Thursday, 13 February 2014

Bersantai di Koh Chang

Menikmati matahari terbenam yang sempurna di White Sand

Koh Chang atau pulau Gajah adalah pulau kecil di sebelah tenggara Bangkok. Jarak perjalanan yang harus ditempuh dari Bangkok kurang lebih 5 jam, termasuk 30 menit diatas ferry. Karena kami baru berangkat dari rumah siang menjelang sore, malam itu kami menginap di Sattahip, kota kecil antara Pattaya dan Rayong.

Sedikit cerita dari Sattahip, kami sampai sudah malam dan langsung mencari lokasi hotel yang sudah dipesan dengan bantuan Googlemaps. Tiga kali kami bolak-balik mengikuti petunjuk koordinat GPS hotel menurut situs tempat kami memesan kamar karena nama hotel tersebut tidak ada di peta, sampai akhirnya saya cari nama hotelnya dan tampaklah foto si hotel. Kami kembali lagi ke jalan utama, dan tadaaa...hotelnya langsung ketemu! Pelajaran didapat, jangan percaya 100% dengan koordinat GPS, harus selalu cek dan ricek, apalagi di kota kecil macam Sattahip. Pas sampai hotel yang bagian penerimaan tamunya cuma berupa warung kecil ini, kami langsung dibawa ke kamar. Bangunan kamarnya masih baru, berupa bungalow dengan taman kecil dan bangku di depannya, bersih, dan harganya juga murah..sedap..ditambah restoran seafood di sebelah membuat kami tidak perlu jauh-jauh cari makan.

Keesokan harinya, baru kami menuju Koh Chang. Di Laem Ngop, kami naik ferry yang akan menyeberangkan penumpang plus kendaraan ke pulau Gajah tersebut. Harga ferry adalah THB 100/orang dan THB 80/mobil. Setelah 30 menit berlayar, sampailah kami di pelabuhan Koh Chang dan langsung menuju hotel yang terletak di salah satu pantai yaitu White Sand Beach.

Ferry siap berangkat

Bagian dalam ferry..bebas sampah dan rokok!

Selama ada tanda larangan ini, mau naik angkutan ekonomi apapun tetap nyaman

Warung kecil di dalam ferry..sedia mie rebus juga lho..tentunya tidak seenak P**mie :)

Pulau Gajah tampak dari ferry

Koh Chang Pier

Sebagian besar hotel dan penginapan berlokasi di sebelah barat pulau, bisa dipilih sesuai selera dan isi dompet. Aktivitas yang bisa dilakukan juga bervariasi, mulai dari berenang dengan lumba-lumba, trekking, jalan-jalan naik gajah/elephant trekking, berlayar, memancing, snorkeling, sampai bergelantungan a la Tarzan di Tree Top Park. Tapi karena perjalanan kali ini dikhususkan untuk bersantai dan menikmati waktu bertiga, jadi kami tidak mematok target. Agenda kami selama tiga malam disana hanya keliling pulau, berenang, makan, dan trekking mengunjungi dua air terjun. Mengingat bahwa akhir pekan ini adalah long weekend, Koh Chang relatif tidak terlalu ramai dengan wisatawan, jadi lebih nyaman menurut saya.

Rumah makan lesehan..cuma kurang nasi timbel dan teman-temannya saja nih!*mimpi orang Sunda yang gagal move-on*

Kotak pos unik

Siap memesan makan malam

Air terjun Khlong Phlu

Salah satu ruas jalan di pulau

Air terjun Than Mayom yang "kecil" karena sudah berbulan-bulan tidak turun hujan

Kreatif juga idenya :)

Matahari terbenam di White Sand

Father and son bonding time

Sedikit tips jika berniat mengunjungi Koh Chang, datanglah pada musim hujan agar dapat melihat keindahan air terjun disana. O ya, tiket masuk air terjun ini seharga THB 200/orang dan THB 100/mobil yang berlaku untuk semua air terjun lain asalkan didatangi dalam satu hari. Berbeda dengan beberapa pulau lain, khususnya untuk snorkeling, di Koh Chang kita harus menumpang kapal dulu untuk menuju tempat snorkeling terdekat. Ada banyak agen perjalanan yang siap mengurus paket perjalanan yang menarik untuk perorangan maupun keluarga, tinggal dipilih saja.

[Little Traveler]: Berkunjung ke Khao Kheow Open Zoo

Tujuan wisata apa yang langsung terlintas untuk dikunjungi begitu punya anak? Kalau untuk kami, jawabannya adalah kebun binatang.

Kebun binatang Khao Kheow yang kami kunjungi kali ini terletak di luar Bangkok, yaitu di daerah Chon Buri, sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bangkok. Khao Kheow juga berfungsi sebagai tempat konservasi hewan-hewan di bawah proyek konservasi yang didukung Kerajaan sekaligus sebagai pusat studi dan pengembangan sumberdaya biologis. Kebun binatang ini satu-satunya yang mempunyai lebih dari 8,000 ekor hewan dari 300 spesies yang dibiarkan "bebas". Bebas terbatas dan tentunya hanya untuk hewan-hewan yang tidak masuk kategori buas ya...misalnya seperti kandang singa dan beruang yang kami lewati, tempat tinggal mereka tidak berupa kandang berjeruji besi, tapi menyerupai alam buatan yang dikelilingi pagar listrik.

Tiket masuk ke kebun binatang ini normalnya untuk orang asing adalah THB 300 per orang dan THB 50 per kendaraan, tapi karena kami tinggal di Thailand, maka dikenakan harga lokal yaitu THB 150/orang.

Ada banyak aktivitas yang bisa diikuti di Khao Kheow seperti yang ditawarkan di halaman ini. Setelah makan siang, baru kami mengelilingi area kebun binatang dengan mengendarai mobil. Oia, ada dua restoran di dalam kompleks kebun binatang ini, tapi sebaiknya pilih restoran Green Hills yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Selain lebih variatif, menunyapun ditulis dalam dalam bahasa Inggris sementara restoran yang terletak agak ke dalam hanya mempunyai menu dalam bahasa Thai. Karena siang yang begitu terik dan waktu yang terbatas, kami tidak banyak turun dan berhenti untuk mengambil foto, kecuali di tempat-tempat yang teduh :).

Eld's Deer yang jinak
Burung Unta
Kalau dilihat dari ukurannya, seperti jerapah bapak dan anak
Badak yang salah satunya sedang tidur siang
Afrika dari dekat
Gaur
Ada gajah yang sedang asyik 'ngadem' di kolam di hari yang panas
Gajah-gajah sedang menunggu diberi dedaunan oleh pengunjung

Hanya satu yang saya sayangkan dan tidak setujui, yaitu aktivitas sarapan pagi bersama orangutan. Setelah melihat mereka langsung di habitatnya, saya kecewa kalau orangutan ini di"manusia"kan untuk kepentingan komersial, walau di kebun  binatang sekalipun. Bagaimanapun orangutan ini tinggalnya di hutan dan pekerjaannya bukan untuk menemani manusia sarapan :( :(. Belum terpikir hal yang bisa kami lakukan selain tidak mengambil paket ini dan menyarankan orang lain untuk melakukan hal serupa, yaitu TIDAK mengambil paket sarapan dengan Suriya, si orangutan.

Tips dari saya untuk mengoptimalkan kunjungan ke Khao Kheow, datanglah sejak pagi untuk menghindari cuaca yang tidak bersahabat dan bisa melihat semua area tanpa terlewatkan satupun. Di kompeks kebun binatang yang luas ini ada pula area bermain anak-anak, atraksi pertunjukan binatang pada jam-jam tertentu, peternakan domba, tapi karena panasnya cuaca siang itu, tentu saja kami lebih memilih AC sebagai teman setia. Oia, disini juga ada akomodasi yang kamarnya dibuat seperti tenda-tenda di alam terbuka, namanya Estate Khao Kheow Resort. Kalau ingin pengalaman liburan yang berbeda, menginap di tempat ini bisa juga jadi pilihan. 

Khao Kheow Open Zoo
235 Moo 7, Bang Phra, Sri Racha, Chonburi 20110
Tel: 089-689-6578, 084-427-6523
Website: www.journeytothejungle.com/

Buka setiap hari jam 08.00 - 18.00

Gratin Dauphinois

Here's my another saviour whenever I have no idea what to cook at home.

Originally from the Dauphiné region in south-east France, this traditional dish is a must-try failproof recipe. My husband taught me how to make it, and now it becomes one of my favorite. Although it takes approximately one hour to get tender and juicy layers of potatoes, this recipe is an easy-peasy one, trust me!

Ingredients:

3 large potatoes, peeled and thinly sliced.
200 ml cooking cream
Gruyère or Emmental cheese, grated (this will make the best flavour, but occasionally I also use plenty of cheddar, much cheaper :p)
salt and pepper to taste
unsalted butter

How to:

- Spread butter on the base of the baking dish and put a layer of sliced potatoes.
- On each layer, add salt, pepper, and a sprinkle of cheese.
- Make the layers until all the sliced potatoes are used up.
- Cover the layers with the remaining grated cheese (I love cheese, so I always generously put lots of cheese  on top, so when it is cooked, the cheesy crust will be my guilty pleasure as it is perfectly gratiné).
- Pour the cream and make sure that it is well distributed among the layers.
- Cook in an oven at about 180°C for 45 to 60 minutes with only lower source of heat, and put lower and upper sources of heat during the last 10 minutes of cooking time.

Voilà, gratin dauphinois is served, enjoy!


Ready to be put in the oven

The melting cheese and cream..heaven!

a slice of gratin, anyone?

Thursday, 30 January 2014

Etika Tamu Menginap

Gambar pinjam dari sini

Meskipun belum punya rumah sendiri, kami lumayan sering menerima tamu. Kebetulan saya dan suami juga tipe orang yang senang-senang saja kalau kedatangan tamu. Biasanya tamu kami berkisar antara keluarga, kolega yang sekaligus adalah teman baik, dan teman. Nah, dari kesemua tamu yang pernah menginap itu tidak semuanya meninggalkan kesan baik, malah beberapa diantaranya sudah saya masukkan daftar hitam karena tidak memenuhi kriteria tamu beretika versi saya. Daripada saya menerima tamu dengan muka menekuk, lebih baik menolak tamu dengan kelakuan-kelakukan seperti ini dari awal.

"Milikmu milik saya juga, milikku milikku saja"
Ada pasangan yang punya motto hidup seperti diatas, bahkan ketika mereka sedang bertamu. Jadi, kalau misalkan mereka beli makanan, alih-alih membagi makanan sama rata dan menawarkannya pada yang punya rumah, makanan itu langsung dimakan berdua dengan santainya di depan orang lain. Kalaupun istrinya menawari, mereka menawarkan makanan yang sedang mereka santap. Bukan makanannya yang saya permasalahkan, tapi sikap mereka yang mengganggu di mata saya, kelihatannya kok tidak sopan, makan di depan orang lain tanpa benar-benar punya niat untuk berbagi. Sebagai tuan rumah, umumnya kita senang menjamu tamu, tapi kalau tamunya tidak punya etika seperti ini, lama-lama malas juga ya. Tamu itu adalah raja, tapi bukan berarti bisa seenaknya bersikap, apalagi di rumah orang lain

Anti dapur dan tidak ringan tangan
Biasanya ada semacam peraturan tak tertulis antara kami dan tamu-tamu kami. Hal ini tidak pernah kami bahas secara terbuka sebelum mengundang mereka tapi berjalan spontan begitu saja seperti sudah saling mengerti. Kalau kami yang memasak, maka tamu kami langsung mengambil giliran mencuci piring atau sebaliknya. Suatu kali, kami kedatangan tamu seusia kami yang menginap beberapa malam yang begitu selesai makan langsung kembali sibuk dengan laptopnya tanpa sedikitpun membantu membersihkan meja, membawa piring kotor ke dapur, atau mencuci piring, uuuggghhhh....memangnya disini restoran?? Kalau tamunya orang yang lebih tua, pasti saya tidak akan mengeluh seperti ini. Tapi kalau tamunya keluarga/teman dan seusia lagi, coba sedikit bantu tuan rumah apa salahnya sih?

Sok mengatur
Saya belum pernah mengalami punya tamu yang sok mengatur, tapi teman baik saya pernah mengalaminya. Sebut saja nama teman baik saya itu A dan temannya adalah X. Di rumah A yang hidup sendirian, si X ini sempat "tinggal" beberapa lama tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Awalnya A merasa senang karena ada teman dan merasa si X seperti cucunya sendiri, namun lama-kelamaan si X mulai mengatur banyak hal, termasuk menu makanan (X ini vegetarian) dan A merasa terganggu, sampai akhirnya X keluar dari rumah A karena ia mendapatkan pekerjaan di luar negeri. 

Jorok dan malas
Masih orang yang sama, suatu saat X menginap di tempat kami setelah malam sebelumnya ia mengaku ketakutan waktu menginap di tempat teman yang tidak begitu dikenalnya. Sayapun menerima dengan senang hati. Ternyata selama beberapa hari di rumah, pekerjaannya hanya duduk saja di depan laptop sepanjang hari, tidak mandi dan tidak berganti baju. Jadi baju yang ia pakai ketika datang sama persis dengan yang ia pakai ketika pergi. Handuk dan semua peralatan mandi di kamar mandi tamu kering tak tersentuh, padahal waktu itu Bangkok sedang panas-panasnya, hampir 40 derajat pada siang hari...hiiiyy...kebayang lengketnya berhari-hari tidak mandi :(

Satu hari, saya harus pergi dan saya tidak menyiapkan makan siang, toh ia bisa cari makan siang di luar atau memanaskan sisa sup semalam. Ketika saya pulang, ia masih dalam posisi ketika saya tinggalkan pagi tadi. Pas saya cek lemari es,  terlihatlah mangkuk sup bekas dimakan. Bukan main kesal saya dibuatnya. Kenapa? karena ia makan sup langsung dari mangkuk besarnya. Apa susahnya sih ambil mangkuk baru, dan ambil beberapa sendok sup yang ia mau makan? Kalau kurang kan tinggal tambah lagi? Kalau sudah "bekas" begini, siapa yang mau makan? Mengingat betapa jorok dan pemalasnya tamu saya ini, ketika dia menanyakan apakah dia bisa menginap lagi di tempat saya saat transit berikutnya, saya abaikan pesan dan teleponnya.

Lupa mematikan AC
Tamu yang cuek seperti ini membawa akibat buruk pada tagihan rekening listrik. Pernah terjadi, seorang tamu pergi keluar dan meninggalkan AC kamar dalam kondisi menyala, terus jendela kamar terbuka pula. Mau marah gak sih? Kok ya jadi orang tidak punya common sense, serba seenaknya? Memangnya listrik dibayar pakai daun pisang? Sejak itu, pada siapapun yang menginap, saya selalu minta mereka memastikan bahwa AC sudah dimatikan dan jendela sudah ditutup jika mereka akan pergi. Atau saya sendiri yang mengecek langsung ke kamar tamu. Duh, macam-macam saja ya kelakuan orang...

Ada yang punya pengalaman menerima tamu dengan kelakuan ajaib menginap di rumah masing-masing?

Saturday, 25 January 2014

Tamu Istimewa

Minggu lalu, seorang sahabat baik datang menemani saya dan David selama empat hari. Aria, sahabat saya ini sebenarnya adalah teman sejak SMU, tapi kami baru dekat seperti lem dan perangko sejak masuk jurusan yang sama saat kuliah, dilanjutkan dengan proyek bersama, dan terus berlanjut sampai sekarang, 16 tahun kemudian! Tidak lupa, putrinya yang berusia enam tahun ikut serta. Jadilah selama empat hari itu, ibu-ibu dan anak-anak ini bersuka cita karena ibu-ibunya bisa bergosip tentang banyak topik sementara anak-anaknya bisa bermain bersama. Lucu deh melihat anak usia 6 tahun bermain dengan anak usia 1,5 tahun, ternyata mereka juga masih bisa bermain bersama, walaupun ada saat dimana David selalu membuntuti Raya sementara Raya-nya sedang ingin "sendiri". Kalau sudah begitu David akan memanggil-manggil "kakak...kakaaak..kakaakk"...dan si kakakpun muncul dari tempat persembunyiannya...hihihi...menggemaskan.

Si adik dan kakak di Wat Pho

Berdua naik shiro

long-awaited reunion :)

Senangnya ditengok sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Sering-sering main kesini ya neng, kapanpun pintu selalu terbuka...ditunggu kunjungan selanjutnya :)

Thursday, 23 January 2014

Perjalanan Panjang Menuju Samosir

Dari Bukit Lawang, kami menuju Berastagi dan menginap satu malam disana sebelum berangkat ke Samosir. Karena sampai di Berastagi sudah malam dan besoknya harus berangkat pagi-pagi, tempat yang dikunjungi di Berastagi hanyalah pasar buah. Saya suka pasar buah ini, selain produk yang dijual benar-benar menarik mata, pasar ini juga bersih sekali. Pedagang buah-buahan berdampingan dengan pedagang bunga membuat pasar ini semakin segar. Kami tidak lupa memborong jeruk Medan yang enak sekali untuk di perjalanan.

Kesemek, jeruk, markisa, stroberi, manggis, salak..tinggal dipilih :)

Aneka tanaman dan bebungaan yang menyegarkan mata

Untuk mencapai Samosir, kami minta pak supir mengambil rute memutar agar bisa melihat air terjun Sipisopiso baru kemudian menyusuri jalur Merek - Tongging - Tele - Pangururan. Saya sendiri baru tahu kalau Samosir sendiri ternyata bukan murni pulau yang terpisah dari daratan. Umumnya wisatawan yang berkunjung ke Samosir mengambil rute Medan - Prapat disambung dengan menumpang ferry ke Samosir.

Sepanjang jalan dari Berastagi menuju Merek, di sisi kiri dan kanan jalan terdapat perkebunan jeruk. Bahkan di beberapa tempat, saya dapat melihat jelas pohon-pohon itu digelayuti buah-buah jeruk yang ranum dan sudah terbayang segar dan manisnya...nyaammm. Kios-kios penjual jeruk berdiri tepat di depan perkebunan dan banyak diantaranya memasang papan bertuliskan "bisa petik sendiri". Kalau saja kami tidak dikejar waktu, rasanya ingin berhenti sebentar dan merasakan mencicipi buah jeruk Medan hasil petikan tangan sendiri di daerah asalnya. Di Merek, laju kendaraan sempat tersendat karena ada pasar, tapi setelah itu jalan normal kembali sampai Sipisopiso.





Pemandangan di Sipisopiso teramat cantik dengan satu sisi Danau Toba dan sisi lain air terjun setinggi 120 meter. Puas menikmati pemandangan air terjun, kami melanjutkan dengan makan siang di salah satu warung disana dengan menu khas masakan Melayu dan jus alpukat yang enaakk sekali plus pemandangan di belakang warung yang sangat cantik. Setelah perut kenyang perjalanan dilanjutkan kembali.

Bukit "Teletubbies" dari belakang warung tempat kami makan siang

Bagi yang tertarik ke Samosir dengan mencoba rute via Tele, perlu diingat bahwa di sepanjang jalan tidak berujung dengan kondisi jelek yang menghubungkan Merek - Tele tidak ada apapun selain rumah-rumah penduduk, itupun dengan jarak berjauhan. Sempat terlihat rumah dengan kios di depannya, tapi melihat kerumunan pria yang sedang berkumpul disana, kami mengurungkan niat untuk mampir. Kami berniat berhenti untuk meluruskan pinggang tapi tertunda sampai akhirnya menemukan warung kopi sekaligus toilet tidak jauh dari Tele.

Namun, kelelahan kami terbayar begitu memasuki Tele. Menurut Noni, ayahnya yang sering mengambil rute ini bilang bahwa pemandangan Danau Toba dari Tele tiada duanya dan itu benar adanya. Kata yang tepat menggambarkan pemandangan tersebut adalah SPEKTAKULER! Sepanjang perjalanan, kami puas memandangi keelokan bentang alam Danau Toba yang sangat memesona. Apalagi cuaca masih cerah ketika kami lewat sehingga mata ini semakin dimanjakan dengan kilauan air danau dan semburat hijau coklat perbukitan yang membatasinya berlatar belakang langit biru. Semua lelah dan pegal karena duduk berjam-jam di mobil seakan terbayar dengan melihat semua keindahan itu. Tidak salah kami melewati Tele, walaupun mungkin lain kali akan berpikir dua kali sebelum mengulang perjalanan darat ini. Lucunya, kali ini saya tidak blingsatan mengabadikan keelokan pemandangan Toba. Bagaimana mau blingsatan? ada bocah yang tertidur nyenyak di pangkuan saya, dan akhirnya hanya mata dan ingatan yang merekam semuanya dari atas mobil yang melaju. Jadinya, pas pulang, saya cari-cari foto di Internet sampai menemukan foto pemandangan danau Toba dari arah Tele yang sangat cantik di blog mbak Samantha yang seorang penyuka travelling, persis sama dengan seperti yang saya lihat selama perjalanan. Namun, ketika perjalanan kembali ke Medan, dan lewat Tele lagi, saya berhasil mengambil foto, setidaknya cukup untuk mengingatkan betapa indahnya pemandangan yang kami lihat.

Jalan berkelok mengikuti kontur bukit

Pagi di dekat menara pandang Tele

Bukit-bukit yang diselimuti kabut tipis

Memasuki Pangururan, hujan deras turun seperti ditumpahkan dari langit. Kami mengisi bensin di satu-satunya pombensin di Pangururan sebelum menuju Tuk Tuk, tempat kami menginap selama di Samosir. Pantas saja perjalanan terasa masih jauh meskipun sudah di wilayah Samosir, karena dari Pangururan kami masih memutari hampir sebagian utara Samosir, yaitu Simanindo, Ambarita, sebelum akhirnya sampai di Tuk Tuk. Belum setengah perjalanan, hujan berhenti sehingga kami bisa menikmati sedikit pemandangan sepanjang jalan.

Di Tuk Tuk, kami menginap di Tabo Cottages yang memproduksi roti rumahan yang enak. Setelah mencoba restorannya, saya baru tahu kalau di hotel ini juga tidak menyediakan pork dalam daftar menu mereka. Sebenarnya, ada banyak alternatif hotel yang bisa dipilih di Tuk Tuk, tergantung selera masing-masing. Buat saya yang memang tidak berani berniat berenang di danau cukup puas dengan hotel ini.

Salah satu sisi Danau Toba

Pertunjukan tarian tradisional di Museum Huta Bolon Simanindo

Tari Sigale-Gale


Makam raja-raja Samosir

Mendung di Danau Toba

Kursi batu Raja Siallagan di Ambarita

Kondisi jalan di Tuk Tuk

Kompak lihat kamera :)


Dua malam di Samosir jelas jauh dari cukup. Selama disana, kami berkesempatan mengunjungi museum Batak di Simanindo dan peninggalan megalitikum Siallagan (stone chairs). Keinginan mengunjungi makam Raja Sidabutar di Tomok terpaksa diurungkan karena jalan menuju Tomok padat merayap dengan kendaraan yang mengantri diangkut ferry ke Parapat. O ya, tidak lupa kami juga ke Romlan untuk mencoba apple donut yang sangat direkomendasikan Noni. Bayangan tentang apple donut hancur seketika saat mbaknya bilang tidak ada, hiks...jauh jauh ke sini kan mau mencicipi apple donut :(. Karena sudah terlanjur ada disana, sedikit kecewa gara-gara si apple donut, cuaca mendung (selama di Samosir, cuaca memang kurang bersahabat, kalau tidak hujan rintik ya berawan), yang paling cocok adalah makan...mie instan pakai telur dan cabe rawit plus teh manis hangat! Kekecewaan semakin terobati ketika kami memutuskan memesan banana donut. Saya belum tahu bagaimana enaknya apple donut mereka, tapi banana donut mereka sukses bikin kami bertiga ketagihan...begitu legit dan pas manisnya. Kalau diingat sekarang, menyesal cuma pesan satu porsi, harusnya minta bungkus untuk dimakan di perjalanan pulang.

Hari ketiga di Samosir, kami berangkat jam lima pagi dari hotel demi mendapatkan antrian ferry tapi sesampainya disana, sudah ada kurang lebih enampuluh mobil (hasil hitungan dan tanya-tanya pak supir) berderet di depan kami. Hari Sabtu itu adalah hari terakhir libur tahun baru, jadi wajar kalau arus balik ke Medan sangat padat. Waduh, bisa-bisa tidak dapat ferry hari ini, pikir kami. Akhirnya, pak supir putar balik dan ambil rute via Tele lagi, kali ini tidak lewat Merek, tapi lewat jalan lain yang menuju Sidikalang, namun tembus di jalan setelah Merek. Alhamdulillah, setelah sembilan jam perjalanan, diselingi makan siang yang super nikmat di restoran Garuda, kami bisa kembali ke pelukan kota Medan yang, lagi-lagi, sedang hujan.

Akhirnya, kesampaian juga keinginan saya untuk bisa melihat danau vulkanik terbesar di dunia yang bahkan bisa terlihat dari bulan ini. Sebelum bekerja dengan para peneliti kegunungapian, saya hanya tahu Danau Toba sebatas nama dan di propinsi mana ia berada. Sekarang, dari rangkaian perbukitan tinggi menjulang di Samosir, saya dapat melihat sendiri bagaimana kekuatan alam berupa letusan supervulkanik Toba terjadi, yang menurut data dari sini terjadi sekitar 74,000 tahun lalu. Alam Indonesia memang tiada duanya!