Monday, 21 April 2014

#World Heritage Sites: Melaka and George Town, Historic Cities of the Straits of Malacca

Kedua kota cantik ini kami kunjungi pada kesempatan berbeda. Melaka atau Malaka atau Malacca kami datangi pada bulan Juli 2010 sementara ibukota pulau Penang, yaitu George Town, kami sambangi untuk melewatkan pergantian tahun 2012-2013 lalu. Keduanya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada bulan Juli 2008.

Lalu apa yang menarik dari kedua kota ini? Seperti halnya kota-kota di Semenanjung Malaka, kedua kota ini menjadi bukti nyata peleburan budaya Melayu, Cina, India, dan Eropa (Inggris, Belanda, Portugis) karena fungsinya sebagai kota perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat selama kurang lebih 500 tahun. Peleburan budaya tersebut terwujud diantaranya dalam bentuk arsitektur bangunan, pola kota, dan makanan.

Malaka

Kedatangan kami di Malaka bertepatan dengan penyelenggaraan pertandingan perempat final Piala Dunia 2010, jadi terbayang betapa ramainya kedai-kedai kopi menayangkan siaran pertandingan sepakbola di layar raksasa, seru sekali!

Christ Church Malaka
Kendaraan khas di kawasan turis Malaka
Malaka di malam hari
Rasanya kunjungan pertama ke Malaka ini masih kurang memuaskan karena kami belum menjelajah setiap sudut kotanya. Euforia Piala Dunia saat itu membuat kami malah sibuk mencari tempat untuk menonton pertandingan :D, giliran saatnya kembali ke Jakarta baru deh menyesal karena belum sempat mengeksplorasi kota secara maksimal :(.

George Town

Niatan untuk mengunjungi George Town bisa dibilang cukup mendadak. Kami beruntung masih bisa mendapatkan tiket di saat-saat terakhir dengan harga yang masih masuk akal pula. Penerbangan Bangkok - Penang dengan maskapai Air Asia membutuhkan waktu 1 jam 40 menit. Sesampainya di Bandara Internasional Penang, kami mengantri untuk mendapatkan taksi. Harga dari bandara sampai kota Georgetown yang termasuk zone 5 (kalau tidak salah) adalah RM 45. Selain taksi, ada pula armada bis yang melayani rute dari bandara ke pusat kota George Town. Informasi rute bis dapat dilihat di sini.

Untuk kriteria penginapan, mengingat uniknya bangunan di kota George Town, kami memilih menginap di boutique hotel yang umumnya merupakan bangunan konservasi. Ada beberapa pilihan, namun yang berlokasi dekat zona inti warisan dunia adalah boutique hotel di sepanjang Lebuh Chulia, antara lain Yeng Keng Hotel, Chulia Heritage Hotel, dan Banana Boutique Hotel - hotel tempat kami menginap. Karena kedua hotel pertama yang saya taksir penuh, pilihan jatuh pada hotel ketiga. Meskipun mereka tidak menyediakan boks bayi, tapi sebagai pejalan dengan standar akomodasi biasa-biasa saja, secara umum kami tidak mempunyai keluhan ketika menginap disini. 

Apa saja hal yang menarik untuk dilakukan di George Town? Yang pertama, tentu saja berkeliling kota melihat bangunan - bangunan bersejarahnya yang indah. Kedua, apalagi kalau bukan wisata kuliner. Tiga hari kami lewatkan di kota George Town tidak jauh dari kegiatan memamah biak alias makan-makan dan mengukur jalan menikmati bangunan-bangunan bersejarah. Kami juga mengunjungi perumahan penduduk yang dibangun di atas air (clan jetties) yang juga merupakan bagian dari Jejak Warisan Penang atau Penang Heritage Trail.

Dari sekian banyak bangunan bersejarah di Penang, berikut beberapa di antaranya yang sempat kami datangi.

Fort Cornwallis
Dibangun oleh Francis Light, benteng berbentuk bintang ini selesai pada awal abad 19. Awalnya, benteng ini digunakan sebagai pusat administratif pulau Penang, Pengadilan Tinggi Penang, dan kantor polisi Sikh. Dengan 3 RM, pengunjung dapat menikmati taman di dalam benteng yang hijau dan terawat serta mempelajari sejarah Penang dari setiap papan informasi yang terdapat disana.

Pinang Peranakan Mansion
Kurang lebih mirip dengan Museum Peranakan di Singapura, Pinang Peranakan Mansion adalah contoh rumah Baba kaya. Dibangun pada abad 19, rumah ini pernah menjadi kediaman sekaligus kantor Kapitan Cina Chung Keng Kwee. Dibuka setiap hari dengan harga tiket 10 RM untuk dewasa dan 5 RM untuk anak-anak di bawah 12 tahun, serta gratis untuk anak-anak dibawah 6 tahun.

Kapitan Keling Mosque
Merupakan mesjid bersejarah terbesar di kota George Town yang dibangun pada awal abad 19. Tepat di samping mesjid terdapat kedai nasi kandar Liqayat Ali yang sangat terkenal. Pada jam sibuk, antriannya bisa begitu panjang dan sesuai dengan pamornya, nasi kandar ini membuat kami ketagihan untuk makan lagi disana.

Clan Jetties
Perumahan masyarakat Cina yang didirikan di atas papan-papan kayu sepanjang dermaga Weld mulai berkembang sejak abad 19. Di sepanjang Weld Quay, terdapat delapan perkampungan yang penduduknya merupakan keturunan para imigran Cina dengan latar belakang sejarah, geografis, dan garis keturunan yang beragam.

St. George's Church
Gereja Anglican tertua di Asia Tenggara, St. George's Church berdiri gagah di tengah hamparan rumput hijau yang luas di Farquhar Street. Selesai dibangun pada 1819, gereja ini bersama-sama dengan Goddess of Mercy Temple, Mesjid Kapitan Keling, Sri Mahariamman Temple menjadi simbol keagamaan yang berdampingan secara harmonis sehingga area ini dikenal juga sebagai The Street of Harmony.

Queen Victoria Memorial Clock Tower
Sebagai simbol kekayaan hartawan Penang Cheah Chen Eok, menara ini dibangun pada 1897 untuk memperingati 60 tahun bertahtanya Ratu Victoria dari Inggris.

The Esplanade Town Hall
Diresmikan pada 1880 oleh Gubernur Sir Fedderick Weld, gedung indah ini awalnya adalah tempat berkumpulnya para kalangan atas Penang. Gedung ini juga sempat menjadi latar film Anna and the King.

Selain berjalan-jalan di pusat kota George Town, kami tidak melewatkan kunjungan ke Bukit Bendera yang terletak di Penang Hill. Kereta dengan tiket 30 RM/orang membawa kami melihat Penang dari ketinggian Bukit Bendera.

Tulisan menarik di setiap jalan di area World Heritage Core Zone
Nasi kandar, salah satu makanan khas Penang yang tidak boleh dilewatkan


Penjelasan menarik mengapa jalannya dinamai Love Lane :)

Love Lane yang terkenal

Pintu masuk Fort Cornwallis

Deretan meriam di Fort Cornwallis

Rujak, salah satu kuliner wajib jika berkunjung ke Penang

Town Hall

St. George's Church

Bagian muka rumah khas Penang

Salah satu sudut di Pinang Peranakan Mansion yang cantik

City Hall

Antrian menjelang makan siang di kedai Nasi Kandar Liqayat Ali, jalan Mesjid Kapitan Keling

Salah satu sudut perumahan di kawasan dermaga yang bersih

Salah satu dari sekian banyak kuil di Penang

Victoria Clock Tower

Pasangan berbahagia, pengantin Penang

Berpose sejenak di stasiun funiculaire Bukit Bendera :)

Deretan rumah khas Penang

Clan jetties

Sudut Chinatown

Mesjid Kapitan Keling

Kawasan Chinatown

Kuil kecil di Armenian Street yang cantik


Perumahan di clan jetties


Aneka kacang-kacangan yang dijual di sebuah kedai di Penang Hill

Villa dan perumahan mewah di sepanjang sisi jalan Batu Feringgi Beach

Masjid apung di Tanjong Bungah

Deretan bangunan apartemen, perumahan,dan villa mewah di Penang

Dari George Town, kami melanjutkan perjalanan ke Batu Feringgi Beach untuk melewatkan malam pergantian tahun disana. Melewati kawasan Gurney Drive yang chic, saya terkagum-kagum ketika melihat pelataran pejalan kaki sepanjang garis pantai dan di sisi lain berdiri bangunan pertokoan mewah Gurney Plaza dan Gurney Paragon, terselip diantara gedung-gedung apartemen eksklusif dengan pemandangan langsung ke pantai. Meninggalkan kawasan Gurney Drive, saya kembali ternganga melihat banyaknya bangunan mewah di sepanjang Batu Feringgi. Tampaknya sektor properti di pulau Penang sangat berkembang pesat dan kelihatannya para orang kaya ramai-ramai menginvestasikan aset mereka dalam bentuk holiday home. Kenapa saya berasumsi begitu? Karena hampir sebagian besar bangunan mewah tersebut kosong tak berpenghuni. Sebagian lainnya tampak belum rampung dibangun.

Memasuki area Batu Feringgi, hotel-hotel dari berbagai bintang mulai tampak. Pantainya sendiri bersih namun di beberapa tempat cukup berbatu sehingga tidak dapat digunakan untuk berenang. Berbeda dengan George Town yang berhasil membuat saya terpesona karena kebersihan kota dan konservasi bangunan bersejarahnya, Batu Feringgi tidaklah sebagus pantai-pantai di Indonesia, hanya mungkin promosi dan pengelolaannya yang membuat pantai ini menjadi terkenal dan membuat hotel-hotel berbintang berebut mengibarkan benderanya disana.

Sayangnya, waktu kunjungan yang sempit tidak memungkinkan kami untuk menyeberangi Penang Bridge dan menengok kota Butterworth. Meskipun begitu, George Town sudah meninggalkan sepotong kenangan indah dan pastinya, kami tidak keberatan kembali lagi kesini, apalagi kalau sambil membayangkan nasi kandar Liqayat Ali, rujak, dan kuliner Penang lainnya yang belum sempat kami cicipi :).

Thursday, 13 March 2014

Nulis Lagi...

Ternyata setelah mulai rajin nulis di blog dan tiga minggu gak nulis apa-apa itu rasanya ada yang hilang. Cuma, berhubung lelah fisik gak hilang-hilang, jadi males ngapa-ngapain sampe hari ini, bawaannya capek dan ngantuk terus :(.

Diawali dengan kedatangan mertua akhir Februari kemarin, kami sudah berencana untuk pergi ke Myanmar sejak berbulan-bulan lalu. Apa boleh buat, pas hari kedatangan mereka di Minggu malam, ternyata David demam. Senin pagi dibawa ke dokter dan dia positif kena HFMD (Hand, Foot, Mouth disease) yang memang lagi musim di Bangkok, sementara kami berencana pergi hari Selasa. Dokter jelas-jelas bilang agar perjalanannya ditunda. Kendalanya mertua hanya punya waktu dua minggu disini. Mau dibatalkan, paket perjalanan sudah dibayar, dan seandainya bisapun, yang diganti asuransi hanya porsi kedua mertua dan David, sementara bagian kami berdua yang jumlahnya lumayan akan hangus. Akhirnya, setelah diskusi panjang lebar plus menyiapkan rencana cadangan, kami sepakat mengundurkan keberangkatan menjadi hari Jum'at sambil berharap David sudah sembuh pada saat itu.

Sepulang dari dokter hari Senin siang, David kami kurung di rumah, sementara mertua jalan-jalan mengeksplorasi kota Bangkok didampingi suami atau hanya berdua. Baru hari Kamis saya ajak dia duduk di pinggir kolam untuk menghirup udara segar. Tidak ada obat untuk HFMD, jadi ya ditunggu 5-7 hari untuk sembuh dengan sendirinya. Masalahnya, kalau Jum'at David belum sembuh, kami terpaksa harus mengambil keputusan sulit. Alhamdulillah, hari Selasa demamnya sudah hilang, hanya bintik-bintik merahnya yang perlahan berubah menjadi seperti bekas luka mengering.

Jum'at pagi kami berangkat ke Yangoon, menginap satu malam untuk kemudian besoknya terbang menuju Inle. Delapan hari di Myanmar rencananya akan dihabiskan di empat tempat, yaitu Yangoon, Inle, Bagan, dan Mandalay. Tiga hari pertama di Myanmar, hanya suami dan mertua yang jalan-jalan sementara saya menemani David yang mendadak jadi hobi tidur siang lama antara 2,5 sampai 3 jam! Cerita perjalanan ke Myanmar yang seru tapi melelahkan ini akan saya tulis terpisah.

Sepulang dari Myanmar, masih ada dua hari sebelum mertua kembali pulang. Jadilah kami menyarankan mereka untuk mengunjungi Chatuchak pada hari Sabtu (ibaratnya belum pernah mengunjungi Bangkok kalau belum menginjak Chatuchak :D) dan hari Minggu, kami memutuskan untuk buffet lunch di salah satu hotel di tepi Chao Phraya sebelum sorenya berangkat ke bandara.

Senin pagi-pagi, kami bertiga sudah pergi lagi ke rumah sakit untuk periksa kesehatan dalam rangka urusan kantor, dan sepulangnya dari sana sekitar tengah hari, saya memutuskan datang ke acara arisan di dekat rumah yang sebelumnya tidak diniatkan hanya gara-gara demi sepiring nasi dan lauk pauk, hehehe...habis mau makan dirumah, selain malas masak, juga tidak ada bahan masakannya :p. Alhamdulillah, setelah puasa dari malam sebelumnya, siang itu saya lahap makan nasi putih hangat plus balado daging, karedok leunca, pepes ikan dan kerupuk, nikmattt :).

Sekarang rumah sudah kembali bersih dan kulkas sudah terisi penuh, hanya badan saya masih terasa rontok dan tumpukan setrikaan semakin menggunung (itupun setelah sebagian setrikaan didelegasikan pada asisten paruh waktu), padahal biasanya menyeterika adalah kegiatan favorit saya. Mudah-mudahan, sebelum minggu ini berakhir, semangat saya untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda bisa kembali lagi :)

Happy Thursday!

Thursday, 20 February 2014

[Info] Tempat Makan Halal di Bangkok

Mencari produk berlabel halal di Bangkok tidaklah sulit, tapi mencari tempat makan halal agak susah-susah gampang. Dibilang susah karena tidak semuanya berjarak dekat dari rumah, dibilang gampang karena selain kedai makanan halal selalu ada hampir di semua food court pusat pertokoan, ada beberapa tempat yang mudah dijangkau dari rumah.

Yana Restaurant
Berlokasi di lantai 5 pusat pertokoan MBK, restoran ini menyajikan beragam menu Thai yang lezat. Yang paling saya suka dari restoran ini adalah som tam dan tom yam goong. Nasi biryaninya pun konon enak, tapi saya belum pernah mencoba karena setiap kesana selalu gagal move on dari kedua menu diatas :).
BTS Sukhumvit line: National Stadium

Jimbaran - Bali
Masih di MBK, tepatnya di seberang Yana Restaurant, terletak di dalam food court The Fifth Food Avenue, ada dua kios halal, satu menyajikan menu India dan Arab, satunya lagi kios yang menawarkan menu Indonesia. Oia, kalau berkunjung kesini, jangan lupa pesan jus buahnya yang terbuat 100% buah asli tanpa tambahan gula. Menurut saya, kedai jus disini adalah yang paling enak dari semua kedai jus di food court lain.

Usman Halal Thai Restaurant 
Dengan pemilik yang berasal dari Thailand Selatan, jangan kaget kalau tiba-tiba Anda disapa dengan bahasa Melayu. Menyajikan menu khas Thai, Usman menjadi langganan orang-orang Indonesia yang tinggal atau sedang berkunjung ke Bangkok. Di restoran ini juga dijual pasta tom yum siap pakai untuk dibawa pulang.
BTS Sukhumvit line: Phrom Phong exit 6. Jalan tersingkat adalah jalan kaki masuk dari Benjasiri Park menuju pintu masuk bagian belakang Imperial Queen's Park hotel (lumayan sekalian ngadem), keluar dari hotel, tinggal belok kiri ke gang kecil sampai ketemu papan nama bertuliskan Usman. Kalau naik taksi, tinggal bilang Sukhumvit soi 22 (soi yi sip song) dan berhenti tepat setelah bangunan hotel Imperial Queen's Park.

Al-Hussain Restaurant
Berlokasi di area Sukhumvit soi 3/1, restoran ini adalah salah satu langganan kami. Menu Thai tidak begitu banyak, malahan yang jadi favorit kami disini adalah menu India/Arab seperti parata, nan, hummus (favorit suami), nasi biryani, dan mutton/beef masala yang rasa pedasnya mantap, hmm...jadi lapar deh :). Oya, pada bulan Ramadhan, Al-Hussain menyajikan menu berbuka puasa mulai dari ta'jil, buah-buahan sampai nasi biryani lengkap tanpa bayar alias gratis, asyik kan?
BTS Sukhumvit line: Nana

Saman Islam
Tempat makan yang satu ini terletak di kawasan Chatuchak Weekend Market yang terkenal itu. Turis Indonesia sebagian besar pasti familiar dengan tempat ini. Minggu lalu kami sengaja ke Chatuchak hanya untuk makan siang disini, bungkus terus pulang lagi. Ada macam-macam menu Thai dengan porsi besar, jadi pastikan dulu seberapa besar porsinya sebelum memesan.
BTS Sukhumvit line: Mo Chit.
Masuk dari gate 3, cari soi 24, jalan lurus ke arah clock tower. Nah, Saman Islam terletak tepat di ujung gang sebelum clock tower.

Mrs. Balbir's Indian Restaurant
Saya belum pernah mencoba restorannya, tapi kedainya di basement pusat pertokoan Robinson yang hanya selemparan batu dari rumah menawarkan beragam menu, salah satu favorit saya adalah kuah kari yang dimakan dengan parata.
BTS Sukhumvit line: Asok

Fahana Italian Restaurant
Lokasinya di Rama 9 dan sulit dicapai dengan kendaraan umum kecuali taksi atau naik mobil pribadi. Pertama mencoba, kami langsung suka dengan pizzanya yang tipis mirip pizza asli Italia, bukan semacam pizza gendut seperti di P***a H*t dan pilihan topping pizzanya macam-macam.
Alamat: 939 New Rama 9 Road, Suan Luang, Bangkok 10250. Tel: 0 2369 2366, 0 2718 3557, 0 2369 2367

Kantin KBRI Bangkok
Kadang ada orang yang meskipun sedang berwisata di negeri orang, tetap ingin makanan Indonesia dan utamanya halal. Kalau sedang berada di kawasan Petchburi, Pratunam dan sekitarnya, kantin KBRI bisa menjadi pilihan. Tinggal bilang petugas keamanan kalau kita mau ke kantin, setelah meninggalkan kartu identitas di pos keamanan lapis kedua (bukan petugas yang menjaga pintu masuk), jalan terus sampai ujung mengitari lapangan olahraga, kantin KBRI ada di bagian belakang ujung kompleks.
BTS Sukhumvit line: Ratchathewi
KBRI Bangkok, 600-602 Petchaburi Rd, Bangkok.

Sinthorn Steak House
Akhirnya saya berkesempatan juga mencicipi steak halal di Sinthorn. Restoran ini menawarkan menu steak a la Amerika, Perancis, serta berbagai menu masakan Cina, Arab, dan Thai. Selain restoran steak, ada pula Sinthorn Buffet a la Korea dan Sinthorn Seafood di kompleks yang sama. Siang tadi ketika kami berkunjung, hanya restorannya yang buka dari pukul 11.00 - 23.00, sementara buffet dan kedai sari laut baru buka sore hari pukul 17.00-23.00. Lokasinya di Ramkamhaeng agak sulit dicapai BTS/MRT. Cara termudah adalah menumpang taksi (argo dari area Sukhumvit kurang lebih THB 120-130).
Sinthorn Steak House
3331/2  Ramkamhaeng Road, between Soi 85 and Soi 87, near Lam Sali Intersection,
Huamark, Bangkapi, Bangkok THAILAND  10240  
Tel. ++662-3777322 , +662-3779123-4  Fax. +662 377 4308, +662-9782

Oya, sebenarnya ada beberapa kedai makanan halal di pusat-pusat pertokoan, tapi biasanya tidak semua orang mau makan di tempat yang peralatan makannya bercampur antara kedai halal dan non-halal. Masing-masing orang punya prinsip berbeda yang harus dihargai. Tapi seandainya kepepet atau memang tidak masalah dengan itu, kedai makanan halal juga ada di Platinum Fashion Mall, Siam Paragon, Pier 21 Food Court di Terminal 21 Shopping Mall, dan Foodloft Central Chidlom.

Thursday, 13 February 2014

Live Your Passion = Bahagia dengan Pilihanmu

Gambar dari sini

Tadi pagi kebetulan baca status teman SMU, sebut saja namanya A, tentang seorang teman sekelas kami dulu yang istimewa. Teman sekelas kami itu, sebut saja T, orangnya sangat cerdas cenderung perfeksionis tapi selalu mau menolong teman lainnya yang kesusahan dalam hal pelajaran. T ini tipe murid cerdas dan pekerja keras, jadi meskipun dikaruniai otak sangat encer, di rumah dia juga rajin belajar. Kan ada ya orang cerdas, terlihat jarang belajar dan kerjanya main terus, tapi begitu ujian nilainya bagus-bagus? Nah, T ini bukan tipe seperti itu, meskipun gak pernah menolak kalau sesekali diajak main. Saya juga termasuk orang yang pernah dibantunya dalam hal pelajaran, jadi pas baca status A, saya terharu sekaligus kagum.

Minat T sejak awal masuk SMA ada di bidang studi IPS dan IPS dan IPS. Meskipun begitu, nilai-nilainya untuk mata pelajaran IPA tidak kalah cemerlang. Ya, T ini memang bikin iri banyak orang dengan kecerdasannya, termasuk saya. Di SMU, saya tidak pernah suka pelajaran Fisika dan Akuntansi dan nilai ulangan Fisika dan Akuntansi langganan dapat merah, tapi ketika dijelaskan oleh T, semua konsep dua pelajaran menakutkan yang diajarkan di kelas itu menjadi tampak mudah. T ini juga dikaruniai kelebihan mampu menjelaskan materi dengan cara yang mudah dimengerti. Pokoknya toplah! Ketika masa penjurusan tiba, T galau. Bukan karena masalah nilai, tapi karena orangtuanya menginginkan ia masuk IPA. Menurut A, T sampai nangis-nangis karena dia ingin masuk IPS sesuai minatnya namun tidak disetujui orangtua. Akhirnya T masuk IPA demi menyenangkan orangtua. Singkat cerita, entah bagaimana caranya, T berhasil pindah kelas dari IPA ke IPS. Mengingat minatnya yang begitu menggebu-gebu, bisa ditebak T menyelesaikan SMU sebagai lulusan terbaik dari jurusan IPS dan kemudian diterima di Fakultas Ekonomi sebuah universitas negeri bergengsi lewat jalur PMDK. Hebat ya?

Ternyata memang benar, kalau kita mengikuti panggilan hati untuk melakukan suatu hal, kita akan menjalaninya dengan sepenuh hati dan penuh semangat. Dari A, saya tahu bahwa T sekarang menjadi dosen di almamaternya, sudah menyandang gelar Doktor ketika usianya masih di bawah 30 tahun, dan menjadi ekonom terkemuka di Indonesia. Rasa bangga dan kagum menjalari saya ketika mendengarnya. Saya bayangkan T yang bekerja dengan penuh semangat dan rasa bahagia karena ia berhasil mencapai mimpinya.

Ah, T, kamu memang selalu inspiratif, dulu dan sekarang...

If you are passionate about it, pursue it, no matter what anyone else thinks.  That’s how dreams are achieved - unknown

Bersantai di Koh Chang

Menikmati matahari terbenam yang sempurna di White Sand

Koh Chang atau pulau Gajah adalah pulau kecil di sebelah tenggara Bangkok. Jarak perjalanan yang harus ditempuh dari Bangkok kurang lebih 5 jam, termasuk 30 menit diatas ferry. Karena kami baru berangkat dari rumah siang menjelang sore, malam itu kami menginap di Sattahip, kota kecil antara Pattaya dan Rayong.

Sedikit cerita dari Sattahip, kami sampai sudah malam dan langsung mencari lokasi hotel yang sudah dipesan dengan bantuan Googlemaps. Tiga kali kami bolak-balik mengikuti petunjuk koordinat GPS hotel menurut situs tempat kami memesan kamar karena nama hotel tersebut tidak ada di peta, sampai akhirnya saya cari nama hotelnya dan tampaklah foto si hotel. Kami kembali lagi ke jalan utama, dan tadaaa...hotelnya langsung ketemu! Pelajaran didapat, jangan percaya 100% dengan koordinat GPS, harus selalu cek dan ricek, apalagi di kota kecil macam Sattahip. Pas sampai hotel yang bagian penerimaan tamunya cuma berupa warung kecil ini, kami langsung dibawa ke kamar. Bangunan kamarnya masih baru, berupa bungalow dengan taman kecil dan bangku di depannya, bersih, dan harganya juga murah..sedap..ditambah restoran seafood di sebelah membuat kami tidak perlu jauh-jauh cari makan.

Keesokan harinya, baru kami menuju Koh Chang. Di Laem Ngop, kami naik ferry yang akan menyeberangkan penumpang plus kendaraan ke pulau Gajah tersebut. Harga ferry adalah THB 100/orang dan THB 80/mobil. Setelah 30 menit berlayar, sampailah kami di pelabuhan Koh Chang dan langsung menuju hotel yang terletak di salah satu pantai yaitu White Sand Beach.

Ferry siap berangkat

Bagian dalam ferry..bebas sampah dan rokok!

Selama ada tanda larangan ini, mau naik angkutan ekonomi apapun tetap nyaman

Warung kecil di dalam ferry..sedia mie rebus juga lho..tentunya tidak seenak P**mie :)

Pulau Gajah tampak dari ferry

Koh Chang Pier

Sebagian besar hotel dan penginapan berlokasi di sebelah barat pulau, bisa dipilih sesuai selera dan isi dompet. Aktivitas yang bisa dilakukan juga bervariasi, mulai dari berenang dengan lumba-lumba, trekking, jalan-jalan naik gajah/elephant trekking, berlayar, memancing, snorkeling, sampai bergelantungan a la Tarzan di Tree Top Park. Tapi karena perjalanan kali ini dikhususkan untuk bersantai dan menikmati waktu bertiga, jadi kami tidak mematok target. Agenda kami selama tiga malam disana hanya keliling pulau, berenang, makan, dan trekking mengunjungi dua air terjun. Mengingat bahwa akhir pekan ini adalah long weekend, Koh Chang relatif tidak terlalu ramai dengan wisatawan, jadi lebih nyaman menurut saya.

Rumah makan lesehan..cuma kurang nasi timbel dan teman-temannya saja nih!*mimpi orang Sunda yang gagal move-on*

Kotak pos unik

Siap memesan makan malam

Air terjun Khlong Phlu

Salah satu ruas jalan di pulau

Air terjun Than Mayom yang "kecil" karena sudah berbulan-bulan tidak turun hujan

Kreatif juga idenya :)

Matahari terbenam di White Sand

Father and son bonding time

Sedikit tips jika berniat mengunjungi Koh Chang, datanglah pada musim hujan agar dapat melihat keindahan air terjun disana. O ya, tiket masuk air terjun ini seharga THB 200/orang dan THB 100/mobil yang berlaku untuk semua air terjun lain asalkan didatangi dalam satu hari. Berbeda dengan beberapa pulau lain, khususnya untuk snorkeling, di Koh Chang kita harus menumpang kapal dulu untuk menuju tempat snorkeling terdekat. Ada banyak agen perjalanan yang siap mengurus paket perjalanan yang menarik untuk perorangan maupun keluarga, tinggal dipilih saja.

[Little Traveler]: Berkunjung ke Khao Kheow Open Zoo

Tujuan wisata apa yang langsung terlintas untuk dikunjungi begitu punya anak? Kalau untuk kami, jawabannya adalah kebun binatang.

Kebun binatang Khao Kheow yang kami kunjungi kali ini terletak di luar Bangkok, yaitu di daerah Chon Buri, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bangkok. Khao Kheow juga berfungsi sebagai tempat konservasi hewan-hewan di bawah proyek konservasi yang didukung Kerajaan sekaligus sebagai pusat studi dan pengembangan sumberdaya biologis. Kebun binatang ini satu-satunya yang mempunyai lebih dari 8,000 ekor hewan dari 300 spesies yang dibiarkan "bebas". Bebas terbatas dan tentunya hanya untuk hewan-hewan yang tidak masuk kategori buas ya...misalnya seperti kandang singa dan beruang yang kami lewati, tempat tinggal mereka tidak berupa kandang berjeruji besi, tapi menyerupai alam buatan yang dikelilingi pagar listrik.

Tiket masuk ke kebun binatang ini normalnya untuk orang asing adalah THB 300 per orang dan THB 50 per kendaraan, tapi karena kami tinggal di Thailand, maka dikenakan harga lokal yaitu THB 150/orang.

Ada banyak aktivitas yang bisa diikuti di Khao Kheow seperti yang ditawarkan di halaman ini. Setelah makan siang, baru kami mengelilingi area kebun binatang dengan mengendarai mobil. Oia, ada dua restoran di dalam kompleks kebun binatang ini, tapi sebaiknya pilih restoran Green Hills yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Selain lebih variatif, menunyapun ditulis dalam dalam bahasa Inggris sementara restoran yang terletak agak ke dalam hanya mempunyai menu dalam bahasa Thai. Karena siang yang begitu terik dan waktu yang terbatas, kami tidak banyak turun dan berhenti untuk mengambil foto, kecuali di tempat-tempat yang teduh :).

Eld's Deer yang jinak
Burung Unta
Kalau dilihat dari ukurannya, seperti jerapah bapak dan anak
Badak yang salah satunya sedang tidur siang
Afrika dari dekat
Gaur
Ada gajah yang sedang asyik 'ngadem' di kolam di hari yang panas
Gajah-gajah sedang menunggu diberi dedaunan oleh pengunjung

Hanya satu yang saya sayangkan dan tidak setujui, yaitu aktivitas sarapan pagi bersama orangutan. Setelah melihat mereka langsung di habitatnya, saya kecewa kalau orangutan ini di"manusia"kan untuk kepentingan komersial, walau di kebun  binatang sekalipun. Bagaimanapun orangutan ini tinggalnya di hutan dan pekerjaannya bukan untuk menemani manusia sarapan :( :(. Belum terpikir hal yang bisa kami lakukan selain tidak mengambil paket ini dan menyarankan orang lain untuk melakukan hal serupa, yaitu TIDAK mengambil paket sarapan dengan Suriya, si orangutan.

Tips dari saya untuk mengoptimalkan kunjungan ke Khao Kheow, datanglah sejak pagi untuk menghindari cuaca yang tidak bersahabat dan bisa melihat semua area tanpa terlewatkan satupun. Di kompeks kebun binatang yang luas ini ada pula area bermain anak-anak, atraksi pertunjukan binatang pada jam-jam tertentu, peternakan domba, tapi karena panasnya cuaca siang itu, tentu saja kami lebih memilih AC sebagai teman setia. Oia, disini juga ada akomodasi yang kamarnya dibuat seperti tenda-tenda di alam terbuka, namanya Estate Khao Kheow Resort. Kalau ingin pengalaman liburan yang berbeda, menginap di tempat ini bisa juga jadi pilihan. 

Khao Kheow Open Zoo
235 Moo 7, Bang Phra, Sri Racha, Chonburi 20110
Tel: 089-689-6578, 084-427-6523
Website: www.journeytothejungle.com/

Buka setiap hari jam 08.00 - 18.00

Gratin Dauphinois

Here's my another saviour whenever I have no idea what to cook at home.

Originally from the Dauphiné region in south-east France, this traditional dish is a must-try failproof recipe. My husband taught me how to make it, and now it becomes one of my favorite. Although it takes approximately one hour to get tender and juicy layers of potatoes, this recipe is an easy-peasy one, trust me!

Ingredients:

3 large potatoes, peeled and thinly sliced.
200 ml cooking cream
Gruyère or Emmental cheese, grated (this will make the best flavour, but occasionally I also use plenty of cheddar, much cheaper :p)
salt and pepper to taste
unsalted butter

How to:

- Spread butter on the base of the baking dish and put a layer of sliced potatoes.
- On each layer, add salt, pepper, and a sprinkle of cheese.
- Make the layers until all the sliced potatoes are used up.
- Cover the layers with the remaining grated cheese (I love cheese, so I always generously put lots of cheese  on top, so when it is cooked, the cheesy crust will be my guilty pleasure as it is perfectly gratiné).
- Pour the cream and make sure that it is well distributed among the layers.
- Cook in an oven at about 180°C for 45 to 60 minutes with only lower source of heat, and put lower and upper sources of heat during the last 10 minutes of cooking time.

Voilà, gratin dauphinois is served, enjoy!


Ready to be put in the oven

The melting cheese and cream..heaven!

a slice of gratin, anyone?