Saya suka jalan-jalan. Setelah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, sayapun mulai rajin mencari destinasi menarik yang ingin saya kunjungi, tentunya dengan harga yang terjangkau. Sebagai penggemar acara jalan-jalan, pertimbangan saya dalam memilih dan memutuskan destinasi adalah:
1. bukan untuk wisata shopping
2. lebih menyukai wisata alam
3. biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan terjangkau
4. keberadaan tempat-tempat menarik/unik yang tidak termasuk dalam atraksi tipikal khas turis yang umum ditawarkan, karena itu dalam hampir setiap kesempatan, saya memilih perjalanan mandiri dan tidak bergabung dengan tur.
5. panduan saya untuk memilih tempat liburan ketika itu adalah blog seseorang bernama mbak Imas Sofyan di Multiply yang sangat inspiratif. Tempat-tempat di Indonesia yang dikunjungi mbak Imas ini semuanya unik dan menarik. (Selama beberapa tahun saya menjadi pembaca setia blog mbak Imas, namun sayang, sekarang di Multiply-nya ataupun di tempat lain tidak ada cerita baru dari mbak Imas).
Sewaktu saya bekerja di badan dunia yang mengurusi pendidikan dan budaya, saya mulai mengenal tempat-tempat yang diklasifikasikan sebagai World Heritage Sites atau Warisan Budaya Dunia. Mantan pacar yang waktu itu masih berstatus teman, kebetulan bekerja di unit yang tugasnya memang mengurusi peninggalan budaya dan sejarah, dan sedikit banyak paham tentang Situs Warisan Budaya Dunia dan serba-serbinya. Sampai pada suatu hari, setelah beberapa kali kami sempat melewatkan akhir pekan dengan teman-teman kantor dengan mengunjungi beberapa taman nasional dan wisata alam lainnya, tercetus ide mimpi untuk menjadikan Situs Warisan Budaya Dunia tersebut sebagai tujuan jalan-jalan berikutnya.
Ketika kami menikah, kami bertekad untuk mewujudkan mimpi jalan-jalan kami menjadi kenyataan,sekaligus untuk menghargai organisasi dimana kami dipertemukan :). Antusiasme kami berdua dalam mengunjungi tempat baru, kesamaan dalam hal gaya jalan-jalan, serta pekerjaan suami yang berpindah-pindah membuat mimpi itu perlahan terealisasikan. Alasan lain, kami senang mengambil pilihan yang anti-mainstreaming termasuk dalam hal jalan-jalan. Jadi, jika orang lain mempunyai must-visit list, maka di keluarga kecil kami, must-visit listnya adalah semua Situs Warisan Budaya Dunia versi UNESCO sejumlah 962 situs (745 diantaranya adalah situs budaya, 188 situs alam, dan 29 situs campuran yang berlokasi di 157 negara) dan keliling Indonesia, tentunya! Daftar lengkapnya bisa dilihat disini. Saat ini saya baru mengunjungi 32 situs dari 962 situs yang ada per 2012. Ulasan tentang situs-situs Warisan Budaya Dunia yang pernah saya/kami kunjungi akan dibahas di blog ini secara bertahap. Ada yang mempunyai mimpi sama seperti kami?
So, care to share the reasons behind your own must-visit list?
Tuesday, 12 February 2013
Berenang bersama Bayi
Salah satu agenda kami di tahun 2013 untuk si kecil adalah mengikutsertakannya pada kegiatan berenang khusus untuk bayi ketika ia berusia 7 bulan 3 minggu. Ya, kami bercita-cita agar si kecil mendapat sebanyak mungkin kesempatan yang dapat mengasah survival skill-nya kelak, salah satunya adalah berenang. Dari beberapa alternatif yang ada, pilihan kami jatuh pada Bangkok Dolphins yang ditujukan untuk bayi berusia 3 bulan sampai dengan 3 tahun. Setelah beberapa kali pertemuan, kami cukup puas dan si kecil juga sangat senang setiap kali masuk ke kolam renang.
Sesi yang kami ikuti berlangsung selama 13 minggu (1x pertemuan per minggu). Dalam waktu 30 menit, bayi bersama orangtua (bapak/ibu) diajak bernyanyi dan berkenalan dengan air oleh sang pelatih, lengkap dengan segala jenis mainan berwarna-warni dan alat-alat latihan yang diperlukan, seperti papan styrofoam dan pelampung. Pada pertemuan pertama, biasanya si bayi belum dimasukkan kepalanya ke dalam air. Awalnya, si kecil kerap menangis dan beberapa kali air kolam terminum olehnya, namun setelah beberapa pertemuan, perlahan ia tidak lagi menangis dan tersedak ketika kepalanya masuk ke dalam air. Untuk tahap yang lebih mahir, saya melihat anak-anak balita meluncur dari papan perosotan dengan berani, lucu sekali!
Ayo, mari kita berenang :)
Sesi yang kami ikuti berlangsung selama 13 minggu (1x pertemuan per minggu). Dalam waktu 30 menit, bayi bersama orangtua (bapak/ibu) diajak bernyanyi dan berkenalan dengan air oleh sang pelatih, lengkap dengan segala jenis mainan berwarna-warni dan alat-alat latihan yang diperlukan, seperti papan styrofoam dan pelampung. Pada pertemuan pertama, biasanya si bayi belum dimasukkan kepalanya ke dalam air. Awalnya, si kecil kerap menangis dan beberapa kali air kolam terminum olehnya, namun setelah beberapa pertemuan, perlahan ia tidak lagi menangis dan tersedak ketika kepalanya masuk ke dalam air. Untuk tahap yang lebih mahir, saya melihat anak-anak balita meluncur dari papan perosotan dengan berani, lucu sekali!
![]() |
| Belajar bersahabat dengan air |
Ayo, mari kita berenang :)
Thursday, 31 January 2013
Timur vs Barat
Berbicara seputar bayi, saya tertarik untuk membuat kesimpulan abal-abal tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan pertama kali ketika bayi menjadi topik pembicaraan, berdasarkan pengalaman pribadi :)
Budaya Timur:
- Bayinya sudah bisa apa dan apakah giginya sudah tumbuh?
Budaya Barat:
- Bayinya sudah bisa tidur sepanjang malam?
Dan daftar pertanyaan akan bertambah panjang lima menit setelah pembicaraan berlangsung, berlaku baik di Timur maupun Barat :).
Bagaimana pengalaman Anda?
Budaya Timur:
- Bayinya sudah bisa apa dan apakah giginya sudah tumbuh?
Budaya Barat:
- Bayinya sudah bisa tidur sepanjang malam?
Dan daftar pertanyaan akan bertambah panjang lima menit setelah pembicaraan berlangsung, berlaku baik di Timur maupun Barat :).
Bagaimana pengalaman Anda?
Monday, 21 January 2013
Ignorance is Annoying
Today, we attended the playgroup activity at one of the international pre-school in Thong Lo with a friend and her son. Following the registration, we entered a room which was already full with kids and their parents/nannies. We waited for the class to begin when a middle-age woman approached, looked at my friend, who happened to be a Caucasian, and greeted her without even bothered to do the same thing to me. She introduced herself as the principal of the school, started the conversation with my friend (yes, only with my friend and being ignorant to the fact that I was physically there, too), asked the age of her boy, and then the woman pointed out to my son who was asleep in the wrap, - I answered her but she did not even look at me in the eye - thinking that I might be the nanny, I guess. I tried to be involved in their conversation only to realise later on that it would not change the woman's attitude to me. From the way she acted, she looked down on me, and even later, when I asked her about the playgroup's schedule, she gave a piece of paper containing the schedule activities to my friend, only to her. So, I decided to go to the office and got another copy for myself.
Why does this thing matter? Was I offended because someone thought that I were a nanny? No, not at all. In Bangkok, hiring a nanny that speaks English might cost you a fortune so, why should I be offended? Being a nanny is not a shame, it is a decent job. I just feel sorry for that woman and I pity her attitude for being so ignorant to someone who has not the same skin colour as hers and my friend, that is me. I was wondering what is so difficult of being nice to someone, whether she is a nanny or a madame? whether she is Asian or Caucasian?
I might not be glossy, I might not have those madame looks, I might have dressed up like a nanny - in my pair of jeans and t-shirt, but at least I was taught how to respect people regardless their status. In the past, I used to think that citizens of developed countries are well-mannered. Apparently, it is not totally correct. The woman, whom I met is one of the examples. I kept telling myself that I should think twice before choosing the right pre-school for my son when the time comes and make sure that whoever leads the school is not a narrow-minded ignorant person like her.
Apart from this issue, the playgroup was good. So, it was a good way of starting the week and at the same time, learning how to deal with ignorant people :)
Have a blissful week, everyone!
Why does this thing matter? Was I offended because someone thought that I were a nanny? No, not at all. In Bangkok, hiring a nanny that speaks English might cost you a fortune so, why should I be offended? Being a nanny is not a shame, it is a decent job. I just feel sorry for that woman and I pity her attitude for being so ignorant to someone who has not the same skin colour as hers and my friend, that is me. I was wondering what is so difficult of being nice to someone, whether she is a nanny or a madame? whether she is Asian or Caucasian?
I might not be glossy, I might not have those madame looks, I might have dressed up like a nanny - in my pair of jeans and t-shirt, but at least I was taught how to respect people regardless their status. In the past, I used to think that citizens of developed countries are well-mannered. Apparently, it is not totally correct. The woman, whom I met is one of the examples. I kept telling myself that I should think twice before choosing the right pre-school for my son when the time comes and make sure that whoever leads the school is not a narrow-minded ignorant person like her.
Apart from this issue, the playgroup was good. So, it was a good way of starting the week and at the same time, learning how to deal with ignorant people :)
Have a blissful week, everyone!
Sunday, 20 January 2013
Babies' Playdates in the Weekend
Unlike other weekends while my husband is away on business trip, today's schedule was full of appointment. It was more like baby's playdates, to be exact. Left the apartment at 08.30 a.m, we walked along Sukhumvit Road to meet our friends for breakfast at Cafe Tartine. Bangkok is at its best at this moment, kind of breezy. Arrived a bit earlier than expected -just 20 minutes walk from home to soi Ruam Rudee- we coincidentally met my husband's colleague with her husband and their 9-month old son. Last time we met them was about 5 months ago and we haven't met again since then. Their baby, only one month older than ours, is so sweet and healthy, a perfect mixture of his pretty American mother and Swiss father. We had a nice chat for at least 20 minutes before saying goodbye with the promise that we will meet up sometime once my husband is in town.
Later, our friends arrived and we made the order for breakfast. That morning, there was not many people in the cafe, just perfect to have a nice chat while having good meals. With croissant, pain au chocolat, coffee, and fresh orange juice, we spent the morning catching up the news since our first and last meeting in their cozy house in Honiara. This nice Indonesian-Canadian couple who recently moved to Thailand, once lived in the Solomon Islands while we still lived in Vanuatu back in 2010-2011. They have a 13-month old cute blond toddler, healthy, strong, and adventurous who loves eating and exploring the place. Later, I was told that they are currently expecting their second child, what a wonderful news! *suddenly I missed being pregnant :p* We talked about lots of things until around 11.00 a.m. It was so fun and we planned to do it again next time.
In the afternoon, we had another appointment with our neighbour next door, the lovely American-Thai couple with their pretty 7-month old daughter, which I talked about in the previous post. They also invite their friends whose wife is Indonesian and have a 6,5-month old baby daughter. See, today was really babies's meeting from morning to late afternoon. Following a nice chitchat at their home, off we went to the park for a stroll, spending sometime there before we finally got back home.
Overall, it was such a lovely Sunday for both of us, and you, my little man, have been very good all the time during meeting your little friends. Can't wait to taking you for the next ones.
So, how about your Sunday?
Later, our friends arrived and we made the order for breakfast. That morning, there was not many people in the cafe, just perfect to have a nice chat while having good meals. With croissant, pain au chocolat, coffee, and fresh orange juice, we spent the morning catching up the news since our first and last meeting in their cozy house in Honiara. This nice Indonesian-Canadian couple who recently moved to Thailand, once lived in the Solomon Islands while we still lived in Vanuatu back in 2010-2011. They have a 13-month old cute blond toddler, healthy, strong, and adventurous who loves eating and exploring the place. Later, I was told that they are currently expecting their second child, what a wonderful news! *suddenly I missed being pregnant :p* We talked about lots of things until around 11.00 a.m. It was so fun and we planned to do it again next time.
In the afternoon, we had another appointment with our neighbour next door, the lovely American-Thai couple with their pretty 7-month old daughter, which I talked about in the previous post. They also invite their friends whose wife is Indonesian and have a 6,5-month old baby daughter. See, today was really babies's meeting from morning to late afternoon. Following a nice chitchat at their home, off we went to the park for a stroll, spending sometime there before we finally got back home.
![]() |
| Playdate with the girls :) |
Overall, it was such a lovely Sunday for both of us, and you, my little man, have been very good all the time during meeting your little friends. Can't wait to taking you for the next ones.
So, how about your Sunday?
Friday, 18 January 2013
Wow...
Ketika saya hampir menyerah untuk tidak lagi-lagi melakukan perjalanan jauh dalam waktu dekat dengan si kecil (di perjalanan kami baru-baru ini, si kecil terjaga sepanjang penerbangan selama 12 jam), secara kebetulan saya bertemu seseorang yang bercerita tentang pengalamannya terbang seorang diri dengan tiga anak berusia 4 tahun, 2 tahun, dan 3 bulan selama 12 jam, belum lagi anaknya yang masih bayi muntah sebanyak 7 kali di pesawat yang salah satunya mengenai sepatu penumpang lain, membuat ia nyaris kapok dan berjanji tidak akan pernah mau terbang bersama anak-anak saja tanpa suaminya ikut serta. Faktanya, enam bulan kemudian, kejadian yang sama terulang, ia terbang selama belasan jam hanya dengan ketiga anaknya. Berbekal cerita heroik tersebut, sayapun bersemangat kembali. Jadi, perjalanan selanjutnya, siapa takut??? *singsingkan lengan baju*
Thursday, 17 January 2013
Kenapa Sih?
Belasan tahun yang lalu, sewaktu masih menjadi remaja berseragam putih biru, beberapa kali saya menerima "nasihat" dari kerabat dekat "tuh, seperti si A atau si B, pintar, masuk sekolah/PTN favorit, dst." Hal remeh seperti ini saat itu terdengar mengesalkan untuk saya. Saya yakin tidak ada seorangpun yang senang dibanding-bandingkan bukan? Ketika saya menceritakan hal ini kepada ibu saya, dengan bijak beliau berkata "tidak perlu didengarkan, biarkan saja, malah justru jadikan pemicu". Alhamdulillah, di kemudian hari, saya menjadi yang pertama dari generasi kami dalam hal yang terkait dengan pencapaian akademis, dan komentar-komentar itupun lenyap dengan sendirinya.
Beberapa tahun yang lalu, ketika hampir saudara dan teman-teman dekat sudah menemukan tambatan hatinya, saya sering menerima komentar seperti "jangan pilih pilih" atau "jangan terlalu fokus bekerja, nanti keburu tua dan tidak laku" atau "mana pacarnya?". Awalnya saya bisa bersikap santai, tapi lama kelamaan dibombardir dengan pertanyaan seperti itu membuat kesabaran saya diuji. Saya sempat berada pada fase "malas datang ke acara-acara dimana sekiranya pertanyaan-pertanyaan serupa akan muncul". Ditengah-tengah komentar yang membuat gerah tersebut, ada komentar seseorang yang selalu saya ingat " tenang saja, tidak perlu khawatir, nanti saatnya akan datang juga". Yang terpenting, ibu saya sendiri saja tidak repot, kok malah orang lain yang repot???
Setahun yang lalu, ketika saya hamil dan bercita-cita ingin melahirkan secara alamiah tanpa menggunakan obat penghilang sakit apapun seperti epidural, saya menerima komentar "kenapa kok mau-maunya merasakan sakit padahal ada cara lain untuk menghindari itu?" dari seseorang yang merasa terselamatkan dengan adanya epidural. Ketika pada akhirnya, saya diberi kesempatan untuk melahirkan putra pertama kami sesuai dengan harapan, dan saya ditanya kembali apakah saya puas dengan semua yang dialami sewaktu proses melahirkan? Saya jawab puas dan tidak ada komentar lanjutan.
Sekarang, ketika saya sudah mempunyai anak, komentar yang berdatanganpun masih juga beragam seperti ini: "anaknya tidak diberi pisang/bubur susu? Anak saya dulu usia 4 bulan saya kasih pisang/bubur susu dan dia suka lho" padahal anak saya belum genap berusia 6 bulan ketika itu; "giginya belum tumbuh ya? belum bisa merangkak ya?" ketika tahu anak saya belum bergigi dan merangkak; "kasih biskuit (instan) anaknya" ketika anak saya tampak tertarik melihat orang lain makan; "umur segitu kenapa gak dikasih bubur susu/biskuit?" ketika sudah saya jelaskan bahwa anak saya sudah makan banyak variasi buah, sayur, dan serealia; "kenapa strollernya tidak dihadapkan ke jalan biar anaknya bisa lihat-lihat? kasihan tidak ada pemandangan kalau seperti itu" ketika melihat saya yang menggunakan rear-facing stroller; "lho kok menyusu terus?lapar ya?" ketika melihat anak saya -yang ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai sekarang-sedang menyusu (lagi); "jaman dulu saja bayi sudah kenal gula garam, buktinya sekarang gedenya tidak masalah" ketika mendengar prinsip saya yang berusaha untuk tidak mengenalkan gula garam sampai usia 1th dan meminimalkan pemberiannya setelah usia tersebut; "bayinya bau tangan ya?" ketika sekali waktu bayi saya menangis waktu disimpan di stroller pinjaman; "maunya sama ibunya terus nih" ketika bayi saya menangis saat digendong orang lain dan baru berhenti menangis ketika saya gendong; "kasih nonton acara-acara di TV yang khusus bayi itu lho biar anteng" ketika melihat bayi saya menangis meminta perhatian; dan masih banyak lagi. Rasanya, bekal sabar harus lebih ditingkatkan lagi ketika menghadapi pertanyaan dari orang-orang yang rata-rata kebetulan sudah lebih dulu (saya tidak mengatakan berpengalaman) mempunyai anak. Rasanya, saya ingin mengemukakan alasan-alasan saya terhadap semua pertanyaan tersebut berdasarkan apa yang saya baca dari buku dan konsultasi dengan dokter anak kami, tapi kemudian terpikir mungkin saya justru dianggap sok tahu dan tidak mau mendengar nasihat dari yang sudah "berpengalaman". Yang pasti, saya punya semua penjelasan rasional dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun apa gunanya jika malah memancing debat yang sebetulnya tidak perlu yang kemudian membuat suasana jadi tidak enak? Pada akhirnya, saya hanya menjawab seperlunya saja.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah mereka yang menanyakan hal-hal serupa seperti diatas itu tahu bahwa:
1. Lulus dari PTN favorit bukan jaminan kesuksesan. Kalaupun pintar secara akademis tetapi tidak matang secara emosional, apa gunanya?
2. Mencari dan memilih pasangan hidup itu tidak semudah mencari dan memilih pakaian dan tidak semua orang beruntung langsung dapat bertemu dengan jodohnya.
3. Setiap orang punya mimpi dan keinginannya masing-masing dalam segala hal dan tidak seorangpun dapat mengubahnya.
4. HARAM hukumnya membanding-bandingkan tumbuh kembang anak yang satu dengan anak yang lain, karena setiap anak itu UNIK. Hal ini perlu diingat baik-baik untuk diri sendiri dan juga sebelum memberikan masukan kepada orang lain.
5. Pengalaman apapun dari mereka yang telah "berpengalaman" belum tentu dapat diterapkan pada orang lain karena setiap orang mempunyai gaya masing-masing dalam membesarkan dan mengurus anak-anak mereka, persis seperti slogannya The Urban Mama
6. Apa yang dirasa baik untuk seseorang dalam satu hal, belum tentu dirasa baik oleh orang lain. Jadi, sebelum memberi masukan kepada orang lain, niatkan untuk hanya sekedar berbagi pengalaman. Perkara diterima atau tidak, itu hal lain.
7. Ilmu pengetahuan terus berkembang, jadi apa yang dianggap benar/baik di masa lalu mungkin saja berubah di masa sekarang. Sepantasnya menjadi orang yang berwawasan terbuka terhadap perkembangan ilmu dan temuan ilmiah yang terbaru.
Kenapa sih perhatian harus diwujudkan dalam bentuk pertanyaan/komentar/pernyataan seperti ini???
*Pengingat untuk diri sendiri agar tidak melakukan hal yang serupa*
Beberapa tahun yang lalu, ketika hampir saudara dan teman-teman dekat sudah menemukan tambatan hatinya, saya sering menerima komentar seperti "jangan pilih pilih" atau "jangan terlalu fokus bekerja, nanti keburu tua dan tidak laku" atau "mana pacarnya?". Awalnya saya bisa bersikap santai, tapi lama kelamaan dibombardir dengan pertanyaan seperti itu membuat kesabaran saya diuji. Saya sempat berada pada fase "malas datang ke acara-acara dimana sekiranya pertanyaan-pertanyaan serupa akan muncul". Ditengah-tengah komentar yang membuat gerah tersebut, ada komentar seseorang yang selalu saya ingat " tenang saja, tidak perlu khawatir, nanti saatnya akan datang juga". Yang terpenting, ibu saya sendiri saja tidak repot, kok malah orang lain yang repot???
Setahun yang lalu, ketika saya hamil dan bercita-cita ingin melahirkan secara alamiah tanpa menggunakan obat penghilang sakit apapun seperti epidural, saya menerima komentar "kenapa kok mau-maunya merasakan sakit padahal ada cara lain untuk menghindari itu?" dari seseorang yang merasa terselamatkan dengan adanya epidural. Ketika pada akhirnya, saya diberi kesempatan untuk melahirkan putra pertama kami sesuai dengan harapan, dan saya ditanya kembali apakah saya puas dengan semua yang dialami sewaktu proses melahirkan? Saya jawab puas dan tidak ada komentar lanjutan.
Sekarang, ketika saya sudah mempunyai anak, komentar yang berdatanganpun masih juga beragam seperti ini: "anaknya tidak diberi pisang/bubur susu? Anak saya dulu usia 4 bulan saya kasih pisang/bubur susu dan dia suka lho" padahal anak saya belum genap berusia 6 bulan ketika itu; "giginya belum tumbuh ya? belum bisa merangkak ya?" ketika tahu anak saya belum bergigi dan merangkak; "kasih biskuit (instan) anaknya" ketika anak saya tampak tertarik melihat orang lain makan; "umur segitu kenapa gak dikasih bubur susu/biskuit?" ketika sudah saya jelaskan bahwa anak saya sudah makan banyak variasi buah, sayur, dan serealia; "kenapa strollernya tidak dihadapkan ke jalan biar anaknya bisa lihat-lihat? kasihan tidak ada pemandangan kalau seperti itu" ketika melihat saya yang menggunakan rear-facing stroller; "lho kok menyusu terus?lapar ya?" ketika melihat anak saya -yang ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai sekarang-sedang menyusu (lagi); "jaman dulu saja bayi sudah kenal gula garam, buktinya sekarang gedenya tidak masalah" ketika mendengar prinsip saya yang berusaha untuk tidak mengenalkan gula garam sampai usia 1th dan meminimalkan pemberiannya setelah usia tersebut; "bayinya bau tangan ya?" ketika sekali waktu bayi saya menangis waktu disimpan di stroller pinjaman; "maunya sama ibunya terus nih" ketika bayi saya menangis saat digendong orang lain dan baru berhenti menangis ketika saya gendong; "kasih nonton acara-acara di TV yang khusus bayi itu lho biar anteng" ketika melihat bayi saya menangis meminta perhatian; dan masih banyak lagi. Rasanya, bekal sabar harus lebih ditingkatkan lagi ketika menghadapi pertanyaan dari orang-orang yang rata-rata kebetulan sudah lebih dulu (saya tidak mengatakan berpengalaman) mempunyai anak. Rasanya, saya ingin mengemukakan alasan-alasan saya terhadap semua pertanyaan tersebut berdasarkan apa yang saya baca dari buku dan konsultasi dengan dokter anak kami, tapi kemudian terpikir mungkin saya justru dianggap sok tahu dan tidak mau mendengar nasihat dari yang sudah "berpengalaman". Yang pasti, saya punya semua penjelasan rasional dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun apa gunanya jika malah memancing debat yang sebetulnya tidak perlu yang kemudian membuat suasana jadi tidak enak? Pada akhirnya, saya hanya menjawab seperlunya saja.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah mereka yang menanyakan hal-hal serupa seperti diatas itu tahu bahwa:
1. Lulus dari PTN favorit bukan jaminan kesuksesan. Kalaupun pintar secara akademis tetapi tidak matang secara emosional, apa gunanya?
2. Mencari dan memilih pasangan hidup itu tidak semudah mencari dan memilih pakaian dan tidak semua orang beruntung langsung dapat bertemu dengan jodohnya.
3. Setiap orang punya mimpi dan keinginannya masing-masing dalam segala hal dan tidak seorangpun dapat mengubahnya.
4. HARAM hukumnya membanding-bandingkan tumbuh kembang anak yang satu dengan anak yang lain, karena setiap anak itu UNIK. Hal ini perlu diingat baik-baik untuk diri sendiri dan juga sebelum memberikan masukan kepada orang lain.
5. Pengalaman apapun dari mereka yang telah "berpengalaman" belum tentu dapat diterapkan pada orang lain karena setiap orang mempunyai gaya masing-masing dalam membesarkan dan mengurus anak-anak mereka, persis seperti slogannya The Urban Mama
6. Apa yang dirasa baik untuk seseorang dalam satu hal, belum tentu dirasa baik oleh orang lain. Jadi, sebelum memberi masukan kepada orang lain, niatkan untuk hanya sekedar berbagi pengalaman. Perkara diterima atau tidak, itu hal lain.
7. Ilmu pengetahuan terus berkembang, jadi apa yang dianggap benar/baik di masa lalu mungkin saja berubah di masa sekarang. Sepantasnya menjadi orang yang berwawasan terbuka terhadap perkembangan ilmu dan temuan ilmiah yang terbaru.
Kenapa sih perhatian harus diwujudkan dalam bentuk pertanyaan/komentar/pernyataan seperti ini???
*Pengingat untuk diri sendiri agar tidak melakukan hal yang serupa*
Wednesday, 16 January 2013
Tentang Tidur Bayi
Bicara tentang anak, memang tidak akan ada habisnya, termasuk untuk kami, si orangtua baru. Menutup tahun 2012 kemarin, si kecil memberikan kejutan manis untuk kami berdua dalam hal tidur :). Sebelum mengungkap apa kejutannya, saya ingin membuat kilas balik dari awal.
Bulan pertama kelahirannya, secara umum si kecil tidak mengalami jadwal tidur terbalik walaupun beberapa kali membuat kami terjaga dini hari karena ia tidak mau tidur lagi setelah menyusu. Dalam bulan pertama ini, rata-rata ia terbangun 2-3 kali untuk menyusu.
Bulan kedua sampai bulan ketujuh, ia hanya bangun satu kali dalam semalam. Namun, ada pula saat-saat dimana ia terbangun berkali-kali dalam semalam, biasanya ketika kami sedang bepergian jauh dari rumah.
Nah, yang menjadi tantangan terbesar bagi kami adalah ketika menidurkannya pada malam hari. Si kecil kerap menangis sebelum tertidur. Berbagai cara sudah kami lakukan, mulai dari menimang, menggendong dengan kain samping, menyanyikan nina bobo, sampai memijat demi membuatnya nyaman sebelum tidur. Di bulan kedua, seringkali 1-2 jam dihabiskan untuk menidurkan si kecil. Belum lagi kalau ia sudah tampak lelap di pangkuan, begitu diletakkan di boks..eeh, menangis dan bangun lagi. Memasuki usia tiga bulan, frekuensi menangis sebelum tidurnya mulai berkurang sedikit demi sedikit dan ia bisa tertidur kembali setelah selesai menyusu. Kami juga mulai mencoba menerapkan sleep training untuk bayi kami dengan harapan ia dapat belajar tidur tanpa harus selalu digendong. Di Indonesia, bayi usia muda ditidurkan dengan digendong atau ditimang-timang adalah lazim, namun tidak demikian halnya di Perancis, negara asal suami saya. Karena perbedaan budaya inilah, maka kami berkompromi dalam menerapkan sleep training. Dimulai dari menemani si kecil di pinggir boksnya sampai ia jatuh tertidur, ditimang/digendong dengan kain samping, sampai dibiarkan menangis selama beberapa saat sebelum akhirnya kami datangi, semuanya kami coba. Terus terang, saya sendiri kesulitan dalam menerapkan metode ini karena saya khawatir dengan dampak jangka panjang yang akan terjadi bila anak dibiarkan menangis. Di sisi lain, saya juga khawatir dengan sleep training, saya tidak akan berkesempatan untuk menimangnya sebelum tidur, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya yang berkaitan dengan kepribadian si anak kelak. Tapi, dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya menetapkan hati untuk menerapkan metode Ferber yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kami sebagai berikut:
1. Setelah selesai disusui, dalam keadaan mengantuk namun masih sadar, bayi disimpan di boksnya. Sesuai saran dari dokter anak kami, pastikan popok bayi dalam kondisi kering, bayi tidak demam, dalam keadaan kenyang dan tidak kepanasan/kedinginan. Kami usahakan selalu meletakkan bayi di boks pada saat dia terlihat mengantuk, yaitu ketika ia menguap, mulai menggosok mata, tidak mau diam ketika digendong, dan menarik-narik telinganya. Ketika tanda-tanda mengantuk itu mulai terlihat, berdasarkan pengalaman, lebih mudah membuatnya tidur tanpa tangisan berarti.
2. Bila bayi menangis sesaat setelah diletakkan di boks, datangi segera dan ucapkan kata-kata untuk menenangkannya selama tidak lebih dari 1 menit, setelah itu tinggalkan. Bila masih menangis, datangi 2 menit kemudian dan biasanya saya ucapkan kalimat afirmasi bahwa ia bisa tidur sendiri dan bahwa bapak ibunya ada di dekat dia, kemudian tinggalkan lagi. Bila masih menangis terus, datangi 5 menit kemudian, kalau masih menangis juga, datangi 10 menit kemudian dan lakukan hal yang sama. Dengan cara ini, perlahan bayi kami tertidur sebelum 5 menit kedua berakhir. Jika ia tidak kunjung berhenti menangis setelah 10 menit yang ketiga, kami akan mengambilnya dari boks dan menimangnya sampai tertidur.
3. Kami mulai sleep training secara bertahap pada saat usia si kecil 3 bulan setelah berhasil menepis perasaan ragu-ragu dan maju mundur mengingat banyaknya kontroversi tentang usia yang tepat untuk memulai sleep training. Belum lagi dengan adanya no-cry sleep solution methods membuat saya sendiri semakin gamang. Tapi setelah membaca beberapa sumber, bayi menangis ketika akan tidur adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Dokter anak kamipun menegaskan bahwa itu adalah hal yang wajar *maklum orangtua baru yang belum berpengalaman ini paling tidak tahan mendengar si kecil menangis keras sebelum tidur*
4. Metode ini hanya kami terapkan ketika sedang berada di rumah dan hanya pada saat tidur malam hari. Ketika sedang bepergian, semuanya menjadi fleksibel. Ketika ia bangun dan menangis karena lapar saat dini hari, saya tidak pernah menerapkan metode ini. Yang saya lakukan adalah langsung mengambilnya dan menyusuinya.
5. Keberhasilan sleep training pada setiap bayi berbeda-beda. Dalam kasus kami, kurang lebih setelah dicoba selama dua bulan secara konsisten, baru menampakkan hasil yang signifikan.
6. Sebagaimana umumnya bayi yang kerap bersuara bahkan pada saat tidur sekalipun, kami berusaha untuk tidak langsung mengambilnya begitu mendengar suaranya. Dari awal, kami pastikan bahwa memang si kecil terbangun karena haus/basah, bukan karena dia ber'bicara' dalam tidurnya. Justru apabila ia ber'bicara' dalam tidurnya dan kita kemudian menggendongnya, maka ia akan terbangun dan jadinya malah cranky karena tidurnya terganggu. Memasuki usia 6 bulan dan mulai MPASI, ketika si kecil bangun di malam/dini hari, kami coba menunggu beberapa saat sebelum mengambilnya. Apabila ia haus, ia akan terus menangis, tapi seringkali ia terbangun, berceloteh/menangis beberapa saat, dan jatuh tertidur kembali.
Selain itu, berdasarkan apa yang kami dengar dan kami baca, kami juga berusaha menerapkan rutinitas sehari-hari pada si kecil. Karena kami tinggal di apartemen dimana akses terhadap sinar matahari dan udara segar terbatas, dari sejak ia lahir, setiap pagi, kami membawanya berjemur di taman dekat apartemen atau di pinggir kolam renang apartemen. Dari pengalaman kami, sangat terasa bedanya ketika ia dibawa keluar pada pagi hari, tidur malamnya menjadi lebih mudah dibandingkan jika ia berada sepanjang hari di dalam rumah. Saya juga selalu membawa si kecil kemanapun saya pergi. Jadi, dalam kamus kami tidak ada istilah "tidak keluar rumah sampai bayi berusia 40 hari". Tentunya saya keluar rumah karena memang ada keperluan, bukan semata hanya untuk window shopping. Sekarang, frekuensi mengunjungi tamanpun bertambah menjadi dua kali sehari, pagi dan sore hari. Alhamdulillah, banyaknya aktivitas si kecil di luar rumah sangat membantu mengatasi tantangan menidurkan si kecil.
Bagaimana dengan tidur siang? Nah, untuk tidur siang masih menjadi PR besar, karena si kecil hanya bisa tidur siang sebentar, kalaupun bisa sampai 1 jam, itu karena ada saya di sampingnya. Paling tidak, saya memakai kesempatan ini juga untuk beristirahat. Pada awalnya, saya sempat khawatir karena si kecil termasuk ke dalam golongan bayi yang tidurnya sedikit namun setelah berkonsultasi dengan dokternya, saya bisa lebih lega mendapat penjelasan bahwa tidak semua bayi mempunyai jumlah jam tidur yang sama.
Lalu, apa kejutannya? Terhitung sejak tanggal 25 Desember 2012 pada usia 7,5 bulan, si kecil sudah bisa tidur sepanjang malam, dari jam 19.30-20.00 sampai jam 05.00 keesokan harinya...horeeee! Setelah sempat makan hati menerima komentar kenapa bayi kami belum juga bisa tidur sepanjang malam, Alhamdulillah akhirnya si kecil menunjukkan kemampuannya. Sekarang tangisan menjelang tidurpun sudah jaraaaang sekali, seringnya ketika ia mulai mengantuk, kami bawa ke kamar, ditimang-timang sambil dibacakan do'a tidur dan diciumi, terus diletakkan deh di boks. Biasanya ia akan menangis beberapa detik sambil mencari posisi yang enak sebelum benar-benar tidur atau malah begitu disimpan, langsung memejamkan mata. Jadi, meskipun menerapkan metode ini, kami masih tetap dapat menimangnya sebelum tidur, mendendangkan lagu pengantar tidur dan kami berdua dapat bergiliran menidurkannya. Ya, suami saya berkeras ingin bisa menidurkan anak kami karena berkaca dari pengalaman seorang teman yang merasa tidak berdaya sebab putri semata wayang mereka hanya bisa tidur jika ditemani ibunya. Dalam hal ini, saya diuntungkan, karena jika suami sedang tidak bertugas ke luar kota, maka setiap malam dialah yang dengan senang hati akan menidurkan si kecil :).
Kami sadar bahwa akan ada banyak perubahan dalam siklus pertumbuhkembangan bayi, termasuk pola tidurnya. Namun, kami optimis, apapun perubahannya nanti dapat dipelajari dan dipahami, tentunya dengan penuh kasih sayang. Yang jelas, saya bersyukur dapat menikmati tidur malam selama 6-8 jam kembali seperti dulu, terima kasih anakku sayang :).
Bulan pertama kelahirannya, secara umum si kecil tidak mengalami jadwal tidur terbalik walaupun beberapa kali membuat kami terjaga dini hari karena ia tidak mau tidur lagi setelah menyusu. Dalam bulan pertama ini, rata-rata ia terbangun 2-3 kali untuk menyusu.
Bulan kedua sampai bulan ketujuh, ia hanya bangun satu kali dalam semalam. Namun, ada pula saat-saat dimana ia terbangun berkali-kali dalam semalam, biasanya ketika kami sedang bepergian jauh dari rumah.
Nah, yang menjadi tantangan terbesar bagi kami adalah ketika menidurkannya pada malam hari. Si kecil kerap menangis sebelum tertidur. Berbagai cara sudah kami lakukan, mulai dari menimang, menggendong dengan kain samping, menyanyikan nina bobo, sampai memijat demi membuatnya nyaman sebelum tidur. Di bulan kedua, seringkali 1-2 jam dihabiskan untuk menidurkan si kecil. Belum lagi kalau ia sudah tampak lelap di pangkuan, begitu diletakkan di boks..eeh, menangis dan bangun lagi. Memasuki usia tiga bulan, frekuensi menangis sebelum tidurnya mulai berkurang sedikit demi sedikit dan ia bisa tertidur kembali setelah selesai menyusu. Kami juga mulai mencoba menerapkan sleep training untuk bayi kami dengan harapan ia dapat belajar tidur tanpa harus selalu digendong. Di Indonesia, bayi usia muda ditidurkan dengan digendong atau ditimang-timang adalah lazim, namun tidak demikian halnya di Perancis, negara asal suami saya. Karena perbedaan budaya inilah, maka kami berkompromi dalam menerapkan sleep training. Dimulai dari menemani si kecil di pinggir boksnya sampai ia jatuh tertidur, ditimang/digendong dengan kain samping, sampai dibiarkan menangis selama beberapa saat sebelum akhirnya kami datangi, semuanya kami coba. Terus terang, saya sendiri kesulitan dalam menerapkan metode ini karena saya khawatir dengan dampak jangka panjang yang akan terjadi bila anak dibiarkan menangis. Di sisi lain, saya juga khawatir dengan sleep training, saya tidak akan berkesempatan untuk menimangnya sebelum tidur, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya yang berkaitan dengan kepribadian si anak kelak. Tapi, dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya menetapkan hati untuk menerapkan metode Ferber yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kami sebagai berikut:
1. Setelah selesai disusui, dalam keadaan mengantuk namun masih sadar, bayi disimpan di boksnya. Sesuai saran dari dokter anak kami, pastikan popok bayi dalam kondisi kering, bayi tidak demam, dalam keadaan kenyang dan tidak kepanasan/kedinginan. Kami usahakan selalu meletakkan bayi di boks pada saat dia terlihat mengantuk, yaitu ketika ia menguap, mulai menggosok mata, tidak mau diam ketika digendong, dan menarik-narik telinganya. Ketika tanda-tanda mengantuk itu mulai terlihat, berdasarkan pengalaman, lebih mudah membuatnya tidur tanpa tangisan berarti.
2. Bila bayi menangis sesaat setelah diletakkan di boks, datangi segera dan ucapkan kata-kata untuk menenangkannya selama tidak lebih dari 1 menit, setelah itu tinggalkan. Bila masih menangis, datangi 2 menit kemudian dan biasanya saya ucapkan kalimat afirmasi bahwa ia bisa tidur sendiri dan bahwa bapak ibunya ada di dekat dia, kemudian tinggalkan lagi. Bila masih menangis terus, datangi 5 menit kemudian, kalau masih menangis juga, datangi 10 menit kemudian dan lakukan hal yang sama. Dengan cara ini, perlahan bayi kami tertidur sebelum 5 menit kedua berakhir. Jika ia tidak kunjung berhenti menangis setelah 10 menit yang ketiga, kami akan mengambilnya dari boks dan menimangnya sampai tertidur.
3. Kami mulai sleep training secara bertahap pada saat usia si kecil 3 bulan setelah berhasil menepis perasaan ragu-ragu dan maju mundur mengingat banyaknya kontroversi tentang usia yang tepat untuk memulai sleep training. Belum lagi dengan adanya no-cry sleep solution methods membuat saya sendiri semakin gamang. Tapi setelah membaca beberapa sumber, bayi menangis ketika akan tidur adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Dokter anak kamipun menegaskan bahwa itu adalah hal yang wajar *maklum orangtua baru yang belum berpengalaman ini paling tidak tahan mendengar si kecil menangis keras sebelum tidur*
4. Metode ini hanya kami terapkan ketika sedang berada di rumah dan hanya pada saat tidur malam hari. Ketika sedang bepergian, semuanya menjadi fleksibel. Ketika ia bangun dan menangis karena lapar saat dini hari, saya tidak pernah menerapkan metode ini. Yang saya lakukan adalah langsung mengambilnya dan menyusuinya.
5. Keberhasilan sleep training pada setiap bayi berbeda-beda. Dalam kasus kami, kurang lebih setelah dicoba selama dua bulan secara konsisten, baru menampakkan hasil yang signifikan.
6. Sebagaimana umumnya bayi yang kerap bersuara bahkan pada saat tidur sekalipun, kami berusaha untuk tidak langsung mengambilnya begitu mendengar suaranya. Dari awal, kami pastikan bahwa memang si kecil terbangun karena haus/basah, bukan karena dia ber'bicara' dalam tidurnya. Justru apabila ia ber'bicara' dalam tidurnya dan kita kemudian menggendongnya, maka ia akan terbangun dan jadinya malah cranky karena tidurnya terganggu. Memasuki usia 6 bulan dan mulai MPASI, ketika si kecil bangun di malam/dini hari, kami coba menunggu beberapa saat sebelum mengambilnya. Apabila ia haus, ia akan terus menangis, tapi seringkali ia terbangun, berceloteh/menangis beberapa saat, dan jatuh tertidur kembali.
Selain itu, berdasarkan apa yang kami dengar dan kami baca, kami juga berusaha menerapkan rutinitas sehari-hari pada si kecil. Karena kami tinggal di apartemen dimana akses terhadap sinar matahari dan udara segar terbatas, dari sejak ia lahir, setiap pagi, kami membawanya berjemur di taman dekat apartemen atau di pinggir kolam renang apartemen. Dari pengalaman kami, sangat terasa bedanya ketika ia dibawa keluar pada pagi hari, tidur malamnya menjadi lebih mudah dibandingkan jika ia berada sepanjang hari di dalam rumah. Saya juga selalu membawa si kecil kemanapun saya pergi. Jadi, dalam kamus kami tidak ada istilah "tidak keluar rumah sampai bayi berusia 40 hari". Tentunya saya keluar rumah karena memang ada keperluan, bukan semata hanya untuk window shopping. Sekarang, frekuensi mengunjungi tamanpun bertambah menjadi dua kali sehari, pagi dan sore hari. Alhamdulillah, banyaknya aktivitas si kecil di luar rumah sangat membantu mengatasi tantangan menidurkan si kecil.
Bagaimana dengan tidur siang? Nah, untuk tidur siang masih menjadi PR besar, karena si kecil hanya bisa tidur siang sebentar, kalaupun bisa sampai 1 jam, itu karena ada saya di sampingnya. Paling tidak, saya memakai kesempatan ini juga untuk beristirahat. Pada awalnya, saya sempat khawatir karena si kecil termasuk ke dalam golongan bayi yang tidurnya sedikit namun setelah berkonsultasi dengan dokternya, saya bisa lebih lega mendapat penjelasan bahwa tidak semua bayi mempunyai jumlah jam tidur yang sama.
Lalu, apa kejutannya? Terhitung sejak tanggal 25 Desember 2012 pada usia 7,5 bulan, si kecil sudah bisa tidur sepanjang malam, dari jam 19.30-20.00 sampai jam 05.00 keesokan harinya...horeeee! Setelah sempat makan hati menerima komentar kenapa bayi kami belum juga bisa tidur sepanjang malam, Alhamdulillah akhirnya si kecil menunjukkan kemampuannya. Sekarang tangisan menjelang tidurpun sudah jaraaaang sekali, seringnya ketika ia mulai mengantuk, kami bawa ke kamar, ditimang-timang sambil dibacakan do'a tidur dan diciumi, terus diletakkan deh di boks. Biasanya ia akan menangis beberapa detik sambil mencari posisi yang enak sebelum benar-benar tidur atau malah begitu disimpan, langsung memejamkan mata. Jadi, meskipun menerapkan metode ini, kami masih tetap dapat menimangnya sebelum tidur, mendendangkan lagu pengantar tidur dan kami berdua dapat bergiliran menidurkannya. Ya, suami saya berkeras ingin bisa menidurkan anak kami karena berkaca dari pengalaman seorang teman yang merasa tidak berdaya sebab putri semata wayang mereka hanya bisa tidur jika ditemani ibunya. Dalam hal ini, saya diuntungkan, karena jika suami sedang tidak bertugas ke luar kota, maka setiap malam dialah yang dengan senang hati akan menidurkan si kecil :).
Kami sadar bahwa akan ada banyak perubahan dalam siklus pertumbuhkembangan bayi, termasuk pola tidurnya. Namun, kami optimis, apapun perubahannya nanti dapat dipelajari dan dipahami, tentunya dengan penuh kasih sayang. Yang jelas, saya bersyukur dapat menikmati tidur malam selama 6-8 jam kembali seperti dulu, terima kasih anakku sayang :).
Saturday, 12 January 2013
Sang Tetangga
Akhir pekan ini kami mengundang tetangga sebelah untuk minum teh di rumah. Sebagai konsekuensi tinggal di apartemen, intensitas bertemu dengan tetangga termasuk jarang, bahkan yang satu lantai sekalipun. Saya sendiri sudah beberapa kali melihat pasangan muda dengan bayi perempuan mereka yang cantik ini di taman dekat apartemen sampai suatu hari kami berpapasan. Ternyata mereka tinggal di unit tepat sebelah unit kami. Setelah beberapa kali kesempatan berpapasan dan sekedar menyapa, akhirnya kami bisa juga mengobrol panjang lebar dan kebetulan, kami sama-sama mempunyai bayi yang sebaya..jadi obrolan sesama orangtua barupun semakin seru!
Pada awalnya, pasangan muda ini menarik perhatian saya karena mereka selalu bersama-sama ketika membawa bayi mereka jalan-jalan di taman di pagi atau sore hari. Tentu saja saya penasaran dan sedikit iri, karena selama ini hanya saya yang menemani si kecil jalan-jalan di taman, kecuali pada akhir pekan. Dari obrolan kemarin, rasa penasaran saya terjawab sudah. Pasangan muda simpatik yang berasal dari Amerika Serikat ini termasuk beruntung karena keduanya bekerja di perusahaan di Amerika sana namun memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaannya dari jarak jauh. Karena itu pula, mereka dapat sekaligus mengurus putri kecilnya tanpa bantuan siapapun walau keduanya bekerja. Wuiiihh..saya iri mendengarnya..saya iri untuk teman-teman saya, para ibu bekerja yang harus berjuang setengah mati membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, belum lagi mengingat susahnya mencari tenaga pengasuh yang bisa diandalkan untuk anak-anak mereka.
Tentunya selalu ada konsekuensi dari jenis pekerjaan apapun, dan untuk tetangga kami ini, intensitas interaksi dengan dunia luar relatif terbatas. Itu juga sebabnya kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya karena sebelum putrinya lahir, mereka mengaku jarang sekali keluar dari apartemen.
Hm, kira-kira kapan ya perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat memberlakukan kebijakan seperti ini? Saat ini sih saya masih menikmati saat-saat menjadi ibu rumah tangga, namun kalau suatu hari nanti ingin kembali bekerja, hal-hal yang menjadi dilema ibu bekerja otomatis akan menjadi bagian hidup saya.
Tetangga oh tetangga, kalian sungguh beruntung :)
Pada awalnya, pasangan muda ini menarik perhatian saya karena mereka selalu bersama-sama ketika membawa bayi mereka jalan-jalan di taman di pagi atau sore hari. Tentu saja saya penasaran dan sedikit iri, karena selama ini hanya saya yang menemani si kecil jalan-jalan di taman, kecuali pada akhir pekan. Dari obrolan kemarin, rasa penasaran saya terjawab sudah. Pasangan muda simpatik yang berasal dari Amerika Serikat ini termasuk beruntung karena keduanya bekerja di perusahaan di Amerika sana namun memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaannya dari jarak jauh. Karena itu pula, mereka dapat sekaligus mengurus putri kecilnya tanpa bantuan siapapun walau keduanya bekerja. Wuiiihh..saya iri mendengarnya..saya iri untuk teman-teman saya, para ibu bekerja yang harus berjuang setengah mati membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, belum lagi mengingat susahnya mencari tenaga pengasuh yang bisa diandalkan untuk anak-anak mereka.
Tentunya selalu ada konsekuensi dari jenis pekerjaan apapun, dan untuk tetangga kami ini, intensitas interaksi dengan dunia luar relatif terbatas. Itu juga sebabnya kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya karena sebelum putrinya lahir, mereka mengaku jarang sekali keluar dari apartemen.
Hm, kira-kira kapan ya perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat memberlakukan kebijakan seperti ini? Saat ini sih saya masih menikmati saat-saat menjadi ibu rumah tangga, namun kalau suatu hari nanti ingin kembali bekerja, hal-hal yang menjadi dilema ibu bekerja otomatis akan menjadi bagian hidup saya.
Tetangga oh tetangga, kalian sungguh beruntung :)
Friday, 28 December 2012
Kembali ke Yogya
Kota Yogya memang istimewa. Dibilang istimewa karena selalu ada hal menarik untuk dilihat ataupun dikunjungi. Pada perjalanan tahun ini, kami mengunjungi kompleks Istana Air Taman Sari dan situs Candi Sambisari.
Setelah menikmati keindahan Istana Air, kami berjalan melewati rumah-rumah penduduk menuju mesjid bawah tanah. Ketika sampai, sayapun bertanya-tanya karena bentuk mesjid ini berbeda dari bentuk mesjid pada umumnya, yaitu berbentuk melingkar dan tidak ada mimbar tunggal seperti layaknya mesjid. Menarik bukan?
Agenda berikutnya adalah mengunjungi Candi Sambisari, yang ketika pertama kali ditemukan, terkubur sejauh lima meter di bawah tanah. Tanah yang menutupi candi ini dipercaya berasal dari letusan Gunung Merapi pada abad kesebelas.
Untuk kuliner, kali ini kami mencoba Gadri Resto yang terletak tidak jauh dari kompleks Keraton. Yang menarik dari restoran ini adalah tempatnya yang merupakan rumah salah satu bangsawan Keraton. Kami juga mencoba restoran Pecel Solo di jalan Palagan Tentara Pelajar yang menawarkan konsep tradisional Jawa, baik dari sisi interior maupun menu makanannya.
Hm, tidak sabar untuk kembali lagi ke Yogya :)
Setelah menikmati keindahan Istana Air, kami berjalan melewati rumah-rumah penduduk menuju mesjid bawah tanah. Ketika sampai, sayapun bertanya-tanya karena bentuk mesjid ini berbeda dari bentuk mesjid pada umumnya, yaitu berbentuk melingkar dan tidak ada mimbar tunggal seperti layaknya mesjid. Menarik bukan?
Agenda berikutnya adalah mengunjungi Candi Sambisari, yang ketika pertama kali ditemukan, terkubur sejauh lima meter di bawah tanah. Tanah yang menutupi candi ini dipercaya berasal dari letusan Gunung Merapi pada abad kesebelas.
![]() |
| Candi Sambisari, desa Purwomartani, Yogyakarta |
Untuk kuliner, kali ini kami mencoba Gadri Resto yang terletak tidak jauh dari kompleks Keraton. Yang menarik dari restoran ini adalah tempatnya yang merupakan rumah salah satu bangsawan Keraton. Kami juga mencoba restoran Pecel Solo di jalan Palagan Tentara Pelajar yang menawarkan konsep tradisional Jawa, baik dari sisi interior maupun menu makanannya.
![]() |
| Interior teras Gadri Resto |
![]() |
| Bagian dalam rumah |
![]() |
| Gorengan platter |
Hm, tidak sabar untuk kembali lagi ke Yogya :)
Friday, 14 December 2012
The Birth Story
Saturday, 12 May 2012 was supposed to be the baby's due date. I had on and off uncomfortable cramps since Thursday but none appeared to be the signs of labor. We had an appointment with the Ob/Gyn on that day and she said that if no signs of labor appeared until two weeks later, then an induction would be planned. My mother was induced when she gave birth to me and she said that it was harder than being naturally induced. Despite what the doctor said, we kept our good hope that the baby would arrive sometime sooner.
We went home after doing some groceries and in the afternoon, my mother and I decided to go to the nearest shopping mall just for a walk. On my 40th week pregnancy, I climbed the Skytrain station stairs near our place back and forth hoping that it would trigger the process. Later that night, just after dinner time, the 'show' occurred, finally. I was more than excited as this meant that the process was about to begin, while my husband thought that I was a little bit weird. Yes, I was so excited to meet our baby as he was already one day overdue thus I had no time to be nervous nor scared about the pains of giving birth.
On Sunday night at around 22.00 p.m., I felt stronger cramps coming and therefore called the Birth Room at the hospital. The lady at the Birth Room told me to wait at home and came to the hospital tomorrow morning, but should the pain never cease, I could come to the hospital that night. I tried to sleep with no success, the cramps were getting stronger. My husband prepared warm water bottle to ease the pain while counting the contractions. At the end, we were not sure whether it was false contractions or the real ones as the contractions were not regular and I only felt the pains in my middle abdomen instead of lower abdomen. I did not even experience any pelvic pressure since the last weeks of my pregnancy. I just could not sleep that night, not because it was painful but rather uncomfortable. So, off we went to the hospital at 02.00 am by taxi.
As soon as we got off the taxi, I was sent straight to the Birth Room and was told that I was already 5-cm dilated. As per our request, my husband and my mother were allowed to be with me all the time and luckily, that morning I was the only patient at the Birth Room. We had a very nicely decorated birthing room completely equipped with necessary stuff to help ease the labor pains, hot pool, shower and toilet, coffee and tea maker. Long story short, the first two hours I still managed to cope with the contractions, chatting with my husband and my mother and three lovely nurses who were with us. My Ob/Gyn arrived around 05.00 a.m. and she said that I was already 7-cm dilated and she suggested to break my amniotic fluid in order to fasten the labor to which I agreed.
The next hours were getting hard as I started feeling the pain at my back and intense stronger contractions. I took a plunge in the pool, tried the birthing chair, walked around the room, and felt that the baby's head was going down my pelvic bone. I was lucky to experience active labor in which I could move everywhere instead of only lying on bed during the contractions. However, I felt very uncomfortable that I even refused to neither hear lovely and encouraging words from my husband nor receive gentle touch from my mother. I just asked my mother to pray for me and my husband to be by my side while I concentrated to be ready for the next contractions that kept coming every now and then. Luckily, one of the nurses did a very strong yet really comfortable massage around my back and hip to help ease my pain. Considering the pain, I thought I was already fully dilated, apparently not. The hardest part was the progress between 7 and 9 dilatation, it felt like forever. I kept murmuring my prayers until I heard one midwife said that I could push whenever I felt the urge to push. I had experience the contractions until I was fully dilated, but for me, pushing was even more difficult. The three nurses kept supporting me everytime I had to push but I just could not do it properly. Thus, the baby was still quite far up there and did not give any sign that he would slide down soon. After two long hours of trying to no avail, the Ob/Gyn said that she would try the vacuum and if it failed, then SC would be the last resort. I was then transferred to other room, just beside the operating theatre.
Since the beginning, I aimed at having natural birth, as natural as possible without any painkiller such as ILA or epidural and my husband fully supported my decision. Therefore, I read books about hypnobirthing, did regular swimming exercise, joined the prenatal yoga class, and walked a lot. Few people thought that I was silly to choose experiencing pains which in fact could be avoided, but I did not care. I have my own wish of giving birth to my child(ren) and my wish is to give birth naturally, unless there are emergency or medical reasons. The other reason is because in Bangkok, the number of elective caesarians is high and honestly, I was afraid to be handled by persons who are into SC for reasons other than medical or emergency. I am not against caesarian, but having a natural birth is like a psychological and emotional achievement for me, personally, that is all. We are lucky to meet Prapee Tangnavarad, M.D. as she is very kind, patient, supportive, and cooperative. Overall, we are satisfied with her and the hospital's excellent service.
Having been moved to the other room, the contractions were shorter in period yet stronger. I was extremely exhausted after hours of pushing and I remembered that I even lied when I felt the contraction coming so that I could rest a bit and did not need to push. I almost gave up and was tempted to ask for SC at the point when I felt I could not push anymore. I said to my husband that I had no more energy left to push as I was too tired but my mind told me that I had gone this far so I had to fight a little bit more before being able to meet our baby. My husband tried to look for the doctor but she was not around. Later she came, checked the baby's heartbeat, and told me to try another fifteen contractions! I kept telling myself to give it a try as long as the baby was fine inside and it was also because of my husband's optimisticm that kept motivating me to try..love you loads, mon amour! Not quite long, I saw another doctor came, whom I firstly thought was an anaesthetist, and apparently she was not. She was the pediatrician, meant that I would give birth soon. My Ob/Gyn said that she would extract the baby using a vacuum but I still needed to push so that his head approached the birth canal. First contraction, I concentrated while she prepared the apparatus. Second contraction, I pushed as hard as I could and within second, I saw her pulling my baby out with his cord attached, Alhamdulillah. It was 08.30 a.m. on Monday morning, mid May 2012 when our baby was born after 40w2d of pregnancy. He was 53 centimeters long and weighed 3,94 kilogram.
When the doctor was working on me, my husband came with our baby, wrapped in a white cloth, sleeping. While he recited prayer's call (adzan) on his little ear, I thanked Allah SWT for everything. Ten hours of labor, a healthy and beautiful baby, supportive doctor and nurses, and prayers and love from my beloved husband and mother, speedy post-natal recovery (I did not feel any pains due to the stitches at all, thanks to my great Ob/Gyn), what else could I ask for?
Our baby was sleeping when I kissed his soft cheek that smells like heaven. My dear little boy, you have stolen my heart since I first felt your movement in my womb, assuring me that there is indeed a life inside, and I am in love with you since then. The feeling was just like Savage Garden song's title "I knew I loved you before I met you".
Thanks to Allah SWT for giving me the chance to be a mother, and with Your guidance, I wish I could be the best mother for my child(ren), aamiin.
We went home after doing some groceries and in the afternoon, my mother and I decided to go to the nearest shopping mall just for a walk. On my 40th week pregnancy, I climbed the Skytrain station stairs near our place back and forth hoping that it would trigger the process. Later that night, just after dinner time, the 'show' occurred, finally. I was more than excited as this meant that the process was about to begin, while my husband thought that I was a little bit weird. Yes, I was so excited to meet our baby as he was already one day overdue thus I had no time to be nervous nor scared about the pains of giving birth.
On Sunday night at around 22.00 p.m., I felt stronger cramps coming and therefore called the Birth Room at the hospital. The lady at the Birth Room told me to wait at home and came to the hospital tomorrow morning, but should the pain never cease, I could come to the hospital that night. I tried to sleep with no success, the cramps were getting stronger. My husband prepared warm water bottle to ease the pain while counting the contractions. At the end, we were not sure whether it was false contractions or the real ones as the contractions were not regular and I only felt the pains in my middle abdomen instead of lower abdomen. I did not even experience any pelvic pressure since the last weeks of my pregnancy. I just could not sleep that night, not because it was painful but rather uncomfortable. So, off we went to the hospital at 02.00 am by taxi.
As soon as we got off the taxi, I was sent straight to the Birth Room and was told that I was already 5-cm dilated. As per our request, my husband and my mother were allowed to be with me all the time and luckily, that morning I was the only patient at the Birth Room. We had a very nicely decorated birthing room completely equipped with necessary stuff to help ease the labor pains, hot pool, shower and toilet, coffee and tea maker. Long story short, the first two hours I still managed to cope with the contractions, chatting with my husband and my mother and three lovely nurses who were with us. My Ob/Gyn arrived around 05.00 a.m. and she said that I was already 7-cm dilated and she suggested to break my amniotic fluid in order to fasten the labor to which I agreed.
The next hours were getting hard as I started feeling the pain at my back and intense stronger contractions. I took a plunge in the pool, tried the birthing chair, walked around the room, and felt that the baby's head was going down my pelvic bone. I was lucky to experience active labor in which I could move everywhere instead of only lying on bed during the contractions. However, I felt very uncomfortable that I even refused to neither hear lovely and encouraging words from my husband nor receive gentle touch from my mother. I just asked my mother to pray for me and my husband to be by my side while I concentrated to be ready for the next contractions that kept coming every now and then. Luckily, one of the nurses did a very strong yet really comfortable massage around my back and hip to help ease my pain. Considering the pain, I thought I was already fully dilated, apparently not. The hardest part was the progress between 7 and 9 dilatation, it felt like forever. I kept murmuring my prayers until I heard one midwife said that I could push whenever I felt the urge to push. I had experience the contractions until I was fully dilated, but for me, pushing was even more difficult. The three nurses kept supporting me everytime I had to push but I just could not do it properly. Thus, the baby was still quite far up there and did not give any sign that he would slide down soon. After two long hours of trying to no avail, the Ob/Gyn said that she would try the vacuum and if it failed, then SC would be the last resort. I was then transferred to other room, just beside the operating theatre.
Since the beginning, I aimed at having natural birth, as natural as possible without any painkiller such as ILA or epidural and my husband fully supported my decision. Therefore, I read books about hypnobirthing, did regular swimming exercise, joined the prenatal yoga class, and walked a lot. Few people thought that I was silly to choose experiencing pains which in fact could be avoided, but I did not care. I have my own wish of giving birth to my child(ren) and my wish is to give birth naturally, unless there are emergency or medical reasons. The other reason is because in Bangkok, the number of elective caesarians is high and honestly, I was afraid to be handled by persons who are into SC for reasons other than medical or emergency. I am not against caesarian, but having a natural birth is like a psychological and emotional achievement for me, personally, that is all. We are lucky to meet Prapee Tangnavarad, M.D. as she is very kind, patient, supportive, and cooperative. Overall, we are satisfied with her and the hospital's excellent service.
Having been moved to the other room, the contractions were shorter in period yet stronger. I was extremely exhausted after hours of pushing and I remembered that I even lied when I felt the contraction coming so that I could rest a bit and did not need to push. I almost gave up and was tempted to ask for SC at the point when I felt I could not push anymore. I said to my husband that I had no more energy left to push as I was too tired but my mind told me that I had gone this far so I had to fight a little bit more before being able to meet our baby. My husband tried to look for the doctor but she was not around. Later she came, checked the baby's heartbeat, and told me to try another fifteen contractions! I kept telling myself to give it a try as long as the baby was fine inside and it was also because of my husband's optimisticm that kept motivating me to try..love you loads, mon amour! Not quite long, I saw another doctor came, whom I firstly thought was an anaesthetist, and apparently she was not. She was the pediatrician, meant that I would give birth soon. My Ob/Gyn said that she would extract the baby using a vacuum but I still needed to push so that his head approached the birth canal. First contraction, I concentrated while she prepared the apparatus. Second contraction, I pushed as hard as I could and within second, I saw her pulling my baby out with his cord attached, Alhamdulillah. It was 08.30 a.m. on Monday morning, mid May 2012 when our baby was born after 40w2d of pregnancy. He was 53 centimeters long and weighed 3,94 kilogram.
When the doctor was working on me, my husband came with our baby, wrapped in a white cloth, sleeping. While he recited prayer's call (adzan) on his little ear, I thanked Allah SWT for everything. Ten hours of labor, a healthy and beautiful baby, supportive doctor and nurses, and prayers and love from my beloved husband and mother, speedy post-natal recovery (I did not feel any pains due to the stitches at all, thanks to my great Ob/Gyn), what else could I ask for?
Our baby was sleeping when I kissed his soft cheek that smells like heaven. My dear little boy, you have stolen my heart since I first felt your movement in my womb, assuring me that there is indeed a life inside, and I am in love with you since then. The feeling was just like Savage Garden song's title "I knew I loved you before I met you".
Thanks to Allah SWT for giving me the chance to be a mother, and with Your guidance, I wish I could be the best mother for my child(ren), aamiin.
Wednesday, 28 November 2012
[Little Traveler]: Pengalaman Pertama Bepergian dengan Bayi
Seperti pada umumnya ibu baru, sempat terlintas sedikit perasaan khawatir ketika harus bepergian dengan membawa bayi untuk pertama kalinya.
Ketika usianya 17 hari, si kecil 'terpaksa' naik kereta ekonomi selama kurang lebih 3,5 jam dari Bangkok ke Kanchanaburi yang mengakibatkan ia mengalami kolik pada malam sesampainya kami disana. Dibilang terpaksa karena adanya kesalahan informasi yang kami terima mengenai jenis moda transportasi ke Kanchanaburi. Alhamdulillah, keesokan harinya kondisinya membaik sehingga kami bisa menikmati liburan dengan perasaan tenang. Perjalanan pulang kembali ke Bangkok dengan bis antar kota dilewati dengan baik tanpa kendala yang berarti dan liburan perdana kami dengan si kecil di Kanchanaburi juga menyenangkan.
Dengan hanya bermodalkan tips sederhana dari dokter anak kami yaitu jika bayi muda (infant) rewel selama perjalanan, peluk dan susui si bayi, sayapun cukup percaya diri membawa si kecil terbang ke Indonesia di usianya yang baru menginjak enam minggu. Beruntung, perjalanan perdana kami berdua dengan pesawat terbang ini, dengan satu kali transit di Singapura, juga ditemani oleh ibu saya tercinta. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saya dapat menyusui si kecil yang terikat sabuk pengaman dengan nyaman meskipun baru pertama kali mencoba, dan berkat nursing apron plus nursing t-shirt yang saya kenakan, kegiatan menyusuipun aman nyaman dan saya bisa mengobrol tanpa canggung dengan pria asing yang duduk di sebelah. Meskipun si kecil tidak banyak tidur, ia sangat tenang selama berada di bassinet dan di pangkuan saya. Tampaknya ia dapat menikmati perjalanan udara pertamanya.
Dari bandar udara Soekarno-Hatta, kami menginap satu malam di Jakarta dan keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dengan shuttle ke Bandung selama kurang lebih 4 jam karena macet. Lagi-lagi si kecil pun tenang dan tidak menangis barang sedikitpun. Barang bawaan kamipun termasuk sedikit, hanya satu buah baby bag untuk semua keperluan si kecil sampai membuat tante saya terkagum-kagum mengingat bahwa kami bepergian dengan bayi. Di usianya yang kesembilan minggu, yaitu ketika kami kembali ke Bangkok, si kecil sudah mencoba moda transportasi kereta ekonomi, skytrain, bus, pesawat terbang, shuttle bus, shuttle boat, tuk tuk, dan angkutan kota.
Tonggak penting dalam cerita perjalanan dengan si kecil adalah ketika kami harus terbang ke Perancis untuk menghadiri acara keluarga pada bulan Agustus 2012, tepatnya 20 Agustus 2012. Pada saat itu usianya baru 3 bulan 1 minggu. Penerbangan malam hari selama 8 jam dari Bangkok ke Kairo berjalan mulus, dimana si kecil tidur nyenyak dan bangun 2 jam sebelum mendarat di Kairo. Oiya, ada hal ganjil yang saya alami pada perjalanan kali ini. Maskapai penerbangan yang kami tumpangi ini sukses membuat dahi kami berkerut karena: 1) tidak memberikan sabuk pengaman untuk bayi dan permintaan kami dijawab dengan santai oleh pramugaranya "oh, tidak perlu. Pegang saja bayinya erat-erat" ????????????????, 2) beberapa detik setelah mendarat, pramugarinya langsung melepas sabuk pengaman dan langsung berdiri, 3) pramugari bukannya memastikan bahwa koper/tas tersimpan dengan rapi di kompartemen atas tapi kami melihat salah seorang pramugari memasukkan barang di kompartemen yang sudah penuh dan menutup pintu kompartemennya dengan paksa. Lha, kalau pintunya dibuka dan tas/kopernya jatuh menimpa kepala penumpang bagaimana?, 4) pramugarinya tidak menegur ketika ada satu orang penumpang di sebelah kami yang menyalakan ponsel begitu roda pesawat menyentuh landasan. Rasanya cukup sekali saja menggunakan maskapai ini. Di bandar udara internasional Kairo kami harus menunggu selama 4 jam dan kesan pertama saya terhadap bandara ini buruk. Pertama, kami melewati screening machine yang dijaga oleh dua orang petugas. Kedua petugas ini dengan santainya merokok di dalam ruang ber-AC dan jelas-jelas terpampang papan bertulisan besar di dinding belakang mereka "NO SMOKING". Konyol bukan? Kedua, prayer room di bandara ini sangat menyedihkan karena kotor dan ruangan tempat shalat berubah fungsi menjadi tempat tidur penumpang transit yang akan melanjutkan perjalanan ke Afrika. Lebih parahnya, bagian shalat untuk wanitapun dikuasai oleh pria-pria yang tidur sembarangan. Ketiga, fasilitas tempat duduk di dalam gedung bandara sangat sangat minim. Selama masa transit ini, si kecil tidur nyenyak sehingga ketika di pesawat, ia hanya tidur sebentar dan sempat menangis karena mengantuk beberapa saat sebelum mendarat di bandara Charles de Gaulle Paris.
Karena tempat duduk kami berada di belakang kelas bisnis, maka kamipun termasuk yang keluar lebih awal dari pesawat. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seorang petugas memanggil dan menanyakan apakah kami penumpang kelas bisnis. Tentu saja kami jawab bukan, namun petugas tersebut tetap menyerahkan dua buah kartu berwarna ungu. Sebenarnya kartu ini hanya berlaku untuk penumpang kelas bisnis dari semua maskapai dan premium voyager Air France. Jadi, kali ini kami beruntung karena dengan pass tersebut, kami tidak perlu mengantri panjang di imigrasi dan terpisah antrian pula antara saya dan suami.
Sesampainya di Paris, petualangan belum berakhir. Setelah menggunakan fasilitas ruang ganti bayi di terminal 1, kami menumpang kereta CDGVAL menuju terminal 2, dimana TGV yang akan membawa kami ke stasiun St. Pierre-des-Corps menanti. Perjalanan selama 1,5 jam ini yang cukup menantang, mengingat si kecil sudah cukup lelah. Dua puluh menit menjelang ketibaan di St.Pierre-des-Corps si kecil menangis karena kelelahan. Kebetulan kami duduk di gerbong 1st class dan tertulis voiture silence atau dilarang berisik sehingga saya dan suami harus bergantian keluar agar tidak mengganggu penumpang yang lain dan berdiri di ruang antara dua gerbong untuk menenangkan si kecil. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 29 jam dari pintu ke pintu, kamipun sampai di tempat tujuan dan lega karena si kecil bersikap manis selama perjalanan panjang pertamanya, good baby boy!
Liburan kami selama tiga minggu di Perancis berjalan lancar dan menyenangkan. Si kecil juga menikmati perjalanan darat yang kami lakukan selama disana, kendalanya muncul pada saat kami sedang melaju sementara si kecil lapar dan beberapa kali kejadian dimana kami harus membiarkan ia menangis beberapa saat sebelum menemukan tempat parkir untuk berhenti.
Pada mulanya saya agak khawatir untuk perjalanan kembali ke Bangkok karena dari pengalaman teman/saudara, pelayanan maskapai Eropa jauh dibawah maskapai Asia atau Timur Tengah. Saya pribadi, belum pernah -dan jangan sampai- mempunyai pengalaman buruk dengan maskapai-maskapai tersebut. Kekhawatiran saya tidak terbukti. Awak pesawat yang kami tumpangi begitu ramah dan perhatian terhadap keperluan bayi kami. Selama 11 jam perjalanan dari Paris ke Bangkok, si kecil tertidur hampir selama setengah perjalanan dan sisanya ia bermain di bassinetnya.
Di usia 5 bulan 1 hari, kami pulang lagi ke Indonesia, kali ini hanya saya berdua dengan si kecil. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam lancar tanpa kendala berarti. Di Indonesia, si kecil kami bawa ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Pada kunjungannya kali ini, si kecil mencoba moda transportasi baru, yaitu becak di Bandung dan Yogyakarta.
Petualangan si kecil masih terus berlanjut, insya Allah. Bulan Desember 2012 si kecil akan kembali berpetualang, merasakan musim dingin pertamanya bersama Oma dan Opa dan insya Allah kembali lagi kesana untuk merasakan musim semi sekaligus merayakan ulang tahunnya yang pertama, dan satu perjalanan mengunjungi Enin dan Kakek diantaranya.
Jadi, siapa bilang bepergian membawa bayi itu sulit? Selama kondisi fisik si bayi sehat, ijin dari dokter sudah di tangan, tidak perlu ragu untuk berangkat. Yang terpenting, jika orangtua menikmati perjalanannya bersama si kecil, si kecilpun akan mempunyai perasaan yang sama.
Selamat bepergian!
Ketika usianya 17 hari, si kecil 'terpaksa' naik kereta ekonomi selama kurang lebih 3,5 jam dari Bangkok ke Kanchanaburi yang mengakibatkan ia mengalami kolik pada malam sesampainya kami disana. Dibilang terpaksa karena adanya kesalahan informasi yang kami terima mengenai jenis moda transportasi ke Kanchanaburi. Alhamdulillah, keesokan harinya kondisinya membaik sehingga kami bisa menikmati liburan dengan perasaan tenang. Perjalanan pulang kembali ke Bangkok dengan bis antar kota dilewati dengan baik tanpa kendala yang berarti dan liburan perdana kami dengan si kecil di Kanchanaburi juga menyenangkan.
Dengan hanya bermodalkan tips sederhana dari dokter anak kami yaitu jika bayi muda (infant) rewel selama perjalanan, peluk dan susui si bayi, sayapun cukup percaya diri membawa si kecil terbang ke Indonesia di usianya yang baru menginjak enam minggu. Beruntung, perjalanan perdana kami berdua dengan pesawat terbang ini, dengan satu kali transit di Singapura, juga ditemani oleh ibu saya tercinta. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saya dapat menyusui si kecil yang terikat sabuk pengaman dengan nyaman meskipun baru pertama kali mencoba, dan berkat nursing apron plus nursing t-shirt yang saya kenakan, kegiatan menyusuipun aman nyaman dan saya bisa mengobrol tanpa canggung dengan pria asing yang duduk di sebelah. Meskipun si kecil tidak banyak tidur, ia sangat tenang selama berada di bassinet dan di pangkuan saya. Tampaknya ia dapat menikmati perjalanan udara pertamanya.
Dari bandar udara Soekarno-Hatta, kami menginap satu malam di Jakarta dan keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dengan shuttle ke Bandung selama kurang lebih 4 jam karena macet. Lagi-lagi si kecil pun tenang dan tidak menangis barang sedikitpun. Barang bawaan kamipun termasuk sedikit, hanya satu buah baby bag untuk semua keperluan si kecil sampai membuat tante saya terkagum-kagum mengingat bahwa kami bepergian dengan bayi. Di usianya yang kesembilan minggu, yaitu ketika kami kembali ke Bangkok, si kecil sudah mencoba moda transportasi kereta ekonomi, skytrain, bus, pesawat terbang, shuttle bus, shuttle boat, tuk tuk, dan angkutan kota.
Tonggak penting dalam cerita perjalanan dengan si kecil adalah ketika kami harus terbang ke Perancis untuk menghadiri acara keluarga pada bulan Agustus 2012, tepatnya 20 Agustus 2012. Pada saat itu usianya baru 3 bulan 1 minggu. Penerbangan malam hari selama 8 jam dari Bangkok ke Kairo berjalan mulus, dimana si kecil tidur nyenyak dan bangun 2 jam sebelum mendarat di Kairo. Oiya, ada hal ganjil yang saya alami pada perjalanan kali ini. Maskapai penerbangan yang kami tumpangi ini sukses membuat dahi kami berkerut karena: 1) tidak memberikan sabuk pengaman untuk bayi dan permintaan kami dijawab dengan santai oleh pramugaranya "oh, tidak perlu. Pegang saja bayinya erat-erat" ????????????????, 2) beberapa detik setelah mendarat, pramugarinya langsung melepas sabuk pengaman dan langsung berdiri, 3) pramugari bukannya memastikan bahwa koper/tas tersimpan dengan rapi di kompartemen atas tapi kami melihat salah seorang pramugari memasukkan barang di kompartemen yang sudah penuh dan menutup pintu kompartemennya dengan paksa. Lha, kalau pintunya dibuka dan tas/kopernya jatuh menimpa kepala penumpang bagaimana?, 4) pramugarinya tidak menegur ketika ada satu orang penumpang di sebelah kami yang menyalakan ponsel begitu roda pesawat menyentuh landasan. Rasanya cukup sekali saja menggunakan maskapai ini. Di bandar udara internasional Kairo kami harus menunggu selama 4 jam dan kesan pertama saya terhadap bandara ini buruk. Pertama, kami melewati screening machine yang dijaga oleh dua orang petugas. Kedua petugas ini dengan santainya merokok di dalam ruang ber-AC dan jelas-jelas terpampang papan bertulisan besar di dinding belakang mereka "NO SMOKING". Konyol bukan? Kedua, prayer room di bandara ini sangat menyedihkan karena kotor dan ruangan tempat shalat berubah fungsi menjadi tempat tidur penumpang transit yang akan melanjutkan perjalanan ke Afrika. Lebih parahnya, bagian shalat untuk wanitapun dikuasai oleh pria-pria yang tidur sembarangan. Ketiga, fasilitas tempat duduk di dalam gedung bandara sangat sangat minim. Selama masa transit ini, si kecil tidur nyenyak sehingga ketika di pesawat, ia hanya tidur sebentar dan sempat menangis karena mengantuk beberapa saat sebelum mendarat di bandara Charles de Gaulle Paris.
Karena tempat duduk kami berada di belakang kelas bisnis, maka kamipun termasuk yang keluar lebih awal dari pesawat. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba seorang petugas memanggil dan menanyakan apakah kami penumpang kelas bisnis. Tentu saja kami jawab bukan, namun petugas tersebut tetap menyerahkan dua buah kartu berwarna ungu. Sebenarnya kartu ini hanya berlaku untuk penumpang kelas bisnis dari semua maskapai dan premium voyager Air France. Jadi, kali ini kami beruntung karena dengan pass tersebut, kami tidak perlu mengantri panjang di imigrasi dan terpisah antrian pula antara saya dan suami.
Sesampainya di Paris, petualangan belum berakhir. Setelah menggunakan fasilitas ruang ganti bayi di terminal 1, kami menumpang kereta CDGVAL menuju terminal 2, dimana TGV yang akan membawa kami ke stasiun St. Pierre-des-Corps menanti. Perjalanan selama 1,5 jam ini yang cukup menantang, mengingat si kecil sudah cukup lelah. Dua puluh menit menjelang ketibaan di St.Pierre-des-Corps si kecil menangis karena kelelahan. Kebetulan kami duduk di gerbong 1st class dan tertulis voiture silence atau dilarang berisik sehingga saya dan suami harus bergantian keluar agar tidak mengganggu penumpang yang lain dan berdiri di ruang antara dua gerbong untuk menenangkan si kecil. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 29 jam dari pintu ke pintu, kamipun sampai di tempat tujuan dan lega karena si kecil bersikap manis selama perjalanan panjang pertamanya, good baby boy!
Liburan kami selama tiga minggu di Perancis berjalan lancar dan menyenangkan. Si kecil juga menikmati perjalanan darat yang kami lakukan selama disana, kendalanya muncul pada saat kami sedang melaju sementara si kecil lapar dan beberapa kali kejadian dimana kami harus membiarkan ia menangis beberapa saat sebelum menemukan tempat parkir untuk berhenti.
Pada mulanya saya agak khawatir untuk perjalanan kembali ke Bangkok karena dari pengalaman teman/saudara, pelayanan maskapai Eropa jauh dibawah maskapai Asia atau Timur Tengah. Saya pribadi, belum pernah -dan jangan sampai- mempunyai pengalaman buruk dengan maskapai-maskapai tersebut. Kekhawatiran saya tidak terbukti. Awak pesawat yang kami tumpangi begitu ramah dan perhatian terhadap keperluan bayi kami. Selama 11 jam perjalanan dari Paris ke Bangkok, si kecil tertidur hampir selama setengah perjalanan dan sisanya ia bermain di bassinetnya.
![]() | |
| Si bayi petualang :). |
Petualangan si kecil masih terus berlanjut, insya Allah. Bulan Desember 2012 si kecil akan kembali berpetualang, merasakan musim dingin pertamanya bersama Oma dan Opa dan insya Allah kembali lagi kesana untuk merasakan musim semi sekaligus merayakan ulang tahunnya yang pertama, dan satu perjalanan mengunjungi Enin dan Kakek diantaranya.
Jadi, siapa bilang bepergian membawa bayi itu sulit? Selama kondisi fisik si bayi sehat, ijin dari dokter sudah di tangan, tidak perlu ragu untuk berangkat. Yang terpenting, jika orangtua menikmati perjalanannya bersama si kecil, si kecilpun akan mempunyai perasaan yang sama.
Selamat bepergian!
Monday, 26 November 2012
My Pregnancy Story
Two thousand eleven was a year that we will never forget as so many things happened in that particular year. Following my two miscarriages on 14th February and 28th June, I myself was a bit traumatic and of course, sad. We had no idea whether the loss was due to travel’s fatigue or else because the second loss occurred when we were in Honiara, just few days after we traveled back from Pentecost Island. The doctor at Honiara Referral Hospital told me to undertake further examination in Nouméa, New Caledonia as I planned to go there the following month. In Nouméa, the doctor at CHT Nouméa could not find any particular reasons for my situation, thus he suggested me to do thorough check up in Bangkok -our next destination-, considering the availability of more advanced equipments in Bangkok hospitals.
It was not until October 2011 when I set my feet for the first time in Bangkok. I had counted that the first day of my last period was on 6th August 2011 but because of the previous loss’ trauma, I decided to take this indicator easily by not doing any pregnancy tests at all but still thoroughly examining the calendars for any possibilities of pregnancy. So, between July and October, I acted as if I were not pregnant. We did a fabulous road trip in New Zealand, then I had to travel by myself all the way from Vanuatu to France for about 36 hours in total with transit in Sydney and Singapore. Even though my feeling told me that I was already about 4-week pregnant at that time, I tried to be at ease and not to think about all the risks of long haul travel at the first trimester of pregnancy. Thankfully, everything went well except that I had swollen feet afterwards, things that never happened to me before on long haul flights. We stayed in France for almost a month and when I was about 9-week pregnant I had to travel from Paris to Bangkok again. On this trip, few chunks of palm sugar or gula merah in Indonesian helped me a lot in overcoming the sickness.
Few days after our arrival in Bangkok, on 7th October 2011 I took a pregnancy test with positive result and the next day we went to Samitivej Hospital in Sukhumvit soi 49 and there, via transvaginal ultrasound, it was confirmed that the little pea was already 9 weeks, Alhamdulillah. We were more than thrilled but decided not to tell anyone about this, except my mother. On my 10th and 13th week pregnancy, I had a return trip to Indonesia with no particular issues on my physical condition. Finally, upon our return from Indonesia, we shared this wonderful news with family and close friends and expected the very best for this pregnancy.
Since then, we came to the hospital every month for check up. So, after our first visit to confirm my pregnancy, the second visit was on 5th November 2011 when I was 13th week pregnant in order to undertake abdomen ultrasound and Nuchal Translucency (NT) screening test. The NT screening test is intended to assess the fetus’s risk of having Down Syndrome. More about NT screening can be read here. The third visit was on the 17th week, that is 3rd December 2011 to check the vaginal cleanness and bump measurement. We also decided to change the Ob/Gyn purely for the reason of preference and it turned out that our choice was right. On 18th December 2011, the day that I would never forget, I felt a very soft movement on my tummy...how wonderful! When I was 20-week pregnant, we went to Laos by night train, plane and took the overnight bus on our way back from Nong Khai to Bangkok. I felt okay albeit a little bit tired. I even managed to climb more than 300 steps to reach Mount Phou Si in Luang Prabang. We went again to the hospital for the fourth visit on 3 January 2012 for Morphology ultrasound on the 21st week of pregnancy where we found out that I had a low-lying placenta previa. The news had made me slightly nervous as I wanted to have natural birth but the doctor then said that the position of placenta would possibly go upwards along the pregnancy and the decision of whether I could have natural birth or not would depend on its position in the 32nd week. As soon as I got the news, I did everything I could in order to help changing the position of the placenta. From many sources I have read, the bowing position is considered effective thus I do that everyday. In February 2012, I had gestational diabetes screening test and received a very good result, so there was nothing to worry about. All in all, I had four ultrasounds during my pregnancy, with the last one on 17th March 2012 (32nd week). The ultrasound result showed that my placenta was no longer low-lying, therefore my wish of having natural birth was likely possible, thanks to God.
Approaching the due date which was approximated on 12th May 2012, I came every two weeks and from the 38th week, I came once a week for check up. About two weeks before the due date, we showed our birth plan to our Ob/Gyn, to which she said OK for most of the issues we highlighted on the plan.
The story continued here as the baby decided to stay a bit longer in my womb.
It was not until October 2011 when I set my feet for the first time in Bangkok. I had counted that the first day of my last period was on 6th August 2011 but because of the previous loss’ trauma, I decided to take this indicator easily by not doing any pregnancy tests at all but still thoroughly examining the calendars for any possibilities of pregnancy. So, between July and October, I acted as if I were not pregnant. We did a fabulous road trip in New Zealand, then I had to travel by myself all the way from Vanuatu to France for about 36 hours in total with transit in Sydney and Singapore. Even though my feeling told me that I was already about 4-week pregnant at that time, I tried to be at ease and not to think about all the risks of long haul travel at the first trimester of pregnancy. Thankfully, everything went well except that I had swollen feet afterwards, things that never happened to me before on long haul flights. We stayed in France for almost a month and when I was about 9-week pregnant I had to travel from Paris to Bangkok again. On this trip, few chunks of palm sugar or gula merah in Indonesian helped me a lot in overcoming the sickness.
Few days after our arrival in Bangkok, on 7th October 2011 I took a pregnancy test with positive result and the next day we went to Samitivej Hospital in Sukhumvit soi 49 and there, via transvaginal ultrasound, it was confirmed that the little pea was already 9 weeks, Alhamdulillah. We were more than thrilled but decided not to tell anyone about this, except my mother. On my 10th and 13th week pregnancy, I had a return trip to Indonesia with no particular issues on my physical condition. Finally, upon our return from Indonesia, we shared this wonderful news with family and close friends and expected the very best for this pregnancy.
Since then, we came to the hospital every month for check up. So, after our first visit to confirm my pregnancy, the second visit was on 5th November 2011 when I was 13th week pregnant in order to undertake abdomen ultrasound and Nuchal Translucency (NT) screening test. The NT screening test is intended to assess the fetus’s risk of having Down Syndrome. More about NT screening can be read here. The third visit was on the 17th week, that is 3rd December 2011 to check the vaginal cleanness and bump measurement. We also decided to change the Ob/Gyn purely for the reason of preference and it turned out that our choice was right. On 18th December 2011, the day that I would never forget, I felt a very soft movement on my tummy...how wonderful! When I was 20-week pregnant, we went to Laos by night train, plane and took the overnight bus on our way back from Nong Khai to Bangkok. I felt okay albeit a little bit tired. I even managed to climb more than 300 steps to reach Mount Phou Si in Luang Prabang. We went again to the hospital for the fourth visit on 3 January 2012 for Morphology ultrasound on the 21st week of pregnancy where we found out that I had a low-lying placenta previa. The news had made me slightly nervous as I wanted to have natural birth but the doctor then said that the position of placenta would possibly go upwards along the pregnancy and the decision of whether I could have natural birth or not would depend on its position in the 32nd week. As soon as I got the news, I did everything I could in order to help changing the position of the placenta. From many sources I have read, the bowing position is considered effective thus I do that everyday. In February 2012, I had gestational diabetes screening test and received a very good result, so there was nothing to worry about. All in all, I had four ultrasounds during my pregnancy, with the last one on 17th March 2012 (32nd week). The ultrasound result showed that my placenta was no longer low-lying, therefore my wish of having natural birth was likely possible, thanks to God.
Approaching the due date which was approximated on 12th May 2012, I came every two weeks and from the 38th week, I came once a week for check up. About two weeks before the due date, we showed our birth plan to our Ob/Gyn, to which she said OK for most of the issues we highlighted on the plan.
The story continued here as the baby decided to stay a bit longer in my womb.
Monday, 19 November 2012
Benjasiri di hari Sabtu
Ketika seorang teman baik datang ke Bangkok, kamipun merencanakan piknik di salah satu taman kota disini. Pilihan jatuh ke taman Benjasiri karena kebetulan bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah. Lokasinya yang tidak jauh dari keramaian jalan utama Sukhumvit Road dan pusat perbelanjaan mewah Emporium membuat Benjasiri benar-benar menjadi oase di tengah hutan beton. Ditemani muffin pisang buatan sendiri, keripik kentang, roti, keju, dan buah-buahan, kamipun menggelar tikar dan menikmati sore sambil mengamati tingkah laku tupai-tupai mungil dan orang yang lalu lalang. Ah, piknik memang selalu menyenangkan :)
Terima kasih madame Sophie untuk foto-fotonya dan jangan bosan tengok kami ya :)
![]() |
| Piknik dengan bayi? Seru dan menyenangkan! |
Terima kasih madame Sophie untuk foto-fotonya dan jangan bosan tengok kami ya :)
Thursday, 15 November 2012
Sukses Membuat Bolu Gulung Perdana
Tergiur dengan resep kue di blog sang ibu kreatif yang ini, saya minta kursus langsung dengan gurunya, dan kemudian coba-coba sendiri di rumah. Resep yang saya pakai persis seperti yang ditulis di blog kecuali saya tidak pakai emulsifier dan vanilla essence. Sebagai pengganti emulsifier, saya tambah dua kuning telur ekstra ke dalam adonan.
Dulu sekali, saya pernah coba buat bolu gulung namun gagal total pas menggulung. Ternyata ada tekniknya yaitu gulung bolu selagi panas dan untuk menggulung, gunakan serbet kain sambil ditekan-tekan lembut untuk memadatkan gulungan. Jangan gunakan kertas roti karena berisiko membuat kulit si bolu terkelupas.
Terima kasih mbak Ike sudah berbagi ilmunya, terutama trik pintarnya supaya si bolu tidak retak saat digulung. Gara-gara mencari aktivitas pengalih rasa tidak nyaman akibat kontraksi saat itu, jadilah bolu gulung ini :).
| Semoga berhasil... |
![]() |
| Penampakan si bolu isi nutella setelah digulung |
Dulu sekali, saya pernah coba buat bolu gulung namun gagal total pas menggulung. Ternyata ada tekniknya yaitu gulung bolu selagi panas dan untuk menggulung, gunakan serbet kain sambil ditekan-tekan lembut untuk memadatkan gulungan. Jangan gunakan kertas roti karena berisiko membuat kulit si bolu terkelupas.
![]() |
| Selamat menikmati :) |
Terima kasih mbak Ike sudah berbagi ilmunya, terutama trik pintarnya supaya si bolu tidak retak saat digulung. Gara-gara mencari aktivitas pengalih rasa tidak nyaman akibat kontraksi saat itu, jadilah bolu gulung ini :).
Saturday, 10 November 2012
Mengukur Jalan
Di suatu hari yang cerah, saya berniat mengunjungi toko perlengkapan bayi yang terletak di Grands Boulevards, demi menggunakan voucher belanja hadiah kelahiran si kecil. Iseng-iseng saya berjalan kaki dari hotel kami di rue d'Alesia mengingat cukup repot naik turun metro dengan membawa bayi dan stroller. Yang kemudian terjadi adalah ini:
Setelah dipikir-pikir, hanya orang kurang kerjaan yang melakukan hal ini, seperti saya :).
![]() |
| Rute perjalanan pulang pergi sejauh 12 kilometer |
Setelah dipikir-pikir, hanya orang kurang kerjaan yang melakukan hal ini, seperti saya :).
Thursday, 8 November 2012
Anak-Anak Multibahasa
Pertama kali tahu tentang buku ini dari forum The Urban Mama, sayapun bergegas mencarinya di toko buku. Beberapa toko saya datangi namun tidak satupun mempunyai persediaan buku yang ditulis oleh Santi Dharmaputra, dkk ini. Dua tahun berselang, saya bertemu teman baru sesama orang Indonesia di Bangkok yang berbaik hati meminjamkan buku yang dimaksud. Lucunya lagi, ternyata teman baru saya ini adalah teman dekat salah satu penulis buku tersebut.
Buku ini menceritakan pengalaman sembilan wanita Indonesia yang pernah dan sedang tinggal di luar negeri dalam membesarkan anak-anak mereka secara bilingual dengan tetap mempertahankan penggunaan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Buku ini menjadi menarik karena relevan dengan situasi kami sekarang, yaitu bagaimana membesarkan anak dengan bahasa ayah dan ibu berbeda ditambah dengan bahasa lingkungan yang juga berbeda dari bahasa ayah dan ibu.
Sedari awal, kami sepakat untuk menggunakan bahasa ibu masing-masing dalam berbicara dengan anak. Saya berpendapat bahwa bahasa Indonesia sangatlah penting mengingat itulah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan keluarga dari pihak saya dan alasan yang sama berlaku pula untuk penggunaan bahasa Perancis. Menurut buku ini, ada lima langkah dasar yang perlu diingat dalam membesarkan anak multibahasa.
Pertama, tetapkan tujuan dan motivasi. Untuk keluarga kecil kami, kebutuhan bermultibahasa muncul karena anak kami adalah hasil pernikahan campuran Indonesia – Perancis. Meskipun begitu, anak dari pasangan sesama orang Indonesia pun, dapat tetap menjadi bilingual, seperti pengalaman beberapa ibu di buku ini. Jangan lupa, multibahasa tidak terbatas pada bahasa asing, penguasaan bahasa daerah yang baik juga merupakan bentuk kemampuan multibahasa. Tujuan dan motivasi kami menerapkan multibahasa pada anak adalah agar anak mampu berkomunikasi dengan baik ketika berada di lingkungan salah satu keluarga besarnya.
Kedua, buat strategi yang tepat. Strategi yang banyak dipakai dalam buku ini adalah OPOL (One Parent One Language) dan ML@H (Minority Language at Home). Strategi yang pertama adalah setiap orang tua berbicara dalam bahasa ibu masing-masing dengan anak dan tidak mencampur adukkan penggunaannya. Strategi kedua adalah menggunakan bahasa minoritas dalam lingkungan keluarga untuk tetap menjamin penguasaan si anak atas bahasa tersebut. Menurut saya, strategi ini tepat untuk keluarga yang tinggal di luar negeri. Jika keluarga tersebut tinggal di Indonesia namun ingin tetap bermultibahasa disamping bahasa Indonesia, misalnya bahasa Inggris, dapat saja dilakukan pada waktu tertentu yang telah disepakati bersama dengan catatan salah satu atau kedua orangtua mempunyai pemahaman tata bahasa Inggris yang sangat baik agar dapat memperbaiki jika anak keliru. Di sisi lain, bahasa Indonesia akan tetap menjadi bahasa utama yang digunakan. Strategi ini dapat divariasikan ketika anak sudah cukup pandai bicara dan memahami bahwa ia dapat bicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Misalnya, anak berbicara bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, berbicara bahasa Inggris pada saat makan malam atau akhir pekan, dan berbicara bahasa daerah dengan kakek-neneknya.
Ketiga, konsisten dan berkesinambungan. Menerapkan kebiasaan bermultibahasa di rumah membutuhkan konsistensi dari pelakunya, dalam hal ini orangtua, sampai anak paham bahwa bahasa-bahasa yang mereka pelajari mempunyai tata bahasa berlainan. Konsistensi dan kesinambungan ini membantu anak untuk dapat menguasai bahasa yang dipelajari secara benar dan menyeluruh. Biasakan bermultibahasa dalam setiap kesempatan dan manfaatkan media seperti CD/DVD, musik, televisi untuk mengasah kemampuan anak dalam bahasa yang sedang dipelajari. Dalam hal penerapan OPOL, orangtua harus konsisten menggunakan bahasa ibu ketika berbicara dengan anak sehingga anak dapat mengasosiasikan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan salah satu orangtua.
Keempat, hindarkan mencampur bahasa. Menurut buku ini, pada setiap pelaku multibahasa seringkali ditemui bahwa mereka menyelipkan istilah atau kalimat dalam bahasa asing di percakapan sehari-hari yang merupakan hal wajar. Yang terpenting adalah tidak mencampurkan bahasa dalam satu kalimat. Pastikan orangtua memberi contoh kepada anak dengan mengucapkan satu kalimat utuh dalam satu bahasa saja.
Kelima, gunakan bahasa yang paling dikuasai. Dalam hal orangtua ingin menerapkan multibahasa pada anak, hendaknya orangtua menggunakan bahasa yang paling dikuasai untuk berbicara dengan anak. Anak dapat tetap menjadi bilingual dengan bantuan media atau bahkan belajar langsung pada penutur aslinya.
Ada satu pengalaman yang selalu teringat di benak saya. Sekitar dua tahun lalu, saya dan dua teman menonton pagelaran seni dalam bahasa Sunda yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Lingkung Seni Sunda – Institut Teknologi Bandung (LSS-ITB) ini menggunakan pengantar bahasa Sunda dari awal hingga akhir acara. Tidak berapa lama setelah acara berlangsung dan penonton mulai tertawa mendengar percakapan para pemain di panggung, saya mendengar suara seorang anak usia SD di belakang kami yang mulai ribut bertanya kepada orangtuanya apa maksud dari kalimat-kalimat yang dilontarkan para pemain. Yang membuat saya heran, si anak terus bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris sementara orangtuanya menjawab dalam bahasa Indonesia. Hal ini menjadi sangat mengganggu karena suara si anak cukup keras dan terus-menerus bertanya hampir sepanjang acara berlangsung. Begitu acara usai, saya melihat satu keluarga Indonesia (saya hampir yakin bahwa orangtuanya mampu berbahasa Indonesia dan Sunda) dengan tiga orang anak, dan hanya satu anak saja yang berbahasa Inggris, yaitu anak yang merusak kenikmatan kami menonton pagelaran tadi. Saya amati dua anak yang lain bisa berbahasa Indonesia dengan sangat lancar (tentu saja, mereka orang Indonesia dan tinggal di Indonesia!). Sungguh mengherankan, di satu sisi orangtua berniat baik (mungkin) ingin mengenalkan budaya Sunda kepada anak-anaknya dengan menonton pagelaran tersebut, namun disisi lain, ke'tidakmampuan' si anak berbicara bahasa Indonesia disikapi sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Membingungkan bukan?
Sayangnya, masih ada orang Indonesia yang merasa bahwa bahasa Indonesia tidaklah penting dan orangtua malah bangga ketika anaknya berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Indonesia padahal kedua orangtuanya adalah orang Indonesia dan mereka tinggal di Indonesia. Di berbagai kesempatan, sering pula saya temui orangtua yang berbahasa asing dengan anak balitanya, namun sepotong-sepotong, dalam arti orangtua hanya menggunakan beberapa patah kata asing dalam kalimat yang secara keseluruhan menggunakan tatabahasa Indonesia. Perjalanan kami sendiri membesarkan anak bilingual masih sangat panjang karena penerapan metode OPOL ini baru dilakukan selama lima bulan terakhir. Namun satu hal yang pasti untuk saya, mampu bermultibahasa adalah suatu hal yang sangat positif, tetapi tidak berarti bahasa ibu terlupakan atau mencampur adukkan penggunaan bahasa dapat dilakukan. Bagaimana menurut Anda?
Buku ini menceritakan pengalaman sembilan wanita Indonesia yang pernah dan sedang tinggal di luar negeri dalam membesarkan anak-anak mereka secara bilingual dengan tetap mempertahankan penggunaan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Buku ini menjadi menarik karena relevan dengan situasi kami sekarang, yaitu bagaimana membesarkan anak dengan bahasa ayah dan ibu berbeda ditambah dengan bahasa lingkungan yang juga berbeda dari bahasa ayah dan ibu.
Sedari awal, kami sepakat untuk menggunakan bahasa ibu masing-masing dalam berbicara dengan anak. Saya berpendapat bahwa bahasa Indonesia sangatlah penting mengingat itulah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan keluarga dari pihak saya dan alasan yang sama berlaku pula untuk penggunaan bahasa Perancis. Menurut buku ini, ada lima langkah dasar yang perlu diingat dalam membesarkan anak multibahasa.
Pertama, tetapkan tujuan dan motivasi. Untuk keluarga kecil kami, kebutuhan bermultibahasa muncul karena anak kami adalah hasil pernikahan campuran Indonesia – Perancis. Meskipun begitu, anak dari pasangan sesama orang Indonesia pun, dapat tetap menjadi bilingual, seperti pengalaman beberapa ibu di buku ini. Jangan lupa, multibahasa tidak terbatas pada bahasa asing, penguasaan bahasa daerah yang baik juga merupakan bentuk kemampuan multibahasa. Tujuan dan motivasi kami menerapkan multibahasa pada anak adalah agar anak mampu berkomunikasi dengan baik ketika berada di lingkungan salah satu keluarga besarnya.
Kedua, buat strategi yang tepat. Strategi yang banyak dipakai dalam buku ini adalah OPOL (One Parent One Language) dan ML@H (Minority Language at Home). Strategi yang pertama adalah setiap orang tua berbicara dalam bahasa ibu masing-masing dengan anak dan tidak mencampur adukkan penggunaannya. Strategi kedua adalah menggunakan bahasa minoritas dalam lingkungan keluarga untuk tetap menjamin penguasaan si anak atas bahasa tersebut. Menurut saya, strategi ini tepat untuk keluarga yang tinggal di luar negeri. Jika keluarga tersebut tinggal di Indonesia namun ingin tetap bermultibahasa disamping bahasa Indonesia, misalnya bahasa Inggris, dapat saja dilakukan pada waktu tertentu yang telah disepakati bersama dengan catatan salah satu atau kedua orangtua mempunyai pemahaman tata bahasa Inggris yang sangat baik agar dapat memperbaiki jika anak keliru. Di sisi lain, bahasa Indonesia akan tetap menjadi bahasa utama yang digunakan. Strategi ini dapat divariasikan ketika anak sudah cukup pandai bicara dan memahami bahwa ia dapat bicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Misalnya, anak berbicara bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, berbicara bahasa Inggris pada saat makan malam atau akhir pekan, dan berbicara bahasa daerah dengan kakek-neneknya.
Ketiga, konsisten dan berkesinambungan. Menerapkan kebiasaan bermultibahasa di rumah membutuhkan konsistensi dari pelakunya, dalam hal ini orangtua, sampai anak paham bahwa bahasa-bahasa yang mereka pelajari mempunyai tata bahasa berlainan. Konsistensi dan kesinambungan ini membantu anak untuk dapat menguasai bahasa yang dipelajari secara benar dan menyeluruh. Biasakan bermultibahasa dalam setiap kesempatan dan manfaatkan media seperti CD/DVD, musik, televisi untuk mengasah kemampuan anak dalam bahasa yang sedang dipelajari. Dalam hal penerapan OPOL, orangtua harus konsisten menggunakan bahasa ibu ketika berbicara dengan anak sehingga anak dapat mengasosiasikan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan salah satu orangtua.
Keempat, hindarkan mencampur bahasa. Menurut buku ini, pada setiap pelaku multibahasa seringkali ditemui bahwa mereka menyelipkan istilah atau kalimat dalam bahasa asing di percakapan sehari-hari yang merupakan hal wajar. Yang terpenting adalah tidak mencampurkan bahasa dalam satu kalimat. Pastikan orangtua memberi contoh kepada anak dengan mengucapkan satu kalimat utuh dalam satu bahasa saja.
Kelima, gunakan bahasa yang paling dikuasai. Dalam hal orangtua ingin menerapkan multibahasa pada anak, hendaknya orangtua menggunakan bahasa yang paling dikuasai untuk berbicara dengan anak. Anak dapat tetap menjadi bilingual dengan bantuan media atau bahkan belajar langsung pada penutur aslinya.
Ada satu pengalaman yang selalu teringat di benak saya. Sekitar dua tahun lalu, saya dan dua teman menonton pagelaran seni dalam bahasa Sunda yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Lingkung Seni Sunda – Institut Teknologi Bandung (LSS-ITB) ini menggunakan pengantar bahasa Sunda dari awal hingga akhir acara. Tidak berapa lama setelah acara berlangsung dan penonton mulai tertawa mendengar percakapan para pemain di panggung, saya mendengar suara seorang anak usia SD di belakang kami yang mulai ribut bertanya kepada orangtuanya apa maksud dari kalimat-kalimat yang dilontarkan para pemain. Yang membuat saya heran, si anak terus bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris sementara orangtuanya menjawab dalam bahasa Indonesia. Hal ini menjadi sangat mengganggu karena suara si anak cukup keras dan terus-menerus bertanya hampir sepanjang acara berlangsung. Begitu acara usai, saya melihat satu keluarga Indonesia (saya hampir yakin bahwa orangtuanya mampu berbahasa Indonesia dan Sunda) dengan tiga orang anak, dan hanya satu anak saja yang berbahasa Inggris, yaitu anak yang merusak kenikmatan kami menonton pagelaran tadi. Saya amati dua anak yang lain bisa berbahasa Indonesia dengan sangat lancar (tentu saja, mereka orang Indonesia dan tinggal di Indonesia!). Sungguh mengherankan, di satu sisi orangtua berniat baik (mungkin) ingin mengenalkan budaya Sunda kepada anak-anaknya dengan menonton pagelaran tersebut, namun disisi lain, ke'tidakmampuan' si anak berbicara bahasa Indonesia disikapi sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Membingungkan bukan?
Sayangnya, masih ada orang Indonesia yang merasa bahwa bahasa Indonesia tidaklah penting dan orangtua malah bangga ketika anaknya berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Indonesia padahal kedua orangtuanya adalah orang Indonesia dan mereka tinggal di Indonesia. Di berbagai kesempatan, sering pula saya temui orangtua yang berbahasa asing dengan anak balitanya, namun sepotong-sepotong, dalam arti orangtua hanya menggunakan beberapa patah kata asing dalam kalimat yang secara keseluruhan menggunakan tatabahasa Indonesia. Perjalanan kami sendiri membesarkan anak bilingual masih sangat panjang karena penerapan metode OPOL ini baru dilakukan selama lima bulan terakhir. Namun satu hal yang pasti untuk saya, mampu bermultibahasa adalah suatu hal yang sangat positif, tetapi tidak berarti bahasa ibu terlupakan atau mencampur adukkan penggunaan bahasa dapat dilakukan. Bagaimana menurut Anda?
Saturday, 22 September 2012
Saya dan Multiply
Gara-gara Multiply akan menghapus fitur layanan blognya tahun ini, maka sayapun latah memindahkan isi Multiply saya yang tidak seberapa banyak itu. Pertama kali saya berkenalan dengan blogging lewat Multiply. Hm, ternyata lebih banyak album foto yang saya simpan di MP dibandingkan dengan tulisan. Tapi biarlah, hitung-hitung menambah post di blog yang ini walaupun ada jeda waktu yang cukup lama antara saat terakhir menulis di Multiply dengan awal saya menulis di Blogger. Sayang, semangat saya menulis baru dimulai dua tahun terakhir, itupun masih timbul tenggelam, padahal dalam kurun waktu 2006-2010 begitu banyak peristiwa dan pengalaman yang patut dicatat. Mungkin, kapan-kapan saya akan menulis peristiwa-peristiwa tersebut secara berkala dalam rangka mengenang masa lalu.
A Glimpse of Port Vila
An article about the city of Port Vila in Vanuatu was published in ELLE Indonesia Magazine (July 2012 issue).
The Charm of Nouméa
Five months passed already without any posts due to my abundant lazy hormones..my poor blog. As usual, I will post my published articles as my mood booster. I had four travel stories published by three different magazines last July. It is not that I was over-productive on that particular month, it was just a coincidence. First article comes far away from South Pacific, a travel story about the Capital of New Caledonia that is.
Published in Majalah Tamasya (July 2012 issue).
Published in Majalah Tamasya (July 2012 issue).
Subscribe to:
Posts (Atom)
























