Friday, 18 October 2013

#World Heritage Sites: Antigua, Guatemala

Menyambung cerita perjalanan seri World Heritage Site, situs berikutnya yang mendapat giliran adalah kota Antigua di Guatemala, Amerika Tengah. Kenapa saya bisa sampai kesini? Ceritanya, dalam program studi pascasarjana yang saya ambil, ada field trip. Namanya belajar tentang bencana alam, maka tujuannya pun tidak jauh dari negara-negara yang mempunyai gunung berapi. Pilihannya antara Italia (yang terdekat dari Inggris), Chili, dan Guatemala. Suara terbanyak memutuskan lokasi terpilih adalah Guatemala yang juga merupakan tujuan  field trip selama beberapa tahun terakhir, sedangkan Chili dianggap terlalu jauh dan mahal di ongkos. Untuk Italia, teman-teman seangkatan saya orang Inggris mana ada yang mau "cuma" pergi ke Italia, sementara untuk saya, bisa menginjakkan kaki di Italia saja sudah bersyukur :). Awalnya sempat mengalami dilema karena untuk perjalanan ini, selain bukan mata kuliah wajib, sponsor beasiswa saya tidak memberikan biaya tambahan. akhirnya setelah dipikir ulang, kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang, dengan tabungan hasil menyisihkan uang saku tiap bulan, sayapun memutuskan ikut serta. Diantara jadwal mengunjungi satu gunung ke gunung lain, disisipkanlah jadwal mengunjungi kota Antigua yang konon terkenal dengan bangunan kolonialnya. Dua malam kami menginap di Antigua untuk penyegaran sebagai persiapan sebelum mendaki gunung Santa Maria. Di kota ini kami belajar tentang sejarah Antigua dan Guatemala secara umum sejak masa penjajahan Spanyol melalui kuis-kuis yang jawabannya terdapat di sekeliling kota..seru pokoknya. Satu pengalaman menarik di kota ini, waktu saya kembali ke penginapan lebih awal sementara teman-teman yang lain lanjut ke bar, ternyata ada orang mabuk yang berkelahi di penginapan...duh, saya yang sedang berada di kamar mandi deg-degan tidak berani keluar. Di penginapan ini, kamar mandinya berderet di luar. Akhirnya saya mendekam di kamar mandi sampai suara ribut tidak terdengar lagi, baru saya berani keluar dan langsung lari masuk kamar.

Ternyata, benar apa yang dikatakan buku-buku panduan. Kota Antigua cantiiikkk sekali. Dibangun pada awal abad keenambelas sebagai ibukota Guatemala, kota ini sempat hancur diguncang gempa bumi pada tahun 1773. Sampai sekarang reruntuhan bangunan-bangunan kolonial tersebut tetap berdiri megah bertebaran dimana-mana seolah tak mau membiarkan mata kita lengah sedikitpun memelototi keindahannya. Namun tidak semua bangunan kolonial itu dapat dimasuki umum dan umumnya adalah bangunan-bangunan kolonial yang dipagari. Kota ini mendapat status sebagai Warisan Budaya Dunia dari UNESCO pada tahun 1979.

Dengan kekhasan kota kolonial Spanyol, bangunan di kota ini didominasi warna beraneka ragam yang menyegarkan mata. Sewaktu disana, saya membuat daftar bangunan kolonial yang wajib dikunjungi, tapi sekarang hampir semuanya sudah lupa, ya, namanya juga perjalanan lima tahun yang lalu. Semua foto-foto ini membuat kenangan akan kota Antigua mengusik pikiran...saya ingin kembali lagi kesana suatu hari.

Patung air mancur di Plaza Central

Gadis-gadis muda Antigua dalam pakaian tradisional mereka

Foto diri mengenang masa muda :)

Saya dan Tom, teman seangkatan dengan latar belakang ikon Antigua

Pintu masuk salah satu katedral yang saya lupa namanya


Another WH site? checked!


Salah satu reruntuhan cantik di pusat kota

Suasana jalan di Antigua

Palacio de los Capitanes, Plaza Central

La Catedral de San José Antigua






Iglesia de la Merced







Tempat mencuci baju komunal

Salah satu taman kota


Palacio de los Capitanes dari sisi lain

Penjual buah

Bis unik khas Antigua

Aneka produksi buatan tangan khas Guatemala yang menarik mata

Till we meet again, la Antigua...

Catatan: Foto-foto di halaman ini adalah milik saya pribadi kecuali disebutkan sumbernya.

Thursday, 17 October 2013

#World Heritage Sites: Ayutthaya Historical Park

Sebagai UNESCO World Heritage Sites traveler, tentunya tidak mungkin kami melewatkan kota Ayutthaya dalam daftar panjang destinasi jalan-jalan kami. Bersama suami dan mertua, saya berkunjung kesana bulan Maret tahun lalu.

Didirikan dengan nama Phra Nakhon Si Ayutthaya pada tahun 1350 oleh Raja King U-Thong, Ayutthaya merupakan ibukota kerajaan Siam (pada masa itu) sampai dengan tahun 1767. Pada masanya, Ayutthaya adalah salah satu kota termakmur di Asia dengan kuil-kuil dan istana-istana nan megah. UNESCO menetapkan Ayutthaya sebagai situs Warisan Dunia pada 13 Desember 1991. Dari sekian banyak reruntuhan/bangunan kuil yang tersebar di seluruh pelosok kota, berikut beberapa situs (Wat) yang kami kunjungi karena paling populer berdasarkan buku panduan National Geographic.

Wat Mahathat
Pernah melihat patung kepala Buddha yang dililit oleh akar pohon? Nah, disinilah tempatnya. Tiket masuk: THB 50.







Wat Phra Si Sanphet
Yang khas dari kompleks ini adalah tiga buah stupa berwarna putih abu-abu yang menjulang, ciri kediaman tradisional kerajaan Ayutthaya. Tiket masuk: THB 50

 


Wat Yai Chaya Mongkol (The Great Temple of Auspicious Victory)
Kompleks ini dikenal sebagai tempat meditasi dan pencerahan para rohaniwan Buddhis. Nama kuil ini diambil dari Chedi (stupa dalam agama Buddha) yang dibangun untuk memperingati kemenangan Raja Naresuan Agung terhadap invasi Burma pada tahun 1593. Disini bisa ditemui patung Buddha tidur berwarna putih berselimutkan kain kuning. Tiket masuk: THB 20.



Wat Panan Choeng
Kuil ini adalah sebuah biara tua dimana terdapat patung Buddha terbesar di seluruh Thailand yang dikenal dengan nama "Luang Po To", dibuat pada tahun 1324, dua puluh enam tahun sebelum Ayutthaya dijadikan ibukota Kerajaan Siam. Alkisah, kuil ini dibangun konon berawal dari kisah cinta antara seorang pangeran Siam dan seorang putri Cina di masa lalu. Saya tidak tahu kebenarannya karena tidak ada penjelasan lanjut tentang mitos ini. Tiket masuk: THB 20.


Di dinding kuil ini konon terdapat kurang lebih enam ribu patung Buddha
 Waktu kami kesana, kebetulan kami mengendarai mobil jadi bisa mengitari hampir seluruh kuil terkenal di Ayutthaya. Tapi seandainya tidak pakai mobilpun, ada penyewaan sepeda dan tuktuk yang siap mengantar pengunjung untuk temple-hopping. Selain itu, begitu datang, kami langsung berkeliling sendiri, hasilnya beberapa kali berputar-putar di daerah yang sama. Ketika sudah mau pulang, secara tidak sengaja melewati kantor pusat informasi di sebelah gedung Galeri Nasional dan di sana kami mendapat brosur serta penjelasan cukup lengkap dari staf mereka yang bisa berbahasa Inggris. Kalau saja tahu tempat ini dari awal kedatangan, mungkin kunjungan kuil akan lebih efektif dan terarah, tidak tersesat kemana-mana :(. Sayangnya, gedung Ayutthaya Tourism Centre yang juga menyatu dengan Galeri Nasional dan The Historical Hall of Ayutthaya ini tutup setiap hari Senin, yaitu ketika kami datang berkunjung, dan Selasa. Tidak banyak foto-foto yang saya ambil karena udara di bulan Maret yang sangat panas menusuk kulit membuat ibu hamil tujuh bulan ketika itu lebih memilih berteduh di bawah pohon.

Selain berkeliling dengan sepeda atau tuk-tuk pilihan lain adalah dengan menunggang gajah. Sebenarnya saya penasaran ingin naik, tapi takut jatuh dari ketinggian kalau gajahnya akan keberatan membawa beban gajah kecil, jadi niat itu dibatalkan.
Berkeliling Ayutthaya dengan menunggang gajah
Dari Benhil sampai Ayutthaya, bemo memang tidak ada matinya
Pemandangan yang menyejukkan di siang hari yang terik menyengat
Wat Phra Ram tampak dari luar yang dikelilingi kolam
 Idealnya, berkeliling di Ayutthaya memang paling pas kalau menyewa sepeda, tapi apa daya kondisi yang tidak memungkinkan, daripada bumil dehidrasi di bawah terik matahari 40 derajat, lebih baik duduk manis di dalam mobil dengan pendingin :).

Menurut orang-orang yang sudah pernah mengunjungi Ayutthaya dan Sukhothai, bekas ibukota kerajaan Siam yang terakhir jauh lebih bagus. Sampai saat ini saya masih puas dengan Ayutthaya, mungkin kalau suatu hari nanti berkesempatan mengunjungi Sukhothai, baru saya bisa membandingkan. Dari sisi jarak, Ayutthaya hanya berjarak dua jam perjalanan mobil dari Bangkok sementara ke Sukhothai membutuhkan waktu kurang lebih 5-6 jam. Jika berminat untuk mengunjungi Ayutthaya namun malas mengurus perjalanan sendiri, banyak biro perjalanan di Bangkok yang menawarkan paket ke Ayutthaya, tinggal pilih yang sesuai dengan keinginan.

Bersyukur itu...

foto pinjam dari themagneticentrepreneur.com

ketika ada teman (suami dan istri) tanpa janjian masing-masing menelepon mengajak saya dan David berkumpul dengan keluarga mereka untuk merayakan Idul Adha karena tahu kami sedang berduaan saja di rumah.

ketika pagi-pagi hujan deras padahal mau mengantar David ke tempat penitipan anak, ada pesan masuk dari tetangga yang juga mau mengantar putri mereka menawarkan tumpangan.

ketika mendapat email berisi kabar baik :).

ketika diluar langit mendung dan hujan deras turun, terus secara tidak sengaja membaca link ini. Terharuuu...

ketika hujan semakin deras, dan bisa brunch dengan lontong, gulai nangka, dan sambal goreng daging..sluurrppp..

Apa yang kamu syukuri hari ini, teman?

Wednesday, 16 October 2013

Hari ini...

lebih pagi dari biasanya, David sudah bangun dan ramai berceloteh. Sepertinya dia tahu bahwa kami berdua akan pergi ke Kedubes RI untuk shalat Ied. Meninggalkan rumah jam 6.30 pagi, langsung mendapat supir taksi baik hati yang bersedia mengangkut kami, sampai di KBRI jam 7 kurang. Berbeda dari dua tahun sebelumnya, pelaksanaan shalat kali ini dilakukan di dalam ruang serba guna dan bukan di lapangan sepakbola. Sampai sana, ternyata sudah ada beberapa teman beserta keluarganya yang datang..senangnya bertemu teman-teman.

Pukul 7.30 shalat Ied dimulai dan syukurlah si bocah begitu manis..dia hanya berjalan mondar mandir saja di hadapan saya sampai kami selesai shalat. Awalnya sempat was-was, karena pengalaman shalat Idul Fitri di Bandung kemarin, dia menangis ketika ditinggal shalat dan akhirya saya hanya duduk sambil menemaninya. Pukul 8.30 setelah ceramah dan do'a selesai, kami berkumpul di luar menikmati makanan ringan yang disediakan. Sssttt...sebenarnya kami menunggu apakah ada acara makan gratis atau tidak, karena sewaktu pertama kali Lebaran Idul Adha di Bangkok dua tahun lalu, pak Dubes menyelenggarakan open house layaknya Hari Raya Idul Fitri. Tahun lalu kami berlebaran di Yogyakarta, dan menurut teman yang datang ke KBRI, tidak ada lagi open house tetapi disediakan santapan bakso. Dengan teman-teman, saya sudah berharap bisa makan enak pagi ini *murahan* tapi ternyata, tidak ada apapun selain kotak makanan ringan tadi :(. Setelah mengobrol kiri kanan, banyak yang sudah mulai pulang, punah harapan makan enak, hehehehe...Saya dan David pulang ke rumah dan niatnya akan pergi lagi mengantar David berenang..eehh..yang mau berenang malah tidur..akhirnya bolos lagi deh. Kamipun melewatkan sepanjang siang bermain di rumah.

Sore harinya, kami berangkat lagi menghadiri acara ulang tahun anak teman saya. Dalam perjalanan pulang, teman lain menelepon mengundang ke rumahnya, saat itu sudah jam 18.30 dan David tertidur lelap dalam gendongan saya, jadi dengan terpaksa saya tolak.

Hari ini untuk pertama kalinya kami melewati Lebaran Idul Adha berdua saja :) dan ternyata semua berjalan baik, Alhamdulillah.

Selamat Idul Adha bagi yang merayakan.

Menengok Sang Buddha Tidur di Wat Pho

Kalau disuruh memilih mengunjungi yang mana, saya akan memilih Wat Pho dibandingkan Grand Palace. Kenapa? Selain jauh lebih kecil areanya, harga tiket masuknyapun empat kali lebih murah, yaitu THB 100. Sedikit membuka rahasia, setahun yang lalu, belum ada pintu gerbang khusus untuk turis, jadi pengunjung yang mirip-mirip orang Thai seperti saya bisa mengelabui petugas karena dikira orang Thai. Orang Thai yang mau beribadah ke kuil ini memang tidak dipungut bayaran. Begitu masuk kuil tempat Sang Buddha tidur berada, seringkali petugasnya tidak mengecek ulang tiket masuk. Perbedaan orang yang punya tiket masuk dengan yang tidak punya tiket masuk ketika itu adalah sebotol kecil air mineral yang dibagikan dengan menunjukkan tiket masuk. Dulu, beberapa kali saya masuk Wat Pho gratis karena tidak membeli tiket masuk. Sekarang, sudah dibangun pintu gerbang yang membedakan antara jalan masuk orang Thai dengan jalan masuk turis. Memang ada apa sih istimewanya Wat Pho? Di kuil ini ada patung Sang Buddha dalam ukuran raksasa terbuat dari perunggu yang sedang berbaring dengan tangan kanan menopang kepalanya. Selain itu, saya juga suka stupa-stupa di kawasan Wat Pho, cantik berwarna-warni, mirip stupa-stupa di Wat Arun. Bedanya, di Wat Pho, pengunjung tidak perlu naik tinggi-tinggi, cukup berjalan-jalan mengeliling kompleks kuil.

Wat Pho sendiri terletak di belakang kompleks Grand Palace. Ada dua cara mencapai Wat Pho, yang pertama dengan taksi dan yang kedua dengan naik kapal. Meski banyak taksi di Bangkok yang suka nakal menawarkan harga tanpa meter, ada juga banyak taksi yang bersedia menggunakan meter untuk mengantar penumpang sampai Wat Pho/Grand Palace. Sedangkan kalau mau naik kapal, bisa naik skytrain (BTS) dengan tujuan Saphan Taksin (Silom Line), dari sana ambil Chao Phraya Tourist Boat seharga THB 40 dan berhenti di Tha Tien Pier. Keluar dari dermaga, tinggal jalan sedikit ke Wat Pho. Bagaimana, tertarik mengunjungi Wat Pho?


Buddha tidur tampak samping

Kaki sang Buddha
"Do not touch mother of pearls"
Pohon uang (ada lembaran uang Rupiah juga lho!)

Salah satu sisi Wat Pho

Stupa berwarna-warni yang cantik

Anak sekolah setempat sedang berkunjung ke Wat Pho
Patung Buddha di hampir setiap sudut kuil

Salah satu sudut di Wat Pho
Turis yang baik harap membayar tiket jangan seperti saya

[Little Traveler]: Bepergian dengan Pesawat Terbang

Kelanjutan dari postingan ini, saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman membawa bayi dengan pesawat terbang. Beragam kejadian yang tidak mengenakkan seperti ada penumpang terganggu dengan tangisan bayi selama perjalanan, ada penumpang yang menunjukkan muka tidak senang ketika tahu kita yang duduk di sebelah/belakang kursinya membawa bayi/balita, bayi/balita pup dalam perjalanan, dan cerita-cerita lain membuat terbang bersama bayi/balita menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian ibu. Namun, tidak berarti ketakutan itu menghambat kita untuk bepergian bukan? Dari pengalaman selama hampir 1,5 tahun terakhir bepergian dengan bayi untuk perjalanan jarak pendek maupun jarak jauh, dengan maskapai budget dan non-budget, sendiri ataupun ditemani orang dewasa lain, ada beberapa hal yang saya petik sebagai pelajaran, meskipun pengalaman setiap orang tidak sama, namun mudah-mudahan bisa berguna bagi siapapun yang tersesat ke blog ini.

Terbang dengan bayi 0-6 bulan jauh lebih mudah
Berkebalikan dengan tradisi di Indonesia yang belum terbiasa jika bayi kecil dibawa bepergian jauh, saya sendiri malah sangat menikmati membawa bayi usia 0-6 bulan bepergian jauh. Semakin muda, malah semakin gampang karena selain masih anteng, hanya minum susu, masih banyak tidur, masih relatif kecil sehingga tidak menyebabkan pegal linu apabila harus dipangku sepanjang perjalanan. Perlengkapannyapun tidak banyak, paling susu, baju ganti, popok sekali pakai, dan satu dua buah mainan.

Terbang menantang dengan bayi 6+ bulan
Memasuki usia 6 bulan, bayi kan sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada lingkungan sekitarnya. Nah, ini dia yang jadi masalah untuk kami. Ketika kami terbang ke Paris dengan pesawat pagi dari Bangkok, otomatis penumpang dikondisikan untuk tetap terjaga karena pesawat akan tiba di Paris pada sore hari, tanggal yang sama waktu setempat.Walhasil, selama 12 jam perjalanan, David tidak mau tidur karena distraksi di sekelilingnya. Ia bersikap manis sepanjang perjalanan, membalas senyuman dari setiap penumpang yang melewati bassinetnya, tidak rewel, hanya saja tidak mau tidur sepanjang jalan...pfiuuhhh...

Dalam kurun waktu ini, makanan ringan dan hiburan seperti mainan/flight entertainment wajib dimaksimalkan penggunaannya. Kami tidak membiasakan David ngemil terus menerus di luar waktu makannya, namun ketika bepergian, kami membuat perkecualian. Selama makanan membuat ia tenang, ia bisa makan sampai bosan.

Ketika bayi sudah mulai berjalan, biasanya antara 9-12 bulan, hal efektif yang bisa dilakukan pada perjalanan jarak jauh adalah mengajaknya berjalan-jalan di kabin pesawat. Untuk penerbangan jarak dekat, tidak ada pilihan selain mengusahakannya duduk tenang di kursinya atau di pangkuan dengan memberi mainan atau makanan kesukaannya.

Terbang dengan nyaman tidak selalu berarti bayi harus tidur di bassinet selama jam penerbangan
Awal saya terbang membawa bayi, yang ada di pikiran adalah kondisi ideal dimana bayi akan tidur tepat setelah take off, tetap nyenyak ketika dipindahkan ke bassinet, dan terbangun sesaat sebelum pesawat mendarat. Terdengar too good to be true, sementara kita bisa beristirahat, membaca atau menonton film.  Faktanya, dalam situasi saya, kondisi ideal itu hanya berlaku pada saat David berusia 0-3 bulan. Bagaimana setelahnya? Ia akan terbangun ketika dipindahkan ke bassinet dan ia tidak tidur sebanyak jam penerbangan. Setiap bayi itu unik, ada yang mudah tertidur karena getaran pesawat, ada yang tidak mau tidur karena terlalu banyak hal yang menarik perhatiannya. Anak saya jelas tidak termasuk kategori pertama, maka saya mencoba mengubah mindset tentang terbang nyaman bersama bayi. Membuat anak lelah bermain sebelum terbang supaya tidur di pesawat sepanjang perjalanan juga bukan solusi, karena kondisi overtired bisa jadi malah memperburuk situasi, tergantung kondisi masing-masing anak. Jadi, bagi saya, terbang nyaman itu adalah ketika bayi/balita tidak rewel. Apalagi kalau ada orang dewasa lain yang menyertai, kita bisa bergantian tidur sementara yang lain mengawasi si kecil. Dengan mengubah mindset ini, saya justru malah lebih santai secara psikologis ketika melakukan perjalanan. 

Bawa mainan favorit kemanapun pergi
Tidak dipungkiri lagi, ketika berada di tempat yang asing, mainan favorit membantu anak kecil untuk merasa nyaman karena seperti berada di lingkungan yang mereka kenal. Kami terbiasa mengeluarkan mainan satu per satu dalam satu waktu sehingga untuk perjalanan jarak jauh, stok mainan yang dibawa cukup untuk menghabiskan waktu. Untuk menjaga kenyamanan penumpang lain, mainan yang kami bawa tidak menimbulkan suara berisik.

Beberapa buku cerita dan mainan yang biasa kami bawa dalam perjalanan

Untuk bayi 0-12 bulan, memberi susu (ASI/Formula) adalah cara paling efektif membuat mereka tertidur
Hal yang kasuistis, namun dalam situasi saya, disusui adalah cara paling manjur supaya David tertidur. Sampai saat ini belum terbayang, bagaimana situasinya jika David sudah disapih nanti. Yah, untuk saat ini saya nikmati saja anugerah yang selalu bisa jadi solusi efektif disaat-saat kritis :).

Manfaatkan bassinet untuk hal lain
Meskipun bayi kami bukan tipe yang menyukai tidur di bassinet, dan ternyata orangtua yang kami temui dalam salah satu perjalanan juga mengalami hal serupa dengan putri mereka, setiap memesan tiket, kami selalu meminta bassinet. Untuk apa? Biasanya, untuk tempat bayi bermain dan untuk menyimpan makanan. Di maskapai tertentu, kalau ada pasangan dengan bayi, awak pesawat akan menawarkan salah satu orang tua untuk makan lebih dulu, tapi di maskapai lain, makanan seringkali datang berbarengan, apa tidak repot? Dalam hal ini, bassinet menjadi penyelamat :).

Punya cukup informasi tentang maskapai yang digunakan
Fasilitas bassinet bagi penumpang yang membawa bayi hanya berlaku untuk penerbangan internasional dan/atau penerbangan jarak jauh. Maskapai budget biasanya tidak memiliki fasilitas ini (saya baru punya pengalaman naik maskapai budget untuk jarak pendek saja), sedangkan maskapai non-budget mempunyai kebijakan yang bervariasi. Sewaktu saya terbang dari Bangkok ke Jakarta via Singapura, saya diberi bassinet untuk kedua rute Bangkok - Singapura dan Singapura - Jakarta padahal waktu terbang relatif pendek. Untuk Air France, berat maksimum yang diperbolehkan adalah 10 kg; Singapore Airlines, berat maksimum yang diperbolehkan 16 kg; Egypt Air, berat yang diperbolehkan antara 12-14 kg ( kalau tidak salah ingat); Garuda Indonesia, berat maksimum yang diperbolehkan 14 kg. O ya, ada maskapai yang langsung memberikan paket kebutuhan bayi atau mainan tanpa diminta dan ada pula yang tidak. Misalnya, pernah seorang pramugari mendekati kami dan mengatakan kalau kami membutuhkan popok sekali pakai atau susu, jangan ragu untuk memberitahu mereka. Berhubung kami selalu membawa perlengkapan David sendiri, fasilitas ini belum pernah kami gunakan. Sebaiknya, cek langsung dengan maskapai mengenai hal-hal tersebut sebelum terbang.

Idealnya, setiap maskapai, budget dan non-budget mempunyai sabuk pengaman khusus untuk bayi. Pengalaman saya naik Tiger Airways dan Air Asia, saya selalu diberi sabuk pengaman. Begitupun dengan maskapai lain seperti Singapore Airlines, Air France, Silk Air, dan Garuda Indonesia. Hanya ada satu maskapai yang sampai saat ini membuat kami berpikir dua kali untuk menggunakannya. Setelah kejadian ini, kami belum pernah lagi naik maskapai yang sama, mungkin sekarang kondisinya sudah berbeda dan saat itu kami sedang tidak beruntung. Kalau ada yang punya pengalaman, silakan dibagi.

Pemilihan jam terbang disesuaikan dengan kondisi bayi/balita dan anggaran
Tidak semua orang bisa selalu memilih dan mendapatkan maskapai penerbangan yang diinginkan. Cara ideal bepergian dengan anak kecil adalah memilih jam keberangkatan yang sama dengan jam tidur anak. Itu teorinya! Kecuali mereka yang berlibur dengan biaya sendiri atau yang bekerja di perusahaan kaya, orang-orang seperti kami yang bergantung pada jatah home leave kantor, tentu tidak segampang itu memilih maskapai yang diinginkan. Contoh: mengikuti teori, harusnya kami mengambil pesawat Thai Airways yang terbang malam hari dan tiba di Eropa keesokan paginya. Dengan begitu, teorinya si kecil akan tertidur pulas di pesawat. Namun karena harga tiket Thai sangat sangat mahal dibandingkan Air France, otomatis kantor akan membelikan tiket yang lebih murah, national carrier pula, dengan jam keberangkatan pagi dari Bangkok, seperti yang kami gunakan ketika David terjaga selama perjalanan. Awalnya kami berpikir untuk cari pesawat lain dengan transit yang pergi malam hari dan tiba keesokan paginya, namun setelah dipertimbangkan kembali, kami lebih memilih penerbangan langsung karena jelas menghemat waktu dan tenaga, terkecuali untuk stopover. Kondisi anak perlu diperhatikan, ada anak yang tidak peduli terang atau gelap dan sedang berada dimana, kalau sudah mengantuk dia akan tidur; ada pula anak yang setipe anak saya, tidak mudah tidur di perjalanan. Kalau begini, akhirnya kami pasrah dengan jam penerbangan dan usaha maksimal yang dapat dilakukan adalah membuat suasana bagi anak senyaman mungkin sehingga tidak rewel.

Membuat yang tidak nyaman menjadi nyaman selama di pesawat 
Dalam satu perjalanan, duduk di samping kami pasangan dengan putri berusia 17 bulan (waktu itu David berusia 13 bulan). Tidak lama setelah pesawat lepas landas, si putri kecil mulai rewel. Orangtuanya memberi susu dan memasang empeng, tidak lama diapun tertidur di pangkuan ayahnya. Beberapa saat kemudian, ia dipindahkan ke bassinet, tidak terbangun sedikitpun dan tidur selama kurang lebih 3 jam. Orangtuanya kemudian duduk santai sambil menonton film. Saya langsung memandang iri pada pasangan tersebut dan berbisik pada suami, sementara anak saya juga tertidur, tapi di pangkuan saya. Dari kejadian itu saya lagi-lagi mengingatkan diri sendiri bahwa setiap anak tidak sama, dan sekarang saya yang mengubah strategi. Sebelum David jatuh tertidur di pangkuan setelah menyusu, saya sudah siapkan bantal disekeliling saya untuk menopang David, sehingga kedua tangan saya bisa bebas bergerak, biasanya saya minta bantal ekstra. Suami menyiapkan layar monitor dan memasangkan earphone agar saya bisa tetap menonton film dengan David di pangkuan saya. Kadangkala saya memangku David yang sedang tidur sambil menyantap makanan. Pernah juga saya hanya berdua dengan David dalam satu penerbangan. Ketika tiba waktunya makan, saya sempat bingung karena ia tidak mau didudukkan di bassinet, akhirnya sementara saya makan, ia berdiri manis dengan berpegang pada lutut saya. Waktu itu usianya hampir 11 bulan dan sedang senang-senangnya berdiri. Terbukti, seringkali kita mengkhawatirkan banyak hal jika akan bepergian dengan bayi. Kenyataannya, bayi-bayi itu akan bersikap manis apabila mereka nyaman. Saya juga sudah terbiasa untuk memejamkan mata pada saat anak tidur sehingga membuat saya cukup beristirahat dan lebih berenergi dalam perjalanan. Entah karena faktor santai secara psikologis atau David yang sudah semakin pintar tidurnya (atau kombinasi keduanya), dalam perjalanan baru-baru ini, meskipun kami masih menggunakan jam penerbangan yang sama (terbang pagi dari Asia dan sampai sore hari tanggal yang sama waktu setempat di Eropa), David bisa tidur hampir setengah perjalanan pulang dan pergi..suatu kemajuan..dan saya jauh lebih segar. Saya juga sebisa mungkin tidur lebih awal pada malam sebelum keberangkatan agar punya energi ekstra untuk menempuh perjalanan keesokan harinya.

Catatan ini ditulis berdasarkan pengalaman saya membawa satu orang bayi/balita, tentu jauh lebih mudah dibandingkan dengan kisah ibu-ibu hebat yang pernah saya baca disini dan disini :). Have a safe and pleasant journeys, moms...

Monday, 14 October 2013

Seni Membesarkan Calon Pemimpin

Ibu adalah figur yang sangat saya teladani sejak kecil hingga kini, sumber kekuatan dan inspirasi saya dalam menjalani hidup. Pengalaman dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu hebat di mata saya membuat saya bertekad untuk bisa menjadi ibu terbaik bagi anak-anak saya kelak.

Kelahiran David, putra pertama kami, pada bulan Mei 2012 lalu adalah anugerah yang sangat kami syukuri setiap detiknya. Begitu kami mengetahui kehadiran David dalam rahim saya, kami berniat memberi segala yang terbaik untuknya sejak awal. Kami tidak ingin kehilangan waktu sedikitpun dalam membekali David dengan banyak hal baik sedari kandungan agar kelak ia dapat tumbuh berkembang seperti untaian doa dan harapan kami untuknya. Satu hal yang kami sadari, bahwa tantangan dalam merawat dan membesarkan David sekarang dan di masa datang jauh lebih berat dibandingkan ketika orangtua membesarkan kami dulu. Dalam hal ini, saya sebagai ibunya, dengan siapa ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama, harus dapat menjalankan peran saya sebaik-baiknya berdampingan dengan suami. Saya juga beruntung mempunyai suami yang begitu suportif dan selalu mengambil peranan dalam segala hal yang menyangkut kepentingan anak.

Perbedaan latar belakang budaya dan bangsa membuat pola pikir saya dan suami bervariasi dalam banyak hal. Meskipun begitu, diwarnai diskusi dan perdebatan dalam hal membesarkan dan mendidik anak, kami sepakat untuk menerapkan pola didik yang nantinya menghasilkan pribadi yang sehat jasmani dan rohani, berbudi pekerti dan perilaku yang baik, taat beragama namun mampu bertoleransi, kritis, jujur, bertanggung jawab, percaya diri sekaligus rendah hati, mandiri, berkarakter kuat, dan mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Dilahirkan dalam kompleksitas perbedaan nilai-nilai di budaya Timur dan Barat, tumbuh di lingkungan yang bebas dan permisif seperti negara tempat kami tinggal sekarang, membuat seni membesarkan David menjadi lebih rumit sekaligus menantang karena kami sebagai orangtua tidak ingin kelak ia mudah terseret arus pergaulan dan kehidupan yang bisa merugikan diri dan orang-orang yang menyayanginya serta orang lain.

Sejak pertama kali mendengar detak jantungnya pada usia kehamilan sembilan minggu, kebahagiaan kami tidak terlukiskan, meskipun dua kejadian keguguran sebelumnya masih menyisakan sedikit trauma untuk saya. Namun, janin dalam rahim saya ternyata sangat kuat, meskipun perjalanan jarak jauh beberapa kali mesti saya tempuh sendirian pada minggu-minggu pertama kehamilan dan penyesuaian dengan negara tempat tinggal yang baru cukup menguras energi. Dari awal kehamilan, saya belajar disiplin dengan gizi asupan yang saya konsumsi dan saya menikmati masa kehamilan dengan santai dan bahagia tanpa keluhan berarti. Mempunyai kesempatan menyusui David secara eksklusif selama 6 bulan pertama berlanjut sampai sekarang, memutar otak bersama suami untuk menyusun menu makan sehat bergizi ketika ia mulai makan makanan padat adalah aktivitas yang sangat berharga untuk saya. Kami ingin menanamkan pada David bahwa selain menjadi modal penting dalam memelihara kesehatan, makan juga adalah kegiatan yang menyenangkan dimana ia bisa bereksplorasi sekaligus belajar tertib pada saat makan dan tidak membuang-buang makanan. Namanya berurusan dengan bayi, tentu ada saat dimana semua itu gagal dilakukan dan saya hampir putus asa, namun kebiasaan ternyata kuncinya. Hasilnya, sampai sekarang David termasuk anak yang mudah dalam hal makan dan melahap hampir semua jenis sayur, buah, daging, dan umbi-umbian yang diberikan. Dalam pengalaman kami, pemberian asupan bergizi sejak dalam kandungan adalah dasar pembentukan kebiasaan makan dan modal dasar membentuk calon pemimpin yang sehat.

Sayuran favorit
 Sesuai dengan ajaran agama yang kami anut, kami berusaha memenuhi kewajiban kami sebagai orang tua yang diantaranya adalah menanamkan dasar agama yang kuat pada anak kami. Meskipun masih dalam tahap belajar, kami berusaha menjadi contoh yang baik dengan sebisa mungkin taat menjalani perintah agama. Sejak dalam kandungan, saya juga rajin memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an di rumah dan begitu David lahir, kami belajar membiasakan diri untuk tidak lupa berdo’a setiap akan melakukan segala hal. Kami juga selalu melibatkan dan mengajak David ikut serta ketika tiba waktunya untuk beribadah. Ia terbiasa bermain sendiri ketika menunggu kami selesai shalat dan tidak pernah mengganggu sama sekali. Memberikan dasar agama yang kuat adalah bekal utama supaya kelak ia menjadi pribadi yang selalu menegakkan ajaran agama dalam hidup dan kehidupannya.
 
Nanti kalau sudah besar, ibadahnya yang rajin ya, nak :)
Ketika usianya menginjak delapan bulan, kami memasukkan David pada kelas berenang khusus bayi agar ia lebih percaya diri ketika berada di air. Kelas berenang khusus bayi ini menekankan pengenalan pada air sehingga nantinya si anak diharapkan tidak takut lagi ketika tiba saatnya belajar berenang, salah satu life survival skill yang ingin kami perkenalkan pada David. Perlahan tapi pasti, masih sesekali diiringi tangisan tentunya, David mulai menikmati saat-saat ia berada di kolam dengan saya di sampingnya, belajar sambil bermain dengan teman-teman sebayanya, dan berteriak-teriak senang sambil menggoyangkan kaki kecilnya agar tetap mengambang. Seorang calon pemimpin hendaknya mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu bertahan hidup dalam segala situasi dan mempunyai fisik sehat, cikal bakal dari mental yang sehat.
Belajar berenang bersama Ibu
Disiplin menjadi syarat mutlak yang dibutuhkan dari seorang pemimpin. Hal paling utama adalah belajar disiplin untuk diri sendiri. Semenjak kehadirannya, kami bersama-sama memulai hidup disiplin dalam segala hal. Kalau dipikir lagi, justru kamilah yang belajar banyak dari sosok mungil ini, termasuk belajar disiplin. Kami selalu memuji dan menghargai sekecil apapun usahanya dalam melakukan sesuatu. Kami juga selalu mengatakan bahwa kami sayang dan bangga dengan apa adanya David, sehingga dalam hal apapun, kami berharap ia dapat menaruh kepercayaannya 100% pada kami, orang tuanya. Hasilnya, untuk balita berusia tujuhbelas bulan, David termasuk anak yang mudah diatur. Lagi-lagi, bohong kalau saya bilang proses ini berjalan mulus tanpa rintangan, seringkali kesabaran saya diuji oleh tingkah lakunya, namun pada saat-saat seperti itu, suami tidak bosan mengingatkan pada tujuan awal kami mempunyai anak dan bahwa semakin bertambah usia anak, semakin berat tantangan untuk menghadapi tingkah laku mereka dengan kepala dingin. Bagi kami, menerapkan kedisiplinan berlandaskan kasih sayang dan penghargaan akan membantu anak menghargai dirinya sendiri dan orang lain.

Seorang pemimpin juga harus tangguh, berani menghadapi tantangan, dan peduli terhadap sekelilingnya. Cara kami memupuk karakter ini pada David ialah dengan membawanya bepergian. David mulai dibawa bepergian ketika usianya baru menginjak 17 hari. Kami yakin, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti, dengan bepergian melihat dunia luar, berada di alam bebas, bertemu dengan banyak orang, kelak ia akan belajar menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh dan pantang menyerah, selalu mensyukuri keberadaan dirinya dan menghargai ciptaan-Nya, menjadi sosok rendah hati dan pemberani. Sampai saat ini, calon pemimpin kecil kami ini sudah dibawa trekking menikmati keindahan alam di beberapa taman nasional dan kawasan konservasi di Thailand dan Perancis, menyusuri kawasan gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat, tidur di tenda pada saat berkemah di Inggris, bermain bersama anak-anak kecil lainnya di satu perkampungan di Bandung, dan bertemu banyak orang dari beragam suku bangsa dan agama di berbagai tempat. Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan orang-orang sekitarnya serta kecintaan terhadap alam salah satunya ialah dengan membawa bepergian dan melakukan aktivitas di alam. 
Ikut membantu mendirikan kemah

Akrab dengan teman baru dari Myanmar di Shwedagon Pagoda
Trekking dengan Ibu

Serius mengamati domba yang sedang merumput
Mengutip pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman bahwa “Not all readers are leaders, but all leaders are readers”, kami ingin mengenalkan kepada David bahwa “membaca” adalah hal yang sangat menyenangkan dan lebih bermanfaat dibandingkan menonton televisi atau bermain games. Di masa sekarang dengan maraknya tayangan tidak bermutu di televisi dan invasi gadget yang menawarkan berbagai cara untuk membuat anak tenang dan beraktivitas sendiri, tidak mudah berpegang pada cara konvensional seperti yang kami lakukan. Keuntungan yang kami dapatkan dari kebiasaan membacakan buku ini adalah selain memperkuat interaksi antara kami bertiga, keahlian David untuk bermain sendiri perlahan semakin terasah tanpa saya harus khawatir atau mengejar-ngejarnya kesana kemari. Untuk menjadi seorang pemimpin, diperlukan kemampuan berpikir kritis, wawasan yang luas, dan rasa ingin tahu yang besar, dan gemar membaca adalah kuncinya

Asyik membaca buku sendiri sebelum tidur
Mensyukuri kondisi saya sebagai ibu rumah tangga, saya merawat David sendiri tanpa pengasuh. Sisi positifnya adalah hubungan kami begitu dekat dan saya beruntung tidak melewatkan setiap tahap penting tumbuh kembang David, namun konsekuensinya adalah ia menjadi sangat tergantung pada saya. Mengingat hal itu, sedikit demi sedikit kami mengajarkan kemandirian diantaranya dengan mencontohkan untuk selalu membereskan barang-barang yang ia mainkan, bermain sendiri, makan dan minum sendiri, sampai memilih dan mengambil baju atau sepatunya sendiri ketika akan pergi berjalan-jalan, meskipun seringkali berbeda warna atau pasangan. Kami juga memasukkannya ke kelompok bermain beberapa kali seminggu dan saya membawanya ke taman bermain umum setiap sore agar ia dapat belajar berinteraksi dengan teman-teman seusia. Memupuk kemandirian sejak dini membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan meningkatkan percaya diri anak karena tidak perlu bergantung pada bantuan orang lain

Tidak ada sekolah khusus menjadi orang tua, dalam hal ini menjadi ibu, namun setiap ibu pasti tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. Bagaimanapun karakter David setelah dewasa nanti, saya senantiasa percaya dan berpikiran positif bahwa sekolah pertama anak adalah orangtua (ibu) dan peran ibu sangat penting dalam pembentukan karakter keturunannya.

“We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future.” – Franklin D. Roosevelt

Tulisan ini disertakan pada Lomba Penulisan Artikel “Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil” #LombaBlogNUB

Thursday, 3 October 2013

Mendaki Wat Arun

Dari sekian banyak kuil di Bangkok, salah satu kuil Buddha tercantik menurut saya adalah Wat Arun Rajwararam (Wat Arun) yang dikenal juga sebagai The Temple of Dawn. Kalau naik kapal penumpang Chao Phraya River Express seharga THB 40 per orang dari stasiun Saphan Taksin menuju Grand Palace, lokasi kuil ini ada di sebelah kiri sungai Chao Phraya. Turun di Tha Tien Pier, pengunjung biasanya berjalan keluar untuk menuju Grand Palace dan Wat Pho, sementara kalau mau ke Wat Arun, ambil kapal lain untuk menyeberangi sungai seharga THB 3 per orang.

Nama Wat Arun berasal dari Aruna, Dewa Fajar dalam mitologi India, dan arsitekturnya merupakan representasi gunung Meru, yaitu pusat dunia dalam kosmologi Buddha. Dibanding Wat Phra Kaew/Grand Palace atau Wat Pho, menikmati Wat Arun memang butuh sedikit perjuangan karena harus menaiki anak tangga yang lumayan curam dan sempit. Setelah membayar tiket masuk seharga THB 50 per orang, pengunjung bisa langsung menuju bangunan utama atau berfoto dengan pakaian khas Thailand yang disewakan dengan harga THB 200 di beberapa kios di dalam kompleks kuil.

Yang unik dari kuil ini, selain anak tangganya yang sangat curam, juga bangunannya yang indah dihiasi keramik berwarna-warni yang cantik. Selain itu, kompleksnya juga relatif kecil sehingga pengunjung bisa menikmati keindahan dan berfoto di lingkungan Wat Arun sepuas-puasnya. Salah satu tempat yang strategis untuk menikmati Wat Arun menjelang matahari terbenam adalah dari sebuah cafe bernama The Deck yang terletak di seberang sungai Chao Phraya. Jangan tertipu dengan foto-foto disini, karena fotografernya amatiran. Aslinya, Wat Arun jauh lebih cantik dan menarik :).

Informasi lengkap mengenai Wat Arun dapat dilihat disini.

Wednesday, 2 October 2013

[Info] Mengurus Perpanjangan Visa Kunjungan di Thailand

Sebagai sesama negara ASEAN, terkecuali Myanmar, pemegang paspor Indonesia dapat mengunjungi Thailand dan tinggal selama 30 hari tanpa visa. Pada saat ibu saya datang kesini, karena satu dan lain hal, masa tinggalnya harus diperpanjang beberapa hari. Idealnya, ibu saya membuat aplikasi visa di Kedubes Thailand di Jakarta yang berlaku selama tiga bulan, tapi karena tidak memungkinkan, waktu itu kami berniat untuk mengurusnya di Bangkok. Ada dua alternatif untuk perpanjangan masa tinggal ini, yaitu:

1. Tidak mengurus perpanjangan masa tinggal dan memilih untuk membayar overstay fee sebesar THB 500/hari setelah melalui meja Imigrasi di bandara dengan maksimum denda THB 20,000.

2. Mengurus perpanjangan masa tinggal untuk pemegang turis visa dengan maksimum masa tinggal 30 hari.
Meskipun kami harus mengurusnya di Chaengwattana, prosedur pengurusannya relatif mudah dan cepat. Syarat-syarat yang diperlukan adalah sebagai berikut:
a. Form TM no. 7 yang dapat diunduh di www.immigration.go.th
b. Foto 4x6 sebanyak 2 lembar
c. Fotokopi paspor dan halaman dimana terdapat cap tanggal terakhir masuk ke Thailand
d. Membayar biaya THB 1,900

Immigration Division
The Government Complex Commemorating His Majesty Building B, 2nd Fl., South Zone
Chaengwattana Road soi 7
Laksi, Bangkok
Jam kerja: 08.30 - 12.00

Catatan:
BTS: Mo Chit - dilanjutkan dengan taksi.

[Info] Pelaporan Kelahiran Anak dan Pembuatan Paspor Anak di Bangkok

Siang tadi seorang teman kirim pesan di WA, menanyakan tentang prosedur buat paspor Indonesia untuk ketiga anaknya. Daripada lupa atau catatannya hilang, lebih baik saya tulis disini saja, mudah-mudahan berguna bagi yang membutuhkan, kalau ada :).

Segala urusan yang berhubungan dengan KBRI akan menjadi lebih mudah apabila kita sudah melakukan lapor diri sejak pertama kali datang di satu negara, dalam hal ini, Thailand. Prosedur lapor diri sebenarnya mudah saja, tinggal datang ke bagian konsuler KBRI di Petchburi Road dengan membawa 1) paspor; 2) pas foto; 3) surat keterangan dari kantor tempat suami/istri bekerja bila Anda adalah dependent; 4) fotokopi halaman identitas diri paspor suami/istri bila Anda adalah dependent. Di loket konsuler, petugas akan memberikan formulir lapor diri untuk diisi. Setelah urusan lapor diri selesai, selanjutnya mau mengurus dokumen apapun tidak masalah, karena pertanyaan pertama yang diajukan petugas konsuler ketika kita menyampaikan maksud kedatangan adalah apakah kita sudah melaporkan diri ke KBRI atau belum.

Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan Surat Bukti Pencatatan Kelahiran dari KBRI (membutuhkan satu hari kerja) adalah:
a. Akte Kelahiran (asli dan fotokopi) yang dikeluarkan oleh distrik setempat, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dilegalisasi oleh Kementerian Luar Negeri Thailand (Ministry of Foreign Affairs/Consular Affairs).
b. Fotokopi paspor kedua orangtua
c. Buku Nikah asli dan fotokopi
d. Pas foto ukuran 4x6 sejumlah 1 lembar dengan latar belakang merah
e. Mengisi Formulir Permohonan


Penerbitan Surat Bukti Pencatatan Kelahiran dari KBRI setempat dikenai biaya USD 10. Per bulan Januari 2017, untuk memperoleh surat ini tidak dikenakan biaya sama sekali alias GRATIS. Hidup KBRI Bangkok! :)

Persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat paspor Indonesia untuk anak (membutuhkan tiga hari kerja) adalah sebagai berikut:
a. Akte Kelahiran (asli dan fotokopi) yang dikeluarkan oleh distrik setempat, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dilegalisasi oleh Kementerian Luar Negeri Thailand (Ministry of Foreign Affairs/Consular Affairs) dan Surat Bukti Pencatatan Kelahiran dari KBRI.
b. Buku Nikah asli dan fotokopi
c. Paspor kedua orangtua asli dan fotokopi

d. Paspor asing anak (untuk anak dari pernikahan campuran misal ibu WNI dan bapak WNA, paspor WNA anak harus diurus terlebih dahulu). Catatan: Awalnya saya mengira paspor anak dari kewarga negaraan bapak harus diurus terlebih dahulu sebelum membuat paspor Indonesia, kenyataannya, dari pengalaman seorang teman yang akan mengurus paspor untuk anaknya (bapak WNI dan ibu WNA), si anak harus memperoleh paspor dari kewarganegaraan ibunya, baru kemudian dapat mengurus pembuatan paspor Indonesia-nya. Mungkin ada yang tahu kenapa harus paspor asingnya dulu yang diurus baru kemudian dapat mengurus paspor Indonesia? **Update: Berdasar penjelasan staf konsuler, prosedur pembuatan paspor yang mengharuskan anak memiliki paspor asingnya dulu sebelum memiliki paspor Indonesia terkait dengan status si anak sebagai pemegang kewarganegaraan ganda terbatas yang tertuang dalam affidavit.
e. Pas foto ukuran 4x6 sejumlah 4 lembar dengan latar belakang merah***
f. Uang sebesar **USD 46 (untuk pembuatan paspor dan affidavit) dan sebagai informasi, untuk pembuatan dokumen apapun di KBRI Bangkok, hanya mata uang US Dollar yang diterima.
g. Mengisi formulir permohonan pembuatan paspor
h. Surat pernyataan yang ditandatangani orangtua (non-Indonesia) dan menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak berkeberatan anaknya mempunyai paspor Indonesia


Khusus untuk anak hasil pernikahan campuran, ada lagi proses pembuatan affidavit yang dapat diajukan bersamaan dengan pembuatan paspor. Syarat pembuatan affidavit adalah:
a. Paspor asing anak
b. Surat permohononan (yang ditandatangani)** kedua orang tua dengan subjek "Permohonan Affidavit Kewarganegaraan Ganda Terbatas" yang ditujukan kepada Atase Imigrasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok

Catatan: Info tentang prosedur pembuatan paspor Indonesia untuk anak dan affidavit ini akurat pada saat saya membuat paspor dan affidavit untuk David bulan Juni 2012. 

Perlu diingat bahwa kebijakan KBRI di setiap negara dapat berbeda-beda. Maka, setelah semua dokumen disiapkan, pastikan lagi untuk mengecek kelengkapan dokumen dengan staf konsuler KBRI setempat via telepon.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok
600-602 Petchburi Road
Ratchatewi, Bangkok 10400, Thailand
Phone: (66-2) 252 3135-40
Fax: (662) 255 1267, (66 2) 255 1261
e-mail : kukbkk@ksc.th.com 


** Per Desember 2014 saya melalui prosedur yang sama untuk pembuatan paspor dan affidavit dan mengalami beberapa perubahan
***Per Januari 2017, tidak perlu lagi membawa pas foto sendiri karena foto akan dibuat langsung di tempat

Tentang Perjalanan: Menyerempet Bahaya

Gara-gara gagal berkali-kali mengakses aplikasi Travel Brain (TB) yang sebelumnya bebas masalah, akhirnya menyerah juga, jadi untuk sementara sampai ide lain datang, scorecard nan buram dan butut itu mau tidak mau dipertahankan dulu :(. Kenapa saya ngotot pakai TB? Karena analisisnya, berdasarkan rekaman perjalanan kita, bisa menunjukkan kita termasuk tipe traveller yang mana...lumayan untuk seru-seruan, bukan setipe aplikasi lain yang cuma kasih ulasan dan berapa banyak kota yang sudah kita kunjungi. Menurut analisis versi TB "I am an explorer that flirts with danger". Masa sih?

Kalau diingat-ingat, ada beberapa perjalanan saya yang memang menyerempet bahaya, itupun baru sadarnya belakangan. Sekarang, ingat saja nyali sudah menciut :p. Saya baru mulai jalan-jalan itu tahun 2005. Perjalanan pertama saya dengan beberapa teman ke Dataran Tinggi Dieng sangat berkesan, berkat seorang teman baik yang bersikeras membayari tiket pesawat saya, saya ikut serta. Waktu itu saya belum lama bekerja, jadi banyak pertimbangan sebelum mengeluarkan uang untuk kebutuhan tersier seperti jalan-jalan. Perjalanan perdana ke Dieng juga mempunyai kisah tersendiri. Ceritanya, bapak pemilik penginapan tempat kami tinggal begitu semangat membanggakan putranya dan mencoba mempromosikannya pada saya, hanya karena saya satu-satunya yang berasal dari kota Bandung, tempat dimana putranya itu sekarang tinggal. Setiap ada kesempatan, si bapak selalu mengajak ngobrol dan menyinggung putranya dan sulit untuk diinterupsi...sampai akhirnya keempat teman saya ikut nimbrung mengalihkan pembicaraan, hehehe...

Kembali ke soal bahaya, seserius apa kebodohan yang saya lakukan ketika travelling? Serius sekali. Misalnya, saya pernah naik kapal cepat di perairan Mentawai, waktu itu kami berada di laut lepas dan cuaca cerah, karena kami berlayar dengan penduduk setempat, saya percaya 100%. Saat itu tidak ada satupun dari kami yang menggunakan jaket pelampung. Alhamdulillah kami selamat tiba di pulau tanpa gangguan cuaca berarti. Beberapa tahun kemudian, kejadian ini berulang lagi. Waktu itu kapal cepat yang saya tumpangi berlayar mengelilingi pulau Gaua di Vanuatu. Kapal yang tadinya bermuatan tujuh orang bertambah menjadi empat belas orang karena ada beberapa penduduk desa yang kami lewati ikut menumpang (desa-desa di sekeliling pulau tersebut sangat terpencil dan sulit diakses karena pantainya yang berkarang dan ombaknya ganas). Di tengah perjalanan, cuaca memburuk, turun hujan deras dan kabut begitu tebal sehingga bibir pantaipun tidak terlihat sama sekali, dan bodohnya lagi, jaket pelampung disimpan di bagian depan kapal, sehingga tidak ada seorangpun yang mengenakannya. Disaat ombak semakin mengganas sampai mencapai ketinggian kurang lebih dua meter, mesin kapal mati sehingga kapal terombang-ambing, dan salah satu penumpang kapal terjatuh ke laut. Apa yang ada di pikiran saya ketika itu? kematian! Saya membatin, kalau memang hidup saya harus berakhir di sini, di tengah lautan, siapa yang mengetahui keberadaan kami? Suami saya memang memonitor kepergian kami, tapi selama beberapa hari di pulau, komunikasi terputus karena tidak ada sinyal telepon. Berbagai pikiran buruk muncul silih berganti, sambil saya berdoa tetap memohon keselamatan. Setelah entah berapa lama, badai mereda dan kami berhasil pulang dengan selamat, meskipun para penumpang kapal, termasuk saya,  masih shock dengan kejadian itu. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Kejadian lain, waktu saya dan seorang teman kebetulan sedang transit di bandara JFK. Saya berniat bertemu dengan teman saya yang kebetulan sedang bertugas disana. Pesawat kami dari Guatemala City tiba malam hari dan pesawat berikutnya ke Heathrow baru berangkat keesokan paginya. Alhasil, kami pulang dari pusat kota saat dinihari menuju ke bandara. Di dalam gerbong subway yang kami tumpangi hanya ada beberapa orang, yang satu persatu kemudian turun di tujuan mereka masing-masing. Setengah perjalanan, ada seorang pria kulit hitam yang mulai menyapa kami, tampaknya dia sedikit mabuk. Teman saya yang berasal dari Kolombia, meskipun cukup terbiasa dengan situasi ini, tetap merasa takut, apalagi hanya tinggal kami bertiga di gerbong itu dan satu orang wanita kulit hitam yang tampak tidur di kursinya. Awalnya dia hanya memandang kami dari kejauhan, lama kelamaan mengajak bicara. Kami berdua berusaha tenang saat menjawab meskipun dalam hati takutnya setengah mati. Begitu pria itu mulai bicara dan berjalan mendekat, yang terpikir adalah turun dari kereta secara mendadak. Benar saja, pria itu tampak semakin berani, sambil mengeluarkan kata-kata kotor, ia berjalan mendekati tempat duduk kami di dekat pintu keluar. Kami yang sudah ketakutan masih pura-pura tenang dan tiba-tiba langsung lari keluar kereta sesaat sebelum pintu tertutup dan kereta melaju kembali membawa pergi si pria gila yang masih berteriak-teriak dari jendela. Di stasiun tempat kami turun hanya ada kami berdua dan seorang bapak petugas kebersihan yang sedang menyapu. Baru kali itu saya menginjakkan kaki di stasiun subway di New York, dan kesannya menyeramkan, apalagi pada jam 3 dini hari! Tidak lama menunggu, kami naik lagi kereta lain yang kebetulan diisi beberapa penumpang yang akan pergi ke bandara..legaaa...

Di lain waktu, saya bersama seorang teman menginap di satu hostel di kota Edinburgh. Kamar yang kami tempati itu adalah mix dorm. Saya lupa kenapa waktu itu kami pilih mix dorm, karena biasanya kalau jalan-jalan, kami selalu pilih female dorm. Namanya hostel, saat siang sampai malam hari pastinya selalu kosong, dan teman-teman sekamar kami baru pulang menjelang dini hari. Suatu malam, kami dan satu orang lagi sudah tidur ketika ada orang menggedor pintu kamar. Teman saya yang tidur di dekat pintu masuk otomatis terbangun dan membukakan pintu. Ternyata, orang yang menggedor pintu tersebut adalah salah satu penghuni kamar yang mabuk berat. Sambil marah-marah pada teman saya, dia berjalan menuju tempat tidurnya dan meracau sepanjang malam. Semalaman saya tidak bisa tidur karena takut terjadi apa-apa, meskipun di dalam kamar ada teman saya dan satu orang perempuan lagi. Untung saja, keesokan harinya kami sudah check out dari hostel itu. Tapi, setelah kejadian itu, kami tetap tidak kapok untuk menginap di hostel lagi, malah dalam perjalanan berikutnya di Derry, kami bertiga perempuan menginap dengan lima orang pria sebagai teman sekamar kami, yang kebetulan semuanya adalah orang baik-baik.

Pengalaman lain, waktu saya untuk pertama kalinya menumpang pesawat Cessna 207 berkapasitas 6 tempat duduk. Karena pesawatnya kecil, ketinggian jelajahpun rendah. Kalau cuaca cerah, pastinya asyik mengamati pulau-pulau dan air laut berwarna biru dan hijau di bawah. Sayangnya, waktu itu cuaca buruk, sehingga terpaan angin dan hujan deras sangat terasa menggoyang badan pesawat. Perjalanan selama 35 menitpun serasa seabad karena saya takut, meskipun pilotnya cukup meyakinkan.  Pengalaman pertama dan  terakhir (sampai detik ini) cukup berkesan meskipun saya akan pikir-pikir dulu kalau harus mengulanginya lagi sekarang.

Cerita lain yang kalau diingat lagi sekarang "kok bisaaa???" adalah waktu saya ikut mendaki gunung Santa Maria (3772 m) di Guatemala. Pendakian kurang lebih delapan jam di malam hari demi mendapat sunrise di puncak gunung. Saya bukanlah anggota pecinta alam, olahragawati, atau sejenisnya, tapi entah kekuatan darimana, akhirnya bisa juga saya mengikuti pendakian itu, padahal kami tidak diwajibkan untuk ikut pendakian. Sayang, karena udara dingin yang begitu menusuk memperparah sakit di lutut saya, sehingga begitu sampai puncak, yang ada bukannya semangat foto-foto, malah meringkuk kedinginan di dekat api unggun..menyesalll!!! Keesokan harinya, kami turun melalui jalan yang kami lewati tadi malam, dan ternyata medannya cukup berat..untung jalannya malam hari, kalau saja saya tahu kondisi medannya, mungkin saya sudah kalah sebelum perang.

Di Guatemala juga, saya trekking di gunung Pacaya dan berjalan di atas batuan yang hangat, seolah dapat merasakan lava bergolak di bawah kaki saya. Didampingi oleh staf dari otoritas setempat, kami dibawa ke tempat yang relatif aman untuk dikunjungi. Jenis lava yang keluar dari gunung ini adalah basaltik, yaitu lava yang mengalir pelan dengan kecepatan rata-rata 1 km/jam. Meskipun gunung tersebut berada dalam pengawasan otoritas setempat dan kunjungan kami juga didampingi oleh staf mereka, membayangkan dikejar-kejar aliran lava seperti di film-film membuat saya ingin cepat-cepat pulang.

Jadi, analisis TB bahwa saya suka menyerempet bahaya cukup realistis, bukan karena saya pemberani, tapi lebih karena nekad dan sedikit bodoh, hehehe...

Ada teman-teman yang punya pengalaman menegangkan sewaktu jalan-jalan? Cerita doong...