di fasilitas umum seperti diatas pura-pura tidak melihat. Enggan menegur? takut balik dimarahi? Entahlah.

Saya juga heran, kenapa ya para perokok ini seringkali malah balik marah kalau ditegur, padahal jelas-jelas mereka yang salah? Pernah satu kali, saya sedang mengantri taksi di bandara Don Mueang. Tiba-tiba, tercium oleh saya bau rokok, ternyata ada pria yang merokok di antrian sebelah saya, padahal di tiang tidak jauh dari tempat kami berdiri ada tanda dilarang merokok dan denda THB2,000 bagi yang melanggar. Sayapun bilang pada pria tadi untuk mematikan rokoknya sambil menunjuk tulisan di tiang tersebut. Si pria kemudian buru-buru keluar dari antrian sambil mematikan rokoknya. Dalam hati, saya membatin, di negara orang saya bisa turut menegakkan peraturan, tapi di negara sendiri, belum tentu saya akan melakukan hal yang sama. Kalau mengingatkan turis yang baru datang ke Indonesia, mungkin bisa, tapi kalau mengingatkan sesama orang Indonesia, huh, paling ujung-ujungnya saya yang jadi korban :(.

Satu pertanyaan besar bagi saya, adakah kaitannya efek nikotin dengan penurunan fungsi otak dan mental para perokok ini sehingga mereka tidak punya etika sama sekali dan sangat egois terhadap orang lain yang tidak merokok namun terpaksa menjadi perokok pasif? Bagusnya, para perokok ini masing - masing diberi helm kaca ketika ingin merokok, jadi mereka sendiri yang terpapar asapnya tanpa harus mengorbankan orang lain. Pernah punya pengalaman serupa?

Wednesday, 20 November 2013

Menengok Shakespeare di Stratford-upon-Avon

Anne Hathaway's Cottage yang menawan

Musim panas tahun ini adalah pertama kalinya kami mengunjungi kota Stratford-upon-Avon. Tempat kelahiran sastrawan William Shakespeare yang menjadi tujuan karena tidak terlalu jauh dari Oxford, kota persinggahan sebelumnya.

Karena tiba di Anne Hathaway's Cottage sudah kesorean, target selanjutnya adalah pusat kota yang ternyata juga relatif sepi karena hampir semua toko di jalan-jalan utama sudah menutup gerainya.

Henley St. di pusat kota menjelang senja (hampir semua toko yang kami lewati sudah tutup)
Tipikal bangunan di Stratford

Deretan toko-toko cantik di penghujung Henley St.
Toko Mr. Peter Rabbit yang terkenal
Selalu terpesona dengan bangunan cantik seperti restoran ini
Ada lima tempat yang berkaitan erat dengan kehidupan Shakespeare yang tersebar di kota ini dan merupakan tujuan utama wisatawan yang berkunjung. Pertama, Shakespeare's Birthplace atau rumah tempat Shakespeare dilahirkan yang terletak di pusat kota; kedua, Mary Arden's Farm; ketiga, Hall's Croft yang merupakan rumah anak perempuan Shakespeare; keempat, Nash's House & New Place dimana Shakespeare menghembuskan napas terakhirnya; dan kelima, Anne Hathaway's Cottage, rumah keluarga istri Shakespeare, Anne Hathaway. Dari kelima tempat itu, tiga berada di pusat kota sedangkan dua lagi berada sedikit di pinggiran. Kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu dan yang paling terkenal, yaitu Anne Hathaway's Cottage yang sudah berusia hampir 500 tahun.
 
Tempat kelahiran William Shakespeare pada 1564
Setelah membayar tiket masuk £9 per orang, kami sempat menunggu beberapa saat sampai rombongan sebelum kami pindah ke area kunjungan berikutnya. Kami menelusuri sudut demi sudut rumah dengan bimbingan pemandu yang fasih menjelaskan semua kisah dibalik perangkat dan ruang di rumah tersebut.


Terpesona dengan rumpun bunga mawar di dinding
Salah satu sudut dapur, bagian tertua dari rumah ini dan masih dipertahankan keasliannya
Oven jaman dulu kala
Kamar tidur Anne Hathaway
Kamar tidur yang tampak spooky

Sudut lain dapur
English garden yang indah dan natural (pemandangan aslinya jauh lebih cantik)

Selesai mengikuti tur, kami  memesan secangkir coklat panas di cafe-nya yang mungil sambil memuaskan mata memandangi taman hijau di sekeliling. Nuansa English garden yang begitu kental membuat saya betah berlama-lama mengagumi setiap rumpun bunga yang seolah dibiarkan tumbuh liar alami. Kami melewatkan setengah hari disana dengan menjelajahi hutan kecil dan kebun hijau yang begitu menyegarkan mata.  
Menjelajahi kebun apel

Setelah menikmati keindahan rumah dan kebun keluarga Anne Hathaway ini, saya tidak heran bila dulu Shakespeare tidak akan pernah kehabisan kata-kata indah untuk calon istrinya itu, karena setiap sudut kebun menebarkan kesan romantis yang begitu kuat. Saya saja yang jauh dari romantis bisa mendadak menyusun kalimat puitis, apalagi untuk seorang Shakespeare :).

Tuesday, 19 November 2013

#World Heritage Sites: Historic Town of Sukhothai and Associated Historic Towns

Wat Maha That, Sukhothai Historical Park

Meneruskan seri situs warisan dunia, akhir bulan lalu kami menginjakkan kaki di Sukhothai, bekas ibukota kerajaan Siam pada abad 13-14 sebelum dipindahkan ke Ayutthaya lalu kemudian ke Bangkok. Sekadar intermezzo, entah kenapa, setiap mendengar kata Sukhothai, yang terlintas di pikiran saya malah pesawat tempur Sukhoi, mungkin karena sama-sama berawalan S dan berakhiran I :). Kembali ke Sukhothai, setelah menempuh perjalanan dengan mobil selama 7 jam, sampai juga kami di Sukhothai Heritage Resort, tempat kami menginap. Idealnya, perjalanan Bangkok-Sukhothai bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam, tapi berhubung membawa David, otomatis kami banyak berhenti untuk meluruskan kaki dan membebaskan si kecil jika sudah bosan duduk di carseat-nya.

Rekomendasi teman tentang hotel ini ternyata tidak salah. Bangunan hotelnya sendiri hanya bertingkat dua, namun interiornya didominasi oleh kolam-kolam dan taman hijau hampir di setiap sudut dengan arsitektur khas Sukhothai dan sofa-sofa nyaman di setiap sudut ruang yang berkonsep terbuka. Bagaimana dengan kamarnya? Kami berdua sama sekali bukan tipe wisatawan jetsetter ataupun high-end, jadi kalau tenda saja bisa jadi nyaman, apalagi kamar hotel, hehehe...Kesan-kesan kami menginap di hotel ini akan saya ceritakan dalam ulasan terpisah.

Keesokan paginya, kami berangkat menuju Sukhothai Historical Park sekitar jam 9, kurang lebih sekitar 30 menit perjalanan dengan mobil sampailah kami disana. Sukhothai Historical Park ini mendapat status Warisan Budaya Dunia dari UNESCO pada Desember 1991 karena kekayaan nilai sejarah yang pada masa jayanya menjadi pusat administrasi, agama, dan ekonomi. Arsitektur bangunan di Sukhothai juga berkontribusi dengan kekhasannya sehingga dikenal istilah "Sukhothai style" dalam arsitektur bangunan di Thailand.

Ternyata, Sukhothai jauh lebih besar dari Ayutthaya, dan menurut pendapat kami, jauh lebih bagus, lebih hijau, lebih ndeso dengan pemandangan hewan ternak yang sedang merumput di padang rumput sekeliling kompleks candi, dan udaranya jauh lebih sejuk (mungkin karena kami datang di musim hujan). Tiket masuk area kompleks adalah THB 100/orang dan THB 50/mobil. Sayang, hari itu kunjungan kami ke Sukhothai sempat disertai hujan deras sehingga banyak kawasan kompleks tergenang air cukup tinggi. Kami sempat berhenti sebentar di pusat informasi, namun sangat disayangkan, untuk tempat bersejarah seindah Sukhothai, pusat informasi ini hampir tidak menyajikan informasi apapun, selain maket kompleks dan peta lokasi. Berbeda dengan pusat informasi di Ayutthaya yang mempunyai staf berbahasa Inggris, mengadakan pemutaran film pendek tentang Ayutthaya, dan menyediakan setumpuk brosur menarik tentang Ayutthaya dan lingkungan sekitarnya. Wajar juga sih, mengingat secara jarak, Ayutthaya lebih dekat dari Bangkok, jadi lebih banyak wisatawan yang berkunjung kesana dibandingkan dengan ke Sukhothai.

Bagian dari Wat Maha That

Turis dan guide-nya
Wat Maha That yang tergenang air hujan

Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Wat-Wat yang lain. Ternyata, kalau musim hujan, Sukhothai "kebanjiran". Danau-danau bermunculan dimana-mana dan banyak bagian dari candi yang sulit diakses. Memanfaatkan waktu disana, akhirnya kami berkeliling kompleks naik mobil dan baru turun untuk mengunjungi Wat Maha That, candi yang terbesar dan Wat Si Sawai yang cantik. Menjelang waktu makan siang, kami berhenti di deretan kedai makan dan souvenir di seberang Wat Maha That untuk menikmati pad thai goong. Selesai makan, niatnya langsung menuju Wat Saphan Hin dan Wat Si Chum yang berada di luar kompleks. Hujan deras kembali turun tapi kami tetap menuju Wat Saphan Hin. Tidak begitu jauh dari loket pembelian tiket, tampaklah Wat Saphan Hin di atas bukit di sebelah kanan. Tunggu punya tunggu, hujan tidak menunjukkan niatnya untuk berhenti, akhirnya THB 200 pun hangus karena kami memutuskan untuk pergi dari Wat Saphan Hin :(. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Wat Si Chum. Kalau dari arah Sukhothai Historical Park, Wat Saphan Hin dan Wat Si Chum dapat dicapai dengan mengambil arah menuju Tak, namun jalan masuk Wat Si Chum terletak di sisi kanan jalan, sedangkan jalan masuk Wat Saphan Hin masih lebih jauh lagi dan terletak di sisi kiri jalan. Sesampainya di Wat Si Chum, langit masih mendung dan rintik-rintik hujan belum juga mau berhenti. Karena sudah sore, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang, kami sempat mengitari kompleks bandara dekat hotel dan ternyata ada kebun binatang disana yang otomatis menjadi tujuan dalam agenda jalan-jalan besok.

Wat Si Sawai yang fotogenik
Jalan mendaki menuju Wat Saphan Hin yang akhirnya batal didatangi
Terpesona dengan saudaranya Sophie si jerapah
Berbeda dengan hari sebelumnya, matahari tampak bersahabat di hari Jum'at itu. Pagi ini kami mau berkeliling desa naik sepeda yang dipinjamkan gratis untuk tamu hotel. Dengan David di punggung saya, kami bertiga mengayuh sepeda dengan semangat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak bersepeda. Tujuan pertama adalah kompleks bandara yang berlokasi 1,5 km dari hotel kami. Di kompleks ini ada miniatur Angkor Wat, cafe-cafe kecil, kebun binatang, kandang kerbau, rumah kaca tempat budidaya anggrek dan beberapa bangunan tertutup yang tampak seperti museum. Perjalanan pagi itu benar-benar menjadi momen bagus untuk mengenalkan beragam hewan pada David, yang selama ini hanya ia tahu dari buku cerita. Mulai dari sapi, kerbau, zebra, jerapah, angsa putih dan angsa hitam, bebek, kijang, sampai burung merak. Setelah melewati rumah kaca, kandang sapi, dan kompleks rumah pegawai setempat, eksplorasi diakhiri dengan minum segelas jus rumput padi (aneh ya namanya?)di kedai yang menjual makanan dan minuman organik.

Sebelum perjalanan dimulai
Tidak pernah bosan melihat antrian bebek yang tertib
Tertidur di tengah perjalanan
Menyusuri jalan setapak desa

Setelah beristirahat sebentar di hotel, kami kembali lagi ke arah kota menuju Wat Si Chum dan Sukhothai Historical Park memanfaatkan cuaca yang cerah. Puas berkeliling, mobil diarahkan ke Si Satchanalai Historical Park yang juga merupakan situs Warisan Budaya, tapi terletak sekitar 70 km dari Sukhothai. Sampai sana menjelang senja, tentu saja kompleksnya sudah tutup. Tidak ada pilihan selain kembali ke hotel dan melewatkan malam terakhir kami di Sukhothai sebelum kembali ke Bangkok besok pagi.

Patung Buddha raksasa di Wat Si Chum


Salah satu candi unik berhiaskan patung gajah di setiap sisinya

 
Wat Maha That tampak belakang

Pantulan candi di genangan air hujan

Rawa yang memberikan kesan damai sekaligus misterius

Liburan 4 hari 3 malam kami kali ini benar-benar menyenangkan seperti biasanya dan selalu ada hal menarik yang kami temui, diantaranya kompleks bandara Sukhothai yang begitu unik dan jus rumput padi yang sulit dijelaskan rasanya :). Penduduk sekitar dan pekerja-pekerja nan ramah yang kami temui pada saat berjalan-jalan keliling desa turut menyempurnakan suasana liburan kali ini.

phóp kan mài, Sukhothai!

Monday, 18 November 2013

The End of A Blissful Moment

One of his favorite nursing styles

The wonderful months of breastfeeding finally came to an end. Despite his good appetite in solid food, our little boy used to be breasts addict until about four months ago as he was in the daycare for four times a week. Since then, he skipped his nursing sessions to morning and before bedtime only for the week, unless on Tuesdays and weekends where he would have his afternoon session to help him fall asleep. In normal circumstances, he is no longer waking up at nighttime thanks to my husband who always attends and comforts him when he wakes up, therefore he understands that nighttime is for sleeping and not for eating.

It was only about few weeks ago when I thought about weaning him as I was urged to do a regular health check-up that I did not do for years since I got pregnant and later nursed David. This check-up cannot be done as long as I nurse, so after lengthy discussions with my husband, we agreed to do it slowly and naturally without involving anything to be put on my nipples.

The weaning process itself took about three weeks in total and we started from the easiest, that was just before bedtime. Normally, I would nurse and put him in his crib afterwards. During the first week of weaning process, until now, I sat him on my lap and hugged him, rubbed his back while whispering good words and prayers on his ear for some time in exchange of nursing, then I put him in his crib, waited for a couple of minutes and left the sleepy baby alone, no cry, no drama :)

The second week, we tried to eliminate the afternoon session on Tuesdays and weekends. It was quite difficult compared to the first week, but we did it. The fact that we did not use neither pacifier nor bottle since day one made the weaning process quite challenging. However, we managed to put him for a nap without nursing. Again, as suggested by few articles I read on weaning with love, we replace those comforts of nursing by other physical affection such as hugging and rubbing his back. 

The most difficult one was the early morning nursing session. He usually woke up at 5 am or 5.30 am and I would take him to our room for nursing so I could continue sleeping while nursing. This third week, we let him cried for two minutes or less at around 5 am, where he would normally be back to sleep again and we would attend to his room after 6 am. We also prepare a small portion of milk in the room so once he wakes up, we give him milk. The third week passed, and we got surprisingly great fact that our used-to-be earlyriser now wakes up around 6.30 to 7.00 am..super wow!

Our little baby turned eighteen months few days ago. I can't believe how time flies so fast. It was still fresh in mind the first time I held his little body in my arms and when we got home, I experienced two painful weeks of nursing not to mention backache and lack of sleep, among others. I am so fortunate to experience this emotional mother-child bonding moment for eighteen months albeit a little bit sad as there is no more "affectionately looking at each other while nursing" session :(. Beyond that, our breastfeeding experience has become one of the most memorable moments for the three of us. My husband even composed a song that we both sang during David's nursing time...how sweet was that!

Thank you for the past beautiful and joyous eighteen months we have shared, my little one. May you grow happy, healthy, and wise, constantly showered with abundant love from us.

Nursing on demand during one picnic lunch :)

It is only in the act of nursing that a woman realizes her motherhood in visible and tangible fashion; it is a joy of every moment. ~Honore de Balzac

Thursday, 7 November 2013

Sekilas Bang Pa-In Palace

Dalam perjalanan pulang dari liburan ke Sukhothai dua minggu lalu, kami memutuskan untuk mampir di istana musim panas kerajaan yang terletak di luar kota Bangkok, mungkin sekitar 1 jam perjalanan. Dari Bangkok, banyak agen perjalanan yang menawarkan ekskursi ke istana yang terletak di propinsi Ayutthaya ini.

Kami tiba disana sekitar 1 jam sebelum waktu berkunjung selesai, yaitu antara pukul 08.00 - 16.00. Setelah membayar tiket masuk seharga THB 100 per orang, kami bergegas menuju halaman istana yang hijau dan tertata apik. Sebenarnya ada penyewaan kendaraan seperti mobil golf elektrik untuk mengelilingi kompleks, tapi kami memilih untuk berjalan kaki. Sama halnya dengan peraturan mengunjungi tempat-tempat peribadatan maupun istana raja, pengunjung harus berpakaian sopan. Kebetulan sore itu saya mengenakan atasan tanpa lengan, jadilah harus menyewa kemeja kembang-kembang yang kebesaran dengan deposit THB 200. Maka, jangan heran kalau tidak akan ada satu foto diripun di Bang Pa-In ini, soalnya pakaiannya kurang asyik dilihat :D

Sejarah Bang Pa-In berawal dari abad ketujuh belas ketika Raja Prasat Thong (1629-1656) membangun sebuah istana di tepi sungai Chao Phraya ini. Sejarah mencatat ada satu bagian dari kompleks istana, yaitu Aisawan Thiphaya-art Royal Residence yang dibangun pada tahun 1632, bersamaan dengan kelahiran putra mahkota raja Narai (1656-1688). Setelah itu, tidak diketahui dengan pasti apakah istana ini masih digunakan sebagai tempat tinggal para raja sampai berakhirnya kejayaan Ayutthaya di tahun 1767 dan ibukota kerajaan dipindahkan ke Bangkok.

Pada masa pemerintahan raja Rama IV dari dinasti Chakri atau dikenal juga sebagai Raja Mongkut (1851-1868), istana ini direstorasi dan putra mahkota Raja Chulalongkorn (Rama V) membangunnya seperti yang tampak sekarang. Sampai kini, istana Bang Pa-In digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat menyelenggarakan resepsi kerajaan.

The royal residence on the left and Phra Thinang Aisawan Thiphya-art on the right with Tevaraj-Kanlai Gate at the background

Paviliun Aisawan Thiphya-art yang dibangun pada 1632


Patung Romawi yang menghiasi halaman istana

Menara pandang HO Withun Thasana yang dibangun pada 1881

Namanya juga istana, jadi meskipun hamparan rumput luas nan hijau begitu menggoda untuk diduduki, pengunjung tidak diperbolehkan duduk bahkan piknik disana. Kami berkunjung kesini karena kebetulan rute pulang melalui Bang Pa-In, kalau tidak, mungkin kami tidak akan menyengajakan diri menghabiskan waktu satu jam perjalanan untuk mencapai tempat ini. Dengan jarak yang hampir sama, saya pribadi lebih senang berkunjung lagi kesini.

Tuesday, 22 October 2013

Travelers Daily Today

Setelah minggu lalu mendapat kabar dari Travelers Daily bahwa artikel saya akan dimuat, tadi siang tulisan saya sudah ditampilkan di web mereka. Cerita lengkap dari acara perdana kami berkemah dengan David ada disini.

Terima kasih Travelers Daily...nantikan cerita kami selanjutnya :)

Sunday, 20 October 2013

Kepada Ibu Saya Berterima Kasih


Setiap orang yang mengenal baik saya tahu pasti kedekatan hubungan saya dengan Ibu. Terlahir sebagai anak bungsu tidak membuat saya lantas tumbuh menjadi anak manja. Sedari kecil, saya dibiasakan untuk mandiri, mengurus keperluan saya sendiri, mulai dari membereskan tempat tidur, mencuci sepatu, membereskan buku atau mainan, sampai membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Ibu tidak pernah memanjakan saya secara berlebihan, namun satu hal yang saya ingat, ibu selalu menunjukkan kasih sayangnya secara eksplisit. Pernah suatu pagi, sewaktu usia SD, ketika saya membuka mata, ibulah yang pertama kali saya lihat dan beliau sedang menciumi saya. Ibu juga mempunyai banyak panggilan sayang yang selalu membuat saya senang dan merasa istimewa ketika mendengarnya. Ibu juga hampir tidak pernah memarahi saya. Jika ada hal yang membuat beliau tidak suka, ibu akan diam dan kemudian mengatakan apa yang tidak disukainya agar saya mengerti dan tidak mengulanginya lagi. Kedekatan hubungan kami sebagai ibu dan anak terus berlanjut sampai sekarang, ketika saya sudah berkeluarga. Banyak teman dekat yang penasaran bagaimana saya bisa begitu dekat dengan ibu saya? Bahkan ada satu teman bertanya hal apa yang membuat saya selalu memilih langsung pulang ke rumah setelah jam sekolah/kuliah dibanding berjalan-jalan bersama teman-teman. Jawaban saya saat itu singkat saja, ada Ibu menunggu saya di rumah.

Dari sekian banyak pelajaran hidup yang saya peroleh dari cara Ibu membesarkan saya, ada beberapa yang memberikan kesan mendalam bagi saya sebagai seorang anak.

Ibuku Guruku
Di ajaran agama yang saya anut, dikatakan bahwa Ibu adalah sekolah pertama anak dan memang benar adanya. Ibu adalah orang yang dengan pengalaman hidupnya, menunjukkan pada saya bahwa ibadah itu adalah kebutuhan dan bukan keharusan, dan ketenangan serta kebahagiaan jiwa itu bersumber dari kedekatan kita dengan Tuhan.

Dalam hal akademik, meskipun saya masuk jenjang sekolah umum dan bukan homeschooling, Ibu adalah guru saya di rumah untuk semua mata pelajaran dari saya duduk di bangku SD hingga SMP. Begitu masuk SMU, Ibu menyatakan tidak sanggup mengajari saya karena beliau tidak menguasai pelajarannya, namun ada satu yang tidak berubah, meski Ibu tidak lagi menjadi guru saya. Ibu selalu menunggui saya belajar pada hari biasa maupun pada masa-masa ujian sekolah sebagai bentuk dukungannya terhadap saya.

Ibuku Temanku
Ibu sangat supel dan pandai menempatkan diri dalam lingkungan dimanapun beliau berada, tidak terkecuali dalam posisinya sebagai Ibu. Sependek ingatan saya, Ibu selalu mendengarkan apapun cerita saya, tidak pernah melarang ini-itu, memberikan kebebasan penuh untuk beraktivitas dan melakukan apa saja, menghargai setiap pilihan saya, dan tidak pernah menghakimi. Yang ibu lakukan hanya memberitahu konsekuensi dari suatu tindakan, mengingatkan, dan member masukan, tanpa ada nada otoriter sedikitpun. Karena itu, saya tumbuh dengan menganut prinsip kebebasan yang bertanggung jawab, yang menjadi modal utama ketika saya memutuskan hidup mandiri meninggalkan zona nyaman aman di pelukan Ibu. Saya selalu dapat mengganggap Ibu sebagai teman pada saat dibutuhkan, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada orang yang melahirkan saya ke dunia ini.

Ibuku Pengasuhku
Sikap Ibu yang hangat membuat saya dengan mudah dapat merasakan kasih sayangnya yang luar biasa besar. Namun, apakah saya menjadi terlena dan kemudian membuat ibu tidak berwibawa di mata saya? Tidak sama sekali. Justru kehangatan dan kasih sayang yang diungkapkan secara visual dan verbal oleh Ibu membuat hati dan fisik saya dekat dengan beliau sehingga saya sangat menghormati Ibu dan begitu menyayanginya. Saya percaya bahwa kasih sayang Ibu yang diungkapkan melalui perbuatan turut membentuk rasa percaya diri anak di kemudian hari, seperti yang saya alami.

Ibuku Pahlawanku
Ibu bekerja keras dengan mengandalkan keahliannya mengolah makanan agar saya dapat mengenyam pendidikan tinggi. Ibu selalu mewanti-wanti agar saya sekolah setinggi mungkin, berkaca dari penyesalan beliau tidak menyelesaikan sekolah. Kondisi ini pula yang membuat saya tumbuh menjadi pribadi mandiri, tidak ingin merepotkan orang lain, persis seperti Ibu yang paling anti meminta bantuan orang lain selama beliau masih mampu melakukannya sendiri. Saya juga tertantang untuk mandiri secara finansial ketika masih duduk di bangku kuliah karena terinspirasi dengan sosok Ibu yang pekerja keras. Pencapaian saya dalam bidang akademik adalah hadiah besar untuk kami berdua, karena kami berjuang bersama mencapai mimpi itu, dengan cara masing-masing.

Kepada Ibu saya berterima kasih atas do’a-do’a tulus yang terangkai indah menyertai setiap langkah perjalanan hidup saya, atas didikan, dorongan, kesabaran, dan kasih sayangnya yang tiada batas. Sosok Ibu begitu penting dalam setiap tahap kehidupan saya sampai saya bercita-cita menjadi ibu terbaik untuk anak-anak saya kelak, seperti halnya Ibu yang menjadi ibu terbaik untuk saya. Semoga saya diberikan banyak kesempatan untuk dapat selalu membahagiakan wanita yang sangat saya cintai ini.

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba Penulisan Artikel “Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil” #LombaBlogNUB

Friday, 18 October 2013

Kentang Brokoli Panggang

Sejujurnya, setelah David berusia 1 tahun, tingkat kerajinan dan kreativitas saya dalam membuat menu makanannya menurun drastis. Saya sudah terlanjur keenakan karena menu makanan kami sama. Tapi seminggu kemarin, karena saya makan makanan pedas terus, saya harus menyiapkan menu lain untuk si bocah. Setelah cek isi kulkas jadilah ini:
Bahan:
4 buah kentang kecil
1 bonggol brokoli, diambil kuntumnya
Keju parut
Garam dan merica
Cara membuat:
Kukus kentang dan brokoli secara terpisah. Setelah matang, kentang dikupas dan dipotong kecil-kecil sedangkan kuntum brokoli diiris kasar. Tambahkan keju parut, sedikit garam dan merica, bubuk pala pada adonan. Masukkan dalam pinggan tahan panas, tutup bagian atasnya dengan keju parut, panggang di oven dengan suhu 180 derajat Celcius selama kurang lebih 20 menit (api bawah dulu, baru 5 menit terakhir gunakan api atas dan bawah).

Carrot and cheese cookies: perfect for teething and traveling

Hasil browsing dari halaman Homemade Healthy Baby Food, dapat resep andalan yang enak, sehat bergizi.

Resep asli dari ibu Anggie Bam (Cemilan kue kering untuk bayi usia 8m+).

Carrot and cheese cookies

Bahan:
3 sdm tepung beras (resep asli: 1 cangkir teh tepung beras)
5 sdm penuh tepung tapioka
3 sdm penuh maizena
Keju parut
1 buah wortel ukuran besar diparut
80 gr unsalted butter (resep asli: 5 sdm unsalted butter)
3 kuning telur (resep asli: 1 buah kuning telur)

Cara membuat:
Campur keju, tepung, dan wortel (di resep asli, semua bahan tersebut dihaluskan dengan chopper)
Kemudian masukkan butter dan telur, aduk sampai kalis.
Cetak adonan sesuai selera, dan panggang di oven 150 derajat selama 20-30 menit.

Hasilnya seperti ini:

Percobaan pertama

Percobaan kedua
Dari kedua percobaan yang saya lakukan, saya lebih suka hasil dari percobaan kedua karena dengan bentuk menyerupai finger foods, kue ini lebih enak dipegang David. Selain itu teksturnya keras sehingga tidak mudah hancur tetapi apabila digigit-gigit lama kelamaan kuenya akan lumer sendiri, jadi cocok dijadikan cemilan di perjalanan. Selamat mencoba!