Monday, 28 September 2015

Vientiane, Si Cantik di Tepi Mekong

Patuxay, simbol kota Vientiane

Wajah kota Vientiane masih tetap sama seperti empat tahun lalu ketika saya datang kesini pertama kalinya dalam perjalanan babymoon kami menuju Luang Prabang. Tak diduga, awal tahun 2015 kami kembali lagi untuk suatu urusan administratif, kali ini bersama anak-anak.
 
Sekilas, Vientiane mirip dengan Jakarta pada tahun 1980-an, setidaknya itu yang saya rasakan pada kunjungan pertama. Datang dari Bangkok, irama kehidupan di Vientiane sungguh berbeda, begitu santai dan waktu terasa berjalan lambat. Pengaruh Perancis cukup kuat di kota ini, mengingat Laos pernah diduduki Perancis pada abad 19. Dimulai dengan menyambangi toko roti Le Banneton atau Joma Bakery & Cafe demi mencicipi croissant renyah dan lezat ditemani secangkir coklat panas, hmm..rasanya siapapun akan siap mengawali hari. Belum lagi pemandangan para backpacker yang tekun membaca buku panduan tentang Laos sambil menikmati sarapan menegaskan bahwa ritme kehidupan sehari-hari Vientiane ini cocoknya untuk liburan, santai dan tidak tergesa-gesa.

Salah satu toko kelontong di pusat kota
Lalu lintas di salah satu jalan utama, Rue Setthathirath
Salah satu sudut pusat kota

Vientiane juga ramah terhadap pejalan muslim. Ada pilihan restoran halal di sepanjang jalan paralel dengan sungai Mekong dan mesjid besar di daerah Nam Phu (Vientiane Jamia Masjid). Ada banyak ragam akomodasi di kota ini, mulai dari yang sederhana sampai yang berkelas, seperti hotel-hotel bergaya kolonial klasik macam ini atau ini yang selalu kami lewati (sayangnya cuma bisa dilewati saja dan bukan diinapi :p). Hotel tempat kami menginap tepat di samping Nam Phu Fountain juga sangat strategis, meski di Vientiane, selama di dalam kota, jaraknya kemana-mana terhitung dekat.

Selain mengunjungi stupa That Luang yang merupakan simbol nasional Laos, Wat Sisaket, dan Patuxay, pasar malam di Vientiane juga tidak boleh dilewatkan. Sayangnya, kami belum berkesempatan mengunjungi That Luang, namun sempat memasuki Wat Sisaket, satu-satunya kuil yang bertahan setelah invasi pasukan Siam pada 1827-1828, dibangun oleh Chao Anouvong antara tahun 1819 - 1824.

Wat Sisaket
Bagian dalam Wat Sisaket

Lao National Museum

Presidential Palace, Vientiane

Patuxay, Victory Gate of Vientiane

Sungai Mekong diapit Thailand dan Laos tampak dari Friendship Bridge

Salah satu bank di Vientiane


Senja sempurna di tepi Mekong

Keramaian pasar malam di Vientiane yang setiap harinya diadakan di pelataran di tepi sungai Mekong dimulai sejak sore hari. Ruang terbuka ini juga digunakan warga Vientiane untuk berolahraga, bermain, atau sekedar jalan santai menikmati pemandangan senja.

Selfie dimana-mana :)

Berada di Vientiane kurang sempurna rasanya juga terus-terusan menyantap menu India/Melayu, dan sayapun mengutarakan keinginan mencicipi makanan khas Lao pada suami. Pergilah kami ke Amphone Restaurant yang saya dapat namanya secara tidak sengaja dari Google. Suatu kebetulan kalau lokasinya berdekatan dengan kantor suami dan iapun beberapa kali pernah makan disana. Berbekal rekomendasinya, saya memesan tofu larb, vegetable spring rolls, dan nasi ketan (sticky rice) yang disajikan dalam wadah bambu kecil (boboko kalau dalam bahasa Sunda). Larb adalah sejenis salad sayuran dengan taburan daun ketumbar, cabai rawit dibubuhi kecap ikan dan jeruk nipis, biasanya dicampur dengan daging sapi, bebek, babi atau jamur, yang lazim ditemui di Laos dan daerah Isan, timur laut Thailand yang berbatasan dengan Laos. Untuk versi vegetariannya, daging tersebut bisa diganti dengan tahu putih yang tidak kalah enaknya. Menu ini wajib dicoba kalau berkunjung ke Laos karena dianggap sebagai menu khas Laos.


Matahari mulai keluar dari persembunyiannya, siap memulai tugasnya hari itu. Pesawat berjalan perlahan di landasan dan tidak lama lagi akan mengudara membawa kami pulang ke Bangkok, meninggalkan ritme kehidupan Vientiane yang tenang dan damai di bawah teriknya matahari bulan Januari. Sampai jumpa lagi, Vientiane!

Tuesday, 15 September 2015

#World Heritage Sites: Jurisdiction of Saint Emilion

Desa St. Emilion yang menawan

Perjalanan saya menuju desa prasejarah St. Emilion, yang berjarak kurang lebih tiga puluh kilometer dari kota Bordeaux, Perancis ternyata bertepatan dengan masa persiapan panen anggur. Tidak heran, meskipun pagi itu matahari bersinar cukup terik, namun para pegawai sudah sibuk memulai tugas mereka di perkebunan anggur yang luas sepanjang kiri dan kanan jalan yang saya lalui.

Buah anggur siap panen

Setelah mendaftar untuk mengikuti tur mengunjungi situs-situs penting di St. Emilion, sambil menunggu waktu, sayapun menyusuri jalanan berbatu di salah satu desa tercantik di Perancis ini, mengagumi banyaknya toko-toko yang menjual botol anggur dengan kualitas nomor satu. Bagi para penggemar anggur, Bordeaux adalah jaminan kualitas anggur terbaik, yang salah satunya berasal dari perkebunan anggur di wilayah St. Emilion.

Di setiap toko, terdapat paket kunjungan untuk mencicipi anggur (wine tasting), melihat langsung proses pengolahan anggur di pabrik dan di perkebunan anggur, dan tentunya membeli botol anggur yang telah siap dikonsumsi sebagai buah tangan. Ya, di St. Emilion ini, rasanya rugi sekali apabila kita tidak mengikuti paket kunjungan yang tersedia karena situs-situs bersejarah disini merupakan milik pribadi sehingga tidak dapat didatangi secara bebas oleh pengunjung.

Macarons, kudapan khas St. Emilion

Salah satu toko anggur di St. Emilion

Ada apa di St. Emilion?

Kunjungan dimulai pukul 10.30 pagi dan berlangsung selama kurang lebih 1 jam dengan tiket seharga 6,8 Euro per orang. Setelah memperkenalkan diri, pemandu kami, membawa peserta tur memasuki kompleks bangunan gereja. Oya, peserta tur tidak diperbolehkan mengambil gambar apapun selama berada di dalam kompleks gereja, jadi pastikan otak Anda merekam semua yang dilihat dan didengar dalam ingatan sebaik-baiknya. Pada saat saya berkunjung kesana, tersedia pula tur dalam bahasa Inggris, maka bila Anda tertarik, anda tidak perlu ragu untuk mengikutinya walaupun tidak dapat berbahasa Perancis.

Bangunan gereja kuno monolitik tampak luar

Sebagai pembuka, kami dibawa menuju Grotte de L’Ermitage, sebuah gua kecil di bawah tanah tempat dimana St. Emilion kerap kali bermeditasi. Pertanyaan tentang siapakah sebenarnya St. Emilion mungkin terbersit di benak Anda. Ia adalah seorang rahib yang hidup pada abad ke 8 dan awalnya bekerja di sebuah tempat pembuatan roti di wilayah yang dahulunya bernama Ascumba. Karena kepeduliannya yang begitu tinggi terhadap sesama yang kurang beruntung, seringkali pada malam hari, secara sembunyi-sembunyi ia mengambil roti untuk diberikan kepada mereka. Suatu hari, perbuatannya ini diketahui oleh rekan kerjanya yang kemudian mengadukannya kepada sang pemilik. Pada suatu saat, sang majikan yang ingin membuktikan kebenaran cerita itu memergoki Emilion mengendap-ngendap keluar dengan sesuatu di balik jubahnya yang disangkanya adalah roti. Ternyata, apa yang ada di balik jubahnya bukanlah roti melainkan kayu bakar, dan ketika si pemilik memeriksa tempat pemanggangan roti, tidak ditemui satu rotipun yang hilang dari tempatnya. Masih ada beberapa keajaiban lain yang terjadi pada dirinya, hingga iapun menjadi terkenal. Karena sifatnya yang rendah hati dan tidak mau menonjolkan diri, ia kemudian membangun biara sebagai tempatnya, menyendiri, berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Di kapel sempit bawah tanah inilah, ia menghabiskan belasan tahun hidupnya untuk berdoa. Sampai sekarang, sekurang-kurangnya ada tiga belas hal yang dapat diminta dalam doa di kapel tersebut dan dipercaya akan terkabul, di antaranya bila ingin sembuh dari sakit dan ingin mempunyai keturunan. Bahkan, percaya atau tidak, menurut pemandu kami, kantor turis desa cantik ini seringkali menerima kartupos dari wanita-wanita yang begitu mendambakan keturunan memberitakan bahwa mereka telah mengandung selepas kunjungan mereka ke kapel khusus untuk berdoa. Di dalam kapel tersebut terdapat sebuah altar kecil, dudukan yang terbuat dari batu tempat St. Emilion beristirahat dan sebuah kolam kecil yang diyakini muncul sebagai mata air alami ketika St. Emilion memutuskan untuk menghabiskan waktunya disana.

Keluar dari kapel, selanjutnya kami menuju Catacombs, sebuah gua bawah tanah yang merupakan tempat pemakaman. Bagaimana rupa kompleks makam bawah tanah ini? Usai meniti anak turunan anak tangga terakhir dari mulut gua, tampaklah lubang-lubang di dinding dengan volume seukuran tubuh manusia. Tampak pula lubang-lubang kecil yang diperuntukkan bagi jasad bayi dan anak-anak. Kami memasuki bagian dalam gua sampai tiba di ujung gua yang semakin menyempit. Konon, jasad St. Emilion terletak pada salah satu sisi dinding dekat kami berdiri pada saat itu. Menurut sang pemandu, meskipun gua ini telah diteliti oleh arkeolog yang datang dalam rangka proses pemilihan jursidiksi St. Emilion menjadi salah satu situs warisan dunia, misteri tersimpannya jasad sang orang suci tetap tersimpan dengan rapat dan tidak seorangpun yang mengetahui fakta sebenarnya.

Selanjutnya, kami dibawa menuju Chapelle de la Trinite, sebuah kapel kecil bergaya Gotik yang atapnya dihiasi lukisan tentang cerita Yesus dan tidak ketinggalan lukisan-lukisan indah di atas media kaca. Kapel ini telah mengalami restorasi namun ada beberapa bagian lukisan yang masih dalam bentuk aslinya dengan warna yang sudah memudar tentunya. Di kapel ini juga terdapat dua buah sarkofagus, yaitu peti mati yang digunakan pada jaman dahulu kala, terdapat di kedua sisi dekat pintu masuk kapel.

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di kapel ini, dan kamipun beranjak untuk melihat peninggalan sejarah berikutnya, yaitu gereja monolitik,yang menjadi ikon St. Emilion. Gereja monolitik adalah gereja yang dibangun dari satu buah bongkahan batu kapur raksasa. Batu tersebut kemudian dipahat sedemikian rupa menjadi sebuah bangunan gereja seperti pada umumnya, hanya saja gereja ini berada di bawah sebuah bukit batu. Menurut sang pemandu, gereja ini adalah gereja monolith terbesar di Eropa. Sangat mengagumkan membayangkan apa yang telah dilakukan oleh St. Emilion demi membangunnya ketika perkakas pertukangan pada masa itu masih sangat sederhana. Untuk memperkuat tiang utama penyangga bangunan lonceng seberat 4500 ton yang dibangun pada kurun waktu abad ke-8 sampai abad ke-11, para ahli telah membuat rangka beton di sekeliling tiang. Suasana di dalam gereja terasa dingin, gelap dan sedikit lembab. Kemudian kami dibawa menuju altar gereja yang pada dindingnya tampak ukiran sekelompok pemusik sedang memainkan alat musiknya, indah sekali.

Tidak terasa, waktu empatpuluh lima menit berlalu begitu cepat dan ketika kami keluar dari kompleks gereja menuju menara tempat lonceng gereja berada, rombongan wisatawan sudah memadati jalan, kantor pusat informasi, toko-toko tempat penjualan anggur, macarons dan cafĂ© sambil menikmati hangatnya matahari musim gugur. Saya sendiri melanjutkan perjalanan menapaki jalan kecil berbatu mengelilingi desa mungil nan menawan hati sambil membayangkan irama kehidupan disana pada masa kehidupan St. Emilion. Ah, rasanya seperti terlempar ke dalam mesin waktu kehidupan masa lalu. 


Jurisdiksi St. Emilion sebagai Warisan Dunia

St. Emilion mendapatkan status istimewanya yaitu hak membuat keputusan resmi yang terkait dengan semua jenis kegiatan di perkebunan anggur di wilayah tersebut, atau dikenal dengan istilah jurisdiksi pada masa kekuasaan kerajaan Inggris di abad ke-12. Karena kekayaan budaya dalam hal pembudidayaan kebun anggur dan produk olahannya ditambah dengan banyaknya monumen bersejarah di desa kecil ini, maka pada tahun 1999 wilayah St. Emilion mendapatkan status sebagai Warisan Budaya Dunia dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO.

St. Emilion dibuka untuk umum sepanjang tahun dengan jam kunjungan yang berbeda-beda. Untuk sampai kesini, Anda juga dapat memesan paket tur kunjungan satu hari di hotel atau penginapan tempat Anda menginap di kota Bordeaux. Panduan lengkap mengenai St. Emilion dapat dilihat di http://www.saint-emilion-tourisme.com/. Selamat berlibur!


 





 


 




Jalan kecil berbatu menuju menara pandang

Tempat mencuci pakaian umum di masa lalu
Ladang anggur di St. Emilion
Tulisan ini pernah dimuat Majalah LIBURAN Edisi Khusus Juli 2012.

Sunday, 13 September 2015

#World Heritage Sites: Town of Luang Prabang

Kota cantik Luang Prabang di sebelah utara Laos mendapatkan statusnya sebagai Situs Warisan Budaya Dunia pada tahun 1995. Luang Prabang menjadi istimewa karena warisan kekayaan arsitektur tradisional bangunan berusia ratusan tahun dan terawat baik yang banyak terlihat di setiap sudut kota, berdampingan harmonis dengan gaya bangunan kolonial abad 19. Pasar malam Luang Prabang menjadi salah satu favorit kami, selain crĂŞpe, jajanan pinggir jalan yang banyak ditemui selama disini. Sayangnya, kami terpaksa melewatkan ritual paling populer di Luang Prabang, yaitu early morning alms giving ceremony karena harus mengejar pesawat untuk kembali ke Vientiane. Sekilas tampak deretan orang-orang berdiri berjejer di tepi jalan dengan membawa bingkisan berupa buah, beras ataupun makanan lain untuk diberikan kepada rombongan biksu yang akan lewat, demi mendapat doa dan berkat dari mereka.


Panorama Luang Prabang
Catatan perjalanan saya di Luang Prabang ini pernah dimuat di Majalah LIBURAN Edisi Khusus Juli 2012.

Pesona Luang Prabang

Perjalanan panjang dengan kereta api selama lima belas jam yang kami tempuh dari stasiun kereta api Hua Lamphong di Bangkok sampai stasiun Nong Khai, di perbatasan Thailand – Laos masih terus berlanjut. Tidak lama menunggu, dua gerbong kereta tak berkaca membawa kami ke stasiun Thanaleng yang sudah berada di wilayah Laos. Kini, perjalanan darat dari Bangkok menuju Vientiane dan sebaliknya semakin dipermudah dengan adanya jembatan penghubung Friendship Bridge yang melintasi sungai Mekong. Perjalanan dengan kereta melintasi perbatasan Thailand – Laos membutuhkan waktu lima belas menit, dan sesampainya di stasiun Thanaleng, kami bergegas menuju loket imigrasi. Pemegang paspor Indonesia tidak lagi memerlukan visa masuk ke Laos terhitung sejak bulan September 2011. Selesai melewati imigrasi, kami memutuskan untuk menggunakan taksi sampai Vientiane dengan harga 400 Baht. Pilihan lain yang lebih murah adalah menyewa kendaraan bersama-sama dengan calon penumpang lain ataupun menggunakan tuk-tuk dengan konsekuensi menunggu sedikit lebih lama. Perjalanan dari Thanaleng ke Vientiane sendiri ditempuh dalam waktu 45 menit.

Penerbangan domestik dari Vientiane ke Luang Prabang yang membutuhkan waktu 50 menit dengan pesawat ATR berlangsung lancar. Sesampainya di bandara internasional Luang Prabang, setelah membayar tiket seharga 50 ribu kip untuk dua orang, kami menumpang taksi berupa van dengan 3 orang penumpang lain untuk diantarkan ke penginapan kami, yaitu Sayo Guesthouse. Sore itu, kami disambut di kota cantik Luang Prabang dengan semburat oranye di langit dan matahari yang perlahan mulai terbenam, sungguh indah!

Kota Sejuta Kuil

Kuil kecil di kompleks Vat Xieng Thong yang dipenuhi rangkaian cerita bersejarah di dindingnya

Patung Buddha di Royal Funerary Carriage House

Suhu udara kota Luang Prabang di malam hari cukup dingin, yaitu sekitar 18 derajat. Secara geografis Luang Prabang terletak di daerah pegunungan sebelah utara Laos. Begitu banyak kuil yang terdapat di kota ini, sehingga badan PBB UNESCO menjadikan kota yang terkenal dengan sebutan kota sejuta kuil ini sebagai warisan budaya dunia. Julukan itu tidaklah salah, karena kemanapun kami pergi, hampir di setiap sudut terdapat kuil-kuil besar maupun kecil. Para biarawan yang tinggal di kompleks kuil kerap terlihat sedang berdoa atau bekerja membersihkan lingkungan kuil.

Pahatan gambar di dinding kuil utama kompleks Vat Xieng Thong

Kuil pertama yang kami kunjungi adalah kuil terbesar yaitu Vat Xieng Thong, yang dibangun pada tahun 1560 oleh raja Setthathirath. Dengan harga tiket masuk seharga 20,000 kip per orang, kami mengawali kunjungan di sebuah bangunan indah dengan motif dominan emas tempat disimpannya kereta kerajaan pembawa peti mati setinggi kurang lebih duabelas meter. Di tempat ini juga terdapat banyak patung Buddha. Sayangnya, ketika kami datang, bangunan kuil utama sedang mengalami renovasi sehingga tidak banyak yang dapat kami lihat di dalam kuil. Hal lain di kompleks kuil yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangunan kecil yang pada dindingnya tertempel susunan gambar dari pecahan kaca warna-warni, diantaranya berkisah tentang kehidupan sang Buddha.

Tempat menarik lainnya yang menurut saya wajib dikunjungi adalah Luang Prabang Royal Palace Museum. Dibangun pada tahun 1904 oleh raja Sisangvang Vong, museum ini pada awalnya merupakan istana tempat tinggal raja dan keluarganya – putera mahkota Sisavang Vatthana dan keluarganyalah yang terakhir mendiami istana ini - sebelum tampuk pemerintahan jatuh ke tangan komunis pada 1975. Kota Luang Prabang juga sempat menjadi ibukota kerajaan Laos sampai tahun 1560 sebelum akhirnya dipindahkan ke Vientiane.

Royal Palace

Selepas kunjungan ke museum, perjalananpun dilanjutkan ke bukit Phou Si yang berlokasi tepat di depan museum nasional untuk melihat kota Luang Prabang dari ketinggian. Tiga ratus dua puluh delapan anak tangga yang harus ditempuh sungguh sebanding dengan pemandangan yang diperoleh ketika telah berada di puncak. Di puncak bukit juga terdapat kuil Wat Tham Phou Si dengan kubah berlapis emas yang kerap digunakan untuk berdoa ataupun bermeditasi.

Wat Phou Si

Pasar Malam Luang Prabang

Kesibukan pasar malam dimulai menjelang sore hari

Ketika sore menjelang, kesibukan di jalan utama Sisangvang vong terlihat berbeda. Jika sebelumnya, jalanan ramai dengan pejalan kaki dan pengendara sepeda, maka menjelang sore, tenda-tenda merah menghiasi sepanjang jalan. Ya, menjelang pukul lima sore, pasar malam Luang Prabang mulai menunjukkan geliatnya. Beraneka ragam produk khas Laos dijual disana seperti benda-benda seni, lampion, pakaian, aksesoris, perhiasan, dan berbagai varian produk yang terbuat dari kain khas Laos menggoda saya dan pengunjung lainnya untuk mampir, melihat-lihat dan kemudian biasanya berakhir dengan membawa pulang barang yang diinginkan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan barang-barang seni di Laos, khususnya Luang Prabang, sangat tidak dianjurkan kepada para wisatawan asing untuk membeli patung Buddha antik dan membawanya keluar dari negeri itu. Sebaliknya, wisatawan disarankan untuk membeli produk karya pengrajin setempat untuk meningkatkan aktivitas ekonomi lokal. Saya sendiri begitu terhipnotis dengan cantiknya paduan warna-warna kain dan tas khas Laos, meriah, unik dan nyeni. Pasar malam ini berlangsung dari pukul 5 sore sampai larut malam, dan selama tiga hari berturut-turut saya berkunjung kesana, semakin malam, pasar semakin ramai dipadati turis yang berkunjung dalam rangka liburan akhir tahun. Puas menyusuri pasar malam, eksplorasi dilanjutkan ke pasar lain, kali ini adalah pasar makanan atau food market. Pasar makanan ini terletak di salah satu gang kecil di belakang gedung Tourist Visitor Centre Luang Prabang, di ujung jalan Sisangvang vong. Aneka penganan kecil dan makanan dijual di kedai-kedai sepanjang gang yang dilengkapi dengan meja dan kursi sederhana. Dari pengamatan saya malam itu, hidangan yang paling banyak dipesan pengunjung di hampir semua kedai adalah ikan bakar yang rasanya memang sangat lezat.

Aneka kain khas Laos



Pilihan menu makanan di pasar malam

Payung "geulis" khas Luang Prabang
Suasana Pasar Malam Luang Prabang

Suasana kota Luang Prabang
Kotanya bersih sekali!
  
Deretan rumah khas Laos

Empat hari menikmati ritme kehidupan di Luang Prabang yang bersejarah, suasana kota yang apik dan tenang, serta keramahan penduduknya membuat saya jatuh cinta pada kota ini. Hari terakhir di Luang Prabang menjadi sempurna dengan berlayar menyusuri sungai ketujuh terpanjang di Asia yang melintasi enam negara, yaitu sungai Mekong. Pelayaran selama kurang lebih 45 menit seharga 60,000 kip per orang membawa kami melihat aktivitas masyarakat di sepanjang sungai dan sekaligus menikmati pemandangan matahari terbenam yang begitu indah.

Matahari terbenam di sungai Mekong

Saturday, 12 September 2015

#World Heritage Sites: Climats, terroirs of Burgundy

Baru bulan Mei lalu kami mengunjungi wilayah Burgundy atau Bourgogne dalam bahasa Perancis, awal September 2015 daerah yang terkenal sebagai penghasil anggur berkualitas tinggi ini masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO. Merekam ulang perjalanan melewati hamparan hijau ladang anggur yang berjajar rapi meliuk naik turun mengikuti kontur, mengunjungi kota-kota cantik yang menggantungkan kegiatan ekonomi mereka dari perkebunan anggur seperti Beaune, Meursault, dan Santenay, dalam udara akhir musim semi yang terasa sejuk di kulit, memang akan membuat siapapun berdecak kagum. Selain alam wilayah Burgundy yang memang indah, kreasi manusia dalam budidaya perkebunan anggur dengan sejarah panjangnya sejak abad pertengahan melengkapi keindahan ini. Menurut suami, anggur-anggur dengan kualitas nomor satu yang dihasilkan dari daerah Beaune dan Meursault umumnya bisa ditemui di daftar minuman restoran-restoran kelas atas.

Mungkin Burgundy adalah surga untuk para penggemar wine. Di setiap kota yang kami singgahi, ada papan yang menunjukkan daerah-daerah (domaine) yang umumnya dikelola oleh satu keluarga turun temurun. Di tempat tersebut, biasanya selain ada kebun anggurnya, ada pula tempat mencicipi anggur yang dihasilkan (degustation), toko yang menjual produknya dengan harga pabrik, dan ada pula yang menawarkan tur keliling untuk melihat bagaimana proses pembuatan anggur berlangsung.

Etalase salah satu toko di Beaune


Jendela kayu bulat mengikuti bentuk tong anggur

Perkebunan anggur di Santenay

Perkebunan anggur di Meursault





Mata pencaharian utama penduduk kota Santenay



Suasana kota kecil Santenay


Burgundy yang cantik

Pemandangan dari arah Vezelay
Kendaraan yang digunakan untuk bekerja di ladang anggur