Monday, 20 January 2014

Medan Kami Datang

Perjalanan ke Medan adalah yang pertama kalinya untuk saya dan David. Beberapa tahun lalu, saya cuma pernah transit di bandara Polonia yang seingat saya waktu itu padat sekali dengan manusia. Kami sempat melewatkan satu malam di Medan sebelum pergi ke Bukit Lawang dan satu malam lagi sebelum kembali ke Bangkok.

Lagi-lagi, setelah tamat membaca info lengkap tentang Medan, kami menggunakan layanan kereta bandara dari Kuala Namu ke kota. Begitu sampai di bandara, cukup terkesan juga dengan bandara barunya sampai...saya mencium asap rokok di pelataran luar pintu kedatangan, begitu khas Indonesia :(. Sepertinya para perokok ini lebih baik kelaparan daripada tidak bisa merokok. Sebegitu bencinyakah saya pada perokok? Ya, khususnya pada perokok yang tidak punya etika seperti yang pernah saya ceritakan disini. Kembali ke soal kereta, jadi, untuk mencapai stasiun kereta, kita harus menyeberangi gedung bandara menuju gedung baru yang BEBAS ROKOK...ah, langsung saya jatuh cinta, mantap ini! Kami memesan dua tiket seharga masing-masing IDR 75.000 (kalau beli satu tiket dikenai harga IDR 80.000). Mesin tempat memasukkan tiketpun mirip seperti stasiun-stasiun di negara lain, pokoknya canggih. Begitu masuk ke keretanya, kursi yang bertuliskan nomor kami ternyata ditempati orang lain, tapi setelah menanyakan pada petugas, ia mempersilakan kami untuk menempati gerbong paling belakang yang kosong...horee...serasa satu gerbong menjadi milik pribadi :).

Nyaman kan keretanya?
Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan

Suasana di ruang tunggu stasiun kereta bandara
Membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba di stasiun kota, sesampainya disana, mau ke toilet tidak ada petunjuk yang jelas, atau mungkin kami yang tidak memperhatikan. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke mall di seberang stasiun untuk pakai toiletnya.
Kalau dari peta, jarak dari stasiun ke hotel bisa ditempuh dengan jalan kaki 15-20 menit, masih OK lah, tapi sepertinya peta yang dipegang suami salah besar. Karena hujan, kami mencegat bentor, kendaraan umum khas Medan. Namanya sudah di Medan, ya harus mencoba semua yang khas disini bukan? Ternyata, dari stasiun ke hotel itu jauuuuhh sekali...untung pakai bentor yang bagai kantung Doraemon. Selain mengangkut kami bertiga, ada satu koper besar, satu koper kecil plus stroller ikut serta :). Pas bentornya sampai di depan pintu hotel, petugas hotelnya antara percaya tidak percaya dan geli melihat kami...serius mau nginap disini? hihihihi....

Setelah dapat kamar, kami cuma keluar makan siang di salah satu restoran di Mal Grand Palladium yang satu gedung dengan hotelnya, padahal niatnya ingin langsung pesiar kuliner. Begitu sampai Medan, kami disambut hujan yang bikin malas keluar jadi akhirnya baru jalan menjelang sore, tujuan utama adalah makan malam di resto Nelayan di Sun Plaza. Ternyataa...antriannya mengerikan! Pindah ke resto lain, bukan main sama padatnya dan David mulai rewel. Akhirnya, kami makan di satu restoran yang letaknya agak terpisah dan tidak terlalu ramai. Gagal deh rencana kuliner malam ini sementara besok sudah meninggalkan Medan :(

Keesokan harinya, sebelum menuju Bukit Lawang, kami sempat mampir di Istana Maimoon. Istana Maimoon didirikan pada 26 Agustus 1888 oleh Sultan Ma'moen al Rasyid (Sultan Deli ke-IX) yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli. Tiket masuk istana ini adalah IDR 5000.

Istana Maimoon
Masjid Raya Medan
Tidak lama berada disana, kami berhenti sebentar di depan Masjid Raya kemudian bergegas menuju Bukit Lawang, apalagi lalu lintas kota Medan padat sekali hari itu dan banyak jalan satu arah. Rasanya belum puas berada di Medan, tapi mau bagaimana lagi? Sehari sebelum liburan berakhir, kami tiba di Medan dari Samosir sekitar pukul 14.30, lagi-lagi disambut hujan rintik-rintik. Kali ini kami menginap disini yang ternyata adalah pilihan tepat. Kenapa? Selain hotelnya bersih, juga karena di seberang hotel, terdapat restoran legendaris Tip Top dan Tjong A Fie Mansion dapat dicapai dengan hanya 2 menit jalan kaki. Setelah pulang dari mencari buku, kunjungan berikutnya adalah Tjong A Fie Mansion. Lebih lengkap mengenai siapa Tjong A Fie, bisa dibaca disini ya. Rumah Tjong A Fie mengingatkan saya pada rumah-rumah peranakan serupa di Penang dan Malaka. Rumah ini dibangun pada 1895 dan selesai pada 1900. Aslinya memiliki 41 ruangan, namun hanya 12 ruangan yang dibuka untuk umum.

Ruang kerja Tjong A Fie

Piano yang masih berfungsi dengan baik (tried and tested by my private piano teacher :D)

Ruang makan

Halaman bagian dalam rumah

Sosok Tjong a Fie adalah sosok pekerja keras, baik hati, dan dermawan. Tjong A Fie adalah figur orang kaya yang patut dicontoh dan usahanya mendatangkan sepuluh ribu orang dari Cina untuk bekerja di perusahaannya merupakan cikal bakal berkembangnya peranakan Cina Melayu di Medan. Oya, tiket masuk ke Tjong A Fie Mansion adalah IDR 35.000 sudah termasuk guided tour dengan pemandu yang masih muda, pandai berbahasa Inggris, dan bersemangat pula. Ketika kami pulang menjelang berakhirnya masa kunjungan pukul 5 sore, pemandu kami memperkenalkan pada seorang wanita cantik bergaya chic yang tersenyum ramah, beliau adalah ibu Mimi Tjong, putri Tjong A Fie yang tinggal disana. Ternyata benar ya, kalau orang yang sudah kaya tujuh turunan terlihat dari sikapnya, ramah dan rendah hati, berbeda dengan tipe orang kaya baru yang banyak ditemui sekarang :D. Kami mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya berpamitan..ahh, jadi serasa menjadi tamu di rumah Tjong A Fie deh, dilepas di pintu gerbang oleh putrinya pula :). Rumah Tjong A Fie ini wajib didatangi jika berkunjung ke Medan, karena sangat menarik dari sisi historis dan bangunan serta interior rumahnya pun cantik.

"There on the earth where I stand, 
I hold the sky. Success and glory consist not in what I have gotten but in what I have given."

- Mr.& Mrs. Tjong A Fie

Ditutup dengan makan malam di Tip Top, cerita tentang Medan berhenti disini karena besok pagi sudah harus pergi ke bandara. Kesimpulan, dari semua tempat makan yang direkomendasikan, tidak ada satupun yang berhasil kami coba kali ini. Mungkin lain waktu kami harus datang khusus untuk berwisata kuliner saja dan tentunya tanpa membawa stroller karena ternyata benar-benar perjuangan mendorong stroller di jalanan kota Medan :(.

Saturday, 18 January 2014

When to Restart?

Bagi yang mengikuti berita tentang situasi politik di Bangkok pasti familiar dengan istilah "Bangkok Shutdown". Untuk "meramaikan" aksi political rallies menentang pemerintahan berkuasa saat ini, banyak dijual cindera mata mulai dari kacamata, bando, peluit, t-shirt, dan masih banyak lagi. Salah satu tulisan yang menarik di t-shirt yang saya ingat adalah "Shutdown Bangkok Restart Thailand".

Penjual cindera mata di bawah terminal BTS Asok
 Setelah aksi digelar pada Senin, 13 Januari lalu, sampai hari ini belum ada tanda-tanda situasi kembali normal. Memang sih, meskipun masyarakat umum dihimbau dan diperingatkan agar tidak mendekati titik-titik berkumpulnya massa, pada kenyataaannya situasi Bangkok tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Turis masih lalu-lalang, malahan mereka menonton aksi demonstran ini layaknya pertunjukan atau karnaval. Yang berbeda adalah kepadatan lalu lintas di area Sukhumvit karena persimpangan Asok ditutup untuk dijadikan salah satu titik berkumpulnya demonstran sehingga seringkali dari rumah terdengar gemuruh suara massa.


Tenda-tenda para demonstran dari arah Terminal 21

Hari Senin lalu, saya dan sahabat yang kebetulan sedang berkunjung tidak kemana-mana. Kasihan juga sahabat saya dan putrinya yang datang sehari sebelum aksi dilangsungkan tapi mau bagaimana lagi? Kami hanya menonton konvoi demonstran di kejauhan dari taman dekat rumah. Untungnya, karena kami menggunakan skytrain kemana-mana, jadi tidak terlalu terpengaruh dengan penutupan jalan.

 
Semakin kesini, aksi demo yang awalnya terlihat damai, justru sekilas mirip konser-konser musik karena ada juga selingan hiburan nyanyian dan tarian, mulai diwarnai ledakan bom dan penembakan misterius di beberapa tempat. Anehnya, di tengah-tengah aksi demo ini, masih saja ada pihak-pihak yang bukan orang Thai yang dengan sengaja ikut rally atau berada di tengah-tengah massa untuk mengabadikan diri dengan latar belakang suasana demonstrasi. Padahal di samping alasan keamanan, orang asing jelas-jelas terlarang untuk ikut kegiatan politik dalam bentuk apapun, tapi yah beda orang beda prinsip dan berbeda pula cara menginterpretasikan arti "ikut serta" yang dimaksud.

Kumpulan massa di depan persimpangan Asok dari arah Terminal 21
Setelah berlangsung selama lima hari, aksi rally yang tidak tahu kapan akan berakhir terasa mulai mengganggu secara teknis dan secara konteks, apalagi setelah baca link ini dan ini. Jadi ikut emosi bacanya, apalagi pernyataan tersebut keluar dari so-called academic..ckckck...Secara teknis, terkait dengan rencana melewatkan akhir pekan yang harus dijadwal kembali karena situasi yang tidak menentu :(

Jadi, bagi siapapun yang berencana berkunjung ke Bangkok, sebaiknya ditunda dulu kalau masih berupa rencana. Tapi kalau sudah terlanjur membeli tiket pesawat dan memesan hotel, disarankan menggunakan BTS/MRT kalau mau jalan-jalan, menghindari titik-titik demonstrasi, diantaranya MBK (salah satu tujuan populer bagi turis Indonesia di Bangkok), dan tidak keluyuran diwaktu malam dan dini hari. Soalnya, ada temannya teman yang datang ke Bangkok dengan tur, dan setelah melihat situasi disini, rombongan turnya malah pulang lagi ke Indonesia.  Lebih baik lagi kalau menunda sampai situasi politik mendingin setelah pemilihan umum (kalau jadi terlaksana) di awal Februari, mudah-mudahan saat itu negeri gajah putih ini sudah sampai tahap restart.

Sepotong Kisah Sedih dari Bukit Lawang

Perjalanan ke Bukit Lawang di awal tahun ini bisa dibilang membuat perasaan saya campur aduk. Mulanya, saya membayangkan sebuah kawasan taman nasional yang untuk mencapainya membutuhkan perjuangan, didominasi bentang alam dan bukan kawasan terbangun, serta tidak padat oleh pengunjung seperti halnya stasiun kereta api pada saat musim mudik tiba. Maklum baru sedikit taman nasional di Indonesia yang pernah saya kunjungi dan dari yang sedikit itu, rata-rata memenuhi bayangan saya, kecuali satu hal, bahwa saya berkunjung kesana bukan pada saat pergantian tahun.

Tempat kami menginap di Bukit Lawang terletak persis di seberang Sungai Bohorok, yang untuk mencapainya kami harus meniti jembatan gantung. Jadi kendaraan yang kami sewa diparkir dan diinapkan di restoran Rindu Alam dengan biaya IDR 30.000/malam sementara kami, backpacker gadungan pada perjalanan ini (disebut gadungan karena sudah tahu mau menginap disini, kami masih juga menggeret satu koper besar dan satu koper kecil melintasi jembatan gantung, bukannya bawa ransel 50L yang pasti bakal terlihat lebih keren ketika menyeberangi jembatan :D), menginap di Ecolodge. Sewaktu kami datang, di pinggir sungai sebelum menyeberang sudah terlihat banyak keluarga menggelar tikar untuk berpiknik dan mandi-mandi di sungai. Pemandangan yang wajar sekali, melewatkan waktu bersama keluarga ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh secara jarak dan terjangkau harganya. Lalu dimana kisah sedihnya?

Ketika kami trekking, saya bercerita pada pak Tomin, bahwa saya tidak menyangka malam tahun baru di Bukit Lawang sangatlah hingar bingar. Suara petasan dan kembang api yang menandai pergantian tahun membuat pekak telinga, sampai saya terpikir bagaimana dengan hewan-hewan di hutan ya, apakah mereka terganggu atau tidak? Pak Tomin menjelaskan  kalau binatang-binatang harusnya tidak terganggu karena mereka tinggal jauh di dalam hutan. Tapi tetap saja, saya sangat menyayangkan kenapa kami harus dengar suara petasan di kawasan taman nasional alih-alih suara binatang malam. Setelah berjalan 2 jam lebih, sampailah kami di suatu tempat yang memungkinkan untuk melihat betapa bangunan-bangunan kokoh penginapan menjamur di kawasan Bukit Lawang.

Bangunan penginapan di Bukit Lawang bagai cendawan di musim hujan :(
Keprihatinan saya semakin bertambah setelah trekking selesai dan kami melewati bangunan-bangunan yang kami lihat sebelumnya dari arah hutan. Kalau sekarang bangunan beton sudah menjamur seperti ini, bagaimana kabarnya Bukit Lawang sepuluh atau duapuluh tahun lagi? Mengapa ijin membangun penginapan atau restoran begitu mudah diberikan hanya untuk mengakomodasi pengunjung? Mengapa tidak memberdayakan rumah-rumah penduduk sehingga menjadi cukup layak untuk dijadikan homestay pengunjung demi mendukung ecotourism? Menjelang siang itu, pengunjung mulai membanjiri Bukit Lawang sampai kami berjalan seperti di gang senggol, padat tanpa ruang dengan bonus asap rokok pula :(. Mulai dari remaja tanggung, keluarga, anak sekolah, semuanya seakan tumpah ruah disana. Jalan utama yang tidak begitu lebar diapit oleh kios-kios yang menjual pakaian dan cindera mata, dipadati pengunjung dari dua arah dan di sepanjang perjalanan saya sempat lihat ada beberapa kerumunan yang membuat jalan semakin sempit, ternyata setelah diamati, kerumunan itu adalah kumpulan orang yang menonton dan bermain judi :(.

Yang ini padatnya masih normal..setelahnya abnormal!!

Pernah ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu? kurang lebih suasananya sama, dengan penjual cindera mata disisi kiri dan kanan, hanya saja di Bukit Lawang, jauh lebih parah, terutama saat musim libur akhir tahun.

Semoga cerita keprihatinan saya di Bukit Lawang hanya terjadi pada musim libur tahun baru saja atau paling parah, setiap musim libur sekolah, namun di luar musim tersebut, Bukit Lawang kembali tenang tenteram seperti seharusnya kawasan taman nasional.

Melihat pemandangan di sepanjang jalan dari Medan ke Bukit Lawang, ditambah melihat kondisi sebagian kecil Bukit Lawang secara langsung, saya jadi teringat sebuah peribahasa bagus untuk diingat kita semua yang peduli dengan lingkungan dan keberlanjutan hidup anak-cucu di masa depan.

“When all the trees have been cut down,
when all the animals have been hunted,
when all the waters are polluted,
when all the air is unsafe to breathe,
only then will you discover you cannot eat money.”


― Cree Prophecy

Urban Slow Living

Stumbled across this one-page ad, I have highlighted it as one of my new year's resolution. Not necessarily slow down the pace I am used to, but more as a self-reminder to truly appreciate and enjoy every little thing I have and do each day.

Taken from BK Magazine


Happy weekend!

Friday, 17 January 2014

Bertualang ke Bukit Lawang

Pertama kali mendengar sebuah tempat bernama Bukit Lawang beberapa tahun lalu gara-gara salah satu unit di kantor saya mempunyai proyek disana. Berbanding terbalik dengan tipikal unit saya yang kerjanya kebanyakan mengurusi meeting, workshop, conference ini itu yang jauh dari menarik, hampir semua lokasi proyek yang dikerjakan unit tetangga ini terdengar eksotis di telinga saya, termasuk Bukit Lawang. Saya sempat bercita-cita untuk pergi kesana tapi entah kapan, mengingat kesempatannya, dan juga biayanya sampai akhirnya saya pindah dari Indonesia.

Ketertarikan pada Bukit Lawang kembali muncul baru-baru ini karena baca-baca tulisan sang nyonya penggemar sepatu di blognya. Walaupun begitu, belum ada bayangan sedikitpun untuk pergi kesana dalam waktu dekat. Siapa sangka, malam tahun baru malah kami lewatkan di Bukit Lawang! Semua berawal gara-gara menjelang akhir tahun, kami belum punya rencana liburan sama sekali. Mau liburan ke Thailand utara seperti Chiang Mai atau Chiang Rai, semua hotel dan tiket pesawat habis; mau backpacking ke Vietnam (HCMC, Dalat dan Hoi An) gagal karena tepat sebelum beli tiket online, kami baru sadar kalau suami perlu visa masuk ke Vietnam; mau ke Siam Reap, harga hotelnya mengerikan...eehh tiba-tiba si suami bilang kalau dia punya bagian miles yang akan hangus dalam lima bulan ke depan dan setelah dihitung-hitung jumlahnya cukup untuk dua orang SIN-KNO p.p. Jadilah, tiga hari sebelum hari H, kami baru beli tiket pesawat dan cari-cari akomodasi di tempat tujuan plus obrak-abrik blog Noni yang penuh dengan info yang kami butuhkan. Beruntung masih ada akomodasi yang kosong di tempat-tempat tujuan kami. Pokoknya, perjalanan kali ini benar-benar tanpa perencanaan matang, hehehe...mentang-mentang mau liburan ke negara sendiri ceritanya.

Di Medan sempat menginap satu malam dan keesokan paginya, kami menuju Bukit Lawang yang ditempuh dalam waktu 2 jam. Kami menginap di Ecolodge, tapi karena persiapan yang serba mendadak, jadi gagal deh pesan via Noni demi mendapat diskon :(. Suasana Ecolodge di hari terakhir tahun 2013 cukup ramai dengan wisatawan domestik, selain wisatawan mancanegara yang memang berniat melakukan jungle trekking. Sore itu kami melewatkan waktu di Ecolodge sambil menikmati pemandangan sungai Bohorok yang mulai dipenuhi pengunjung sekaligus mencari info untuk persiapan trekking besok. Suami dan mertua pernah ke Bukit Lawang tahun 2007, jadi untuk guide, kami menggunakan jasa guide yang sama yaitu pak Tomin yang juga adalah pegawai Taman Nasional sekaligus kenalan dari teman-teman baik kami.

Keramaian di tepi sungai Bohorok pada penghujung tahun 2013

Pondok informasi di Ecolodge

Suasana Ecolodge

Restoran Ecolodge yang ikut didandani untuk acara makan malam

Hornbill room yang kami tempati

Setelah makan malam, kami memutuskan beristirahat karena besok pukul 8 pagi sudah harus siap untuk trekking. Menjelang tengah malam, kegaduhan suara petasan, kembang api yang berasal dari seberang sungai Bohorok semakin keras terdengar dan mencapai puncaknya ketika tahun berganti. Yang ada di pikiran saya waktu itu, kasihan hewan-hewan di hutan, kita saja manusia sangat terganggu apalagi hewan-hewan yang terbiasa dengan suasana hutan yang senyap.

Pagi hari tanggal 1 Januari, kami memulai trek dengan melintasi rute di belakang Ecolodge. Karena muka air sungai Bohorok yang meninggi akibat hujan terus menerus beberapa hari terakhir, penyeberangan melalui sungai untuk langsung menuju feeding site tidak dapat dilakukan dan menurut petugas penginapan, kunjungan ke feeding site selama dua hari terakhir ditiadakan. Karena kami, khususnya saya sangat ingin bertemu orang utan, pak Tomin mengajak kami untuk mengambil rute lain.

Sebelum perjalanan dimulai

Saya sempat terheran-heran ketika melihat sebuah bangunan rumah yang kokoh dan cukup mewah. Menurut pak Tomin, rumah tersebut dimiliki oleh warganegara Perancis yang menikah dengan pria setempat. Mereka juga yang membangun jalan setapak yang kami lalui. Jalan setapak itu membawa kami memasuki areal perkebunan karet dan pak Tomin sempat berhenti sebentar untuk menjelaskan proses penyadapan getah karet. Trekking di alam bebas selalu menyenangkan untuk saya, meskipun kali ini trekking-nya sambil membawa gembolan seberat 12 kg di punggung saya. Sepanjang perjalanan, kami ditemani suara burung, suara thomas leaf's monkey bersahut-sahutan, gemerisik daun yang tertiup angin, bau khas hutan hujan tropis yang segar...aahhh....surga!

Jalan setapak yang membelah perkebunan karet



Pohon karet yang disadap

Belum setengah jam berjalan, ada yang ketiduran dibelai udara hutan yang segar :D

Asyik menikmati makanan ringan

Hampir 1,5 jam kami berjalan kaki sampai kami bertemu dengan rombongan lain yang tampaknya sedang berhenti mengamati sesuatu. Ternyata ada keluarga orang utan di atas pohon! Bukan main senangnya saya..di atas pohon terlihat 1 ekor orang utan jantan dan 1 orang utan betina sedang menggendong bayinya lengkap dengan sarang mereka di salah satu batang pohon. David yang tertidur tidak lama setelah kami memulai trek terbangun ketika kami berhenti. Rupanya ia juga tidak mau melewatkan pemandangan indah ini. Rasanya seperti mimpi menjadi kenyataan untuk saya, melihat orang utan di habitat aslinya. Terus apa yang mereka lakukan? asli, orang utan itu hidupnya santai sekali dan ekspresi mukanya menunjukkan kesantaian mereka. Dari papan informasi di Ecolodge, orangutan bangun pagi sekitar pukul 6 pagi, dan aktivitasnya sepanjang hari adalah, makan, siesta, pindah dari satu pohon ke pohon lain, makan, membuat sarang, dan sekitar pukul 4 atau 5 sore sudah tidur lagi. Geli deh melihat ekspresi muka orang utan jantan yang memandangi kami di bawah..apa ya yang ada di pikirannya melihat sekelompok manusia mengamati tingkah laku mereka? Menurut pak Tomin, karena pada umumnya orang utan adalah hewan soliter yang hidup menyendiri, beruntung kami bisa melihat keluarga orang utan sekaligus.

Family of three vs Family of three :) (Foto: Pak Tomin)

In action

Orang utan jantan dewasa (Foto: Pak Tomin)

Coba perhatikan lirikan matanya :p

Duduk melamun

Mengutip penjelasan dari papan informasi yang kami baca di Ecolodge, orang utan hanya terdapat di Borneo (Kalimantan dan sebagian Malaysia) dan Sumatra. Orang utan Sumatra sendiri saat ini hanya terdapat di Sumatra Utara dan Aceh dalam wilayah yang disebut Kawasan Ekosistem Leuser dengan jumlah total 6,600 ekor dan 85% dari jumlah tersebut berada di Bukit Lawang. Orang utan berada dalam daftar merah IUCN (Internasional Union for Conservation of Nature) sebagai Critically endangered species atau spesies yang terancam punah. Orangutan betina melahirkan sekali dalam 8 tahun, jadi dapat dibayangkan betapa kritisnya kelangsungan hidup mereka.

Setelah puas mengamati tingkah laku mereka, kami melanjutkan perjalanan menuju feeding site. Perjalanan sempat terhenti karena mengamati 1 ekor orang utan betina beserta bayinya yang sedang bersantai di pohon. Idealnya, bila sungai Bohorok dapat diseberangi, feeding site atau tempat pemberian makan orang utan dapat dicapai dengan naik perahu kemudian berjalan kaki. Kami mengambil jalan belakang yang lebih jauh dan naik turun, namun bonusnya melihat banyak orang utan, macaque, thomas leaf monkey, dan suasana hutan yang damai dan segar, terus menyeberangi sungai kecil berair bening. Tidak sebesar dan seindah Sungai Landak yang dilalui Noni waktu trekking ke sini, tapi lumayan menyegarkan.

Meniti turunan yang licin

Sungai kecil berair jernih dan segar

Kami tiba di feeding site menjelang siang ketika orang-orang bergerak turun. Feeding dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pukul 8.00 dan pukul 15.00. Ketika sampai di atas, hanya ada sepasang suami-istri. Di hadapan mereka, duduk di atas landasan berupa kayu-kayu seekor orang utan betina dengan bayi menggelayut di tubuhnya yang sedang asyik makan pisang. Ada betina lain dengan bayinya di tempat itu, namun agak jauh dari tempat kami berada. Sekitar setengah jam kami habiskan disitu sampai akhirnya kedua betina dan bayi mereka masing-masing pergi meninggalkan kami. Berbeda dengan orang utan Borneo, orang utan Sumatra hidup di atas pohon, karena itu  feeding site dikondisikan sesuai dengan kebiasaan mereka sehingga dibangun palang - palang kayu di ketinggian sebagai tempat mereka berpijak. Oya, jarak aman untuk mengamati orang utan adalah 7-10 meter.

Orang utan betina dan bayinya (Foto: Pak Tomin)

Nyam nyam nyam...

Menggelayut manja pada induknya..menggemaskan!

Apa lihat-lihat? Mau pisang juga ya? :D

Dalam perjalanan pulang, kami menyeberangi sungai Bohorok yang berarus deras dengan menggunakan perahu yang ditarik tali tambang di sisi lain sungai. Arus sungainya deras sekali sampai saya nyaris terjengkang di perahu dengan David di pelukan saya...pfiuuuhhhh...menegangkan meskipun cuma beberapa detik! Ketika sampai seberang, seorang pemuda yang bertugas menarik tali tambang bilang ke saya "Kakak jangan panik, kalau kakak panik, kami lebih panik lagi" :D. Gimana gak panik dik, belum ambil posisi untuk duduk, tiba-tiba perahu sudah oleng saja dipermainkan arus sungai yang tanpa ampun kencangnya :(..Sepertinya saya tidak berbakat untuk ikut rafting, tubing, atau kegiatan sejenis, bisa-bisa gemetaran duluan sebelum mencoba. Syukurlah, kami tiba di seberang sungai dengan selamat dan bergegas pulang melawan arus pengunjung yang membanjiri kawasan Bukit Lawang di hari pertama tahun 2014.

Perahu yang diikat tali pada kedua sisi sungai

Sungai Bohorok

Saya tidak menyangka sisi sungai Bohorok ini sangat terbangun, ada banyak warung, penginapan, kios-kios dan volume pengunjung yang datang hari itu...wuiihhh...seperti suasana pasar Tanah Abang menjelang Hari Raya..padat sepadat-padatnya! Pak Tomin sempat bercerita kalau penginapan-penginapan yang kami lalui itu rata-rata dibangun oleh warga negara asing (dan kebetulan berasal dari Perancis) yang menikah dengan pria setempat (jadi ingat cerita kamu, Non :p). Jadi anggapan bahwa pria Perancis itu romantis perlu dipertanyakan lagi, buktinya perempuan Perancis (setidaknya beberapa) malah lebih memilih pria Indonesia. Tidak percaya? Lihat saja di Bukit Lawang :)

Penginapan-penginapan di kawasan Bukit Lawang

Pengunjung mulai ramai berdatangan

Salah satu penginapan di Bukit Lawang

Kawasan penginapan tampak dari arah hutan

Trekking kami hari itu berakhir sudah dan kami puas..tidak sia-sia berjalan berjam-jam demi bertemu orang utan. Padahal malam sebelumnya, Bukit Lawang diguyur hujan deras sekali dan saya (yang sedang belajar untuk menjadi wise traveler ini) berpikir kalaupun tidak memungkinkan untuk trekking keesokan harinya, paling tidak saya dapat berjalan-jalan menikmati alam bebas di dekat penginapan. Sementara suami sudah pernah melihat orang utan dan David apalagi, dia sih santai saja tidak begitu peduli mau dibawa kemana dan lihat apa karena main dengan semut di lantai beranda kamarpun, senangnya setengah mati. Bahkan pak Tomin tidak mau menjanjikan apakah bisa atau tidak trekking dilakukan, tergantung apakah hujan turun terus menerus semalam suntuk dan berlanjut sampai pagi atau tidak. Alhamdulillah, pagi-pagi ketika bangun, langit cerah dan ketika pak Tomin datang jam 8 pagi, beliau bilang kami bisa trekking.

Menutup petualangan hari itu, kami juga berkesempatan mengunjungi visitor center TNGL-Bukit Lawang. Ternyata kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan hutan terbesar di Sumatra ini adalah rumah dari spesies langka selain orangutan, yaitu gajah Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra. Hebat bukan? Betapa kayanya keanekaragaman hayati Indonesia. Kalau sudah begini, siapa yang tidak bangga jadi orang Indonesia?

Panel informasi di Visitor Center

Salah satu kekayaan hayati Indonesia

Seperti doa dan harapan saya di setiap akhir perjalanan, semoga suatu hari nanti kami bisa berkunjung lagi kesini, dan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, termasuk orang utan dan hewan-hewan hutan lainnya yang merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia tersebut dapat terus terjaga kelestarian serta keberlangsungan hidupnya dan tidak menjadi korban pembangunan maupun pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. 

Akomodasi:

www.ecolodgebukitlawang.com
Phone: +62 812 607 99 83
Email: info@ecolodgebukitlawang.com
Reservation: reservation@ecolodgebukitlawang.com

Guide: Pak Tomin (0812 654 2408)

Sampai jumpa lagi, TNGL  :)

Semalam di Singapura

Akhirnya, kesampaian juga niat menginjakkan kaki kembali di Singapura, karena waktu perjalanan ke Medan akhir tahun lalu, kami sempat transit satu malam di negeri singa ini. Masa tinggal saya yang singkat namun berkesan disana membuat saya selalu ingin kembali kalau ada kesempatan. Kali ini, datang dengan membawa satu balita, saya semakin jatuh cinta dengan Singapura yang sangat ramah anak. Sementara di Bangkok saya terbiasa mengangkat stroller dan isinya untuk naik turun tangga, di Singapura saya nyaris melakukan hal serupa, hahaha...padahal lift ada dalam jangkauan dan selalu tersedia, tidak seperti lift di stasiun BTS/MRTdi Bangkok yang selalu terkunci dan untuk naik lift-nya, harus menghubungi petugas stasiun dulu.

Sayang, keinginan untuk bertemu teman-teman dekat semasa disana tidak bisa terlaksana kali ini karena waktu yang tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, kami mengunjungi Gardens by the Bay, cuma jalan-jalan saja sih, tidak sampai masuk ke dalam kubahnya. Seperti biasa, saya selalu dibuat terpesona dengan semua hal di negara mungil ini.

Marina Bay Sands
Gardens by the Bay





Singapura memang tidak pernah membosankan untuk kami, khususnya saya. Selain penuh kenangan, terlalu banyak tempat menarik disana yang sayang untuk dilewatkan. Ah, tiba-tiba saya jadi kangen nonton konser musik di Esplanade, menghabiskan akhir pekan di Botanic Gardens atau Mt. Faber, mengagumi bunga-bunga anggrek yang bermekaran di National Orchid Garden, keluar bersama teman-teman sepulang kantor, berbelanja kebutuhan mingguan di Fairprice bersama teman serumah di Jurong Point, mengukur jalan di sepanjang Orchard, menyeruput mint tea di sebuah kedai di Arab Street, makan siang bersama teman-teman kantor di kantin N2.1, atau hanya sekedar berkutat di dapur, dimana untuk pertama kalinya saya yang tidak berbakat masak ini mulai senang mencoba resep baru :).

Besok-besok kalau lewat Singapura lagi, kami mau menghabiskan seminggu penuh disana, bukan hanya transit atau stopover, dan hampir dipastikan dengan daftar tempat yang ingin saya dan keluarga kunjungi plus teman-teman yang ingin saya temui, mungkin seminggupun masih kurang :D. Coba bayangkan, jika punya waktu seminggu di Singapura, saya ingin bernostalgia ke Jurong Bird Park, Mt. Faber, Botanic Gardens, dan Science Center, mengunjungi Singapore Zoo dan mengikuti Night Safari plus River Safari, serta menonton satu saja pertunjukan konser di Esplanade bersama mantan pacar. Oia, semua itu belum termasuk agenda bertemu teman-teman lama dan mencicipi chili crab di Geylang yang dijanjikan seorang teman sejak lama sebelum saya hijrah.  

Till we meet again, Singapore...

Thursday, 16 January 2014

When Things Went Wrong...

15 Januari, tiga tahun yang lalu...

Di hari Sabtu yang cerah, saya dan seorang teman bertemu untuk makan siang di salah satu restoran di pusat kota. Tidak ada firasat apapun sepanjang hari itu selain tabung gas kami yang hilang dicuri orang seminggu sebelumnya. Saya ingat, waktu suami akan pergi bertugas beberapa hari kemudian, saya sempat mengajukan keberatan saya ditinggal lagi gara-gara insiden pencurian tabung gas itu. Tapi ia meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.

Sore harinya, saya mematikan lampu sensor di halaman depan yang biasanya akan menyala apabila sensornya menangkap objek bergerak, entah itu mobil, kucing, ataupun manusia. Namun sudah beberapa hari ini lampu itu menyala terus di siang hari, padahal seharusnya lampu tersebut hanya menyala pada saat malam hari saja. Malam harinya, sekitar jam 10, saya sempat mendengar sekelompok orang bercakap-cakap ramai di depan rumah namun saya abaikan. Saya pergi tidur menjelang tengah malam. Tiba-tiba saja saya mendengar orang bercakap-cakap begitu dekat di telinga saya, lalu kemudian disusul suara nyaring berulang-ulang sepertinya seseorang sedang memukul besi. Suara-suara itu tidak kunjung hilang sampai akhirnya saya bangun dari mimpi saya dan tersadar bahwa suara gaduh yang saya dengar nyata adanya. Pikiran saya otomatis melayang pada tabung gas di luar yang telah kami rantai. Pasti ada orang yang mencoba mengambil tabung gas lagi, pikir saya ketika itu dalam keadaan setengah sadar.

Terbangun sambil setengah sadar, saya berjalan dari kamar menuju dapur untuk melihat asal suara gaduh tersebut. Sempat terlihat sekilas ketika saya melintasi ruang duduk menuju dapur, jarum jam menunjukkan 00.40. Sebagai gambaran, rumah yang kami tinggali berada di pinggir laguna dan dapur berada di bagian depan rumah yang menghadap ke jalan. Saya masih belum menyadari kalau lampu penerangan di luar di depan dapur mati sehingga saya tidak dapat melihat apapun. Dengan panik, saya menelepon siapapun yang terlintas di pikiran saya, mulai dari suami, polisi, teman, dan pemilik rumah yang kami sewa. Polisi, yang paling saya harapkan bantuannya saat itu sama sekali tidak memberikan jawaban yang meyakinkan. Saya telepon polisi dua kali, bicara dengan orang yang berbeda, dan dua kali itu pula saya kesulitan menjelaskan lokasi rumah kami. Di Port Vila, tidak ada nomor rumah, hanya tempat-tempat tertentu yang dijadikan patokan. Setelah menelepon, saya kembali ke dapur dan mengintip dari belakang kulkas, sampai sebuah kesadaran mengejutkan saya...suara gaduh tersebut bukan berasal dari orang yang ingin mencuri tabung gas, namun suara itu berasal dari alat yang digunakan untuk membuka paksa kisi-kisi pelindung jendela dapur. Kisi-kisi pelindung jendela ini ditujukan untuk melindungi kaca jendela dari hempasan angin ribut yang kerap melanda wilayah Pasifik, dan dibaliknya tidak ada teralis lagi.

Saya yang belum bangun sepenuhnya mencoba memahami apa yang terjadi...dan ketika suara-suara gaduh semakin nyaring terdengar bercampur dengan suara orang bercakap-cakap, saya mendadak lemas..orang-orang yang terdengar sedang bercakap-cakap itu bukan mau mencuri tabung gas, melainkan sedang berusaha masuk rumah lewat jendela dapur yang tanpa teralis dengan merusak kisi-kisi kayu!! Di dini hari Minggu yang gelap dan sepi, saya sendirian di rumah yang bisa dibilang tanpa pengamanan, sementara ada orang di luar yang sedang berusaha masuk, rasa takut yang amat sangat mulai menjalari saya...benar-benar takut. Sementara suara-suara gaduh di luar tidak juga berhenti, saya semakin panik. Bagaimana kalau mereka berhasil masuk sementara saya belum berhasil menghubungi satupun orang untuk minta bantuan? Saya semakin takut...bayangan buruk berlarian di benak saya...saya mondar mandir kebingungan, kemana saya harus bersembunyi? di lemari, di dalam koper? bagaimana kalau mereka akhirnya masuk rumah dan menemukan saya? mengurung diri di dalam kamar bukan pilihan karena dengan mudah pintu kamar bisa didobrak dari luar.

Di saat panik semakin menguasai, saya menelepon kembali si pemilik rumah dan mengatakan kalau ada orang mau mendobrak masuk rumah. Si pemilik rumah menjawab ia akan segera datang. Rasanya waktu begitu lama berlalu dan ketakutan saya sudah nyaris tidak terkontrol...setidaknya ada lebih dari dua orang pria di luar sana dan saya sendirian di dalam rumah dalam keadaan lemah pula, tanpa satupun alat untuk membela diri. Saya tidak tahu berapa lama lagi si pemilik rumah akan datang, namun di sisi lain saya takut pencuri-pencuri itu berhasil masuk sebelumnya dan menemukan saya sendirian di dalam. Dalam keragu-raguan apakah saya berteriak meminta tolong atau tidak, akhirnya saya memutuskan berteriak seolah-olah saya membangunkan suami untuk memberi kesan bahwa saya tidak sendirian di rumah. Serentak suara gaduh itu berhenti dan saya semakin keras berteriak minta tolong dengan perasaan ketakutan setengah mati sambil menyambar alat berkebun serupa garpu panjang yang dipakai untuk menggemburkan tanah di dekat dapur. Tiba-tiba aliran listrik diputus (kotak saklar berada di luar) dan rumah otomatis menjadi gelap gulita. Saya semakin histeris berteriak dengan garpu panjang dan berat di tangan yang saya ayunkan ke segala arah, saking panik dan takutnya. Di saat terburuk itu, saya hanya bisa berpikir, setidaknya saya harus melindungi diri dengan alat apapun jika kemungkinan yang paling tidak diinginkan terjadi yaitu mereka berhasil masuk rumah. Saya terus berteriak ketakutan sampai saya dengar dari kejauhan mobil si pemilik rumah semakin mendekat. Tidak lama, terdengar suara pemilik rumah dan istrinya yang memanggil-manggil lalu ia melompati pintu pagar yang saya kunci sejak sore tadi. Saya keluar rumah dengan gemetar namun masih bisa menguasai diri. Beberapa saat kemudian, datang suami teman yang tidak sengaja saya telepon ketika saya panik tadi, mereka tinggal tidak jauh dari tempat kami. Tiga orang polisi datang terakhir mengendarai mobil untuk membawa tahanan disusul serombongan polisi lagi. Ketika mereka datang, saya masih sempat-sempatnya marah karena merekalah yang terakhir sampai padahal mereka yang pertama kali saya hubungi. Ketika mereka datangpun, mereka hanya berkeliling sebagian halaman saja, tidak memeriksa sampai halaman bawah dekat laguna, jadi pantas saja kalau pencuri-pencuri itu aman di tempat persembunyiannya. Perasaan takut saya berubah menjadi kemarahan, apalagi kalau ingat pertanyaan pertama yang diajukan polisi ketika menerima telepon saya pertama kali bukanlah menanyakan alamat saya tapi malah bertanya "Are you ni-Van or expat?" Kalau ni-Van (ras Melanesia yang merupakan penduduk asli Vanuatu) kenapa dan kalau expat kenapa? sungguh tidak relevan!

Singkat cerita, si pemilik rumah mengajak saya ke rumah mereka sekitar pukul 3 pagi itu. Sesampainya di tempat mereka, saya dipersilakan tidur di salah satu paviliun. Sekeras mungkin saya berusaha tidur, tapi tidak berhasil. Kejadian yang baru saya alami itu masih jelas terlintas dan tanpa saya sadari, saya menangis habis-habisan. Rasa takut, sedih, dan marah bercampur jadi satu..saya tidak tidur sampai tiba saatnya sarapan pagi. Di meja makan, istri pemilik rumah menunjukkan berita di suratkabar bahwa beberapa tahanan berhasil kabur dari penjara Port Vila beberapa hari sebelumnya, diantaranya adalah mereka yang masuk penjara karena membunuh dan memperkosa. Seketika itu, saya menangis histeris lagi teringat kejadian semalam dengan benak dipenuhi pertanyaan bagaimana kalau. Suami istri itu menenangkan saya dan mengatakan kalau siang nanti akan menemui pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian semalam.

Setelah makan siang, hari Minggu itu kami pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan kemudian menuju rumah untuk mengambil sidik jari yang mungkin tertinggal. Siapa sangka, pencuri-pencuri itu kembali lagi meneruskan pekerjaan kotor mereka ketika melihat kami pergi meninggalkan rumah dan mereka berhasil mendobrak masuk. Tahukah apa yang mereka ambil? sejumlah uang koin, tas laptop, satu paket sosis, beberapa potong ayam beku dan tiga botol minuman (bila ada acara di rumah, teman-teman kami biasa membawa minuman mereka sendiri karena kami tidak minum ataupun menyediakan. Nah, minuman yang di kulkas itu ditinggalkan teman dengan niatan dikonsumsi jika ada kunjungan kembali ke rumah). Oia, tidak lupa mereka juga mencicipi sepotong kue coklat yang saya beli dari restoran pada hari Sabtunya. Setelah proses pengambilan sidik jari selesai, kami pulang ke kediaman si pemilik rumah. Suami saya baru pulang dari perjalanan dinasnya hampir tengah malam. Suami istri yang baik hati itu menawarkan untuk menjemput di bandara, dan ketika kami bertemu, saya menangis sejadi-jadinya. Saya bilang, saya tidak mau ditinggal sendiri di rumah ketika ia harus bertugas, tidak akan pernah mau! Malam itu, kami kembali menginap di kediaman si pemilik rumah yang dijaga empat ekor anjing Rottweiler. Keesokan harinya, istri pemilik rumah membawa serta pembantunya untuk membersihkan rumah yang baru dibobol maling tersebut. Malamnya, kami menginap di hotel karena saya masih belum siap kembali ke rumah. Baru hari Selasa, kami kembali ke rumah.

Percaya atau tidak, bawah sadar saya mengalami trauma berkepanjangan. Setiap kali mendengar suara sehalus desahan angin atau gemerisik daun sekalipun, urat leher saya menegang ketakutan dan kepala mendadak pusing. Seminggu pertama, saya ikut suami ke kantor dan diam disana dari pagi sampai sore karena tidak mau tinggal di rumah sendirian. Selama seminggu, setiap malam, saya selalu terbangun dalam keadaan ketakutan dan merasa seolah-olah ada suara mencurigakan di sekitar rumah. Gara-gara kejadian itu pula, saya sempat mengutarakan keinginan saya untuk memelihara anjing Rottweiler yang bisa menerkam dan membunuh orang berniat jahat yang datang (padahal saya takut setengah mati dengan anjing), atau menyimpan pisau atau senjata di dekat tempat tidur yang kesemuanya tidak mendapatkan persetujuan suami :(. Minggu kedua, saya mulai belajar tinggal sendiri di rumah pada siang hari dengan catatan ada yang menemani. Minggu-minggu berikutnya, saya belajar mengumpulkan keberanian dan menghilangkan rasa takut saya sedikit demi sedikit. Meski bukan hal yang mudah, tapi Alhamdulillah saya berhasil melaluinya. Saya teringat ketika pertama kalinya keluar rumah sendiri setelah kejadian tersebut, tiba-tiba saja saya merasa pusing dan urat leher menegang. Ya, ketakutan itu masih ada..takut bertemu muka dengan orang-orang yang pernah mendobrak masuk rumah yang kami tinggali.

Trauma dengan kejadian tersebut, disusul keguguran beberapa minggu sesudahnya, kemudian tidak mendapatkan tanggapan yang diharapkan dari orang yang sebelumnya saya anggap sahabat dekat ketika saya menceritakan kejadian ini dan mengharapkan simpatinya, membuat saya butuh waktu beberapa lama untuk bisa kembali "normal" seperti sediakala, itupun dengan bantuan psikolog tempat kami berkonsultasi, yang membantu membangun rasa percaya diri saya kembali. Kata-kata yang saya ingat dari psikolog adalah bahwa ingat saja kalau apa yang saya lakukan malam itu sudah tepat, dan hapus pertanyaan "bagaimana kalau" karena pada kenyataannya, semua berakhir dengan baik.

Alhamdulillah, tiga tahun berlalu, dan saya dapat berdamai dengan pengalaman buruk itu. Meskipun ketakutan sesekali datang, satu hal yang saya ingat, ada Allah yang menjaga saya, seperti halnya Ia menjaga saya malam itu. Sewaktu bibi saya mengalami musibah rumahnya disatroni sekelompok maling dua tahun lalu dan ia bercerita pada saya, saya dapat merasakan ketakutannya. Ketakutan dan kekhawatiran yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang pernah mengalami kejadian serupa, tapi mungkin dianggap berlebihan bagi orang lain yang belum pernah mengalaminya. Yah, mudah-mudahan tidak akan ada orang yang saya kenal ataupun yang saya tahu mengalami hal serupa seperti yang saya alami. Cukup pengalaman saya saja yang menjadi pembelajaran agar kita selalu waspada dengan situasi sekitar dimanapun dan kapanpun.

Monday, 13 January 2014

Bangkok Hari Ini

Senin, 13 Januari 2014, golongan anti pemerintah melakukan blokade di beberapa titik yang disebut "Bangkok Shutdown". Rencana penutupan jalan dan rally yang dimaksudkan untuk menutup akses ke kantor-kantor pemerintahan ini sudah mulai digaungkan sejak awal tahun.

Seperti aksi-aksi rally yang berlangsung sejak dua bulan lalu, rally hari ini berlangsung damai, malahan di beberapa tempat para peserta terkesan seperti akan berpiknik dengan menyiapkan tikar dan tenda. Kejadian ini juga membuka peluang bisnis dengan menjamurnya penjual beraneka atribut rally seperti ikat kepala, t-shirt, topi, dll. Meskipun begitu, tetap saja hal ini membuat khawatir karena sampai sekarang belum ada kepastian kapan aksi protes akan berakhir.

Karena daerah dekat rumah juga termasuk salah satu target tempat berkumpulnya massa, sahabat saya dan putrinya yang sedang berkunjung terpaksa mendekam di rumah seharian ini :(. Masyarakat umum juga dianjurkan untuk menggunakan sistem transportasi umum seperti BTS atau MRT bila harus bepergian dan menghindari titik-titik blokade.

Foto pinjam dari grup WA (kredit:Irene Dyah)
Foto: pinjam dari grup WA (kredit:Decita Tutyastri)
Foto: pinjam dari grup WA (kredit: Decita Tutyastri)



Jadi, bagi siapapun yang berencana berlibur ke Bangkok dalam waktu dekat, mungkin sebaiknya ditunda sampai pemilu bulan depan selesai dilaksanakan. Mudah-mudahan situasi penuh ketidakpastian di Land of Smile ini segera membaik.