Thursday, 25 July 2013

Babywearing Style

Even babywearing has its own style. Here are our babywearing styles for the past fourteen months :)

Babywearing Papa proudly carried his 17-day old baby in Manduca, June 2012
Traditional batik fabric comfortably wrapped the 3-month old David, August 2012
Sound asleep in Bobitawrap, September 2012

Another style in Bobitawrap, September 2012
Manduca's great help when we hike, June 2013

Carrying a 13-month old is not that heavy thanks to Manduca, June 2013


How's your babywearing style?

Wednesday, 24 July 2013

The first two weeks

Entering the second week, things seem to be working a bit better for my little one at the daycare. The first week was full of drama every time I dropped him off and the second week just started today, since two last days were holidays here. To be honest, I find it quite difficult to let someone else look after my son, even only for three to four hours a day. I am worried that he would not eat his meals, that he would cry all the time, that he would fall and bump into hard surface, that he would eat sugary sweets or cookies, among others. However, I do realize that there are things we can't control so, in the end, a bit of compromise here and there and a bit of effort to put my trust in the daycare staff are all I need to do.

Obviously, there are good things about sending him to the daycare as well. He cries much less at home, he often plays on his own with or without me next to him, and he learns to dance while singing a song :). Sooner or later, I'm pretty sure that he will enjoy his time at the daycare and I'll have his tiny hand waving at me with smile when I drop him off in the morning. Stay happy and healthy, little D...I love you to the moon and back!

Saturday, 20 July 2013

Masa Tua

Dulu saya berpikir naif bahwa dimasa tuanya, seseorang akan selalu ada yang menjaga, kalau tidak anak sendiri mungkin saudara jauh. Pemikiran ini muncul karena itulah yang saya lihat di lingkungan saya selama ini.  Pernah ada saudara nenek yang sakit dan sebatang kara sehingga almarhumah nenek saya memutuskan untuk membawa beliau dan mengurusnya sampai saudara tersebut meninggal dunia. Kakek dan nenek saya juga diurus oleh anak-anaknya sejak mereka sakit sampai menghembuskan napas terakhir. Mempunyai anak sejumlah nyaris satu lusin ada untungnya, terutama disaat seperti ini, karena yang menguruspun bisa bergantian.
Di mata saya waktu itu, rumah jompo  bukan pilihan ideal seseorang untuk menghabiskan masa tua dan ada juga komentar yang pernah saya dengar bahwa sungguh tega orang yang memasukkan orangtuanya ke rumah jompo. Terkesan bahwa si anak tidak mau repot mengurus orangtuanya. Tapi apakah benar begitu?
Kilas balik ke beberapa minggu yang lalu ketika kami mengunjungi kakek suami saya di rumah jompo. Usia beliau 92 tahun, menderita Alzheimer, dan masuk ke rumah jompo semenjak nenek meninggal beberapa bulan lalu. Awalnya mereka tinggal berdua di rumah dan ada petugas dari dinas sosial yang datang mengurus keperluan mereka setiap hari. Selain itu, anak2nyapun bergantian datang setiap pekan.
Sore ketika kami datang ke rumah jompo tempat kakek tinggal, ada aktivitas sedang berlangsung di taman depan. Kami mencari kakek namun beliau tidak ada disana. Memasuki ruangan utama, ada sekelompok orang sedang bermain kartu, membaca, atau hanya duduk diam sedangkan di ruangan lain ada pula yang menonton televisi. Beragam kondisi mereka, ada yang masih sehat dan ada pula yang sudah menggunakan alat bantu seperti kursi roda. Kami menemui kakek sedang tertidur dalam posisi duduk di kursi dekat jendela, di sebelah seorang wanita yang tersenyum ketika kami mendekat. Saya menitikkan air mata melihat kondisi beliau, berbeda dengan empat tahun lalu saat pertama bertemu. Ketika itu beliau sudah pelupa tapi fisiknya masih sehat dan hobi berjalan-jalan mengelilingi kebun mereka yang luas sambil bernyanyi riang. Beliau juga suka melucu...manis sekali. Kami mencoba mengajaknya berbicara namun rupanya terlalu berat untuk membuka mata...hanya sesekali beliau menjawab dan kemudian tertidur kembali. Sementara wanita di sebelah kakek setiap 10 menit sekali menanyakan hal yang sama pada kami. Akhirnya kami berjalan-jalan di taman sambil menunggu kakek bangun. Lagi-lagi perhatian saya tersita oleh penghuni rumah jompo yang kami temui selama berada disana. Tampaknya mereka bahagia berada disana, dengan teman seusia mereka, mendapat perawatan dan tempat tinggal yang baik.
Pandangan saya tentang rumah jompo perlahan berubah. Topik ini juga ternyata menjadi pembahasan di kalangan teman2 pengajian. Kami sudah mulai berpikir apa bekal yang diperlukan dimasa tua (jika diberi umur panjang) nanti agar tidak bergantung pada anak. Salah satunya yang terpikir adalah menabung sehingga tidak perlu mengandalkan anak untuk hal finansial dan jika sekiranya sudah tidak mampu hidup sendiri, lebih baik masuk rumah jompo selagi masih bisa bersosialisasi dengan sesama penghuni.
Kemandirian di masa tua ini mengingatkan pada orang-orang yang saya kenal, diantaranya seorang wanita berusia 72 tahun yang aktif menjadi relawan di berbagai tempat untuk life skills education, pria berusia 88 tahun yang masih menyetir mobil sendiri dan berprinsip dimasa tuanya tidak mau menyusahkan orang lain, dan wanita yang belajar menyetir mobil diusia 60 tahun setelah suaminya meninggal dunia.
Para penghuni rumah jompo itu dulunya mungkin seperti orang-orang yang saya ceritakan diatas, sampai pada satu waktu mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Kakek sendiri dulunya adalah dokter yang bertugas dirumah jompo tersebut dan sekarang beliaulah yang mendapatkan perawatan disana.
Hal-hal seperti ini mengingatkan saya kembali bahwa waktu harus digunakan sebaik mungkin sebelum tiba masa tua, sakit dan penyesalanpun menjadi tidak berguna; serta selalu bersyukur untuk setiap hal baik yang terjadi pada kita, sekecil apapun.

Thursday, 18 July 2013

10 years and counting...

Gara-gara baca postingannya Noni tentang pulang, jadi kepikiran untuk nulis tentang ini. Kebetulan bulan ini genap 10 tahun saya meninggalkan rumah untuk hidup sendiri.

Tahun 2003 saya hijrah ke Jakarta karena pekerjaan. Untuk seseorang yang lahir dan besar di Bandung dan tidak pernah membayangkan bisa hidup di ibukota yang besar dan tidak bersahabat, keputusan ini cukup berani. Alasan saya waktu itu karena ingin mengikuti jejak teman-teman kuliah yang sudah lebih dulu pindah ke Jakarta dan sekaligus berharap siapa tahu bertemu jodoh disana ;p. Saya ingat candaan di kalangan teman-teman kalau sejauh-jauhnya orang Bandung merantau, ya ke Jakarta, berbeda dengan orang-orang yang berasal dari pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan daerah lainnya.

Beberapa tahun saya di Jakarta, saya belajar mencintainya, saya kangen ketika ingat semua kenangan di kota itu dan selalu antusias apabila sedang berada disana. Jakarta malah menjadi rumah saya saat itu walaupun hanya dalam bentuk sebuah kamar kos. Makna rumah untuk Bandung mengalami pergeseran secara perlahan. Saya pulang ke Bandung hanya untuk melepas rindu pada ibu, sebatas itu.

Empat tahun kemudian, upaya mengejar mimpi membuat saya harus meninggalkan Jakarta, kali ini tidak tanggung jauhnya dan merupakan pengalaman pertama saya tinggal di luar negeri. Satu setengah tahun sebagai mahasiswi pascasarjana di Bristol, Inggris meninggalkan begitu banyak kenangan manis dan pengalaman berharga. Sepotong hati saya tertinggal disana. Sewaktu disini, definisi pulang adalah pulang ke Indonesia karena saya tahu saya tidak akan menetap lama disini, walaupun usaha ke arah itu sempat saya lakukan dengan melamar pekerjaan.

Takdir berkata lain, saya gagal memperoleh pekerjaan namun saya mendapat peluang kerja di Thailand dan Singapura. Lucunya, pada tahun 2002 saya sempat mengajukan aplikasi pada salah satu organisasi internasional yang berbasis di Bangkok namun hasilnya nihil..tujuh tahun kemudian saya malah mendapat tawaran pekerjaan dari organisasi yang sama!Karena pertimbangan satu dan lain hal, saya memutuskan perhentian saya berikutnya adalah Singapura.

Satu tahun yang begitu mengesankan hidup di negara kecil yang hebat ini, potongan lain dari hati saya tersimpan disana. Saya belajar banyak hal dari orang-orang hebat disekeliling saya dan membangun persahabatan baru. Saya meninggalkan Singapura dua minggu sebelum hari pernikahan, bersamaan dengan selesainya kontrak kerja.

Setelah menikah, selama beberapa bulan saya kembali ke rumah lama, yaitu Jakarta...cinta lama bersemi kembali..sampai tiba waktunya kami pergi ke surga Pasifik Selatan, yaitu Port Vila, Vanuatu dengan status saya sebagai trailing wife alias ikut suami. Genap satu tahun masa tinggal kami di pulau cantik ini, kesempatan lain datang dan kamipun menyambutnya...kepindahan ke Bangkok!

Hampir dua tahun berlalu, dan kami masih belum tahu sampai kapan dan kemana akan pergi setelahnya..memutuskan hidup nomaden seperti ini membuat kami kesulitan menentukan dimana rumah kami sebenarnya dan kemana tujuan pulang kami. Untuk saya saat ini, rumah adalah Bangkok, tempat kami bertiga menetap. Ah, andai saya bisa membawa Ibu tinggal bersama kami disini, tentu akan jauh lebih mudah menentukan definisi rumah, yaitu dimana orang-orang yang saya cintai berkumpul.

Sepuluh tahun yang lalu saya keluar dari rumah untuk kemudian menemukan rumah-rumah lain yang membuat saya melalui proses menjadi seperti sekarang dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat.

So, ten down, many more nomaden years to go :)

Tas dan Mimpi Melihat Dunia

Apa sih sahabat perempuan selain berlian? Hm, mungkin tas salah satunya. Sebagai perempuan yang tidak hobi mengoleksi keduanya, tidak heran kalau saya sempat terhenyak melihat harga sebuah tas bermerek di salah satu toko di kawasan Champs-Élysées seharga 14,800 Euro! Berulang kali saya lihat harga yang tertera, tapi sebanyak itu pula mata saya melihat angka yang sama. 

Pertama kali saya masuk toko tersebut bersama seorang teman baik beberapa tahun yang lalu, kami hanya masuk kurang lebih 5 menit karena penasaran dengan harga-harga produknya. Melihat harga sebuah dompet kecil saja sudah hampir 500 Euro ketika itu (tahun 2008), kamipun malas dan bergegas keluar karena tidak mampu membeli. Kali kedua, saya berada di dalam toko selama kurang lebih 45 menit karena membelikan titipan teman dan mempunyai kesempatan untuk lihat-lihat kiri-kanan. Makin ke dalam, harga produk yang ditawarkan jelas makin mahal, mulai dari ratusan, ribuan, sampai belasan ribu Euro, dan ada beberapa bagian display yang tidak tertera harganya.

Pastinya ada harga ada kualitas, dan jelas-jelas merek ini sudah melegenda, tapi terus terang logika saya sulit menerima bahwa ada saja orang yang membeli produk-produk tersebut, dengan alasan sebagai kolektor tetap atau hanya sekedar gengsi mengikuti pergaulan. Berbeda dengan butik-butiknya yang pernah saya lihat di beberapa kota di Asia, jumlah pengunjung dibatasi dan disediakan jalur antrian untuk masuk, sedangkan di pusatnya, suasana toko lebih mirip toko biasa dengan pengunjung berjubel, baik yang berniat membeli atau hanya melihat-lihat saja. Ada beberapa orang Indonesia yang saya temui, terdengar dari bahasa dan gayanya, yaitu tunjuk aneka barang, pilih sana-sini, tapi hanya sebatas itu :D, walaupun ada juga yang langsung tunjuk bungkus. Tuh, siapa bilang orang Indonesia miskin??? Oya, sebagian besar pengunjung toko ini adalah orang Asia, apakah ini bukti bahwa orang Asia lebih makmur, atau lebih berselera tinggi, atau lebih peduli pada penampilan luar dan merek? Sampai saya kembali ke hotel, pikiran saya masih di toko tersebut. Rasanya sulit diterima hati saya untuk membeli sebuah tas sementara saya tahu pasti ada orang-orang yang bahkan saya kenal harus bekerja membanting tulang untuk menghasilkan sepersekian dari harga tas tersebut. Kesimpulan selintas yang saya dapat dari teman-teman yang mau mengeluarkan sejumlah uang banyak untuk sebuah tas, dengan kualitas dan merek yang sudah melegenda, uang bukan masalah selama mereka mampu membelinya. 

Salah satu teman sempat membujuk saya untuk turut membeli, tapi entah mengapa tidak seperti perempuan normal lainnya, saya tidak tergoda sedikitpun. Malahan, saat itu saya sibuk berkhayal, dengan uang sekian, apa yang akan saya lakukan dengan kedua belahan jiwa saya?

Mungkin naik balon di Cappadocia seperti ini:

Foto dari www.playviaggi.com
 Atau trekking menikmati keindahan Cirque de Gavarnie

Foto pinjam dari www.guardian.co.uk
Mungkin juga mewujudkan impian yang belum tercapai hingga sekarang untuk menginjakkan kaki di Krakatau


Foto dari www.swisseduc.ch


Menikmati tarian lumba-lumba di Teluk Kiluan, rencana yang terus tertunda sampai sekarang.
Pinjam dari www.lampungku.com

Melemparkan diri dengan mesin waktu ke masa peradaban suku Inca di Macchu Picchu
Foto dari www.famouswonders.com

Trekking sampai Ranukumbolo
Foto dari www.kelilingnusantara.com

Mendaki puncak Rinjani
Foto dari www.rinjaninationalpark.com

 Menari dan menyanyi ala tokoh Mammamia di Santorini
Fotonya punya www.gabrielsailing.com

Merasakan alam Afrika di savana Taman Nasional Bukit Baluran
Foto milik www.baluran.go.id

Hihi, mungkin sementara saya tidak habis pikir ada orang yang mau menghabiskan uang banyak untuk membeli sebuah tas, sebaliknya mereka berpikir ngapain juga buang-buang uang untuk jalan-jalan susah dan capek lagi!! 

Bagaimana dengan kamu?

Monday, 15 July 2013

We can do it together, my love

Hails to all working mothers out there!

Why did I say this? I have never been in their shoes before, so eventhough I know some of them, I can't really feel what they have to cope every morning when they have to say goodbye to their little ones.

This morning, I finally had to do the same. We went to the daycare for a free try-out, only for one hour, though. The teacher did not let me stay, especially when she saw how my baby was so attached to me. I went home and experienced the longest hour I have ever had. I cooked for lunch and went back to pick him up. As expected, he screamed on and off for almost an hour. When I came, he was walking around the play room while screaming. As soon as he realized that I was there, he stopped screaming, ran to me and hugged me strongly. My poor baby, he must have been very angry I left him without even giving him a goodbye kiss.

After brief discussion with the teacher, despite his one-hour on-and-off screams, we agreed to send him again tomorrow for half-day. The teacher said, most children would either cry or scream on their first day although some others are quite happy and don't cry even a bit.

I'm lucky to be always be with my baby  for these past fourteen months for 24 hours nonstop, leading to a very strong attachment between the two of us. Besides, he is still breastfed and most of the time he is in his carrier whenever we go out. This makes it a bit difficult for him when I am not around. There are times when he can happily play with others without having me next to him, but there are times when he would cry or scream the minute he sees me leaving, even only a meter away.

So, let's see how he is doing tomorrow..hopefully it would be much better than today and he would feel happy being in the daycare with his peers, fingers crossed!

Sunday, 14 July 2013

[Little Traveler]: Moda transportasi

Siapa sih yang tidak suka bepergian? Saya hampir yakin, semua orang menyenanginya. Apalagi jika pergi beramai-ramai dengan keluarga atau teman-teman dekat, pastilah sangat seru, walaupun pergi sendirian (solo traveling) juga tidak kalah menyenangkan. Tapi bagaimana jika ada anak kecil/bayi yang ikut serta dalam perjalanan? Kira-kira masih menyenangkankah perjalanannya, atau malah merepotkan?

Tidak pernah terlintas sebelumnya untuk menjadikan anak saya traveler di usianya yang masih sangat muda, namun keadaanlah yang membuatnya demikian. Frekuensi perjalanan yang relatif sering membuat putra kami, David nyaris tidak pernah berada di tempat yang sama lebih dari 1 bulan dalam 7 bulan pertama kehidupannya. Ditambah lagi, sehari-hari kami mengurusnya sendiri tanpa bantuan pengasuh, jadi otomatis kemanapun saya pergi untuk suatu keperluan, ia akan ikut bersama saya. Setelah kembali dari perjalanan baru-baru ini, terpikir untuk menulis suka duka membawa bayi kecil kami (yang sekarang sudah tidak kecil lagi) melihat dunia. Karena idenya muncul saat sedang naik kereta, jadi alat transportasi menjadi topik utamanya.

Moda transportasi adalah salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan ketika membawa bayi bepergian, begitu teorinya. Misalnya, saya tidak akan membawa ia naik ojek karena faktor keamanan. Karena saat ini kami tidak memiliki kendaraan pribadi, moda transportasi yang kami gunakan juga bervariasi. Hal lain, kami juga ingin anak kami mempunyai pengalaman naik kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan tidak tumbuh menjadi anak yang hanya mau naik kendaraan pribadi yang nyaman serta memandang rendah orang lain yang hanya mampu naik kendaraan umum (pengalaman pribadi bertemu spoiled brat seperti ini). Berikut moda transportasi umum yang pernah kami pernah coba dengan si kecil.

Taksi
Kami membawa si kecil pulang dari rumah sakit dengan taksi dan begitu khawatirnya sampai berkali-kali mengingatkan pak supir untuk mengemudi dengan sangat hati-hati dan jangan ngebut. Sejauh ini, taksi adalah moda yang paling nyaman karena nyaris seperti kendaraan pribadi. Demi keamanan, ketika ia masih bayi  biasanya kami selalu menggendongnya dengan baby carrier/wrap dan mengikatkan sabuk pengaman (kalau ada) seperti biasa. Sekarang, karena ia sudah bergerak aktif, saya hanya memeganginya dengan kuat di pangkuan saya ketika kendaraan melaju dan membiarkannya bebas berkeliaran di jok belakang taksi hanya pada saat taksi berhenti.

Perahu kecil (shuttle boat)
Bagi yang pernah berkunjung ke Bangkok, pastilah pernah melihat shuttle boat yang berseliweran menjemput dan mengantar penumpang di sungai Chao Phraya. Beberapa kali, kami menaiki perahu tersebut dari stasiun BTS Saphan Taksin. Dengan bayi yang aman terbungkus dalam wrap/baby carrier, guncangan karena benturan kapal dengan arus sungai dan terpaan angin dapat diminimalkan.

Bis antar kota
Bis antar kota di Bangkok relatif nyaman, bersih, dan tidak ugal-ugalan, hanya saja untuk perjalanan dengan bis, perlu membawa ganjal berupa bantal/kain empuk yang cukup demi mengurangi benturan pada guncangan mendadak sekaligus menyangga tubuh sehingga tidak terlalu pegal duduk sepanjang perjalanan sambil menggendong bayi.

Kereta api (ekonomi)
Perjalanan dengan kereta api sebenarnya menyenangkan, hanya saja, rookie parents ini kurang teliti mencari informasi. Alhasil, bayi yang baru berusia 17 hari ini harus menaiki kereta api tanpa pendingin udara yang kondisinya nyaris mirip dengan kereta api ekonomi Bandung-Cicalengka, hanya saja lebih bersih. Terus terang, keberanian saya membawa David pergi ketika itu lebih karena tubuhnya terlihat seperti bayi berusia 2 bulan, tidak ringkih, dan juga ada ibu yang menemani. Faktanya, ia masih sangat kecil, sehingga akibat dari terpapar angin selama hampir 4 jam, ia mengalami kolik, menangis semalaman dan baru berhenti ketika berhasil mengeluarkan gas dari tubuhnya. Serba salah memang, waktu itu udara panas sekali jadi saya tidak membungkusnya dengan kain. Duh, kapok gara-gara kejadian ini dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama di lain waktu :(. Pelajaran berharga untuk kami, hindari perjalanan dengan kereta api ekonomi sebisa mungkin apabila membawa bayi kecil, kecuali orangtua siap menanggung risikonya. Sementara ketika kami menumpang TGV Tours - Paris pulang pergi, tidak ada masalah yang berarti. Pernah beberapa kali David menangis keras dan supaya tidak mengganggu penumpang lain, kami membawanya keluar berjalan-jalan di ruang yang berada di antara dua gerbong atau membawanya ke tempat ganti bayi. Tempat ganti bayi di TGV bersih, tersedia tempat duduk, dan dekorasinya berwarna-warni, cukup untuk mengalihkan perhatian si kecil dari kebosanan perjalanan selama kurang lebih 50 menit.

Pesawat terbang
Perjalanan pertama dengan pesawat terbang dimulai ketika usianya 6 minggu. Menurut saya, ada perbedaan membawa bayi terbang, tergantung usianya, lama penerbangan, rute penerbangan dan kesiapan orangtua. Di usianya yang baru menginjak 14 bulan, ia sudah berkali-kali terbang jarak pendek maupun jarak jauh.  Beragam rutenya, beragam pula cerita kami. Untuk perjalanan dengan pesawat terbang akan saya buat di postingan terpisah.

Ojek/motor taxi
Saya dulunya termasuk pengguna ojek, apalagi mengingat kemacetan Jakarta yang mengerikan. Semenjak mempunyai anak, saya tidak pernah dan tidak diperbolehkan naik ojek terlebih sambil menggendong bayi karena faktor keamanan. Sampai pada suatu hari, karena terdesak waktu, saya akhirnya menggunakan ojek juga sambil membawa David di pangkuan saya. Untung lama perjalanan tidak lebih dari 10 menit, jadi rasa deg-degan pun tidak berkepanjangan. Dengan bayi aman terikat dalam carrier di pelukan saya, saya merasa lebih tenang dibandingkan jika menggendong lepas dengan tangan saja, sambil tentu saja tidak lupa beratus-ratus kali mengingatkan pengemudi ojek untuk berhati-hati dan tidak ngebut.

Becak
Moda transportasi satu ini menjadi favorit saya setiap kali pulang kampung. Nyaman sekali rasanya naik becak sambil menikmati sapuan angin sepoi-sepoi di wajah. Sayang, dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor di jalanan, kenikmatan naik becakpun jauh berkurang. Ketika menumpang becak, pastikan muka anak menghadap kita agar jika ada debu/kotoran tidak langsung masuk ke mata. Sama dengan ojek, ketika menumpang becak, saya selalu menggendong David dalam carriernya demi alasan keamanan.

Angkutan umum/angkot
Angkutan umum sering kami gunakan pada saat pulang kampung ke Bandung. Satu-satunya yang kurang nyaman dari angkot adalah ketika bayi minta menyusu. Selain dari itu, angkutan umum tidak menjadi masalah untuk kami dan David.

Shuttle van
Kendaraan minibus berkapasitas 10-12 orang yang seringkali kami tumpangi dalam perjalanan Bandung-Jakarta p.p. Seringnya minibus yang saya tumpangi dari tempat pemberangkatan dekat rumah ini kosong, jadi ya hampir tidak ada bedanya dengan naik kendaraan pribadi. Sabuk pengaman pada minibus ini mengikat pinggang saja tanpa ada sabuk melintasi tubuh, jadi lebih mudah untuk saya yang memangku David selama perjalanan.

Skytrain
Sebisa mungkin saya menghindari naik BTS (skytrain di Bangkok) pada jam-jam  sibuk, karena pernah suatu kali saya memaksakan naik di gerbong yang padat. Tidak lama, si bayi mulai menangis keras karena mungkin stress berada dalam himpitan kepadatan penumpang kereta. Di luar jam sibuk, naik BTS sangat nyaman dan ketika ia sudah bisa duduk, seringkali saya membiarkannya duduk sendiri di kursi penumpang.

Kereta Bawah Tanah/MRT/Metro
Satu-satunya hal yang kurang nyaman dari kereta bawah tanah adalah tidak adanya pemandangan..ya iyalah, namanya juga kereta bawah tanah. Sama dengan skytrain, saya juga sebisanya menghindari naik MRT/Metro pada jam sibuk. Sama pula dengan keadaan di angkot, di skytrain dan kereta bawah tanah, menyusu adalah hal yang paling saya hindari. Kalaupun terdesak, biasanya saya turun di stasiun terdekat dari tempat saya, mencari tempat duduk dan mulai menyusui. Setelah selesai, baru naik kereta berikutnya.

Ferry
Perjalanan pertama David dengan ferry baru-baru ini cukup menyenangkan. Kapal yang membawa kami menyeberangi Selat Channel berkapasitas 800 orang dengan fasilitas lengkap. Selama 3 jam perjalanan, kami bisa berjalan-jalan menjelajah kapal dan melihat pemandangan. Untungnya, selama perjalanan, si kecil tidak mabuk laut dan tampak senang berjalan-jalan kesana kemari.

Skylabs
Skylabs adalah sejenis tuk-tuk bermotor dengan mesin 90 - 150 cc, yang banyak ditemui di bagian Timur Laut Thailand. Bentuknya berupa sepeda motor dengan tempat duduk yang cukup untuk 3 orang penumpang dibelakang/disampingnya. Umumnya, pengemudi skylabs suka tantangan, namun beruntung waktu kami menaiki skylabs membawa si bayi yang masih berusia 20 hari ketika itu, pengemudinya perempuan sehingga kami cukup tenang. Seperti biasa, ia saya gendong dengan gendongan kain tradisional khas Indonesia. 

Friday, 12 July 2013

Insomnia Sejenak

Sudah dua malam berlalu dan jetlag belum juga pergi. Biasanya kurang lebih 3-5 hari baru bisa kembali ke kondisi normal. Jadi ingat tahun lalu ketika kami kembali ke Bangkok bersama David yang saat itu berusia 4 bulan. Malam pertama ia baru tidur jam 4 pagi, malam kedua dan seterusnya berkurang 2 jam sampai akhirnya kembali ke jam normal tidurnya yaitu jam 7 malam. Kali kedua dan ketiga, prosesnya lebih cepat, yaitu 3-4 hari untuk kembali ke jam tidur normal. Saya pernah membaca (lupa dimana) kalau bayi memang lebih mudah mengatasi jetlag dibanding orang dewasa. Jadi tidak heran, sementara si bayi tidur, kami masih terjaga di pagi buta seperti sekarang ini dan kelaparan..dan mau tahu kebiasaan kami kalau jetlag sedang melanda? Yang satu makan sepaket biskuit coklat dan kemudian bersama-sama makan mie rebus/goreng instan I***mie lengkap jam 2 pagi..nyaaammmm  nikmatnyaa :D *say bye to food combining and say hello to cheating days*
Selamat sahur bagi yang berpuasa...

Friday, 14 June 2013

Kisah Asisten dan Majikan

Beberapa minggu terakhir ini, rasanya sering sekali mendengar keluhan dari teman-teman yang kebetulan mempunyai asisten/supir disini. Mendengar cerita mereka, ada-ada saja kisahnya. Kalau sudah begini, rasanya sangat bersyukur tidak perlu makan hati meskipun kemana-mana harus menggunakan transportasi umum dan mengerjakan pekerjaan domestik sendiri, kecuali membersihkan rumah.

Cerita 1: Seperti Madam
Seorang teman, sebut saja A, baru saja mempekerjakan asisten. Awalnya sang asisten berpenampilan sederhana sampai kemudian ia sering mengamati ketika majikannya berdandan. Sang asistenpun mulai berdandan sampai-sampai ia minta ijin langsung pada A untuk berdandan meniru sang nyonya. Yang ada, sang Madam alias A pun hanya bisa bengong. Di satu kesempatan, sang asisten ikut A ke satu tempat. Sesampainya di sana, ada teman A yang menyapa dan menanyakan siapakah orang yang yang bersama A. Begitu dibilang asistennya, si teman terperangah sambil bilang "buset, heboh amat dandannya, majikannya aja kalah!!!" Si A pun cuma bisa geleng-geleng kepala. Lain waktu, A memergoki asistennya sedang berolahraga yoga di tengah-tengah jam kerja! Asisten A yang ini sangat peduli kesehatan dan penampilan rupanya :p

Cerita 2: Menonton TV
Masih dengan A, kali ini asisten barunya tidak seunik yang sebelumnya. Hanya saja, satu-satunya hal yang dikerjakan si asisten adalah menonton televisi..ck..ck..ck..Hal-hal yang telah diinstruksikan untuk dikerjakan tidak disentuh sama sekali. Sudah jelas, masa kerjanyapun tidak berlangsung lama.

Cerita 3: Salah Paham 1
Teman yang lain, sebut B, mempunyai tiga orang anak. Suatu hari, B minta asisten rumah tangga barunya untuk memandikan anak-anak sebelum ke sekolah yang diiyakan oleh sang asisten. Tunggu punya tunggu, anak-anaknya tidak kunjung muncul..tapi tidak lama kemudian muncullah si asisten yang sudah wangi dan rapi jali. B pun terheran-heran..ternyata si asisten mengira majikannya menyuruh dia mandi, jadi sebagai pekerja yang baik, ya dia menuruti apa kata majikannya. Melirik asisten yang sudah wangi sementara anak-anaknya belum siap, B pun hanya bisa mengurut dada.

Cerita 3: Salah Paham 2
C, seorang teman lagi, mendapat fasilitas supir dan mobil dari kantor suaminya. Suatu hari, kami sedang makan siang bersama di satu rumah makan. Ditengah acara, C pamit untuk menjemput anaknya. Karena sudah terlambat sementara supirnya ada di apartemen, C berinisiatif untuk pergi naik ojek ke sekolah anaknya dan menelepon supirnya untuk langsung pergi menjemput ke sekolah anaknya. Dari percakapan telepon mereka, tampaknya sang supir paham dengan instruksi majikannya. C pun pamit pergi..tidak berapa lama, tiba-tiba supirnya malah datang ke rumah makan tempat kami berkumpul..Oalah, ternyata pak supir salah mengerti. Rupanya, menurut C, kejadian ini terjadi bukan sekali dua, tapi sudah sering..apalagi kalau soal nyasar ketika cari alamat.

Mungkin besok-besok, akan ada cerita baru lagi tentang para asisten dan majikan ini. Kita tunggu saja :)

Thursday, 13 June 2013

One of My Lucky Days

It has been raining a lot in Bangkok nowadays. Most of the days this month were started by grey skies and cloudy morning, and often, it happened for the whole day. Nevertheless, our activities wouldn't stop running, just like today. I planned to visit a friend at around 3 p.m., but few minutes before the clock stroke three, it rained heavily. I was thinking of canceling the visit, but then I decided to wait a bit with the hope that the rain would stop. At the end, we left the apartment around 3.40 p.m or so. I walked until the end of the alley, crossed the bridge and got off the stairs to find out that there were two other people ahead of me who were also in the taxi queue. Two taxis passed by us but as usual, they refused as soon as you told them where to go...so, there we were, under the rain shower, hoping to get a taxi as soon as possible. After some time, one taxi came but he seemed to ignore the sign from the two ladies as he kept driving, and out of the blue, he stopped right in front of me instead. I looked at the driver in surprise and so did the other lady. I got onto the taxi with curious feeling, why on earth he would take me but not other ladies? Later, I got the answer as he started the conversation and said that he has a three-year-old son at home..so no wonder he took us as I was with my son, too...parents' solidarity it is.

Since I have experienced refusal from many taxi drivers although they saw me carrying a baby, I would call it one of my lucky days..just like the other day when I was in a hurry to attend my appointment with the dentist and could not get neither taxi nor motor taxi/shiro (another type of public transport similar to tuk tuk), I finally found a vacant shiro whose driver agreed to take me after seeing my insistence.

Yep, taking public transports in Bangkok can be very tricky and on many occasions, you'll end up getting upset with the taxi drivers for not taking you to your destination while wondering what the reason is. At this situation, I often miss Jakarta where I won't experience any refusal to get onto the taxi by at least five to seven drivers at one time..pheww...

Wednesday, 5 June 2013

Jump for Joy in June

Amid the excitement of planning our summer holiday this year, I received a surprisingly wonderful news for my postponed project and a message from a good friend of mine. For the project, although it is not confirmed yet, the positive response I got might set the wheels in motion; as for the message, who can resist such a lovely invitation like this???

A day later, another message from my friend came in, saying that a traveling cot is ready for my little bunny a.k.a her grandson, how thoughtful she is, blessed her!

When I still lived in Bristol, I was often invited to her cozy and beautiful house, either to stay over for few nights or to enjoy delicious meals prepared for many special occasions. It was almost six years ago but I still remember every detail and moment of my life there...phewwww...time flies too fast! Few weeks from now, I'll be revisiting memorable Bristol, which is gonna be very very special as I will cherish every moment there with my two beloved boys.

Hello England, here I (we) come...and you, the weather, please be nice to us :)

Monday, 27 May 2013

Banana oatmeal teething cookies

Dari beberapa produk biskuit bayi yang pernah saya coba, hanya satu yang lolos seleksi, yaitu banana milk rusks-nya Rafferty's Garden. Kenapa saya suka teething biscuit ini? karena rasanya yang nyaris tawar dibandingkan dengan beberapa biskuit lain yang pernah saya cicipi dan tidak berantakan apabila dimakan bayi. Setelah kehabisan stok dan tidak juga menemukan stok baru karena ternyata produk ini tidak dijual di Bangkok, saya coba buat kue sendiri dengan resep ibu Ratih Wulansari dari grup Homemade Healthy Baby Food, yaitu banana oatmeal cookies.

Bahan:
2 buah pisang matang (Cavendish/Sunpride)
50 gr unsalted butter
70 gr oatmeal (resep asli 100 gr)
3 sdm tepung beras (karena tidak punya cukup oatmeal dan resep asli hasilnya relatif lembek, jadi saya tambahkan tepung beras).

Cara membuat:
Semua bahan dicampur dan diaduk. Cetak sesuai selera dan panggang sampai berwarna kecoklatan.
Gampang membuatnya dan yang pasti, enaakkk.

Tuesday, 7 May 2013

Bandungku sayang Bandungku malang

Duapuluh lima tahun yang lalu, saya masih ingat betapa indah dan bersihnya Bandung si kota Kembang yang langganan memperoleh penghargaan Adipura sebagai kota terbersih di Indonesia.
Tujuh belas tahun yang lalu, saya masih bisa merasakan dinginnya udara kota Bandung dan seringkali ketika pergi sekolah, kabut tipis masih nampak di perjalanan. Saya juga masih bisa menyaksikan bangunan Art Deco yang banyak terdapat di Bandung. Begitu cintanya saya dengan kota ini sampai-sampai tidak terbayangkan kalau suatu hari harus meninggalkan Bandung dan hidup di kota lain.
Sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah membayangkan bisa bertahan hidup di ibukota yang terlihat keras dibandingkan dengan kehidupan di kota kelahiran saya yang begitu bersahabat di mata saya waktu itu.
Delapan tahun yang lalu, saya menyaksikan Bandung menjadi kota sampah, ditambah premanisme dimana-mana, pedagang kakilima dan lalu lintas yang semrawut.
Lima tahun yang lalu, kawasan historis Braga sudah memudar pesonanya dengan kondisi jalan yang buruk, pedagang kakilima dan anak jalanan semakin merajalela, bangunan-bangunan bersejarah sudah berganti façade dan fungsi, dan kabut di pagi hari sudah hilang entah sejak kapan.
Tiga tahun yang lalu, saat teromantis dalam hidup saya terjadi di Bandung. Berbeda dengan kebanyakan orang yang punya memori indah dan romantis dengan seseorang atau bahkan bertemu jodoh di kota ini, saya tidak sekalipun mempunyai pengalaman serupa selama menjalani masa muda di Bandung, mungkin karena saat itu saya tidak bersama orang yang tepat :p.
Bulan lalu, banyak tempat di kota ini mengalami banjir, lalu lintas yang semakin padat karena meningkatnya volume kendaraan tanpa diikuti penambahan kapasitas ruas jalan, lubang-lubang besar menganga di banyak ruas jalan (mungkin satu-satunya ruas jalan yang mulus dari ujung ke ujung hanya jl. Asia Afrika yang merupakan jalan lintas propinsi) dan sangat membahayakan terutama pada musim hujan, premanisme, anak jalanan, dan PKL yang semakin tidak terkendali, dan kotor!
Bandungku tercinta, riwayatmu kini menyedihkan :( :(
*berharap pengelola kota dari pemerintahan yang akan terpilih dalam waktu dekat dapat membenahi warisan kekacauan dan kerusakan yang dibuat oleh pemerintahan sebelumnya*

Wednesday, 1 May 2013

Koper Oh Koper...

Pernah mengalami kehilangan koper dalam perjalanan? Meskipun kejadiannya tidak sering-sering (dan mudah-mudahan jangan), urusan kehilangan koper ini pastinya sukses bikin deg-degan :(.

Minggu lalu, si suami baru saja kehilangan kopernya dalam perjalanan dari Jakarta ke Yangon. Rupanya sewaktu check-in bagasi di bandara Soekarno-Hatta, petugas salah memasukkan rute perjalanan, yang seharusnya dari Jakarta dikirim ke Yangon via Bangkok, menjadi Jakarta - Bangkok dan Yangon - Bangkok dengan selang waktu 1 minggu..bagaimana ceritanya si koper bisa dikirim dari Yangon ke Bangkok tanpa pernah sampai di Yangon sebelumnya??? Setelah dicek, rupanya koper tertahan di Bangkok dan dijanjikan akan dikirim dengan pesawat berikutnya, namun dari suami tiba di Yangon hari minggu malam, si koper tak jua muncul sampai akhirnya menampakkan diri hari selasa siang :(..

Peristiwa lain terjadi ketika kami masih tinggal di Pasifik. Suatu hari, suami ikut pelatihan di Bangkok dan kemudian dilanjutkan dengan tugas ke Noumea. Dalam perjalanan pulang dari Bangkok menuju Noumea, ternyata kopernya tertinggal di Sydney. Kebetulan pada saat yang sama saya sedang berada di Noumea dalam rangka memperpanjang paspor. Meskipun sudah melapor sejak awal kedatangan, namun entah mengapa, proses pengiriman koper dari Sydney ke Noumea terus menerus ditunda meskipun staf yang kami hubungi di bandara mengatakan koper akan dikirim segera dengan pesawat berikutnya. Alhasil, sampai suami kembali lebih dulu ke Port Vila tiga hari kemudian, koper hilang tersebut belum kami terima. Setelah berulang kali menghubungi pihak berwenang di bandara, akhirnya si koperpun disepakati untuk dikirim langsung ke Port Vila, bersamaan dengan waktu kepulangan saya beberapa hari kemudian. Hampir satu minggu koper tersebut terabaikan di bandara, untung saja tidak ada keju di dalamnya..bayangkan seperti apa baunya jika dalam koper tersebut tersimpan blue cheese atau Roquefort??? :p

Kejadian berikutnya dialami oleh saya sendiri. Waktu itu saya bermaksud pergi ke Manila via Sydney dan Kuala Lumpur. Masalahnya kali ini adalah waktu transit yang hanya 1 jam 25 menit di Sydney sebelum penerbangan berikutnya. Penerbangan saya kali ini cukup rumit, dan dari semua kombinasi yang ada, hanya itu satu-satunya yang paling memungkinkan. Ternyata, pesawat dari Port Vila ke Sydney mengalami masalah teknis sehingga kami harus menunggu pesawat pengganti. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, akhirnya pesawat Norfolk Air datang juga dan ketika akan mendarat di Sydney, semua penumpang yang mempunyai connecting flight untuk tujuan domestik dan internasional mendapat prioritas. Kebetulan di pesawat itu, selain saya, ada satu orang wanita yang akan terbang ke Addis Ababa via Abu Dhabi. Begitu sampai di gedung bandara, kami langsung diangkut dengan shuttle tanpa melalui pemeriksaan lagi. Waktu itu sempat terpikir apakah bagasi saya berhasil dipindahkan dalam waktu singkat tersebut dan ternyata benar saja, sesampainya di Manila, bagasi saya tidak juga muncul karena masih tertinggal di Sydney. Seperti biasa, saya menghubungi pihak berwenang di bandara dan dijanjikan akan menerima koper saya maksimal dalam waktu 1 minggu!!! Jelas saja saya menolak karena dalam waktu seminggu, saya sudah kembali lagi ke Port Vila. Nyaris 2 hari berlalu tanpa ada kabar sampai akhirnya saya meminta tolong agen yang mengurus tiket kami untuk menanyakan kabar koper saya. Ketua panitia penyelenggara sampai berbaik hati menawarkan untuk meminjamkan beberapa potong pakaiannya karena khawatir pada saat saya harus presentasi, saya tidak punya pakaian yang pantas. Akhirnya, dengan bantuan agen baik hati tersebut, malam-malam, sekalian menjemput peserta lain, kami pergi ke bandara untuk mengambil koper saya. Lucunya, saya sempat berdebat dengan staf yang bertugas karena koper saya tersebut terdaftar atas nama orang lain yang sama sekali tidak saya kenal, padahal jelas-jelas nama saya tertera pada tag-nya :(.

Dari beberapa pengalaman tersebut, pelajaran yang dapat kami ambil adalah: 1) jangan percaya begitu saja pada janji pihak bandara yang mengatakan akan menghubungi kita dan mengantarkan koper secepatnya. Lebih baik kita yang proaktif menghubungi pihak berwenang secara rutin untuk memastikan status keberadaan bagasi kita; 2) SELALU membawa cadangan pakaian dan keperluan lain dalam bagasi kabin kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi; 3) sebaiknya membeli travel insurance untuk berjaga-jaga jika terjadi kehilangan koper seperti yang kami alami diatas (terus terang, kami tidak pernah melakukannya meskipun sudah kejadian beberapa kali, jadi dari ketiga pengalaman diatas, hanya pengalaman kedua dimana kerugian kehilangan koper diganti dengan sejumlah uang, sementara dua yang lain kami hanya bisa gigit jari :p)

Begitulah kira-kira kisah kehilangan koper yang pernah kami alami. Ada yang punya pengalaman serupa?

Thursday, 25 April 2013

Cerita ber-MPASI di Luar Rumah

Ternyata, 6 bulan pertama adalah masa yang paling santai dan mudah untuk bepergian dengan si kecil. Di masa 6 bulan kedua ini, kami memutuskan untuk berkompromi dalam beberapa hal demi kesejahteraan bersama :)
Awalnya, saya sempat malas bepergian ketika si kecil memasuki usia 6 bulan mengingat barang2 yang harus dibawa untuk menyiapkan MPASI. Namun, karena kegiatan bepergian tidak dapat dihindarkan di keluarga kecil kami, jadi suka atau tidak suka, pemberian MPASI di luar rumah harus tetap berjalan.
Idealnya, pemberian makanan rumahan dapat tetap diberikan pada saat traveling, meskipun membutuhkan sedikit usaha ekstra. Demi anak, kerepotan apapun pasti akan dijalani. Praktiknya ternyata tidak semudah yang dibayangkan :(.
Dari pengalaman membawa bayi bepergian selama ini, ada beberapa hal tentang pemberian MPASI yang perlu dan praktis versi saya.
1. Membawa pisau dan alat makan. Kalau mau, bisa juga ditambah membawa saringan kawat dan hand blender.
2. Membawa bekal buah padat kalori nan praktis seperti alpukat, pisang, mangga sebagai pengganti menu utama.
3. Memanfaatkan bahan makanan lokal. Satu-satunya buah impor yang rutin dikonsumsi bayi kami adalah alpukat, sementara semua bahan makanan lain seperti daging-dagingan, buah dan sayur, semuanya adalah produk lokal. Jadi, setiap kali kami bepergian, si kecil selalu memperoleh kesempatan mencoba jenis makanan baru yang tentunya mudah didapat di pasar atau toko serba ada setempat.
4. Belajar fleksibel. Prinsip kami adalah tidak mau memberikan makanan instan, makanan yang mengandung gula garam, dan makanan berbahan dasar tepung putih seperti roti dan kue karena pertimbangan kandungan
glutennya. Namun karena situasi tidak memungkinkan, pada akhirnya si kecil mencicipi juga nasi soto, sop buatan restoran, roti putih, biskuit bayi instan dan makanan bayi dalam kemasan botol yang kerap diberikan di pesawat. Justifikasinya, selalu ada pengecualian ketika sedang tidak berada di rumah tapi begitu kembali dari perjalanan, pola makan diperbaiki kembali sesuai dengan prinsip awal.
5. Membawa cemilan berupa buah/sayur potong seperti wortel/kentang kukus, pepaya, jambu.
6. Khusus di Indonesia, kami memanfaatkan jasa penyedia katering makanan khusus bayi yang sudah terjamin bebas gula garam dan menggunakan bahan organik. Harganya relatif mahal namun setidaknya kami tidak perlu repot. Pada kunjungan baru-baru ini ke Jakarta, kami memakai jasa dari Mammakanin dan Baby Bar dan kami cukup puas.
Yang pasti, jika perut bayi kenyang, bayi tenang, dan orangtuapun senang :).

Thursday, 11 April 2013

Like father, like son

Another father-and-son bonding time while quietly waiting for the animals to show up at Nong Pak Chi watching tower, Khao Yai National Park, Thailand.

Tuesday, 2 April 2013

#World Heritage Sites: Westminster Palace, Westminster Abbey and Saint Margaret's Church

Rasanya siapapun yang berkesempatan mengunjungi kota London tidak akan melewatkan sesi foto dengan latar belakang Big Ben, ikon London yang sangat terkenal, yang merupakan bagian dari Westminster Palace. Pertama kali menginjakkan kaki disana pada bulan Oktober 2007, saya benar-benar terpesona melihat megahnya gedung parlemen Inggris yang terletak di tepi sungai Thames tersebut.

Pemandangan Westminster Palace dari seberang sungai Thames

Westminster Palace yang sekarang dibangun kembali pada abad ke-19 setelah bangunan aslinya yang berasal dari abad ke-11 terbakar. Dulunya, istana kerajaan ini merupakan tempat kediaman resmi Raja Inggris sampai abad ke-16. Sejarah lengkap tentang Westminster Palace bisa dilihat di tautan ini.

Sayang, selain foto-foto seadanya, tidak banyak yang saya dapat ceritakan karena saya tidak mengikuti tur masuk mengunjungi gedung Parlemen dan ketika kembali lagi pada bulan Desember 2007, lagi-lagi tidak berkesempatan memasuki tempat pernikahan keluarga kerajaan Inggris, yaitu Westminster Abbey karena antriannya yang panjang. Waktu itu saya hanya menikmati kemegahan dan keindahan bangunan-bangunannya dari luar saja. Kompleks ini melambangkan sejarah salah satu monarki parlementer tertua di dunia yang masih bertahan hingga saat ini dan berbagai alasan lain dari sisi arsitektur bangunan sehingga dianugerahi status sebagai situs warisan budaya UNESCO pada tahun 1987.

Apabila suatu saat kami mendapat rezeki untuk bisa kembali ke London, saya bercita-cita untuk: 1) mengikuti tur untuk masuk ke dalam Westminster Palace, 2) masuk Westminster Abbey dan Saint Margaret's Church, dan 3) naik sampai di puncak menara Big Ben.



Westminster Abbey tampak depan

Victoria Tower


Elizabeth Tower atau lebih dikenal sebagai Big Ben

Monday, 1 April 2013

Catatan Pinggir dari Bangkok

Setelah hampir 1,5 tahun tinggal di Bangkok, ada hal-hal menarik yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja sih yang menarik itu?

1. Sebelum pertunjukan film di bioskop dimulai, penonton wajib berdiri dan diam ketika lagu penghormatan terhadap Raja dikumandangkan. Lagu yang sama dikumandangkan di taman-taman umum dan stasiun kereta (BTS) pada jam 8 pagi dan jam 6 sore. Siapapun harus berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Raja kalau tidak ingin berurusan dengan polisi -jika kebetulan ada polisi di sekitar-.
2. Sebagian besar orang Thailand menyukai bayi/anak kecil. Jangan heran apabila saat bersantap di restoran dengan membawa anak kecil, pelayan restoran dengan sigap dan senang hati langsung membawa si anak supaya orangtuanya dapat menikmati makanan yang disajikan dengan tenang. Meskipun begitu, ada juga orang yang tidak peduli. Pernah saya temui orang-orang yang berdesakan masuk kereta tanpa membiarkan orang dengan kereta bayi atau anak kecil masuk kereta lebih dulu. Di lain kesempatan, ada perempuan yang nampaknya cukup berpendidikan memotong kerumunan orang yang sedang menunggu lift dan menendang kereta dorong yang menghalangi langkahnya..ck ck ck...
3. Siapkan banyak stok sabar jika mendapat penolakan berkali-kali dari supir taksi. Saya pernah mengalami sepuluh kali penolakan sebelum akhirnya mendapat taksi yang bersedia mengantar kami pulang. Apa alasan penolakan tersebut? hanya Tuhan dan supir taksi yang tahu jawabannya.
4. Hindari mengunjungi Bangkok antara bulan Februari - Maret. Panasnya bisa mencapai 40 derajat Celcius atau bahkan lebih.
5. Kata sapaan " sawadee kha" ditujukan oleh orang yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dari orang yang melayani kepada yang dilayani. Misalnya, penjaga pintu kepada tamu hotel.
6. Tidak mudah membedakan perempuan yang aspal karena seringkali mereka jauh lebih cantik dan mulus dibanding perempuan tulen. Suatu kali, saya sedang berjalan-jalan di Siam Paragon dengan seorang teman dan banyak sekali perempuan cantik, langsing, berkulit putih mulus lalu lalang. Teman saya bilang, kalau diamati lebih detil, bisa terlihat mana yang benar-benar asli dan mana yang aspal. Saya sendiri belum pernah benar-benar mengamati sih dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Tidak salah kalau Thailand menjadi surga untuk operasi plastik, bukti suksesnya ada dimana-mana..hm, walaupun bukti gagalnya juga banyak ditemui disini :p.
7. Penjual asongan di lampu merah dilarang menjual rokok, hasilnya di setiap perhentian lampu merah, yang tampak hanyalah penjual menjajakan rangkaian bunga berwarna-warni.
8. Jangan langsung percaya ketika seseorang mengatakan bahwa objek wisata yang akan kita tuju tutup, bisa jadi itu hanya tipu daya dan orang tersebut malah mengarahkan kita ke tempat lain, sama halnya dengan supir tuktuk yang membelokkan penumpang yang bermaksud mengunjungi Grand Palace/Wat Pho ke toko-toko perhiasan dan bebatuan. Hal ini dikenal sebagai scam.
9. Raja adalah figur yang sangat dihormati dan berkata-kata buruk tentang Raja dan keluarga kerajaan dapat dikenai hukuman pidana, tidak terkecuali orang asing sekalipun. Ketika kami baru pindah kesini, ada kasus seorang bapak berusia 60 tahun dikenai hukuman penjara karena diduga mengirim lima pesan singkat yang dianggap menghina Raja. Si bapak dijatuhi 25 tahun hukuman penjara atau 5 tahun untuk setiap pesan. Karena itu, berhati-hatilah dalam berbicara, apalagi kalau topiknya menyangkut kerajaan.
10. Bersiaplah untuk beradu sikut pada saat masuk atau keluar dari BTS atau MRT. Meskipun secara umum relatif tertib, masih banyak orang yang tidak peduli main tabrak sana-sini tanpa lihat kiri-kanan ketika naik atau turun dari BTS/MRT.

#World Heritage Sites: Stonehenge, (Avebury and Associated Sites)

Masih ingat koleksi desktop wallpaper Windows XP? Salah satunya adalah foto Stonehenge di Inggris.


Pertama kali tahu tentang Stonehenge, ya dari desktop wallpaper ini, dan saya berkhayal suatu hari bisa pergi kesana. Kekuatan mimpi membawa saya kesana pada suatu hari yang mendung dan gerimis di penghujung September 2007. Alhamdulillah, saya beruntung bisa sampai ke situs yang berada di wilayah Wiltshire, Inggris tanpa perlu susah payah memikirkan moda transportasi dan cara menuju kesana, tentunya karena ada sang pacar (waktu itu) yang mengantar kemana-mana :). Apabila tertarik mengunjungi Stonehenge, informasi lengkapnya ada di situs Stonehenge.

Stonehenge adalah situs prasejarah yang menakjubkan. Bayangkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, batu-batu menhir raksasa tersebut, yang beratnya bisa mencapai 4 ton dibawa dari berbagai tempat di Inggris, salah satunya dari wilayah Wales melalui jalan air, sejauh kurang lebih 240 km. Susunan bebatuan juga diperkirakan ditentukan oleh ilmu astronomi manusia prasejarah ketika itu. Suatu teknologi yang sangat canggih di masa prasejarah yang sulit dibayangkan oleh akal kita di jaman sekarang. Itu juga salah satu alasan Stonehenge menerima status sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1986.

Sedikit tips pada saat mengunjungi Stonehenge:

1. Menyewa audio guide, sehingga kita memperoleh penjelasan tentang sejarah bagaimana batu-batu raksasa itu tersusun dan beragam cerita dibalik tujuan pembangunannya.

2. Membawa jaket anti air/payung/kacamata, mengingat karena Stonehenge ini adalah situs di udara terbuka dan cuaca di Inggris yang tidak menentu. Jangan sampai kunjungan ke tempat yang fantastis ini terganggu oleh hujan atau terik matahari, meskipun seterik-teriknya matahari disana berbeda dengan terik matahari di Jakarta atau Bangkok :).

3. Stonehenge dapat dikunjungi dalam satu hari, jadi waktu itu, setelah pagi hari dihabiskan untuk menikmati keindahan dan aura misterius Stonehenge, kami menuju kota Salisbury yang klasik sekaligus mengunjungi Salisbury Cathedral yang indah dan megah dari abad ke-12.

4. Nikmati pemandangan khas pedesaan Inggris disekitar wilayah Stonehenge, hamparan rumput hijau sejauh mata memandang, dan kelompok domba-domba dan sapi-sapi yang sedang merumput.

5. Yang paling penting, jangan lupa membawa kamera dan ambil foto sebanyak-banyaknya.

Selamat berjalan-jalan!

Berikut sebagian koleksi foto-foto pribadi yang diambil di Stonehenge:

Stonehenge yang fenomenal


Kehilangan kata-kata ketika melihatnya





Antrian di pintu masuk

"Penduduk" sekitar Stonehenge sedang bersantai

Selamat datang di Stonehenge!


Salah satu sudut kota Salisbury




Tuesday, 19 March 2013

Avocado Pie

Maksud hati mau membuat seperti menu pencuci mulut seperti ini


eehh..ternyata ada kesalahan teknis yang cukup fatal. Demi menyelamatkan bahan-bahan yang sudah terlanjur dibeli, akhirnya malah seperti ini :)


Meskipun baru pertama kali mencoba resep ini, tapi penampakannya lumayan dan rasanya enak, menurut saya sih. Berikut resepnya:

- 2 buah alpukat matang
- 1 kaleng susu kental manis
- 1 buah (9-inci) graham crackers crust siap pakai
- 1/2 cup jus lemon (saya pakai jus dari 1 buah lemon utuh)

Cara membuat:

Campur alpukat, jus lemon, dan susu kental manis dalam mangkuk dan aduk dengan mixer. Setelah adonan lembut, tuangkan diatas graham crackers. Dinginkan di kulkas selama 3-4 jam. Bila suka, hiasi dengan whipping cream.

Sebagai penggemar alpukat, menurut saya tidak pernah ada makanan olahan dari alpukat yang tidak enak. Mulai dari guacamole, avocado salad, es kelapa alpukat, jus alpukat campur coklat, es campur, semuanya enaaakkk...hmm, apalagi kira-kira menu yang bisa diolah dari alpukat ya?

Friday, 15 March 2013

Patah Hati

Di suatu pagi, kurang lebih 10 tahun yang lalu, di depan kantor di daerah Kebayoran Baru, ada seorang pria tinggi besar berambut kribo abu-abu sedang membuka bagasi belakang mobilnya. Saya ada tidak jauh dari situ, dan tertarik untuk mengamatinya. Ya, dialah calon bos saya di kantor ini.

Pada awalnya saya bergabung dalam pekerjaan proyek di Jakarta sebagai intern, saya hanya berkomunikasi dengan Associate Expert-nya, seorang pria Italia yang ganteng, lembut dan baik hati. Eh, tidak lama saya bergabung, sang Associate Expert baik hati tersebut pindah negara dan otomatis saya harus berkomunikasi langsung dengan Pak Kribo tadi. Kesan pertama, Pak Kribo terlihat galak baik dari pembawaan maupun penampilan, sungguh sangat bertolak belakang dengan koleganya, meskipun sama-sama orang Italia.

Singkat cerita, setelah melalui masa penyesuaian dengan sang bos, sayapun menikmati masa-masa kerja saya di kantor ini, walaupun selalu ada suka dukanya. Sampai pada suatu hari, Pak Kribo muncul di kantor dengan gaya baru, rambut terpangkas rapi...wow, semenjak hari itu kegantengan pak Kribo yang dulu sempat tersamarkan menjadi terlihat nyata!!! Hm, namanya sekarang bukan Pak Kribo lagi karena sudah tidak kribo, tapi jadi Pak Ganteng. Sayang sekali, Pak Ganteng sudah beristri dan mempunyai dua orang anak, hehehe...

Semakin lama mengenal Pak Ganteng ini, ternyata berkebalikan dengan bayangan saya dulu waktu pertama melihatnya. Dari sisi profesional, Pak Ganteng pintar, menguasai lima bahasa, rajin, dan sangat sistematis, terlihat dari catatannya; dari sisi personal, Pak Ganteng orangnya hangat, pandai menari, sangat lucu dan banyak akal...ada saja bahan candaannya yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Sepanjang pengalaman saya bekerja dengan Pak Ganteng, beliau juga cukup perhatian dengan masalah pribadi yang pernah saya hadapi, sampai dalam beberapa kesempatan, seringkali setelah pembicaraan kami dalam hal pekerjaan selesai, dilanjutkan dengan  pembicaraan ringan seperti antara bapak dan anak. Tapi gara-gara Pak Ganteng juga, saya tidak bisa berpakaian modis kalau ke kantor karena seringkali, alih-alih menggunakan mobil kantor atau taksi untuk pergi rapat di luar kantor, Pak Ganteng lebih suka membonceng saya di atas motor Vespanya :D.

Di luar pembicaraan profesional sehari-hari, Pak Ganteng, tanpa maksud apapun, dengan gaya isengnya sering bertanya atau membuat komentar tentang hal pribadi orang-orang di kantor, dengan gaya yang lucu dan hampir tidak mungkin membuat orang yang ditanya merasa marah atau terganggu, malah sebaliknya, tertawa terpingkal-pingkal. Saya jadi ingat salah satunya, suatu hari di tahun 2006 ada intern baru yang datang dan diperkenalkan kepada kami. Kebetulan saya sedang berada di ruangan Pak Ganteng ketika sekretaris unit memperkenalkan intern tersebut. Setelah mereka keluar dari ruangan, Pak Ganteng dengan ekspresi jahil berkata supaya saya mendekati sang intern baru dan menjadikannya pacar. Rupanya Pak Ganteng cukup peduli dengan keadaan asistennya yang tidak punya pacar waktu itu dan setiap kali Pak Ganteng tugas ke Eropa, si asisten ini selalu minta dibawakan oleh-oleh pria single berpaspor Schengen :p. Waktu itu saya menolak dengan dalih si intern ini masih tampak seperti remaja dan Pak Ganteng hanya geleng-geleng kepala saja mendengar jawaban saya. Percaya atau tidak, empat tahun kemudian, saya dinikahi sang intern yang pernah diusulkan Pak Ganteng untuk dijadikan pacar, hmm..apakah Pak Ganteng mempunyai indera keenam? Tidak tahu juga...

Hubungan profesional kami sebagai atasan dan bawahan harus diakhiri pada tahun 2007 ketika saya mengundurkan diri untuk melanjutkan sekolah. Pak Ganteng juga sangat suportif dan memberikan dukungan penuh ketika saya bermaksud melanjutkan sekolah. Ada banyak suka duka bekerja dibawah supervisi Pak Ganteng selama kurun waktu empat tahun yang semuanya menjadi pengalaman berharga untuk saya pribadi.
Sejak saya keluar dari kantor tersebut sampai tahun lalu, apabila sedang berada di Indonesia, saya selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan bertukar kabar dengan Pak Ganteng. Nah, beberapa hari yang lalu, saya menerima email perpisahan dari Pak Ganteng yang akan pindah setelah belasan tahun bertugas di Indonesia, dan sayapun....patah hati!

Siapa yang tidak akan patah hati kalau setiap hari bertemu dengan atasan yang seperti ini?

Kemiripan nyaris 100% dengan pose seperti ini (kredit foto: http://winningateverything.com/tag/george-clooney)
Saya saja yang sudah tidak bekerja lagi di kantor tersebut masih patah hati, bagaimana kabar asisten Pak Ganteng yang ditinggal pergi ya?

Teruntuk asisten Pak Ganteng: terima kasih fotonya ya, jadi punya ide untuk nulis ini deh :) *mudah-mudahan patah hatinya sudah sembuh ya neng, pelukk*

Kelompok Bermain

Setelah 3 bulan mengikuti kegiatan playgroup yang menyenangkan, kami diberitahu bahwa sekolah tempat kegiatan berlangsung akan ditutup.Pemilik tanah memutuskan untuk membangun condominium di atas tanah dimana sekolah ini berdiri sejak 20 tahun lalu :(. Padahal, playgroup ini adalah satu-satunya dari semua lembaga yang saya kontak yang menerima anggota dibawah usia 1 tahun.

Dengan hanya membayar THB 200 setiap kali datang, si kecil dapat bermain dan belajar selama dua jam dalam suasana menyenangkan dengan ibu guru yang luwes dan pintar. Sayang, kesempatan main dan belajar di tempat ini akan berakhir bulan Juni nanti.

Catatan ini saya buat untuk mengingatkan pada pengalaman pertama si kecil ikut playgroup, dimana ia menjadi anggota termuda. Ya, meskipun saya pernah mempunyai pengalaman buruk dengan perempuan yang mengaku sebagai kepala di sekolah tersebut, hal itu tidak membuat saya kapok untuk datang lagi karena gurunya dan kegiatan di playgroup-nya telah membuat saya jatuh cinta.

kegiatan bermain bebas dan mendengarkan ibu guru bercerita
kiri atas: snack time; kanan bawah: ternyata ada ya toilet dan wastafel mini seperti ini...lucu sekali penampakannya!

Friday, 8 March 2013

Two weeks....

and I am still survived, alive, and hopefully able to keep my sanity. Yes, home alone for 24/7 with a ninth-month old over a span of three weeks is NOT EASY AT ALL! Despite the fact that he's been very sweet and cooperative as usual, there were times when he really challenged my patience by crying out loud at night time and waking up at early hours around 3-4 a.m., things that rarely happen when daddy is home and that I have difficulties to cope with, especially when my husband is away.
Our life will always be like this, but more than two weeks of business trip is just too much, I would say. So, hats off to all tough women out there who live a long distance relationship with their spouses while taking care of their children during long certain periods.
At this time, while observing him when he is sound asleep, I feel guilty for not having enough patience in taking care of this innocent human being that I love dearly :(. Dear God, please give me strength, patience, and ability to look after Your precious gift so I can be a better mother each day, aamiin. So, two weeks have passed, another week to go :)
My darling son, I love you to the moon and back. My dear husband, come back soon, we need you!

Tuesday, 5 March 2013

Tentang Kunci

Pernah berada dalam situasi yang tidak mengenakkan sekaligus konyol?
Saya pernah, dan hampir semuanya berhubungan dengan kunci :). *Duh, harusnya saya mengerjakan tulisan yang sudah lewat deadline, tapi apa daya, sang ide entah hilang kemana, malah teringat soal insiden-insiden konyol yang pernah saya alami*.

Kejadian pertama, pada suatu malam, beberapa tahun yang lalu, pertemuan dengan masyarakat yang saya ikuti berakhir cukup larut (saya sempat bekerja di suatu proyek berbasis masyarakat yang salah satu kegiatannya adalah pertemuan di malam hari pada akhir pekan), akibatnya saya tiba di kosan saya di daerah Kebayoran Baru hampir jam 11 malam. Karena saya tidak menelepon ibu kos sebelumnya, saya dapati pagar sudah terkunci dan lampu rumah padam, yang artinya penghuni rumah sudah tidur semua. Mau loncat pagar, takut dikira maling, teman kos satu-satunya sedang pulang ke rumahnya di luar kota, duh, bagaimana ini? Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya kembali naik taksi yang mengantar saya pulang tadi sambil berpikir keras kemana saya harus menuju. Di taksi, berkejaran dengan ponsel yang nyaris habis baterai, terpikirlah untuk menelepon seorang teman yang tinggal di kos-kosan besar di daerah Setiabudi. Sayapun meneleponnya, menyampaikan maksud saya, dan telepon pun mati, ppfiuuhh...deg-degan tapi lega, nyaris saja saya luntang-lantung malam ini di ibukota. Setelah kejadian itu, saya selalu memastikan untuk menelepon ibu kos memberitahukan apabila saya pulang malam dan meminta agar pagar tidak dikunci.

Kejadian kedua, waktu berlibur ke Jakarta, seorang teman baik menawarkan apartemennya untuk kami tinggali. Kebetulan, sang teman sedang sibuk pulang pergi ke luar kota dan luar negeri dalam kurun waktu tiga minggu, dan hanya pulang sebentar ke apartemennya diantara jeda perjalanan satu dengan perjalanan lainnya. Satu malam, kami bermaksud pergi makan seafood di Benhil. Teman kami itu baru saja pulang dari luar kota dan tidak mau ikut makan diluar karena capek. Kami bilang paling lambat sampai apartemen jam 9.30 malam dan tidak minta kunci, mengingat ada si pemilik apartemen yang bersedia membukakan pintu. Kamipun pergi makan dan pulang dengan perut kenyang sekaligus baju bau asap. Begitu sampai di depan pintu, diketuk berkali-kali, dipanggil, ditelepon, tidak ada hasil. Akhirnya, selama hampir 30 menit mencoba, kamipun menyerah. Suami berinisiatif untuk menginap di hotel sebelah apartemen yang saya tanggapi dengan dingin. Coba bayangkan, check in di hotel hampir jam 11 malam dengan pria asing, dengan pakaian seadanya, bau asap seafood pula, dan besoknya check out dengan pakaian yang sama pula, apa kata dunia? Tapi, waktu yang terus beranjak larut membuat saya menepis semua kekhawatiran, lagipula kami sudah menikah, jadi terserah apa kata orang. Malam itu, untuk pertama kalinya, saya tidak dapat menikmati tidur di hotel bintang lima, dan keesokan paginya, rasanya saya ingin cepat-cepat menyelesaikan sarapan, sementara suami malah bersantai ria. Siangnya, kami bertemu dengan si pemilik apartemen, ternyata oh ternyata, dia tertidur pulas saking capeknya, dan ketika melihat kamar tempat kami tidur kosong, ia berpikir bahwa kami tidak pulang, padahal... :)

Kejadian ketiga, saat liburan ke Jakarta juga, kami menempati unit yang sama, karena kebetulan si teman baik sedang dinas ke luar kota. Alkisah, suatu malam kami berniat keluar mencari makan. Tepat ketika kami melewati dan menutup pintu, suami saya berseru kalau kuncinya masih tergantung di lubang kunci...yaahh..bagaimana kami masuk nanti? Enaknya tinggal di apartemen, selalu ada layanan 24 jam untuk hal-hal darurat seperti ini. Setelah meminta tolong resepsionis, 30 menit kemudian pintu berhasil dibuka oleh teknisi dan kami pun terhindar dari risiko menjadi tunawisma malam itu.

Kejadian keempat, sewaktu mengunjungi teman saya di kota Lyon, saya diajak teman saya itu menghadiri suatu pesta. Menjelang jam 12 malam, kami meninggalkan pesta tersebut dan menuju stasiun metro terdekat. Teman saya dan satu orang temannya sudah masuk duluan dan saya mengikuti dari belakang. Pertama mencoba, mesin menolak menerima kartu metro saya. Kedua kali, tidak ada reaksi; ketiga kali, sama saja. Rupanya ada masalah dengan kartu metro saya. Sayapun mulai panik karena loket penjualan tiket sudah kosong dan kedua teman saya sudah berada di dalam. Bagaimana saya mau pulang? Akhirnya, mereka berdua menyarankan saya untuk melompati gerbang otomatis tersebut. Awalnya saya ragu-ragu, takut terekam CCTV, tapi karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya melakukan yang disarankan. Pikir saya waktu itu, kalaupun ketahuan, saya punya alasan yang kuat dan ada dua teman saya yang bisa menjadi saksi. Syukurlah tidak ada panggilan apapun dari kantor polisi sampai beberapa minggu setelahnya..pengalaman unik di negeri orang, yang tidak ingin saya alami lagi tentunya.

Kejadian kelima, bukan saya yang mengalami sendiri, melainkan teman kos saya, sebut saja X. Si X ini, untuk sebagian besar orang yang mengenalnya, seringkali dianggap aneh, suka mencari perhatian, suka berkhayal, dst. Kamar X bersebelahan dengan kamar saya. Suatu malam, teman saya yang lain menemukan X tengah meringkuk tertidur di depan pintu kamarnya. Karena kasihan, teman saya membangunkan si X dan menyuruhnya tidur di kamar dia. Hihi, sampai sekarang tidak jelas alasannya kenapa X tidak langsung masuk ke kamarnya untuk tidur dan malah tidur di depan pintu kamar. Lupa bawa kunci? mungkin...Terlalu lelah? mungkin.. Yang pasti bukan karena hangover karena saya tahu persis meskipun X suka datang ke acara pesta teman-teman, dia tidak minum sama sekali. Yang jelas, kelakuan X ini membuat predikat aneh semakin melekat pada dirinya, ada-ada saja.

Ada yang punya pengalaman serupa?