Tuesday, 20 December 2011

Hôtel National des Invalides

Ada satu tempat di Paris yang begitu ingin saya kunjungi, namun bukan Eiffel, bukan Arc de Triomphe, dan bukan pula Louvre. Ketiga tempat ini tentunya ada dalam peringkat atas tempat-tempat yang harus dikunjungi pada kunjungan pertama  ke kota Paris :). Tempat yang saya maksud adalah Hôtel National des Invalides.

Hôtel National des Invalides
Pada awalnya, saya hanya tertarik dengan kubah bangunan yang tampak megah dan berkilau, namun setelah suatu hari tanpa sengaja melihat penunjuk arah menuju nisan Napoleon yang ternyata berada di dalam bangunan tersebut, sayapun jadi penasaran. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, bahkan setelah meninggalnyapun, pengunjung makam Napoleon perlu membungkukkan badan untuk melihatnya.

Setelah tertunda selama beberapa lama, akhirnya saya berkesempatan untuk membuktikan langsung seperti apa makam Kaisar Perancis yang legendaris itu. Dengan tiket masuk €9 per orang yang juga berlaku untuk masuk ke museum angkatan bersenjata di kompleks yang sama, sayapun bergegas memasuki bangunan indah nan megah tersebut.
Interior monumen yang indah
Kapel utama

The Hôtel National des Invalides didirikan pada tahun 1670 oleh Louis XIV untuk mengakomodasi para veteran perang yang dirancang oleh arsitek Libéral Bruant. Pada 1674, kompleks ini menjadi suatu "kota" dengan tempat tinggal bagi para veteran, barak, rumah sakit, dan bengkel kerja. Makam sang Kaisar sendiri baru dipindahkan pada tahun 1840 atas perintah Louis-Philippe I dari pulau St. Helena ke Paris untuk ditempatkan di dasar kubah. Pembangunannya dipercayakan kepada arsitek Louis Visconti dan selesai pada tahun 1861. Selain Napoleon, disini juga terdapat makam saudaranya Joseph Napoleon I dan jenderal-jenderal legendaris Perancis, diantaranya Géraud Duroc dan Marechal Foch.

Makam Joseph Napoleon I
Makam Napoleon I  terletak di dasar kubah utama, dikelilingi oleh duabelas patung yang melambangkan kampanye militer pada masa pemerintahan Napoleon I. Delapan kemenangan Perancis dalam perang yang terkenal terukir pada lantai marmer di sekeliling makam. Di bawah patung sang Kaisar, terdapat makam putranya.
Makam sang Kaisar


Setelah puas menikmati keindahan interior bangunan kubah ini dan menuntaskan rasa penasaran, saya beranjak menuju museum angkatan bersenjata yang mendokumentasikan sejarah militer Perancis dari abad ke-13 sampai dengan Perang Dunia II. Bagi mereka yang tertarik dengan sejarah kemiliteran, khususnya militer Perancis, tempat ini tidak boleh terlewatkan.

Sunday, 18 December 2011

Suatu Hari di Pasar Tradisional

Salah satu kegiatan favorit saya yang berlanjut sampai sekarang adalah pergi berbelanja sayur mayur dan buah-buahan ke pasar tradisional. Becek dan bau tidak menjadi halangan untuk saya. Sebaliknya, kepuasan yang diperoleh ketika berhasil menawar harga (sejauh ini baru berlaku di Indonesia) dan hasil berupa sayur-mayur atau buah-buahan segar dengan perbedaan harga yang lumayan dibandingkan dengan membeli di pasar swalayan cukup membuat saya bahagia. 

Beberapa hari setelah tiba di Bangkok, tujuan saya adalah mencari pasar terdekat untuk mencari serai, lengkuas, dan daun kemangi. Akibat peristiwa banjir kemarin, banyak produk sayur-mayur yang menghilang dari rak di pasar swalayan, sementara penjual makanan pinggir jalan tampaknya tidak mengalami masalah dalam memperoleh persediaan mereka. Jadi, saya membulatkan diri untuk pergi ke salah satu pasar tradisional yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, yaitu Khlong Toey. 

Suasana di pasar tradisional Khlong Toey (gambar diambil dari sini)
 Tantangan pertama dimulai ketika saya mencari taksi untuk menuju ke pasar itu. Pelafalan saya mungkin membingungkan supir taksi, namun pada akhirnya ia mengerti tujuan yang saya maksud. Kunjungan pertama, saya begitu senang, karena ada banyak sayur dan buah-buahan yang saya temukan disini, hampir semuanya produk lokal dan favorit kami, mulai dari jambu batu, bengkuang, jambu air, jeruk peras, pepaya, dan mangga, tentunya dengan harga yang jauh lebih bersahabat. Selain itu saya temukan pula bawang merah, cabai merah segar, dan daun pisang! 

Kunjungan kedua, kami pergi berbelanja bersama dan mulailah terjadi pengalaman lucu. Karena saya belum bisa berbahasa Thai, maka percakapan dilakukan dengan bahasa tubuh, saya bicara dalam bahasa Inggris, syukur-syukur kalau mengerti, kalau tidak, ketika saya menunjuk sesuatu untuk dibeli, pedagang akan menghitung dengan kalkulator dan menunjukkan harga yang harus dibayar. Lagipula, tidak perlu menawar di pasar ini karena semua harga per kilonya sudah tertulis. Suatu kali, saya mau membeli mentimun namun harganya tidak tercatat  sehingga saya bertanya kepada ibu penjual dalam bahasa Inggris. Dia menjawab dalam bahasa Thai dan akhirnya percakapan itu berakhir dengan si ibu penjual memalingkan muka, hahaha...rupanya dia kesal karena saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Sayapun beranjak ke pedagang lain dan transaksi berjalan mulus, walaupun kami tidak berbicara bahasa yang sama, cukup memilih barang-barang yang saya mau beli dan penjual bergegas menghitung total belanjaan saya, beres! Atau kalau beruntung, saya berjumpa dengan penjual maupun sesama pembeli yang dapat berbahasa Inggris.

Pengalaman lain adalah ketika membeli bawang merah. Rupanya dimanapun selalu ada orang yang mencoba-coba. Saya membeli bawang merah seharga 80 Baht per kilo sesuai dengan tulisan yang tertera. Begitu menyerahkan selembar uang 100 Baht, sang penjual pura-pura seolah-olah berharap saya akan memberikan sisanya. Eits, tunggu dulu...saya tidak akan begitu saja memberikan uang yang bukan haknya, kemudian saya tagih kembalian 20 Baht (dalam bahasa Inggris), dan dengan raut tanpa dosa, iapun memberi saya sejumlah kembalian seharusnya. Pengalaman yang sama pernah terjadi juga ketika saya berbelanja di pasar lain di wilayah Ratchadapisek. Berbeda dengan Khlong Toey, pasar yang diadakan setiap seminggu sekali ini berlokasi di pelataran depan sebuah hotel, bersih, teratur, dan bersahabat untuk ibu-ibu yang membawa bayi dengan kereta dorong. Pada waktu itu saya membeli penganan goreng, si penjual dengan tenangnya menyapa calon pembeli yang baru datang, tentu saja saya protes dan bilang bahwa saya mau kembalian sesuai dengan harga yang tertera di kertas. Akhirnya iapun mengembalikan uang saya, duh padahal dengan asumsi kedainya ditandai label halal, seharusnya dia tidak berpura-pura lupa memberikan saya kembalian ya? 

Pengalaman lain, masih di Khlong Toey, adalah ketika ada seorang wanita bertanya pada saya dalam bahasa Thai. Saya bilang maaf dalam bahasa Inggris tapi dia terus-terusan bicara, akhirnya saya tinggalkan saja diikuti dengan pandangan orang-orang sekitar. Ternyata cacat bahasa itu cukup melelahkan. 
 

Walaupun begitu, saya tidak pernah kapok belanja ke pasar dan Khlong Toey selalu menjadi favorit saya untuk berbelanja sayur-mayur dan buah-buahan segar. Langkah berikutnya adalah mengobati cacat bahasa saya sehingga kegiatan berbelanja di pasar tradisional menjadi lebih menyenangkan.

Selamat berhari Minggu!

Mengenang kehidupan di Port Vila

Rasanya baru kemarin kami menjejakkan kaki di bandara internasional Bauerfield, Port Vila, padahal itu terjadi lebih dari setahun yang lalu. Pada saat sudah berada kembali di kota besar seperti sekarang ini, rasa kangen dan kenangan manis selama tinggal di ibukota mungil berpenduduk kurang lebih 40 ribu jiwa ini seringkali muncul. Sulit memang membayangkan hidup di kota kecil setelah sekian lama terbiasa dengan denyut kehidupan kota besar. Namun, kepindahan kami ke Port Vila memberikan pengalaman hidup baru yang tentunya sangat berkesan bagi saya pribadi.
 
Port Vila Bay dengan Iririki sebagai latar belakang

Jarak dari bandara ke pusat kota hanya membutuhkan waktu 15 menit saja dengan mengendarai mobil, sampai akhirnya kami tiba di akomodasi sementara sebelum mendapatkan tempat tinggal permanen. Bulan pertama kami habiskan di sebuah apartemen studio mungil yang cukup nyaman yaitu Breadfruit apartment sampai kami menemukan sebuah rumah cantik di kawasan Nambatu yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari kantor maupun pasar swalayan. Ya, di Port Vila ada kawasan yang dikenal dengan nama Nambawan (berasal dari number one), Nambatu, dan Nambatri. Kawasan Nambawan itu terletak di pusat kota, tempat banyak café dan restoran berlokasi, Nambatu itu merupakan kawasan residensial yang dihuni oleh campuran penduduk asli dan ekspatriat, Nambatri lebih banyak dihuni oleh penduduk lokal, sedangkan kawasan Elluk, Tassiriki, dan Bellevue dihuni oleh penduduk asli golongan menengah ke atas dan kaum ekspatriat. Moda transportasi yang kerap saya gunakan adalah bus, dengan tarif 150 VUV (Vatu – mata uang Vanuatu) yang setara dengan 13,000 IDR untuk satu kali jalan, diantar sampai tujuan.

Pusat kota Port Vila dengan bus yang lalu-lalang
Nambawan

Ada banyak hotel mewah di Port Vila, namun hanya ada satu gedung yang mempunyai lift di seluruh negeri, yaitu hotel The Grand Hotel and Casino yang berlantai 6 yang terletak dekat pelabuhan Port Vila. Untuk keperluan sehari-hari saya biasa berbelanja ke satu-satunya pasar tradisional di pusat kota yang buka 6 hari dalam seminggu maupun pasar swalayan. Di pasar tradisional dapat ditemui sayuran dan buah lokal serta warung-warung makan. Sesuai musimnya, saya juga pernah menjumpai sate kelelawar dan kepiting kelapa dijual disana. Sedangkan produk sayur dan buah impor dapat diperoleh di pasar swalayan, terutama untuk produk makanan Asia. Lucunya, di pasar swalayan ini, ada banyak kemasan yang masih dijual meskipun telah melewati batas waktu dan tampaknya pembelipun, khususnya masyarakat Melanesia tidak khawatir untuk mengonsumsi produk yang sudah lewat batas waktu tersebut.

Buah-buahan dan sayuran lokal
Aktivitas di pasar tradisional
Gambar unik di dinding kantor pos Port Vila
Untuk buah-buahan segar, kami cukup beruntung karena di kebun sekeliling rumah ditanami oleh pohon buah-buahan seperti pisang, mangga, alpukat, kedondong dan nanas. Jadi teringat ketika musim mangga antara bulan November – Januari, setiap malam terdengar buah mangga matang jatuh dari pohon, dan keesokan paginya, sayapun panen seplastik penuh buah mangga, saking banyaknya sampai hampir setiap hari dibagi-bagikan ke teman-teman. Pada saat panen alpukat, kebetulan kami sedang berada di Indonesia, namun kami sempat merasakan lezatnya buah alpukat disini, dagingnya begitu lembut dan rasanya creamy, persis seperti alpukat mentega di Indonesia. Bahkan alpukat mentah yang diperam pun matangnya sempurna tanpa menjadi busuk. Sampai saat ini saya beranggapan bahwa alpukat Vanuatu adalah alpukat terenak yang pernah saya cicipi. Pisang adalah panenan kami terakhir sebelum meninggalkan Vanuatu. Dengan tiga batang pohon pisang di halaman, alhasil di rumah berserakan entah berapa sisir pisang mentah nan menggiurkan. Ah, jadi kangen masa-masa tinggal di rumah Nambatu...

Therese dan panen pisang dari kebun
Menanti panen nanas
Perbandingan mangga ukuran normal dengan mangga terbesar selama panen tahun 2010
Bercerita sedikit tentang rumah yang kami tinggali, rumah ini mempunyai balkon dengan pemandangan langsung ke arah laguna. Semburat matahari terbit setiap pagi dapat dinikmati langsung dari kamar kami, dan di siang hari, saat cuaca cerah, kami seringkali disuguhi pemandangan warna laguna yang bervariasi antara biru dan biru tosca. Saat sehabis hujan, giliran semburat pelangi yang menampakkan diri, benar-benar sempurna.

Kenangan manis di Nambatu
 Tidak banyak hiburan di kota ini, berbeda dengan umumnya kehidupan di kota besar. Aktivitas yang paling sering kami lakukan di akhir pekan, selain mengundang atau diundang teman-teman untuk makan malam bersama, adalah pergi ke pantai. Tinggal di kawasan Pasifik yang terkenal dengan pantai-pantai indahnya, rasanya rugi sekali kalau melewatkan kesempatan ini. Beberapa tempat favorit kami diantaranya Erakor, pulau kecil dengan resort yang terletak di laguna yang sama dengan laguna di belakang rumah yang kami tempati, Hideaway Islands, tempat ber-snorkeling yang terkenal dengan pemandangan bawah airnya dan underwater post pertama di dunia, dan Eton dengan blue hole-nya yang menakjubkan namun terletak agak di luar kota. Pada awal kami datang, penduduk lokal dapat masuk ke pantai-pantai ini, namun beberapa bulan kemudian, Erakor dan Hideaway Islands menerapkan peraturan baru yang mengharuskan pengunjung membayar biaya masuk sebesar 1500 VUV dan 1000 VUV sebelum menyeberang untuk kemudian ditukar dengan voucher pembelian menu makanan di restoran resort tersebut. Hal ini tentunya membatasi akses penduduk lokal dan jadinya hanya turis saja yang dapat berkunjung.

Pilihan tempat favorit untuk melewatkan akhir pekan

Pantai-pantai indah di sekitar kota Port Vila
Di Port Vila juga saya mengalami musim siklon pertama saya dan juga rangkaian gempa bumi yang cukup kuat. Musim siklon yang berlangsung dari bulan November hingga April pada awalnya cukup mengagetkan apalagi kalau belum terbiasa. Seorang teman yang berasal dari Kanada dan sudah terbiasa dengan badai (hurricane) mengatakan kalau angin-angin kencang di awal bulan November itu belum ada apa-apanya. Badai yang sering ia alami di benua Amerika sana menurut teman kami itu terasa seperti rangkaian kereta api lewat begitu dekat! Bulan Januari – Februari adalah masa-masa terburuk untuk siklon. Pernah suatu kali, saya ditinggal pergi bertugas selama seminggu dan otomatis sendirian di rumah. Malamnya, angin bertiup begitu kencang sampai rasanya pintu kayu pelindung berderak-derak nyaris terlepas. Keesokan paginya, batang pohon kedondong yang cukup tinggi sudah terkulai layu di tanah, pohon-pohon di halaman ada yang patah maupun nyaris bengkok, dan patahan ranting berserakan dimana-mana. Bila disertai dengan hujan, permukaan air di lagunapun bisa naik cukup tinggi, namun untungnya rumah kami berada di atas bukit batu sekitar 30 meter diatas permukaan air, jadi tidak terlalu khawatir untuk hal ini. Gempa bumi terkuat yang pernah saya rasakan juga terjadi ketika kami masih disini, beberapa minggu sebelum kepindahan kami. Jadi, pada dini hari Sabtu tanggal 20 Agustus, sekitar pukul 4 pagi saya merasakan tempat tidur bergoyang-goyang cukup lama sampai membuat saya terbangun. Setelah bangun dan menunggu beberapa saat, tidak terjadi apapun sampai kemudian mulailah guncangan yang cukup keras dan lama sekitar jam 5 pagi. Syukurlah, dengan skala M 7.1 dan kedalaman pusat gempa 40 km, tidak ada kerusakan bangunan apapun yang ditemui pagi itu.

Pengalaman tinggal di negara kepulauan di Pasifik Selatan ini tidak akan pernah saya lupakan, mulai dari kebiasaan kami bersantai di balkon sambil memandang laguna, belajar melempari buah mangga yang matang supaya cepat jatuh dari pohonnya dengan tetangga saya dari Fiji -Shainaz namanya-, menghabiskan akhir pekan dengan berenang dan snorkeling di pantai atau air terjun, berjalan kaki ke rumah sepulang bekerja –disini saya sempat bekerja sebagai sukarelawan di kantor pemerintah selama tiga bulan- sambil menikmati udara sore dan langit biru dan berpikir apakah saya akan mengenang saat-saat itu kelak (dan ternyata jawabannya adalah ya), seringkali menemukan kepiting yang tengah menyeberang jalan pada malam hari ketika kami melintas, melewatkan hari Sabtu pagi di café Au Peche Mignon di pusat kota untuk menyantap segelas coklat hangat dan croissant serta memborong sekantung chouquettes sebelum mampir ke pasar tradisional (pengaruh Perancis memang relatif kuat, khususnya di Port Vila), menyeruput segelas banana smoothie di Nambawan café, menikmati terbenamnya matahari sore di Port Vila bay sambil ber-stand up paddling bersama teman-teman, termasuk tentunya suasana pada malam hari yang gelap gulita karena ketiadaan lampu jalan yang merupakan bagian dari suka duka tinggal disini.
Permainan khas Perancis petanque
Mahasiswi USP sedang menampilkan tarian khas Vanuatu
Ekspresi polos anak-anak
Warna-warni Port Vila
Tulisan ini juga sekaligus untuk mencurahkan perasaan kangen pada teman-teman baik yang saya kenal selama tinggal disana, dan tentunya Therese, yang membuat rumah kami selalu bersih dan rapi. Hope to see you all again some other time in the near future!

Thursday, 17 November 2011

Mencari yang Halal

gambar diambil dari sini

Gara-gara menonton ulasan di televisi baru-baru ini dengan topik apakah daging halal yang dijual di Perancis benar-benar halal ataukah hanya semata dilabeli halal untuk memenuhi permintaan pasar, saya jadi teringat pengalaman kami tentang hal yang satu ini. Urusan mencari makanan halal menjadi tantangan bagi umat muslim ketika berkunjung atau tinggal di negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim. Beruntunglah masyarakat muslim yang tinggal di Indonesia, dimana tempat makan dengan menu halal bukanlah hal yang sulit dicari, tentunya dengan perkecualian sebagian wilayah di timur Indonesia. Meskipun begitu, tetap saja kita harus berhati-hati memilih makanan karena merebaknya fakta penggunaan daging yang tidak lazim, khususnya oleh penjual makanan keliling atau gerobak pinggir jalan untuk menekan biaya produksi.

Pengalaman saya berburu daging halal untuk pertama kalinya adalah empat tahun lalu, dan untuk mencapai toko daging tersebut, saya dan teman saya harus berjalan kaki sekitar 45 menit sekali jalan dengan bonus naik bukit pada saat perjalanan pulang, padahal sekitar 5 menit jalan kaki dari tempat tinggal saya, ada toko serba ada yang cukup lengkap. Cukup melelahkan memang, tapi sebanding dengan kepuasan memperoleh daging halal. Setelah pindah ke negara tetangga, mencari daging/makanan halal tidak sesulit dulu, di pasar swalayan besar dekat apartemen selalu tersedia produk-produk halal, walaupun saya tetap mencoba sebisa mungkin berhati-hati untuk tidak makan di hawker centre atau restoran yang tidak memiliki label halal. Kendala lain muncul ketika ada teman yang mengajak makan di suatu tempat yang diragukan kehalalannya. Pernah suatu kali, saya diajak teman yang sedang bertugas di negeri jiran untuk bersantap malam dengan menu seafood di tempat favoritnya. Ternyata, sesampainya kami disana, tempat favoritnya itu adalah restoran Cina yang selain menjual menu seafood, juga menjual menu dengan daging sapi dan babi. Awalnya, saya pikir karena teman kami ini tahu pasti bahwa saya muslim, tempat kami makan dapat dipastikan halal, apalagi di negeri jiran, tapi ternyata saya salah. Masih banyak orang yang salah mengerti apa itu definisi halal.

Tantangan sebenarnya baru dimulai ketika kami pindah ke suatu negara kecil di Pasifik. Selama kami tinggal disana, kami tidak berhasil menemui satupun penduduk muslim, padahal menurut informasi, ada komunitas muslim minoritas di salah satu desa di pulau tempat kami tinggal. Setelah kami tanya sana-sini, hasilnya nihil. Sampai kami meninggalkan negara cantik itu, tidak ada info baru mengenai keberadaan penduduk muslim disana. Kembali ke urusan makanan, ada banyak produk dengan label halal yang bisa diperoleh di pasar swalayan, karena sebagian besar bahan makanan di ibukota diimpor dari negara-negara Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, kecuali untuk produk daging segar. Sayangnya, walaupun tinggal di negara kepulauan, makanan laut tidak terdapat di pasar tradisional dan harganya cukup mahal di pasar swalayan. Setelah mencoba bertahan hanya dengan makan sayur-sayuran, akhirnya kami menyerah juga. Daging sapi lokal dengan kualitas nomor satu sejajar dengan Australia dan Selandia Baru dan daging ayampun mulai kami konsumsi. Adapun apabila kami pergi ke restoran dengan teman-teman, prinsipnya, kami memesan menu apapun selain yang dilarang oleh keyakinan kami. Padahal kan kita tidak pernah tahu pasti bagaimana makanan dimasak di dapur restoran.Tapi mau bagaimana lagi?

Begitu kami menginjakkan kaki kembali ke Asia Tenggara awal bulan lalu, tantangan lain dimulai. Aneka makanan yang dijajakan di pinggir jalan begitu mengundang selera, namun sayangnya banyak diantaranya yang jelas-jelas tidak halal. Di pasar swalayan terdapat produk halal, namun sewaktu terakhir kali saya kesana dan mencari daging sapi di rak yang bertanda "halal products", yang saya temui malah temannya sapi :(...duh, ada-ada saja. Pelajaran penting: jangan hanya percaya begitu melihat tanda di raknya, sebaiknya cek langsung ada tidaknya label halal di kemasan produk. Minggu lalu, kami berniat untuk belanja di toko daging halal di Sukhumvit. Di area yang tidak jauh dari toko daging, terdapat restoran halal dimana kami berencana makan siang yang informasinya saya peroleh dari blog ini. Rupanya belum jodoh mencicipi makanan halal dengan hati tenang, setelah berpanas-panasan berjalan kaki dengan perut lapar, begitu sampai, ternyata restorannya tutup karena libur Idul Adha :(. Ujung-ujungnya, kami terdampar di restoran terdekat dengan menu Mediteranian yang walaupun tidak menjual menu babi tapi tetap saja tidak berlabel halal.

Tampaknya perburuan kami dengan makanan halal masih akan terus berlanjut, entah sampai kapan :). Paling tidak, hikmah yang dapat diambil sejak kami pindah ke kota ini, sekarang kami dapat menemui banyak label halal untuk produk makanan maupun restoran, jauh lebih banyak dari kota tempat tinggal kami sebelumnya, alhamdulillah.

Wednesday, 16 November 2011

Going back to Middle Ages in Albi

When the Episcopal City of Albi in southern France was inscribed as one of UNESCO World Heritage Sites in July 2010, we marked the city on our must-visit places’ list during summer vacation last year. Constructed from orange bricks with Gothic style, the city view and its buildings are merely impressive. Albi obtained its episcopal power following the Albigensian Crusade against the Cathar heretics in the 13th century (source: http://whc.unesco.org/en/list/1337)



Friday, 11 November 2011

Another trip reports

After few months of hibernating, I finally got my articles published in two magazines this month, yuppieee!!! Despite the extensive travels I have had this year, I am still struggling against the laziness in writing my whole trips :(.

In the meantime, let's explore the beauty of Queenstown in New Zealand, published in Tamasya magazine and immerse yourself in the sacred Land diving tradition in Pentecost Island, Vanuatu, published in JalanJalan magazine.




How far can you go?

*Appreciation goes to the magazine editors who have made my dreams come true*

Monday, 3 October 2011

Around the World in 80 days

Just finished reading this book after so many years being abandoned in the shelf! 

I personally found this book is very well written and great imagination of Jules Verne has made me feel that I was also there when Passepartout and his master bravely saved the beautiful lady in India, when they were chased by Inspector Fix from one country to another, and during the critical period when Phileas Fogg was put in jail, few hours before he was due to be in the Reform Club to win his bet. 

With a happy ending that Phileas Fogg found his destiny, that is Mrs. Aouda, after such a long voyage to be the happiest man, this book reminded me that, often, to find your love, you just need to go through various obstacles and challenges before you find the right one, and at the end, it is all worth it!

Wednesday, 14 September 2011

Exploring Milford Sound and Queenstown

Berbekal modal mileage yang ada, alhamdulillah akhirnya tercapai juga keinginan untuk mengunjungi salah satu fiord di dunia yang dapat diakses oleh manusia sekaligus kota Queenstown yang cantik. Dimanakah kedua tempat ini berada? Nun jauh dibawah garis katulistiwa, Selandia Baru jawabannya.

Dalam waktu lima hari, kami beruntung dapat menikmati denyut kota Queenstown dan pesona danau-danau indah disekitarnya, melakukan road trip di salah satu rute jalan terindah di Selandia Baru, mengagumi karya Tuhan di dalam wilayah taman nasional Fiordland, dan mengunjungi kota kecil Arrowtown.

Mengambil penerbangan pagi dari Auckland dengan maskapai Jetstar, kami tiba di Queenstown sebelum makan siang. Karena saat itu kami berpuasa, yang ada begitu check in kami sukses tertidur sampai sore dalam dekapan cuaca mendung dan suhu musim dingin. Menjelang buka puasa, kami berjalan-jalan di pusat kota sambil menikmati pemandangan danau Wakatipu dan barisan pegunungan berselimutkan salju di kejauhan yang dikenal dengan Remarkable mountains sebelum akhirnya mampir di sebuah kedai untuk memesan coklat panas dan churros coklat beraroma kayu manis sebagai menu buka puasa kami. Nikmaatt...

Tujuan utama kami dalam perjalanan kali ini adalah Milford Sound, fiord yang terbentuk akibat proses mencairnya es sehingga menghasilkan lembah-lembah berbentuk huruf U dengan tebing-tebing yang curam. Ikon Milford Sound, yaitu Mitre Peak, adalah puncak tertinggi dengan mempunyai ketinggian lebih dari 1,600 meter di atas permukaan air. Untuk mencapai Milford Sound, kami menempuh sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan dibawah hujan salju dari Queenstown ke Te Anau, kota kecil yang merupakan gerbang taman nasional Fiordland, dilanjutkan dengan dua jam perjalanan dari Te Anau ke Milford Sound. Pemandangan sepanjang Milford Road sangatlah spektakuler, dengan hamparan salju dimana-mana dan pegunungan tinggi di kiri kanan jalan, kami merasa sangat bersyukur dapat menyaksikan keindahan ini.



Tiba di Milford Sound saat hari sudah sore setelah kurang lebih enam jam perjalanan darat, kami disambut dengan pemandangan matahari terbenam yang luar biasa indah. Kami memilih untuk menginap di dekat Milford Sound untuk mengoptimalkan kunjungan kali ini dengan berkesempatan menjelajah wilayah taman nasional. Namun, sebagian besar wisatawan memilih perjalanan pulang hari dengan bus, baik dari Queenstown maupun Te Anau. Ada banyak operator kapal yang menawarkan paket menelusuri Milford Sound. Informasi lebih lengkap dapat dilihat di sini.


Milford Sound
Di awal perjalanan, kabut tebal menggantung dan hujan mulai turun, namun dalam perjalanan kembali, matahari perlahan menampakkan sinarnya dan kamipun mulai menikmati pemandangan alam yang begitu beragam, mulai dari rangkaian pegunungan tinggi, air terjun, sepasang pinguin lucu, dan sekelompok anjing laut yang sedang bermalas-malasan!!! Tidak  terasa, pelayaran selama dua jam limabelas menitpun sudah berakhir. Kalau tidak ingat biaya yang harus dikeluarkan dan jarak yang harus ditempuh untuk mencapai fiord ini, rasanya saya ingin kembali lagi. Yah, mudah-mudahan saja suatu hari nanti ada rezekinya untuk kembali lagi kesini..

Karena waktu yang terbatas, setelah selesai pelayaran kurang lebih pukul duabelas siang, kami langsung berangkat untuk kembali ke Queenstown. Menjelang sore, kami memutuskan untuk menaiki Skyline Gondola yang memungkinkan kami menikmati pemandangan kota Queenstown dari ketinggian. Dengan harga NZD 25 per orang, cable car ini membawa kami ke suatu bangunan di puncak dimana terdapat restoran, bar, arena luge, dan bungy jumping. 

This is Queenstown!
Sekitar satu jam berada di puncak, kamipun memutuskan turun karena perut mulai protes. Demi memenuhi rasa penasaran, kami nekat mengantri di sebuah kedai burger! Jauh-jauh ke Queenstown, kok makannya burger? Bukannya itu bisa diperoleh dimanapun? Jangan salah, burger ini sangat istimewa, hanya ada di Queenstown dan diklaim sebagai burger terenak di seantero Selandia Baru. Mengusung nama dagang Fergburger, tempat ini selalu dipenuhi pengunjung. Kami sendiri memperoleh pesanan kami setelah satu jam menunggu...namun, begitu pesanan datang, pertanyaan mengapa burger ini begitu terkenal terjawab sudah. Kombinasi ukuran bun yang ekstra besar dengan variasi rasa yang unik, harga masuk akal, dan kualitas rasa yang memuaskan adalah alasan utama, selain tentunya strategi pemasaran yang baik.

Terbukti sudah pendapat orang-orang tentang Queenstown. Kota cantik ini memang begitu menarik sehingga sesuai dengan namanya, layak dikunjungi oleh sang Ratu.

Sampai jumpa di petualangan selanjutnya!

Thursday, 8 September 2011

The true reflection

One of the most visited places within the National Park due to its breathtaking beauty. I personally could not get enough of taking more photos of this natural mirror.

Serenity at Mirror Lakes, Fiordland National Park

Wednesday, 7 September 2011

Camping in France

When I was still single, I used to stay in 10-12 dorm bed at a backpacker hostel when traveling. Since we got married last year, he introduced me to his family tradition, camping!

Camping sites, especially in France, are very comfortable and available in most cities, regardless the fact that the sites are usually located at the outskirt of the city. However, since we always rent a car every time we travel, then distance is no longer a problem. Besides, we are more flexible in terms of destination and time.

Apart from the blocks for tents, the sites also provide places for camping van, fully furnished mobile homes, and majority of the sites are baby-friendly, too. In most of the camping sites that we have been, the public facilities, such as toilets, showers, and washing room, are kept clean and dry. The camping sites have stars, too, depending on the facilities they have, ranging from one-star to five-stars, just like hotels. So, if you demand for a swimming pool, nice rooms, playground for children, restaurant, and everything else in your site, do not hesitate to pick the five-star ones. Our picks range from one-star to three-star sites, depending on availability and in my personal observation, those sites met our standard, so far.

From the financial point of view, camping is also beneficial for our budget since we spend less in total but we see more. This is only my personal opinion since it may be varied among travelers subject to their styles and preferences. He and I share the same level of traveling passion, therefore camping for us is obviously an exciting adventure. By camping, we are brought back to nature where we hear the chirping birds in the morning and we spend the night staring at clear skies with countless stars at the camp site. Lovely, isn't it?

Last time we did the road trip, it took us twenty days, eight different camping sites, and roughly four thousands and five hundred kilometres to visit twenty cities in three countries. Do not ask how many road maps and guide books we brought along during the trip, MANY!

Our tent at Camping de la Cité in Carcassonne

Here are some tips!

1. If you plan to do camping, it is better to rent a car for your trip. You can also hitchhike if you demand for more adventures!

2. Find the camping site from Camping France or Camping de France. Visit the nearby Tourism Office once you arrive in a city and they will provide you with a complete list of camping sites in the region. 

3. Prepare your camping equipments, including tent, sleeping bags, kitchen utensils, torches, first aid kits, rubbish bags, and cooler. Some places offer camping equipment rentals, too..try to find it by Google.

4.  Always bring raincoats as in some mountaineous regions, the weather may change unexpectedly, even during the summer.

5. Make sure that you have the latest update of the weather condition in your destination.

6. Happy camping, everyone!

Our way of life

Everyone must have particular consideration when deciding what they are going to do with their life. For us, we want to enrich ourselves with as much life experiences as possible in the coming years. Therefore, we choose not to stay permanently in either both countries at the time being. As a consequence, we have to be ready for any possible opportunities that might knock our door and pack our things right away should that opportunity arise. Since I am quite new to this world, I am currently learning my lessons in how to deal with this kind of lifestyle. What I share here are in random order and merely from my point of view and personal experiences for the last few years.  

Maturity and Independency
The fact that living far away from family requires a certain level of maturity and independency in order to be able to take necessary action or considerable decision for us to move on, especially in critical situation. 

Survival skills
Basic survival skills such as cooking and doing domestic chores appropriately are definitely compulsory for me thanks to my beloved mother who has taught me the importance of possessing these basic skills since I was still a little girl.

Self-adaptation
Living with different characters from different backgrounds in a new place is another issue. Willingness to learn the local language, culture, and enthusiastically get along with the people are the key to a smooth self-adaptation.

Courage
Life is about experience and we might encounter either good or bad ones. Be ready for the worst situation that may occur and stay alert. I once had an unpleasant experience about this and I am glad that I could take a good lesson from it in order to be more alert in the future.

Adventurous mind
Changing living places from time to time gives the advantage of seeing more and more parts of the world. Therefore, do not hesitate to explore the regions, get to know the local way of life, and learn from it. Don't leave a country without having any single traces to its rural/suburban and less traveled areas.

Open mindset
Once we are outside our homeland, we become the minority and therefore it is us who need to adjust with the majority and not the other way around. Being tolerant and respectful to others' opinions without betraying our own principles are utterly important.

Tuesday, 6 September 2011

Fresh from the garden

yummy..yummyy...
One of my much loved activities during our summer visit in the Loire Valley is fruit picking. In my own family, we have never had a garden planted with so many fruit trees and the only fruit tree we had was a papaya tree. So, when the first time I saw a tree full of ripe prunes at my in-laws’ well-manicured garden, I was extremely excited. As most of the houses here grow their own fruits and vegetables, there will be barters among neighbours when the harvesting season comes. As for us, we swop prunes for beetroots and greenbeans with two different neighbours. Prunes aren’t the only ones found in the garden. There are also different kinds of apples, walnuts, almonds, pears, cherry tomatoes, courgettes, and figs. The latter is commonly found only in Europe, I think. For the best walnuts and almonds, we often have to compete with the cute squirrels who definitely love them, too.

what have been saved from the squirrels
So, if many young people from Europe travel down under to work during the fruit picking season as well as to take advantage by being in the country, I am doing the other way around. My ultimate satisfaction comes from the experience of picking the fruits directly from its trees, fulfilling my imagination when reading childrens’ storybooks.

The fresh products ready to be consumed

The lure of Mele cascades

Mele Cascades is one of Efate’s natural gems. Located about 15 minute-drive from Port Vila –everything is close by in Port Vila and most of the time you can always expect for a smooth traffic– Mele Cascades offers a spectacular view of the turquoise crystal clear waters gently flowing down the smooth round rocks. Hidden in Mele’s lush nature, the waterfalls are visible after climbing some friendly steps, walking through the path, and crossing a small river for about  10 minutes walk. At the end of the walk, there is a small hut where a guard and simple storage facilities are available.

In making our way towards the waterfalls, we just need to climb the small cascades and follow the existing path. The path itself is not naturally built, yet it is blended perfectly with its natural surroundings. In between, you will find shallow ponds where people can soak themselves while having a chat in the fresh water. Nice, isn’t it?

With the entrance fee of VT 1000 or equal to AUD 10 for residents, and VT 1500 or AUD 15 for non-residents, visitors love to spend their time swimming, taking pictures, or having natural back massage under the waterfalls, just like we do.

A year in Port Vila: Honeymoon from a different point of view

As soon as we tied the knot in April last year, we spent the first three months living on our own in Jakarta, almost two months on vacation here and there, and about a year ago, we arrived in Vanuatu, a faraway archipelago, somewhere in the South Pacific Ocean. He was occupied at work since day one, while I was still figuring out what I could do during the year. I managed to get some small projects to do for the first month thanks to my BFF, but that was it! I do not have my own network of friends yet. Most of the people I know were those from his office, until I met some friendly ladies in one of the functions we attended who later became my good friends.

Indeed, life is much challenging when you have to take care of your own household. To name a few, dealing with various problems in the house, maintaining relations with the landlords and neighbours, sharing domestic chores between the two of us, and hosting guests from time to time. We have a helper who comes twice a week doing the chores but I still manage to do some of the work myself considering the fact that I might be spoiled with the situation in the long term. Living an expatriate life means we may not always get this kind of privilege all the time, subject to which country we live in. After a couple of months living here, life was getting difficult for me as I used to do nothing almost the whole day and I became super duper lazy. I think I was the laziest person on earth!

When we were in Jakarta, I was already unemployed, but there were plenty of things to do so that I never got bored. Fortunately, on this critical period, I was given the opportunity to volunteer at one of the government office for about three months thanks to him, and thankfully I found another interest that has helped me spending my pastime.

There is not much difference between our life in Jakarta and in Port Vila. In both cities, we are used to take public transportation in the absence of the office car or office driver since we don’t have our personal vehicle. Some people may associate the fact of being an expatriate to a glamorous life. However this doesn’t apply to ours as we also don’t do expensive shopping on branded items, we go to cheap hairdresser to have a haircut, and we don’t occupy business class seats whenever we travel.

Particularly for the accompanying spouse like me, living this kind of life may be exciting for certain time, but when it prolongs, then it is no longer as thrilling as it may look. Some friends say that I am living such a perfect life everyone would want, but honestly, I am not comfortable with the fact that I have no job therefore I have no means to satisfy my self-existence as well as self-confidence needs and at the same time, I become financially dependent. Despite our agreement that the terms ‘yours’ and ‘mine’ have merged into ‘ours’ since we got married, in the beginning it was not easy for me to deal with. Moreover, being among a bunch of our guests talking about their work to some point has made me lose my confidence. It took me sometime to compromise with the current situation and I finally managed to put my negative thinking out of sight. Later, instead of complaining about the things I don’t have, I used my time learning new skills, reading more books, making more friends, immersing myself into new culture, and realizing my postponed plans.

As they say that honeymoon is as sweet as honey but soon it fades away like the moon, this also applies to my first time experience as an expatriate’s wife. It is still a long way to go but I do learn that independence, perseverance, self-adaptation, tolerance, conviviality, patience, modesty, and willingness to learn are some of the characters I personally need to strengthen in order to equip myself for our next journey in the near future. Being a good and supportive spouse, whether an expatriate’s or not, surely a long-life learning, and I am working on my way to get there, insya Allah.

Tuesday, 30 August 2011

Travel Writing

I heard this term from my best friend for the first time about eight years ago, but it was only last year when I commenced my writing exercise, learnt how a travel article should be written through various online sources, and finally had the courage to send it to one of Indonesia's travel magazines. To my surprise, they accepted my article, and here they are!

My first article about the city of Inverness in Scotland, published in Tamasya magazine May 2011.


My second article about Tongariro Alpine Crossing in Tongariro National Park, New Zealand, published in Liburan magazine August 2011.

Now, one more article is on its way to be published and few more are impatiently waiting for their turns. Travel writing is really fun, especially if you had such a memorable and exciting journey to share. Wanna give yourself a try?

Monday, 29 August 2011

My recent kitchen boosters

1. Compliments for my French cuisine from our French guests. For couple of weeks I prepared various meals from our reliable source. Some of them were first trial but all turned out to be representative dishes.

2. Happy faces of our foreign guests enjoying Indonesian dishes during the Indonesia's Independence Day celebration at our home while he proudly explained the delicacy and variety of Indonesian meals. Somehow, I often think that he's more Indonesian at heart than I am :p.

3. Great success in trying the banana purses recipe for dessert and the host said that they were very delicious.

4. Time spent in the kitchen during the last weeks was paid off.

Will share the easy-peasy recipes later when I'm in the mood :)

Monday, 1 August 2011

Menjemput Impian

Begitu lulus kuliah, prioritas saya ketika itu adalah mencari kerja. Seingat saya, dari sejak SMA, cita-cita saya adalah bekerja di lembaga internasional. Kenapa harus di lembaga internasional? Karena saya ingin mempraktikkan kemampuan bahasa Inggris yang saya dapat dari hasil kursus sejak SMP sampai lulus SMA, dan untuk saya, pergi berlibur ke negara-negara dimana bahasa Inggris digunakan secara umum bukanlah hal yang mudah. Jadi, solusinya adalah bekerja di tempat dimana ada orang asing yang bisa saya ajak berbicara dalam bahasa Inggris. Alasan yang sederhana bukan? Sewaktu SMA, saya juga berminat untuk mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, namun lagi-lagi karena faktor biaya yang perlu dikeluarkan untuk persiapan pribadi dan lain-lain, niat itu saya urungkan. Sampai akhirnya saya lulus kuliah, sempat bekerja di Bandung selama satu tahun setelah lulus, lalu mendapat kesempatan bekerja di lembaga yang saya idam-idamkan pada pertengahan 2003. Awalnya, saya ingin melanjutkan sekolah dengan catatan sudah mempunyai cukup pengalaman kerja, namun pada tahun berikutnya, saya mulai terpengaruh sahabat baik untuk melanjutkan sekolah. Usaha yang saya lakukan tidak maksimal, karena masih berharap bahwa akan ada kesempatan untuk saya pergi ke luar negeri dalam rangka tugas kantor. Tahun-tahun berikutnya kesempatan itu belum datang juga, walaupun pada saat yang sama saya juga beruntung karena ditugaskan pergi ke tempat-tempat menarik di Indonesia. Pertengahan 2005, berbekal informasi dari seorang adik kelas yang baik hati, saya mengikuti program A**S*C di Bandung yang jaringannya sudah mendunia. Adik kelas saya ini baru saja kembali dari Estonia untuk mengikuti program yang serupa. Tahap seleksi sudah dilalui dan tinggal mencari proyek yang sesuai dan mudah-mudahan menanggung semua biaya. Proyek yang kemudian ditawarkan kepada saya berlokasi di Polandia dimana semua biaya hidup ditanggung, namun tiket pesawat p.p. menjadi tanggung jawab saya. Setelah dipertimbangkan matang-matang, akhirnya sayapun mundur dan karenanya harus membayar sejumlah penalti akibat pembatalan dari pihak saya. Saya pikir waktu itu, keputusan ini yang terbaik, daripada saya menghabiskan hampir seluruh tabungan hasil kerja saya untuk menutupi biaya perjalanan. Gagal lagi deh cita-cita untuk pergi ke luar negeri, tapi saya tidak menyesal dengan keputusan saya di kemudian hari dan justru berusaha mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Sampai akhirnya, setelah gagal pada tahap awal seleksi beasiswa ADS, Chevening, dan BGF pada tahun 2004 dan 2005, sayapun membulatkan tekad untuk serius mencari beasiswa. Saya ingin pergi ke luar negeri gratis hanya untuk dua alasan: 1) karena tugas kantor dan/atau 2) karena melanjutkan sekolah. Keinginan ini semakin diperkuat melihat teman-teman seangkatan saya saat itu sedang mengambil studi S-2 di dalam maupun di luar negeri. Sayapun ingin maju seperti mereka dan rasanya saya perlu menambah ilmu baru setelah 3 tahun bekerja. Bagi saya, ilmu terbanyak justru akan didapat di luar bangku kuliah, oleh karena itu saya bersikeras ingin melanjutkan studi di luar negeri supaya saya dapat belajar banyak hal lain di luar bidang ilmu yang akan saya pelajari. Kenapa harus di luar negeri? Karena saya berkeinginan untuk melihat dunia. Kalau sebelumnya saya seringkali mengasosiasikan diri bagai katak dalam tempurung, maka kali ini si katak ingin keluar dari tempurungnya. Akhir 2005, sayapun memulai misi menyukseskan "katak keluar dari tempurung" ini. Saya mulai banyak membaca jurnal/artikel apapun yang berkaitan dengan studi dan minat saya. Saya belajar dan mencerna kembali pertanyaan-pertanyaan dari aplikasi beasiswa sebelumnya yang gagal. Saya berpendapat bahwa formulir aplikasi haruslah diisi dengan jawaban yang cerdas dan menarik sebagai syarat untuk lolos seleksi awal. Saya juga mulai bergabung dengan milis beasiswa walaupun sebagai peserta pasif untuk mendapatkan informasi serta tips dalam berburu beasiswa. Sayapun mulai mencari universitas pilihan sebagai bekal apabila aplikasi saya diterima. Tidak lupa saya juga membuat paspor dengan alasan siapa tahu dapat beasiswa dalam waktu dekat. *optimis tingkat tinggi, hehehe..* Bulan September 2006, saya menyiapkan tiga buah aplikasi untuk Chevening, BGF, dan DAAD. Akhirnya hanya dua yang dikirim, sebab ada satu dokumen wajib yang terlewat untuk memenuhi syarat DAAD dan saya baru menyadari hal itu kurang dari 24 jam sebelum tenggat waktu penyerahan dokumen. Que sera sera, pikir saya waktu itu. Saya berusaha semampu saya, namun bukan sayalah yang memutuskan hasilnya. Bulan November 2006, saya mendapat "surat cinta" yang pertama dan begitu melihat logo institusi di ujung amplopnya, hati saya rasanya mencelos. Panggilan pertama untuk mengikuti tes bahasa Inggris pada bulan Desember dilalui dengan mulus, tentunya dengan persiapan seoptimal mungkin. Walaupun hanya tes bahasa Inggris secara umum, saya tidak pernah tahu sehebat apa saingan-saingan saya, karena itu saya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tahun berganti, awal 2007 surat cinta kedua menyusul berisi panggilan wawancara, Alhamdulillah. Untuk tahap ini, saya mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan melakukan simulasi di depan cermin berulang-ulang dan banyak membaca artikel yang terkait dengan bidang saya, siapa tahu diajukan pertanyaan yang di luar dugaan. Ternyata memang benar, apabila sudah kita sudah berusaha dan mempersiapkan diri secara optimal, berdoa dan pasrah menjadikan hati ini lebih tenang mengingat bahwa Tuhan pasti selalu punya rencana yang terbaik untuk hamba-Nya. Bulan Februari, datanglah surat cinta yang ketiga sekaligus terakhir. Bulan berikutnya, mulailah hari-hari saya diisi persiapan untuk mengikuti tes IELTS, komunikasi dengan universitas-universitas yang saya pilih, dan cuti khusus selama satu minggu di Bandung untuk mengurus legalisir ijazah, surat rekomendasi, dan dokumen-dokumen penting lainnya. Saya mengerjakan latihan soal-soal sepulang dari kantor atau pada akhir pekan. Alhamdulillah, nilai saya memenuhi syarat dan aplikasi saya diterima oleh ketiga universitas pilihan. Para kandidat yang lulus kemudian diikutsertakan dalam pelatihan Academic Writing selama sebulan penuh, 5 hari dalam seminggu, dari pukul 9- 15. Untuk ini, saya harus izin dari kantor kalau masih ingin mendapatkan gaji. Untunglah, atasan saya sangat suportif sehingga waktu kerja yang hilang dapat diganti sebagian dengan memotong cuti saya yang jumlahnya banyak *saat itu, dengan jatah 30 hari cuti dalam satu tahun plus 10 hari tanggal merah rasanya sulit sekali saya habiskan* dan sisanya saya bekerja overtime, jadinya datang lebih awal, dan pulang lebih lambat. Akhirnya, setelah semua persyaratan dan kelengkapan dokumen dibereskan, kursus menulis pun selesai pada bulan Juni, dan saya kembali bekerja selama satu bulan lalu menyelesaikan kontrak kerja satu bulan lebih awal demi memanfaatkan sisa cuti yang masih berlimpah. Bulan September 2007, saat itu akhirnya datang juga menghampiri saya. Di minggu terakhir bulan September, dengan diantar keluarga dan sahabat-sahabat dekat saya, perjalanan menjemput impian sayapun dimulai. Ketika pesawat British Airways BA 012 yang membawa kami mendarat mulus di bandar udara Heathrow, sayapun tersadar bahwa saat ini saya sudah terpisah belasan ribu kilometer jauhnya dari ibu sekaligus sahabat terdekat saya yang selama ini menjadi tempat berbagi segala hal. Dapatkah saya hidup sendirian disini? Mampukah saya mengikuti kuliah yang diberikan? Pertanyaan lainnya bermunculan di benak saya. Namun, semua kekhawatiran itu hilang ketika sejenak saya ingat bahwa saya ada disini semata untuk mengejar mimpi yang saya perjuangkan selama hampir dua tahun terakhir. Dan semua ketakutan pun berganti menjadi ketidaksabaran menyambut hidup baru saya sebagai mahasiswa lagi! ...and the journey continues...(si katak begitu senang ketika berhasil melompat keluar dari tempurungnya sampai akhirnya ia kesulitan berhenti) Jadi bagi siapapun yang sedang berburu beasiswa dan belum berhasil, janganlah putus asa dan tetaplah mencoba dengan penuh semangat karena: 
When you want something, the universe conspires in helping you to achieve it - The Alchemist